Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum Kartografi Tematik ACARA I

I.

JUDUL PENYUSUNAN, DESAIN, DAN LAYOUT PETA DASAR

II.

TUJUAN 1. Melatih mahasiswa menyiapkan peta dasar sebagai dasar penyusunan peta tematik. 2. Melatih mahasiswa memilih peta dasar yang sesuai untuk peta tematik.

III.

ALAT DAN BAHAN 1. 2. 3. 4. Peta RBI sheet 1408-241 Sleman Kertas Kalkir Drawing Pen Alat tulis

IV.

TINJAUAN PUSTAKA Peta adalah suatu gambaran unsur-unsur atau kenampakan abstrak, yang dipilih dari permukaan bumi, atau yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau bendabenda angkasa, dan umumnya digambarkan pada suatu bidang datar, diperkecil dan diskalakan. (Sukwarjono dan Sukoco, 1973). Peta digunakan untuk visualisasi data keruangan (geospasial), yaitu data yang berkenaan dengan lokasi atau atribut dari suatu obyek atau fenomena di permukaan bumi. (Kraak dan Ormeling, 2007). Peta tematik adalah peta yang memperlihatkan data-data secara kualitatif dan atau kuantitatif pada unsur-unsur yang spesifik. Unsur-unsur tersebut ada hubungannya dengan detail-detail topografi. Untuk keperluan penggambaran data-data peta tematik, peta dasar yang sering dipakai adalah peta topografi. Pada peta-peta dasar yang terdiri dari data topografi itulah data-data tematis dapat dipetakan. (Aziz dan Rachman, 1977). Peta dasar adalah peta yang digunakan sebagai dasar untuk pembuatan peta lainnya, seperti peta tematik. Tergantung dari keperluan dari peta tematik itu sendiri, maka peta-peta yang dijadikan peta dasar itu mungkin saja ada perbedaan dalam proyeksi, skala, ketelitian ataupun waktu penerbitnya. (Aziz dan Rachman, 1977) Menurut Kers, peta topografi merupakan peta yang menyajikan gambaran permukaan bumi dengan seteliti mungkin, sejauh skalanya memungkinkan, dan

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik menunjukkan elemen-elemen baik yang alami ataupun kultural. Peta topografi ini sering juga disebut dengan peta rupa bmi, yang apabila diamati pada isi peta (map content) adalah sama, meskipun banyak terdapat perbedaan jika diamati lebih detil lagi. Peta topografi dan Peta Rupabumi antaralain berfungsi sebagai peta referensi atau peta acuan dan peta dasar, yaitu peta yang dipakai acuan dan dasar bagi pembuatan peta tematik. Karena berfungsi sebagai acuan, maka pembuatan dan penggunaan peta topografi dan peta rupabumi harus teliti sehingga peta-peta tematik yang dihasilkan nantinya juga akan teliti (sesuai dengan skala yang digunakan). Pada Peta Topografi ini dicantumkan semua informasi dasar yang dibutuhkan dalam pemetaan seperti, koordinat dan sistem proyeksi yang digunakan, datum, skala, orientasi utara, dan lainlain. (Kamal. 2009) Mutu peta dasar ini jelas merupakan hal yang cukup penting juga, jadi peta dasar yang dipilih tersebut haruslah mempunyai ketelitian yang cukup baik karena ini sangat menentukan ketelitian peta tematik yang direncanakan. Kemudian, perlu juga diperhatikan detail-detail yang ada pada peta-peta dasar tersebut, sebab kadang kalau detailnya terlalu ruwet harus dilakukan generalisasi lebih dahulu. Sebaliknya, kalau detailnya terlalu sedikit mungkin saja harus diambil peta dasar lainnya. (Aziz dan Rachman, 1977) Pembuatan peta dasar meliputi penyusunan, desain simbol, layout peta. Penyusunan peta dasar setidaknya memiliki unsur-unsur antara lain sistem proyeksi, skala, koordinat dan orientasi, indeks lokasi, legenda, dan desain layout. Untuk peta tematik pada umumnya detil elemen-elemen topografi sebaiknya dipilih secukupnya dan kalau perlu dilakukan generalisasi terhadap elemen-elemen topografis tersebut. suatu peta dasar yang sudah sesuai digunakan untuk peta tematik tertentu, belum tentu sesuai untuk peta tematik yang lainnya. (Sukwarjono et al. 2010). Peta dasar dapat diturunkan dari peta topografi, peta dunia, peta navigasi udara, dan peta dunia lain dengan berbagai variasi skala. Dokumen lain yang dapat dipakai sebagai peta dasar adalah foto udara dan peta foto apabila tidak terdapat peta lain. Tidak semua unsur-unsur secara bersama-sama termuat dalam satu peta dasar untuk pemetaan tertentu (Kamal. 2009) Simbol adalah suatu penyajian yang berbentuk gambar, yang digunakan sebagai alat untuk mengadakan komunikasi. Simbol-simbol yang digunakan pada peta topografi

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik sudah mempunyai spesifikasi tertentu. Sebagai contoh : titik triangulasi dan diagram menunjukkan arah utara. (Aziz dan Rachman, 1977)

V.

CARA KERJA 1. Menyiapkan Peta Topografi Sheet Peta RBI sheet 1408-241 Sleman. 2. Memilih salah satu kecamatan di Kabupaten Sleman. 3. Menyiapkan kertas kalkir lalu deliniasi a. b. c. Kenampakan Garis : Batas Administrasi, Jalan, Sungai Kenampakan Titik : Gedung atau Kantor Instansional serta Titik Tinggi Toponimi

4. Melengkapi dengan Informasi lain yang diperlukan dalam sebuah peta sesuai kaidah kartografis, seperti : koordinat, toponimi, titik tinggi, dll. 5. Membuat layout peta dasar dengan unsur Judul Peta, Skala, Orientasi, Sistem Koordinat, Legenda, Sumber dan Pembuat Peta.

VI.

HASIL PRAKTIKUM 1. Peta Dasar Kecamatan Seyegan Kabupaten Sleman Skala 1:25.000. (Terlampir)

VII. PEMBAHASAN Peta dasar merupakan peta yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pembuatan peta-peta tematik. Guna tujuan tersebut, maka dalam pembuatan peta dasar, geometri, informasi, ukuran, posisi, dan lokasi harus tepat. Pembuatan peta tematik dilakukan melalui penyusunan data dan pengumpulan data. Penyusunan data termasuk di dalamnya adalah menjadikan peta dasar sebagai kerangka pembuatannya. Peta dasar yang dapat digunakan sebagai kerangka pembuatan peta tematik antara lain peta topografi, peta rupabumi, peta dunia, dan peta navigasi. Pembuatan peta dasar dilakukan melalui pengumpulan data yang selanjutnya dilakukan penyusunan data. Penyusunan data terdiri atas penyiapan peta dasar, desain simbol, dan desain layout. Penyiapan peta dasar merupakan kegiatan utama dalam pembuatan peta tematik, namun tidak semua informasi yang ada pada peta dasar digunakan secara langsung pada peta tematik. Informasi-informasi yang digunakan untuk pembuatan peta tematik hanya yang mendukung tema, bahkan dapat juga

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik digeneralisasikan saja. Kebutuhan peta dasar antar peta tematik tidaklah sama, sesuai dengan temanya. Desain simbol dibuat secara kartografis agar peta dapat dibaca secara mudah dan membuat kesan komunikatif. Simbol terdiri atas simbol titik, garis, dan area. Simbolsimbol ini merepresentasikan objek-objek yang dipetakan, sehingga simbol menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Simbol harus dibuat sekomunikatif mungkin agar membuat pembaca jelas, mudah memahami isi, dan mudah diinterpretasikan. Hal ini membuat pembuatan harus sangat menarik dan menonjolkan simbol-simbol objeknya. Pekerjaan pembuatan peta dasar untuk kecamatan Seyegan ini, tidaklah sulit namun memerlukan waktu yang banyak karena daerah yang dideliniasi cukup luas. Luasnya kecamatan tersebut masih ditambah dengan kecamatan-kecamatan lain yang ada di sekitarnya agar kesan pembuatan peta tidak melayang dan informasi-informasi di kecamatan-kecamatan sekitar pun haruslah jelas untuk memberikan kepahaman bagi pembaca atau pengguna peta. Simbol yang digambarkan adalah simbol titik adalah kantor instansional seperti Kantor Desa ataupun Kantor Kecamatan. Penggambaran simbol garis mencakup jalan jalan arteri dan jalan lokal, batas administrasi, dan sungai. Akan tetapi pada penggambaran kali ini tidak diketemukan objek garis jalan arteri. Objek area yang digambarkan tidaklah semua objek tetapi dilakukan generalisasi atau hanya dilakukan pengelompokkan dua objek saja, yaitu objek kenampakan non permukiman seperti tegalan, kebun, sawah, dll dan kenampakan permukiman. Simbol huruf mencakup toponimi dari Kecamatan dan Desa dari kajian yang digambarkan. Penggambaran simbol titik tidak terlalu rumit karena hanya mengambarkan beberapa kantor instansional saja tetapi utuk penggambaran atau penentuan simbol titik tinggi dirasa cukup sulit karena banyaknya titik tinggi yang ada sehingga penentuan titik tinggi hanya dilakukan secara acak dan dicari ketinggian yang mewakili daerah tersebut. Lembar RBI 1408-241 memiliki kenampakan non permukiman dan permukiman yang hampir sama besarnya atau luasnya sehingga untuk fasilitas umum dan kantor pun cukup banyak ditemukan. Fasilitas umum lebih sering digambarkan secara piktorial artinya simbol tersebut dibuat semirip mungkin dengan kenampakan aslinya, seperti masjid, gereja, dan lain-lain. Sedangkan untuk kantor lebih didominasi digambarkan secara abstrak atau geometrik, artinya tidak mirip dengan kenampakan aslinya. Sementara untuk simbol garis seperti jalan, terdiri atas jalan arteri, jalan lokal, jalan Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik lain, dan jalan setapak. Delineasi jalan ini tidaklah rumit karena jalan yang didelineasi merupakan jalan arteri dan jalan lokal saja. Selanjutnya untuk batas administrasi, cukup rumit, dimana kecamatan Seyegan memiliki 5 desa, yaitu desa Margoagung, desa Margodadi, desa Margokaton, desa Margoluwih, dan desa Margomulyo. Kesulitan tersebut muncul karena batas yang ada menyambung dengan desa dari kecamatan lain sehingga delineasi batas administrasi untuk kecamatan Seyegan sendiri cukup membingungkan. Simbol garis yang selanjutnya adalah sungai, simbol sungai juga berhubungan dengan skala peta, misalnya suatu garis yang merepresentasikan sungai akan diubah menjadi kenampakan areal, jika skalanya lebih besar. Seperti pada sungai Progo, dimana sungai tergambar menjadi simbol areal karena skala yang digunakan masih mampu menggambarkan sungai dengan simbol areal. Berbeda dengan anak sungainya, dimana didelineasi dengan simbol garis. Penggambaran simbol huruf (toponimi) tidak dimasukkan semuanya ke dalam peta dasar yang dibuat karena dikhawatirkan akan mengganggu dalam proses pembuatan peta tematik, sehingga disini hanya dituliskan nama-nama desanya saja. Selain itu, penulisan atau penggambaran simbol huruf secara manual akan lebih rentan memenuhi isi peta karena ukuran huruf dapat berbeda-beda. Penulisan teks memiliki fungsi utama yaitu memberikan alamat geospasial dengan memberi nama berbagai objek peta. Desain lay-out berfungsi agar dapat menyajikan peta secara visual, sehingga pengguna peta dapat memahami informasi yang disajikan oleh peta tersebut. Lay-out peta dapat disebut juga dengan komposisi peta atau tata letak peta yaitu tatanan dari semua unsur-unsur yang telah disimbolisasi. Lay-out peta yang dibuat harus sesuai dengan kaidah kartografi, dengan urutan: judul peta, orientasi, skala, legenda, sumber dan pembuat peta. Legenda diurutkan dari objek berupa titik, garis, dan area. Pembuatan lay-out ini cukup sulit karena harus dilakukan dengan estetika atau memperhatikan tata letaknya. Hal ini agar pembaca maupun pengguna akan lebih mudah memahami makna dibalik simbol-simbol peta. Selain hal tersebut, pembuatan lay-out juga memerlukan teknik desain seimbang agar setiap elemen pada lay-out terdistribusi merata.

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik VIII. KESIMPULAN 1. Geometri, informasi, ukuran, posisi, dan lokasi harus dibuat setepat mungkin dalam peta dasar karena selanjutnya akan digunakan untuk pembuatan peta tematik. 2. Pembuatan peta dasar dilakukan melalui pengumpulan data dan penyusunan data (penyiapan peta dasar, desain simbol, dan desain lay-out) 3. Tidak semua informasi yang ada pada peta dasar digunakan secara langsung pada peta tematik. Informasi-informasi yang digunakan untuk pembuatan peta tematik hanya yang mendukung tema. 4. Simbol harus dibuat sekomunikatif mungkin agar membuat pembaca jelas, mudah memahami isi, dan mudah diinterpretasikan. 5. Simbol berhubungan dengan skala peta, misalnya suatu garis yang

merepresentasikan sungai akan diubah menjadi kenampakan areal, jika skalanya lebih besar. 6. Desain lay-out berfungsi agar dapat menyajikan peta secara visual, sehingga pengguna peta dapat memahami informasi yang disajikan oleh peta 7. Lay-out peta yang dibuat harus sesuai dengan kaidah kartografi, dengan urutan: judul peta, orientasi, skala, legenda, sumber dan pembuat peta.

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh

Laporan Praktikum Kartografi Tematik DAFTAR PUSTAKA

Sukwarjono, dkk. 2013. Petunjuk Praktikum Kartografi Tematik. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Kamal, Muhammad. 2012. Petunjuk Praktikum Pemetaan Topografi dan Survey Toponimi (GKP 0106). Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Aziz, Lukman. Rachman, Ridwan. 1977. Peta Tematik. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Kraak dan Ormeling. 2007. Kartografi Visualisasi Data Geospasial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Reno Adhi Yuwono 11/313449/GE/07018 Kartografi dan Penginderaan Jauh