Anda di halaman 1dari 10

18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil

4.1.1. Uji fisik Hasil yang didapat dari pengamatan uji fisik pada praktikum Nutrisi Ikan tersaji pada tabel 3. Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Uji Fisik No Pengamatan 1 Warna 2 3 4 5 Tekstur Bau Bentuk Ukuran

Hasil Pengamatan Coklat tua Kasar, keras Sedikit menyengat Panjang, tidak beraturan Besar

Hasil uji fisik pada kelompok enam yaitu didapatkan bahwa pakan berwarna coklat tua, memiliki tekstur yang kasar dan keras, bau pakan yang sedikit menyengat. Sedangkan bentuk dari pakan sendiri yaitu panjang, tidak beraturan, dan memiliki ukuran yang besar. 4.1.2. Uji kecepatan tenggelam Hasil yang didapat dari pengamatan uji kecepatan tenggelam pada praktikum Nutrisi ikan tersaji pada table 4. Tabel 4. Data Hasil Pengamatan Uji Kecepatan Tenggelam No Ketinggian (cm) Waktu (s) Kec. Tenggelam (cm/s) 1 40 3,12 12,82 2 3 40 40 4,94 5 8,09 8

19

Hasil uji kecepatan tenggelam yang dilakukan pada kelompok enam didapatkan nilai 12,82 cm/s dengan waktu 3,12 s pada pakan pertama, pada pakan kedua didapatkan nilai 8,09 cm/s dengan waktu 4,94 s, dan 8 cm/s dengan waktu 5 s pada pakan ketiga. Rata-rata uji kecepatan tenggelamnya yaitu 5,63 cm/s. 4.1.3. Uji water stability Hasil yang didapat dari pengamatan uji water stability pada praktikum Nutrisi Ikan tersaji pada tabel 5. Tabel 5. Data Hasil Pengamatan Uji Water Stability No Toples 1 I 2 3 4 II III IV

WS (%) 14,849 24,835 24,313 19,603

Hasil pengamatan uji water stability yang dilakukan pada kelompok enam didapatkan nilai pada toples I 14,849%, pada toples II didapatkan nilai 24,835%, pada toples III diapatkan nilai 24,313%, dan pada toples IV didapatkan nilai sebanyak 19,603%.

20

Pengamatan uji water stability yang dilakukan diatas maka dapat dibuat grafik sebagai berikut:

Uji Water Stability


26

Nilai Water Stability (%)

24 22 20 18 16 14 12 10 Perlakuan 1 Perlakuan 2 Perlakuan 3 Perlakuan 4

Gambar 1. Uji Water Stability 4.1.4. Uji partikel Hasil yang didapat dari pengamatan uji partikel pada praktikum Nutrisi Ikan tersaji pada tabel 6. Tabel 6. Data Hasil Pengamatan Uji Partikel No Berat awal (gr) Berat akhir (gr) 1 20 17,441

Uji partikel (%) 87,205

Pengamatan uji partikel yang dilakukan pada kelompok enam didapatkan nilai rata-ratanya sebesar 87,205%. Hasil tersebut diperoleh dari proses pengayakan sampel pakan yang dilakukan. Kemudian dimasukkan ke dalam rumus sehingga didapatkan hasil tersebut.

21

4.1.5. Uji Biologi Hasil yang didapat dari uji biologi pada praktikum Nutrisi Ikan tersaji pada tabel 7. Tabel 7. Data hasil pengamatan uji biologi Ikan uji Respon Ikan Lele Positif , ikan memakan pakan dengan baik, tidak dimuntahkan.

Hasil uji biologi yang dilakukan pada kelompok enam yaitu respon pakan yang diberikan pada ikan baik yang artinya pakan yang diberikan oleh ikan dimakan tanpa ada yang dimuntahkan. Kultivan yang diuji pada uji biologi ini adalah ikan lele.

4.2.

Pembahasan

4.2.1. Uji fisik Hasil dari uji organoleptik tekstur dari pakan adalah kasar dikarenakan bahan-bahan penyusun pakan terutama tepung ikan masih sedikit kasar sehingga mempengaruhi dari tekstur pakan. Bentuk dari pakan adalah panjang dan tidak beraturan. Bentuk pakan dipengaruhi oleh alat penggiling pakan. Bau dari pakan adalah menyengat khas tepung ikan (bau amis). Bau dari pakan dipengaruhi oleh bahan-bahan penyusun terutama attractant jenis dan jumlah bahan penyusun mempengaruhi bau dari pakan. Pakan berwarna coklat tua dan ukuran pakan besar. Ukuran dari pakan harus disesuaikan dengan besarnya bukaan mulut dari kultivan. Pengujian organoliptik pada pakan uji, meliputi penampakan, tekstur, aroma, dan warna pakan. Penampakan pakan dapat dilihat dari permukaan pakan

22

yang mulus, berserat atau berlubang. Tekstur pakan dipengaruhi oleh kehalusan bahan baku, jumlah serat, dan jenis bahan pengikat (binder) yang digunakan. Aroma pakan menentukan kualitas pakan karena berkaitan erat dengan penerima atau daya pikat kultivan pada pakan, ditentukan oleh jenis dan jumlah atraktan yang ditambahkan pada proses pembuatan pakan. Warna pakan sangat bergantung pada jenis bahan baku yang digunakan (Alamyah, 2009). Menurut Afrianto (2005), pakan buatan dianggap berkualitas baik apabila mempunyai ukuran partikel bahan baku yang halus dan seragam serta homogenitas tinggi. Ukuran pakan juga harus sesuai dengan ukuran ikan dan lebar bukaan mulut ikan. Kehalusan bahan baku pakan akan mempengaruhi kualitas pakan buatan. Semakin halus komponen bahan baku pakan yang digunakan, kualitas pakan semakin meningkat karena stabilitas pakan didalam air menjadi lebih lama dan nilai biologis pakan lebih baik. 4.2.2. Uji kecepatan tenggelam Berdasarkan praktikum Nutrisi Ikan, kami menguji pakan dengan mengambil sampel pakan secukupnya. Pengujian kecepatan tenggelam dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan. Hasil waktu tenggelam pada pengulangan pertama 3,12 s, pengulangan kedua 4,94 s dan pengulangan ketiga 5 s. Percobaan tersebut menunjukkan bahwa pakan pertama lebih cepat tenggelam dibanding pakan kedua dan ketiga. Uji kecepatan tenggelam dilakukan dengan mengukur lama waktu yang dibutuhkan pakan bergerak dari permukaan air hingga ke dasar media pemeliharaan. Pakan sebanyak 3 butir dimasukkan ke dalam gelas beaker dengan

23

ketinggian dasar wadah 40 cm dari permukaan air. Stopwatch dijalankan tepat pada saat pakan dijatuhkan ke permukaan air. Kecepatan tenggelam adalah jarak di bagi waktu pakan sampai berada didasar gelas ukur. Kecepatan tenggelam pelet uji diukur dengan menjatuhkan 3 butir/biji pelet ke gelas ukur yang berisi air setinggi 40 cm. Waktu yang

dibutuhkan pelet uji dari permukaan air hingga ke dasar gelas ukur dihitung dengan menggunakan stopwatch dan dinyatakan dengan detik. Hal yang sama terjadi pada parameter kecepatan tenggelam, berat jenis tepung G gigas dan bahan baku penyusun pakan lainnya memiliki nilai yang sama dengan pakan kontrol sehingga memiliki daya apung atau waktu yang sama hingga ke dasar perairan. Hal ini memungkinkan udang mampu memanfaatkan pakan sesegera mungkin (Edison, 2009). 4.2.3. Uji water stability Uji water stability dilakukan dengan 4 perlakuan perendaman pada air yang diaerasi. Hasil yang diperoleh dari uji (water stability) adalah perlakuan I 14, 849%, perlakuan II 24,835 %, perlakuan III 24,313 %, dan perlakuan IV 19,603 %. Hasil tersebut tidak dapat digunakan sebagai acuan karena penimbangan pakan setelah diaerasi tidak dilakukan sampai benar-benar konstan sehingga nilai WS dari ke 4 perlakuan terdapat hasil yang berfluktuatif. Nilai WS berpengaruh terhadap pakan yang masih dapat bertahan di air sehingga dapat dimanfaatkan oleh kultivan budidaya untuk proses metabolismenya. Pakan buatan yang baik tidak mengalami proses pencucian secara besarbesaran selam di dalm air. Dengan demikian , semua komponen yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh tubuh ikan. Oleh karena itu, pakan buatan

24

sebaiknya mempunyai karakteristik fisik yang kompak dan kering sehingga ketika dimasukkan ke dalam air pakan menjadi lunak, tetapi tetap tidak hancur. Sebaiknya, keutuhan bentuk pakan buatan didalam air minimal mampu mempertahankan selama 3 jam. Untuk membandingkan kekompakan dan keutuhan bentuk pakan buatan dapat dilakukan pengujian terhadap daya apung dan daya tahan pakan tersebut dalam air. Ketahanan pakan di dalam air menggambarkan kekompakan pakan buatan tersebut (Liviawaty, 2005). Stabilitas pakan dalam air juga eratkaitannya dengan tingkat kekerasan pakan. Pakan yang baik harus mempunyai tingkat kekerasan yang tinggi. Hal ini sangat ditentukan oleh kehalusan bahan baku dan jenis binder yang digunakan. Tingkat kekerasan pakan uji pada penelitian ini sangat tinggi, yaitu berkisar dari 98 99%. Berarti hanya sekitar 1 2% yang hancur dan sisanya masih utuh. Faktor yang mempengaruhi stabilitas pakan dalam air, seperti kehalusan bahan baku pakan dan proses pencampuran bahan dalam proses pembuatan pakan. Semakin halus bahan pakan, semakin baik pula pakan yang dihasilkan. Bahan pakan akan tercampur merata sehingga menghasilkan produk yang lebih kompak dan stabil di dalam air (Aslamyah, 2009). 4.2.4. Uji partikel Dalam praktikum nutrisi ikan setelah dilakukan percobaan pembuatan pakan, pakan yang telah jadi dilakukan berbagai pengujian termasuk salah satunya adalah uji partikel. Tujuan dari Uji Partikel pada pakan adalah untuk mengetahui seberapa kerekatan antar partikel penyusun pakan sehingga didapatkan nilai daya rekat pakan. Langkah yang dilakukan dalam uji partikel adalah mengambil 20 gram pakan kemudian diletakan pada saringan tepung lalu dilakukan pengayakan

25

selama 10 menit, setelah itu menimbang hasil ayakan yang tidak terjatuh di bawah ayakan. Hasil yang kelompok kami dapatkan dari berat akhir adalah sebanyak 17,441 gram. Hasil-hasil timbangan sebelum maupun sesudah kita ayak tadi lalu dimasukan dalam formula : = = 100 % - % 100 %

dimana : = berat partikel (%) = daya partikel (%) Perhitungan uji partikel berdasarkan hasil praktikum adalah sebagai berikut: berat partikel ( ) =

20 gram - 17.441 gram x 100 % 20 gram


2.559 x 100 % = 0,01534 % 20

= -

daya partikel ( ) = 100% - 0,01534 %

= 99,9846 %

Penggunaan perekat dalam susunan pakan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap kadar air (P<0,01). Perbedaan jenis perekat yang digunakan dalam ransum dapat mempengaruhi perbedaan nilai kandungan air. Perbedaan kadar air ransum dapat disebabkan oleh perbedaan bahan penyusun ransum, suhu dan kelembaban lingkungan sekitarnya selama proses pengukuran yang memungkinkan terjadinya penyerapan air dari udara ketika pakan dalam proses pembuatan ( Khalil, 1999 dalam Retnani at al., 2011).

26

Ukuran partikel meningkat seiring dengan meningkatnya kadar air. Ukuran partikel dipengaruhi oleh bahan penyusun ransum, penggunaan perekat dan processing. Jadi antara partikel penyusun pakan dipengaruhi oleh suatu daya yang dihasilkan oleh perekat ( Rababah, 2007 dalam Retnani at al., 2011). Menurut Mujnisa (2007) dalam Retnani at al., 2011, semakin banyak jumlah partikel halus dalam ransum, maka akan meningkatkan nilai kerapatan tumpukan. Perekatakan menyebabkan crumble menjadi kuat dan kompak serta tidak mudah pecah dan rapuh. Perekat dari komposisi berasal dari CMC dan tepung gandum, direkat kandungan air yang dicampur dengan cara diaduk manual. 4.2.5. Uji biologi Berdasarkan praktikum Nutrisi Ikan, kami menguji pakan dengan mengambil sampel pakan secukupnya dan diberikan kepada ikan budidaya yaitu ikan lele. Ikan lele tersebut menyukai pakan dan pakan yang kami berikan dimakan oleh ikan tersebut tanpa memuntahkannya kembali.. Menurut Ghufran (2010), daya cerna adalah kemampuan untuk mencerna suatu bahan, sedangkan bahan yang tercerna adalah bagian dari pakan yang tidak diekskresikan dalam feses. Nilai nutrisi dari suatu makanan bagi ikan bergantung pada sejauh mana ikan tersebut mampu mencerna makanan tersebut. Nilai daya cerna portein merupakan hal yang sangat penting untuk mengetahui efesiensi pakan yang diberikan pada ikan. Daya cerna protein erat kaitannya dengan komposisi pakan terutama kandungan protein yang ada dalam pakan yang diberikan pada ikan, sebab protein merupakan unsur utama yang dibutuhkan oleh ikan untuk pertumbuhan. Dalam penelitian ini digunakan pakan buatan yang

27

kandungan proteinnya sudah berada dalam kisaran yang dibutuhkan oleh ikan nila GIFT yaitu 25%. Seperti yang telah dikemukakan oleh Handajani dan Widodo (2010), bahwa pada umumnya ikan membutuhkan pakan yang kandungan proteinnya 2025%. Kebutuhan protein berbeda pada setiap spesies ikan, dimana pada ikan kornivora kebutuhan protein lebih tinggi bila dibandingkan dengan ikan herbivore (Ghufran, 2010) Protein yang dibutuhkan ikan peliharaan berkaitan erat dengan tingkat optimum dalam pakan ikan. Kebutuhan ikan karnivor akan protein lebih tinggi daripada ikan herbivore (pemakan tumbuhan). Ikan pada stadia larva membutuhkan kandungan protein yang lebih tinggi daripada ikan dewasa. Disamping itu, lingkungan perairan juga sangat mempengaruhi kebutuhan protein ikan (Ghufran, 2010).