Anda di halaman 1dari 32

Pt Wilmar Nabati Indonesia

A. Profil perusahaan PT Wilmar Nabati Indonesia (PT WINA) PT Wilmar Nabati Indonesia sebelumnya bernama Bukit Kapur Reksa (BKR).PT WINA telah berdiri sejak tahun 1989 dengan produksi utama minyak goreng. Desa bukit kapur kurang lebih 30 km dari kota dumai dan pada tahun 1991 berkembang dengan didirikan pabrik kedua berlokasi di jalan datuk laksamana, areal pelabuhan dumai yang kemudian di jadikan sebagai pabrik dan kantor pusat untuk wilayah dumai. Perkembangan PT WINA didukung juga dengan lokasi pabrik yang strategis, yaitu fasilitas dermaga dari pelindo yang dapat menyadarkan kapal-kapal bertaraf internasional untuk ekspor dengan daya angkut 30.000 MT.

Pada awal tahun 2004, manajemen PT. WINA telah memutuskan untuk menambah tangki timbun bahan baku CPO sebesar 12.000 MT. dengan penambahan tangki timbun ini, tertentu secara lansung dan tidak lansung akan berpengaruh pada perekonomian di RIAU umumnya dan tidak lansung akan berpengaruh pada perekonomian di riau umunnya dan kota dumai pada khususnya akan semakin maju dan berdampak positif dalam pembangunan kota.PT WINA telah mampu mengolah CPO sebesar 4.100 MT/harinya dan PK crushing sebanyak 1000 MT/ harinya yang menjadikan PT. WINA sebagai produsen dan pengekspor minyak sawit terbesar di Indonesia.

Perkembangan lain yang dilakukan oleh manajemen PT WINA yaitu pada awal tahun 2005 kembali membangun pabrik di kawasan industri dumai-pelitung berupa pembangunan refinery/fractionation dengan kapasitas 5.600 MTD dan PK Crusing plant dengan kapasitas 1500 TDP (Ton Per Day). Adapun perkembangan pabrik ini didukung dengan pelabuhan yang mempunyai dermaga dengan panjang 425 meter dan kolom pelabuhan dengan kedalaman 14 meter, yang dapat disadari oleh kapal dengan bobot 50.000 DWT dan akan dikembangkan untuk dapat disandari kapal 70.000 DWT yang merupakan perusahaan yang berada dalam satu naungan WILMAR Group.

Komitmen yang tinggi dari manajemen dan karyawannya memungkinkan PT WINA untuk berkembang lebih besar lagi.Hal ini terbukti dengan telah di perolehnya sertifikat ISO 9001:2008 pada tanggal 16 oktober 2009. Didalam menjalankan operasional perusahaaan, manjemen PT WINA telah menetapkan suatu visi dan misi yaitu mendukung bisnis operasional group sehingga tercapai kapasitas yang optimal dan kualitas yang sesuai denngan permitaan pelanggan serta waktu pengiriman yang tepat dengan cara pengembangan kinerja sumber daya manusia yang ada.pada tahun 2009, PT WINA nama menjadi PT WILMAR NABATI Indonesia sebagai wujud perkembangan usaha yang semakin besar dan mulai membangun pabrik-pabrik baru di luar kota dumai dibawah bendera WILMAR Group.

B. Proses Konversi Olein dan Starin 1. Production Section Proses pemurnian CPO (Crude Palm Oil) menjadi Olein dan Stearin dilakukan dengan dua tahap proses utama yaitu Refinery Section dan Fracsinasi Section.

1.1 Refinery Section Proses Refinery merupakan proses pemurnian minyak sawit crude palm oil (CPO) untuk meghilangkan Free Fatty Acid (FFA), bau, serta menurunkan wana, sehingga memenuhi syarat mutu gunanya.

Tahap proses pada Refinery section terdiri dari empat section, diantaranya adalah : 1.1.1 Pretreatment Section

Perlakuan pendahuluan yang umum dilakukan terhadap pemurnian minyak kelapa sawit (CPO) yaitu mempersiapkan bahan baku yang akan dikelola menjadi minyak goreng. Dimana CPO dari Storage Tank

dipompakan dengan menggunakan pompa sentrifugal menuju HE (E.600A dan E.600B), dimana pada alat ini terjadi co-current, karena didalamnya

terjadi perpindahan panas antara CPO dan RBDPO, sehingga alat ini sering disebut heat exchanger economizer. CPO masuk berkisar 40 500C menuju E.600A, dan keluar pada suhu 78 800C, lalu masuk ke E.600B dan keluar pada suhu 1050C. RBDPO yang berasa dari P.716 (penampungan RBDPO) masuk menuju E.600B pada suhu 1050C dan keluar pada suhu 1280C kemudian masuk menuju ke E.600A dan keluar pada suhu 1000C lalu menuju T.706 sebagai tempat penyimpanan RBDPO untuk dikelola pada proses Fraksinasi.

Alat kontrol pada Preatment Section diantaranya yaitu: a. Feed Pump (P.760) Pompa yang digunakan untuk mentransfer CPO dari thank Heat Exchanger Economizir (E.600A/B), menuju Heat Exchanger Steam E.601, knife mixer (M.680A/B/C), kemudian paddle mixer (M.686) dan ke bleacher thank (B.601).Didalam mixer M.686 terjadi pengadukan antara crude palm oil, citrid acid dan phosporic acid yang sudah ditambah pada tiap mixer (M.680A/B/C) b. Heat Exchanger Economizer (E.600A/B) Heat Exchanger Economizer merupakan alat penukar panas yang dapat meningkatkan temperatur CPO masuk dari 40 500C dan temperatur keluar 78 1050C. CPO akan menukar panas dari RBDPO yang memiliki temperatur 125 1500C dari P.716 melalui E.600A/B. c. Heat Exchanger Steam (E.601) Heat Exchangger Steammerupakan alat penukar panas dimana CPO dariE.600B akan menerima panas sehingga temperaturnya meningkat 115 1200C. Steam sebagai media pemanas dengan suhu 180 1850C.Temperatur masuk CPO ke E.601 100 1050C dan temperatur keluar 115 1200C.Temperatur steam masuk 180 1900C dan temperatur keluarnya 130 1400C.

1.1.2

Degumming Section

Degumming meruakan suatu proses pemisahan kotoran, logam logam, dan getah atau lendir yang terdiri dari phospatida, protein, residu, karbohidrat, air, dan resin tanpa mengurangi asam lemak bebas dalam minyak. Pada prinsipnya proses degumming adalah proses pembentukan dan pengaktifan flok flok dari zat tersebut di atas yang bereaksi dengan asam Phosporit (H3PO4), sehingga flok flok yang terbentuk cukup besar untuk dipisahkan dari minyak. Proses degumming yang paling banyak digunakan adalah proses degumming dengan phosporic acid (H3PO4) dan Citrid Acid. Pengaruh yang timbul dari asam tersebut adalah penggumpalan dan pengendapan zat zat seperti phospatida, protein, residu, karbohidrat, air dan resin yang terdapat pada minyak.

CPO dari E.601 dialirkan ke mixer M.680 yang berjenis knife mixer. Di dalam mixer ini terjadi pencampuran phosporic acid dengan penggunaan 0,03 0,045% dan citric acid dengan penggunaan 100 200 ppm ke dalam minyak CPO panas secara teratur, pencampuran ini dilakukan sebanyak dua kali yaitu dengan mixer M.680 A/B/C dan mixer M.686, di dalam mixer M.686 terjadi pengadukan secara sempurna antara Phosporic acid, Citric Acid dan Crude PalmOil secara homogen, dimana knife yang bersilang berjajar ke bawah di bagian tengah mixer.Hal ini Bertujuan agar diperoleh hasil campuran yang homogen. Operasi berlangsung pada tekanan 1 atm. Hasil dari proses ini adalah Degumming Palm Oil (DPO), yaitu minyak sawit yang bebas gum dan selanjutnya dialirkan ke dalam bleacher tank untuk proses pemucatan.

Kontrol alat Degumming Section meliputi : a. Phosporic Acid Tank (T.623) Phosporic Acid Tank merupakan tangki penyediaan H3PO4 (asam posfat)yang berkapasitas 2000 liter dengan temperatur 30 320C.

b. Phosporic Acid Pump (P.623 A/B/C) Phosporic Acid Pump merupakan pompa yang mengtur storageuntuk presentasi pemakaian phosporicacid dari T.623 menuju knife M.680 A/B/C. mixer

c. Knife Mixer (M.680 A/B/C) Knife Mixer merupakan alat untuk mengaduk campuran phosporic acid dan CPO dengan kapasitas 0,2 Ton. Pisau mixer yang saling bersilangan sejajar ke bawah berfungsi untuk mengaduk campuran. Temperatur CPO 105 1150C sedangkan temperatur phosporic acid 30 320C, di knife mixer temperatur tetap dijaga pada suhu 1050C dengan jaket agar panasnya tetap stabil. d. Paddel Mixer Paddle Mixer merupakan alat yang digunakan untuk mencampur kembaliphosporic acid dan CPO dari M.686 A/B/C, dengan lama pencampuran 3 5 menit. Alat ini berkapasitas 10 Ton dengan temperatur CPO tetap di jaga pada suhu 105 1150C. e. Citric Acid Tank (T.724) Citric Acid Tank merupakan tangki penyediaan citric acid 4000 Ton.

1.1.3 Bleaching Section Setelah phosporic acid dan CPO bercampur secara homogen, kemudian campuran ini selanjutnya dialirkan ke bleacher tank B.610yang bekerja pada tekanan vacuum 40 Torr agar uap air dan udara yang terkandung dalam CPO dapat ditarik oleh sistem vacuumPT.611. CPO yang berada dalam bleacher bercampur dengan bleaching earth (tanah pemucat) yang berasal dari BT.661 ditarik keatas oleh EP.661 A menuju ke bleacher tank melalui valve V.660A1 dan V.660A2 selama 20 detik kemudian campuran tersebut turun ke B.610. Pencampuran beacher earth dengan CPO dibantu dengan spurging steam bertekanan 0.7 1.5 Bar dan temperatur 175

1800C. Bleacher earth berfungsi unruk mengikat heavy metals (Fe dan Cu), kotoran dan memucatkan warna.

Kapasitas CPO yang diolah sangat besar yaitu 2600 Ton/hari. Akibat besarnya kapasitas CP yang akan diolah sementara waktu kontak bleacher earth dengan CPO hanya berkisar 20 detik dan dapat mempengaruhi kualitas pemucatan, maka ditambah satu tangki lagi yaitu buffer tank T.611. Tangki ini juga bekerja pada tekanan vacuum, dari bleacher sectionakan didapatkan bleacher earth. Uap air dan udara yang terkandung pada CPO ditarik oleh sistem vacuum PT.611. Agar tetap terjadipencampuran secara homogen dalam tangki ini maka diberi steam antara B.610 dan T.6111 berdasarkan prinsip bejana berhubungan.Minyak yang keluar dari B.610 inlah yang disebur Bleacher Palm Oil (BPO). Untuk memisahkan BPO dari bleaching earth dan gum gum maka minyak dialirkan melalui bagian bawah T.661 ke Niagara Filter F.691, F.692, F.693, F.694, F.695, F.696, F.697 dengan menggunakan pompa P.691, P.692, P.693, P.694, P.695, P.696, P.697 melalui valve V. 691P, V. 692P, V. 693P, V. 694P, V. 695P, V. 696P, V. 697P untuk dibersihkan, sehingga minyak bebas dari bleachibg earth yang mengandung partikel minyak, sehingga bleaching earth terjebak pada filter leaf tersebut. Lembaran filter (filter leaf) sebanyak 18 lembar disusun secara vertikal agar pemisahan efektif. Bleaching earth harusbersih dari filter setelah 45 menit operasi untuk mendapatkan filtrasi yang baik.Tetapi di dalam minyak masih terdapat bleching earth yang belum terpisahkan.

Selanjutnya bleacher palm oil yang berwarna merah darah dipompakan dari Niagara Filter ke ricket fiter F.681 dan F.682, untuk menyaring bleaching earth yang masih terkandung dalam

BPO.Minyak yang telah diperoleh dialirkan ke dalam bleaching oil

tank(T.770) sebagai penyimpan sementara sebelum proseslebih lanjut dengan temperatur 1150C.

Proses penyaringan yang terjadi pada Niagara Filter adalah sebagai berikut : 1. Stand By Artinya Niagara Filter dalam keadaan kosong dan siap untuk digunakan, tidak ada valve yang dibuka dan pompa dalam keadaan off.

2. Vacuum Pada tahap ini NiagaraFilter dikosongkan dengan cara

menghisap/menarik udara/steam keluar oleh Valve V.02 menuju tank T.611. Udara harus dikeluarkan karena dapat menyebabkan proses oksidasi pada minyak selama proses penyaringan sehingga minyak menjadi hangus. Minyak yang hangus pada proses ini akan mengurangi kualitasnya dan oengolahan lebih lanjut akan

membutuhkan energi dan biaya yang lebih tinggi.

3. Filling Setelah mencapai tekanan Vacuum, maka proses selanjutnya adalah proses pengisian minyak ke dalam NiagaraFilter. CPO dan bleaching dari T.611 dipompakan oleh pompa P.691, P.692, P.693, P.694, P695, P.696, P697 ke NiagaraFilter sampai penuh (highlevel).Valveyang dibuka agar sisa-sisa udara pada minyak dan tangki dapat dikeluarkan. Proses ini memerlukan waktu 10 menit.

4. Coating Pada proses ini terjadi penjernihan minyak agar minyak yang keluar dan Niagara Filter bebas dari bleaching earth. Minyak dari T.611 dipompa ke Niagara Filter F.691, F.692, F.693, F.694, F.695, F.696, F697 dengan menggunakan pompa P.691, P.692, P.693, P.694, P.695,

P.696, P.697 melalui valve V.691P, V.692P, V.693P, V.694P, V.695P, V.696P, V.697P ke bagian bawah Niagara Filter. Minyak lalu disaring oleh leaf filter yang dipasang vertikal berjajar dalam Niagara Filter. Bleaching earth yang ada di dalam minyak akan tersaring pada leaf filter sehingga minyak yang keluar bebas dari bleaching earth. Hasil penyaringan akan kembali lagi ke T.611 melalui V.6811, V.6814, V.6821, V.6824. Pompa dalam kondisi on proses ini berlangsung sekitar 4 menit.

5. Filtration Agar minyak yang didapat benar-benar jernih (bebas dari bleaching earth), maka dilakukan proses filtrasi. Minyak dari T.611 dipompa masuk ke Niagara Filter oleh pompa P.691, P.692, P.693, P.694, P.695, P.696, P.697 melalui valve V.691P, V.692P, V.693P, V.694P, V.695P, V.696P, V.697P, lalu disaring pada leaf filter. minyak keluar dari Niagara Filter melalui V.6811, V.6814, V.6824, menuju T.777. Untuk penyaringan yang lebih baik maka disaring lagi didalam 2 filter bag kemudian masuk ke polishing filter F.681 dan F.682. Pompa dalam kondisi on proses ini berlangsung 90-100 menit.

6. Circulation Proses circulation tidak terjadi pada setiap proses filtrasi (filtration section). Tetapi hanya terjadi apabila minyak dalam T.611 atau T.770 yang kepenuhan. Proses circulation ini dilakukan secara manual, misalnya pada saat bleacher tank dihentikan sebentar operasinya atau pada keadaan tertentu. Valve yang terbuka 0,1, 0,3 dan pompa on. Proses akan terus berlangsung hingga ada tanda low level pada T.611 atau alrm high level T.770 dan proses kembali lagi ke step filtration.

7. Emptying Proses ini adalah proses pengeluaran/pengosongan minyak yang telah difilter dengan mengalirkan melalui valve V.6813, V.6823, V.6814,

V.6824 dengan bantuan menggunakan steam dengan tekanan 3-3,5 bar melalui V.09. Minyak yang berada pada leaf filterakan dikeluarkan melalui valve 07 menuju C.641 dan valve 06 melalui T.611. Di C.601 terjadi pemisahan antara minyak dengan steam.Steam naik ke atas sedangkan minyak mengalir ke T.641.Disini minyak dipanaskan agar tidak membeku dengan menggunakan steam, lalu dipompa oleh P.641 (centrifugal pump) melalui V.643.valve yang terbuka 0,9, 0,6, 0,7 dan pompa off. Proses ini memerlukan waktu sekitar 6-7 menit.

8. Full Empying Proses pengosongan keseluruhan minyak yang ada di dalam niagara Filter. 9. Cake Drying Cake drying merupakan proses pengeringan cake (bleaching earth yang menempel pada filter) agar minyak yang terdapat pada cake dapat dikeluarkan. Untuk mengeringkan bleaching earth pada leaf filter dialirkan dengan steam bertekanan 3 - 3.5 bar melalui V.9 valve yang terbuka 0,7, 0,8, 0,9 dan pompa off. Proses ini berlangsung 20 25 menit atau sampai kandungan minyak dalam spend earth lebih kurang 15-16%.

10. Post Emptying Proses ini dimaksudkan untuk mengeluarkan sisa-sisa minyaka dar prosses cake drying yang terdapat di bagian bawah Niagara Filter (bagian cekungnya) masuk ke C.641 melalui V.6105, V.6205, V.6305 yang terbuka 0,5 dan pompa off. Proses ini berlangsung hanya 1 menit.

11. Ventilation Proses ini bertujuan untuk menyamakan tekanan di dalam Niagara Filter dengan tekanan luar cake yang keluar tidak bertebaran ke

segala arah karena tekanan dalam Niagara Filter yang besar. Hal ini dilakukan dengan cara memasukan melalu V. 6811, V.6814, V.6821, V.6824. Valve yang terbuka 11 dan pompa off. Proses ini berlangsung selama 2 menit.

12. Discharge Jika tekanan di dalam Niagara Filter telah sama dengan tekanan udara luar maka proses selanjutnya adalah cake discharge yaitu proses pengeluaran spent earth (cake discharge) melalui bawah Niagara Filter. proses ini dilakukan dengan menggetarkan vibrator oleh compressed air melalui valve V. 681a dan V.681b. Spent earth akan ditampung di dalam bak dan selebihnya akan dibuang. Valve yang terbuka 10 dan pompa off. Proses ini merupakan proses akir penyaringan dan memerlukan sekitar 11 menit.

Kontrol alat di bleaching section meliputi: a. Bleacher tank (B.610) Bleacher tank merupakan tangki tempat proses pencampuran antara CPO dan bleaching erth dengan cara pengadukan campuran menggunakan spurging stea spiral. Temperatur tangki 105-120o C, kapasitasnya 30 ton dan tekanan 1-1,5 bar.

b. Buffer tank Buffer tank merupakan tangki penampung campuran bleaching earth dari bleaching tank B.601 serta mengaduk campuran tersebut kembali sehingga diperoleh campuran yang lebih homogen.Temperatur alat 100105o C, kapasitasnya 12 ton dan tekanan 50-100 torr.

c. Bleaching earth pump (P.691-P697) Bleaching earth pum merupakan alat yang digunakan untuk memompakan campuran ke Niagara Filter, Filter bag, polishing filter dan buffer tank (T.701) temperatur pompa normal 30-32o C dengan tekanan 3-4 bar.

d. Niagara Filter Niagara Filter merupakan alat untuk menyaring Bleaching earth, gum, residu logam, pengotor sehingga minyak yang dihasilkan benar-benar bersih dan jernih. Berbentuk tabung silinder yang terdiri dari leaf filter, vibrator dan corong pembuang limbah. Temperatur alat 100 105o C, kapasitas 5 ton dan tekanan 2 - 3,5 bar.

e. Bleaching tank (BT.661) Bleaching tank merupakan tangki sumber bleaching earth yang akan digunakan dalam proses bleaching section.

f. Blower pump (EP.661A/B) Blower pump merupakan alat untuk menghisap bleaching earth dari tempat pencurahan ke tangki penampungan bleaching (BT.660A/B).

g. Bleaching feesd flopper (BT. 660A/B) Bleaching feed flopper merupakan alat penampung bleaching earth dari BT.661 A untuk pengisian menuju ke B.610.

h. Filter bag Filter bag merupakan tangki yang di dalamnya terdapat saringan yang digunakan untuk menyaring kebali bleaching earth dan kotoran yang masih lolos dari Niagara Filter.

i. Polishing Filter (F.681, F.682) Sama seperti filter bag, polishing berfungsi untuk penyaringan ulang agar minyak yang dihasilkan lebih jernih. Temperatur alat 100 -105o C, dengan kapasitas 1,5 ton dan tekanan0,2 -0,5 bar.

j. Knock down drum (C.641) Knock down drum merupakan sebuah tangki yang pada bagian bawahnya terdapat corong untuk pengeluaran steam sedangkan bagian bawahnya

digunakan untuk minyak mengalir ke slop oil tank (T.641). Alat ini digunakan sebagai tempat penampungan sementara minyak dan tempat pemisahan steam dengan minyak. Temperatur alat 100 105o C, dengan tekanan 2 2,5 bar dan kapasitas 1,7 ton.

1.1.4 Deodorisasi CPO yang telah mengalami proses degumming (pengikat gu atau lendir) dan pemucatan wara (bleaching) maka CPO disebut bleaching palm oil (BPO). BPO akan diproses lagi untuk mendapatkan reffined bleached deodorized palm oil (RBDPO) atau sering disebut RPO. Agar diproses penghilangan zat penyebab rasa dan bau yang tidak disukai dalam minyak berlangsung dengan baik, minyak yang akan mengalami deodorisasi sudah bersih dari bleaching earth.Proses deodorisasi adalah siste destilasi proses di bawah vacuum yang tujuannya untuk mengeluarkan free fatty acid (FFA), aldehid, keton, alkohol dan bleaching color yang tidak dapat dikeluarkan pada proses bleaching.

Pada tahapan Pretripper BPO dari proses bleaching dipanaskan pada heat exchanger E.701 dari temperatur 110o C menjadi 130o C dengan menggunakan sumber panas dari steam. Dalam proses deoderization di design supaya terjadi waktu tinggal (residence time) yang lama, kondisi vacuum, fasilitas spurging steam untuk pengadukan dan suhu yanag tinggi untuk menghilangkan free faty acid serta bau yang masih ada pada minyak tersebut.

1.1.4.1 Deodorization Section 1 (preheating) BPO yang berasal dari tangki T.770 dipompa dengan P.770 menuju ke dearator D.710.tetapi sebelumnya mengalami kenaikan suhu dari 110o C menjadi 120o C dengan menggunakan heat exchangerE.701 dimana media pemanasnya adalah steam. Dearator D.710 dilengkapi dengan steam ejector yang berguna untuk menghilangkan kadar air dan gas-gas

yang masih ada dalam minyak, misalnya oksigen dan air serta menahan mutu minyak. Proses deodorization bekerja di bawah tekanan vacuum antar 1,5 -2,5 torr, tekanan uap BPO akan turun sehingga uap air dan gasgas akan terhisap oleh vacuum. Temperatur minyak di dearator (115o C) sudah cukup untuk menghilangkan uap air dan gas-gas (volatil matter).

BPO dari D.770 dipompa oleh P.770 untuk dialirkan menuju spiral heat exchanger E.703 A/B/C secara continue untuk dinaikan temperaturnya dengan memanfaatkan panas RBDPO yang berasal dari D.710. Di dalam spiral heat exchanger ini terjadi perpindahan panas antar BPO dengan temperatur 110 135o C sehingga BPO yang keluar dengan temperatur 225 -240o C sedangkan suhu RBDPO yang masuk 240 260oC dan temperatur keluar 125 -135o C. Heat exchanger E.703 A/B/C ini sering disebut heat exchanger economizer. BPO yang telah dipanaskan di E.703 A/B/C akan dialirkan menuju oil heater VHE.704 A/B dengan sumber panas dari boiler dengan temperatur 265o C kemudian minyak BPO dialirkan ke dalam pretripper PR.711 untuk dipanaskan kembali hingga mencapai temperatur 265 268o C (minyak akan terdistilasi dan volatile matter akan menguap pada suhu teersebut). Model heat exchnger VHE 704 A/B adalah shell dengan media pemanas saturated steam yang dihasilkan oleh high pressure boiler (HP Boiler). HP Boiler dapat menghasilkan suhu steam dan tekanan tinggi sehingga minyak yang dipanaskan dapat mencapai suhu optimal.

Kontrol alat di Deodorization Section 1 (Preheating) meliputi: a. Dearator Feed Pump (P.770) Dearator Feed Pump merupakan pompa yang digunakan untuk memompakan minyak BPO dari buffer tank menuju dearator heater E.701 dan ke dearator D.710.jenis pompa ini centrifugal pump dengan temperatur 95 100o C, dengan tekanan pompa 4,5 5,5 bar.

b. High temperatur economizer (E.703A/B/C) Alat penukar panas yang berupa spiral exchanger dimana minyak BPO akan bertukar panas dengan minyak RBDPO yang keluar dari P.703. temperatur BPO masuk 110o C 135o C mengalami perpindahan panas dengan RBDPO dengan temperatur 240o C 260o C. Temperatur BPOmenjadi 225 240o C sedangkan temperatur keluar RBDPO menjadi 125 -130o C.

c. Final oil heater (VHE.704 A/B) Final oilheater merupakan heat exchanger yang terdiri dari shell and tube. Minyak BPO akan dipanaskan lagi sampai 265-268o C di E.703 dengan pemanas steam dry saturated dari HP boiler (G.760). Temperatur BPO 225 240oC mengalami perpindahan panas dengan RBDPO bertemperatur 240 260o C.

d. Free Heater System High Pressure Boiler (G.760) Suatu tangki yang terdiri dari burner untuk memanaskan spiral-spiral pemanas membuat air menjadi steam dry saturated untuk dipakai sebagai pemanas VHE.704 A/B.

1.1.4.2 Deodorization section 2 Bleached palm oil (BPO) dengan tempratur 265-268oC masuk ke cyclone tank PR.711. Di dalam PR.711 ini terjadi pemisahan antara air, FIFA, dan semua volatile matter serta minyak. Air,FFA, volati le matter dari PR.771. keluar menuju D. 710 melalui top cyclone, BPO keluar menuju distributor D.710 melalui

sedangkan minyak

bottom cyclone. Pada D.710 terjadi proses distilasi dimana uap, FFA, bau, volatile matter akan memisah dari minyak. Pemisahan terjadi karena suhu yang tinggi.

Dearator (D.710) dilengkapi dengan dua packed column yang berguna pada proses distilasi. Satu untuk PFAD ( palm fatty Acid Distilasi) dan satu lagi untuk minyak serta tray yang berfungsi untuk memisahkan FFA, bau, volatile matter yang masih ada dalam minyak dengan spurging steam.

Dari D.710 BPO akan menjadi RBDPO dan PFAD dan PFAD. D.710 ini bekerja pada tekanan vacum (1,5-2,5 torr).PFAD ini di dapat dari penguapan FFA, aldehid, keton, peroksida, bau, pigment, dan air pada packed colum PFAD. PFAD akan menguap dan akan di tangkap dengan cara mengkondensasi uap tersebut dengan PFAD dingin ( 6070oC). PFAD hasil kondensasi akan mengalir masuk ke T.775. jika T.775 sudah penuh, maka secara otomatis V.775 terbuka dan minyak mengalir menuju storage tank dengan tenaga dari pompa P.775 A/B. Sebagian dari PFAD ( karena tidak semua PFAD di kirim storage tank) akan di turunkan suhunya dengan menggunakan heat

exchanger E.705 dimana media pendinginnya adalah air, hingga suhunya menjadi 60-70oC, dan digunakan lagi untuk menangkap PFAD uap dengan cara menspraykan PFAD yang bersuhu rendah/dingin pada top PR.711 PFAD akan bersikulasi secara continue.

D.710 pada bagian bawahnya di lengkapi dengan 13 buah spurging steam bekerja pada tekanan 0,7- 1,5 bar. Fungsi dari spurging steam ini adalah untuk mengaduk minyak sehingga semakin sempurna pemisahan FFA, volatile matter dan bau. Minyak pada bagian bawah D.710 di sebut refined bleached deodorized Palm Oil ( RBDPO) yang di pompa oleh P.710 A/B menuju heat exchenger E.703 A/B/C untuk di manfaatkan panasnya. Spurging steam menyebabkan minyak

mengalir secara turbulan pada masing- masing tray. Aliran ini menyebabkan adanya percikan-percikan minyak yang keluar dari

tray. Minyak tersebut lalu di alirkan ke tank T.770 yang kemudian di pompa oleh P.703 B ke tank T.701 untuk di proses lagi.

Minyak RBDPO

yang keluar dari D.710 mengalami dua kali

pemanfaatan panas ( E.703 A/B/C dan E.600) sehingga suhunya turun menjadi 75oC. Untuk hasil terakhir,RBDPO di turunkan lagi suhunya menjadi 68oC di E.706. Heat exchanger ini di sebut final Oil cooler dengan air sebagai media pendinginnya. Lalu selanjutnya, RBDPO di saring lagi di polishing filter F.784, F.785, F.786 sehingga di

hasilkan RBDPO yang lebih murni lalu di kirim ke buffer tank untuk difraksinasi.

Fungsi alat deodorization (D.710) adalah: 1. Memisahkan FFA ( free fatty Acid) secara aktual. 2. Mengeluarkan pigmen warna (carotene). 3. Menghilangkan bau yang terkandung dalam minyak sawit. 4. Menghilangkan secodary oxidation seperti aldehid, keton,peroxide. 5. Menghilangkan air, volatile matter tahap kedua yang masih ada pada BPO. Kontrol alat di deodorization section 2 meliputi: a. Splash cyclone (PR.711) Splash cyclone merupakan tanki yang di dalamnya terdapat spray nozzel.Digunakan sebagai tempat pemisah FFA,moist dan volatile matter yang akan mengalir ke bagian atas cyclone. Tempatkan 265268oC.

b. Deodorizer (D.710) Deodorizer merupakan suatu alat yang berbentuk seperti botol besar di mana di bagian atasnya di lengkapi dengan packed coloum dan bagian bawahnya dengan 13 set tray. Packed coloum pertama tempat memisahkan PFAD dengan tempratur in 60-70oC dan tempratur out 80-90oC.

Packed coloum kedua di gunakan untuk tempat pemisahan RBDPO dengan tempratur in 265-2680C dan out 255-259oC.

c. Hot Oil Discharge Pump (P.710 A/B) Pompa yang di lengkapi dengan pendingin body motor dan pendingin minyak untuk pendingin seal Pump. Digunakan untuk memompakan minyak RBDPO dari D.710 ke high temperatur Economizer E.703 A/B/C, ke crude oil Economizer E.001, ke final oil cooler E.706 dan ke polishing filter F.784, F.785, F786. Tempratue alat 225 259oC, tekanan 5,5 6 Bar, dengan kapasitas 98 ton/hr.

d. Final Oil Heater (E.706) Heat exchanger yang berupa plate exchanger dimana RBDPO dari E.600 akan melepaskan panas yang kemudian di terima oleh air dari cooling tower. Tempratur in RBDPO 70o 75oC dan tempratur out 65 68oC .tempratur in air 28oC 30oC dan tempratur out 60 65oC.

e. Bouster Pump Pompa yang di gunakan untuk memompakan minyak RBDPO dari E.706 ke polishing filter F.784, F.785, F.786 dan ke buffer fract tank atau ke stroge tank.

f. Polishing Filter (F.784, F.785, F.786 ) Suatu tanki berbentuk tabung yang di dalamnya terdapat cartridge cartridge tempat menyaring minyak agar minyak dapat di pastikan bebas dari kotoran dll.

g. Splash Oil Tank ( T.776) Tanki slender tempat menampung minyak yang berasal dari D.710 yang keluar dari tray.Tempratur alat 140 150oC.

h. Splash Oil Pimp ( P.711A dan P.711B )

Berfungsi untuk mentransfer minyak RBDPO dari PR.711 ke D.710. tempratur pompa 140 150oC, tekanan 3.5 4 Bar.

i. Fatty Acid tank ( P.775 ) Tanki tempat menampung fatty acidd yang dispray dalam packed coloum vetsil deodorizer. Tempratur alat 78 90oC, tekanan 1.5 3 bar.

j. Fatty Acid Pump ( P. 775A dan P.775B) Untuk memompa fatty acid dari T. 775 ke fatty acid cooler E. 705 ke packed coloum vetsil deodorizer dan sebagian PFAD dingin ke stroage tank. Tempratur alat 80 90oC, tekanan 3 3.5 Bar.

k. Fatty Acid Cooler ( E.705 ) Heat exchanger yang berupa Plate exchanger dimana fatty Acid mengalami penurunan suhu oleh air dari cooling tower sehingga suhunya menjadi 60oC. Tempratur in fatty acid 80 90oC dan tempratur out fatty acid 60 70oC.Tempratur in air 28 30oC dan tempratur out 60 65oC.

l. Fatty Acid cooler Pump (P. 706 ) Di gunakan untuk memompakan air dari cooling tower masuk ke fatty acid cooler E. 705. Tempratur alat 30oC, tekanan 3 3.5 Bar.

4.1.2 Dry Fractination station Fraksinasi adalah proses pemisahan minyak menjadi dua fraksi ( sifat fisiknya atau

fraksi olein dan fraksi stearin ) berdasarkan

berdasarkan perbedaan titik beku. Proses pemisahan minyak di PT. Wilmar nabati indonesia menggunakan sistem fraksinasi tanpa bahan pelarut atau lebih di kenal dengan istilah Dry fracsination.

Pada proses Fraksinasi terjadi pemisahan yaitu: a. Refined Bleaced deodorized Palm Oil ( RBDPO) menjadi refined Bleaced Deodorized Olein ( RBDOL) dan refined Bleached deodorized stearin ( RBDST). b. RBDST menjadi soft stearin 1 dan hard stearin 1. c. RBDOL menjadi super olein dan stearin. d. RBDST ( 25%) + soft stearin 1 ( 75%) menjadi soft stearin 2 dan hard stearin 2.

Pada fraksinasi ini minyak RBDPO produk dari Refiney plant yang masih mengandung dua fraksi yaitu fraksi olein (RBDOL) dan fraksi stearin (RBDST) di pisahkan berdasarkan sifat fisiknya, fraksi olein mempunyai titik beku lebih rendah dan fraksi stearin dengan titik beku lebih tinggi.

Proses Dry Fractination meliputi tiga tahap yaitu: 1. Tahap persiapan dan pengkondisian minyak. 2. Tahap kristalisai. 3. Tahap penyaringan ( Filtration).

Diagram alir proses fraksinasi dapat di lihat pada gambar 4.1.2 berikut ini.

Gambar 4.1.2 Diagram alir proses fraksinasi

4.1.2.1 tahapan persiapan dan kondisi minyak Minyak RBDPO dari tanki timbun ( R.102) di pompa oleh feed pump (P.202) masuk ke Cristalizer tank (CR.401, CR.402, CR.403, CR.404, CR.405, CR.406, CR.407, CR.408, CR.409, CR. 410, CR.411, CR.412, CR.413, CR.414, CR.415, CR.416, CR.417, CR 418, CR.419, CR420,CR.21, CR.422). Cristalizer tank ini merupakan kapasitas sebesar 40 ton. Apabila suhu RBDPO belum mencapai 65 68oC, RBDPO akan di panaskan terlebih dahulu untuk menaikkan suhu dengan menggunakan heat exchanger ini dilengkapi dengan peneumatic control valve yang berfungsi untuk mengatur secara otomatis masuk tidaknya steam. Apabila tempratur RBDPO telah mencapai 65oC, maka valve akan membuka dan steam akan masuk untuk menaikkan tempratur RBDPO tersebut. Kontrol alat pada tahapan persiapan dan kondisi minyak meliputi: a. Tanki timbun (R.102) Alat yang di gunakan untuk menampung minyak RBDPO dari refinery atau tank farm.Tempratur 65 68oC.

b. Feed Pump For Oil ( P.202) Pompa ini di gunakan untuk mentransfer minyak RBDPO dari tanki timbun ( R.102) ke feed Oil Heater (E.202) dan ke Crystalizer tank ( CR.401, CR.402, CR.403, CR.404,CR.405, CR.406, CR.407, CR.408, CR.409, CR.410, CR.411, CR.412, CR.413, CR.414, CR.415, CR.416,

CR.417, CR.418, CR.419, CR.420, CR.421, CR.422). tempratur alat 65 68oC dengan tekanan 3,5 bar.

c.

Feed Oil Header Feed Oil Heater merupakan alat penukar panas berupa plate exchanger di mana minya RBDPO akan menerima panas dari steam. tempratur masuk minyak RBDPO 60oC sedangkan tempratur keluar 65 68oC. Tempratur steam masuk 150oC sedangkan tempratur keluar steam 80 90oC.

4.1.2.2 Crystalization section Minyak RBDPO dari E.201 langsung di pompakan ke Crystalizer tank. Tahap kristalisasi adalah tahap pembentukan kristal kristal stearin karena perbedaan titik beku. Pengkristalan ini di lakukan dengan cara mendinginkan minyak secara bertahap dalam beberapa segmen tempratur. Segmen tempratur yang di maksud adalah perubahan tempratur pada media pendinginan yang di gunakan untuk mendinginkan minyak di dalam Crystalizer.

Media pendingin yang di gunakan adalah air dan di bedakan menjadi cooling water dan chilled Water. Cooling water di gunakan untuk mendinginkan minysk hingga tempraturnya menjadi 45oC. Kemudian di dinginkan lagi dengan chilled water hingga tempratur minyak menjadi 25oC. Jadi pergantian antara cooling water dengan chilled water terjadi pada saat tempratur minyak 45oC. Tempratur cooling water dari cooling tower berkisar antara 29 30oC, sedangkan tempratur chilled water dari balanced tank chiller berkisar antara 12 17oC. Minysk masuk dan keluar dari bawah tanki, sedangkan air pendingin masuk tanki melalui bawah tanki dan keluar melaui bagian atas tanki.

Pada Crystalizer ini terdapat double coil, yaitu tempat media pendingin di alirkan dengan tujuan agar air pendingin tersebut tidak bercampur dengan minyak RBDPO. Pronsip double coil ini adalah 2 aliran masukdan 2

aliran keluar. Air tersebut tidak langung memenuhi coil tersebut melainkan sedikit demi sedikit agar rasio suhu antara air dam minyak RBDPO sesuai dengan setting tempratur .di dalam Crystalizer ini terdapt control valve, yaitu untuk mengatur aliran coil agar delta T tercapai atau perbandingan suhu air dan suhu minyak sesuai dengan setting tempratur.

Sistem pendingin pada Cristalizer di PT.wilmar nabati indonesia di kendalikan secara otomatis oleh program logic control (PLC). Laju alir pendingin di atur oleh modulating control valve (MCV).Pergantian air pendingin yaitu dari cooling water menjadi chilled water, di atur dengan dengan penemuatic control valve (PCV) untuk memerintahkan control valve terbuka atau tertutup dengan dengan persentase tertentu sesuai dengan yang di setting. Minyak keluar dari bagian bawah crystalizer tidak lagi berbentuk liquid, tetapi sudah berbentuk liquid, tetapi sudah berbentuk bubur yang terdiri dari kristal kristal stearin dan olein.

Crystalizer tank di lengkapi dengan peralatan pembantu lainnya, yaitu: 1. Alarm untuk menunjukkan levevl tertinggi, level terendah dan alarm untuk cyclone complate serta pergantian cooling water dengan chilled water. 2. Level transmiter yang mengirimkan sinyal ke komputer untuk mengetahui level setiap crystalizer tank. 3. Thermocouple yang berfungsi untuk mengukur tempratur minyak atau tempratur air pendingin. 4. Pipa pipa air pendingin, peneumatic valve, modulating control valve untuk membantu pengoprasian Crystalizer.

Kontrol alat pada crystalizer section meliputi: 1. Feed Pump untuk cooling Liquid ( Pu. 120A dan Pu.120B) Pompa ini di gunakan untuk memompakan atau mentransfer

chilled water dari balance tank ke crystalizer tank. Tampratur

chilled water in 12 17oC sedangkan tempratur chilled water out 24 35oC, tekanan 7 7,5 bar.

2. Chilling Pump ( Pu.332B) Pompa ini di gunakan untuk memompakan atau mentransfer air cooling tower ke condensor chilled dan cooling tower. Tempratur in 12 17oC sedangkan chilled water out 24 35oC, tekanan 5 6 bar. 3. Cooling Wate Pump (Pu.331A dan Pu.331B) Pompa ini digunakan untuk memompa atau menransfer air cooling tower ke Condensor Chiller dan ke Coolong Tower. Temperatur ini 38 400C, tekanan 5 6 bar. 4. Crystalizer Tank (CR.401 CR.422) Tangki ini digunakan untuk proses pengkristalan RBDPO dengan cara pendinginan. Median pendingin yang digunakan adalah chilled tower. Di dalam tangki ini dilengkapi dengan pengaduk (agitator) yang digunakan untuk mengaduk minyak RBDPO pada proses pengkristalan dan spiral spiral untuk pendingin. Temperatur RBDPO ini 65 680C sehingga temperatur RBDPO out 23 240C, kapasitas tangki 40 Ton/hr. 5. Recirculation Pump untuk Cooling Liquid (Pu.401 Pu.422) Pompa ini digunakan untuk memompakan atau mentransfer cooling water dari cooling tower ke Crystalizer Tank dan dari Crystalizer Tank ke Cooling Tower. Temperatur 23 240C dan tekanan 1,5 2 Bar.

4.1.2.3 filtration section Proses penyaringan adalah proses pemisahan fraksi stearin yang telah mengkristal dan fraksi olein yang masih berwujud cair.tujuan proses ini adalah untuk memisahkan fraksi stearin yang telah mengkristal dari fraksi olein yang masih berwujud cair.proses ini menggunakan membrane filter press yang terdiri dari 84 buah plate,dimana setiap plate dilengkapi

dengan

plate

chamber,plate

membrane,filter

cloth

dan

rubber

membran.stearin dan olein tersebut akan mengalami dua kali proses penyaringan sehingga akan dihasilkan stearin yang benar-benar halus dan olein yang benar-benar jernih. Pemisahan fraksi stearin dengan fraksi olein dalam membran filter press terdiri dari beberapa tahap,yaitu:

a.C lose Filter pada tahap ini membran filter yang terbuka akan ditutup dan ditekan oleh unit hidrolik sampai tekanan mencapai 120 360 Bar.Proses ini berlangsung selama 135 detik.

b.Filtration Pada tahap ini RBDPO yang telah mengalami proses kristalisasi dipompakan oleh filter pump Pu.510 hingga mencapai tekanan 2,0 2,5 Bar.Minyak yang masuk ke membran sebanyak 30 32 ton.Didalam membran akan mengalami pemisahan stearin dan olein karena adanya plate chamber,membran dan cloth ilter.Olein akan mengalir melalui selang-selang dibagian plate chamber dan membran menuju ke

intermediate tank T.512 dan T.522 sedangkan stearin akan tertinggal diantara filter cloth.

c.Squeezing Tahap ini dimakssudkan untuk memadatkan stearin yang ada pada cloth filter dengan memasukkan angin kompresor kemembran karet (rubber). Rubber akan menekan stearin yang ada pada cloth filter sehingga olein yang masih terperangkap di cloth filter terdesak dan mengalir ke

intermediate tank.Pada proses ini stearin yang ada pada filter cloth akan padat.

d.Blowing Filtrate

Pada tahap ini membrane filter press dikosongkan dari sisa-siasa minyak RBD olein yang masih ada pada lubang-lubang bagian atas plate.Lalu dialirkan melalui pipa menuju intermediate tank.Tahap ini dilakukan dengan menghembuskan angin bertekanan 4.5 5.0.Bar melalui control valve V.1411.Proses ini berlangsung selama 60 detik.

e.Blowing Care Tahap ini dilakukan untuk mengkosongkan bagian tengah membran filter press dari minyak RBDPO.Angin dihembuskan dari kompresor dengan tekanan 2,5 Bar dari control Valve V.1412 sehingga minyak mengalir ke cyclon tank melalui valve V.1403 kemudian menuju ke buffer Tank RBDPO untuk diproses kembali.

f.Cake Discharge Tahap ini dimakdsudkan untuk membuang stearin yang telah dipadatkan ke melting Tank yang terletak dibawah membran filter press.Stearinstearin padat yang jatuh ke Melting Tank akan dicairkan dengan steamsteam yang dialirkan melalui pipa-pipa steam sehingga minyak stearin mencair.kemudian stearin ini dialirkan ke storage tank stearin,margerin plant,proses soft stearin 1 dan soft stearin 2.

Kontrol alat pada tahap Filtration Section meliputi: a. Feed Pump Filter (Pu.510) Berfungsi untuk mendapatkan RBDPO crystal di filter press F.511 dan F.521 menuju tank T.512 dan ke melting stearin receiving tank T.513 dan T.523 dengan temperatur 23-240c,tekanan 1- 2 bar. b. Membran Filter press (F.511 dan F.521) Alat ini terdiri dari plate chamber,plate membran,filter cloth,rubber membran,dan hydrolic pump yang berfungsi untuk memisahkan RBDPO crystal menjadi RBDPO olein dan stearin.Temperatur 65-680c dengan tekanan 1.8- 2.2 Bar. c. Olein Receiving Tank (T.512 dan T.522)

Tanki ini berfungsi sebagai penampung RBDOL dari Membran Filter Press,dengan temperatur 24 -25oC. d. Cyclone Tank (521) Dalam alat ini terdapat spiral pemanas dan crystal dari membran filter proses blowing core.Temperatur RBDPO in 23 240c sedangkan temperatur out 40 800C.

e. Cyclone pump (Pu.521) Alat ini digunakan untuk memompakan RBDPO dari cyclone tank ke buffer tank dengan temperatur 65 -680C dan tekanan 3 3.5 bar.

f. Stearin Melting receiving Tank (T.513 dan T.523) Tangki ini berbentuk empat persegi untuk menampung stearin yang telah diproses ,didalam tanki ini terdapat pipa- pipa yang berfungsi untuk mencairkan stearin sebelum dialirkan receiving Tank.Temperaturnya 50 600C dengan kapasitas 2000 MT2. g. Stearin Melting Receiving Pump (P.513 dan P.523) Pompa ini berfungsi untuk mentransfer stearin dari stearin melting dan receiving tank receiving tank stearin,Temperatur 50 600c dengan kapasitas 100 m3/hr.

GRESIK: PT Wilmar Nabati Indonesia sedang serius melakukan proyek pengembangan industri biofuel berbasis kelapa sawit, yang pada tahap lanjutan diharapkan bisa menghasilkan bahan bakar subsitusi bagi pesawat terbang dengan nilai investasi US$70-80 juta. Direktur Eksekutif PT Wilmar Nabati Indonesia Taufik Taminmengatakan pihaknya tengah serius mengembangkan energi alternatif berbahan baku dari nabati. Wilmar sangat serius untuk menekuni industri bioenergi yang dikembangkan dari kelapa sawit. Hasil olahan kelapa sawit tidak hanya berhenti pada crude palm oil, tetapi banyak produk turunan yang bisa dihasilkan. Salah satu yang sedang dikembangkan Wilmar adalah pengolahan untuk subsitusi jet fuel, kata Taufik di instalasi pengolahan Wilmar di Gresik, Selasa 10 April 2012. Dia menjelaskan proyek pengembangan untuk memproduksi bahan bakar yang bisa untuk disubstitusi atau dicampurkan pada bahan bakar pesawat terbang ini tengah berjalan. Idenya ditemukan oleh peraih Nobel 2005 Robert H. Grubbs yang telah melakukan percobaan membuat bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan bakar jet dari sumber energi fosil. Hasil penelitian Robert ini hak patennya telah dibeli Wilmar dan kini sedang diupayakan bisa diproduksi di fasilitas pabrik Gresik, ujarnya.

Taufik mengungkapkan bahwa proyek senilai US$70-80 juta itu diharapkan dapat segera menghasilkan bahan bakar pesawat terbang berbahan nabati, atau minimal bisa dicampurkan untuk proses subsitusi dalam beberapa tahun mendatang. Dia mengungkapkan instalasi industri pengolahan jet fuel dari produk turunan olahan kelapa sawit itu kini dibangun bersama instalasi biorefinery. Hasilnya memproduksi mix oleofin dan mix bio diesel dimana memiliki gugus rantai C6C13, padahal jet fuel cukup berantai carbon10. Artinya, secara teori produk itu serupa, tinggal dicampur dan digunakan dalam proses uji coba. Dia menyatakan optimismenya bila proyek bahan bakar jet berbahan nabati ini bisa sukses menyusul kondisi serupa dialami saat proyek pengembangan bio diesel pada beberapa tahun lalu. Ingat saat ada proyek bio diesel untuk campuran solar menjadi bio solar, khan diterapkan secara bertahap. Dari campuran 2,5%, kemudian menjadi 5% dan kini akan menjadi 7,5%. Kedepan, kondisi itu diyakini bisa juga merambah sektor bahan bakar pesawat terbang melalui proyek yang kini dikembangkan Wilmar. Taufik menegaskan proses pembangunan instalasi mirip reaktor itu untuk menampung gas butten 2 yang merupakan mix oleofin dan mix bio diesel akan selesai akhir 2012 sehingga dalam 2-3 tahun kedepan proses uji coba bisa dimasifkan. Ini memang baru, Wilmar juga belum mempresentasikan project ini [bio jet fuel] dengan pemerintah, karena masih tahap pengembangan. Harapannya ada dukungan penuh pemerintah termasuk dukungan regulasi, karena jangan sampai bila sudah diproduksi masal ternyata terhambat soal regulasi khususnya bila dipasarkan secara nasional maupun internasional, tegasnya. Data yang dihimpun Bisnis, sejak masuk Indonesia pada 1991, hingga kini Wilmar telah melakukan investasi sebesar US$2,4 miliar. Adapun untuk proyek investasi di Gresik telah mencapai US$400 juta sejak 2008-2012 dan akan berkembang menjadi US$1 miliar dalam rentang beberapa tahun mendatang. Investasi di Gresik itu meliputi industri minyak goreng, dermaga jetty, pabrik pupuk organik dan biorefenery serta pabrik tepung gandum.(bas).

Semester 7 adalah saat magang kerja atau istilah di kampusku disebut OJT (On Job Training. Ada yang membedakan antara magang kerja dikampusku dengan kampus lain. OJT di kampusku berlangsung selama 4 bulan (atau sekitar 300 jam) padahal rata2 di kampus lain yang namanya magang hanya 1 atau 2 bulan.Alhasil temen temen di kampusku banyak menemui kesulitan untuk mencari tempat OJT yang mau menerima 4 bulan.Rata rata perusahaan cuma mau nerima 1-2 bulan. Begitu juga denganku, setelah kurang lebih 6 bulan mengajukan kesana sini, aku bersama ke 2 orang temanku satu tim akhirnya mendapatkan tempat magang (OJT) di PT Wilmar Nabati Indonesia Gresik dan PT Pertamaina (LOBP Gresik). Sedikit aku bagi pengalaman di tempat OJT ku yang pertama di PT Wilmar Nabati Indonesia. Kami akan berada disini selama 2 bulan terhitung 3 Agustus 2012. PT Wilmar Nabati Indonesia adalah bagian dari WILMAR Group perusahaan asing yang berkantor pusat di Singapore. Di Indonesia Wilmar memproduksi Palm Oil dan produk sampingannya. Kalau kalian tahu produk minyak goreng Sania, Fortune itu adalah produk dari PT Wilmar nabati Indonesia. Disamping produk lainnya seperti mentega, pupuk,dll. Pabrik (plant) yang ada di Gresik ini baru ada tahun 2008. Namun perkembangannya luar biasa. Sangat luas dan tertata di lingkungan pabrik Wilmar ini. O ya, karena kami dari jurusan Teknik Otomasi kami ditempatkan di Departemen Electrical and Instrumentation. Disini kami dibimbing oleh kepala bagian Project Departemen E&I Bapak Marga. Sedikit hal yang menarik disini, dalam satu departemen ini banyak diisi pegawai lulusan ITS, PENS, dan PPNS. Sehingga suasana kerja bagi kami cukup nyaman. Dan ternyata kedatangan kami saat ini adalah waktu yang sangat tepat, karena Wilmar Nabati Indonesia tengah membangun Pabrik baru hingga tahun 2020 mendatang. Karena kami masuk dalam bagian Project, kami diberikan arahan untuk ikut membantu dan belajar di departemen ini. Kami setiap hari turun ke lapangan untuk membantu dan menganalisa alur bekerja khususnya untuk bagian Commissioning alat alat Instrumentasi yang digunakan di Pabrik baru ini. Commissioning adalah pengujian peralatan atau sistem yang tengah dibangun untuk memastikan semua sistem yang dibangun telah sesuai dengan perencanaan yang dinginkan sebelum Pabrik(Plant) di Start- Up. Penerapan otomatisasi sangat vital disini. Mengapa, karena ini adalah Industri Proses, dimana dalam alur kerja produksi banyak melalui proses pengukuran dan pemantauan secara real time. Tidak mungkin dan sangat tidak efektif jika kegiatan pekerjaan seperti ini dilakukan oleh manusia secara manual. Sistem Otomatisasi diterapkan untuk memonitoring dan menegendalikan pabrik dari sebuah Kontrol Room di lantai paling atas melalui sebuah layar monitor atau istilah dalam dunia otomasi disebut SCADA (Supervisory Control & Data Acquisistion). Sensor sensor ditempelkan di Ketel ketel pengolahan minyak ada yang berfungsi sebagai sensor Level Ketinggian Minyak, Sensor deteksi tekanan, Sensor deteksi Suhu yang mana sensor sensor ini akan mengirim data secara real time ke unit pengontrolan (Otak) disini memakai PLC

(Programmable Logic Controller) dan dari PLC dikirimkan ke Ruang Kontrol untuk dilakukan monitoring. PLC, Peralatan Instrumen (Valve, Sensor), Inverter,Softstarter belum pernah kami jumpai di kampus, kalau dikampus hanya satu merek tapi di penerapan sesungguhnya di Industri semacam ini ternyata merek merek vendor tidak ada yang sama. Seperti disini untuk PLC menggunakan merek GE Fanuc dan Siemens,Untuk Inverter menggunakan merek ABB, Valve dan Sensor ada dari Festo dan Hauser. Untuk sistem SCADA nya menggunakan software Simplicity. Jadi sebenarnya pengontrolan yang banyak disini adalah pengontrolan kecepatan motor. Motor digunakan banyak untuk mengaduk minya, dan memompa minyak. Jadi di ruang panel selain ada PLC disitu banyak box box panel untuk mengendalikan motor. Kami analisa ada beberapa sistem pengendalian motor di pabrik ini : Untuk motor motor kecil biasanya pompa digunakan sistem starting motor DOL (Direct Online) Untuk motor yang lebih besar ada yang menggunakan Starting Star Delta, Softstarter, dan Inverter. Nah, yang dikendalikan kecepatannya berubah ubah adalah motor yang dikendalikan melalui Inverter. Seperti motor untuk pengadukan ini memakai Inverter, karena kecepatannya menyesuaikan kondisi di ketel. Sedikit membahas mata kuliah Control Inverter Melalui PLC, jadi PLC sebenarnya bukan mengendalikan motor secara langsung namun mengendalikan Inverter melalui Input Analog nya Inverter. PLC memberikan output analog dalam bentuk tegangan yang berubah ubah secara analog yang mana ini dikonversikan (Scaling) oleh Inverter kedalam Frekuensi untuk mengendalikan kecepatan motor. Jadi kecepatan motor bisa diatur dengan mengubah ubah nilai Frekuensinya dari Inverter. PLC nya disini saling terhubung antara 1 PLC dengan PLC yang lain. Ini yang disebut sebagai sistem terdistribusi (Distributed). Setiap hari kami turun ke pabrik yang tengah dibangun ini membantu melakukan koneksi antara plant dengan kontroller. Menjadi ruwet karena tidak hanya 10/ 20 kabel yang dikoneksikan, melainkan ratusan kabel yang harus dikoneksikan dan tidak boleh keliru. Semua kabel diberikan penamaan dan koordinasi untuk pemasangan dan pengujian dilakukan pekerja menggunakan Handy Talky (HT). O ya, satu hal lagi yang penting di Industri proses kita harus bisa membaca P&ID (Piping & Instrumentation Diagram) atau peta alur pipa dan instrumen apa saja yang dipakai di pabrik ini. Setiap hari kami melakukan inventarisasi dan memahami diagram P&ID dengan kondisi real di Plant, melakukan pendataan sensor dan valve serta motor, kemudian memahami wiring kabel nya di ruang panel. Sudah sekitar satu minggu kami disini, sungguh luar biasa bagi kami mendapatkan Ilmu yang belum pernah kami dapat di perkuliahan. Semuanya tidak Sesederhana di perkuliahan. Dan satu hal lagi yang kami pelajari disini adalah etos kerja dan semgangat kerja pegawai dengan Target target kerja yang terukur. Mereka semua professional dalam pekerjaan masing masing. OK, next time laporan kami selanjutnya.

Ruang Filter Press

PLC GE FANUC RX3i

Inverter (Kontrol Motor)

700.000.000.000