Anda di halaman 1dari 9

MODUL PRAKTIKUM

GENETIKA IKAN

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN SPERMA IKAN MAS (Cyprinus carpio) TERHADAP KEBERHASILAN IKAN KOMET (Carassius auratus)

Disusun Oleh: Tim Asisten Genetika Ikan

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI PERIKANAN JATINANGOR 2013

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nilai ekspor ikan hias Indonesia dalam 3 tahun terakhir tercatat sebesar US$7,3 juta pada tahun 2007, US$8,3 juta pada tahun 2008 dan US$10,0 juta pada tahun 2009. Walaupun nilai ini meningkat setiap tahunnya, namun dinilai masih belum cukup signifikan (Soenan, 2010). Sementara itu, data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa permintaan impor ikan AS dan Eropa dari Indonesia masing-masing mencapai US$ 900 juta dan US$ 350 juta dari total ekspor Indonesia di tahun 2010 sebesar US$ 2,9 Juta (Rosalina, 2011). KKP pada tahun 2012 menyebutkan bahwa ikan komet merupakan salah satu ikan hias yang masuk ke komoditas ekspor, mengingat Ikan ini digemari masyarakat karena keindahan warna, gerak-gerik, dan bentuk tubuhnya yang unik . Namun dengan Potensi yang besar diketahui bahwa Ikan komet merupakan ikan yang cukup rentan penyakit hal ini disebabkan karena kondisi air pada tempat pemeliharaan ikan komet cepat menjadi kotor disebabkan oleh hasil buangan dari ikan komet yang banyak (kotoran). Komet (carassius auratus-auratus) adalah jenis ikan air tawar yang hidup si perairan dangkal yang airnya mengalir tenang dan berudara sejuk. Dari kondisi tersebut disimpulkan perlunya peningkatan kapasitas produksi untuk mengoptimalkan potensi maupun memenuhi permintaan yang ada. Salah satu aspek penting kegiatan produksi tersebut adalah pembenihan dengan dimbangi dengan berbaikan mutu genetik. Peningkatan produksi dapat ditingkatkan melalui breeding program, seperti selektif breeding, hibridisasi, outbreeding, crossbreeding, inbreeding, ginogenesis, monosex, poliploidisasi, androgenesis, kombinasi breeding. Seperti halanya yang dikemukakan oleh (Gjedren, 1985) program perbaikan genetik dapat meningkatkan produktivitas spesies akuatik yang dibudidayakan. Hal lain juga diungkapkan oleh Syamsiah (2001) bahwa salah satu cara untuk memperoleh varietas dengan kualitas yang baik adalah dengan persilangan (Hibridisasi). Hibridisasi dalam pengembangbiakan ikan sudah dikenal serta dilakukan orang untuk memeperbaiki sifat genetik ikan tertentu. Hibridisasi pada ikan dapat

dilakukan antara ikan ras dalam satu spesies, antara ras dalam satu genus, anatara genus dalam ras satu family atau berbeda family (Hickling 1971 dalam Syamsiah 2001). Hibridisasi ini bertujuan untuk mendapatkan benih dengan sifat lebih baik dari yang dipunyai tertuanya terutama dalam pertumbuhan, kematangan gonad, ketahanan terhadap penyakit serta lingkungan buruk, dan efesiensi pemanfaatan makanan (Hardjamulia dan Suseno dalam Syamsiah 2001). Berdasarkan konsep di atas penggunaan sperma ikan mas (Cyrinus carpio) dapat diaplikasikan pada hibridisasi ikan komet (Carassius auratus), mengingat ikan mas memiliki pertumbuhan cepat, dan memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan ikan komet. Hibridisasi yang dilakukan diharapkan dapat

menghasilkan ikan komet Hibrid yang memiliki mutu genetis yang lebih baik. B. Tujuan Praktikum Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan sperma ikan jantan Mas (Cyprinus carpio) terhadap keberhasilan hibridisasi ikan komet (Carassius auratus). C. Kegunaan Praktikum 1. Praktikan diharapkan mendapatkan informasi mengenai cara

melakukan pemijahan ikan khususnya secara buatan. 2. Praktikan mampu mengaplikasikan teknik hibridisasi, khususnya dengan penggunaan sperma ikan mas pada ikan komet.

METODE PRAKTIKUM

A. Alat Dan Bahan Praktikum Alat Praktikum a. Seleksi Induk : Skop net berukuran besar untuk menangkap induk ikan komet dan ikan mas pada saat seleksi induk dilakukan Ember untuk menampung dan memindahkan indukan ikan yang sudah diseleksi ke hatchery pemijahan Bak Fiber untuk menampung indukan ikan komet dan ikan mas sebelum dilakukan pemijahan secara buatan b. Pemijahan Buatan (Hibridisasi) : Penyuntukan: Bak untuk menyimpan induk ikan yang akan disuntik Timbangan untuk menimbang bobot ikan yang digunakan dalam pemijahan. Kain lap untuk menutup kepala ikan komet dan ikan mas, agar pada saat penyuntikan dilakukan tidak stress Jarum suntik volume 1 ml untuk menyuntikan hormon ovaprim pada proses pemijahan ikan komet secara buatan Ovulasi dan Stripping: Tissue untuk mmembersihkan alat dari air sebelum pembuahan telur. Baskom plastik untuk menampung telur yang dihasilkan indukan betina ikan komet pada proses pemijahan Mangkok plastik untuk menampung sperma yang dihasilkan indukan jantan ikan mas pada proses pemijahan Bulu ayam untuk mengaduk sperma ikan mas dengan telur ikan komet pada proses pembuahan Penetasan Telur: Akuarium penetasan berukuran 20 x 20 x 20 cm
3

Termostrat (heater) digunakan untuk mengatur suhu air dalam akuarium penetasan, sehingga suhu air dapat dikontrol.

Instalasi aerasi (blower, selang aerasi, kran aerasi, dan batu aerasi) untuk memasok oksigen ke dalam air pada setiap akuarium.

c. Pemeliharaan Larva Ikan Komet (Objek Percobaan) Akuarium ukuran 20 x 20 x 20 cm sebagai tempat pemeliharan Instalasi aerasi (blower, selang aerasi, kran aerasi, dan batu aerasi) untuk memasok oksigen ke dalam air pada setiap akuarium. Alat shipon untuk memebersihkan kontoran sisa pakan pada akuarium percobaan Skop net untuk memindahkan ikan
3

d. Perekapan Data - Alat Tulis untuk mencatat semua data yang diperoleh selama percobaan - Alat dokumentasi

Bahan Percobaan a. Pemijahan Buatan : Induk ikan komet diperoleh dari Laboratorium Lapangan Ciparanje Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran sebanyak 10 pasang. Hormon Ovaprim sebagai hormon pemijahan Larutan fisiologis digunakan untuk mengencerkan sperma dan memprtahankan kehidupan sel-sel spermatozoa. Larutan ini dibuat dengan mencampurkan NaCl fisiologis dan aquades. b. Pemeliharaan Larva Ikan Komet (Objek Percobaan) Makanan berupa naupli Artemia salina., cacing sutera Tubifex sp., dan pakan buatan.

B. Prosedur Percobaan Prosedur percobaan terdiri dari, Persiapan alat dan bahan, Seleksi Induk, Pemijahan Buatan, , Hibridisasi dan Pemeliharaan.

a. Persiapan Alat dan Bahan Persiapan alat dan bahan percobaan merupakan tahapan pertama yang akan dilakukan dalam percobaan ini. Kegiatan yang dilakukan meliputi penyediaan alat dan bahan yang dibutuhkan selama percobaan. b. Seleksi Induk Seleksi induk adalah kegiatan yang bertujuan untuk memilih induk yang siap untuk dipijahkan. Ikan yang sehat menjadi syarat utama agar dapat dipijahkan, artinya ikan harus bebas dari penyakit dan tidak cacat. Cara menentukan induk ikan dapat dipijahkan adalah dengan melihat ciri pada tubuh, tanda induk betina ikan komet yang matang gonad adalah perut gendut, gerakan lamban dan lubang kelamin agak mengembang berwarna kemerahan. Sedangkan tanda induk ikan mas yang sudah matang gonad adalah gerakan lincah, dan bercahaya, lubang kelamin membengkak berwarna kemerahan, dan alat kelamin mengeluarkan cairan putih pekat (sperma) ketika dilakukan pemijatan dari sirip ventral (sitip perut) menuju genital ikan. Penentuan calon indukan dilakukan seleksi berulang-ulang sehingga didapatkan induk yang benar-benar prima. c. Pemijahan Buatan Ikan Komet Indukan ikan komet siap pijah akan dipijahhkan secara buatan. Pemijahan buatan dilakukan dengan cara menyuntikan hormon reproduksi (ovaprim) kepada indukan betina sebanyak 0,5 ml/kg bobot induk, dan 0,3 ml/kg bobot untuk indukan jantan. Peranan penyuntikan hormon reproduksi adalah untuk merangsang terjadinya ovulasi telur oleh indukan yang dipijahkan, dan untuk indukan jantan penyuntikan hormon berperan meningkatkan produksi sperma yang akan dikeluarkan. Penyuntikan hormon dilakukan dengan teknik satu kali secara intramuscular, yaitu penyuntikan pada bagian otot punggung ikan komet. Selang waktu antara penyuntikan dengan ovulasi adalah 12-18 jam, untuk itu pada selang waktu tersebut perlu dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah terjadi ovulasi atau tidak pada indukan yang dipijahkan. Induk ikan komet yang ovulasi akan mengeluarkan telur, namun dalam hal ini proses ovulasi

dioptimalkan dengan stripping, yaitu pemijatan dari sirip ventral (sirip perut) menuju genital ikan. d. Hibridisasi Proses hibridisasi diawali dengan penanganan telur setelah induk ikan betina ovulasi, dalam hal ini yaitu induk ikan komet. Penanganan telur ikan komet dilakukan dengan cara membuahi telur ikan komet dengan sperma ikan dari spesies, genus atau famili yang berbeda, dalam percobaan ini digunakan sperma ikan mas untuk membuahi telur ikan komet, namun sebagai kontrol telur ikan komet juga ada yang dibuhi menggunakan sperma ikan komet. Telur ikan komet yang sudah terfertilisasi oleh sperma langsung ditebar pada media penetasan seperti akuarium. e. Pemeliharaan Larva Ikan Komet Pemeliharaan dalam akuarium berukuran 20 x 20 x 20 cm dilakukan sampai embrio menetas dan larva berumur 3 minggu. Pakan yang diberikaan berupa naupli Artemia salina selama 3 minggu. Pemindahan larva ikan komet dilakukan setelah larva berumur tiga minggu ke dalam akuarium yang berukuran lebih besar yaitu akurium dengan ukuran 45 x 60 x 60 cm . Selama satu bulan ikan diberi pellet merek dagang hiprovit. C. Metode Percobaan Peercobaan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu dengan menganalisis tingkat keberhasilan proses hibridisasi dan dilanjutkan pengamatan karakteristik morfometrik, meristik dari ikan komet hibrid. D. Parameter Percobaan Parameter yang diamati meliputi parameter utama yaitu derajat fertilisasi telur (FR), derajat penetasan telur (HR) dan tingkat kelangsungan hidup larva (SR). Parameter penunjang dilakukan dengan pengamatan karakteristik
3 3

morfometrik, meristik ikan. Parameter morfometrik dan meristik meliputi panjang total, panjang cagak, tinggi badan, lebar badan, lebar kepala, panjang kepala,

jumlah jari-jari lemah sirip punggung (D), jumlah jari-jari lemah sirip dada (P), jumlah jari-jari sirip perut (V), jumlah jari-jari sirip dubur (A), jumlah sisik linea lateralis. Pengamatan derajat fertilisasi telur (FR) dilakukan setelah pembuahan telur pada proses ginogenesis selesai dilakukan, derajat penetasan telur (HR) dilakukan ketika embrio berumur 17-20 jam dari proses pembuahan telur, pengamatan tingkat kelangsungan hidup (SR) dilakukan hanya untuk proses ginogenesis yaitu setelah larva ikan komet hasil ginogenesis berumur 7 hari. Pengamatan parameter pendukung seperti karakteristik morfometrik, meristik, dan dilakukan ketika ikan sudah memeiliki ciri-ciri primer yaitu setelah ikan berumur 2 bulan. Adapun beberapa rumus dan penjelasan yang dibutuhkan dalam pengamatan parameter percobaan adalah sebagai berikut: a. Derajat Fertilisasi Telur (FR) Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat fertilisasi telur ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut: Po FR (%) = x 100% P Keterangan: HR : Derajat penetasan telur (%) P : Jumlah telur sampel

Po : Jumlah telur yang dibuahi b. Derajat Penetasan Telur (HR) Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui derajat penetasan telur ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut: Pt HR (%) = x 100% Po Keterangan: HR : Derajat penetasan telur (%) Pt : Jumlah telus yang menetas Po : Jumlah telur yang dibuahi

c. Kelangsungan Hidup Ikan (SR) Effendie (1979) menyebutkan bahwa untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut: Nt SR (%) = x 100% No Keterangan: SR Nt No : Kelangsungan hidup/ survival rate ikan selama percobaan : Jumlah ikan pada akhir percobaan (ekor) : Jumlah ikan pada awal percobaan (ekor)

d. Karakter Morfometrik dan Meristik Syamsiah (2001) melakukan pengamatan karakteristik morfometrik dan meristik pada ikan dengan parameter yang diamati sebagai berikut: 1. Panjang total adalah jarak antara ujung bibir terdepan hingga ujung sirip ekor paling belakang. 2. Panjang cagak adalah jarak antara kepala terdepan sampai lekuk cabang sirip ekor. 3. Tinggi badan adalah jarak terbesar antara tubuh bagian atas (punggung) hingga sisi tubuh bagian bawah (perut). 4. Lebar badan adalah jarak terbesar sisi tubuh sebelah kiri dengan sisi tubuh sebelah kanan. 5. Panjang kepala adalah jarak antara ujung bibir terdepan hingga belakang tutup insang. 6. Lebar kepala adalah jarak terbesar antara kedua operculum kiri dan kanan kepala. 7. Jari-jari lemah adalah jari-jari sirip ikan yang bersifat transparan seperti tulang rawan beruas-ruas serta mudah dibengkokkan. 8. Linea lateralis adalah garis yang dibentuk oleh pori-pori.