Anda di halaman 1dari 2

Tempe & Tahu Menghilang, Salah Siapa?

Widi Agustian - Okezone MEROKETNYA harga kedelai membuat perajin produk tahu dan tempe setop produksi. Alhasil, pangan yang termasuk dalam makanan sehat empat sehat lima sempurna ini sempat lenyap di pasar dan menjadi langka. Langkah para perajin melakukan aksi demonstrasi kali ini mungkin bukanlah sesuatu yang baru, dan berpotensi terulang kembali. Hal ini terjadi akibat mahalnya harga bahan baku dari komoditas pangan tersebut, yakni kedelai. Sebagai negara di mana tahu dan tempe menjadi pangan utama, sudah seharusnya Indonesia mandiri soal produksi kedelai ini. Dengan kemandirian produksi, tak mungkin harga kedelai melejit sampai Rp12.000 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp7.000. Sebagai gambaran, konsumsi per kapita pada tahun 1998 sebesar 8,3 kg meningkat menjadi 8,97 kg pada tahun 2004. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan kedelai cenderung meningkat. Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,7 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 0,3 juta ton. Hanya sekitar 35 persen dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Tapi, reaksi Kementerian Pertanian (Kementan) tampaknya telat. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menyatakan swasembada kedelai akan tercipta di tahun 2014. Di mana sebagai langkah awal, Kementan dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah melakukan diskusi intensif dan koordinasi untuk memanfaatkan lahan terlantar seluas 7,5 juta hektare (ha) untuk ditanami kedelai. Dari data FAO, total kebutuhan konsumsi kedelai terus meningkat dari 2,02 juta ton pada tahun 2003 menjadi 2,7 juta ton pada tahun 2005 dan 3,35 juta ton pada tahun 2025. Jika sasaran produktivitas rata-rata nasional 5 ton per ha bisa dicapai, maka kebutuhan areal tanam kedelai diperkirakan sebesar 8 juta ha pada tahun 205, dan 2,24 juta ha pada tahun 2025. Nah, seharusnya lagi, jika sudah mengetahui produksi kedelai dalam negeri tidak mencukupi, pihak Kementerian Perdagangan (Kemendag) seharusnya lebih antisipatif atas kondisi ini, yakni menyiapkan diri untuk membuka keran impor agar tidak terjadi lebih besar permintaan daripada suplai. Pun, lagi-lagi hal ini telat. Seharusnya, impor kedelai ini bisa menjadi jurus ampuh menekan kenaikan harga kedelai ini. Orang terdepan di Kemendag, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan juga tak mau disalahkan. Dia, lagi-lagi, menyalahkan Mentan yang telah mengantisipasi produksi. Gita menyebut impor kedelai juga sulit dilakukan, lantaran negara produsen utama kedelai juga tengah berkurang produksinya akibat cuaca. Apapun alasan dua kementrian ini, yang pasti telah sukses menjadikan tahu tempe menjadi makanan dengan harga yang mahal. (wdi) Ada yang mau jadi master kedelai ???