Anda di halaman 1dari 18

David S 515100011

Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
1

PENGUKURAN GESEKAN FLUIDA
(FLUI D CI RCUI T SYSTEM EXPERI MENT)
UNTUK PIPA HORIZONTAL

A. TUJUAN PERCOBAAN
Menentukan gesekan fluida dalam pipa.
Menentukan aliran pada gate value pipa inch
Menentukan aliran pada T dan L inch
Menentukan aliran pada elbow 21 pipa inch

B. ALAT-ALAT PERCOBAAN
1. Pompa air
2. Pressure gauge
3. Pipa 3/4 : Besi, Aluminium, Galvanis, dan Tembaga
4. Pipa pengukur
5. Mistar ukur
6. Ember

C. DASAR TEORI
1. TEORI DASAR ALIRAN FLUIDA
Untuk menganalisa persoalan aliran fluida dapat dipergunakan tiga
persamaan dasar, yaitu persamaan kontinuitas, persamaan momentum,
dan persamaan energi.
Persamaan kontinuitas : persamaan ini diturunkan dari prinsip kekekalan
massa yang diterapkan pada volume atur.
Dalam suatu volume atur tertentu, maka laju aliran massa netto yang
keluar akan sama dengan laju penerus massa dalam volume dasar.
Secara matematis akan berbentuk :

}} }}}
= + 0 8 / 8 dR Ra dA V
Untuk aliran stasioner :
g . . dA = 0
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
2

Artinya laju aliran massa masuk = laju aliran massa keluar.
Untuk kasus khusus :





Sehingga persamaannya menjadi :

2
. V
2
. A
2

1
. V
1
. A
1
= 0
Apabila persamaan itu diterapkan untuk elemen X Y Z dalam koordinat
cartesius akan terbentuk :

t
p
z
Pw
y
Pu
x
Pu
o
o
o
o
o
o
o
o
= + +
) ( ) ( ) (

Kekekalan momentum suatu zat yang bergerak dengan massa tertentu
dapat dianalisa dengan menggunakan hukum kedua dari Newton
berbentuk:

dt
dv
M F =


dimana: M : massa zat
F : jumlah gaya luar uyang bekerja

dt
dv
: laju perubahan kecepatan
Dari persamaan di atas, dapat diturunkan suatu persamaan gerak dari
aliran fluida ideal, dikenal sebagai persamaan Euler, dalam vektor dapat
dituliskan:

dt
Pu
P dp Pg =
dan persamaan Euler dapat ditulis sebagai berikut:

dt
dv
dz g Dp
n
P =
1

Kondisi yang berlaku untuk persamaan di atas adalah :
Aliran stasioner sepanjang garis lurus
Dalam medan aliran irrotasioner
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
3

Gaya massa yang bekerja adalah gaya gravitasi
Kekekalan energi, persamaan Euler yang diturunkan dari hukum Newton
II merupakan suatu pernyataan.
Suatu kekekalan energi mekanis tanpa mengikut sertakan energi panas.
Dalam hukum Thermodinamika I yang diterapkan pada suatu massa alur
tertentu dapat dituliskan suatu pernyataan matematis untuk energi :
e = Q w
dimana: e = kenaikan energi tersimpan
Q = perpindahan panas dalam bentuk panas
w = perpindahan panas dalam bentuk kerja

Persamaan energi untuk suatu volume atur dengan aliran stasioner :
( ) ( )
2 2 2 2
2
2 2 2 1 1 1 1
2
1 1 1
A V P Z g V V P V A V P Z g V V P V Q + + + + + + + =

Setelah melakukan beberapa substitusi, maka didapat persamaan energi :

2
2
2
2 1
2
1
1
2 2
gZ
v
P gZ
v
P + + = + +

atau


dimana Y = g P, bentuk persamaan yang dikenal dengan persamaan
Bernaulli.

PENGERTIAN ALIRAN FLUIDA DAN PENGGUNAANNYA PADA
SISTEM ALIRAN-ALIRAN DALAM SIRKUIT PIPA
Fluida secara umum dapat diartikan sebagai zat cair yang mengalir, sedangkan
pengertian yang teliti adalah zat yang bergerak secara kontinu karena aliran gaya
gesek. Oleh karena itu, semua fluida yang mengalir terjadi atau ada harus
memenuhi suatu hukum, yaitu Hukum Kontinuitas, tekanan fluida dipancarkan
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
4

dengan kekuatan sama ke segala arah dan bekerja tegak lurus pada suatu bidang
dalam bidang datar yang sama dengan aliran fluida dalam pipa.
Persamaan aliran fluida pipa pada umumnya dikaitkan pula dengan persoalan
katup dan sambungan-sambungannya. Pemecahan aliran fluida dalam pipa sering
kali disederhanakan dengan menggunakan aliran satu dimensi. Untuk aliran
informfersible dan reversiable berlaku persamaan Bernaulli yang berbentuk:


sedengkan apabila aliran tidak reversible maka berbentuk persamaan diatas akan
sedikit berubah dan tidak konstan lagi.
Persamaan dalam bentuk head adalah:
HL Z
g
v
P Z
g
v
P + + + = + +
2
2
2
2 1
1
1
2 2

dimana HL = kerugian-kerugian yang diakibatkan aliran fluida dalam pipa

D. JALAN PERCOBAAN
J alan percobaan 1
1. Isi tangki 6 sampai setinggi 85 cm pada alat ukur reservoir.
2. Tutup keran 44, 45, dan 50, dan katup lain dalam keadaan terbuka
sehingga aliran air melalui 49, 51 hidupkan pompa.
3. Hubungkan pipa karet manometer pada titik 40,41 dan bukaan katupnya.
4. Tutup katup 45 setelah pembacaan prssure gauge.
5. Tutup katup 42 dan buka 45 sehingga pengaturan debit air yang keluar
dari pipa 46 ke tangki penampungan.
6. Ukurlah dan amati debit air pada tangki penampungan.
7. Lakukan 4 kali pengambilan seperti no. 4
J alan percobaan 2
1. Lakukan percobaan seperti no.1
2. Hubungkan pipa karet manometer lainnya dengan titik 38, dan 39
J alan percobaan 3
1. Lakukan seperti percobaan 1, katup 45, dan 52 ditutup.
2. Lepaskan pipa karet manometer dari titik 38,39. Hubungkan ke titik.
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
5

3. Untuk pipa inch buka katup 13, 12, 17, 18, 19, dan tutup katup 10,16.
Untuk pipa inch buka katup 10, 14 dan tutup katup 13, 17. Untuk pipa
1 inch buka katup 11, 15 dan tutup katup 14, 18. Untuk pipa 1 inch
buka katup 12, 16 dan tutup katup 15,19.
4. Untuk setiap percobaan hanya dilakukan 4 kali pengambilan data dengan
pengaturan katup 52.
5. System sirkuit tertutup.
J alan Percobaan 4
1. Lakukan prosedur sesuai percobaan 1, katup 45 dalam tertutup juga 52.
2. Lepaskan pipa karet manometer dari titik 38, 39 dan hubungkan titik 32,
35.
3. Dengan mengatur bukaan gate 1 valve 16.
4. Ambil data 4 kali setiap pembukaan gate valve 16 dengan mengatup
katup 52.
5. System sirkuit tertutup.
J alan Percobaan 5
1. Lakukan prosedur percobaan 1, pipa karet manometer dilepaskan dan
dihubungkan pada 34 dan 36.
2. Ambil data 4 kali dengan mengatur katup 52.
3. System sirkuit tertutup.
J alan Percobaan 6
1. Lakukan prosedur percobaan 1, pipa karet manometer dari titik 36, 34
dibuka, hubungkan dengan 36, 37.
2. Ambil data 4 kali dengan mengatur katup 52.
3. System sirkuit tertutup.

E. METODE PERHITUNGAN
Menghitung aliran (debit):
Q = Volume/waktu (lt/det)
Persamaan Bernaulli:

2
2
2
2 1
2
1
1
2 2
gZ
v
P gZ
v
P + + = + +
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
6

Persamaan Kontinuitas:
A
1
. V
1
= A
2
. V
2
= A
3
. V
3
Mencari Q
teoritis
:
Q
teoritis
= A
2



Mencari Kontraksi (C
c
):
C
c
= A
3
/A
2
Koefisien kecepatan (C
v
):
C
v
= V
3/
V2
Dimana : A
2
=A
3
dan V
3
= V
2
Menghitung N
Re
:
N
Re
=


Menghitung kecepatan aliran:
V=Q/A (m/det)
Menghitung faktor gesekan:
f =


Menghitung panjang ekivalen:
L
ekivalen
=



TUGAS
1. Hitung seluruh parameter prestasi pada pengujian ini?
2. Buatlah grafik Q vs Hf masing-masing pipa?
3. Berikan analisa terhadap masing-masing grafik?
4. Buatlah kesimpulan minimal 5 buah?







David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
7

Pengukuran Gesekan Fluida untuk Berbagai Jenis Pipa
Kelompok V
Praktikan :
1. David Sutanto 515050011
2. Suhendra 515100023
3. Steven Andre Y 515100027

Posisi Bukaan Volume Dalam (ml)
1 Bukaan 1 8000
2 Bukaan 6000
3 Bukaan 4000

Bahan Pipa Aluminium
Posisi Awal (kg/cm) Akhir (kg/cm)
1 0.5 0.4
2 0.5 0.5
3 0.64 0.7

Bahan Pipa Tembaga
Posisi Awal (kg/cm) Akhir (kg/cm)
1 0.4 0.45
2 0.45 0.6
3 0.4 1.1

Bahan Pipa Galvanis
Posisi Awal (kg/cm) Akhir (kg/cm)
1 0.4 0.4
2 0.4 0.4
3 0.3 0.7

Bahan Pipa Besi
Posisi Awal (kg/cm) Akhir (kg/cm)
1 0.4 0.4
2 0.3 0.5
3 0.3 0.85


David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
8

F. PERHITUNGAN
Diketahui :
- Pipa
- Air Dengan Suhu 25
o

- L = 2m
- Volume = 15 L = 15.10
-3
m
2
/s
- P
1
= 0,5 kg/cm
2
= 5000 kg/m
2

- P
2
= 0,51 kg/cm
2
= 5100 kg/m
2

- A
1
= A
2
= 2,848.10
-4
m
2

- d
1
= d
2
= 1,905.10
-2
m
- Z
1
= Z
2
= 0,5 m
- v air = 0,897.10
-6
m
2
/s
- air = 1000 kg/m
3


Bahan : Aluminium
Pipa Aluminium 3/4 bukaan
P
out
= 0,5 kg/cm
2
= 5000 kg/m
2

P
in
= 0,5 kg/cm
2
= 5000 kg/m
2

(i). Kecepatan Aliran Awal
s m x s l
t
Vol
Q / 10 2 . 0 / 17 , 0
30
6
3 3
= = = =
s m
x
x
A
Q
v / 7 , 0
10 848 , 2
10 20 , 0
4
3
= = =



(ii). Kecepatan Aliran Akhir dengan Persamaan Bernoulli
2
2
2 2
1
2
1 1
2 2
Z
g
v P
Z
g
v P
air air
+ + = + +


2
2
2
1
2
2 1000
5000
2
) 70 , 0 (
1000
5000
Z
g
v
Z
g
+ + = + +
s m v / 62 , 0
2
=

David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
9


(iii). Bilangan Reynold
Karena suhu air = 25
o
C maka v = 0,897x10
-6
m
2
/s
v
d v d v
R
e
. . .
= =
4
6
2
10 316 , 1
10 897 , 0
10 905 , 1 6 , 0
x
x
x
R
e
=



(iv). Kekasaran Relatif
e aluminium = 1x10
-6
m
5
2
6
10 25 , 5
10 905 , 1
10 1

= =
e
x
x
x
d


(v). Berdasarkan Bilangan Reynold dan Kekasaran Relatif didapatkan Faktor
Gesekan yang Menggunakkan Diagram Moody
068 , 0 = f

(vi). Sehingga didapatkan Kerugian Pada Pipa
( )
124 , 0
10 2 10 905 , 1
) 60 , 0 ( 2 068 , 0
2
2
2 2
2
=


=


=

x g d
v L f
hf m

Bukaan
pipa "
p1
(kg/m
2
)
p2
(kg/m
2
)
v1
(m/s)
v2
(m/s)
Q
(m
3
/s)
Vol
(L)
R E/D f Hf (m)
1 5000 4000 0.94 5.54 0.25 8 1.96 E04
5.24934
E-05
0.068 0.110
5000 5000 0.70 6.28 0.20 6 1.36 E04
5.24934
E-05
0.068 0.124
6400 7000 0.45 0.32 0.13 4 7,34 E03
5.24934
E-05
0.068 0.144

Bahan : Tembaga
Pipa Tembaga 3/4 bukaan
P
out
= 0,60 kg/cm
2
= 6000 kg/m
2

P
in
= 0,45 kg/cm
2
= 4500 kg/m
2
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
10


(i). Kecepatan Aliran Awal
s m x s l
t
Vol
Q / 10 2 , 0 / 2 , 0
30
6
3 3
= = = =
s m
x
x
A
Q
v / 7 , 0
10 848 , 2
10 2 , 0
4
3
= = =



(ii). Kecepatan Aliran Akhir dengan Persamaan Bernoulli
2
2
2 2
1
2
1 1
2 2
Z
g
v P
Z
g
v P
air air
+ + = + +


2
2
2
1
2
2 1000
6000
2
) 7 , 0 (
1000
4500
Z
g
v
Z
g
+ + = + +
s m v / 79 , 0
2
=

(iii). Bilangan Reynold
Karena suhu air = 25
o
C maka v = 0.897x10
-6
m
2
/s
v
d v d v
R
e
. . .
= =
4
6
2
10 754 , 1
10 897 , 0
10 905 , 1 79 , 0
x
x
x
R
e
=



(iv). Kekasaran Relatif
e tembaga = 1x10
-6
m
5
2
6
10 25 , 5
10 905 , 1
10 1

= =
e
x
x
x
d


(v). Berdasarkan Bilangan Reynold dan Kekasaran Relatif didapatkan Faktor
Gesekan yang Menggunakkan Diagram Moody

011 , 0 = f


David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
11


(vi). Sehingga didapatkan Kerugian Pada Pipa
( )
036 , 0
10 2 10 905 , 1
) 79 , 0 ( 2 011 , 0
2
2
2 2
2
=


=


=

x g d
v L f
hf m

Bukaan
pipa "
p1
(kg/m
2
)
p2
(kg/m
2
)
v1
(m/s)
v2
(m/s)
Q
(m
3
/s)
Vol
(L)
R E/D f Hf (m)
1 4000 4500 0,94 0,82 0.25 8
1.602
E04
5.24934
E-05
0.011 0,342
4500 6000 0,70 0,79 0.20 6
1.824
E04
5.24934
E-05
0.011 0,036
4000 11000 0,26 1,18 0.13 4
9,482
E03
5.24934
E-05
0.011 0,012

Bahan : Galvanis
Pipa Galvanis 3/4 bukaan
P
out
= 0,40 kg/cm
2
= 4000 kg/m
2

P
in
= 0,40 kg/cm
2
= 4000 kg/m
2

(i). Kecepatan Aliran Awal
s m x s l
t
Vol
Q / 10 2 , 0 / 2 , 0
30
6
3 3
= = = =
s m
x
x
A
Q
v / 7 , 0
10 848 , 2
10 2 , 0
4
3
= = =



(ii). Kecepatan Aliran Akhir dengan Persamaan Bernoulli
2
2
2 2
1
2
1 1
2 2
Z
g
v P
Z
g
v P
air air
+ + = + +


2
2
2
1
2
2 1000
4000
2
) 7 , 0 (
1000
4000
Z
g
v
Z
g
+ + = + +
s m v / 7 , 0
2
=



David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
12


(iii). Bilangan Reynold
Karena suhu air = 25
o
C maka v = 0,897x10
-6
m
2
/s
v
d v d v
R
e
. . .
= =
4
6
2
10 486 , 1
10 897 , 0
10 905 , 1 7 , 0
x
x
x
R
e
=



(iv). Kekasaran Relatif
e galvanis= 15x10
-5
m
3
2
5
10 874 , 7
10 905 , 1
10 15

= =
e
x
x
x
d


(v). Berdasarkan Bilangan Reynold dan Kekasaran Relatif didapatkan Faktor
Gesekan yang Menggunakan Diagram Moody
035 , 0 = f

(vi). Sehingga didapatkan Kerugian Pada Pipa
( )
9 , 0
10 2 10 905 , 1
) 7 , 0 ( 2 035 , 0
2
2
2
2
2
=


=


=

x g d
v L f
hf m

Bukaan
pipa "
p1
(kg/m
2
)
p2
(kg/m
2
)
v1
(m/s)
v2
(m/s)
Q
(m
3
/s)
Vol
(L)
R E/D f Hf (m)
1 4000 4000 0.94 0,94 0.25 8
1.996
E04
5.24934
E-05
0.035 0,16
4000 4000 0.70 0,70 0.20 6
1.425
E04
5.24934
E-05
0.035 0,09
3000 7000 0.34 0,60 0.13 4
1,144
E04
5.24934
E-05
0.035 0,024

Bahan : Besi
Pipa Besi 3/4 bukaan
P
out
= 0,50 kg/cm
2
= 5000 kg/m
2

P
in
= 0,30 kg/cm
2
= 3000 kg/m
2
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
13


(i). Kecepatan Aliran Awal
s m x s l
t
Vol
Q / 10 2 , 0 / 2 , 0
30
6
3 3
= = = =
s m
x
x
A
Q
v / 7 , 0
10 848 , 2
10 2 , 0
4
3
= = =



(ii) Kecepatan Aliran Akhir dengan Persamaan Bernoulli
2
2
2 2
1
2
1 1
2 2
Z
g
v P
Z
g
v P
air air
+ + = + +


2
2
2
1
2
2 1000
5000
2
) 7 , 0 (
1000
3000
Z
g
v
Z
g
+ + = + +
s m v / 86 . 0
2
=

(iii) Bilangan Reynold
Karena suhu air = 25
o
C maka v = 0,897x10
-6
m
2
/s
v
d v d v
R
e
. . .
= =
4
6
2
10 486 , 1
10 897 , 0
10 905 , 1 70 . 0
x
x
x
R
e
=



(iv) Kekasaran Relatif

e besi = 1x10
-6
m
5
2
6
10 25 , 5
10 905 , 1
10 1

= =
e
x
x
x
d


(v). Berdasarkan Bilangan Reynold dan Kekasaran Relatif didapatkan Faktor
Gesekan yang Menggunakan Diagram Moody

028 , 0 = f
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
14



(vi). Sehingga didapatkan Kerugian Pada Pipa
( )
072 , 0
10 2 10 905 , 1
) 70 , 0 ( 2 028 , 0
2
2
2
2
2
=


=


=

x g d
v L f
hf m

Bukaan
pipa "
p1
(kg/m
2
)
p2
(kg/m
2
)
v1
(m/s)
v2
(m/s)
Q
(m
3
/s)
Vol
(L)
R E/D f Hf (m)
1 4000 4000 0.94 0,94 0.25 8
1,996
E04
5.24934
E-05
0.028 0,129
3000 5000 0.70 0,86 0.20 6
1.346
E04
5.24934
E-05
0.028 0,072
3000 8500 0.47 0,906 0.13 4
1,935
E04
5.24934
E-05
0.028 0,14





















David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
15



G. GRAFIK HASIL PERCOBAAN
1. Q vs Hf untuk pipa aluminium

2. Q vs Hf untuk pipa tembaga

3. Q vs Hf untuk pipa galvanis
0
0.02
0.04
0.06
0.08
0.1
0.12
0.14
0.16
0 0.05 0.1 0.15 0.2
Grafik Alriran Fluida Pada Alumunium
-0.005
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
0.03
0.035
0.04
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Grafik Aliran Fluida Pada Tembaga
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
16




4. Q vs Hf untuk pipa besi







0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Grafik Aliran Fluida Pada Galvanis
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5
Grafik Aliran Fluida Pada Besi
David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
17

H. ANALISA GRAFIK
1. Semakin Kecil Nilai Q makan akan semakin kecil pula nilai Hf yang akan
terbentuk.
2. Pada Grafik diatas dapat kita lihat bahwa tingkat kekerasan dari material
pipa mempengaruhi nilai perbandingan antara Q dengan Hf.
3. Pada grafik diatas dapat kita lihat bahwa aliran suatu fluida tergantung dari
lekukan, tingkat kekasaran dari permukaan dalam pipa, bukaan katup yang
terjadi.
























David S 515100011
Suhendra 515100023
Steven AY 515100027
18

I. KESIMPULAN
1. Pipa yang memiliki tingkat kekerasan yang paling rendah akan memiliki
keugian yang paling kecil.
2. Faktor kerugian yang ditimbulkan oleh fluida akan semakin mengecil
apabila kecepatan aliran fluida tinggi.
3. Viskositas dan suhu dari fluida mempengaruhi aliran fluida.
4. Kerugian dari aliran fluida dipengaruhi oleh tingkat kekasaran
permukaan pipa.
5. Semakin kecil luas penampang pipa, maka akan semakin cepat arah
aliran fluida tersebut.