Anda di halaman 1dari 0

9

BAB II

MODUL INQUIRY DAN PROTOTYPE MEDIA BERBASIS CMAP TOOLS

SERTA KAITANYA DENGAN PENINGKATAN AKTIVITAS DAN

PRESTASI BELAJAR SISWA

A. Modul Inquiry Modul yang digunakan dalam penelitian terdahulu ada dua jenis yaitu: Teacher’s Manual
A. Modul Inquiry
Modul yang digunakan dalam penelitian terdahulu ada dua jenis yaitu:
Teacher’s Manual dan Teaching and Learning Activities. Dalam modul Teacher’s
Manual terdiri dari:
1. Panduan guru
2. Gambaran dan analisis kegiatan siswa
3. Deskripsi perluasan kegiatan
4. Penilaian tugas
5. Deskripsi singkat mengenai pengembangan modul dan studi empiris
Sedangkan dalam modul Teaching and Learning Activities berisi Lembar
Kerja Siswa (LKS) yang merupakan salah satu bentuk inquiry terbimbing yang
membimbing siswa dalam menemukan sesuatu. Pembuatan lembar kerja ini
mempertimbangkan aspek Predict-Observe-Explain (POE), sehingga diharapkan
setelah menggunakan dan menyelesaikan modul ini pemahaman siswa terhadap

materi-materi yang disajikan dalam modul dapat meningkat.

The POE strategy was developed by White and Gunstone (1992) to

uncover individual students predictions, and their reasons for making these, about

a specific event” (Joyce, 2006). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu strategi

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

10

POE ini dikembangkan untuk mengetahui prediksi masing-masing siswa dan

alasan siswa membuat prediksi tersebut. Strategi POE ini dapat digunakan untuk:

1. Menemukan pemikiran awal siswa

2. Memberi guru informasi mengenai pemikiran siswa

3. Melakukan diskusi

4. Memotivasi siswa untuk menggali konsep 5. Melakukan penyelidikan Strategi POE bekerja dengan cara: 1.
4. Memotivasi siswa untuk menggali konsep
5. Melakukan penyelidikan
Strategi POE bekerja dengan cara:
1. “Unless students are asked to predict first what will happen, they may not
observe carefully” (Joyce, 2006). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu jika
siswa bertanya untuk prediksi awal apa yang akan terjadi, mereka mungkin
tidak mengamati dengan hati-hati.
2. “Writing down their prediction motivates them to want to know the answer”
(Joyce, 2006). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu menguraikan prediksi
mereka memotivasi mereka untuk dapat mengetahui jawabannya.
3. “Asking students to explain the reasons for their predictions gives the teacher
indications of their theories. This can be useful for uncovering misconceptions
or developing understandings they have. It can provide information for
making decisions about the subsequent learning” (Joyce, 2006). Maksud dari

pernyataan tersebut yaitu menanyakan siswa untuk menjelaskan alasan atas

prediksi

mereka

memberikan

tanda

kepada

guru

mengenai

pemahaman

mereka.

Ini

dapat

digunakan

untuk

menemukan

kesalahpahaman

atau

perkembangan

pemahaman

yang

mereka

miliki.

Selain

itu,

dapat

juga

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

11

digunakan untuk memberikan informasi dalam membuat keputusan mengenai

pembelajaran berikutnya.

4.

Explaining

and

evaluating

their

predictions

and

listening

to

others’

predictions

helps

students

to

begin

evaluating

their

own

learning

and

constructing new meanings” (Joyce, 2006). Maksud dari pernyataan tersebut

yaitu menjelaskan dan mengevalusi prediksi mereka serta mendengarkan prediksi dari yang lain membantu siswa untuk
yaitu menjelaskan dan mengevalusi prediksi mereka serta mendengarkan
prediksi dari yang lain membantu siswa untuk mulai mengevaluasi pelajaran
apa yang mereka peroleh dan membangun arti baru.
Yang harus dilakukan terkait dengan strategi POE ini adalah :
1. Mengatur sebuah demonstrasi mengenai sebuah peristiwa yang berhubungan
dengan fokus topiknya yang mungkin mengejutkan siswa dan dapat diamati.
2. Mengatakan kepada siswa apa yang akan dilakukan.
Langkah pertama: Memprediksi
1. Meminta kepada siswa untuk menuliskan prediksi mereka secara bebas
mengenai apa yang akan terjadi
2. Menanyakan
kepada
mereka
apa
yang
mereka
pikir,
mereka
lihat
dan
mengapa mereka berpikir demikian.
Langkah kedua: Mengamati
1. Mengadakan demonstrasi

2. Menyediakan waktu untuk fokus pada pengamatan

3. Meminta siswa untuk menguraikan apa yang mereka amati

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

12

Langkah tiga: Menjelaskan

1.

Menanyakan

kepada

siswa

untuk

mengembangkan

atau

menambahkan

penjelasan mereka untuk membuat laporan mengenai pengamatan.

 

2.

Setelah

siswa

memasukkan

penjelasan

mereka,

kemudian

mereka

mendiskusikan pemikiran mereka bersama.

Di dalam modul disajikan kegiatan kolaboratif, agar para siswa berbagi dan menafsirkan data, mendiskusikan
Di dalam modul disajikan kegiatan kolaboratif, agar para siswa berbagi
dan menafsirkan data, mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan spesifik dari lembar
kerja dan mencapai kesimpulan. Secara umum, setiap lembar kerja menunjukkan
beberapa kegiatan siswa. Struktur indikatif modul adalah sebagai berikut:
1. Tahap 1
“Students
are
initiated
to
the
phenomena
under
study,
often
by
engagement in a qualitative problem. The problem to be solved usually comes
from
everyday
experiences,
in
order
to
be
meaningful
for
the
students”
(Constantinou, 2010). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu siswa diperkenalkan
pada fenomena yang diteliti, biasanya dengan memecahkan masalah kualitatif.
Masalah yang akan diselesaikan biasanya datang dari pengalaman sehari-hari,
dalam rangka akan membawa manfaat bagi siswa.
2. Tahap 2
“Students are prompted to elucidate their views and make predictions

about the evolution of the phenomena” (Constantinou, 2010). Maksud dari

pernyataan tersebut yaitu siswa diminta untuk menjelaskan pandangan mereka

dan membuat prediksi tentang evolusi fenomena.

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

13

3. Tahap 3

In order to test their predictions, students pose questions, suggest design of experiments and actions, set-up and/or run an experiment, observe the evolution of the phenomena. Students may change the values of the parameters and/or make new predictions on the basis of their findings, and run again the experiment (Constantinou, 2010).

Maksud dari pernyataan tersebut yaitu untuk menguji prediksi mereka, siswa

mengatur dan menjalankan percobaan, mengamati fenomena dan grafik. Pada tahap ini, siswa sering diminta untuk
mengatur dan menjalankan percobaan, mengamati fenomena dan grafik. Pada
tahap ini, siswa sering diminta untuk mengubah nilai-nilai parameter, membuat
prediksi baru berdasarkan temuan mereka, dan menjalankan kembali percobaan.
4. Tahap 4
“Students compare their initial views/predictions with the experimental
results take into account discussions in the classroom draw conclusions, relate
experimental results with the everyday situation and compare them with their
initial views” (Constantinou, 2010). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu siswa
membandingkan prediksi mereka dengan hasil eksperimen tahap sebelumnya,
menarik
kesimpulan
berdasarkan
hasil
diskusi
kelas,
membandingkan
hasil
eksperimen dengan keadaan sehari-hari dan membandingkan hasil eksperimen
dengan prediksi mereka.
Tujuan Modul Inquiry
Modul
ini
bertujuan
untuk
memfasilitasi
siswa
dalam
membangun

pemahaman

yang

lebih

dalam

mengenai

konsep

fisika

daripada

hasil

pembelajaran secara normal. “In the design of the module it has been taken into

account that both teachers and students are normally familiar with traditional

transfer of knowledge approaches rather that inquiry ones” (Constantinou, 2010).

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

14

Maksud

dari

pernyataan

tersebut

yaitu

dalam

merancang

modul

ini

telah

dipertimbangkan bahwa guru dan siswa secara normal terbiasa dengan pendekatan

transfer pengetahuan secara tradisional daripada inquiry.

In this context the present module aims at improving studentsʼ conceptual

and epistemological understandings as well as enhance investigative skills

(Constantinou, 2010). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu dalam konteks penyajian, modul ini bertujuan untuk
(Constantinou, 2010). Maksud dari pernyataan tersebut yaitu dalam konteks
penyajian, modul ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep dan
pemahaman epistemologis serta meningkatkan keterampilan investigasi siswa.
Setelah siswa menyelesaikan modul ini diharapkan:
1. Memiliki beberapa pemahaman mengenai alam dan menggunakannya dalam
sains.
2. Memiliki beberapa kemampuan untuk melakukan penyelidikan eksperimen
dengan menggunakan simulasi atau dengan hands-on eksperimen.
3. Mempunyai
beberapa
kemampuan
dalam
merencakan
penyelidikan
eksperimen untuk membuktikan atau menolak sebuah hipotesis.
4. Memiliki kebiasan menggunakan fakta-fakta eksperimen untuk memutuskan
permasalahan sehari-hari.
5. Dapat memotivasi dalam belajar sains agar paham prinsip dasar ilmiah
termasuk beberapa penggunaan

Berdasarkan uraian di atas, maka modul inquiry yang dimaksud dalam

penelitian ini adalah modul yang di dalamnya berisi Lembar Kerja Siswa (LKS) di

mana pada setiap babnya disusun dengan memperhatikan strategi POE. Modul

inquiry ini merupakan bagian dari model pembelajaran inquiry terbimbing. Jadi,

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

15

dengan menggunakan modul inquiry ini diharapkan siswa dapat menemukan

sendiri konsep-konsep fisika yang dipelajari.

B. Prototype Media Berbasis Cmap Tools

Definisi prototype menurut Kamus Besar Indonesia (KBI) adalah contoh

standar atau khas dari suatu bentuk rancangan yang sebenarnya. Prototype bisa diartikan juga sebagai bentuk
standar atau khas dari suatu bentuk rancangan yang sebenarnya. Prototype bisa
diartikan juga sebagai bentuk awal dari sebuah rancangan yang sebenarnya.
Banyak prototype yang dibuat dengan ukuran yang kecil dan sederhana, ini
bertujuan untuk membuat sebuah model awal dari program, perangkat-perangkat
ataupun sebuah sistem. Prototype bisa dikembangkan menjadi skala yang lebih
besar.
“Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara
atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan” (Arsyad, 2009:3).
Gerlach dan Ely (Arsyad, 2009:3) mengatakan bahwa “media apabila dipahami
secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi
yang
membuat
siswa mampu
memperoleh
pengetahuann,
keterampilan
atau
sikap.”

For the past dozen years, the Institute for Human and Machine Cognition (IHMC) has been developing Cmap Tools (Cañas et al., 2004) a client-server software environment that greatly facilitates the construction and sharing of concept maps. The software is used extensively throughout the world by persons of all ages and for a large variety of application. (Cañas dan Novak, 2004).

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

16

Maksud dari pernyataan tersebut yaitu selama 12 tahun IHMC telah

mengembangkan Cmap Tools yaitu sebuah client-server software lingkungan

yang sangat memfasilitasi dalam membangun dan berbagi peta konsep. Software

ini digunakan secara ekstensif oleh orang-orang di seluruh dunia dari berbagai

umur dan untuk berbagai macam aplikasi.

‘ the act of mapping as a creative activity, in which the learner must exert
‘ the
act of mapping as a creative activity, in which the learner must exert
effort to clarify meanings, by identifying important concepts, relationships, and
structure within a specified domain of knowledge’ (Cañas dan Novak, 2004).
Maksud dari pernyataan tersebut yaitu tindakan pemetaan adalah kegiatan kreatif,
di mana pelajar harus mengerahkan upaya untuk memperjelas makna, dengan
mengidentifikasi
konsep-konsep
penting,
hubungan,
dan
kerangka
dalam
menentukan domain pengetahuan. ‘Knowledge creation requires a high level of
meaningful learning, and concept maps facilitate the process of knowledge
creation for individuals and for scholars in a discipline’ (Cañas dan Novak,
2004).
Maksud
dari
pernyataan
tersebut
yaitu
penciptaan
pengetahuan
membutuhkan
pembelajaran
bermakna
tingkat
tinggi,
dan
peta
konsep
memfasilitasi proses penciptaan pengetahuan untuk individu dan untuk sarjana.
Cañas dan Novak (2004) mengemukakan bahwa:

Educators have recognized that it is the process of creating a concept map that is important, not just the final product. However, in many cases the teacher cannot accompany the students during the process of concept mapping, whether it’s because there are too many students, the student is doing the work at home, or the learning is taking place at a distance. CmapTools provides the capability of “recording” the process of constructing a concept map, allowing for a graphical “playback” at a later time, controlling the speed and moving forward or backwards as needed.

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

17

Maksud dari pernyataan tersebut yaitu pendidik telah mengakui bahwa proses

menciptakan peta konsep itu penting, bukan hanya produk akhir. Namun, dalam

banyak kasus guru tidak dapat mendampingi siswa selama proses pemetaan

konsep, apakah itu karena ada terlalu banyak siswa, siswa yang melakukan

pekerjaan di rumah, atau kegiatan belajar berlangsung dengan jarak jauh. Cmap

Tools menyediakan kemampuan merekam proses pembangunan peta konsep yang memungkinkan untuk sebuah pemutaran grafis
Tools menyediakan kemampuan merekam proses pembangunan peta konsep yang
memungkinkan untuk sebuah pemutaran grafis dikemudian waktu, mengendalikan
kecepatan dan bergerak maju atau mundur sesuai kebutuhan.
Gambar 2.1 Fitur Perekam dari Cmap Tools (Novak dan Canas, 2004).
Fitur Perekam dari cmap tools yang digambarkan pada Gambar 2.1
memungkinkan pemutaran grafis dari langkah-langkah dalam pembangunan peta
konsep. Fitur ini dapat digunakan oleh para pembuat peta untuk meninjau
kemajuan mereka, atau oleh guru dan peneliti untuk mempelajari kontribusi oleh
individu dari waktu ke waktu.
mempelajari kontribusi oleh individu dari waktu ke waktu. Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

18

Gambar 2.2 Spektrum seluruh kegiatan belajar (Novak dan Canas, 2004).

Berdasarkan uraian mengenai cmap tools, maka penulis menyimpulkan

cmap tools merupakan salah satu perangkat lunak komputer yang menyediakan kerangka peta konsep siap pakai
cmap tools merupakan salah satu perangkat lunak komputer yang menyediakan
kerangka peta konsep siap pakai dari berbagai jenis peta konsep (misalnya
struktur hierarkis yang berbeda) yang dengan mudah dapat dimanipulasi dan
diperbaharui dengan beberapa konsep, serta dapat menyisipkan berbagai media
seperti video, animasi, simulasi, teks dan sebagainya.
Berdasarkan pemaparan di atas mengenai pengertian prototype, media dan
cmap tools, maka penulis mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan prototype
media
berbasis
cmap
tools
dalam
penelitian
ini
adalah
suatu
perangkat
pembelajaran yang dikembangkan dari software IHMC Cmap Tools yang dapat
membantu guru dalam menghadirkan fenomena-fenomena terkait dengan konsep-
konsep yang akan diajarkan di dalam kelas. Prototype media berbasis cmap tools
ini memiliki tampilan seperti peta konsep di mana dalam masing-masing konsep
yang menyusun peta konsep tersebut disisipkan berbagai media seperti video,
animasi, simulasi, gambar, game, kuis dan sebagainya yang dapat membantu

siswa dalam memahami konsep-konsep tersebut.

C. Prestasi Belajar

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

19

Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan

belajar karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan

hasil dari proses belajar. “Prestasi belajar siswa adalah hasil dari berbagai upaya

dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang dilakukan siswa dalam

mempelajari materi pelajaran yang dilakukan oleh guru” (Ginting, 2008:87).

Sehubungan dengan prestasi belajar, W.J.S Purwadarminto (Arianto, 2008), menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah
Sehubungan dengan prestasi belajar, W.J.S Purwadarminto (Arianto, 2008),
menyatakan bahwa “prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya
menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal-hal yang dikerjakan
atau dilakukan.” Selanjutnya Winkel (1996:482) mengatakan bahwa “prestasi
belajar yang diberikan kepada siswa, berdasarkan kemampuan internal yang
diperolehnya sesuai dengan tujuan instruksional, menampakkan hasil belajar.
Selanjutnya
menurut
Winkel,
kemampuan-kemampuan
itu
dihasilkan
karena
usaha belajar.”
Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi, salah
satunya melalui tes prestasi belajar. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan
tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. Menurut Azwar (2009:9),
“tes prestasi belajar berupa tes yang disusun secara terencana untuk mengungkap
performansi maksimal subjek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang
telah diajarkan. Tes prestasi dapat berupa ulangan-ulangan harian, tes formatif, tes

sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk perguruan tinggi.”

Gagne (Winkel, 1996:482) menyatakan bahwa “proses belajar mengajar

menghasilkan sejumlah perubahan pada siswa. Menurut Gagne kemampuan itu

digolongkan

atas

kemampuan

dalam

hal

kemahiran

intelektual,

pengaturan

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

20

kegiatan kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan motorik.” Tes prestasi

belajar secara luas mencakup ketiga kawasan ukur menurut Benyamin S. Bloom.

Sedangkan

Bloom

(Arikunto,

2009:117)

menyatakan

bahwa

“hasil

belajar

dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif (Cognitif Domain), afektif (Affective

Domain) dan psikomotorik (Psychomotor Domain).

Bloom membagi ketiga

ranah itu menjadi tingkatan-tingkatan kategori yang disebut dengan Taksonomi Bloom (Bloom’s Taxonomy). Dengan demikian,
ranah itu menjadi tingkatan-tingkatan kategori yang disebut dengan Taksonomi
Bloom (Bloom’s Taxonomy). Dengan demikian, istilah prestasi belajar dalam
penelitian ini hanya dibatasi pada kawasan ukur kognitif saja dengan memberikan
tes prestasi belajar.
Pada ranah kognitif, Bloom membagi ke dalam enam jenjang kemampuan
secara hierarki seperti yang dinyatakan oleh Munaf (2001:68-74) sebagai berikut:
1. Pengetahuan/C1 (Knowledge)
Pengetahuan
merupakan
kemampuan
menyatakan
konsep,
prinsip,
prosedur, atau istilah yang telah dipelajari tanpa harus memahami atau dapat
menggunakannya. Jenjang ini adalah jenjang yang paling rendah tapi menjadi
prasyarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Contoh kata kerja yang dapat
digunakan yaitu menyebutkan, mendefinisikan, menggambarkan.
2. Pemahaman/C2 (Comprehension)
Pemahaman merupakan salah satu jenjang kemampuan proses berfikir

yang menuntut siswa untuk memahami yang berarti mengetahui tentang sesuatu

hal

dan

dapat

melihatnya

dari

beberapa

segi.

Siswa

dituntut

untuk

dapat

menafsirkan bagan, diagram atau grafik, meramalkan, mengungkap suatu konsep

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

21

atau prinsip dengan kata-kata sendiri. Contoh kata kerja yang dapat digunakan

yaitu membedakan, menginterpretasi, menjelaskan.

3. Penerapan/C3 (Application)

Penerapan merupakan kemampuan menggunakan prinsip, teori, hukum,

aturan, maupun metode yang dipelajari pada situasi baru atau pada situasi

kongkrit. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari pada pemahaman. Contoh kata kerja yang dapat digunakan
kongkrit. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari pada pemahaman. Contoh
kata kerja yang dapat digunakan yaitu menerapkan, menghubungkan, menghitung,
menunjukkan, mengklasifikasikan.
4. Analisis/C4 (Analysis)
Analisis merupakan kemampuan untuk menganalisa atau merinci suatu
situasi atau pengetahuan menurut komponen yang lebih kecil atau lebih terurai
dan memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan bagian yang lain.
Contoh kata kerja yang dapat digunakan yaitu menganalisis, membandingkan,
mengklasifikasikan.
5. Sintesis/C5 (Synthesis)
Kemampuan
sintesis
merupakan
kemampuan
untuk
mengintegrasikan
bagian-bagian
yang
terpisah
menjadi
satu
keseluruhan
yang
terpadu,
atau
menggabungkan
bagian-bagian
(unsur-unsur)
sehingga
terjelma
pola
yang
berkaitan secara logis, atau mengambil kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang

ada hubungannya satu dengan yang lain. Contoh kata kerja yang dapat digunakan

yaitu

mensintesis,

menyimpulkan.

menghubungkan,

menghasilkan,

mengklasifikasi,

6. Evaluasi/C6 (Evaluation)

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

22

Evaluasi merupakan kemampuan tertinggi, yaitu bila seseorang dapat

melakukan penilaian terhadap suatu situasi, nilai-nilai atau ide-ide. Evaluasi

adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi

tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materi, berdasarkan kriteria

tertentu.

Untuk

dapat

menilai,

seseorang

harus

dapat

menerapkan,

mampu

mensintesis, dan menganalisa Kata kerja yang dapat digunakan, misalnya: menilai, menentukan, memutuskan.
mensintesis,
dan
menganalisa
Kata
kerja
yang
dapat
digunakan,
misalnya:
menilai, menentukan, memutuskan.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa prestasi
belajar
adalah
hasil
yang
dicapai
oleh
siswa
setelah
mengikuti
proses
pembelajaran. Adapun prestasi belajar siswa dalam penelitian ini hanya mencakup
pada ranah kognitif C 1 , C 2 , C 3 dan C 4 .
D. Aktivitas Siswa
Sriyono (Yasa, 2008) mengemukakan bahwa:
Aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani
atau rohani. Aktivitas siswa selama proses belajar mengajar merupakan
salah satu indikator adanya keinginan siswa untuk belajar. Aktivitas siswa
merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar
mengajar. Kegiatan-kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah
pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan
tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerjasama dengan
siswa lain, serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.

Yasa (2008) menyatakan bahwa:

Aktifnya siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri-ciri perilaku seperti:

sering bertanya kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

23

belajar, dan lain sebagainya. Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi proses dan dari segi hasil.

Trinandita (Yasa, 2008) menyatakan bahwa:

Hal yang paling mendasar yang dituntut dalam proses pembelajaran adalah keaktifan siswa. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran akan menyebabkan interaksi yang tinggi antara guru dengan siswa ataupun dengan siswa itu sendiri. Hal ini akan mengakibatkan suasana kelas menjadi segar dan kondusif, dimana masing-masing siswa dapat melibatkan kemampuannya semaksimal mungkin. Aktivitas yang timbul dari siswa akan mengakibatkan pula terbentuknya pengetahuan dan keterampilan yang akan mengarah pada peningkatan prestasi.

“Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas. Itulah mengapa aktivitas
“Pada prinsipnya belajar adalah berbuat, tidak ada belajar jika tidak ada aktivitas.
Itulah mengapa aktivitas merupakan prinsip yang sangat penting dalam interaksi
belajar mengajar” Sardiman (Juliantara, 2010). “Pengajaran yang efektif adalah
pengajaran
yang
menyediakan
kesempatan
belajar
sendiri
atau
melakukan
aktivitas sendiri” (Hamalik, 2010:171).
Banyak jenis aktivitas belajar yang dapat dilakukan anak- anak di kelas,
tidak hanya mendengarkan atau mencatat. Paul B. Diedrich (Hamalik, 2010:172)
membuat suatu daftar yang berisi 177 macam aktifitas siswa, antara lain:
1. Visual activities seperti membaca,
memperhatikan: gambar, demonstrasi,
percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
2. Oral activities seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan
pendapat,
mengadakan
interview,
diskusi,
interupsi
dan

sebagainya.

3. Listening activities seperti mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik,

pidato dan sebagainya.

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

 

24

4. Writing

activities

seperti

menulis

cerita,

karangan,

laporan,

tes,

angket,

menyalin, dan sebagainya.

5. Drawing activities seperti menggambar, membuat grafik, peta diagram, pola,

dan sebagainya.

6. Motor activities seperti melakukan percobaan, membuat konstruksi, model,

mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya. 7. Mental activities seperti menanggap,
mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang, dan sebagainya.
7. Mental
activities
seperti
menanggap,
mengingat,
memecahkan
soal,
menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
8. Emotional activities seperti menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani,
tenang, gugup, dan sebagainya.
Hamalik (2010:176) mengemukakan bahwa “asas aktivitas digunakan
dalam semua jenis metode mengajar, baik metode dalam kelas maupun metode
mengajar diluar kelas. Hanya saja penggunaannya dilaksanakan dalam bentuk
yang berlainan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dan disesuaikan pula
pada orientasi sekolah yang menggunakan jenis kegiatan itu.”
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa aktivitas
belajar siswa adalah segala kegiatan baik jasmani maupun rohani yang dapat
mendukung terlaksananya proses pembelajaran di kelas. Adapun aktivitas belajar
siswa yang diamati dalam penelitian ini mengacu pada jenis-jenis aktivitas belajar

yang dikemukakan oleh Paul B. Diedrich yang kemudian dalam pelaksanaannya

disesuaikan dengan tahapan kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

25

E. Kaitan Modul Inquiry dan Prototype Media Berbasis Cmap Tools dengan

Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa

Modul

inquiry

terdiri

dari

eksperimen

dan

simulasi

model

gabungan

hands-on

eksperimen,

simulasi

mikroskopik.

Sedangkan

prototype

media

berbasis

cmap

tools

merupakan

seperangkat

teaching

material

yang

dikembangkan berdasarkan peta konsep yang digunakan guru untuk proses pembelajaran. Dalam cmap tools ini kita
dikembangkan berdasarkan peta konsep yang digunakan guru untuk proses
pembelajaran. Dalam cmap tools ini kita dapat menyisipkan video, animasi,
simulasi, virtual lab, modul, bahan evaluasi, dan sebagianya. Kegiatan belajar
akan lebih menyenangkan bagi siswa dan akan lebih praktis bagi guru jika
menggunakan prototype media berbasis cmap tools ini. Hal ini dikarenakan
semua bahan ajar yang diperlukan dapat dimasukkan ke dalam prototype media
berbasis cmap tools, termasuk modul inquiry.
Dengan menggunakan modul inquiry siswa dilatih untuk menganalisis
suatu fenomena atau peristiwa sehingga siswa dapat menemukan suatu konsep
sendiri. Untuk dapat menganalisis suatu fenomena atau peristiwa, maka siswa
harus melakukan pengataman atau bahkan eksperimen. Dengan adanya kegiatan
tersebut maka aktivitas belajar siswa pun akan lebih bermakna. Jika aktivitas
belajar siswa di sekolah menjadi bermakna maka prestasi siswa pun akan
meningkat.
Hal
ini
sesuai
dengan
pernyataan
Gie
(Wawan,
2010)
yang

menyatakan bahwa:

Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada aktivitas yang dilakukannya selama proses pembelajaran. Aktivitas belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas secara sadar yang dilakukan seseorang yang mengakibatkan perubahan dalam dirinya, berupa perubahan

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

 

26

pengetahuan

atau

kemahiran

yang

sifatnya

tergantung

pada

sedikit

banyaknya perubahan.

tergantung pada sedikit banyaknya perubahan. Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas

Marini Asfarina, 2012 Penerapan Model Inquiry Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu