BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Impetigo merupakan infeksi kulit superfisial yang umum, sangat menular terutama mengenai anak-anak. Terdapat dua bentuk klinis impetigo yang dikenal : bulosa dan nonbulosa. Impetigo bulosa disebabkan oleh S. aureus. Saat ini, di negara-negara industri, impetigo non-bulosa paling sering disebabkan oleh S. aureus dan sedikit disebabkan oleh streptokokus grup A. Streptokokus grup A tetap menjadi penyebab yang paling sering impetigo non-bulosa di negara-negara berkembang. 1 Impetigo adalah infeksi bakteri pada kulit yang paling sering terjadi pada anakanak. Keadaan ini sangat menular, dan mudah menyebar dengan cepat melalui kontak langsung orang-ke-orang, meskipun kontak dengan fomites juga telah terlibat dalam penyebaran penyakit ini. Kejadian meningkat pada musim panas dan musim gugur. Umumnya, orang dewasa mendapat impetigo melalui kontak dekat dengan anak-anak yang terinfeksi. Faktor predisposisi meliputi suhu hangat, kelembaban tinggi, kebersihan yang buruk, suatu diatesis atopik dan trauma kulit. Nasal, aksila, faring dan / atau perineum terdapatnya kolonisasi S. Aureus meningkatkan risiko untuk terjadinya impetigo. 1,2 Impetigo non-bulosa disebut juga impetigo krustosa, impetigo kontagiosa, impetigo vulgaris, impetigo tillbury fox. Kasusnya berjumlah lebih dari 70 persen kasus dari bentuk pioderma. Keadaan ini terjadi pada anak-anak segala usia serta orang dewasa. Kulit utuh biasanya tahan terhadap kolonisasi atau impetiginisasi, mungkin karena tidak adanya reseptor fibronektin untuk gugus asam teichoic pada S. aureus dan streptokokus grup A. Produksi bakteriosin, diproduksi oleh strain staphylococcus aureus strain tertentu (grup faga 71) dan sangat bakterisidal untuk streptokokus grup A, mungkin berperan untuk isolasi hanya staphylococcus aureus dari beberapa lesi awalnya disebabkan oleh streptokokus. 1,3 Impetigo bulosa disebut juga impetigo vesiko-bulosa biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus, lebih sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada balita dan ditandai oleh vesikel yang cepat berkembang menjadi bula yang kendur. Bula biasanya muncul pada daerah kulit yang normal. Tanda Nikolsky tidak ada. Bula awalnya berisi cairan kuning jernih yang kemudian menjadi kuning pekat dan keruh, dan batas tegas tanpa halo eritematosa. Bula yang superfisial, dan dalam satu atau dua hari akan pecah dan membentuk krusta coklat terang sampai kuning keemasan. Disebut varicela bulosa

1

dan kebersihan yang baik adalah cukup untuk menyembuhkan kasus yang paling ringan sampai sedang .3 Pengobatan lokal dengan salep atau krim mupirocin. 1. 1. Bacitracin.merupakan superinfeksi oleh S. pengangkatan krusta.4 2 . polimiksin. Antibiotik sistemik mungkin diperlukan dalam kasus-kasus yang luas. gentamisin. aureus (grup faga II) dari lesi varicela (impetigenisasi bulosa). dan eritromisin semua obat topikal yang efektif dan relatif non-alergi.

Kemudian sejak 3 hari yang lalu. dada. Gelembung-gelembung berisi cairan jernih tersebut mudah pecah sehingga tampak sebagai kulit yang melepuh dan meninggalkan keropeng kecoklatan. Semenjak lepuh-lepuh ini muncul. muncul gelembung yang berisi cairan berjumlah satu di dada kanan yang mudah pecah dan menyebar ke daerah sekitarnya.BAB II KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis Kelamin Pekerjaan Alamat Status Perkawinan Negeri Asal Agama : An. 3 .      Awalnya ibu pasien mengeluhkan anaknya demam sejak 1 minggu yang lalu. dan perut sejak ± 3 hari yang lalu. dada. susah makan dan sulit tidur. pasien menjadi lebih rewel dari biasanya. Tidak ada anggota keluarga maupun teman-temannya yang mengeluhkan keluhan gelembung-gelembung berisi cairan yang mudah pecah di bagian tubuhnya. Riwayat Penyakit Sekarang  Keropeng kecoklatan dan gelembung berisi cairan yang mudah pecah sehingga tampak sebagai kulit yang melepuh yang terasa perih dan gatal di bahu. dan perut sejak ± 3 hari yang lalu.F : 4 tahun : Laki-laki :: Padang : belum menikah : Padang : Islam Tanggal Pemeriksaan : 14 Agustus 2013 Keluhan Utama Keropeng kecoklatan dan gelembung berisi cairan yang mudah pecah sehingga tampak sebagai kulit yang melepuh yang terasa perih dan gatal di bahu. namun tidak ada batuk dan pilek.

losion. Riwayat Penyakit Dahulu  Pasien tidak pernah menderita keluhan berupa gelembung-gelumbung berisi cairan yang mudah pecah di sebagian anggota badan sebelumnya. Riwayat pengolesan minyak. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalisata • • • • • • • • • Keadaan umum Kesadaran Berat badan Tinggi badan BMI Mata THT Wajah Gigi dan mulut : tampak sakit ringan : komposmentis kooperatif : 20 kg : 105 cm : 18. sklera tidak ikterik : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan 4 .  Pasien belum dibawa berobat sebelumnya untuk keluhan kulit yang sekarang. Namun setelah keluhan ini muncul.    Riwayat minum obat-obatan atau suplemen sebelum muncul gelembung berisi cairan tidak ada. pasien lebih jarang dimandikan.10 (normoweight) : konjungtiva tidak anemis. Riwayat atopi dalam keluarga tidak ada. ibu pasien jarang mengelap keringat dan mengganti pakaian pasien. Riwayat Penyakit Keluarga/Atopi/Alergi   Tidak ada anggota keluarga yang mengeluhkan keluhan gelembung-gelumbung berisi cairan yang mudah pecah dan kulit melepuh di sebagian anggota badan. bedak dan pemakaian sabun mandi baru sebelum muncul gelembung berisi cairan tidak ada. Riwayat digigit serangga sebelum muncul gelembung berisi cairan tidak ada. Apabila pasien berkeringat. Sebelumnya ibu pasien hanya memberikan obat penurun panas. Pasien juga mengganti pakaiannya 2x sehari dan menggunakan handuk sendiri. hanya diseka dengan kain lap basah 1x sehari. Pasien biasanya mandi teratur 2x sehari.

dada. dan perut sejak ± 3 hari yang lalu. dada. : bahu kanan. oedem-/- Status Dermatologikus • • • • • • • Lokasi Distribusi Bentuk Susunan Batas Ukuran Efloresensi skuama. vesikel. dengan keluhan keropeng kecoklatan dan gelembung berisi cairan yang terasa perih dan gatal di bahu. Anamnesis :  Keropeng kecoklatan dan gelembung berisi cairan yang mudah pecah sehingga tampak sebagai kulit yang melepuh yang terasa perih dan gatal di bahu. ekskoriasi.• • • Thorak Abdomen Anggota gerak : tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : akral hangat. dada. erosi. krusta kecoklatan. dan Status Venereologikus Tidak dilakukan Kelainan selaput Kelainan kuku Kelainan rambut Kelainan kel. 5 .limfe : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan RESUME Seorang pasien laki-laki berusia 4 tahun datang ke Poliklinik Kulit di RS M Djamil Padang pada tanggal 14 Agustus 2013.tidak khas : tidak khas : tegas : lentikular – numuler : plak eritema. dan perut : lokalisata : bulat . bula. dan perut sejak ± 3 hari yang lalu.

ekskoriasi. bula.insect bite PEMERIKSAAN ANJURAN • • • Pewarnaan gram. vesikel. Pemeriksaan mikrobiologis : Kultur dan tes sensitivitas DIAGNOSIS Impetigo vesikobulosa PENATALAKSANAAN Terapi umum  Menjelaskan kepada orang tua pasien mengenai penyakit. DIAGNOSIS KERJA Impetigo vesikobulosa DIAGNOSIS BANDING . dan pengobatan penyakitnya. batas tegas. muncul gelembung yang berisi cairan berjumlah satu di dada kanan yang mudah pecah dan menyebar ke daerah sekitarnya.Staphilococcal scalded skin syndrome . Status dermatologikus: Terdapat plak eritema. Kemudian sejak 3 hari yang lalu.varisela . Tzanck test. susunan tidak khas. dada. erosi. krusta kecoklatan dan skuama di bahu kanan. penyebab. diharapkan ditemukan bakteri gram-positif dengan susunan cluster/seperti buah anggur. dan perut dengan distribusi terlokalisasi. bentuk bulat hingga tidak khas. namun tidak ada batuk dan pilek.   Awalnya ibu pasien mengeluhkan anaknya demam sejak 1 minggu yang lalu. Gelembung-gelembung berisi cairan jernih tersebut mudah pecah dan meninggalkan keropeng kecoklatan. dan ukuran lentikuler hingga numuler. 6 .pemfigus vulgaris .

Menerangkan kepada Ibu pasien untuk datang kembali (kontrol) stelah 5-7 hari. bukan dengan kuku. Terapi khusus Topikal:     Mupirosin 2% krim 3x1 hari pada lesi. Sistemik: Amoksisilin syrup 3x1/2 sendok makan. Menerangkan pada Ibu pasien untuk mencegah pasien menggaruk karena dapat menyebabkan luka.     Anjuran kepada Ibu pasien agar segera mengelap pasien bila berkeringat dan mengganti pakaiannya. garuk dengan menggunakan ujung jari. Jika gatal. Paracetamol syrup 3x1/2 sendok makan (jika demam dan nyeri) CTM 3x1/2 tab (jika gatal) PROGNOSIS Quo Ad Sanam Quo Ad Vitam Quo Ad Kosmetikum Quo Ad Functionam : Bonam : Bonam : Bonam : Bonam 7 . Pakai pakaian yang menyerap keringat. Menjaga kebersihan diri dan anggota keluarga.  Menjaga kebersihan diri dan anggota keluarga.

Terapi umum pada pasien ini adalah dengan menjaga higienitas dan mengikuti anjuran dokter dalam penggunaan obat-obatan baik sistemik maupun topikal. dan ukuran lentikuler hingga numuler. bentuk bulat hingga tidak khas. aksila. Sebuah Temuan patognomonik adalah "collarette" skuama mengelilingi atap bula pada pinggiran lesi yang pecah. Pada sebagian kasus 8 . ekskoriasi. dengan diagnosis impetigo vesikobulosa. seperti daerah popok. bula.DISKUSI Dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 4 tahun. Impetigo karena Staphylococcus memberikan respon yang cepat terhadap pengobatan yang tepat. susunan tidak khas. Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis. Pengobatan hendaknya berlangsung selama 5-7 hari (10 hari jika ditemukan Streptococcus). Staphilococcal scalded skin syndrome. Diagnosis banding impetigo vesikobulosa diantaranya pemfigus vulgaris. Antibiotik sistemik mungkin diperlukan pada kasus luas. dan menjaga higienitas yang cukup dapat mengobati kebanyakan kasus derajat ringan hingga sedang. insect bite. dan perut dengan distribusi terlokalisasi. Dari anamnesis didapatkan Keropeng kecoklatan dan gelembung berisi cairan yang mudah pecah sehingga tampak sebagai kulit yang melepuh yang terasa perih dan gatal di bahu. dan perut sejak ± 3 hari yang lalu. namun tidak ada batuk dan pilek. dada. batas tegas. Pengobatan topikal adalah dengan salap atau krim mupirosin. daerah intertriginosa. Kemudian sejak 3 hari yang lalu. varisela. pengangkatan krusta. krusta kecoklatan dan skuama di bahu kanan. dan lipat leher. vesikel. muncul gelembung yang berisi cairan berjumlah satu di dada kanan yang mudah pecah dan menyebar ke daerah sekitarnya. Dari pemeriksaan fisik ditemukan terdapat plak eritema. pemeriksaan fisik yang menunjang untuk diagnosis. erosi. Prognosis pada pasien ini adalah bonam karena infeksi ini merupakan infeksi yang terbatas pada epidermis dan tidak terdapat infeksi sekunder. Lesi impetigo bulosa sering didaerah lembab. dada. Terapi sistemik yang diberikan pada pasien ini adalah paracetamol syrup 3x1/2 sendok makan jika demam dan nyeri dan CTM 2mg jika gatal dan terapi topikal dengan antibiotik mupirosin 2% digunakan 3x sehari pada lesi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien ini tidak didapatkan keadaan yang mendukung dari beberapa diagnosis banding impetigo vesikobulosa yang telah disebutkan diatas. Gelembung-gelembung berisi cairan jernih tersebut mudah pecah dan meninggalkan keropeng kecoklatan. Awalnya ibu pasien mengeluhkan anaknya demam sejak 1 minggu yang lalu.

9 . Menurut dua review nonsistematik baru-baru ini.pun lesi akan menyembuh secara spontan dengan menjaga higienitas yang cukup. impetigo biasanya sembuh tanpa gejala sisa dalam waktu dua minggu jika tidak ditangani.

00 14 Agustus 2013 R/ Mupirosin krim 2% tube No. 15 Padang Telp : 0751-890114 Praktek : senin-jumat Pukul : 17.Resep Dr. F : 4 tahun : Padang 10 . Iqbal Praktek Umum SIP : No.X S3dd pulv 1 (jika gatal) ζ Pro Umur Alamat : An.II S3dd C 1/2 ζ R/ Paracetamol syr fls 60cc No.II Sprn max 3dd C1/2 (jika demam dan nyeri) ζ R/ CTM 2mg Mf pulv dtd No.00-19. Perintis kemerdekaan no.I Sue (3 kali sehari pada lesi) ζ R/ Amoksisilin syr fls 60cc No. 01/ tahun 2013 Alamat : Jln.

11 .

Pioderma. eds. 5th ed. 12 .7th ed. Mancini JA. Medical Publishing Division. Dermatology. Austen KE. Katz SI. Paller A. 2008: 1695-709. American Family Physician. Elsevier. 321-23. 2007. Diagnosis and treatment of Impetigo. Mosby. Wolff K. Goldsmith LA. Hurwitz Clinical Pedoatric Dermatology. Rapini R. Dermatology in general medicine.DAFTAR PUSTAKA 1. In : Bolognia JL. Leffell DJ. Vol 75. Jorizzo JL. 2nd ed. Gazewood J. vol 2. Cole C. Goldsmith LA. London. Eisen AZ. 2010: 57-63. Superficial cutaneous infections and pyodermas. Halpern AV. New York : Mc Graw Hill. vol 1. 3. 859-64. 5. In: Djuanda A. Bacterial diseases. 2004: 1235-54. Fitzpatrick TB eds. 2011. Paller AS. 2. FKUI. Wolff K. Heymann WR . Ilmu penyakit kulit dan kelamin. In : Freedberg IM. Aisah S ed. Katz SI. Djuanda A. Hamzah M. Jakarta. Gilchrest BA. 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful