Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Laryngitis merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan pada laring. Laringitis merupakan suatu proses inflamasi pada laring yang dapat terjadi baik akut maupun kronik. 1 Tuberculosis laring merupakan bentuk jarang dari tuberculosis ekstrapulmoner. Pada era preantibiotik merupakan penyakit yang paling biasa terjadi pada laring, mengenai 35-83% pasien dengan tuberculosis. 2 Akhir-akhir ini insidensnya diperkirakan kurang dari 1% dari seluruh kasus TB. Oleh karena presentasi klinisnya yang meragukan, laryngitis TB sering dibingungkan dengan kelainan seperti carcinoma laring dan laryngitis kronis lainnya. Manifestasi klinisnya meliputi odinofagi, batuk dan suara yang serak. Penyakit ini sangat mudah menular dan karenana diagnosanya dininnya sangat penting. Pada hakekatnya semua pasien dengan laryngitis TB mempunyai TB paru aktif, sputum yang positif berkisar 90-95%.2 Pemahaman bahwakarsinoma laring juga sering menunjukkan gejala serupa merupakan keharusanuntuk mengevaluasi laringitis. Gejala pada saluran pernapasan seperti batuk kronis, hemoptisis dan gejala sistemik seperti demam, keringat malam, dan penurunan berat badan merupakan gejala-gejala umum yang sering dijumpai pada pasien dengan tuberkulosis. Pada laringitis tuberkulosis proses inflamasi akan berlangsung secara progresif dan dapat menyebabkan kesulitan bernapas. Kesulitan bernafas ini dapat disertai stridor, baik pada periode inspirasi, ekspirasi atau keduanya. Jika tidak segera diobati, stenosis dapat berkembang, sehingga diperlukan trakeostomi.Akan tetapi, sering kali setelah diberi pengobatan, tuberkulosis parunya sembuh tetapi laringitis tuberkulosisnya menetap. Hal ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi yang tidak sebaik diparu, sehingga bila sudah mengeni kartilago, pengobatannya lebih lama. (Referat Laringitis TB)

Oleh karena itu, pembahasan mengenai laringitis tuberculosis lebih lanjut diperlukan agar dapat memberi pengetahuan mengenai cara diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat guna mencegah komplikasi yang akan terjadi.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi dan Fisiologi Laring 2.1.1 Anatomi Laring Laring merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah aditus laring., sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid. Batas depannya ialah permukaan belakang epiglottis, tuberkulum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya ialah membrane kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elatikus dan arkus kartilago krikoid, sedangkan batas krikoid. 4 Bangunan kerangkan laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hyoid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang hyoid berbentuk seperti huruf U, yang permukaan atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendo dan otot-otot. Sewaktu menelan, kontraksi otot-otot ini akan menyebabkan laring tertarik ke atas, sedangkan bila laring diam, maka otot-otot bekerja untuk membuka mulut dan membantu menggerakan lidah. Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot-otot ekstrinsik dan intrinsik. 4 Otot ekstrinsik ada yang terletak diatas tulang hyoid (suprahyoid), dan ada yang dibawah tulang hyoid (infrahyoid) . Otot-otot suprahyoid ialah m.digastrikus, m.geniohyoid, m.stilohyoid, m.milohyoid. Otot-otot yang infrahyoid adalah m.sternohyoid, m.omohyoid, dan m.tirohyoid. Otot-otot suprahyoid menarik laring ke bawah dan otot-otot infrahyoid menarik laring kebawah.4 Otot-otot intrinsik laring ialah m.krikoaritenoid lateral, m.tiroepiglotika, m.vokalis, m tiroaritenoid, m.ariepiglotika, dan m. krikotiroid. Otot-otot tersebut terletak dibagian lateral laring. Otot-otot intrinsik yang terletak di posterior laring ialah m.aritenoid transversum, m.aritenoid oblik, dan m. krikoaritenoid posterior.4(Gambar 1) belakangnya ialah m. aritenoid transverses dan lamina kartilago

Gambar 1. Otot-otot laring


Diambil dari Illustration in Anatomy Atlas/www.netterimage.com/10 April 2013 pkl.04.20 WIB

Sebagian besar otot-otot intrinsik adalah adduktor (kontraksinya mendekatkan kedua pita suara ke tengah) kecuali m.krikoaritenoid posterior yang merupakan otot abduktor (kontraksinya akan menjauhkan kedua pita suara ke lateral).4 Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglottis, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea.4 Pada laring terdapat dua buah sendi, yaitu artikulasi krikotiroid dan artikulasi krikoaritenoid. 4
4

Ligamentum yang membenutk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior, lateral dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior, ligamentum kornikulofaringal, ligamentum hiotiroid lateral dan medial, ligamentum hioepiglotika, ligamentum ventrikularis, ligamentum vokale yang menghubungkan kartilago arutenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika. 4 Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare, maka terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu).4 Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glottis, sedangkan antara kedua pika ventrikularis, disebut rima vestibuli.4 Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam tiga bagian, yaitu vestibulum laring, glotik dan subglotik. Vestibulum laring ialah rongga laring yang terdapat diatas plika ventrikularis. Daerah ini disebut supraglotik.4 Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring Morgagni. Rima glottis terdiri dari dua bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian interkartilago. Bagian intermembran ialah ruang diantara kedua plika vokalis dan terletak dibagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago aritenoid dan terletak dibagian posterior. 4 Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.laringis superior dan n laringis inferior (Gambar 2,3). Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik.4

Gambar 2. diambil dari www.svpow.com 7 April 2013 pkl.21.30


5

Pendarahan untuk laring terdiri dari dua cabang, yaitu a.laringis superior dan a.laringis inferior. Vena laringis superior dan inferior letaknya sejajar dengan a.laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior.4(Gambar 3)

Gambar 3 diambil dari www.studyblue.com 4 April 2013 pkl.21.45 2.1.2 Fisiologi Laring4 Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta fonasi. Fungsi laring untuk proteksi ialah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk kedalam trakea, dengan jalan menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring ialah karena pengangkatan laring keatas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Dalam hal ini kartilago aritenoid bergerak kedepan akibat kontraksi m.tiroritenoid dan m. aritenoid. Selanjutnya m.ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter. Penutupan rima glottis terjadi karena adduksi plika vokalis. Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekat karena adduksi otot-otot intrinsik.
6

Selain itu dengan reflex batuk, benda asing yang telah masuk ke dalam trakea dapat dibatukkan keluar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru dapat dikeluarkan. Fungsi respirasi dari laring ialah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis. Bila m.krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glottis terbuka (abduksi). Fungsi laring dalam membantu proses menelan ialah dengan tiga mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah ke atas, menutup aditus laringis dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam laring. Laring juga mempunyai fungsi untuk mengekspresikan emosi, seperti berteriak, mengeluh, menangis dan lain-lain. Fungsi laring yang lain ialah untuk fonasi. Dengan membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh ketegangan plika vokalis. Bila plika vokalis dalam keadaan adduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid kebawah dan kedepan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belekang. Plika vokalis ini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahya nada. 2.2 Definisi Laringitis Tuberculosa Salah satu bentuk laringitis kronis spesifik adalah laryngitis tuberkulosis. Laringitis tuberkulosis adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama yang disebabkanoleh kuman Mycobacterium tuberculosa. Tuberculosis laring jarang bersifat primer dan hampir selalu disertai dengan tuberculosis paru. Sputum terinfeksi mengkontaminasi laring menimbulkan ulserasi dan infiltrasi pada dinding laring dan pembentukan granuloma tuberculosis.5 Laringitis akut biasanya terjadi mendadak dan berlangsung dalam kurun waktu kurang lebih 3 minggu. Bila gejala telah lebih dari 3 minggu dinamakan laringitis kronis. Radang akut laring pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut (common cold). Sedangkan laringitis kronik merupakan radang kronis laring yang dapat disebabkan oleh sinusitis kronis,
7

deviasi septum yang berat, polip hidung atau bronkitis kronis. Mungkin juga disebabkan oelh penyalahgunaan suara (vocal abuse) seperti berteriak- teriak atau biasa berbicara keras. Laringitis kronis dibagi menjadi laringitis kronik non spesifik dan spesifik. Laringitis kronik non spesifik dapat disebabkan oleh faktor eksogen (rangsangan fisik oleh penyalahgunaan suara, rangsangan kimia, infeksi kronik saluran napas atas atau bawah, asap rokok) atau faktor endogen (bentuk tubuh, kelainan metabolik). Sedangkan laringitis kronik spesifik disebabkan tuberkulosis dan sifilis. Salah satu bentuk laringitis kronis spesifik adalah laringitis tuberkulosis. Laringitis tuberkulosis adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosa.3 2.3 Epidemiologi 3 Sebagaimana insidensi dan prevalensi tuberkulosis paru yang mengalami penurunan, kejadian laringitis tuberkulosis juga mengalami penurunan, meskipun kecenderungan peningkatan kejadian laringitis tuberkulosis dalam beberapa tahun terakhir. Dulu, dinyatakan bahwa penyakit ini sering terjadi pada kelompok usia muda yaitu 20 40 tahun. Dalam 20 tahun belakangan, insidens penyakit ini pada penduduk yang berumur lebih dari 60 tahun jelas meningkat. Saat ini tuberkulosis dalam semua bentuk dua kali lebih sering pada laki-laki dibanding dengan perempuan. Tuberkulosis laring juga lebih sering terjadi pada laki-laki usia lanjut, terutama pasien-pasien dengan keadaan ekonomi dan kesehatan yang buruk, banyak diantaranya adalah peminum alkohol. Riwayat kesehatan pada pasien yang sering ditemui meliputi tidak pernah mendapat vaksinasi BCG, malnutrisi, dan AIDS. Pada umumnya terjadi pada dekade keempat dan lima. Sebagian pada akhir dekade kedua, laporan mengenai epiglotitis TB meningkat. 2 2.4 Etiologi3 Hampir selalu disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati biasanya tuberkulosis paru sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi tidak sebaik paru. Infeksi laring oleh Mycobacterium tuberculosa hampir selalu sebagai komplikasi tuberkulosis paru aktif, dan ini merupakan penyakit granulomatosis laring yang paling sering. 2.5 Patofisiologi 5 Infeksi kuman ke laring dapat terjadi melalui udara pernapasan, sputum yang mengandung kuman, atau penyebaran melalui aliran darah atau limfa.
8

Tuberculosis dapat menimbulkan gangguan sirkulasi. Edema dapat timbul di fosa interaritenoid, kemudian ke aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis, epiglottis, serta terakhir ialah subglotik. 2.6 Gambaran Klinis5 Secara klinis, laryngitis tuberculosis terdiri dari empat stadium, yaitu: 1. Stadium infiltrasi 2. Stadium ulserasi 3. Stadium perikondritis 4. Stadium pembentukan tumor 1. Stadium Infiltrasi Yang pertama-tama mengalami pembengkakan dan hiperemis ialah mukosa laring bagian posterior. Kadang-kadang pita suara terkena juga. Pada stadium ini mukosa laring berwarna pucat. Kemudian di daerah submukosa terbentuk tuberkel, sehingga mukosa tidak rata, tampak bintik-bintik yang berwarna kebiruan. Tuberkel itu makin membesar, serta beberapa tuberkel yang berdekatan bersatu, sehingga mukosa diatasnya meregang. Pada suatu saat, karena meregang, maka akan pecah dan timbul ulkus. 2. Stadium Ulserasi Ulkus yang timbul pada akhir stadium infiltrasi membesar. Ulkus ini dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkijuan, serta sangat dirasakan nyeri oleh pasien. 3. Stadium Perikondritis Ulkus makin dalam, sehingga mengenai kartilago laring, dan yang paling sering terkena ialah kartilago aritenoid dan epiglottis. Dengan demikian terjadi kerusakan tulang rawan, sehingga terbentuk nanah dan berbau, proses ini akan melanjut dan terbentuk sekuester (squester). Pada stadium ini keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan maka proses penyakit ini berlanjut dan masuk dalam stadium terahir yaitu stadium fibrotuberkulosis. 4. Stadium Fibrotuberkulosis Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan subglotik.
9

2.6 Gejala Klinis5 Tergantung pada stadiumnya, disamping itu terdapat gejala sebagai berikut : Rasa kering, panas dan tertekan di daerah laring. afoni. - Hemoptisis. - Nyeri waktu menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena radang lainnya, merupakan tanda yang khas. - Keadaan umum memburuk. - Pada pemeriksaan paru (secara klinis dan radiologic) terdapat proses aktif ( biasanya pada stadium eksudatif atau pembentukan kaverne) 2.7 Diagnosa Banding5 1. Laringitis luetika 2. Karsinoma laring 2.8 Diagnostik Laryngitis TB Anamnesa Langkah pertama dalam mendiagnosis laryngitis TB adalah dengan mengali informasi melalui anamnesa terhadap pasien. Anamnesa pada pasien harus kita gali sedalam-dalamnya dengan memperhatikan keluhan utama, riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu. Selain itu riwayat pengobatan dan riwayat paparan terhadap TB juga harus kita tanyakan. 2 Perlu kita ketahui bahwa laryngitis TB bisa didahului dengan gejala infeksi TB paru atau gejala-gejala dari laryngitis TB itu sendiri, hal ini disebabkan karena pada kebanyakan kasus laryngitis TB didahului dengan infeksi TB Paru. Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa apa yang kita dapatkan pada anamnesa dan pemeriksaan dapat berupa gejala dari infeksi TB Paru dan Laryngitis TB itu sendiri. 2 Keluhan utama pada anamnesa bervariasi tergantung stadium klinis dari laryngitis TB yang diderita oleh pasien. Berikut adalah beberapa keluhan utama yang biasa ada pada laryngitis TB : Rasa panas dan tertekan di daerah laring. - Suara parau berlangsung berminggu-minggu, sedangkan pada stadium lanjut dapat timbul

10

Suara parau berlangsung berminggu-minggu, sedangkan pada stadium lanjut dapat timbul afoni.

Hemoptysis. Nyeri telan hebat yang dirasakan melebihi dari neyri telan karena radang yang khas, merupakan tanda khas dari laryngitis TB. 4

Riwayat penyakit sekarang dan dahulu adalah ditanyakan apakah ada tanda-tanda penyerta dari infeksi TB Paru. Tanda-tanda tersebut ialah sperti batuk yang sudah berminggu-minggu, berdahak berwarna kuning, penurunan berat badan atau bahkan terapi TB Paru yang tidak tuntas. Kita juga harus menanyakan juga apakah ada orang sekitar yang terkena TB untuk menegakkan paparan terhadap kuman TB. 2,4

Pemeriksaan Fisik 2,6 Setelah kita lakukan anamnesa kita lanjutkan dengan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik dimulai dengan melihat keadaan umum dari pasien. Kedaan umum dari pasien umumnya dalam keadaan buruk karena laryngitis tb adalah komplikasi yang biasanya menyertai infeksi TB paru yang tidak tertangani. Setelah itu dilakukan inspeksi pada laring maka akan terlihat pembengkakan dan luka pada pita suara. Kadang kala disertai dengan pembentukan massa berwarna abu-abu. Hiperemi dan edema juga dapat ditemukan disekitar laryng. (Gambar 4)

11

Gambar 4 A) gambaran laryngoscopy pada pasien 37 tahun dengan bentukan ulkus pada pita suara. B) gambaran foto chest x-ray pasien tersebut dengan bentukan infiltrat pada daerah atas kiri dari paru-paru. C) gambaran laryngoscpoy pada pasien 50 tahun dengan bentukan ulkus dan massa berwarna abu-abu pada pita suara. D) foto x-ray pada pasien tersebut dengan bentukan infiltrat pada kedua paru-paru. Kedua pasien tersebut dinyatakan mengidap TB dengan hasil pemeriksaan sputum BTA positif. Pada pemeriksaan palpasi maka akan didapatkan bentukan limfadenitis tb. Limfadenitis biasa terjadi pada leher dan axilla pasien. Limfadenitis berkonsistensi keras dan imobil. Limfadenitis juga tidak mempunyai batas tegas. (Gambar 5)

12

Gambar 5 Gambaran Lifadenitis TB Palpasi pada pasien dengan laryngitis tb baru menunjukkan tanda-tanda yang signifikan jika sudah ada manifestasi infeksi TB paru. Getaran suara (fremitus vokal). Getaran yang terasa ketika meletakkan tangan di dada pasien saat pasien berbicara adalah bunyi yang dibangkitkan oleh penjalaran dalam laring arah distal sepanjang pohon bronchial untuk membuat dinding dada dalam gerakan resonan, teerutama pada bunyi konsonan. Kapasitas untuk merasakan bunyi pada dinding dada disebut taktil fremitus. Pada pasien dengan TB paru vremitus taktil meningkat. Perkusi pada pasien dengan TB paru minimal tanpa komplikasi, biasanya akan didapatkan resonan atau sonor pada seluruh lapang paru. Pada pasien dengan TB paru yang disertai komplikasi seperti efusi pleura akan didapatkan bunyi redup sampai pekak pada sisi yang sesuai banyaknya akumulasi cairan di rongga pleura. Apabila disertai pneumothoraks, maka didapatkan bunyi hiperresonan terutama jika pneumothoraks ventil yang mendorong posisi paru ke sisi yang sehat.

Pemeriksaan Penunjang 7,8 Foto Rontgen Foto rontgen pada penderita laryngitis TB dilakukan dengan dua metode yaitu foto lateral dari leher dan foto frontal dari dada. Pada foto lateral leher didapatkan penebalan

13

epiglottis dan jaringan sub epiglottis (Gambar 6). Sedangkan pada foto dada dapat terlihat pembentukan infiltratif bahkan hingga kavitas

Gambar 6 Panah yang lebih panjang menunjukkan penebalan epiglottis. Panah yang lebih pendek menunjukkan penebalan jaringan subepiglottis.

14

Gambar 7 Terlihat infiltrat reticulonodular pada kedua bagian atas dari paru-paru

CT SCAN CT Scan pada pasien laryngitis TB dilakukan pada bagian leher. Pada potongan setinggi supra glottic di gambar PP 3 bagian A terlihat penebalan jaringan pelipatan aryepligottic (panah berwarna putih) dan pembesaran jaringan limfa leher bagian dalam (panah berwarna hitam). Pada potongan setinggi pita suara di gambar b terdapat pembesaran jarinagan paralaryngeal bilateral (ditunjuk dengan panah). Pada potongan setinggi glottis di gambar C terdapat penebalan jaringan yang memanjang sampai commisura anterior(ditunjuk dengan panah).

15

Gambar 8 Foto CT SCAN Leher Axial

16

Gambar 9 Gambar A CT SCAN Leher potongan Coronal. Gambar B CT SCAN Leher potongan Sagittal Pada gambar PP 4 terlihat 2 macam hasil CT SCAN penderita laryngitis TB. Pada gambar A terlihat penebalan pelipatan aryepiglottic dan supraglottic dengan hancurnya jaringan lemak paralaryngeal. Pada gambar B terlihat penebalan epiglottis (panah putih) dan penebalan jaringan pre-epiglottis (panah hitam). Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan dahak untuk penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS), S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untukmengumpulkan dahak pagi pada hari kedua. P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saatmenyerahkan dahak pagi. 2.9 TERAPI 7 Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,

mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. Pada pasien laryngitis TB cara dan parameter evaluasi sama dengan penderita tb pada umumnya. Pembeda dari laryngitis TB adalah masa pengobatannya yang lebih lama karena infeksi TB telah masuk ke jaringan tulang. Tabel 1. Jenis, Sifat dan Dosis OAT
17

Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut: OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Tahap awal (intensif) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien

menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

Tahap Lanjutan Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama Tahap mencegah
18

lanjutan penting

untuk

membunuh

kuman

persister sehingga

terjadinya kekambuhan Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia: Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3. Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE) Kategori Anak: 2HRZ/4HR Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan dalam bentuk OAT kombipak. Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien. Paket Kombipak. Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien yang mengalami efek samping OAT KDT.

Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa pengobatan. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB: 1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat dan mengurangi efek samping. 2. Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.

19

3. Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.

Paduan OAT dan peruntukannya. 1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3). Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru.

Tabel 2. Dosis dan Panduan untuk KDT OAT kategori 1

2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3). Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh. Pasien gagal. Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus). Tabel 3. Dosis dan Panduan untuk KDT OAT kategori 2

20

Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg) 3. OAT Sisipan (HRZE). Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari). Tabel dosis dan panduan untuk KDT OAT sisipan Tabel 4. dosis dan panduan untuk KDT OAT sisipan

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebi h rendah daripada OAT lapis pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkan terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua. Pemantauan kemajuan pengobatan TB
21

Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Laju Endap Darah (LED) tidak digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan karena tidak spesifik untuk TB. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif, hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Tabel 5. Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Dahak

Hasil Pengobatan Sembuh. Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan follow-up sebelumnya Pengobatan Lengkap. Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal. Meninggal. Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.
22

Pindah. Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain dan hasil pengobatannya tidak diketahui.

Default (Putus berobat) Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya selesai.

Gagal. Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

Efek Samping Pengobatan Table 6. Efek Samping Ringan Pengobatan

Table 7. Efek Samping Berat Pengobatan

23

DAFTAR PUSTAKA 1. ____. 2010. Medical Jurnal. Laringitis.diambil dari http://dinarhealth.blogspot.com / 2010/06/laringitis.html pada 10 April 2013 pkl.05.00 WIB
2. Beltagi, Ahmad H El.,et al. 2011. Case Report : Acute tuberculous laryngitis presenting

as acute epiglottitis. Head and Neck Radiology vol.21; pg. 284-286.tersedia di www.ijri.org pada 09 April 2013 pkl.15.00 WIB
3. Azzilzah,

Yarah.,dkk.

2012.

Referat

Laringitis

Tuberkulosis. pada 7 April

Tersedia 2013

di pkl.

http://www.slideshare.net/yar_azz/laringitis-tuberkulosa 14.00WIB

24

4. Soepardi, Efiaty. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher Edisi VI. Jakarta: Departemen Ilmu Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher FKUI. hal.239-241 5. Adams, George L. dkk. 1997. BOIES, Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. hal.386 6. Sudoyo, Aruw. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 7. Aditama, Tjandra. 2006 Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi II. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 8. Hsiao, Tsu-Yu. Journal of voice : official journal of the Voice Foundation 1 March 2011 (volume 25 issue 2 Pages 230-235 DOI: 10.1016/j.jvoice.2009.09.008)

25