Anda di halaman 1dari 49

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, akhirnya penyusunan presentasi kasus dengan judul Diare Akut dapat saya selesaikan penyusunannya dalam rangka memenuhi salah satu tugas sebagai ko-asisten yang sedang menjalani kepaniteraan klinik ilmu kesehatan anak di Rumah Sakit Umum Daerah Koja periode 11 november 2012 sampai dengan 18 januari 2012. Dalam menyelesaikan presentasi kasus ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Dr. Riza Mansoer, Sp.A selaku pembimbing dalam penyusunan presentasi kasus dan sebagai salah satu pembimbing selama menjalani kepaniteraan ini. Apabila terdapat kekurangan dalam menyusun presentasi ini, saya akan menerima segala kritik dan saran. Semoga presentasi kasus ini bermanfaat bagi kita semua.

Jakarta, Desember 2012

Penyusun

PRESENTASI KASUS

I.

IDENTITAS A. Identitas Pasien Nama Umur Tempat/tanggal lahir Jenis Kelamin Agama Alamat : An S : 1 tahun 6 bulan : Bekasi / 21 Mei 2011 : Laki-laki : Islam : Jalan Kebon Kelapa, RT 10/ RW 03, Taruma Jaya, Bekasi. No CM Tanggal masuk RS : 00-14-39-42 : 27 November 2012

B. Identitas Orangtua Ayah Nama Agama Alamat : Tn. S : Islam : Jalan Kebon Kelapa, RT 10/ RW 03, Taruma Jaya, Bekasi Pekerjaan Penghasilan : Buruh : Rp.1,500,000 / bulan

Ibu Nama Agama Alamat : Ny.D : Islam : Jalan Kebon Kelapa, RT 10/ RW 03, Taruma Jaya, Bekasi Pekerjaan Penghasilan : Ibu rumah tangga :-

ANAMNESIS Dilakukan alloanamnesis bersama ibu pasien pada tanggal 28 November 2012 pukul 15.45 WIB di ruangan 404 RSUD Koja.

Keluhan Utama : Mencret sejak 1 hari SMRS.

Keluhan Tambahan : Muntah 1 hari SMRS. Demam 2 hari SMRS.

Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD Koja dengan keluhan mencret sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). BAB lebih dari 10 kali sehari, tinja encer, berjumlah aqua gelas setiap kali, warna kuning, mengandung lendir, tidak ada ampas, dan tidak ada darah. Pasien muntah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Muntah lebih dari 7 kali sehari dengan konsistensi cair, berjumlah aqua gelas setiap kali, isinya susu dan makanan yang dimakan oleh pasien. Muntah disertai mual dan tidak nafsu makan namun pasien sering haus dan banyak minum ASI melebihi kebiasaan. Satu hari sebelum mencret dan muntah , tubuh pasien panas. Panas tidak diukur dengan termometer tetapi dirasakan dengan perabaan tangan. Panas naik turun sepanjang hari. Panas turun setelah pasien minum obat namun naik lagi beberapa jam setelah itu. Menurut ibu pasien, pasien rewel dan gelisah sejak pagi SMRS. Ibu pasien turut megadu pasien jarang BAK dan kencing pasien berwarna lebih coklat dari kebiasaan. .

Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien pernah mengalami keluhan yang sama dua bulan sebelumnya tetapi hanya berobat jalan. Penyakit Alergi Cacingan Umur Penyakit Kecelakaan Penyakit jantung Umur -

Demam berdarah Riway at Penyak it Keluar ga : I Demam tifoid Diferia Diare Kejang Parotitis Morbili

16 bulan -

Penyakit ginjal Penyakit darah Radang paru Tuberkulosis Otitis Varicella Operasi

bu pasien dirawat di RSUD Koja kerana diare tiga hari sebelum pasien dirawat inap. Di keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit menular ataupun penyakit keturunan.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :

Kehamilan

Morbiditas kehamilan

Tidak ada kelainan saat kehamilan

Perawatan Antenatal Kelahiran Tempat Kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi

Rutin periksa ke bidan. Rumah bidan Bidan Spontan Cukup Bulan Berat lahir: 3100 gram Panjang lahir: 49 cm Lingkar kepala: Langsung menangis Nilai Apgar: Tidak bawaan ada kelainan

Kesan: Riwayat kehamilan dan kelahiran pasien baik.

Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan : Pertumbuhan gigi 1 Psikomotor o Tengkurap o Duduk o Berdiri o Berjalan o Bicara : 6 bulan : 7 bulan : 9 bulan : 10 bulan : 12 bulan : 7 bulan

o Membaca dan menulis : Belum bisa membaca dan menulis

Kesan: Riwayat pertumbuhan dan perkembangan pasien baik.

Riwayat Makanan : Umur (bulan) 0-2 2-4 4-6 6-8 10-12 ASI/PASI + + + + + + + + + + Buah/biskuit Bubur susu Nasi Tim

Jenis makanan Nasi / pengganti Sayur Daging Ikan Telur Tahu Tempe

Frekuensi dan jumlah 3x sehari, 1 mangkuk kecil/kali 3x sehari dicampur 2x seminggu 2x seminggu Jarang Jarang Jarang

Susu Lain-lain

ASI dan Susu formula 2x/hari -

Kesan: Kesan gizi baik.

Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT/DT Polio Campak Hepatitis B MMR TIPA 1 bulan Dasar/Umur 1 bulan 3 bulan 3 bulan 4 bulan 4 bulan Ulangan (Umur)

Kesan: Riwayat imunisasi tidak lengkap.

Riwayat Keluarga : Ayah Nama Perkawinan Ke Umur Saat Menikah Pendidikan Terakhir Agama Tn S 1 29 SMP Islam Ibu Ny D 1 22 SMA Islam

Suku Bangsa Keadaan Kesehatan

Jawa Baik

Sunda Baik

Pasien merupakan anak pertama (tunggal). Tidak ada lahir mati atau abortus. Kesan : Riwayat keluarga pasien baik.

RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN

Perumahan

Tinggal menumpang di rumah kakek dan nenek pasien

Keadaan rumah :

Rumah dengan 2 kamar ukuran sedang dengan dua buah jendela dan sebuah kamar mandi. Ventilasi dan pencahayaan kurang baik. Satu rumah dihuni oleh lima orang. Menurut ibu pasien kamar pasien merupakan tempat tidur dan tempat bermain. Kamar mandi terletak bersebelahan dengan dapur tempat memasak. Sumber air minum dan air untuk keburuhan keluarga berasal dari air PAM ( Perusahaan Air Minum ) .

Daerah / lingkungan : Lingkungan sekitar rumah cukup padat, saluran air kurang lancar. Air limbah rumah tangga tidak disalurkan dengan baik. Sampah-sampah terkumpul pada tempat sampah dan sampah setiap harinya diangkut oleh tukang sampah.

Kesan : Lingkungan padat, saluran air kurang lancar,pencahayaan dan ventilasi buruk.

PEMERIKSAAN FISIK ( 16 November 2012) Keadaan Umum: Tampak Sakit Sedang Kesadaran Berat Badan Tinggi Badan : Compos mentis : 8 kg ( berat badan sebelum sakit : 9kg ) : 75cm

Status antropometri: BB/U: 8/11.7 x 100% = 68.3% TB/U: 75/82 x 100% = 91.4% BB/TB: 8/10.2 x 100% = 78.4% Status gizi: Gizi kurang

Tanda vital: Nadi Pernafasan Suhu Tubuh : 172 kali/menit, isi cukur, regukler, ekual kanan dan kiri : 40 kali/menit : 38,2 C

Kepala

: Normocephali, ubun-ubun cekung

Mata

: Pupil bulat isokor, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+, conjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-, cekung +/+, air mata kurang

Telinga

: Normotia, sekret -/-

Hidung

: Napas cuping hidung -/-, sekret -/-, konka edema -/-

Bibir

: mukosa bibir kering, tidak pucat

Mulut

: mulut kering

Lidah

: normoglossia, kering, lidah tidak kotor

Tonsil

: T1-T1, kripta tidak melebar

Faring

: hiperemis (-), granuler (-)

Leher

: Kaku kuduk (-), kelenjar getah bening tidak teraba membesar, kelenjar tiroid tidak teraba membesar

Thoraks

Bentuk

: datar, tidak cekung.

Paru paru Depan Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis Belakang Simetris saat statis dan dinamis Simetris saat statis dan dinamis - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil lebih keras - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil lebih lemah Sonor di seluruh lapang paru Sonor di seluruh lapang paru - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) - Suara vesikuler melemah - Wheezing (-),Ronki ( - )

Kanan Simetris saat statis dan dinamis Palpasi Kiri - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil lebih keras Kanan - Tidak ada benjolan - Fremitus taktil lebih lemah Perkusi Kiri Sonor di seluruh lapang paru

Kanan Sonor di seluruh lapang paru Auskultasi Kiri - Suara vesikuler - Wheezing (-), Ronki (-) Kanan - Suara vesikuler melemah - Wheezing (-), Ronki (-)

Jantung Inspeksi : Tampak pulsasi iktus cordis 1 jari lateral midklavikula kiri.

Palpasi Perkusi

: Teraba pulsasi iktus cordis 1 jari lateral midklavikula kiri. : Batas kanan Batas kiri Batas atas : sela iga III-V linea parasternalis kanan. : sela iga VI, 1cm sebelah lateral linea midklavikula kiri. : sela iga III linea parasternal kiri.

Auskultasi: Bunyi jantung I - II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-)

Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Dinding perut : Agak tegang, kembung, nyeri tekan epigastrium (-), turgor kulit kembali cepat Hepar Limpa Perkusi : Tidak teraba membesar : Tidak teraba membesar : Hipertimpani : Buncit : Bising usus (+) meningkat

Ekstremitas LENGAN Otot Tonus Massa Sendi Kanan Normotonus Normal Normal Kiri Normotonus Normal Normal

Gerakan Kekuatan Oedem Petechie CRT Akral hangat

Aktif +5 Tidak ada Tidak ada < 2 -

Aktif +5 Tidak ada Tidak ada < 2 -

Kedua pergelangan tangan melengkung ke dalam Tungkai dan Kaki LENGAN Otot Tonus Massa Sendi Gerakan Kekuatan Oedem Petechie Akral hangat Kanan Normotonus Normal Normal Aktif +5 Tidak ada Tidak ada Kiri Normotonus Normal Normal Aktif +5 Tidak ada Tidak ada -

Refleks Kanan Refleks Tendon Bisep Positif Positif Kiri Positif Positif

Trisep Patela Achiles Refleks Patologis Refleks meningeal

Positif Positif Positif Negatif Negative

Positif Positif Positif Negatif Negative

Genitalia

: Testis +/+, penis belum disirkumsisi dan tidak ditemukan kelainan

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium tanggal 27 November 2012 Darah rutin Pemeriksaan Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit Hasil 8.2 7700 24 203000 Nilai normal 13.5 17.5 4200 9100 40-51 163000 337000 Satuan g/dL /uL % /uL

Elektrolit Pemeriksaan Natrium (Na) Kalium (K ) Klorida (CI) Hasil 134 3.89 106 Nilai normal 134-146 3.4-4.5 96 108 Satuan mmol/L mmol/L mmol/L

Analisa Gas Darah / ASTRUP Pemeriksaan Ph PCO2 PO2 HCO3 BE O2 Saturasi Hasil 7.432 24.4 83.0 15.9 -8.4 96.7 Nilai normal 7.35 7.45 32.0 45.0 95.0 100.0 21.0 28.0 -2.50 2.50 94.0 100.0 mmHg mmHg mEq/L mEq/L % Satuan

II.

RESUME Pasien seorang laki-laki usia 1 tahun 6 bulan datang ke IGD RSUD Koja dengan keluhan mencret sejak satu hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). BAB lebih dari 10 kali sehari, tinja encer, berjumlah aqua gelas setiap kali, warna kuning, mengandung lendir, tidak ada ampas, dan tidak ada darah. Pasien muntah sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Muntah lebih dari 7 kali sehari dengan konsistensi cair, berjumlah aqua gelas setiap kali, isinya susu dan makanan yang dimakan oleh pasien. Muntah disertai mual dan tidak nafsu makan namun pasien sering haus dan banyak minum ASI melebihi kebiasaan. Satu hari sebelum mencret dan muntah , tubuh pasien panas. Panas tidak diukur dengan termometer tetapi dirasakan dengan perabaan tangan. Panas naik turun sepanjang hari. Panas turun setelah pasien minum obat namun naik lagi beberapa jam setelah itu. Menurut ibu pasien, pasien rewel dan gelisah sejak pagi SMRS. Ibu pasien turut megadu pasien jarang BAK sejak pasien mulai mencret dan muntah-muntah. Pada pemeriksaaan antropometri, pasien termasuk dalam gizi kurang.. Pada pemeriksaan TTV , didapatkan peningkatan suhU iaitu 37.7C. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan ubun-ubun cekung, CA+/+, mata cekung +/+, air mata kurang, mulut dan mukosa bibir kering, lidah kering, perut kembung dan hipertimpani pada perkusi, dan akral dingin. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan, darah lengkap : Hb 8.2g/dL, Ht : 24% , analisa gas darah : HCO3 : 15.9 meq/L, base excess : -8.4 meq/L.

III.

DIAGNOSIS KERJA Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang Vomitus Asidosis metabolik terkompensasi Anemia defisiensi besi Gizi kurang

IV.

PEMERIKSAAN ANJURAN i. ii. Pemeriksaan faeces lengkap Pemeriksaan darah lengkap

V.

PENATALAKSANAAN i. ii. iii. iv. v. IVFD KAEN 3B 800cc/24 jam Ambacim 2x250 mg iv Rantin 2 x 10 mg iv Cendantron 3x1 mg iv Interzinc 1x1 Cth

VI.

PROGNOSIS Ad vitam : Dubia ad bonam

Ad fungsionam : Dubia ad bonam Ad sanasionam : Dubia ad malam

FOLLOW UP 28 S: O: KU: KSS Kesedaran :CM N : 148x/menit RR : 30x/menit S : 37.3C Kepala : normocephali Ubun-ubun cekung(+) Mata : CA+/+, SI -/-, mata cekung +/+ Thoraks : C : S1-S2 reg, M(-),G(-) P : SNV +/+, Rh-/-,Wh-/Abd : agak tegang, buncit, BU(+) meningkat Ekstrimitas : Akral hangat A: - Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang - Vomitus - Metabolik asidosis terkompensasi - Anemia - Gizi kurang P: IVFD KAEN 3B 800cc/jam Ambacim (2) Ranitidine 2x10 mg iv Cendantron 3x1mg iv Interzinc 1x1 Cth 2x250 mg iv

November Mencret (+), 2012 (pukul 07.00) >5x/hari,encer, kuning,lendir(+), ampas(-),darah(-) Demam (+), panas turun naik sepanjang hari. Muntah (-)

Pemeriksaan laboratorium 28/11/2012 Hematologi lengkap Pemeriksaan Hemoglobin Leukosit Hematokrit Trombosit MCV ( VER ) MCH ( HER ) MCHC ( KHER ) Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit LED RDW 2 2 0 30 56 10 25 17.6 0-2 0-5 2-6 47 - 80 13 - 40 2 - 11 < 10 11.6 14.8 % % % % % % mm/jam Hasil 8.6 7800 26 243000 75 25 33 Nilai normal 13.5 17.5 4200 - 9100 40-51 163000 - 337000 80 - 100 26 - 34 31 - 36 Satuan g/dL /uL % /uL fL Pg g/dL

Pemeriksaan Elektrolit Pemeriksaan Natrium (Na) Kalium (K ) Klorida (CI) Hasil 136 3.54 108 Nilai normal 134-146 3.4-4.5 96 - 108 Satuan mmol/L mmol/L mmol/L

Morfologi darah tepi Eritrosit Leukosit Normositik normokrom Kesan jumlah cukup, morfologi normal Hitung jenis : 1/0/0/36/57/6 Trombosit Resume Kesan jumlah cukup dengan morfologi normal Anemia normositik normokrom dengan gambaran eritrosit anisositosis Kesan Saran Anemia normositik normokron ec suspek hemolitik Retikulosit Darah samar tinja dan analisa feses SI, TIBC, Ferritin

Follow up 29/12/2012 29 S: O: KU: KSS Kesedaran :CM N : 148x/menit RR : 34x/menit S : 36.6C Kepala : normocephali Ubun-ubun cekung(+) Mata : CA+/+, SI -/-, mata cekung +/+ Thoraks : C : S1-S2 reg, M(-),G(-) P : SNV +/+, Rh-/-,Wh-/A: - Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang - Vomitus - Metabolik asidosis terkompensasi - Anemia - Gizi kurang P: IVFD KAEN 3B 800cc/jam Ambacin Interzinc Flagyl 2x250 mg iv (2) 1x1 Cth 3x1 Cth

November Mencret (+), 2012 (pukul 07.00) >10x/hari,encer, kuning,lendir(+), ampas(+),darah(-) Demam (-) Muntah (-)

Abd : agak tegang, buncit, BU(+) meningkat Ekstremitas : Akral hangat

Pemeriksaan faeces lengkap

Pemeriksaan Tinja rutin Warna Konsistensi Pus Mikroskopis Leukosit Eritrosit Epitel Amilum Serat tumbuhan Amoeba Telur cacing Lain-lain

Hasil

Kuning Cair Negatif

3-4 1-2 +1 Negatif Negatif Negatif Negatif Bakteri +2

Follow up 30/11/2012 30 S: O: KU: KSS Kesedaran :CM N : 144x/menit RR : 28x/menit S : 36.7 C Kepala : normocephali Ubun-ubun cekung(-) Mata : CA+/+, SI -/-, mata cekung -/Thoraks : C : S1-S2 reg, M(-),G(-) P : SNV +/+, Rh-/-,Wh-/Abd :supel, datar, BU(+) normal Ekstremitas : Akral hangat

A: - Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang - Vomitus - Metabolik asidosis terkompensasi - Anemia - Gizi kurang

P: IVFD KAEN 3B 800cc/jam Ambacin Interzinc Flagyl 2x250 mg iv (2) 1x1 Cth 3x1 Cth

November Mencret (+), 2012 (pukul 07.00) 2x/hari,lunak, kuning,lendir(+), ampas(+),darah(-) Demam (-) Muntah (-)

Follow up 1/12/2012 1 Desember S: Mencret (-), O: KU: KSS A: - Diare akut P: IVFD KAEN 3B 800cc/jam

2012 (pukul 07.00)

>1x/hari,lunak, kuning ,lendir(-), ampas(+) banyak,darah(-) Demam (-) Muntah (-)

Kesedaran :CM N : 140x/menit RR : 40x/menit S : 37.0 C Kepala : normocephali Ubun-ubun cekung(-) Mata : CA+/+, SI -/-, mata cekung -/Thoraks : C : S1-S2 reg, M(-),G(-) P : SNV +/+, Rh-/-,Wh-/Abd :supel, datar, BU(+) normal Ekstremitas : Akral hangat

dengan dehidrasi ringan sedang - Vomitus - Metabolik asidosis terkompensasi - Anemia - Gizi kurang

Ambacin Interzinc Flagyl

2x250 mg iv 1x1 Cth 3x1 Cth

ANALISA KASUS

Menurut penentuan derajat dehidrasi dari WHO tahun 1990, derajat dehidrasi pada pasien ini tergolong dalam dehidrasi ringan sedang. Hal ini kerana pada pasien ditemukan : 1. pasien gelisah dan rewel 2. pasien haus dan menyusu banyak 3. ubun-ubun dan mata pasien terliat cekung 4. air mata kurang 5. mulut dan mukosa bibir kering

TANDA dan GEJALA

DEHIDRASI RINGAN

DEHIDRASI SEDANG

DEHIDRASI BERAT

1. Keadaan umum dan kondisi Bayi dan anak kecil Haus, sadar, gelisah Haus , gelisah, atau letargi tetapi iritabel Mengantuk, lemas, ekstremitas dingin,berkeringat, sianotik, mungkin koma Anak lebih besar dan dewasa Haus, sadar, gelisah Haus, sadar, merasa pusing pada perubahan posisi Biasanya sadar, gelisah, ekstremitas dingin, berkeringat dan sianotik, kulit jari-jari tangan dan kaki berkeriput, kejang otot 2. Nadi radialis (1) Normal (frekuensi dan isi) Cepat dan lemah Cepat, halus, kadang-kadang tak teraba 3.Pernafasan Normal Dalam, mungkin Dalam dan cepat

cepat 4.* Ubun-ubun besar(2) Normal 5.* Elastisitas kulit(3) Pada percubitan elastisitas kembali segera 6. * Mata 7. Air mata 8. Selaput lendir (4) 9. *Pengeluaran urin(5) Normal Ada Lembap Normal Cekung Kering Kering Berkurang dan warna tua Sangat cekung Sangat kering Sangat kering Tidak ada pengeluaran urin untuk beberapa jam, kandung kencing kosong 10. Tekanan darah sistolik(6) Normal Normal-rendah > 80mmHg, mungkin tidak terukur % kehilangan berat Perkiraan kehilangan cairan Keterangan : * terutama berguna pada bayi-bayi untuk menilai dehidrasi dan memantau dehidrasi 1. Bila nadi radialis tak teraba, dicatat frekuensi denyut jantung dengan stetoskop. 2. berguna pada bayi-bayi sampai ubun-ubun menutup pada 6-18 bulan. Setelah penutupan pada anak-anak terdapat sedikit penekanan. 3. tidak berguna pada nutrisi marasmk dan obesitas 4. kekeringan mulut dapat diraba dengan jari yang bersih. Mulut dapat sellau kering pada anak yang bernafas dengan mulut. Mulut dapat basah pada penderita dehidrasi kerana muntah atau minum. Bayi yang merasmik atau mendapat caitan hipotonik mengeluarkan urin yang cukup pada keadaan dehidrasi. 6. Sukar dinilai pada bayi-bayi. 4-5% 40-50ml/kgBB 6-9% 60-90ml/kgBB 10% atau lebih 100-110ml/kgBB Cekung Lambat Sangat cekung Sangat lambat ( < 2 detik )

Pasien didiagnosa dengan diare akut ec infeksi bakteri karena : 1. BAB > 10x / hari 2. Konsistensi tinja cair, warna kuning, berlendir 3. Onset mendadak < 7 hari 4. Pada pemeriksaan faeces lengkap ditemukan bekteria +2. 5. Perbaikan kondisi pasien setelah pemberian antibiotik

Dapur terletak bersebelahan dengan kamar mandi Air limbah rumah yang tidak disalurkan dengan baik

Makanan dan minuman tercemar oleh bakteria

Bakteria masuk ke saluran pencernaan melalui cara fekaloral

Bakteria merusak lapisan mukosa usus halus

Gangguan absorbsi makanan di dalam lumen usus

lepasnya lapisan mukosa yang rusak ke dalam lumen usus

Tekanan osmotik di dalam lumen usus halus meningkat

Lapisan mukosa usus yang rusak ikut keluar bersama tinja dan kelihatan seperti lendir di tinja pasien

Hiperperistaltik usus untuk mengeluarkan cairan yang berlebihan dari usus

Sekresi cairan melebihi kemampuan penyerapan kolon

Diare ( tinja yang cair)

Pasien ini didiagnosa dengan asidosis metabolik terkompensasi kerana pada hasil analisa gas darah pasien didapatkan : pH yang normal ( 7.432) menandakan asidosis pada pasien ini telah terkompensasi pCO2 yang rendah (24.4 mmHg)menandakan adanya proses kompensasi dari tubuh untuk mengurangi keasaman darah dengan cara mengeluarkan gas CO2 yang bersifat asam HCO3 yang rendah (15.9mEq/L) kadar bikabonat yang rendah meyebabkan keasaman darah bertambah BE -8.4 mEq/L menandakan adanya defisit basa yang meyebabkan kaeasaman darah meningkat

Pasien ini didiagnosa dengan enaemia defesiensi besi kerana : 1. pada pemeriksaan fisik ditemukan conjuctiva anemis 2. kadar hemoglobin dan hematokrit yang rendah 3. kadar MCV dan MCH yang rendah MCV atau mean corpuscular volume menunjukkan ukuran dari sel darah merah. Nilai MCV yang rendah menandakan pasien menderita anemia hipokrom yang ditemukan pada anemia defesiensi besi. MCH atau mean corpuscular hemoglobin menunjukkan jumlah hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Nilai MCH yang rendah menandakan adanya anemia defisiensi besi. 4. kadar RDW yang tinggi diikuti dengan kadar MCV yang rendah

Terapi Untuk pasien ini (dehidrasi ringan/sedang), terapi yang sesuai menurut WHO adalah dengan TRO berupa cairan oralit sebanyak 600cc (75cc/kgBB) selama 3 jam, kemudian dievaluasi ulang tingkat dehidrasinya. Bila terjadi perbaikan, cukup berikan 80cc (10ml/kgBB) cairan oralit setiap BAB Bila kondisi memburuk, berikan TRP dengan RL sebanyak 240cc / 0,5 jam 560cc / 2,5 jam

Pengobatan yang diberikan: Ambacim 2 x 40 mg /Cefuroxime acetyl (Cephalosporin) Broadspectrum bacterial infections Dosis: 10 15 mg/BB/day 80mg /day 2 x 40 mg Ranitidine 2 x 7mg (Antasida) Dyspepsia prophylaxis Dosis: 1-2 mg/kgBB/hr 8-16mg/hr --14 mg/hr 2x7mg Interzinc 1 x Cth I / Zn sulfate Diare ; Pelengkap cairan rehidrasi oral Dosis: 1 x Cth I Flagyl 3x Cth I / Metronidazole Infeksi bakteri anaerob Dosis: 7,5 mg/kgBB 3x /hr

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT PADA ANAK

PENDAHULUAN Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di negara yang sedang berkembang. Di Indonesia penyakit diare menjadi beban ekonomi yang tinggi di sekor kesehatan oleh karena rata rata sekitar 30 % dari jumlah tempat tidur yang ada di RS ditempati oleh bayi dan anak dengan penyakit diare.Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi antara lain infeksi virus,bakteri atau parasit. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah/menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit1. DEFINISI Diare akut adalah buang air besar yang terjadi pada bayi atau anak yang sebelumnya Nampak sehat, dengan frekuensi 3 kali atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair, dengan atau tanpa lender dan darah(2). Pada bayi yang masih mendapat ASI tidak jarang frekuensi defekasinya lebih daripada 3-4 kali sehari; keadaan ini tidak dapat disebut diare,

melainkan masih bersifat fisiologis atau normal. Kadang-kadang seorang anak defekasi kurang daripada 3 kali sehari, tetapi konsistensinya sudah encer; keadaan ini sudah dapat disebut diare. EPIDEMIOLOGI Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang termasuk Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi pada anak terutama dibawah usia 5 tahun.Sebagai gambaran 17 % kematian anak di dunia ini disebabkan oleh diare sedangkan di Indonesia hasil Riskesdas 2007 diperoleh bahwa diare masih merupakan penyaebab kematian bayi yang terbanyak yaitu 42 % dibanding pneumonia 24%,untuk golongan 1-4 tahun penyebab kematian karena diare 25,2 % dibanding pneumonia 15,5 %.1 KLASIFIKASI Secara umum diare disebabkan 2 hal yaitu gangguan pada proses absorbsi atau sekresi. Terdapat beberapa pembagian diare: 1. Pembagian diare menurut etiologi 2. Pembagian diare menurut mekanismenya: a. Gangguan absorbsi b. Gangguan sekresi 3. Pembagian diare menurut lamanya diare: a. Diare Akut yang berlangsung kurang dari 14 hari b. Diare Kronik yang berlangsung > 14 hari dengan etiologi non infeksi c. Diare Persisten yang berlangsung > 14 hari dengan etiologi infeksi CARA PENULARAN DAN FAKTOR RESIKO Cara penularan diare pada umumnya melaui cara fekal oral yaitu melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen,atau kontak langsung tangan dengan penderita atau barang barang yang telah tercemar tinja penderita atau tidak langsung melalui lalat (melalui 4 f= finger,flies,fluid,field) 5.Adapun beberapa faktor dibawah ini dapat menjadi faktor resiko : Faktor umur

Sebagian besar episode diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan.Insidens tertinggi terjadi pada 6-11 bulan pada saat diberikan makanan pendamping ASI.Pola ini menggambarkan kombinasi efek penurunan kadar antibodi ibu dan kurangnya kekebalam aktif bayi. Infeksi asimptomatik Sebagian besar infeksi usus bersifat asimptomatik dan proporsi asimptomatik meningkat setelah umur 2 tahun dikarenakan pembentukan imunitas aktif.Pada infeksi asimptomatik yang mungkin berlangsung beberapa hari atau minggu,tinja penderita mengandung virus,bakteri atau kista protozoa yang infeksius. Faktor Musim Variasi pola musiman diare dapat terjadi menurut letak geografis.Di daerah subtropik,diare karena bakteri lebih sering terjadi pada musim panas,sedangkan diare karena virus dapat terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan sepanjang musim kemarau. Epidemi dan pandemi Vibrio cholera 0,1 dan Shigella dysentria1 dapat menyebabkan epidemi dan pandemi yang mengakibatkan tingginya angka kesakitan dan kematian pada semua golongan usia. ETIOLOGI Dua puluh tahun yang lalu, baru sekitar 10-20% penyebab diare yang diketahui, tetapi dengan kemajuan teknologi di bidang laboratorium, pada saat ini lebih daripada 80% penyebab diare telah dapat diketahui. Beberapa penyebab diare pada manusia adalah sebagai berikut: 1. Golongan Bakteri a. Aeromonas hidrophilia b. Bacillus cereus c. Campylobacter jejuni d. Clostridium difficile e. Clostridium perfringens f. Escheria coli g. Salmonela spp. h. Shigella spp. i. Staphylococcus aureus j. Vibrio cholera k. Vibrio parahaemoliticus l. Yersinia enterocolitica 2. Golongan Virus

a. Adenovirus b. Rotavirus c. Virus Norwalk d. Astrovirus e. Calicivirus f. Coronavirus g. Minirotavirus 3. Golongan Parasit a. Balantidium coli b. Capillaria philippinensis c. Cryptosporidium d. Entamoeba hystolitica e. Giardia lamblia f. Strongyloides stercoralis g. Faciolopsis buski h. Sarcocystis suihominis i. Trichuris trichiura j. Candida spp. k. Isospora belli

PATOFISIOLOGI Kejadian diare secara umum terjadi dari satu atau beberapa mekanisme yang saling tumpang tindih.Menurut mekanisme diare maka dikenal 1,8 : a. Gangguan absorbsi atau diare osmotik Adanya bahan yang tidak diserap,menyebabkan bahan intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertonis dan menyebabkan

hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara lumen usus dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeabel,air akan megalir ke arah lumen jejunum,sehingga air akan banyak terkumpul dalam lumen usus.Na akan mengikut masuk ke dalam lumen ,dengan demikian akan terkumpul cairan intraluminal yang besar dengan kadar na yang normal.Sebagian kecil cairan ini akan diabsorbsi kembali,akan tetapi laiinya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukose, sukrose, laktose,maltose di segmen ileum dan melebihi kemampuan absorbsi kolon sehingga terjadi diare. b. Malabsorbsi umum Sel juga dapat rusak karena inflammatory bowel disease idiopatik akibat toksin atau oabt obat tertentu.gambaran karakterisitik penyakit yang menyebabkan malabsorbsi usus halus adalah atrofi villi.Maldigesti protein lengkap,karbohidrat dan trigliserid diakibatkan insufisiensi eksokrin pankreas menyebabkan malabsorbsi yang signifikan dan mengakibatkan diare osmotik.Gangguan atau kegagalan eksresi pankreas menyebabkan kegagalan pemecahan kompleks protein,karbohidrat,trigliserid selanjutnya menyebabkna maldigesti,malabsorbsi dan akhirnya menyebabkan diare osmotik. c. Gangguan sekresi atau diare sekretorik: Dikenal dua bahan yang menstimulasi sekresi lumen yaitu enterotoksin bakteri dan bahan kimia yang menstimulasi seperti laksansia,garam empedu bentuk dihydroxi serta asam lemak rantai panjang.Toksin penyebab diare ini terutama bekerja dengan cara meningkatkan konsentarsi intrasel cAMP,cGMP atau Ca
++

yang selanjutnya akan mengaktifkan protein kinase.Pengaktifan protein kinase akan menyebabkan fosforilasi membran protein sehingga mengakibatkan

perubahan saluran ion,akan menyebabkan Cl di kripta keluar.Di sisi lain terjadi peningkatan pomap natrium,dan natrium masuk ke dalam lumen usus bersama Cl
-

.Bahan laksatif dapat menyebabkan bervariasi efek pada aktivasi NaK-

ATPase.Beberapa diantaranya memacu peningkatan kadar cAMP intraseluler, meningkatkan permeabilitas intestinal dan sebagian menyebabkan kerusakan sel mukosa.Beberapa obat menyebabkan sekresi intestinal.. d. Diare akibat gangguan peristaltik Meskipun motilitas jarang menjadi penyebab utama malabsorbsi,tetapi perubahan motilitas mempunyai pengaruh terhadap absorbsi.Baik peningkatan atau penurunan motilitas keduanya dapat menyebabkan diare.Penurunan motilitas dapt mengakibatkan bakteri tumbuh lampau yang menyebabkan diare. e. Diare inflamasi Proses inflamasi di usus halus dan kolon dapat menyebabkan diare pada bebrapa keadaan.Akibat kehilangan sel epitel dan kerusakan tight junction,tekan hidrostatik dalam pembulu darah dan limphatic menyebabkan

air,elektrolit,mukus,protein seringkali sel darah merah dan sel dara putih menumpuk dalam lumen. f. Diare terkait imunologi Diare akibat imunologi dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe I,III dan IV.Reaksi tipe I yaitu terjadi reaksi antara sel mast dengan IgE dan alergen makanan.Reaksi tipe III misalnya pada penyakit gastroenteropati,sedangkan reaksi tipe IV terdapat pada coeliac disease dan protein loss enteropaties.Pada reaksi tipe I,alergen yang masuk tubuh menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE yang selanjutnya akan diikat oleh reseptor spesifik ada permukaan sel mast dan basofil.Bila terjadi aktivasi akibat pajanan berulang dengan antigen spesifik,sela mast akan melepaskan mediator seperti

histamin,ECF-A,PAF,SRA-A dan prostlagalandin. g. Diare akibat infeksi bakteri dan virus Patogenesis terjadinya diare yang disebabkan virus yaitu virus yang masuk melalui makanan dan minuman sampai ke enterosit, akan menyebabkan infeksi dan kerusakan villi usus halus. Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru

yang fungsinya belum matang, villi mengalami atropi dan tidak dapat mengabsorpsi cairan dan makanan dengan baik, akan meningkatkan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya sehingga timbul diare. Diare karena bakteri terjadi melalui salah satu mekanisme yang berhubungan dengan pengaturan transpor ion dalam sel-sel usus cAMP,cGMP, dan Ca dependen. Patogenesis terjadinya diare oleh salmonella, shigella, E coli agak berbeda dengan patogenesis diare oleh virus, tetapi prinsipnya hampir sama. Bedanya bekteri ini dapat menembus (invasi) sel mukosa usus halus sehingga depat menyebakan reaksi sistemik.Toksin shigella juga dapat masuk ke dalam serabut saraf otak sehingga menimbulkan kejang. Diare oleh kedua bakteri ini dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja yang disebut disentri 8.

MANIFESTASI KLINIS Gejala biasanya dimulai secara tiba-tiba, yaitu berupa kehilangan nafsu makan, mual atau muntah, bising usus meningkat (perut keroncongan), kram perut dan diare dengan atau tanpa darah dan lendir. Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit. Penderita juga bisa mengalami demam, tidak enak badan, dan kelelahan yang berlebihan..Adapun gejala khas diare dapat dibedakan berdasarkan penyebab timbulnya diare melalui tabel berikut ini1,2 :

Gejala klinik Masa tunas Panas Mual muntah Nyeri perut

Rotavirus 17-72 jam + Sering

Shigella 24-48 jam ++ Jarang

Salmonella 6-72 jam ++ Sering

ETEC 6-72 jam +

EIEC 6-72 jam ++ -

Kolera 48-72 jam Sering

Tenesmus

Tenesmus kramp

Kolik tenesmus +

Nyeri kepala

Lamanya sakit Sifat tinja Volume Frekuensi

5-7 Hari

>7 hari

3-7 hari

2-3 hari

Variasi

3 hari

Sedang 5-10x/hari

Sedikit >10x/hari

Sedikit Sering

Banyak Sering

Sedikit Sering

Banyak Terus menerus

Konsistensi Darah Bau

Cair Langu

Lembek Sering

Lembek Kadang Busuk

Cair +

Lembek + Tidak

Cair Amis (khas)

Warna

Kuning hijau

Merah hijau

Kehijauan

Tak berwarna

Merah hijau

Seperti air cucian beras

Leukosit Lain lain

Anorexia

+ Kejang

+ Sepsis

Meteorism Infeksi us sistemik

Diare menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit dan sering disertai dengan asidosis metabolik karena kehilangan basa.Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan kehilangan air juga meningkat bila ada panas,hal ini dapat menyebabkan teradinya dehidrasi.Adapun derajat dehidrasi dapat dibedakan juga dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik,seperti digambarkan melaluit tabel berikut 1:

Gejala

Tanpa dehidrasi

Dehidrasi ringan

sedang- Dehidrasi berat

Defisit cairan Kehilangan BB Rasa haus

50 % <5 Minum

50- 100% 5-10 Normal, Kehausan,ingin minum banyak Gelisah Rewel

>100% >10 Sulit, tidak bisa minum

Tidak Haus Kesadaran Baik, Sadar

Letargik,

Kesadaran

Menurun Denyut jantung Normal Normal-meningkat Takikardi,bradikardi,pada kasus berat Kualitas nadi Pernapasan Mata Normal Cekung/sedikit cekung Air mata Mulut dan lidah Cubitan kulit Capillary refill Extremitas Kencing Ada Basah Segera kembali Normal Hangat Normal Berkurang Kering Kembali<2 detik Memanjang Dingin Berkurang Tidak ada Sangat kering Kembali>2 detik Memanjang,minimal Dingin,sianotik Minimal Sangat cekung Normal Normal-melemah Lemah,kecil,tidak teraba

Selain itu, terdapat juga penentuan derajat dehidrasi menurut WHO 1995

Dan penentuan derajat dehidrasi menurut system pengangkaan Maurice King

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium yang kadang kadang diperlukan pada diare akut 1,3 : 1.Darah :darah lengkap,serum elektrolit,AGD,glukosa darah,kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika 2.Urine :urine lengkap,kultur dan test kepekaan terhadap antibiotika 3.Tinja a.Pemeriksaan makroskopik Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita dengan diare meskipun pemeriksaan laboratorium tidk diperlukan.Tinja yang watery tanpa mukus atau darah biasanya disebabkan oelh enterotoksin virus,protozoa atau disebakan infeksi diluar saluran gastroinestinal.Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam tinja kecuali pada infeksi dengan E.Histolytica darah sering terdapat pada permukaan tinja dan pada infeksi EHEC terdapat garis garis darah pada tinja.Tinja yang berbau busuk didapatkan pada infeksi Salmonella, Giardia, Cryptosporodium dan Strongyloides. b.Pemeriksaan mikroskopik Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya leukosit dapat memberikan informasi tentang penyebab diare,letak anatomis serta adanya peradangan mukosa.Leukosit dalam tinja diproduksi sebagai respon terhadap bakteri yang menyerang mukosa kolon.Lekosit yang positif pada pemeriksaan tinja menunjukkan adanya kuman invasif atau kuman yang memproduksi sitotoksin seperti Shigella, Salmonella, C jejuni, EIEC,C difficile,Y

enterocolitica,V.parahaemolyticus shigelloides.

dan

kemungkinan

Aemoronas

atau

PENATALAKSANAAN Diare adalah jenis penyakit yang bersifat self limiting atau penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan karena penyakit ini tergantung dari tingkat higiene yang masih rendah. Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi efektif diare akut.Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau parateral. Algoritme Pengobatan Diare

A. Rencana Pengobatan A untuk diare tanpa dehidrasi

Anak bisa dirawat dirumah dengan TRO . Penderita diare tanpa dehidrasi harus segera diberi cairan rumah tangga untuk mencegah dehidrasi ,seperti air tajin,larutan gula garam,kuah sayur sayuran dan sebagainya.Jumlah cairan yang diberikan adalah 10 ml/kgBB atau untuk anak usia <1 tahun adalah 50-100 mk,1-5 tahun adalah 100-200 ml,5-12 tahun adalah 200-300 ml dan dewasa adalah 300-400 ml setiap BAB.Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit.Pemberian dengan botol tidak boleh dilakukan.Anak yang lebih besar dapat minum langsung dari cangkir atau gelas dengan tegukan yang sering.Bila terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudiana mulai lagi perlahan lahan misalnya 1 sendok setiap 2 3 menit.Pemebrian cairan ini diberikan sampai dengan diare berhenti.Selain cairan rumah tangga ASI dan makanan yang biasa dimakan tetap harus diberikan 1.

B. Rencana Pengobatan B untuk diare dengan dehidrasi ringan sedang

Penderita diare dengan dehidrasi ringan sedang harus dirwata di sarana kesehatan dan sgera diberikan terapi rehidrasi oral dengan oralit.Jumlah oralit yang diberikan 3 jam pertama 75 cc/kgBB. Bila penderita masih ingin minum harus diberi lagi.Apabila oleh

karena sesuatu hal pemberian oralit tidak dapat dilakukan peroral,oralit dapat diberikan melalui NGT dengan volume yang sama dengan kecepatan 20ml/kgBB/jam atau namun jika gagal dapat diberikan secara intravena sebanyak : 75 ml/kg bb/3jam 1,9.Setelah 3 jam keadaan penderita dievaluasi ,apakah membaik atau memburuk.Bila keadaan membaik pasien bisa diobati seperti terapi rencana A,namun bila keadaan anak bertamah berat harus masuk dalam rencana pengobatan dehidrasi berat .

C. Rencana Pengobatan C untuk diare dengan dehidrasi berat

Penderita dengan dehidrasi berat harus dirawat di rumah sakit dan pengobatan yang baik adalah rehidrasi parenteral.Pasien yang masih dapat minum meskipun hanya sedkiti harus diberi oralit sampai cairan infus terpasang.Disamping itu semua anak arus diberi oralit selam pemberian cairan intravena ( 5 ml?kgBB/jam),apabila dapat inum dengan baik,biasanya dalam 3-4 jam (untuk bayi) atau 1- 2 jam (untuk anak yang lebih besar).Pemberian tersebut dilakukan untuk memberi tambahan basa dan kalium yang mungkin tidak dapat disuplai dengan cukup dengan pemebrian cairan iv.Untuk rehidrasi parenteral digunakan cairan RL dengan dosis 100ml/KgBB.Cara pemberiannya untuk < 1 tahun 1 jam pertama 30 cc/kgBB,dilanjutkan 5 jam berikutnya 70 cc/kgBB.Diatas 1 tahun jam pertama 30 cc/kgBB dilanjutkan 2 jam berikutnya 70 cc/kgBB. Lakukan evaluasi tiap jam.Bila hidrasi tidak membaik,tetsan IV dapat dipercepat.Setelah 6 jam pada bayi atau 3 jam pada anak lebih besar,lakukan evaluasi 9. a) Pengobatan simptomatik 1. Obat-obat anti diare : Obat-obat ini hanya berkhasiat untuk menghentikan peristaltik saja, diarenya terlihat tidak ada lagi tetapi perut semakin bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat yang akhirnya dapat berakibat fatal untuk penderita 9. Adsorben : obat-obat adsorben seperti pektin, kaolin, bismuth subbikarbonat dan sebagainya, telah dibuktikan tidak ada manfaatnya. Anti motilitis seperti difenosilat dan loperamid dapat menimbulkan paralisis obstruksi sehingga terjadi bacterial overgrowth, gangguan absorpsi dan sirkulasi. Zink .Zink merupakan mikronutrien yang penting dalam tubuh. Pemberian zink selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat gizi buruk selama

diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Zink diberikan pada setiap diare dengan dosis, untuk anak berumur kurang dari 6 bulan diberikan 10 mg (1/2 tablet) per hari, sedangkan untuk anak berumur lebih dari 6 bulan diberikan 1 tablet zink 20 mg. Pemberian zink diteruskan sampai 10 hari, walaupun diare sudah membaik. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kejadian diare selanjutnya selama 3 bulan kedepan c) Pengobatan cairan Ada dua jenis cairan yang dapat digunakan dalam pengobatan penyakit diare, yaitu Cairan Rehidrasi Oral (CRO), dan Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP). CRO Pada tahun 2002 WHO mengumumkan CRO formula baru yang sesuai dengan rekomendasi tersebut dengan 75 meq/l natrium ,75 mmol/l glucose dan osmolaritas tital 245 mOsm/l.Adapun komposis oralit terbaru dapat digambarkan melalu tabel berikut 1 : Oralit baru osmolaritas rendah Natrium Klorida Glucose,anhydrous Kalium Sitrat Total osmolaritas Mmol/liter 75 65 75 20 10 245

CRP Cairan Parenteral dibutuhkan terutama untuk dehidrasi berat dengan atau tanpa syok, sehingga dapat mengembalikan dengan cepat volume darahnya, serta memperbaiki renjatan hipovolemiknya. Cairan Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan mengandung konsentrasi natrium yang tepat

serta cukup laktat yang akan dimetabolisme menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi kaliumnya rendah dan tidak mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia. Cairan NaCL dengan atau tanpa dekstrosa dapat dipakai, tetapi tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan dalam jumlah yang cukup. Jenis cairan parenteral yang saat ini beredar dan dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan pengganti diare dengan dehidrasi adalah Ka-EN 3B.16 Sejumlah cairan rehidrasi oral dengan osmolaliti 210 268 mmol/1 dengan Na berkisar 50 75 mEg/L, memperlihatkan efikasi pada diare anak dengan kolera atau tanpa kolera. e. Antibiotik Sebagian besar kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika oleh karena pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotik hanya diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya kholera shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus (Rotavirus). Kecuali pada bayi berusia di bawah 2 bulan karena potensi terjadinya sepsis oleh karena bakteri mudah mengadakan translokasi kedalam sirkulasi, atau pada anak/bayi yang menunjukkan secara klinis gajala yang berat serta berulang atau menunjukkan gejala diare dengan darah dan lendir yang jelas atau segala sepsis 1. Etiologi Kolera Antibiotik pilihan Alternatif

Tetracyline 12,5 mg/kgbb Erythromycin 12,5 mg/kgbb 4x sehari dalam 3 hari 4 x sehari Pivmecillinam 20 mg/kgBB 4 x selama 5 hari 2 x sehari dalam 3 hari Ceftriaxone50-100 mg/kgBB 1x sehari IM selama 2- 5 hari

Shigella dysentery

Ciprofloxacin 15 mg/kgBB

Amoebiasis

Metronidazole

10

mg/kgBB 3x selama 5 hari (10 hari pada kasus berat) Giardiasis Metronidazole 5 mg/kgBB

3 x selama 5 hari f.Probiotik 10 Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik didalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus. Dengan mencermati penomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan pengobatn diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain, speudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian antibiotika yang tidak rasional rasional (antibiotik asociatek diarrhea ) dan travellers,s diarrhea. Kemungkinan mekanisme efekprobiotik dalam pengobatan diare adalah : Perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus dan imunno modulasi.

KOMPLIKASI a.Dehidrasi dan gangguan elektrolit Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak dari pemasukan air.Adapun gangguan elektrolit yang tersering adalah sebagai berikut : Hipernatremia 1,2 Penderita diare dengan natrium plasma > 150 mmol/ l memerlukan pemantauan pemantauan berkala yang ketat.Tujuannya adalah

menurunkan kadar natrium secara perlahan.Penurunan kadar natrium secara cepat secara cepat sangat berbahaya oeleh karena dapat menimbulkan edema otak.rehidrasi oral atau NGT menggunakan oralit adalah cara erbaik dan paling aman.Koreksi dengan rehidrasi iv dapat dilakukan menggunakan cairan 0,45 % saline 5 % dextrose selama 8 jam Hitung kebutuhan cairan menggunakan berat badan tanpa koreksi.Periksa kadar natrium plasma selam 8 jam.Bila normal lanjtukan dengan rumatan,bila sebaliknya lanjutan 8 jam lagi dan periksa kembali natrium plasam stelah 8 jam.Untuk rumatan gunakan 0,18 % - 5 %

dextrose,perhitungkan untuk 24 jam.Tambahkan 10 mmol KCL pada setiap 500 ml cairan infus setelah pasien dapat kencing.Selanjutnya pemberian diet normal dapat diberikan.Lanjutkan pemberian oralit 10 ml/kgBB/setiap BAB samapi diare berhenti. Hiponatremia Anak dengan diare yang hanya minum air putih atau cairan yang hanya mengandung sedikit garam,dapat terjadi hiponatremi (Na < 130 mol/l)>hiponatremi dapat terjadi pada anak dengan Shigellosis dan pada anak malnutrisi berat dengan oedem.Oralit aman dan efektif untuk terapi dari hampir semua anak dengan hiponatremi.Bila tidak berhasil koreksi Na dilakukan bersamaan dengan koreksi cairan rehidrasi yaitu : memakai RL atau normal saline.Kadar Na koreksi (meq/l) = 125 kadar Na serum pasien x 0,6x BB.separu diberikan dalam 8 jam ,sisianya diberikan dalam 16 jam. Peningkatan serum Na tidak boleh melebihi 2 meq/L. Hiperkalemia Disebut hiperkalemi jika K > 5 meq/l,koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium glukonas 10 % 0,5 1 ml/kgBB pelan pelan dalam 5 10 menit dengan monitor detak jantung.

Hipokalemia Kadar kalium plasma dipengaruhi oleh keseimbangan asam basa , sehingga pada keadaan asidosis metebolik dapat terjadi hipokalemia. Kehilangan kalium juga melalui cairan tinja dan perpindahan K+ ke dalam sel pada saat koreksi asidosis dapat pula menimbulkan hipokalemia. Dikatakan hipokalemi bila K < 3,5 meq/l,koreksi dilakukan menurut kadar K,jika kalium 2,5-3,5 meq/l diberikan peroral 75 meq/kgBB/hr dibagi 3 dosis.Bila K < 2,5 meq/l maka dapat diberikan secara iv drip(tidak boleh bolus) diberikan dalam 4 jam.Dosisnya : (3,5 kadar K terukur x BB x 0,4 + 2 meq/kgBB/jam) diberikan dama 4jam,kemudian 20 jam berikutnya adalah ( 3,5 kadar K terukur x BB x 0,4 + 1/6 x 2 meq x

BB).Hipokalemi

dapat

menyebabkan

kelemahan

otot,paralitik

ileus,gangguan ginjal dan aritmia jantng.Hipokalemi dapat dicegah dan kekurangan kalium dapat dikoreksi dengan menggunakan oralit dan memberikan makanan yang kaya kaliyum selama diare dan sesudah diare berhenti.

b.Gangguan keseimbangan asam basa Gangguan keseimbangan asam basa terjadi karena beberapa hal sebagai berikut 6 : Kehilangan natrium bicarbonat (NaHCO3) bersama tinja Ketosis kelaparan Produk produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikluarkan (oleh karena anuria atau oliguria) Berpindahnya ion natrium dari cairan ekstrasel ke intrasel Penimbunan asam laktat karena anoreksia jaringan

Penurunan bikarbonat serum terdapat pula penurunan pH darah kenaikan pCO2. Hal ini akan merangsang pusat pernapasan untuk meningkatkan kecepatan pernapasan sebagai upaya meningkatkan eksresi CO2 melalui paru ( pernapasan Kussmaul ) Gambaran laboratorium berupa penurunan PH serum dan penurunan kadar HCO3 dan PCO2.Untuk mengatasi asidosis ini dapat dikoreksi dengan biknat dengan rumus : 0,3 x BB x BE.

c.Gangguan sirkulasi Dapat terjadi shock hipovolemik akibat perfusi jaringan berkurang dan terjadi Hipoksia Asidosis yang bertambah berat dapat mengakibatkan perdarahan pada otak,kesadaran menurun dan jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian. KESIMPULAN Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Penyebab utama diare akut adalah infeksi Rotavirus yang bersifat self limiting sehingga tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika. Pemakaian antibiotika hanya untuk kasus-kasus yang

diindikasikan.Masalah utama diare akut pada anak berkaitan dengan risiko terjadinya dehidrasi.Upaya rehidrasi menggunakan cairan rehidrasi oral merupakan satu-satunya pendekatan terapi yang paling dianjurkan. Penggantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi diare akut. Pemakaian anti sekretorik,probiotik, dan mikronutrien dapat memperbaiki frekuensi dan lamanya diare. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian makanan atau nutrisi yang cukup selama diare dan mengobati penyakit penyerta. 1,6,9

DAFTAR PUSTAKA

1. S. Mohamad ,dkk.Diare Akut dalam Buku Ajar Gastroenterologi-Hepatologi.Jilid I.Ikatan dokter Anak Indonesia.2012, hal:87- 133. 2. Berhams ,Kliegman RM,Jenson HB.Nelson Textbook of Pediatrics : Diarrhea Acut.17 th Ed.Philadelphia : W.B Saunders Company; 2004. 3. Rudolph A.M,Hoffman J.I.E,Rudolph C.D.Rudolphs Pediatrics.20
th

Ed.Appleton and Lange : Diarrhea on Gastroenterology and Nutrition.Simon AND Schuster Company; 1996,pg : 234-244 4. Diagnosa diare dan klasifikasi diare .Accesed on September 2012

http://www.medicastore.com/med/index.php 5. Diare Akut pada Anak.Acessed on September 2012 : http://eprints.undip.ac.id/29133/3/Bab_2.pdf 6. Vanessa S,dkk.Diarrhea acut on Gastroenterology: Clinical pediatrics

dietettics.third edition.Blacked publishing : 2008,pg 90-92 7. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diare akut dalam Standart Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I 2004 ; 49-52 8. Gary r,dkk.Diarrhea Food and Nutrition on Paediatrics Emergency

Medicine.third edition.Mc Graw Hill Medical,New York : 2009,pg : 571-578 9. Tatalaksana Diare.Accesed on September 2012 : http://etd.eprints.ums.ac.id/14952/3/3._Bab_I.pdf 10. Probiotik pada diare .Accesed on,September 2012 : http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/13307113123.pdf PROBIOTIK PADA DIARE.accesed 11. Cahyadi E, Gastroenteritis. http://emedicine.com/EMERG/topic380.htm Accesed on September 2012 12. Sunoto. Penyakit Radang Usus: Infeksi Dalam: Markum AH, et al. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. Balai penerbit FKUI: Jakarta; 2002. P 448-66