Anda di halaman 1dari 25

BAB I LAPORAN KASUS IDENTITAS PASIEN Nama Usia Jenis kelamin Agama Ruang rawat Tanggal masuk : An.

S : 2 tahun : laki-laki : Islam : P. Sibatik : 13 Juni 2013

ANAMNESIS Dilakukan allo-anamnesis pada Selasa, 18 Juni 2013 pada pk. 08.15 WIB di bangsal P. Sibatik RSAL Mintohardjo Keluhan utama Keluhan tambahan : perut membengkak kurang lebih 4 hari sebelum masuk rumah sakit. : buang air besar sulit dan nyeri

Riwayat penyakit sekarang (RPS): Os datang dengan keluhan perut membengkak kurang lebih 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Selain bengkak, OS juga merasakan nyeri pada seluruh bagian perut dan terasa begah. Didapatkan juga riwayat mual dan muntah berwarna kehijauan. Orang tua OS juga melaporkan adanya demam dan nafsu makan menurun. Buang air besar dirasakan sulit kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Tidak terdapat masalah pada buang air kecil.

Riwayat penyakit dahulu (RPD) : OS belum pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya. Tidak didapatkan riwayat asma. Tidak didapatkan riwayat kejang. Riwayat penyakit keluarga (RPK) : Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa. Tidak didapatkan riwayat hipertensi, DM, dan penyakit jantung pada keluarga pasien. Riwayat medikasi : Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat untuk menghilangkan keluhannya. Riwayat alergi : Orang tua pasien menyangkal adanya riwayat alergi terhadap obat, makanan, dan substansi lainnya.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesan sakit Kesadaran BB TB Gizi : tampak sakit sedang : compos mentis : 25 kg : 70 cm : cukup

Tanda vital Tekanan darah : 110/70 Nadi Suhu : 60x/menit : 37,3oc

Pernafasan

: 20x/menit

STATUS GENERALIS 1. Kulit 2. Kepala Mata Bentuk Palpebra blepharitis Gerakan : normal, tidak terdapat strabismus, nistagmus : normal, kedudukan bola mata simetris : normal, tidak terdapat ptosis, lagoftalmus, oedema, perdarahan, Warna ruam, Lesi : sawo matang, tidak pucat, tidak ikterik, tidak sianosis, tidak ada dan tidak terdapat hipopigmentasi maupun hiperpigmentasi : tidak terdapat lesi primer seperti makula, papul, vesikel, pustul

maupun lesi sekunder seperti jaringan parut Rambut Turgor : lebat, berwarna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : baik

Suhu raba : hangat : normocephali, ubun-ubun besar cekung (-)

Konjungtiva: tidak anemis Sklera Pupil : tidak ikterik : bulat, isokor, RCL +/+, RCTL +/+

Telinga Bentuk Liang telinga Serumen maupun kiri Nyeri tarik auricular kiri Nyeri tekan tragus kiri : tidak ada nyeri tekan pada tragus kanan maupun : tidak ada nyeri tarik pada auricular kanan maupun : normotia : lapang : tidak ditemukan serumen pada telinga kanan

Hidung Bagian luar : normal, tidak terdapat deformitas, tidak hiperemis, tidak

ada sekret, tidak ada nyeri tekan Septum : simetris, tidak ada deviasi : tidak hiperemis, konka nasalis tidak edema

Mukosa hidung

Mulut dan tenggorok 3. Leher 5. Thorax Sela iga tidak melebar, tidak ada efloresensi yang bermakna Bibir : normal, tidak pucat, tidak sianosis

Gigi-geligi : hygiene baik, tidak ada gigi yang tanggal, gigi geraham belakang belum tumbuh Mukosa mulut Lidah Tonsil Faring : Bendungan vena : tidak ada bendungan vena Kelenjar tiroid : tidak membesar, mengikuti gerakan saat menelan : normal, tidak hiperemis, tidak halitosis

: normoglosia, tidak tremor, tidak kotor : ukuran T1/T1, tenang, tidak hiperemis : tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di tengah

4. Kelenjar Getah Bening Leher Aksila Inguinal : tidak terdapat pembesaran di KGB leher : tidak terdapat pembesaran di KGB aksila : tidak terdapat pembesaran di KGB inguinal

Paru-paru Inspeksi : simetris, tidak ada hemithoraks yang tertinggal pada saat inspirasi,

tipe pernapasan abdomino-thorakal Palpasi : vocal fremitus sama kuat pada kedua hemithoraks

Perkusi Auskultasi

: sonor pada kedua hemithoraks : suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronkhi maupun wheezing

pada kedua lapang paru Jantung Inspeksi Palpasi : tidak tampak pulsasi ictus cordis : terdapat pulsasi ictus cordis pada ICS V, + 1 cm lateral dari linea

midklavikularis sinistra Perkusi Auskultasi murmur 6. Abdomen Inspeksi : tampak buncit, tegang (+) :: bunyi jantung I & II regular, tidak terdengar gallop maupun

Auskultasi : bising usus (+) 2x/menit Palpasi : nyeri tekan (+) di seluruh kuadran abdomen

7. Ekstremitas o Inspeksi o Palpasi : tidak tampak deformitas : akral hangat pada keempat ekstremitas, tidak terdapat oedema

pada keempat ekstremitas PEMERIKSAAN PENUNJANG Pre-operasi Radiologi (foto polos abdomen 3 posisi) Hasil : tampak dilatasi usus terutama usus halus dan distribusi udara usus juga tampak minimal di kolon sampai rektum tidak tampak udara bebas ekstralumen tidak tampak batu radioopak di proyeksi traktus urinarius tulang-tulang normal

Kesan : Sesuai gambaran ileus obstruktif parsial, dd/ ileus paralitik Tidak tampak pneumoperitoneum

HASIL LABORATORIUM DARAH 14 Juni 2013

Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Thrombosit

Hasil *35.500/Ul 3,61 juta/mm3 9,6 g/dl 29 % 653.000 /mm3

Nilai normal 5.000 10.000/Ul 3,6 5,2 juta/mm3 12 16 g/dl 38 46 % 150 400 ribu/mm3

Post operasi 16 Juni 2013

Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Thrombosit

Hasil *14.900/Ul 3,18 juta/mm3 8,3 g/dl 26 % 530.000 /mm3

Nilai normal 5.000 10.000/Ul 3,6 5,2 juta/mm3 12 16 g/dl 38 46 % 150 400 ribu/mm3

17 Juni 2013

Pemeriksaan Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit Thrombosit

Hasil *13.200/Ul 4,14 juta/mm3 11,8 g/dl 35 % 422.000 /mm3

Nilai normal 5.000 10.000/Ul 3,6 5,2 juta/mm3 12 16 g/dl 38 46 % 150 400 ribu/mm3

RESUME An. S usia 2 tahun datang dengan keluhan perut membengkak kurang lebih 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Selain bengkak, OS juga merasakan nyeri pada seluruh bagian perut dan terasa begah. Didapatkan juga riwayat mual dan muntah berwarna kehijauan. Orang tua OS juga melaporkan adanya demam dan nafsu makan menurun. Buang air besar dirasakan sulit kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Tidak terdapat masalah pada buang air kecil. Region abdomen Inspeksi Auskultasi : tampak buncit, tegang (+) : bising usus (+) 2x/menit

Palpasi : nyeri tekan (+) di seluruh kuadran abdomen, defans muscular (+)

Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan jumlah leukosit (35.500/uL) dan pada foto polos abdomen 3 posisi menunjukkan adanya gambaran ileus obstruktif parsial.

DIAGNOSIS PRE-OPERASI POST-OPERASI : OBSTRUKSI USUS ET CAUSA INVAGINASI : APENDISITIS PERFORASI DENGAN ABSES PELVIS DAN

PERLENGKETAN USUS HALUS

PENATALAKSANAAN Tindakan pembedahan: Laparotomi eksplorasi Membebaskan perlengketan usus halus Cuci perut Appendektomi Tindakan non bedah : Non medika mentosa : Pro rawat inap untuk perbaikan keadaan umum dan persiapan operasi Edukasi pasien mengenai perjalanan penyakit serta penanganannya, persiapan operasi dan tujuannya, serta tatalaksana berikutnya setelah hasil diketahui Post operasi : Awasi tanda vital dan hasil pemeriksaan laboratorium darah Puasa hingga flatus Medika mentosa : Diit cair Kompres luka dengan kassa steril dilembabkan dengan NaCL 0,9 persen, diganti setiap hari. Infuse Ka-en 3b + RL (1:2) 20 tetes per menit Cefotaxim 2x750 mg intravena

PROGNOSIS Ad Vitam Ad Fungsionam Ad Sanationam : ad Bonam : ad Bonam : ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI APENDIKS Apendiks merupakan organ yang berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10cm dan berpangkal pada sekum, tepatnya di daerah perbatasan dengan usus ileum kuadran kanan bawah. Apendiks memiliki lumen sempit dibagian proximal dan melebar pada bagian distal. Saat lahir, apendiks pendek dan melebar dipersambungan dengan sekum. Selama anak-anak,

pertumbuhannya biasanya berotasi ke dalam retrocaecal tapi masih dalam intraperitoneal. Pada apendiks terdapat 3 tanea coli yang menyatu dipersambungan caecum dan bisa berguna dalam menandakan tempat untuk mendeteksi apendiks. Posisi apendiks terbanyak adalah Retrocaecal (74%) lalu menyusul Pelvic (21%), Patileal(5%), Paracaecal (2%), subcaecal(1,5%) dan preleal (1%). Apendiks dialiri darah oleh arteri apendicular yang merupakan cabang dari bagian bawa arteri ileocolica. Arteri apendiks termasuk akhir arteri. Apendiks memiliki lebih dari 6 saluran limfe melintangi mesoapendiks menuju ke nodus limfe ileocaecal.

Persarafan parasimpatis dari apendiks berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti a. Mesenterica superior dan a. Apendikularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari n. Thorakalis X.

FISIOLOGI APENDIKS Appendiks menghasilkan lender 1-2 ml per hari. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lendir di muara apendiks tampaknya berperan dalam pathogenesis apendisitis. Immunoglobulin secretor yang dihasilkan oleh GALT ( gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di seluruh saluran cerna termasuk apendiks adalah IgA. Immunoglobulin ini berperan sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Namun demikian pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem imun tubuh karena jumlah jaringan limfe disini sedikit sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di saluran tubuh.

HISTOLOGI APENDIKS Komponen histologi apendiks serupa dengan usus besar, yakni terdiri dari empat lapisan, yaitu tunika mukosa, submukosa, muskularis, dan adventisia/serosa. Epitel mukosanya adalah epitel selapis torak yang mempunyai sel goblet sangat banyak. Bagian usus ini tidak mempunyai vilus, yang ada hanya kripta lieberkuhn saja. Di dalam lamina propria terdapat banyak nodulus limfatikus, memenuhi sekeliling dindingnya. Tunika submukosa berupa jaringan ikat jarang

tanpa kelenjar dan terdapat banyak sebukan limfosit yang berasal dari lamina propria. Tunika muskularis tampak membentuk dua lapisan dan tunika serosanya terdiri atas jaringan ikat jarang.

Gambar . Histologi Apendiks dengan pewarnaan H&E

DEFINISI Apendisitis adalah peradangan yang terjadi pada appendix vermiformis atau yang dikenal juga sebagai usus buntu. Apendisitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, atau neoplasma. Apendisitis merupakan salah satu kasus akut abdomen yang paling sering ditemui. Apendisitis perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari appendiks, dimana appendiks telah pecah sehingga isis appendiks keluar menuju rongga peritoneum yang dapat menyebabkan peritonitis atau abses.
Ileus (obstruksi usus) adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal melalui saluran pencernaan.

EPIDEMIOLOGI Ileus merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai, merupakan 60 70% dari seluruh kasus akut abdomen di luar kasus apendisitis akut. Dijumpai dengan perbandingan yang serupa antara wanita dan pria. Obstruksi usus halus merupakan komplikasi utama yang sering dilaporkan terkait dengan riwayat operasi abdomen sebelumnya. Adhesive bands merupakan penyebab yang tersering dari obstruksi yaitu 60% pada berbagai kelompok usia,neoplasma abdomen 20%, hernia strangulata atau inkarserata 10%, dan penyakit radang usus ( inflammatory bowel diseases) 5%. Berdasarkan usia, hernia merupakan penyebab tersering pada usia kanak-kanak, dan karsinoma kolorektal serta diverkulitis pada usia lebih tua. Kebanyakan obstruksi usus (85%) terjadi dalam usus halus dan sisanya pada usus besar (15%). Apabila ditangani dini, dengan resusitasi cairan dan elektrolit yang segera, dekompresi intestinal dan antibiotik, mortalitas kurang dari 10%. Insidens apendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di negara berkembang, tetapi beberapa tahun terakhir angka kejadiannya menurun bermakna. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari. Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada lelaki dan

perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens pada lelaki lebih tinggi. Pasien dengan usia yang lebih dari 60 tahun dilaporkan sebanyak 50% meninggal akibat apendisitis. Diagnosa apendisitis pada kelompok usia muda biasanya sangat sulit dilakukan mengingat penderita usia muda sulit melukiskan perasaan sakit yang dialaminya, sehingga kejadian apendisitis pada usia muda lebih sering diketahui setelah terjadi perforasi.

ETIOLOGI Apendisitis umumnya terjadi karena infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetus.. Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendisitis, antara lain : Obstruksi Faktor obstruksi adalah penyebab terpenting terjadinya apendisitis, obstruksi yang terjadi antara lain disebabkan oleh hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalit (massa keras dari feses) 35%, corpus alienum (4%), striktur lumen (1%). Infeksi Infeksi enterogen adalah faktor pathogenesis primer pada kasus apendisitis. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi pada apendiks antara lain Bacteriodes fragilis, E. Coli, dan steptococcus. Kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob <10%. Tumor

Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa yang disebabkan oleh parasit seperti E. Histolytica. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan penyakit ini. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien apendisitis yaitu : Bakteri aerob fakultatif Escherichia coli Viridans streptococci Bakteri anaerob Bacteroides fragilis Peptostreptococcus micros

Pesudomonas aeruginosa Enterococcus

Bilophila species Lactobacillus species

Tabel 1. Spesies bakteri yang dapat diisolasi KLASIFIKASI APENDISITIS 1. Apendisitis akut merrupakan infeksi bakteri sebagai pencetusnya, sumbatan lumen appendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor appendiks dan cacing askaris dapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang di duga dapat menimbulkan appendiks adalah erosi mukosa appendiks karena parasit E. histolitica. 2. Apendisitis kronis diagnosis apendisitis kronik dapat ditegakan jika terdapat nyeri abdomen kanan bawah kanan lebih dari 2 minggu. Kriteria mikroskopik appendiks kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding appendiks, sumbatan parsial atau total lumen appendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama pada mukosa serta infiltasi dan inflamasi. 3. Apendisitis perforata adanya fekalit didalam lumen dan keterlambatan diagnosis merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi appendiks, perforasi appendiks akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan demam tinggi, nyeri makin hebat serta meliputi seluruh abdomen dan abdomen menjadi tegang. 4. Apendisitis abses/gangrenosa terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah (pus), biasanya terdapat di fossa iliaka kanan, lateral dari sekum, retrocaecal, sucaecal, dan pelvic. 5. Apendisitis rekuren diagnosis apendisitis rekurens dapat diperkirakan jika ada riwayat serangan nyeri berulang diabdomen kanan bawah yang mendorong dilakukannya appendectomy.

PATHOGENESIS Sumbatan: -Sekresi mucus -Tekanan intra lumen -Gangguan drainase limphe -Oedema + kuman -Ulserasi mukosa Tekanan intra lumen : -Gangguan vena -Thrombus -Iskemia + kuman -Pus Tekanan intra lumen : -Gangguan arteri -Nekrosis + kuman -Gangrene Appendiks akut fokal: Nyeri viseral ulu hati karena regangan mukosa

Appendiks supuratif: Nyeri pada titik McBurney peritonitis lokal

Appendiks gangrenosa Peritonitis Peritonitis umum

Apendiks yang mengalami sumbatan, kemungkinan oleh fekalit, tumor, atau benda asing, akan terinflamasi dan mengalami edema. Proses inflamasi yang terjadi meningkatkan tekanan intraluminal sehingga menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progesif dalam beberapa jam, yang terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Apendiks yang terinfeksi dapat menjadi nekrosis yang menimbulkan gangren sehingga terbentuklah pus. Hubungan antara ileus dan apendisitis cukup erat. Apendisitis dapat menyebabkan obstruksi melalui dua patogenesis. Pertama adalah peran dalam terjadinya ileus obstruksi. Pada

apendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan, makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang

mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi vena sehingga udem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah(abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Peran yang kedua adalah melalui proses infeksi pada suatu segmen usus di sekitar proses infeksi sehingga menyebabkan segmental paralitik. Bila terjadi peradangan pada caecum atau pada appendiks maka sfingter ileocaecal akan mengalami spasme, dan ileum akan mengalami paralisis sehingga pengosongan ileum sangat terhambat. Keadaan ini akan menampakan klinis obstruksi akibat tertahannya isi usus pada suatu segmen usus karena tidak adanya pasase pada segmen tersebut.

MANIFESTASI KLINIS Apendisitis Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai dengan demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan local pada tititk McBurney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas Terdapat konstipasi atau diare Nyeri lumbal, bila appendiks melingkar dibelakang sekum Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rectal

Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung kemih atau ureter. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis Tanda Rovsing dengan melakukan palpasi kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri kuadran kanan. Apabila appendiks sudah ruptur, nyeri menjadi menyebar, disertai distensi abdomen. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.

Obstruksi o Nyeri kolik o Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus o Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.2. o Muntah o Stenosis Pilorus : encer dan asam2. o Obstruksi usus halus : berwarna kehijauan3. o Obstruksi kolon : onset muntah lama. o Perut Kembung (distensi) o Konstipasi o Tidak ada defekasi o Tidak ada flatus DIAGNOSIS 1. Anamnesa Nyeri (mula-mula di daerah epigastrum, kemudian menjalar ke titik McBurney). Muntah (rangsang visceral) Panas (infeksi akut)

2. Pemeriksaan fisik a. Status generalis Tampak kesakitan Demam (37,7 oC)

Perbedaan suhu rektal > oC Fleksi ringan art coxae dextra Defans muskuler (+) m. Rectus abdominis Rovsing sign (+) pada penekanan perut bagian kontra McBurney (kiri) terasa nyeri di McBurney karena tekanan tersebut merangsang peristaltic usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakkan peritonium sekitar apendiks yang sedang meradang sehingga terasa nyeri.

b. Status lokalis

Psoas sign (+) m. Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik McBurney (pada appendiks retrocaecal) karena merangsang peritonium sekitar app yang juga meradang. Obturator sign (+) fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi supine, bila nyeri berarti kontak dengan m. obturator internus, artinya appendiks di pelvis. Peritonitis umum (perforasi) o Nyeri diseluruh abdomen o Pekak hati hilang o Bising usus hilang

Selain itu, untuk mendiagnosis apendisitis juga dapat menggunakan skor Alvarado, yaitu :

Keterangan Alvarado score

Dinyatakan appendicitis akut bila > 7 point Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa observasi of Hematogram: o 14 o 56 o 79 dipertimbangkan appendicitis akut possible appendicitis tidak perlu operasi appendicitis akut perlu pembedahan :

Penanganan berdasarkan skor Alvarado o 14 o 56 : observasi : antibiotic

o 7 10 : operasi dini

Pemeriksaan penunjang Laboratorium Darah : terdiri dari pemeriksaan darah lengkap dan tes protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000 20.000/ml ( leukositosis ) dan neutrofil diatas 75 %, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat. Urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendisitis. Radiologi terdiri dari pemeriksaan radiologis, ultrasonografi dan CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada apendiks. Sedangkan pada pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendikalit serta perluasan dari apendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran sekum

pada hasil foto polos abdomen 3 posisi dapat ditemukan pula adanya local air fluid level, peningkatan densitas jaringan lunak pada kuadran kanan bawah, perubahan bayangan psoas line, dan free air (jarang) bila terjadi perforasi. Barium enema suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.

Laparoscopi suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks.

Pemeriksaan sinar-X bisa sangat bermanfaat dalam mengkonfirmasi diagnosis ileus obstruktif serta foto abdomen tegak dan berbaring harus yang pertama dibuat. Adanya gelung usus terdistensi dengan batas udara-cairan dalam pola tangga pada film tegak sangat menggambarkan ileus obstruksi sebagai diagnosis. Dalam ileus obstruktif usus besar dengan katup ileocaecalis kompeten, maka distensi gas dalam kolon merupakan satu-satunya gambaran penting Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus. Posisi supine (terlentang): tampak herring bone appearance. Posisi setengah duduk atau LLD: tampak step ladder appearance atau cascade. Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step ladder dan air fluid level pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa adanya suatu obstruksi. Foto polos abdomen mempunyai tingkat sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas 84% pada obstruksi kolon. Foto polos abdomen 3 posisi: Ileus obstruktif letak tinggi Tampak dilatasi usus di proksimal sumbatan (sumbatan paling distal di iliocaecal junction) dan kolaps usus di distal sumbatan. Penebalan dinding usus halus yang mengalami dilatasi

memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang sirkuler menyerupai kosta. Tampak air fluid level pendek-pendek berbentuk seperti tangga yang disebut step ladder appearance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang terdistensi. Ileus obstruktif letak rendah Tampak dilatasi usus halus di proksimal sumbatan (sumbatan di kolon) dan kolaps usus di distal sumbatan. Penebalan dinding usus halus yang mengalami dilatasi memberikan gambaran herring bone appearance, karena dua dinding usus halus yang menebal dan menempel membentuk gambaran vertebra dan muskulus yang sirkuler menyerupai kosta. Gambaran penebalan usus besar yang juga distensi tampak di tepi abdomen. Tampak gambaran air fluid level pendekpendek berbentuk seperti tangga yang disebut step ladder appearance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang terdistensi dan air fluid level panjang-panjang di kolon.

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding appendisitis dapat bervariasi tergantung dari usia dan jenis kelamin : Pada anak anak dan balita : intususepsi, diverkulitis dan gastroenteritis akut Pada anak anak usia sekolah : gastroenteritis, konstipasi, infark omentum Pada pria dewasa muda : crohns disease, kolik traktur urogenitalis dan epididimitis. Pada wanita usia muda : pelvic inflammatory disease (PID), kita ovarium, infeksi saluran kencing Pada usia lanjut : keganasan dari traktus gastrointestinal dan saluran reproduksi, diverkulitis, perforasi ulkus, dan kolesistitis. KOMPLIKASI Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses, insidens perforasi adalah 10% sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala mencakup

demam dengan suhu 37,70C atau lebih tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang kontinyu. Komplikasi lain yang sering ditemukan adalah infeksi, perforasi, abses intra abdominal/pelvis, sepsis, syok, dehisensi.

TATALAKSANA Apendektomi langsung dilakukan ketika diagnosis apendisitis ditegakkan. Antibiotic biasanya diberikan juga ketika diagnosis telah ditegakkan. Apendektomi harus dilengkapi dengan pemberian antibiotic IV. Antibiotic yang dipilih adalah antibiotic yang baik untuk bakteri gram negative anaerob dan enterobakter, yang banyak digunakan adalah sefalosporin generasi tiga. Pemberian antibiotic terutama pada apendisitis perforasi diteruskan hingga suhu tubuh dan hitung jenis leukositnya normal. Pemberian antibiotic ini dapat menurunkan angka kematian. The Surgical Infection Society menganjurkan pemberian antibiotik profilaks sebelum pembedahan dengan menggunakan antibiotik spektrum luas kurang dari 24 jam untuk apendisitis non perforasi dan kurang dari 5 jam untuk apendisitis perforasi. Penggantian cairan dan elektrolit, mengontrol sepsis, antibiotik sistemik adalah pengobatan pertama yang utama pada peritonitis difus termasuk akibat apendisitis dengan perforasi. TEKNIK OPERASI : 1) Open Appendectomy Incisi Grid Iron (McBurney Incision) Lanz transverse incision Rutherford Morissons incision (insisi suprainguinal) Low Midline Incision dilakukan bila sudah terjadi peritonitis umum Insisi paramedian kanan bawah

2) Laparoscopic Appendectomy

PROSEDUR OPERASI Teknik apendiktomi dengan midline incision : a) Pasien berbaring telentang dalam anestesi umum atau regional. Kemudian lakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada midline. b) Dibuat sayatan sepanjang kurang lebih 10 cm dan dinding perut dibelah menurut arah serabut otot secara tumpul, berturut turut M. Oblikus abdominis eksternus, M. Abdominis internus, sampai tampak peritonium. c) Peritonium disayat cukup lebar untuk eksplorasi. d) Dilakukan pencucian dengan larutan NaCl sambil membebaskan perlengketan yang terjadi. e) Sakum dan apendiks diluksasi keluar. f) Mesoapendiks dibebaskan dan dipotong dari apendiks secara biasa, dari apendiks ke arah basis. g) Semua perdarahan dirawat. h) Disiapkan tabac sac mengelilingi basis apendiks dengan sutra, basis apendiks kemudian dijahit dengan catgut. i) Lakukan pemotongan apendiks apikal dari jahitan tersebut. j) Puntung apendiks diolesi betadine. k) Jahitan tabac sac disimpulkan dan puntung dikuburkan dalam simpul tersebut. Mesoapendiks diikat dengan sutera. l) Dilakukan pemeriksaan terhadap rongga peritoneum dan alat alat didalamnya, semua perdarahan dirawat. m) Sekum dikembalikan ke dalam abdomen. n) Sebelum ditutup, peritoneum dijepit dengan minimal 4 klem dan didekatkan untuk memudahkan penutupannya. Peritoneum dijahit jelujur dengan chromic cat gut dan otot otot dikembalikan. o) Dinding perut ditutup lapis demi lapis, fasia dengan sutera, sub cutis dengan cat gut dan akhirnya kulit dengan sutera. p) Luka operasi dibersihkan dan ditutup dengan kasa steril.

PROGNOSIS Bila ditangani dengan baik, prognosis apendiks adalah baik. Secara umum angka kematian pasien apendiks akut adalah 0,2-0,8%, yang lebih berhubungan dengan komplikasi penyakitnya daripada akibat intervensi tindakan.

KESIMPULAN

An. Syahid Azzam, 2 tahun, datang dengan keluhan perut membengkak kurang lebih 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Selain bengkak, OS juga merasakan nyeri pada seluruh bagian perut dan terasa begah. Didapatkan juga riwayat mual dan muntah berwarna kehijauan. Orang tua OS juga melaporkan adanya demam dan nafsu makan menurun. Buang air besar dirasakan sulit kurang lebih 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Tidak terdapat masalah pada buang air kecil. Pada pemeriksaan fisik region abdomen didapatkan abdomen tegang(+), bising usus (+) 2x/menit, nyeri tekan (+) di seluruh kuadran abdomen, defans muscular (+). Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan jumlah leukosit (35.500/uL) dan pada foto polos abdomen 3 posisi menunjukkan adanya gambaran ileus obstruktif parsial. Pasien dipersiapkan untuk tindakan pembedahan laparotomi eksplorasi. Pada saat pembedahan didapatkan bahwa pasien ternyata mengalami apendisitis perforasi dan abses pelvis disertai dengan perlengketan usus yang kemungkinan menyebabkan gejala ileus obstruktif yang timbul pada pasien. Pada saat sebelum dan sesudah operasi pasien diberikan antibiotic untuk mengatasi infeksi sampai jumlah leukosit kembali normal. Prognosis pada pasien ini adalah dubia ad bonam karena apendiks yang mengalami perforasi sudah diangkat dan abses pelvis serta perlengketan usus sudah berhasil teratasi pada saat pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Akbar

Ali,

Perforated

Appendicitis.

Available

at

http://cdn.intechopen.com/pdfs/25644/InTech-Perforated_appendicitis.pdf. accessed in June 29th 2013. 2. Anonymous, Appendicitis. Available at : http://ppni-

klaten.com/index.php?option=com_content&view=article&id=65:appendicitis&catid=38: ppni-ak-category&Itemid=66. Accessed in June 29th 2013.


3. Kevin P. Lally, Charles S. Cox JR. Dan Richard J. Andrassy. Appendix on Chapter 47 in Sabiston Textbook of Surgery 17ed ebook. New york: Saunders; 2004.h 1381-1400 4. Craig, Sandy. 2008. Appendicitis, Acut-Follw-Up. Available at :

http://emedicine.medscape.com/article/773895-followup. Accessed in June 29th 2013.

5. Anonim.Referat Ileus Mekanik oleh karena Adhesi.Referensi Kedokteran Blogspot, 2010. Available at : http://referensikedokteran.blogspot.com/ 2010/08/referat-ileusmekanik-et-causa-adhesi.html. Accessed in June 29th 2013. 6. Anonim. Referat Appendicitis Acute. Referensi Kedokteran Blogspot, 2010. Available at :http://referensikedokteran.blogspot.com/ 2010/08/referat-appendicitis-acute.html. Accessed in June 29th 2013. 7. Anonymous. Surgical Issues II, Acute Appendicitis. Available at :

http://www.surgerychicago.com/surgII.html. accessed in June 29th 2013 8. Anonym. Peritonitis. Available at: http://medicalbox.wordpress.com/category/medicalbox/bedah-umum/. Accesed in 29th June 2013