Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Tanaman paku ekor kuda tepat untuk daerah yang berair, atau area-area yang kurang baik pengeringannya. Hal lain yang menarik, ternyata tanaman paku ekor kuda adalah sebuahfosil hidup. Tanaman paku ekor kuda itu persis seperti fosil paku ekor kuda yang diukurberusia lebih dari 145 juta tahun waktu yang oleh para penganut teori evolusi disebut sebagai Periode Jurassic atau era dinosaurus. Fosil paku ekor kuda tersebut juga fosil-fosil hidup lainnya menyatakan ketidak berubahan, dan tidak menyatakan perubahan evolusioner. Tapi fosil paku ekor kuda tersebut malah sering dipamerkan sebagai bukti dari skema waktu paham evolusi, dan diapun dideskripsikan dalam istilah-istilah paham evolusi. Contohnya paku ekor kuda terlalu primitif untuk menghasilkan benih jadi mereka bereproduksi dengan spora seperti pakis1. Pertama, tidak pernah ada perubahan yang bersifat evolusi (anggapan tentang keprimitifan lawan kemoderenan tidak berlaku) tetumbuhan paku ekor kuda juga menghasilkan tetumbuhan paku ekor kuda, bereproduksi sesuai dengan jenisnya, Kedua, fosil-fosil paku ekor kuda di sekeliling dunia terawetkan dengan begitu bagus, hal ini pas dengan peristiwa banjir global 4500 tahun yang lalu terjadi bencana penguburan besarbesaran. Tanaman paku ekor kuda dan dinosaurus, dua-duanya diciptakan bersama dengan segala yang lain, pada minggu penciptaan sekitar 6000 tahun yang lalu mereka tidak mengkonfirmasi anggapan paham evolusi.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Tumbuhan paku merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom). Beradasarkan bentuk dan ukurannya susunannya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi mikrofil dan makrofil. Mikrofil bentuk kecil atau bersisik, tidak bertangkai, tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel. Makrofil daun besar, bertangkai, bertulang daun, bercabang-cabang, sel telah terdiferensiasi. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora. Spora tumbuhan paku dibentuk dalam kotak spora (sporangium). Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput yang disebut indusium. Berdasarkan macam spora yang dihasilkan tumbuhan paku dibedakan menjadi tiga yaitu paku homospora (isospora), paku heterospora dan paku peralihan. Paku homospora menghasilkan satu jenis spora (ex Lycopodium/paku kawat). Paku heterospora menghasilkan dua jenis spora yang berlainan yaitu megaspora (ukuran besar) dan mikrospora (ukuran kecil) (ex Marsilea/semanggi dan Selaginella/paku rane). Paku peralihan merupakan peralihan antara homospora dan heterospora menghasilkan spora pbentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelamin (ex Equisetum debile/paku ekor kuda). Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) dengan stolon yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun yang mengandung spora. Reproduksi seksual (generatif) melalui pembentukan sel kelamin jantan/spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan sel kelamin betina/ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora.Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Sphenophyta sering disebut paku ekor kuda, bersifat homospora, mempunyai akar; batang; daun sejati, batangnya keras karena dinding sel mengandung silika. Contohnya Equisetum debile (paku ekor kuda).

Contoh spesies Subgenus Equisetum


Equisetum arvense paku ekor kuda ladang Equisetum bogotense paku ekor kuda Andes Equisetum diffusum paku ekor kuda Himalaya Equisetum fluviatile paku ekor kuda air Equisetum palustre paku ekor kuda rawa Equisetum pratense paku ekor kuda padang Equisetum sylvaticum paku ekor kuda hutan Equisetum telmateia paku ekor kuda besar

Subgenus Hippochaete

Equisetum giganteum paku ekor kuda raksasa Equisetum myriochaetum paku ekor kuda raksasa Meksiko Equisetum hyemale paku ekor kuda kaku, telah diimpor ke Indonesia pula sebagai tanaman hias. (Gambar menarik di sini) Equisetum laevigatum paku ekor kuda lunak Equisetum ramosissimum paku ekor kuda ramosus o E. ramosissimum ssp. ramosissimum o E. ramosissimum ssp. debile (syn. E. debile Roxb. ex Vaucher) rumput betung Equisetum scirpoides paku ekor kuda katai Equisetum variegatum paku ekor kuda belang

Ciri Ciri Equistinae Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus, yaituEquisetum. Tumbuhan yang bersifat tahunan, berukuran kecil dengan tinggi 0,2-1.5 m. Batang beruas-ruas dan tegak lurus berbentuk bulat.Tumbuhan ini tidak memiliki bunga, namun pada ujung batangnya terdapat suatu badan yang berbentuk gada atau kerucut. Hal inidisebabkan oleh sporofil yang mengumpul pada ujung batang, warga kelas ini yang sekarang masih hidup umumnya berupa terna (tumbuhan yang batangnya lunak karena tidak membentuk kayu). a. Batang

Tumbuhan ini mempunyai batang merayap dalam tanah yaitu semacam rizom dengan cabang-cabang yang tegak, biasanya bercabang-cabang yang tegak itu berumur satu tahun saja. Di dalam batang terdapat tiga macam saluran, yaitu: Saluran pusat, merupakan saluran yang terletak di tengah-tengah batang. Tetapi pada batang yang masih muda saluran ini belum terdapat salurtan pusatnya, demikian juga pada batang yang ada di dalam tanah. Saluran karnial, terletak di sebelah dalam dari ikatan pembuluh. Saluran ini merupakn lingkaran dan pada tiap-tiap saluran letaknya bertepatan denagn rigi-rigi pada permukaan batang. Saluran valekular, saluran ini letaknya di dalam korteks yaitu di sebelah luar dan berseling dengan saluran karnial. Saluran pusat dan karnial berfungsi untuk penyimpanan air, sedang saluran valekuler berfungsi untuk menyimpan udara. Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik saja. b. Daun

Daunnya meruncing pada bagian ujungnya dengan satu berkas pengangkut yang kecil. Karangan daun kebawah berlekatan dengan suatu sarung yang menyelubungi batang. Banyaknya daun tergantung dari pada besarnya batang, tetapi karena daun-daun tersebut amat kecil maka yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis adalah batangnya yang berwarna hijau. Cabang-cabang batang tidak keluar dari ketiak daun melainkan keluar dari antara dun-daun. Ada jenis yang batangnya tidak bercabang dan baru bercabang apabila ujungnya dihilangkan. Jenis yang mempunyai percabangan banyak adalah jenis yang paling primitif, misalnya E.arvense, sebaliknya jenis yang tidak bercabang dianggap jenis yang sudah agak maju (Dasuki, 1991: 171). c. Akar

Akar dari Equisetum sangat kecil dan halus terdapat pada buku-buku dari rizome atau pada pangkal batang. Diantara anggota Equisetum terdapat beberapa jenis yang mempunyai semacam umbi untuk menghadapi kondisi yang buruk.

d.

Penyebaran

Tumbuhan ini berasal dari Amerika Tropik Anggota-anggotanya dapat dijumpai di seluruh dunia kecuali Antartika. Habitat: Tumbuhan ini hidup pada tempat yang lembab, basah, danberpasir. Namun,ada sebagian yang hidup di darat dan di rawa-rawa. e. Sistem Reproduksi

Sistem reproduksi pada Equisetum ialah sporangiumnya terdapat pada sporangiosfor yang tidak lain adalah sporofil. Karena pendeknya ruas-ruas pendukung sporofil maka rangkaian tersebut menyerupai suatu kerucut di ujung batang. Sporofil atau sporangiosfor berbentuk perisai dengan satu kaki di tengah dan beberapa sporangium (5-10) berbentuk kantung pada sisi bawah. Spoeangium berasal dari sebuah sel pada permukaan, karena pertumbuhan dari jaringan tengah sporangia terdesak ke bawah sehingga akhirnya terdapat pada sisi bawah dan mengelilingi tangkai. Spora mempunyai dinding yang terdiri atas endo dan eksosoprangium, dan disamping itu masih mempunyai perisporium yang berlapis-lapis. Lapisan perisporium yang paling luar terdiri atas dua pita sejajar yang dalam keadaan basah membalut spora. Pita itu ujungnya agak melebar meperti lidah. Jika spora menjadi kering, pita itu terlepas dari gulungannya, akan tetapi di tengah-tengahnya tetap melekat pada eksosporium. Dengan adanya pita atau yang dinamakan kepala kaptera yang memperlihatkan gerakan higioskopik itu. Strobili biasanya panjangnya sekitar 2 sampai 4 cm (0,75 sampai 1,5 inci). Berbentuk heksagonal, seperti piring dovetailing pada permukaan srobilus yang memberikan tampilan dari permukaan berbentuk elips. Segi enam masing-masing menandai puncak sporangiospore yang memiliki pemanjangan 5 sampai 10 sporangia yang saling terhubung. Batang dari sporangiophores melekat pada poros tengah dari strobilus. Sporangia mengelilingi tangkai sporangiophore dan berada titik ke dalam. sporangia ini tersembunyi tidak terlihat sampai jatuh apabila sporangiophores terpisah sedikit. Spora ini akan dilepaskan. f. Siklus Hidup

Siklus hidup dari Equisetum terdiri dari tahap sporofit dan gametofit. Pada tahap sporofit, tunas fertil yang didalamnya terdapat strobilus dan si dalam strobilus terdapat kantungkantung sporangiospore yang nantinya akan mengeluarkan spora dari sporangium. Selanjutnya terjadi tahap meiosis untuk memproduksi spora dan berkembang menjadi Rhizoid. Pada Rhizoid nanti akan menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Gamet jantan (sperm) dihasilkan oleh Antheridium, sedangkan gamet betina (sel telur) dihasilkan oleh Archegonium. Pada tempat yang cocok keduanya akan bersatu ( fertilisasi) dan tumbuh menjadi zigot yang merupakan gametofit dan berkembang menjadi tunas yang vegetatif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2006. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta . Medan : USU E-Learning.

Cecep, Ahmad.2010. Pterydophyta (Tumbuhan Paku). Bandung : Rineka Cipta.

Sharma, 2002. Taksonomi Tumbuhan 1. Jakarta : EGC.

Sutrisna,Putu.2011. Klasifikasi Tumbuhan Sphenophyta. Bandung : Raja Grafindo Persada.

Tjitrosoepomo. 1989. Taksonomi Tumbuhan Sphenophyta, Pteridophyhta. Yogyakarta : UGM Press.