Anda di halaman 1dari 3

APA KHABAR BBM?

Oleh Indra Maipita Masih terngiang diterlinga kita ketika pemerintah berencana dan berusaha untuk menaikkan harga BBM beberapa bulan yang lalu. Setidaknya rencana itu didasarkan pada dua alasan, pertama beratnya beban APBN. Kenaikan harga minyak dunia serta bertambahnya jumlah kenderaan yang memakai BBM telah membuat pemerintah khawatir bahwa APBN akan jebol bila pemakaian BBM bersubsidi tidak dibatasi. Kedua, alasan demi keadilan. Bahwa sebahagian besar konsumen BBM adalah masyarakat yang bukan kurang mampu sedangkan tujuan pemberian subsidi untuk membantu masyarakat yang kurang mampu. Dengan alasan tersebut pemerintah telah berusaha untuk menaikkan harga BBM dari Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.000 per liter, namun kandas karena mendapat perlawanan yang kuat dari masyarakat dan anggota dewan. Pemerintahpun menempuh langkah lain dengan berencana untuk membatasi pemakaian BBM bersubsidi melalui larangan konsumsi BBM bagi kenderaan dinas dan BUMN. Rencana ini akan diberlakukan di kawasan Jabotabek per Juni 2012 sebagai langkah awal, jika berhasil nantinya akan diperluas ke seluruh negeri. Berdasarkan khabar terbaru, pemerintah akan mengumumkan pelaksanaan kebijakan ini secara resmi pada tanggal 28 Mei 2012 nanti dan efektif berlaku terhitung 1 Juni 2012. Sebahagian orang berpendapat bahwa usaha ini adalah sesuatu yang sia-sia dalam arti tidak akan mampu menghemat anggaran negara, namun pemerintah berpendapat lain bahwa ini akan menghemat anggaran negara karena menghemat penggunaan BBM bersubsidi. Memang benar, bila anggaran untuk penggunaan BBM di setiap instansi negara dan BUMN tidak dinaikkan akan terjadi penghematan karena anggaran yang sama digunakan untuk membeli BBM nonsubsidi sehingga terjadi penghematan dari sisi penggunaan BBM bersubsidi. Misalkan suatu instansi telah menganggarkan dana BBM sebesar Rp 4.5 M untuk penggunaan 1 juta liter BBM pada harga Rp 4.500 per liter. Bila instansi tersebut tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi, maka anggaran itu hanya mampu membeli 450.000 liter BBM (dari seharusnya 1 juta liter). Dengan asumsi bahwa anggarannya tidak boleh lagi diubah atau direvisi, maka akan terjadi penghematan dari sisi subsidi (karena tidak menggunakan BBM bersbsidi). Namun instansi tersebut harus ekstra ketat untuk meningkatkan efisiensi penggunaan BBM karena jatahnya berkurang lebih dari setengahnya. Permasalahannya yakinkah kita bahwa tahun depan instansi negara dan BUMN tidak akan mengajukan penambahan anggaran untuk BBMnya? Bila pembatasan penggunaan BBM bersubsidi tersebut mengganggu operasionalnya atau dari sisi ilmu ekonomi (teori kepuasan) bila instansi tersebut ingin mempertahankan tingkat konsumsinya semula (1 juta liter), maka ia akan mengajukan kenaikan naggaran untuk BBM di tahun berikutnya, dan bila ini terjadi maka hasilnya sama saja, sebuah penghematan yang semu ( crowding out). Terlepas dari semua itu, rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dan pembatasan penggunaannya, yang pasti telah menyisakan banyak kerugian, baik materi maupun nonmateri. Dimulai dari kerugian aksi penolakan rencana tersebut seperti kerugian para mahasiswa karena jadual kuliah tertunda, kerugian ongkos dan biaya aksi, kerugian perusahaan yang tidak beroperasi saat aksi terjadi, biaya perobatan para pelaku aksi yang cedera dan luka (juga di pihak keamanan), kerugian masyarakat yang terganggu aktivitasnya saat aksi, kerugian bangunan yang rusak dan banyak lagi yang lain. Tidak hanya sampai di situ, rencana menaikkan yang gagal dan ketidak pastian pembatasan BBM oleh pemerintah juga telah memicu naiknya ekspektasi masyarakat akan inflasi sehingga meski BBM secara riil tidak jadi naik, namun inflasi telah meningkat. Inflasi pada Maret sebesar 0,07%, meningkat pada bulan April sebesar 0,21%. Inflasi tahun kalender (Januari-April) mencapai 1,9%. Harga grosir juga mengalami peningkatan sebesar 0,35% pada bulan Februari, naik lagi sebesar 0,41% pada bulan Maret dan terus mengalami kenaikan sebesar 0,48% pada bulan April. Berdasarkan data BPS, kelompok komoditi yang memberikan andil/sumbangan inflasi pada April 2012, yaitu: kelompok bahan makanan 0,03 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,11 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,06 persen;

kelompok kesehatan 0,01 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,01 persen dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,03 persen. Sedangkan kelompok sandang pada bulan ini memberikan andil/sumbangan deflasi sebesar 0,04 persen. Fluktuasi harga minyak dunia dan wewenang yang diberikan oleh DPR dalam Undang-Undang APBN Perubahan kepada pemerintah bahwa pemerintah boleh menaikkan harga BBM dengan syarat tertentu juga turut memicu ketidak pastian pasar dan kenaikan ekspektasi masyarakat akan inflasi. Kembali pada wewenang pemerintah yang diberikan pada UU APBN Perubahan 2012, pertanyaannya adalah mungkinkah itu terjadi? Tentu akan sulit untuk menjawabnya karena tergantung pada harga minyak dunia yang relatif berfluktuasi. Bila kita lihat trend harga minyak dunia belakangan ini justeru relatif menunjukkan penurunan (lihat Gambar). Harga minyak mentah di pasar New York Mercantile Exchange (NYMEX) menunjukkan penurunan hingga mencapai titik terendah enam bulan terakhir. Pada akhir tahun 2011, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sedikit di bawah 100 USD per barrel, menaik menjadi 100,319 USD januari 2012 hingga 1006,205 USD pada Maret 2012. Sejak Maret hingga saat ini harga cenderung menurun hingga mencapai 92,56 USD per barrel untuk penghantaran bulan Juni. Para pengamat perminyakan dan ekonomi berpendapat bahwa harga minyak mentah tahun ini akan stabil maksimum di kisaran 110 USD per barrel. Gambar. Fluktuasi Harga Minyak di pasar NYMEX Enam Bulan Terakhir
(Sumber: http://markets.ft.com)

Dalam APBN perubahan 2012 pasal 7 ayat 6a dinyatakan bahwa:Dalam hal harga rata-rata minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP) dalam kurun waktu berjalan mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata sebesar 15 persen dalam 6 bulan terakhir dari harga minyak internasional yang diasumsikan dalam APBN-P Tahun Anggaran 2012, pemerintah berwenang untuk melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan kebijakan pendukung. Asumsi ICP pada APBN perubahan adalah 105 USD per barrel. Artinya bahwa pemerintah akan mendapatkan wewenang tersebut bila rata-rta ICP enam bulan berjalan mencapai 120,75 USD. Berdasarkan data pada laman kementerian ESDM, ICP lima bulan terakhir dalam USD berturut-turut adalah: Desember 110,7; Januari 115.91; Februari 122,17; Maret 128,14; dan April 124,63. Rata-rata lima bulan terakhir telah mencapai 120,31 USD per barrel. Kondisi ini tentu sangat kritis, bila ICP bulan Mei mencapai 123 USD atau lebih, maka rata-rata enam bulan terakhir menjadi 120,7583 USD. Artinya bahwa ambang batas yang ditetapkan dalam APBN Perubahan telah tercapai, dengan demikian pemerintah akan berhak untuk menaikkan atau menyesuaikan harga BBM. Sedikit menarik akan bunyi pasal 7 ayat 6a tentang wewenang pemerintah, bahwa yang namanya wewenang tafsiran dangkalnya mirip dengan hak, boleh dilaksanakan boleh juga tidak. Bila syarat tersebut telah tercapai maka pemerintah boleh menaikkan harga BBM sebagai penyesuaian, namun bila nanti turun lagi di bawah 15% ICP pada APBN Perubahan mungkinkah pemerintah akan menurunkan harga BBM lagi? Tidak ada keharusan dalam pasal tersebut karena bunyinya alah berwenang melakukan penyesuaian. Inilah satu dari beberapa hal mengapa UU APBN Perubahan banyak dituntut oleh berbagai kalangan seperti buruh, untuk dibatalkan. Semoga pemerintah tidak hanya fokus bagaimana cara menaikkan harga BBM bersubsidi, tetapi kita berharap agar pemerintah juga fokus bagaimana agar dampak kenaikan harga minyak dunia tidak terlalu berimbas pada perekonomian negara ini terutama tidak membebani rakyat. Berbagai cara tentu dapat dilakukan, misalnya penghematan penggunaannya dengan cara memperbaiki

infrastruktur jalan agar kenderaan tidak boros lagi mengkonsumsi BBM, penyediaan sarana transportasi masal yang aman, nyaman, cepat dan tepat sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk tidak menggunakan kenderaan pribadi, memikirkan alih teknologi dari berbasis BBM ke sumber lain, membenahi sistem pertambangan yang ada sehingga lebih menguntungkan negara dan lebih efisien, memastikan bahwa alokasi BBM yang ada diinstansi pemerintah hanya digunakan untuk keperluan dinas yang penting dan tidak boleh digunakan oleh kenderaan keluarga yang bukan kenderaan dinas serta melakukan efisiensi penggunaan dana di segala sektor. Andai menaikkan harga BBM bersubsidi tetap dilakukan pemerintah sesuai amanat UU APBN-P, maka seperti yang diutarakan pada artikel Waspada beberapa waktu yang lalu, selain hal di atas kita juga berharap bahwa pemerintah akan membuat skim berlapis untuk menanggulagi dampaknya. Ada bantuan untuk jangka pendek yang sifatnya mendesak untuk menaikkan daya beli masyarakat yang turun akibat kenaikan harga-harga, sehingga masyarakat golongan tidak mampu bisa mengkonsumsi dengan wajar. Ada juga yang sifatnya jangka menengah dan jangka panjang, seperti pemberdayaan sektor nonformal dan informal, dan lainnya yang tidak semata bersifat konsumtif. Bila hanya skim jangka pendek yang dilakukan seperti BLT di waktu yang lalu, dikhawatirkan dapat menimbulkan ketergantungan. Banyak pendapat bahwa program BLT bersifat charity, menimbulkan budaya malas, dan menimbulkan sifat mengharap belaskasihan disamping secara mikro dapat menumbuhkan budaya konsumtif sesaat. Menghadapi masyarakat miskin seharusnya tidak dengan program hit and run tetapi dengan pemberdayaan (empowering). Penulis adalah dosen FE Unimed Telah dimuat pada Kolom Opini Harian waspada Selasa, 22 Mei 2012.