Anda di halaman 1dari 3

NEGERI SEMENANJUNG, NAN SLALU MENGGODA Oleh: Indra Maipita Lubis Malaysia, negara semenanjung dengan luas wilayah

329.750 Km2 dan berpenduduk sekitar 28 juta jiwa ini diklaim sebagai negara serumpun dengan Indonesia. Sejak ratusan tahun yang lalu hingga saat ini selalu menarik bagi rakyat Indonesia. Pasang surut hubungan Indonesia dengan Malaysia turut menjadi bukti ketertarikan tersebut. Bila kita tengok sejarah ke belakang bahwa sejak ratusan tahun yang lalu masyarakat dari kawasan Indonesia seperti dari tanah Mandailing telah menjadikan kawasan semenanjung itu menjadi tempat hijrah mereka. Hubungan yang kurang mesra di zaman pemerintahan Sukarno juga merupakan bukti bahwa Malaysia memang menggoda di hati. Disadari atau tidak, hingga saat ini, jutaan rakyat Indonesia berada di Malaysia baik sebagai TKI legal, illegal, sebagai pelajar hingga pekerja ekspatriat. Budaya yang berdekatan, bahasa yang mirip, perawakan yang relatif sama ikatan persaudaraan turut memacu semua itu. Berbagai cara dilakukan sebahagian masyarakat Indonesia untuk dapat masuk dan bekerja di negeri jiran ini. Indonesia-Malaysia bak dua saudara yang terkandang bertengkar, lalu akrab lagi. Itupulalah yang membuat hubungan emosional masyarakat Indonesia khususnya pulau Sumatera terasa dekat dengan negeri jiran tersebut. Namun,beberapa hari belakangan Indonesia dihebohkan dengan pengakuan Malaysia terhadap budaya Mandailing yaitu Tor-tor Mandailing dan Gordang Sambilan. Adalah media masa yang mengangkat berita tersebut baik cetak maupun elektronik. Lantas semua orang berbicara, budayawan, para tokoh atau yang merasa tokoh, pemerintah, politikus dan masyarakat umum tak terkecuali di luar suku Mandailing (bahkan lebih getol), tanpa sesungguhnya tahu bagaimana duduk persoalannya (atau mungkin tahu namun sengaja dipelintir atau dikaburkan agar menjadi isu panas). Seolah semua orang bangkit semangat kebangsaan dan nasionalismenya sekonyong-konyong. Ada yang pro, namun kebanyakan yang kontra, menghujat bahkan meniupkan kembali Ganyang Malaysia. Padahal sangat jelas dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan ...... Apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa begitu cepat semua orang mengambil kesimpulan? Bukankah kita punya pemimpin pemerintahan dan di Medan juga ada perwakilan pemerintahan Malaysia? Lantas mengapa pemerintah tidak langsung saja menanyakan apa sebenarnya yang terjadi sehingga jangan sampai ada salah tafsir di masyarakat? Padahal bangsa yang besar dan punya peradaban tinggi adalah bangsa yang bertindak atas fakta yang benar, bukan isu. Saya bukan seorang sejarahwan, juga budayawan. Namun sedikit tertaik memberikan pendapat sebagai orang Mandailing dan sebagai masyarakat umum berdasarkan logika sederhana. Kita patut berterimakasih kepada Prof. Darmayanti Lubis dan Parlindungan Purba selaku anggota DPD yang berasal dari Sumut telah mengambil inisiatif yang cepat mempertanyakan persoalan sesungguhnya kepada Duta Besar Malaysia di Jakarta, serta mengadakan pertemuan dan jumpa press dengan Konjen Malaysia di Medan pada hari Kamis tanggal 20 Juni 2012. Acara itu juga dihadiri oleh pengurus Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal (IMA MADINA). Dari hasil pertemuan tersebut jelas sudah apa yang terjadi. Malaysia tidak pernah mengklaim bahwa warisan budaya Mandailing berupa Tor-tor Mandailing dan Gordang Sambilan merupakan budaya Malaysia, yang ada bahwa Pemerintah Malaysia mengakui keberadaan (eksistensi)nya di Malaysia. Dengan kata lain kedua jenis kesenian itu diakui keberadaannya di Malaysia sebagai budaya Mandailing dan dicatat sebagai budaya yang syah dan legal yang berasal dari Mandailing. Sebagaimana kita (Indonesia) mengakui budaya Tionghoa (China) di Indonesia (seperti Barongsai misalnya). Indonesia tidak pernah dan tidak boleh mengklaim Barongsai sebagai budaya asli

Indonesia, tetapi pemerintah Indonesia mengakui keberadaannya dan syah sebagai budaya yang berasal dari Negeri China di Indonesia. China sebagai negara besar dan dikenal di seluruh penjuru dunia, satu diantaranya disebabkan budayanya dikenal diseluruh penjuru dunia (mulai dari olahraga, kesenian, tradisi dan obat-obatannya). Menurut sejarah, suku Mandailing dengan Malaysia memang memiliki kisah yang panjang. Sejak lebih 200 tahun yang lalu, jauh sebelum Indonesia dan Malaysia merdeka orang Mandailing sudah banyak merantau dan menetap di Malaysia. Saat ini terdapat sekitar 500.000 orang keturunan suku Mandailing di Malaysia, hampir setara dengan jumlah orang Mandailing di Mandailing Natal. Patut kita acungkan jempol kepada mereka, meski telah menetap turun-temurun di negeri seberang tetap tidak lupa dengan budayanya, terus berusaha memperjuangkan dan melestarikannya. Sejak 30 tahun yang lalu mereka telah memperjuangkan agar budaya Mandailing: Tor-tor Mandailing dan Gordang Sambilan diakui dan disetarakan dengan budaya lain yang ada di Malaysia. Untuk Apa? Bila ada pengakuan maka budaya tersebut boleh ditampilkan pada acara resmi Malaysia seperti kita menampilkan Barongsai pada acara peringatan kemerdekaan, kesaktian Pancasila dan lainnya. Bukan itu saja, masyarakat Mandailing di sana juga berhak mendapatkan pembinaan (termasuk dana) untuk melestarikannya. Alhamdulillah ternyata perjuangan mereka berhasil ditandai dengan dimasukkannya kedua kesenian tersebut sebagai budaya Mandailing yang dicatat pada Section 67 Undang-Undang Tentang Warisan Budaya Tahun 2005. Lantas mestikah kita ributkan? saya yakin keributan ini hanya kesalah fahaman. Andaisaja ada pemberitaan yang benar tentang apa sesungguhnya yang terjadi, tidak demikian adanya. Disinilah sesungguhnya letak peran penting pemerintah dan pers untuk memberikan pemberitaan yang sesungguhnya kepada masyarakat. Menurut surat terbuka dari Presiden Persatuan Halak Mandailing di Malaysia (Ramli Abdul Karim Hasibuan), tertanggal 19 Juni 2012 (http://mandailingmalaysia.wordpress.com/), sebelum langkah pendaftaran, mereka telah telah melakukan pertemuan untuk mendapatkan pandangan dan sikap masyarakat dan tokoh adat Mandailing di Sumatera Utara, meliputi Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara (Paluta) dan Pemerintah Kota Medan. Pertemuan dengan Bupati (Pegawai Daerah) serta Walikota (Datuk Bandar) di daerah yang terlibat di bulan Desember 2011 yang lalu. Hasil lawatan itu, secara umum pemerintah di daerah Mandailing mendukung usaha Mandailing Malaysia untuk mengangkat budaya tersebut di Malaysia dan ke peringkat internasional, agar tidak pupus dan tinggal nama atau menjadi sejarah semata. Malah, Bupati-Bupati dan Walikota (atau perwakilannya) turut hadir sebanyak hampir 30 orang untuk menyatakan dukungan pada Mesyuarat Agung (Annual General Meeting) pertama Persatuan Halak Mandailing Malaysia di Dewan Majlis Perbandaran Nilai (MPN), Nilai, Negeri Sembilan pada 28 Januari 2012 yang lalu. Bila itu benar, dan andaikan pemerintah kabupaten/kota serta para tokoh adat yang telibat dalam hal itu menyampaikannya kepada masyarakat (bahasa kerennya sosialisasi atau publikasi), mungkin situasi yang sedikit memanas beberapa hari ini tidak akan terjadi karena masyarakat telah mengetahui duduk persoalan yang sesungguhnya. Di sinilah dituntut kearifan dari para pemimpin mampu bertindak cepat dan berfikir serta berpandangan jauh ke depan. Dari sudut pandang ekonomi, bila pemerintah Madina, dan lainnya (juga Prov.SU), para tokoh, budayawan dan pencinta budaya Mandailing menyikapi hal ini dengan baik, tentu akan menjadi sebuah peluang. Banyaknya masyarakat Mandailing di Malaysia dapat menjadi pasar yang potensial bagi properti budaya itu sendiri. Maksudnya, dengan adanya pengakuan tersebut akan meningkat keinginan masyarakat Mandailing di sana untuk mempelajari budayanya, berarti akan terbuka kesempatan para tokoh, budayawan, sejarahwan dan ahli kesenian Mandailing yang ada di Indonesia untuk memberikan

bantuan pembelajaran, pencerahan dan pengenalan lebih mendalam tentang budaya tersebut. Akan terbuka peluang untuk tenaga pengajar kesenian dan adat Mandailing. Tidak tertutup juga kemungkinan akan terbuka peluang pemasaran peralatan adat Mandailing seperti, pakaian adat dan Gordang Sambilan. Bila itu terjadi tentu saja dapat menunjang peningkatan perekonomian Mandina, Sumut dan Indonesia. Kita juga tahu bahwa kunjungan wisatawan asing ke Malaysia relatif tinggi. Keadaan ini dapat menjadi peluang bagi kita untuk lebih memperkenalkan kebudayaan Mandailing ke seluruh penjuru dunia. Tidak tertutup kemungkinan para wisatawan tersebut akan membeli properti adat Mandailing, seperti para orang asing membeli properti adat Jawa selama ini (sebut saja angklung, batik dan berbagai ukiran Jepara). Bila kita lihat wesite resmi perkumpulan halak mandailing di Malaysia, jelas sekali mereka membutuhkan properti mandailing, mereka ingin belajar bahasa Mandailing, meminta adanya kamus bahasa Mandailing-Melayu, bahkan mereka juga telah mengajukan sejumlah dana kepada pemerintahan Malaysia untuk pembelian seperangkat Gordang Sambilan, pakaian adat dan biaya untuk latihan. Bukankah ini sebuah peluang yang baik? Permasalahannya sekarang, mampukah kita (terlebih para pemimpin) berfikir lebih jernih, memandang jauh kedepan dan memanfaatkan moment yang ada ini? Mestinya jawabannya YA. Moment ini juga dapat dijadikan untuk mempererat persaudaraan, menjalin berbagai kerjasama kebudayaan, pendidikan dan ekonomi, tentu saja tanpa mengorbankan jatidiri bangsa. Semoga berhasil dan semoga persaudaraan di antara kita tetap terjaga. Penulis adalah dosen FE Unimed Telah dimuat di harian waspada tanggal 22 Juni 2012