Anda di halaman 1dari 4

SULITNYA MENAIKKAN HARGA BBM Oleh: Indra Maipita Sejak tahun 2012 yang lalu, pemerintah telah berencana

untuk menaikkan harga BBM, namun tidak jadi dilakukan meski telah mendapat mandat dari DPR melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2012 untuk menyesuaikan harga (subsidi) BBM bila diperlukan tanpa mekanisme APBN-P. Tahun ini, dengan alasan yang sama sejak dahulu (kenaikan BBM tahun 2008), pemerintah kembali berencana untuk menaikkan harga BBM. Berbagai skenario atau skim dilontarkan, mulai dari penerapan stiker, dua harga, hingga tetap satu harga tunggal, namun belum terlaksana juga. Ketidak pastian ini pulalah yang menyebabkan lembaga pemeringkat Standard & Poors (S&P) menurunkan peringkat Indonesia atau proyeksi rating surat utang Indonesia dari BB+ positif menjadi BB+ stabil dan telah menuai dampak negatif bagi sektor keuangan. Alasan klasik pemerintah untuk menaikkan harga BBM adalah: (1) membengkaknya konsumsi minyak bersubsidi dari tahun ke tahun sehingga melampaui target dan memberatkan APBN (Subsidi BBM tahun 2010: Rp82,35T, 2011: Rp165,16T, 2012: Rp137.379T, 2013: Rp193,805T). Padahal, pengeluaran itu akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk keperluan lain, seperti pembangunan sarana dan prasarana; (2) sebahagian besar BBM digunakan oleh masyarakat dengan tingkat ekonomi meneganh ke atas, sehingga subsidi yang diberikan pada BBM kurang tepat sasaran. Akan lebih baik bila dana subsidi tersebut digunakan untuk mengurangi kemiskinan, (3) harga BBM di Indonesia terlalu murah bila dibandingkan dengan harga BBM di negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan Filipina. Disinyalir kondisi ini akan memicu terjadinya praktek penyeludupan. Meskipun berbagai alasan telah dilontarkan pemerintah untuk mendasari kenaikan harga BBM yang direncanakan, tetap saja menuai kritik dan penolakan yang luas dari masyarakat, mengapa demikian? Secara singkat akan kita bahas berikut ini. Kenaikan harga BBM tidak dapat dipungkiri akan berdampak pada naiknya harga-harga (inflasi). Kenaikan harga-harga ini akan menurunkan daya beli masyarakat, karena pendapatan relatif tidak naik. Kondisi ini akan berakibat pada bertambahnya angka kemiskinan yang saat ini berkisar 11.23% atau sekitar 27,48 juta jiwa. Karena penduduk yang sedikit di atas garis kemiskinan akan jatuh ke bawah garis kemiskinan sehingga jumlah masyarakat miskin akan bertambah. Sesungguhnya pemerintah menyadari akan hal ini. Oleh karena itu pengurangan subsidi BBM (yang mengakibatkan kenaikan harga BBM) akan diikuti oleh berbagai skim bantuan kepada masyarakat miskin, seperti BTL atau BLSM, program beasiswa, program kesehatan, bantuan beras dan lainnya. Lalu bila demikian kenapa masyarakat (termasuk masyarakat miskin) menolak rencana kenaikan BBM tersebut? Berbagai kajian yang dilakukan selama ini (termasuk pemberian BLT kepada masyarakat miskin atas kenaikan harga BBM tahun 2008) mendapati bahwa BLT yang diberikan pemerintah tidak dapat mengimbangi dampak yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM. Artinya bahwa untuk mengimbangi kenaikan harga-harga akibat kenaikan harga BBM, masyarakat harus mengeluarkan dana yang lebih besar dibanding dengan BLT yang diterima. Bukan berarti bahwa BLT tidak bermanfaat, tetapi tidak seimbang dengan dampak yang harus ditanggung oleh masyarakat. Selain itu banyak pendapat bahwa program kompensasi ini bersifat charity, menimbulkan budaya malas, ketergantungan dan mengharap belaskasihan disamping secara mikro dapat menumbuhkan budaya

konsumtif sesaat. Menghadapi masyarakat miskin seharusnya tidak dengan program hit and run tetapi dengan empowering. Namun di sisi lain, pemerintah juga perlu dan berkewajiban melakukan perlindungan sosial ( social protection) terhadap masyarakat miskin dari dampak negatif yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM. Alasan lain yang menyatakan bahwa subsidi BBM terlalu memberatkan APBN juga tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat. Beberapa pendapat mengatakan bahwa banyak hal yang memberatkan APBN, bukan hanya subsidi, misalnya pembayaran beban hutang luar negeri di samping belum efisiennya penggunaan ABPN. Inefisiensi penggunaan ABPN terlihat dari daya serap anggaran yang tidak masksimal dan masih terdapat silpa setiap tahunnya. Andai tidak ada silpa, di atas pertengahan tahun selalu dilakukan perubahan. Anggaran yang tidak terserap pada suatu sektor akan didistribusikan kembali ke sektor atau program lain dan harus dihabiskan secara cepat, maka timbullah program-program yang aneh yang belum tentu menjadi kebutuhan prioritas. Padahal sebahagian APBN itu bersumber dari hutang dan setiap tahunnya harus dibayar cicilan pokok dan bunganya. Alasan bahwa harga BBM di negara tetangga lebih mahal dari harga BBM kita juga kurang kuat dan kurang tepat. Beberapa alasannya antara lain: pertama, kualitas BBM negara tetangga jauh di atas kualitas BBM kita. Premium Indonesia seharga Rp4.500,- per liter berkualitas RON ( Research Octane Number) 88 (bandingkan dengan Thailand: blue gasoline 91, Filipina: unleaded, dan Singapura: grade 92), sedangkan di Malaysia harga premium RM 1,90 per liter (setara dengan Rp 5.700,- dengan kurs RM1=Rp3.000,-) tetapi dengan kualitas RON 95 (setara dengan kualitas pertamax atau pertamax plus Indonesia yang dijual seharga Rp10.600 hingga Rp10.900 per liternya). Bila ingin fair, maka kualitas yang setaralah yang dibandingkan harganya, dan bila ini dilakukan maka pertamax kitalah yang dibandingkan dengan premium Malaysia. Berarti perbandingan harganya berkisar Rp10.600 (Indonesia) banding Rp5.700,- (Malaysia), mana lebih mahal? Kualitas premium Indonesia bahkan tidak masuk dalam standar EURO 1, sedangkan premium Malaysia masuk dalam standar EURO 4. Jadi sangat wajarlah bila kualitas yang rendah dibayar dengan harga yang rendah. Bahkan KPBB (Komite Penghapusan Bensin Bertimbal) mengatakan bahwa dengan kualitas bensin yang ada saat ini, pemerintah semestinya tidak perlu mengeluarkan subsidi. Alasan kedua, bahwa daya beli rakyat Indonesia dengan rakyat tetangga tidaklah sama. Rata-rata penghasilan rakyat tetangga lebih tiggi dibanding dengan rakyat Indonesia meskipun untuk pekerjaan yang sama. Pendapatan per kapita Indonesia tahun 2012 hanya sekitar USD3.000 , sedangkan malaysia mencapai USD9.700. Oleh karena itu, membandingkan harga di antara beberapa negara tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa memperhatikan purchasing power parity di masing-masing negara. Di sisi lain, ketidak transparanan pemerintah akan harga produksi BBM yang sebenarnya, turut memicu kekurang percayaan masyarakat sehingga menolak kenaikan harga BBM. Pemerintah selalu mengumumkan bahwa harga BBM yang berlaku saat ini disubsidi, berapa besar subsidi per liternya tidak pernah diketahui oleh masyarakat, yang diumumkan hanyalah subsidi secara gelondongan yang dituangkan dalam APBN mencapai puluan bahkan ratusan triliun pertahun sehingga memberatkan APBN. Berapa harga produksi dan harga jual sebenarnya bila pemerintah tidak memberikan subsidi? Tidak pernah diketahui. Bahkan dalam materi sosialisasi yang menjelaskan kenaikan harga BBM yang dikeluarkan oleh Kementerian Sekretariat Negara, Sekretariat Wakil Presiden pun sama sekali tidak diungkapkan berapa sesungguhnya biaya produksi dan hargar jual BBM per liternya bila tanpa subsidi.

Yang disampaikan hanya alasan seperti disebutkan di atas serta perbandingan harga dengan negara tetangga. Di Malaysia, harga BBM diumumkan secara transparan. Di setiap SPBU ditempelkan selebaran resmi tentang harga BBM. Pada selebaran itu tertulis dengan jelas untuk pertol RON 95: Harga Sebenar (harga sesungguhnya sebelum subsidi) RM2,69/liter; Harga Kawalan (harga yang dijual ke masyarakat setelah subsidi) RM1,9/liter; Subsidi oleh Kerajaan RM0,79/liter. Cara seperti ini sesungguhnya perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia, tujuannya antara lain: (1) untuk memenuhi unsur keterbukaan, (2) sebagai bahan sosialisasi kepada masyarakat akan subsidi yang diberikan pemerintah, sehingga masyarakat benar-benar tahu dan dapat menghitung sendiri berapa besar subsidi yang dinikmatinya dan harus ditanggung oleh APBN setiap tahunnya. Sebagai contoh, bila satu mobil menghabiskan 25 liter BBM per minggu, masyarakat tinggal mengalikan jumlah liter konsumsinya dengan besaran subsidi per liter, berarti sekian rupiah subsidi yang dinikmatinya seminggu, sebulan, setahun, dan seterusnya, (3) selama ini, sebahagian masyarakat berfikir mengapa harus berhemat? Bukankah BBMnya saya beli menggunakan uang saya sendiri? Dengan diketahuinya oleh masyarakat berapa besar subsidi yang dia habiskan setiap minggu, bulan dan tahun, benar-benar ada dasar bagi masyarakat untuk berhemat. Dengan demikian diharapkan akan timbul kesadaran masyarakat untuk hemat BBM, dan keberhasilan kampanye hemat BBM yang dilancarkan pemerintah dapat ditingkatkan, (4) ada kemungkinan secara moral masyarakat kaya atau yang memiliki kenderaan berkapasitas mesin besar akan mengurangi konsumsi BBM bersubsidi dan berusaha untuk beralih ke BBM nonsubsidi. Setidaknya mengurangi pemakaian kenderaan berkapasitas mesin besar dan beralih ke kenderaan yang lebih hemat, (5) bila kesaradan masyarakat akan besarnya subsidi BBM yang harus ditanggung oleh negara telah tumbuh, maka akan lebih mudah bagi pemerintah untuk memberikan pengertian kepada masyarakat dalam pengambilan kebijakan berikutnya, sehingga kebijakan tersebut benar-benar didukung oleh masyarakat. Inilah suatu jalan yang baik yang mestinya dilakukan oleh pemerintah dan merupakan good practices yang dilakukan oleh negara tetangga. Penulis merupakan Dosen FE Unimed.

Catt: ini adalah gambar selebaran resmi kerajaan Malaysia yang ditempelkan di setiap SPBU di Malaysia.