Anda di halaman 1dari 14

PEMBAHASAN

1. Sejarah Istilah Skizofrenia berasal dari Bahasa Jerman, yaitu Schizo

(=perpecahan/split) dan Phrenos (=mind). Pada skizofrenia terjadi sesuatu perpecahan pikiran,perilaku dan perasaan. Eugen Bleuler (18571939) yang memperkenalkan istilah skizofrenia, karena gangguan ini menyebabkan terjadinya perpecahan antara pikiran,emosi dan perilaku. Menurut Eugen Bleuler, ada 4 gejala fundamental untuk skizofrenia yaitu: Asosiasi terganggu terutama kelonggaran assosiasi. Affektif terganggu Autisme Ambivalensi Konsep ini yang dikenal dengan 4A yaitu assosiasi, afek, autisme dan ambivalensi. Gejala pelengkap untuk skizofrenia menurut Bleuler adalah waham dan halusinasi. 2. Epidemiologi Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia (rata-rata 0,85%). Angka insidensi skizofrenia adalah 1 per 10.000 orang per tahun. Prevalensi skizofrenia berdasarkan jenis kelamin,ras dan budaya adalah sama. Wanita cenderung mengalami gejala yang lebih ringan, lebih sedikit rawat nap dan fungsi sosial yang lebih baik di komunitas dibandingkan laki-laki. Onset skizofrenia pada laki-laki

terjadi pada usia 15-25 tahun sedangkan pada wanita terjadi pada usia 25-35 tahun. Skizofrenia jarang terjadi pada penderita kurang dari 10 tahun atau lebih dari 50 tahun. Pengobatan skizofrenia pada penderita yang berusia antara 15-55 tahun kira-kira hanya sebanyak 90%. Individu yang didiagnosis dengan skizofrenia 60-70% tidak pernah menikah. Penderita skizofrenia 25-50% berusaha untuk bunuh diri dan 10% berhasil melakukan bunuh diri. Faktor risiko yang meningkatkan terjadinya kasus bunuh diri pada penderita skizofrenia adalah gejala depresif, usia muda, tingkat fungsi premorbid yang tinggi, halusinasi dengar, usaha bunuh diri sebelumnya, tinggal sendiri, perbaikan setelah relaps, ketergantungan pada rumah sakit, ambisi yang terlalu tinggi dan jenis kelamin laki-laki. Umumnya penderita skizofrenia akan

menggunakan zat untuk menurunkan depresi dan kecemasan serta mendapatkan kesenangan. Penderita skizofrenia sekitar 88%

ketergantungan dengan nikotin. 3. Etiologi Model Diatesis Stres Menurut teori ini skizofrenia dapat timbul karena adanya integrasi antara faktor biologis, faktor psikososial dan

lingkungan. Seseorang yang rentan (diatesis) jika dikenal stresor akan lebih mudah untuk menjadi skizofrenia. Faktor genetik mempunyai peranan dalam terjadinya suatu skizofrenia. Ada 7 gen yang mempengaruhi skizofrenia. Kembar identik

dipengaruhi oleh gen sebesar 28% sedangkan pada kembar

monozigot dan kembar dizigot pengaruhnya sebesar 1,8-4,1%. Skizofrenia kemungkinan berkaitan dengan kromosom 1,3,5,11 dan kromosom X. Penelitian genetik ini dihubungkan dengan COMT (Catechol-O-Methyl Transferase) dalam encoding

dopamin sehingga mempengaruhi fungsi dopamin. Faktor pencetus dan kekambuhan dari skizofrenia dipengaruhi oleh emotional turbulent families, stressful life events, diskriminasi dan kemiskinan. Linkungan emosional yang tidak stabil mempunyai risiko yang besar pada perkembangan skizofrenia. Stresor sosial juga mempengaruhi suatu skizofrenia. Faktor Neurobiologis Perkembangan saraf awal selama masa kehamilan ditentukan oleh asupan gizi selama hamil (wanita hamil yang kurang gizi mempunyai risiko anaknya berkembang menjadi skizofrenia) dan trauma psikologis selama masa kehamilan. Pada masa anak disfungsi situasi sosial seperti trauma masa kecil, kekerasan, hostilitas dan hubungan interpersonal yang kurang hangat diterima oleh anak, sangat mempengaruhi perkembangan neurologikal anak sehingga anak lebih rentan mengalami skizofrenia di kemudian hari. Penelitian saat ini melihat adanya perbedaan struktur dan fungsi dari daerah otak pada penderita skizofrenia. Dengan Positron Emission Tomography (PET) dapat terlihat kurannya aktivitas di daerah lobus frontal, dimana lobus frontal itu sendiri berfungsi sebagai memori kerja, penurunan

dari aktivitas metabolik frontal dihubungkan dengan perjalanan penyakit lama dan gejala negatif yang lebih berat. Penderita skizofrenia kadar fosfomonoester (PME) yang lebih rendah dan kadar fosfodiester (PDE) yang lebih tinggi dibandingkan nilai normal. Konsentrasi fosfat inorganik menurun dan konsentrasi ATP meningkat. Hal ini disebabkan karena terjadinya hipofungsi di daerah korteks frontal dorsolateral. Pemeriksaan

menggunakan PET menunjukkan gejala negatif memiliki abnormalitas metabolik yang lebih besar di daerah sirkuit frontal,temporal dan serebelar dibandingkan dengan penderita skizofrenia dengan gejala positif. Menurunnya atensi pada penderita skizofrenia berhubungan dengan hipoaktivitas di daerah korteks singulat anterior. Retardasi motorik berhubungan dengan hipoaktivitas di daerah basal ganglia. Gejala positif berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah temporomedial, sedangkan gejala disorganisasi berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah korteks singulat dan striatum. Halusinasi sering berhubungan dengan perubahan aliran darah di regio hipokampus, parahipokampus dan amigdala. Halusinasi yang kronik berhubungan dengan peningkatan aliran darah di daerah lobus temporal kiri. Waham sering dihubungkan dengan peningkatan aliran darah di daerah lobus temporal medial kiri dan penurunan aliran darah di daerah korteks singulat posterior dan lobus temporal lateral kiri.

4. Simptom Simptom Positif menggambarkan fungsi normal yang berlebihan dan khas, meliputi waham, halusinasi, disorganisasi pembicaraan dan disorganisasi perilaku seperti katatonia atau agitasi. Simptom positif tidak hanya ditemukan pada penderita skizofrenia tetapi bisa juga didapatkan pada gangguan lain misalnya pada gangguan bipolar, gangguan skizoafektif, depresi psikotik, demensia, Alzheimer atau demensia lain maupun pada drug induced psikosis. Simptom negatif terdiri dari 5 tipe gejala yaitu : Affective Flattening : Ekspresi emosi yang terbatas, dalam rentang dan intensitas. Alogia : Keterbatasan pembicaraan dan pikiran, dalam kelancaran dan produktivitas. Avolition : Keterbatasan perilaku dalam menentukan tujuan. Anhedonia : Berkurangnya minat dan menarik diri dari seluruh aktifitas yang menyenangkan dan biasa dilakukan oleh penderita. Gangguan atensi : Suatu gejala dapat dikatakan simptom negatif apabila ditemukan adanya penurunan fungsi normal pada penderita skizofrenia seperti afek tumpul, penarikan emosi (emotional withdrawal) dalam berkomunikasi, rapport yang buruk dengan lingkungan sekitarnya,

bersikap menjadi lebih pasif dan menarik diri dari hubungan sosial. 5. Diagnosis Kriteria Diagnostik Skizofrenia menurut DSM IV-TR : A. Terdapat 2 atau lebih gejala di bawah ini selama 1 bulan atau kurang dari sebulan jika pengobatan berhasil. 1. Waham. 2. Halusinasi. 3. Bicara disorganisasi. 4. Perilaku disorganisasi atau katatonik yang jelas. 5. Simptom negatif contohnya afek datar, alogia atau avolition. B. Disfungsi sosial atau pekerjaan. C. Durasi : gangguan terus menerus selama 6 bulan. D. Disingkirkan gangguan skizoafektif dan gangguan mood. E. Disingkirkan gangguan penggunaan zat atau kondisi medis umum. F. Jika terdapat gangguan perkembangan pervasif, diagnosis tambahan skizofrenia dibuat bila waham dan halusinasi menonjol. Subtipe Skizofrenia menurut DSM IV-TR 1. Tipe Katatonik Terdapat 2 atau lebih gejala berikut ini : a. Immobilitas motorik (berupa katalepsi waxy fleksibilitas, atau stupor).

b. Aktivitas motorik yang berlebihan, tetapi tidak memiliki tujuan dan tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal. c. Negativisme yang ekstrim, mutisme. d. Gerakan volunter yang aneh, seperti yang ditunjukkan oleh posturing, gerakan stereotipik, manerisme atau grimacing (seringai) yang menonjol. e. Ekolalia atau ekopraksia 2. Tipe Disorganisasi (Hebefenik) Semua kriteria di bawah ini terpenuhi, yaitu : a. Menonjolnya disorganisasi bicara dan perilaku, afek datar atau afek tidak sesuai. b. Kriteria skizofrenia tipe katatonik tidak terpenuhi. 3. Tipe Paranoid Semua kriteria di bawah ini terpenuhi, yaitu : a. Preokupasi dengan waham atau halusinasi dengar yang menonjol. b. Kriteria skizofrenia tipe disorganisasi tidak terpenuhi. Tipe tidak Tergolongkan (Undifferentiated Types) Tidak memenuhi kriteria untuk tipe paranoid, disorganisasi atau pun tipe katatonik. 4. Tipe Residual a. Tidak terdapat waham, halusinasi, disorganisasi bicara, perilaku katatonik atau disorganisasi perilaku yang menonjol.

b. Terdapat terus menerus gangguan seperti yang ditunjukkan oleh adanya gejala negatif atau dua atau lebih gejala dari kriteria A menurut DSM IV-TR dari skizofrenia dalam bentuk yang lebih ringan (misalnya keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim) 5. Skizofrenia Simpleks (Gangguan Deterioratif Sederhana) Kriteria diagnostik menurut DSM IV-TR : a. Perkembangan yang bersifat progresif dan sudah berlangsung minimal 1 tahun, dapat berupa : 1. Penurunan yang nyata dalam fungsi pekerjaan atau akademik. 2. Penampakan dari pendalaman secara bertahap dari simptom negatif. 3. Rapport interpersonal yang buruk, isolasi sosial atau

penarikan sosial. b. Kriteria A untuk Skizofrenia tidak pernah terpenuhi. 6. Prognosis a. Ciri-ciri Prognosis Baik 1. Late onset. 2. Onset akut. 3. Mempunyai faktor pencetus yang jelas. 4. Memiliki riwayat pramorbid yang baik dalam sosial, seksual, dan pekerjaan. 5. Dijumpai simptom depresi. 6. Telah menikah.

7. Memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mood. 8. Mempunyai sistem support yang baik. 9. Gambaran klinis adalah simptom positif. b. Ciri-ciri Prognosis Buruk 1. Onset muda. 2. Onset perlahan-lahan dan tidak jelas. 3. Tidak ada faktor pencetus. 4. Memiliki riwayat pramorbid jelek. 5. Dijumpai perilaku menarik diri atau autistik. 6. Belum menikah atau telah bercerai. 7. Memiliki riawayat keluarga skizofrenia. 8. Mempunyai sistem support yang buruk. 9. Gambaran klinis adalah simptom negatif atau simptom neurologi. 10. Memiliki riwayat trauma masa perinatal. 11. Tidak ada remisi selama 3 tahun pengobatan. 12. Terjadi banyak relaps. 13. Memiliki riwayat skizofrenia sebelumnya. 7. Penatalaksanaan Skizofrenia A. Terapi Psikososial Penatalaksanaan psikososial meliputi psikoterapi individual, terapi kelompok, terapi keluarga, rehabilitasi psikiatri, latihan keterampilan sosial, dan manajemen kasusu.

Psikoterapi

individual

yang

deiberikan

pada

penderita

skizofrenia bertujuan sebagai promosi terhadap kesembuhan penderita atau mengurangi penderitaan pasien. Psikoterapi ini terdiri dari fase awal difokuskan pada hubungan antara stres dengan gejala, fase menengah difokuskan pada relaksasi dan kesadaran untuk mengatasi stres, kemudian fase lanjut

difokuskan pada inisiatif umum dan keterampilan di masyarakat dengan mempraktekkan apa yang telah dipelajari. Psikoterapi kelompok meliputi terapi suportif, terstruktur dan naggotanya terbatas, umumnya antara 3-15 orang. Kelebihan terapi kelompok adalah kesempatan untuk mendapatkan umpan balik segera dari teman kelompok, dan dapat mengamati respons psikologis, emosional, dan perilaku penderita skizofrenia terhadap berbagai sifat orang dan masalah yang timbul. Terapi keluarga bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai skizofrenia. Materi yang diberikan berupa pengenalan tanda-tanda kekambuhan secara dini, peranan dari pengobatan, antisifasi, dari efek samping pengobatan, dan peran keluarga terhadap penderita skizofrenia. Rehabilitasi psikiatri bertujuan untuk menigkatkan kemampuan penderita skizofrenia dalam hal merawat diri sendiri, bekerja, menikmati kesenangan, berhubungan dengan orang lain dan keluarga. Dengan demikian dapat meningkatkan kemandirian penderita dalam masyarakat. Rehabilitasi psikiatri diharapkan

terjadi perubahan menuju perbaikan dari ketidakmampuan, meningkatkan kemampuan baru yang menjadi penyebab kelemahan, memanipulasi lingkungan agar dapat lebih

memberikan dukungan serta menigkatkan fungsi. Penatalaksanaan terpai psikososial lainnya pada penderita skizofrenia berupa pelatihan keterampilan sosial dan hidup mandiri, menajemen diri terhadap pengenalan gejala dan medikasi, fungsi penderita dalam kehidupan sehari-hari,

dukungan dari lingkungan sekitar baik di tempat tinggal maupun di tempat kerja pasien. Komponen keterampilan sosial meliputi keterampilan dalam hal berkomunikasi, persepsi sosial, dan mengatasi masalah dalam situasi yang khusus. Keterampilan dalam hal berkomunikasi yang diberikan berupa kemampuan untuk memulai, memelihara, dan mengakhiri percakapan. Keterampilan persepsi sosial yang diberikan berupa kemampuan seseorang untuk mempersiapkan situasi sosial secara akurat, melaksanakan keterampilan

interpersonal dan menganalisa situasi. Sedangkan keterampilan untuk mengatasi masalah yang khusus dalam bentuk

keterampilan saat wawancara mencari pekerjaan, menciptakan kehidupan heterososial. Manajeman medikasi berupa mendapatkan informasi mengenai manfaat pengobatan antipsikotik, mengetahui cara pemakaian yang memuaskan, serta melakukan interaksi

antipsikotik

yang

tepat,

mengetahui

efek

yang

tidak

menguntungkan dari pengobatan, dan membicarkan masalah pengobatan dengan tenaga medis. Manajemen gajala seperti mengidentifikasi secara dini tandatanda kekambuhan dan mengembangkan rencana pencegahan kekambuhan, coping terhadap gejala psikotik yang menetap, serta menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang. Modul reaksi diharapkan menfaat penderita kegiatan skizofrenia dapat

mengidentifikasi

rekreasi,

memberikan

informasi tentang kegiatan rekreasi, ,menemukan hal-hal yang diperlukan untuk kegiatan rekreasi, dan melakukan evaluasi dari manfaat rekreasi secara berkala. Penatalaksanaan gangguan kognitif pada penderita skizofrenia bertujuan menigkatkan kapasitas individu untuk mempelajari berbagai variasi dari keterampilan sosial dan dapat hidup mandiri. Strategi penatalaksanaan meliputi langsung pada defisit kognitif yang mendasari dan terapi kognitif perilaku terhadap gejala psikotik. Penatalaksanaan langsung terhadap defisit kognitif yang mendasari meliputi pengulangan latihan, modifikasi instruksi berupa instruksi lengkap dengan isyarat dan umpan balik segera selama latihan. Terapi kognitif perilaku terhadap gejala psikotik bertujuan mengidentifikasikan gejala spesifik dan menggunakan strategi

coping kognitif untuk mengatasinya. Contoh strategi distraksi, reframing, self reinforcement, test realita atau tantangan secara verbal. Penderita skizofrenia menggunakan strategi ini untuk menemukan dan menguji kualitas disfungsi dari keyakinan yang irrasional. B. Terapi Psikofarmaka Penatalaksanaan terapi somatik tergantung dari keadaan pasien ketika datang dalam fase apa, jika dalam fase akut perlu penangganan yang segera. Penangganan pada fase akut lebih difokuskan untuk menurunkan simptom psikotik yang berat, umumnya setelah dilakukan pengobatan selama 4-8 minggu dengan menggunakan obat antipsikotik pasien dapat masuk dalam fase stabilisasi. Psikopatologi penderita skizofrenia mempunyai tiga dimensi yang paling sering diperhatikan yaitu simptom positif, negatif dan disorganisasi. Simptom positif meliputi halusinasi, ideas of refernce,dan waham. Simptom ini membutuhkan perawatan pasien dan umumnya mengganggu kehidupan pasien. Simptom negatif meliputi motivasi yang menurun, emosi yang tumpul dan kemiskinan pembicaraan dan pikiran. Simptom ini dihubungkan dengan gangguan dalam sosial dan pekerjaan. Simptom disorganisasi meliputi disorganisasi pembicaraan dan perilaku, ini menyebabkan gangguan dalam perhatian dan proses

informasi. Simptom ini dihubungkan dengan gangguan dalam sosial dan pekerjaan. Obat antopsikotik sangat efektif dalam mengatasi simptomsimptom tersebut, terutama antipsikotik generasi kedua. Pada pemberian obat antipsikotik perlu memperhaitkan interaksi obat, baik secara farmaseutikal (pembuatan atau pencampuran obat), farmakokinetik maupun farmakodinamik. Interaksi farmakokinetik terjadi bila suatu obat pengubah, mempengaruhi konsentrasi plasma atau waktu perubahan obat yang diubah, dengan cara mengubah absorpsi, distribusi, metabolisme atau eliminasi dari obat yang lain. Interkasi farmakodinamik adalah interaksi yang terjaid jika dua obat atau lebih bekerja pada tempat yang sama. Interaksi obat yang paling sering adalah interaksi farmakokinetik, melalui metabolisme obat. Interaksi obat akan menimbulkan perubahan konsentrasi obat di dalam plasma sehingga dapat menyebabkan timbul efek toksik atau malah sebaliknya efek terapeutik tidak tercapai.