Anda di halaman 1dari 3

Indikasi vaginal toucher pada kasus kehamilan atau persalinan (Depkes, 2004): 1.

Sebagai bagian dalam menegakkan diagnosa kehamilan muda. 2. Pada primigravida dengan usia kehamilan lebih dari 37 minggu digunakan untuk melakukan evaluasi kapasitas panggul (pelvimetri klinik) dan menentukan apakah ada kelainan pada jalan lahir yang diperkirakan akan dapat mengganggu jalannya proses persalinan pervaginam. 3. Pada saat masuk kamar bersalin dilakukan untuk menentukan fase persalinan dan diagnosa letak janin. 4. Pada saat inpartu digunakan untuk menilai apakah kemajuan proses persalinan sesuai dengan yang diharapkan. 5. Pada saat ketuban pecah digunakan untuk menentukan ada tidaknya prolapsus bagian kecil janin atau talipusat. 6. Pada saat inpartu, ibu nampak ingin meneran dan digunakan untuk memastikan apakah fase persalinan sudah masuk pada persalinan kala II. Tehnik Vaginal toucher pada pemeriksaan kehamilan dan persalinan (Depkes, 2004): 1. Didahului dengan melakukan inspeksi pada organ genitalia eksterna. 2. Tahap berikutnya, pemeriksaan inspekulo untuk melihat keadaan jalan lahir. 3. Labia minora disisihkan kekiri dan kanan dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri dari sisi kranial untuk memaparkan vestibulum.)

4. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan dalam posisi lurus dan rapat dimasukkan kearah belakang - atas vagina dan melakukan palpasi pada

servik. 1. Menentukan dilatasi (cm) dan pendataran servik (prosentase). 2. Menentukan keadaan selaput ketuban masih utuh atau sudah pecah, bila sudah pecah tentukan : 1. Warna 2. Bau 3. Jumlah air ketuban yang mengalir keluar 3. Menentukan presentasi (bagian terendah) dan posisi (berdasarkan denominator) serta derajat penurunan janin berdasarkan stasion.

4. Menentukan apakah terdapat bagian-bagian kecil janin lain atau talipusat yang berada disamping bagian terendah janin (presentasi rangkap compound presentation).

5. Pada primigravida digunakan lebih lanjut untuk melakukan pelvimetri klinik : 1. Pemeriksaan bentuk sacrum 2. Menentukan apakah coccygeus menonjol atau tidak. 3. Menentukan apakah spina ischiadica menonjol atau tidak. 4. Mengukur distansia interspinarum. 5. Memeriksa lengkungan dinding lateral panggul. 6. Meraba promontorium, bila teraba maka dapat diduga adanya kesempitan panggul (mengukur conjugata diagonalis). 7. Menentukan jarak antara kedua tuber ischiadica.

Sumber: Departemen Kesehatan RI : Pedoman Pelayanan Kebidanan Dasar Berbasis Hak Asasi Manusia dan Keadilan Gender Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Direktorat Bina Kesehatan Keluarga 2004.