Anda di halaman 1dari 1

pemantauan dalam anestesi suhu tubuh suhu inti tubuh (body care temperature) dalam keadaan normal mempunyai

rentang yang sempit, dibawah control ketat system termoregulasi. suhu inti tubuh normal adalah 370C (98,60F) atau antara 36,50C 37,50C 50C, didapat dengan pengukuran dalam rongga tubuh. suhu yang mendekati sama dengan suhu inti adalah suhu nasofaringeal. pengukuran di tempat tempat lain menghasilkan angka angka yang relative bervariasi. suhu rata rata rectal dan liang telinga adalah sekitar 37,60C, suhu rongga mulut sekitar 36,80C dan suhu aksila adalah sekitar 36,40C. hipotermia adalah turunya suhu tubuh di bawah nilai yang diperlukan untuk terjaminnya fungsi tubuh yang normal. gejala klinis muncul jika suhu inti turun 1 20C dari nilai normal. hipotermia dapat juga disengaja (deliberate hypothermia) dengan tujuan untuk proteksi organ. dengan turunnya suhu, metabolism tubuh juga turun. ini menyebabkan konsumsi O2 turun dan dipercaya dapat memeperpanjang usia sel. teknik hipotermia biasa digunakan ketika perfusi tubuh berkurang, misalnya ketika resusitasi jantung paru atau ketika periode cardiopulmonary bypass pada operasi jantung terbuka. beberapa hal yang dapat mempengaruhi suhu tubuh : suhu aksila sangat dipengaruhi suhu sekitar, penggunaan obat antipiretik dan pakaian suhu rectal berubah lebih lambat ketika suhu inti berubah suhu oral dipengaruhi nafas (hiperventilasi melalui mulut menurunkan suhu oral) serta jenis minuman dan makanan yang baru saja dikonsumsi. seperti disebutkan diatas, suhu tubuh normal diperlukan setiap sel untuk dapat melangsungkan metabolism. jika terjadi hipotermia intra-anestesi, metabolisme tubuh turun. memang ini berguna dalam hal penghematan konsumsi O2, namun dapat mempersulit karena memperlambat metabolisme obat-obat anestesi. akibatnya masa pulih dapat memanjang. hipotermia juga dapat mengganggu fungsi koagulasi dan mempermudah terjadinya aritmia. hipotermia terutama harus dihindari pada pasien bayi dan anak kecil. pada pasien-pasien ini termoregulasi tubuh belum berfungsi baik, sehingga tubuh masih berfungsi poikilotermik. oleh karena itu pengaturan suhu ruangan sangat penting ketika melakukan anestesi pada pasien pediatrik. suhu badan pasien juga dapat dipertahankan menggunakan penghangat, seperti warmer blanket, radiant heater, dsb.