Anda di halaman 1dari 22

Cara Menanggulangi Kebejatan Moral Menurut Ajaran Islam

disusun untuk memenuhi salah satu tugas makalah mata kuliah pendidikan agama islam

Oleh Eka Della Setyaningrum Inda Restyani Nadya Mawartiani Riza Khairunnisa Rusidiana Abdullah ,121431007 ,121431013 ,121431018 ,121431022 ,121431023

PROGRAM STUDI ANALIS KIMIA JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pengetahuan. Amin.

Penulis Bandung, April 2013

ii

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.....ii DAFTAR ISI......iii BAB I PENDAHULUAN...1 1.1. Latar Belakang..1 1.2. Tujuan...1 1.3. Metode Penulisan..1 1.4. Permasalahan....2 BAB II PEMBAHASAN....... 3 2.1.PengertianMoral.....................3 2.1.1. Moral Islam....5 2.2. Kebejatan Moral....7 2.2.1. Faktor-faktor Kebejatan Moral....11 2.2.2. Cara Menanggulangi Kebejatan Moral Menurut Ajaran Islam...12 BAIII PENUTUP...17 3.1. Kesimpulan.17 DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................18

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Peranan moral akan menjadi tolak ukur pemahaman agama seseorang terhadap realisasinya dalam kehidupan. Itulah sebabnya, sebuah kehancuran umat dalam suatu bangsa selalu diawali dengan penyelewengan dan kebejatan moral. Allah tidak akan mengazab suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang memenuhi syarat terjadinya sebuah bencana. Ulasan ini dalam al-Quran disebut sebagai Kitab Malum. Prinsip diatas menjadi landasan utama uraian berikut dalam menelaah Cara Menanggulangi Kebejatan Moral Menurut Ajaran Islam Dalam analisa judul tersebut mengantarkan sebuah kesimpulan bahwa agama adalah pondasinya yang menafikkan fanatisme agama. 1.2. Tujuan Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua. 1.3. Metode Penulisan Penulis mempergunakan metode kepustakaan. Cara-cara yang digunakan pada penelitian ini adalah : Studi Pustaka Dalam metode ini penulis membaca buku-buku yang berkaitan denga penulisan makalah ini. Browsing internet.

2 1.4. Permasalahan Dalam makalah ini kami akan membahas tentang CARA MENANGGULANGI KEBEJATAN MORAL MENURUT AJARAN ISLAM

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Moral Moral didefinisikan sebagai (ajaran tentang) baik dan buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral juga dimaknai dengan akhlak, budi pekerti, atau susila (KBBI, 2001: 754). Sedang etika didefinisikan sebagai ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) (KBBI, 2001: 309). Meskipun definisi dari kedua istilah itu agak berbeda, namun keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama terkait dengan nilai baik dan buruk. Karena itu, kedua istilah itu sering disamakan, bahkan keduanya juga diidentikkan dengan akhlak. Kata akhlak yang merupakan bentuk jamak dari kata khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat (Hamzah Yaqub, 1988: 11). Secara terminologis,akhlak berarti keadaan gerak jiwa yang mendorong ke arah melakukan perbuatan dengan tidak menghajatkan pikiran. Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Maskawaih. Sedang alGhazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang tetap pada jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran (Rahmat Djatnika, 1996: 27). Karena posisi akhlak merupakan satu kesatuan utuh dari ajaran Islam, maka akhlak dalam Islam mendasarkan ajaran-ajarannya tentang baik dan buruk, benar dan salah, bersumberkan kepada ajaran Allah. Tolok ukur kelakuan baik dan buruk mestilahmerujuk kepada ketentuan Allah. Demikian rumus yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Diyakini sepenuhnya bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik dalam esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Allah akan menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya adalah buruk. Oleh karena itu, akhlak dalam Islam menurut Quraish Shihab (1996: 261) tidak dapat disamakan dengan etika atau moral, jika pengertiannya hanya semata menunjuk kepada sopan santun di antara manusia, serta hanya berkaitan dengan tingkah laku lahiriyah. Akhlak dalam Islam memiliki makna yang lebih luas, yang mencakup beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriyah. Akhak Islam berkaitan dengan sikapbatin maupun pikiran. Akhlak Islam juga memiliki cakupan yang lebih luas, karenatidak semata mengatur hubungan manusia dengan manusia. Kembali pada persoalan pokok, bahwa persoalan moral

3 4 (etika atau akhlak) adalahpersoalan yang berhubungan dengan eksistensi manusia, dalam segala aspeknya, baik individu maupun sosial, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia dan dirinya, maupun dengan alam sekitar, baik dalam kaitannya dengan eksistensi manusia di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, maupun agama (Musa Asyarie, 2001: 92). Dalam kehidupan kita sehari-hari selalu terjadi konflik dalam berbagai kehidupan, baik antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara indivu dengan masyarakat, maupun antara masyarakat tertentu dengan masyarakat yang lain. Konflik ini terjadi biasanya bersumber dari perbedaan kepentingan dan pandangan ideologis yang di dalamnya juga termuat nilai-nilai moral atau etika. Persoalan moral pada prinsipnya adalah persoalan baik dan buruk. Dalam akhlak Islam tingkah laku atau perangai yang berkategori baik disebut akhlaq mahmudah dan yang berkategori buruk disebut akhlaq madzmumah. Meskipun baik dan buruk ini berbeda-beda nilai, ukuran, atau caranya di suatu tempat dengan tempat yang lainnya, namun pada hakikatnya baik dan buruk itu bersifat universal dan absolut. Misalnya, menghormati ibu itu baik, sedang membunuh bayi itu buruk (jahat). Contoh ini berlaku untuk siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Akan tetapi, dilihat dari segi aplikasi nilai-nilai etika dalam realitas kehidupan bisa saja terjadi perbedaan-perbedaan. Membunuh bayi bisa saja berubah nilainya jika dikaitkan dengan tindak penyelamatan ibunya yang tidak ada cara lainnya selain membunuh bayi tersebut. Al-Quran membagi sifat-sifat manusia menjadi dua kelompok yang sama sekali bertentangan, yang menurut kenyataan sifatsifat tersebut sangat bertentangan dan sangat konkret, dan menurut semantik terlampau sarat dengan apa yang disebut baik dan buruk atau benar dan salah. Dua sifat itu tercermin dalam bentuk perilaku yang positif (akhlak mulia) dan perilaku yang negatif (akhlak tercela). Ukuran yang paling pokok untuk membedakan perilaku ini adalah masalah keimanan (kepercayaan) kepada Allah, Pencipta seluruh makhluk. Dalam al-Quran terdapat pokok pikiran yang bersifat dualisme berkenaan dengan nilai moral manusia, yakni dualisme asasi bagi orang yang beriman dan bagi orang yang tidak beriman. Dalam hal ini akhlak Islam merupakan struktur yang sangat sederhana, karena dengan ukuran akhirnya, yakni keimanan, seseorang dapat dengan mudah

5 menentukan yang manakah dari dua kelompok sifat itu yang dimiliki oleh sebuah perbuatan atau oleh seseorang (Izutsu, 1993: 128). Al-Quran menjelaskan kepada kita tentang konsep baik dan buruk dalam berbagai variasi dan keadaan. Untuk menggambarkan masalah kebaikan, al-Quran menggunakan termterm seperti shalih, yang berarti baik atau kebaikan dan kata sayyiah yang berarti jelek atau buruk (QS. al-Ashr (103): 3). Kata lain yang digunakan untuk menyebut kebaikan adalah birr (QS. al-Baqarah (2): 177). Dalam hal ini birr identik dengan takwa. Kata lain yang hampir sama dengan birr adalah qisth (adil) yang diperlawankan dengan zhulm (aniaya). Kata lain yang menunjukkan keburukan adalah fasad yang merupakan kata yang sangat komprehensif yang mampu menunjukkan semua jenis pekerjaan yang buruk (Izutsu, 1993: 255). Al-Quran juga menggunakan kata maruf dan munkar untuk menunjukkan baik dan buruk. Selain kata munkar al-Quran juga menggunakan kata fahsya atau fahisyah untuk menyebut keburukan. Di samping itu, al-Quran juga menggunakan kata khair untuk menyebut kebaikan dan kata syarr untuk menyebut keburukan. Kata lain yang berarti kebaikan adalah hasan, hasanah, atau ahsan yang dilawankan dengan sayyiah atau su yang berarti buruk atau jelek. Al-Quran juga menggunakan kata thayyib untuk menyebut kebaikan dan khabits untukmenyebut keburukan (kotoran). Akhirnya, al-Quran juga menggunakan kata halal dan haram untuk menunjuk adanya kebaikan dan keburukan. 2.1.1. Moral Islam Lima Nilai Moral Islam dikenal pula sebagai Sepuluh Perintah Tuhan versi Islam. Perintahperintah ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-An'aam 6:150-153 di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim ): Tauhid (Nilai Pembebasan) 1. Katakanlah: "Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan ini." Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan

janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan 6 Tuhan mereka. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

Nikah (Nilai Keluarga) 2. berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan 3. janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan 4. janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (homoseks, seks bebas dan incest), baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan Hayat (Nilai Kemanusiaan) 5. janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Adil (Nilai Keadilan) 6. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. 7. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. 8. Dan apabila kamu bersaksi, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan Amanah (Nilai Kejujuran) 9. penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,

10. dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai7 beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. 2.2. Kebejatan Moral Contoh dari kebejatan moral yaitu adalah melakukan kejahatan zina adalah tindakan buruk yang sangat memalukan dan membusukkan masyarakat, karena tersebarnya kejahatan zina akan mengakibatkan kebejatan moral, rumah tangga jadi hancur, keturunan tidak jelas, tidak ada kepercayaan dalam masalah kehormatan dan keturunan, serta ikatan-ikatan sosial jadi berantakan, di samping hubungan intim yang diharamkan itu sering menimbulkan kehamilan di luar nikah, maka sebagai akibatnya adalah, karena takut malu, pembunuhan terhadap janin, baik dengan cara aborsi atau membuangnya sesudah dilahirkan di suatu tempat yang tidak jelas agar mudah mati, atau diletakkan (di pinggir jalan) supaya bisa hidup dengan tidak mengenal siapa ayah dan ibunya. Semua perbuatan itu adalah kejahatan yang mengancam pertumbuhan masyarakat, ketentraman dan kecemerlangannya. Selain itu, sebagaimana kita ketahui di dalam Al-Quran telah dijelaskan larangan melakukan perbuatan zina. Seperti dalam surat Al-Israa ayat 32, Allah berfirman :

Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (Q.S Al Israa : 32)
Oleh karena itulah Islam menentukan berbagai sarana dan cara yang dapat menjaga individu agar tidak terjerumus ke dalam kesalahan besar seperti itu. Sebagai contoh, Islam memerintahkan nikah kepada orang yang telah mampu, mengharamkan berdua-duaan antara dua lawan jenis yang bukan mahrom, melarang tabarruj (menampakkan) kecantikan dan perhiasan di hadapan kaum laki-laki, membolehkan mahar sekalipun hanya seutas cincin dari besi atau mengajari hafalan Al-Quran (kepada

istri). Semua itu merupakan benteng penghalang untuk mencegah terjadinya kejahatan zina. "Wahai

segenap pemuda, barangsiapa yang mampu memikul beban keluarga hendaklah kawin. Sesungguhnya perkawinan itu lebih dapat meredam gejolak mata dan nafsu seksual, tapi 8 barangsiapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena (puasa itu) benteng (penjagaan) baginya." (HR. Bukhari). Sekalipun demikian, ketika Islam menancapkan benteng-benteng tersebut, ia tidak akan berbelas-kasih terhadap orang yang melakukan kejahatan zina, demi terjaganya masyarakat dari pencemaran, agar ia tetap terpelihara kesucian dan kehormatannya. Ayat Al-Quran telah menetapkan hukuman bagi pelaku kejahatan zina, baik laki-laki maupun perempuan, yaitu suatu hukuman yang dapat memberikan jaminan untuk membendung tersebarnya kriminal zina yang mengancam stabilitas keamanan dan kebahagiaan masyarakat. Hukuman itu juga sebagai salah satu sarana untuk mensucikan masyarakat dari perbuatan keji itu. Maka kalau Islam menentukan demikian beratnya hukuman perbuatan zina, maka itu sebenarnya untuk mencegah kebejatan moral dan tersebarnya seks bebas yang hingga sekarang pengaruhnya adalah tempat-tempat penampungan atau panti-panti sosial penuh dengan anakanak haram, sebagaimana terjadi di berbagai negara di muka bumi ini; dan agar ada pembatas antara masyarakat muslim dan masyarakat komunis yang menjadikan kaum perempuan sebagai santapan yang mudah didapat oleh kaum pria, kehormatannya dirampas dan kesuciannya dinodai. Karena Allah Subhaanahu Wata'ala mengetahui apa yang akan menimpa suatu masyarakat yang di dalamnya tersebar kriminal zina, seperti kekacauan dan kebejadan moral, maka Dia menetapkan hukuman kriminal zina adalah 100 cambukan bagi pelakunya yang masih berstatus single (bujangan), laki-laki maupun perempuan, dan hukum rajam (dilempar dengan batu) hingga mati bagi pelaku zina yang berstatus sudah pernah menikah. Ketetapan itu disebutkan di dalam firman-Nya:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk menjalankan agama Allah, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, 9 dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari kaum orangorang yang beriman. (An-Nur: 2). Hukuman zina yang ditetapkan di dalam ayat di atas, yaitu 100 deraan (cambukan) adalah bagi laki-laki atau perempuan yang masih bujangan yang belum pernah menikah. Maka apabila terjadi perbuatan zina yang dilakukan oleh seorang dari mereka, hukum dera harus ditegakkan terhadap pelaku tanpa belas kasih kepadanya. Kemudian, agar jiwa pelaku makin merasa terpukul dan hukuman itu dapat menjadi penghalang bagi orang lain untuk melakukan kejahatan zina yang mengancam kehormatan dan kemuliaan rumah tangga yang tentram, maka Al-Quran memerintahkan agar hukuman dilaksanakan di hadapan kesaksian khalayak, dihadiri oleh sekumpulan kaum orang-orang yang beriman. Bahkan lebih dari itu, Al-Quran mengharamkan seorang mukmin menikah dengan perempuan pezina selagi ia belum bertobat, dan demikian pula diharamkan perempuan mukminah dinikahi oleh laki-laki pezina selagi lelaki itu belum bertobat. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya jiwa (pribadi) laki-laki beriman itu lari dan menjauhkan diri dari pernikahan dengan perempuan pezina, dan demikian pula, perempuan beriman lari dan menjauhkan diri dari keterikatan dengan laki-laki pelaku kriminal zina. Di dalam masalah ini ayat Al-Quran mengatakan:


Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang beriman. (An-Nur: 3).

Disebutkan bahwa sebab turunnya ayat di atas adalah bahwa ada seorang laki-laki bernama Murtsad bin Abi Murtsad yang tugasnya membawa para tawanan dari Mekkah ke Madinah, dan ada seorang perempuan pelacur di Mekkah bernama Inaq yang merupakan teman dekat 10 Murtsad. Murtsad telah menjanjikan kepada perempuan itu akan memberikan seorang laki-laki dari tawanan Mekkah yang akan ia bawa. Murtsad menuturkan: Maka aku pun datang dan bersembunyi di lindungan salah satu kebun di Mekkah pada malam yang terang bulan. Ia melanjutkan: Maka Inaq datang dan mengetahui ada gelapnya bayangan di bawah tembok, maka setibanya di kebun itu ia berkata, Apakah anda Murtsad? Aku menjawab, Ya, aku Murtsad. Lalu perempuan itu berkata, Selamat datang, senang sekali berjumpa anda, mari bermalam di rumahku saja malam ini. Murtad menjawab ajakan perempuan itu dengan mengatakan, Hai Inaq, Allah telah mengharamkan zina. Maka dengan spontan Inaq berkata, Wahai para penghuni tenda, si lelaki ini membawa rahasia kalian! Murtsad berkata: Lalu aku masuk ke dalam kebun dan diikuti oleh delapan orang sampai akhirnya aku masuk suatu gua dan berteduh di situ. Dan perempuan itupun mencariku di kebun bersama para lelaki lainnya, hingga mereka pun sampai dan berada di atas kepalaku (di atas gua), lalu mereka kencing dan membasahi kepalaku, Allah membuat mereka tidak mengetahuiku. Murtsad melanjutkan ceritanya: Setelah mereka pulang, maka aku pun kembali kepada temanku, lalu aku membawanya, dia adalah lelaki yang berat sekali, hingga akhirnya sampai di tempat (bernama) Adzkhur, dan disitulah aku melepas belenggu yang mengikatnya. Maka aku membawanya ke Madinah dan ia selalu menolongku. Di Madinah aku datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan berkata kepadanya, Wahai Rasulullah, apakah boleh aku mengawini Inaq? (dua kali ia katakan), namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diam dan tidak memberikan jawaban, hingga turunlah ayat: Az-Zani la yankihu illa zaniyatan au musyrikan... (Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina atau perempuan musyrik.....) Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Hai Murtsad, laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali perempuan yang berzina atau perempuan musyrik, maka kamu jangan menikahinya.

11 2.2.1. Faktor-Faktor Kebejatan Moral Adapun faktor-faktor kebejatan moral antara lain : Perasaan ingin tahu dan ingin mencoba Remaja ialah mereka yang berumur 18 tahun ke bawah. Pada peringkat usia ini, mereka mempunyai perasaan ingin tahu yang tinggi. Secara tidak langsung membuat mereka terdorong untukmencoba diberi penekanan yang tinggi. Pengaruh rekan sebaya Teman menjadi orang yang dekat dengan mereka. Teman yangbaik, dapat membimbing itu a, sikap jika mereka remaja kepada turut kebaikan, namun jika pada lebih salah gejala rapat memilih teman, akan mempengaruhi mereka kepada tindakan yang buruk. Selain berpengaruh rakan-rakan mereka sosial, kadangkala mereka ini terlalu mudah mempercayai orang lain.Umpamany mereka merasakan danl e b i h m e m a h a m i , d e n g a n m u d a h m e r e k a a k a n m e n g i k u t a p a y a n g dilakukan oleh temannya. Dalam keadaan ini ramai para remaja terjerumus kedalam gejala sosial.Pengaruh di sekolah juga penting dalam pembentukkan akhlakr e m a j a . T e k a n a n y a n g d i h a d a p i p e l a j a r s e m a s a d i s e k o l a h k e r a n a tumpuan te rpaksa diberikan dalam akademik serta guru yang kurangprofesional menangani masalah pelajar yang dalam bermasalah dan melakukan tindakan yang tidak sepatutnya .Jika rasa ingin tahu dan ingin mencoba ke arah positif perlu

akhirnyamenyebabkan pelajar mengambil jalan mudah untuk keluar daripadamas alah itu dengan terlibat dengan kegiatan-kegiatan yang kurang sihat.Situasi ini didorong oleh kurang perhatian daripada ibu bapa di rumah.

12 Pengaruh media massa Media massa juga menjadi pengaruh pada gejala social di kalangan remaja. Tidak semuanya apa yangdipaparkan di media massa itu memberikan kesan yang buruk. Namun,ada segelintir program-program dan drama-drama yang memaparkanpergaulan beba s dalam kalangan remaja, program-program realititelevisyen, serta rancangan-rancangan yan g bersifat hiburan semata-mata mempengaruhi para remaja dengan perkara yang tidak baik. Umpamanya corak pergaulan remaja yang jauh dari nilai-nilai ketimuran,cara berpakaian yang kurang sopan dan gaya hidup yang mengikut carabarat. Terdapat juga unsurunsur lucah dan mengghairahkan terdapatdengan mudah dipasaran sama ada dalam bentuk bercetak, CD, ataulain-lain selain dari itu bahan media ini mudah diperolehi.

2.2.2. Cara Menanggulangi Kebajatan Moral Menurut Ajaran Islam Adapun, cara menaggulangi kebejatan moral menurut ajaran Islam adalah : Peranan Orangtua (Keluarga) Kedua orang tua harus memenuhi hak-hak anak dalam pendidikan agama.

1.

Agama dan akal menghukumi bahwa kedua orang tua bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Kedua orang tua harus berusaha mendidik anaknya berdasarkan program yang baik sehingga mereka tidak tersesat dan menjadi orang yang baik serta berguna bagi agamanya. Untuk sampai pada tujuan ini orang tua memiliki tugas berat yang ada di pundaknya. Langkah pertama yang harus dijalankan oleh kedua orang tua adalah menjaga kesehatan dan kebersihan jasmani anak-anak, kemudian baru mendidik mereka mengenai prinsip-prinsip moral dan akhlak. Kedua orang tua hendaknya mendidik anaknya sehingga mereka dalam segala perilakunya berasaskan ajaran agama dan keimanan kepada Allah yang

Esa. Rasulullah saw bersabda: setiap anak dilahirkan berdasarkan fitrah (beragama Islam) kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi atau Nasrani. 13 (Q.S.al-Tahrim/66 : 6) (6) Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Dalam lingkungan sosial anak-anak akan menghadapi pelbagai macam kesulitan dan ketidakstabilan sosial. Jelas, mereka akan menghadapi pelbagai macam karakter manusia dengan adat istiadatnya yang berbeda-beda, bahkan mereka akan juga menghadapi pelbagai macam penyimpangan sosial. Oleh karenanya untuk menjaga mereka dari pelbagai penyelewengan, mereka memerlukan ciri-ciri kejiwaan dan moralitas, dan ini adalah tugas kedua orang tua yang harus menyiapkan fondasinya. 2. Kedua orang tua harus mewujudkan lingkungan keluarga yang hangat dan menghadapi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang Para psikolog mengatakan bahwa salah satu faktor utama kekacauan jiwa pada anakanak adalah ketidakharmonisan keluarga dan perselisihan rumah tangga. Oleh karenanya ketika anak mengalami kekacauan jiwa ia akan melampiaskannya kepada penyimpangan sosial bahkan ia akan melakukan apa saja. Sebaliknya jika lingkungan keluarga penuh dengan kasih sayang dan keakraban anak akan mampu menjaga kestabilan jiwanya. Sebagaimana anak sejak lahir membutuhkan makanan yang sehat ia juga membutuhkan makanan lain yaitu ketenangan jiwa.[9] Anak-anak yang tidak mendapatkan ketenangan jiwa ia akan mengalami kegelisahan, ia tidak percaya diri dan akan mencari tempat lain untuk berlindung. Untuk mencegah hal tersebut kewajiban kedua orang tua adalah menjaga

lingkungan keluarga tetap hangat dan harmonis. Anak-anak membutuhkan perlindungan dan kasih sayang kedua orang tuanya, lebih-lebih jika anak dalam masa pertumbuhan (balig). Dalam masa yang cukup sensitif ini orang tua yang berakal akan berperan sebagai teman 14 akrab bagi anaknya dan dengan pengalaman dan pikiran jangka panjangnya mereka menjaga si anak hingga jangan sampai terjerumus ke dalam penyimpangan sosial. Jika hubungan antara ayah dan anak atas dasar ancaman dan paksaan maka dengan berjalannya waktu hubungan keduanya akan merenggang. Anak-anak yang hidup dalam kondisi tertekan dengan sendirinya mereka akan mencari pelampiasan kepada orang lain bahkan mereka akan melarikan diri dari rumahnya. Maka kewajiban kedua orang tua di hadapan pelbagai macam penyimpangan sosial adalah meneliti dengan baik faktor-faktor yang berperan dalam menyebarluaskan serangan budaya negatif dan penyimpangan sosial, serta menjelaskannya kepada anak-anak tentang beragam bentuk penyimpangan sosial. Dengan pelbagai bentuk penyimpangan yang ada, orang tua bisa menjaga anaknya dengan memperkuat rasa percaya diri dan kelayakan diri, serta kebanggaan beragama dan nasionalisme, dan juga kebebasan dan kemandirian pada diri mereka dengan cara menghormati dan menghargai mereka.

Ayat dan hadist tentang suruhan memperlakukan anak dengan lembut dan kasih sayang :

Artinya : Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al Imran : 134) Sungguh Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala urusan (HR. Bukhari) 3. Membiasakan Anak-anak dengan Nilai-nilai Spiritual.

Dalam

teks-teks

agama,

iman

merupakan

inti

kecenderungan

dalam

mempertimbangkan agama, yang pada hakikatnya ia juga kunci pokok kesalehan. Sedang keluarga adalah tempat yang paling awal dalam membentuk manusia. Keluargalah yang 15 menetapkan iman sebagai timbangan dalam perjalanan hidupnya sehingga akan memunculkan manusia-manusia yang beriman. Iman tampak dalam tiga aspek dasar agama yaitu usuluddin, furuuddin, dan akhlak. Kembali kepada peran kedua orang tua dalam menjaga anak-anak di hadapan penyelewengan sosial, maka kedua orang tua, dituntut untuk bisa menjalankan ketiga aspek dasar ini dalam kehidupan diri dan anak-anaknya, dan juga membiasakan anak-anak dengan nilai-nilai spiritual. Tentunya nilai-nilai spiritual agama ini harus dijalankan dalam lingkungan keluarga sesuai dengan tahap pertumbuhan mereka seperti beramanat, kesucian, mengajak kepada kebaikan, menjaga hak-hak orang lain, tingkah laku yang baik yang merupakan bagian dari akhlak norma sosial dan norma pribadi seperti ketakwaan, menjaga diri, taubat, kemuliaan diri, dan ikhlas serta hubungan manusia dengan Tuhannya seperti marifat, keyakinan, harapan, tawakal, ibadah, zikir, syukur, membaca dan memikirkan ayat-ayat al-Quran, baik sangka kepada Allah dan hubungan manusia dengan akhirat seperti: yakin akan kehidupan setelah mati, yakin dengan akibat perbuatan dan masalah keluarga seperti menghormati dan menyayangi kedua orang tua, membentuk rumah tangga, hubungan dengan famili dan sebaginya.

Menurut Al-Quran juga disebutkan dalam Tafsir Surah Al - Insyirah Artinya: 1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad ) ? Tafsir : Kalimat Melapangkan Dada dalam bahasa arab biasanya digunakan untuk menggambarkan kelapangan dan kekuatan jiwa dalam berbuat atau berbicara berdasarkan hal ini bisa kita tafsirkan bahwa ayat ini membicarakan tentang Kelapangan Dada dalam arti bahwa Allah SWT telah memberikan kekuatan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menemukan kebenaran ,kearifan , dan kelapangan hati untuk memanfaatkan orang yang berbuat dzalim kepada nya serta kekuatan dalam menghadapi gangguan gangguan orang lain . Jadi ,yang

dimaksud dengan Bukan kah kami telah melapangkan dadamu ( Muhammad ) ? adalah Allah SWT telah membuktikan Nabi SAW untuk menerima cahaya ilahi sehingga beliau memiliki kearifan , mempunyai kelapangan hati untuk menghadapi berbagai kesulitan , serta memahami 16 hakikat kehidupan .Ini merupakan modal yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan . Siapapun yang memiliki hal ini , tentu akan merasakan keberuntungan dalam kehidupan dunia dan akhirat . Artinya : 2. 3. Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu Yang memberatkan punggungmu

Tafsir : Kedua ayat ini mengisyaratkan bahwa Nabi SAW , pernah merasakan beban yang sangat berat dalam kehidupan ini . Beban terberat Nabi SAW ketika umat nya berada dalam kedzaliman . Oleh karena itu , Nabi Muhammad SAW sering menyindiri di Gua Hira untuk berkontemplasi (merenung ) . Beliau berpikir keras untuk mencari jalan keluar bagaimana cara menanggulangi keadaan umatnya yang penuh dengan kebejatan moral . Maka , di tengah menghadapi beban yang berat itu , Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk memberikan wahyu kepadanya . Dengan wahyu Allah lah Nabi SAW memdapatkan pencerahan pencerahan tentang bagaimana menanggulangi umatnya yang di liputi ke dzaliman dan kebejatan moral .

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Di era modern sekarang ini kebejatan moral merupakan salah satu hal yang paling dikhawatirkan akan dapat mengikis berlangsungnya kehidupan yang yang aman dan sejahtera. Moral sendiri adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Salah satu bentuk kebejatan moral yang marak terjadi adalah perzinahan. Terjadinya kebejatan moral ini bukan dilain disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah perasaan ingin tahu dan ingin mencoba, pengaruh rekan sebaya dan pengaruh media massa. Peran agama dengan nilai-nilai moralnya amat diperlukan dalam kehidupan manusia untuk menanggulangi bejatan. Adapun cara menaggulangi kebejatan moral menurut ajaran Islam diantaranya kedua orang tua harus memenuhi hak-hak anak dalam pendidikan agama, kedua orang tua harus mewujudkan lingkungan keluarga yang hangat dan menghadapi anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, serta membiasakan anak-anak dengan nilai-nilai spiritual.

17 DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran Allan, A. Khalid, dkk. (2005). Al-Quran dalam Keseimbangan Alam dan Kehidupan, Jakarta: Gema Insani.

Arkoun, Muhammed. (2001). Islam Kontemporer: Menuju Dialog antar Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hakim, A Husnul. (2011). Mengintip Takdir Ilahi: Mengungkap makna sunnatullah dalam al-Quran, Depok: Lingkar Studi al-Quran ()

Muis, Andi Andul. (2001). Komunikasi Islam, Bandung: PT Remaja Setia. Saefuddin, AM. (2010). Islamisasi Sains dan Kampus, Jakarta: PT PPA Consultans Syaefuddin, AM. (1987). Wawasan Kebudayaan Islam dalam Mewujudkan Tata Sosial yang Maju, dalam Perspektif Islam dalam Pembangunan Bangsa, Yogyakarta: PL2PM.

Hasrul.

2013.

Rekonstruksi

Moral

Menuju

Masyarakat

Ideal

pada

http://rul-

sq.blogspot.com/2013/02/rekonstruksi-moral-umat-menuju.html [9 April 2013].

18