Anda di halaman 1dari 34

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Dasar Bayi Berat Lahir Rendah 2.1.

1 Definisi BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gam (Depkes RI, 2005). BBLR adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 tanpa memandang usia gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004). BBLR adalah bayi yang baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gr (sampai dengan 2499 gr) (Sarwono, 2002). Berat badan lahir rendah didasarkan pada berat badan itu sendiri dan tidak mempertimbangkan usia gestasi bayi. Demikian juga definisi usia gestasi mengabaikan segala pertimbangan tentang berat badan lahir (Fraser, 2009). BBLR adalah bayi baru lahir dengan berat badan lahir < 2500 gram. Dahulu bayi baru lahir dengan berat badan lahir < 2500 gram disebut premature. Untuk mendapatkan keseragaman pada kongres European Perinatal Medicine Ke II Di London (1970) telah disusun definisi sebagai berikut: (Depkes RI) 1. Bayi kurang bulan 2. Bayi cukup bulan 3. Bayi lebih bulan : bayi dengan masa kehamilan < 37 minggu. : bayi dengan masa kehamilan 37 minggu 42 minggu. : bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih.

Dengan pengertian diatas maka bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu premature dan dismaturitas. 2.1.2 Klasifikasi Kategori berat badan lahir rendah adalah : 1) Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan di bawah 2500 gram pada saat lahir. 2) Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) adalah bayi dengan berat badan di bawah 1500 gr pada saat lahir. 3) Bayi dengan berat badan lahir ekstrem rendah (BBLER) adalah bayi dengan berat badan di bawah 1000 gr pada saat lahir.

Menurut usia gestasi : 1) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauterin normal pada saat lahir : mereka kecil karena persalinan dimulai sebelum akhir 37 minggu gestasi. Bayi prematur ini tumbuh sesuai usia gestasi mereka (SMK) 2) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauterine lambat dan yang dilahirkan aterm atau lebih dari aterm: bayi aterm atau post term ini pertumbuhannya kurang untuk usia gestasi. Mereka kecil untuk masa kehamilan (KMK) 3) Bayi dengan pertumbuhan intrauterine lambat dan sebagai tambahan yang dilahirkan sebelum aterm : bayi prematur ini kecil, baik kar na persalinan dini maupun pertumbuhan intrauterin yang terganggu. Mereka kecil untuk masa kehamilan dan bayi prematur. 4) Bayi yang dianggap besar untuk masa kehamilan (LGA) di berat badan berapapun bila mereka berada di atas 90 persentil. 2.1.3 Etiologi Pertumbuhan janin diatur oleh faktor maternal, plasenta dan janin serta merupakan gabungan mekanisme genetik dan pengaruh lingkungan yang mengeskspresikan potensi pertumbuhan. Mekanisme yang tampak membatasi pertumbuhan janin sifatnya multifaktorial (Fraser, 2009). Namun penyebab terbanyak terjadinya bayi BBLR adalah kelahiran prematur. Semakin muda usia kehamilan semakin besar resiko jangka pendek dan jangka panjang dapat terjadi (Proverawati, 2010). Berikut adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan bayi BBLR: 1) Faktor ibu (1) Gizi saat hamil yang kurang Berat ibu sebelum hamil dan pertambahan berat badan ibu selama hamil mempengaruhi pertumbuhan janin. ibu dengan berat badan kurang seringkali melahirkan bayi yang berukuran lebih kecil daripada ibu dengan berat badan normal atau berlebihan. Selama embriogenesis status nutrisi ibu memiliki efek terhadap proses pertumbuhan janin dan dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia, intra partum (mati dalam kandungan) lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Hal ini karena kebanyakan wanita memiliki cukup simpanan nutrisi untuk embrio yang tumbuh lambat. Meskipun demikian, pada fase pertumbuhan trimester ketiga saat hipertrofi seluler janin dimulai,

kebutuhan nutrisi janin dapat melebihi persediaan ibu jika masukan nutrisi ibu rendah (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008). (2) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun Berat badan lahir rendah juga berkolerasi dengan usia ibu. Persentase tertinggi bayi dengan berat badan lahir rendah terdapat pada kelompok remaja dan wanita berusia lebih dari 40 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah, ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain. Kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu muda berusia kurang dari 20 tahun. Remaja seringkali melahirkan bayi dengan berat lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat memengaruhi janin intra uterin dan dapat menyebabkan kelahiran BBLR. Faktor usia ibu bukanlah faktor utama kelahiran BBLR, tetapi kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang berusia di luar usia 20 sampai 35 tahun. (3) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (4) Paritas Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin sehingga melahirkan bayi dengan berat lahir rendah dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. (5) Penyakit menahun ibu

Asma bronkiale Pengaruh asma pada ibu dan janin sangat tergantung dari sering dan beratnya serangan, karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen (O2) atau hipoksia. Keadaan hipoksia bila tidak segera diatasi tentu akan berpengaruh pada janin, dan sering terjadi

keguguran, persalinan premature atau berat janin tidak sesuai dengan usia kehamilan (gangguan pertumbuhan janin).

Infeksi saluran kemih dengan bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik): Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kira 2 10%, dan dipengaruhi oleh paritas, ras, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklampsia. Hipertensi Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan persalinan, hipertensi dalam kehamilan menjadi penyebab penting dari kelahiran mati dan kematian neonatal. Ibu dengan hipertensi akan menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta, hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran prematur. Hipertensi pada ibu hamil merupakan gejala dini dari pre-eklamsi, eklampsi dan penyebab gangguan pertumbuhan janin sehingga menghasilkan berat badan lahir rendah.

(6) Gaya hidup Konsumsi obat-obatan pada saat hamil: Peningkatan penggunaan obat-obatan (antara 11% dan 27% wanita hamil, bergantung pada lokasi geografi) telah mengakibatkan makin tingginya insiden kelahiran premature, BBLR, defek kongenital, ketidakmampuan belajar, dan gejala putus obat pada janin (Bobak, 2004). Konsumsi alkohol pada saat hamil: Penggunaan alkohol selama masa hamil dikaitkan dengan keguguran (aborsi spontan), retardasi mental, BBLR dan sindrom alkohol janin. 2) Faktor kehamilan (1) Komplikasi kehamilan

Pre-eklampsia/ Eklampsia: Pre-eklampsia/ Eklampsia dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan janin dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini disebabkan karena Preeklampsia/Eklampsia pada ibu akan menyebabkan perkapuran di daerah plasenta, sedangkan bayi memperoleh makanan dan oksigen dari plasenta, dengan adanya perkapuran di daerah plasenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk ke janin berkurang.

Ketuban Pecah Dini Ketuban dinyatakan pecah sebelum waktunya bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban Pecah Dini (KPD) disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran yang diakibatkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan normal selaput ketuban biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap, apabila ketuban pecah dini, merupakan masalah yang penting dalam obstetri yang berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi ibu.

(2) Hamil dengan hidramnion Hidramnion atau kadang-kadang disebut juga polihidramnion adalah keadaan di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc. Gejala hidramnion terjadi semata-mata karena faktor mekanik sebagai akibat penekanan uterus yang besar kepada organ-organ seputarnya. Hidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat membahayakan ibu dan anak. Prognosis anak kurang baik karena adanya kelainan kongenital, prematuritas, prolaps funikuli dan lain-lain. (3) Hamil ganda Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan daripada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30 minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal. Setelah itu, kenaikan berat badan lebih kecil, mungkin karena regangan yang berlebihan menyebabkan peredaran darah plasenta mengurang. Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan daripada janin kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram. Suatu faktor penting dalam hal ini ialah kecenderungan terjadinya partus prematurus. (4) Pendarahan antepartun Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga mejelang persalinan yaitu sebelum bayi dilahirkan (Saifuddin, 2002). Komplikasi utama dari perdarahan antepartum adalah perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan ibu semakin buruk. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan ke plasenta yang mengakibatkan anemia pada janin bahkan terjadi syok intrauterin yang mengakibatkan kematian janin intrauterin (Wiknjosastro, 2009 : 365). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan lahir rendah, sindrom gagal

napas dan komplikasi asfiksia. 3) Faktor janin (1) Cacat bawaan (kelainan kongenital) Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa kehamilannya. Bayi Berat Lahir Rendah dengan kelainan kongenital yang mempunyai berat kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya. (2) Infeksi dalam rahim Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau berkurang. Oleh karena itu, pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau persalinan prematuritas dan kematian janin dalam rahim. Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap janin. Infeksi ini dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat bawaan dan kematian janin. 2.1.4 Patofisiologi Terdapat banyak faktor penyebab pertumbuhan intrauterine, yang disebut juga Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) dan efeknya terhadap janin bervariasi sesuai dengan cara dan lama terpapar serta saat pertumbuhan janin saat penyebab tersebut terjadi. Malnutrisi maternal Penurunan ekspansi pembuluh darah Peningkatan curah jantung yang tidak adekuat Penurunan aliran darah plasenta Penurunan ukuran plasenta (Dikutip dari Bobak, 2004:207) Aliran nutrisi, O2 dan plasenta memegang peranan penting untuk dapat mencukupi segala kebutuhan sehingga tumbuh kembang janin dapat sesuai dengan umur kehamilan. Berat lahir memiliki hubungan yang berarti dengan berat plasenta maupun luas permukaan villus Penurunan transfer nutrien Retardasi pertumbuhan janin

plasenta. Aliran darah uterus, juga transfer oksigen dan nutrisi plasenta dapat berubah pada berbagai penyakit vaskular yang diderita ibu. Disfungsi plasenta yang terjadi sering berakibat gangguan pertumbuhan janin. Dua puluh lima sampai tiga puluh persen kasus gangguan pertumbuhan janin dianggap sebagai hasil penurunan aliran darah uteroplasenta pada kehamilan dengan komplikasi penyakit vaskular ibu. Keadaan klinis yang lain yang juga melibatkan aliran darah plasenta yang buruk meliputi kehamilan ganda, penyalahgunaan obat, penyakit vaskular (hipertensi dalam kehamilan atau kronik), penyakit ginjal, penyakit infeksi (TORCH), insersi plasenta umbilikus yang abnormal, dan tumor vaskular (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2008:16). 2.1.5 Diagnosis dan Gejala Klinik 1) Sebelum bayi lahir a. b. c. d. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, portus prematurus dan lahir mati Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lamat walaupun kehamilannyasudah agak lanjut Sering dijumpai dengan kehamilan augohidramnion, hidramnion, hieremsis grandarum 2) Setelah bayi lahir a. Bayi dengan retardsi pertumbuhan intrauterin b. Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu c. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat tubuhnya (Mochtar Rustam, 1998) 2.1.6 Gambaran BBLR

Sebagai gambaran umum dapat dikemukakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah mempunyai karakteristik : 1. Berat kurang dari 2500 gram. 2. Panjang kurang dari 45 cm. 3. Lingkar dada kurang dari 30 cm. 4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.

5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. 6. Kepala relatif lebih besar. 7. Kulit : tipis transparan, rambut lanugo banyak, lemak kulit kurang. 8. Otot hipotonik-lemah. 9. Pernafasan tak teratur dapat terjadi apnea (gagal nafas0. 10. Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut/kaki, fleksi lurus. 11. Kepala tidak mampu tegak. 12. Pernafasan sekitar 45 sampai 50 kali per menit. 13. Frekuensi nadi 100 sampai 140 kal per menit. (Manuaba, 1998) Prematuritas murni 1. BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm 2. Masa gestasi < 37 minggu 3. Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin 4. Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar 5. Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun. 6. Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna 7. Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat 8. Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik 9. Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah 10. Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik 11. Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna Dismaturitas 1. Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada, 2. Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis 3. Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat 4. Tali pusat berwarna kuning kehijauan

2.1.

7 Masalah yang terjadi pada BBLR Masalah lebih sering dijumpai pada Bayi Kurang Bulan dan BBLR dibanding dengan

Bayi Cukup Bulan dan Bayi Berat Lahir Normal. Bayi kurang bulan sering mempunyai masalah sebagai berikut (Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010): 1. a. b. c. d. badan. e. Kemampuan metabolisme panas masih rendah, sehingga bayi dengan berat badan lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar 360C sampai 370C. 2. Pernafasan a. Pusat pengatur pernafasan belum sempurna. b. Surfaktan paru-paru masih kurang, sehingga perkembangannya tidak sempurna. c. Otot pernafasan dan tulang iga lemah. d. Dapat disertai penyakit : penyakit hialin membran, mudah infeksi paru-paru, gagal pernafasan. 3. a. b. c. pnemonia. 4. Hepar yang belum matang (immatur) Mudah menimbulkan gangguan pemecahan bilirubin, sehingga mudah terjadi hiperbilirubinemia (kuning) sampai kern ikterus. 5. Ginjal masih belum matang (immatur) Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga mudah terjadi edema. Alat pencernaan makanan Belum berfungsi sempurna, sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah/kurang baik. Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna, sehingga pengosongan lambung kurang. Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi Suhu tubuh Pusat mengatur nafas badan masih belum sempurna. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah. Otot bayi masih lemah. Lemak kulit dan lemak coklat kurang, sehingga cepat kehilangan panas

6.

Perdarahan dalam otak a. Pembuluh darah bayi masih rapuh, dan mudah pecah. b. Sering mengalami gangguan pernafasan, sehingga memudahkan terjadi perdarahan dalam otak. c. Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi. d. Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis.

Masalah potensial yang cenderung timbul pada BBLR adalah 1) Apnea : Penghentian napas selama 20 detik atau lebih lama, atau kurang dari 20 detik jika disertai sianosis dan bradikardia. Henti napas ini diperkirakan terutama sebagai hasil ketidakmaaturan neuronal, suatu faktor yang memberi andil terhadap kecenderungan terjadinya ketidakteraturan pola napas pada bayi pretem. 2) 3) Patent Ductus areteriosus : kegagalan penutupan duktus arteriosus disebabkan oleh penurunan sistem oto pada arteriola paru dan hipoksemia Sindrom kegawatan pernapasan (Respiratory Distress Syndrome) : kegawatan pernapasan merupakan akibat dari ketidakadekuatan produksi surfaktan. Pembentukan surfaktan paru bayi IUGR tidak terlalu berhasil sehingga dapat menimbulkan gangguan dilatasi alveolus paru saat pernapasan pertama. Oleh karena itu, resusitasi sangat menentukan keberhasilan perkembangan paru. 4) Perdarahan intraventikular : hingga usia 35 minggu ventrikel otak bayi preterm dibatasi oleh matriks germinal yang sangat tinggi kerentanannya terhadap terjadinya hipoksia. Matriks germinal sangat banyak memiliki pembuluh darah dan pembuluh darah ini akan ruptur bilamana terjadi hipoksia. 5) Hipokalsemia : bayi preterm mengalami kekurangan jumlah kalsium, sekunder akinat kelahiran awal dan kebutuhan pertumbuhan. Terjadi gangguan kelenjar hipotiroid, dan dapat menambah beratnya asidosis sehingga terjadi kerusakan berantai yang akhirnya dapat terjadi henti jantung bayi. 6) Hipoglikemia : bayi preterm yang cadangan lemak coklat dan glikogennya menurun, serta kebutuhan metabolismenya meningkat, merupakan faktor predisposisi bayi mengalami hipoglikemia. Cadangan glukosa pada hati rendah sehingga ada kemungkinan sudah habis saat dipergunakan dalam proses persalinan. Apabila

keadaan hipoglikemi berlanjut, dapat terjadi asidosis metabolik yang dapat merusak susunan saraf pusat. 7) Hipotermia Hal ini disebabkan cadangan lemak coklat pada bayi IUGR rendah, yang akan segera dimetabolisme untuk menimbulkan energi dan mengimbangi hilangnya panas tubuh. 8) Anemia preterm : bayi preterm beresiko anemia karena laju pertumbuhannya cepat. Masa hidup sel darah merah lebih pendek pengambilan darah berlebihan untuk tujuan pengujian, penurunan cadangan zat Fe dan defisiensi vitamin E. 9) Hiperbilirubinemia : Fungsi enzim hepatik yang belum matang dapat menurunkan konjugasi bilirubin, sehingga menghasilkan peningkatan kadar bilirubin. Infeksi : bayi preterm lebih rentan terhadap infeksi daripada bayi aterm. Respons imunitas neonatus diperlukan saat kehamilan trimester terakhir. Sehingga byi preterm jumlah antibodinya telah berkurang, untuk fungsi mekanisme perlindunga mencukupi. (Patrecia, Marcia, Sally, 2006). 2.1.8 Penanganan BBLR 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. a. b. c. d. evaporasi. 8. 9. Pemberian nutrisi yang adekuat Menjelaskan pada ibu (orang tua) pentingnya : a. Pemberian ASI. Membersihkan jalan nafas. Memotong tali pusat dan perawatan tali pusat. Membersihkan badan bayi dengan kapas dan baby oil. Memberikan obat mata. Membungkus bayi dengan kain hangat. Pengkajian keadaan kesehatan pada bayi dengan BBLR. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan cara : Membungkus bayi dengan menggunakan selimut bayi yang dihangatkan terlebih dahulu. Menidurkan bayi didalam inkubator. Suhu lingkungan bayi harus dijaga. Badan bayi harus dalam keadaan kering untuk mencegah terjadinya yang

b. Makanan bergizi bagi ibu. 10. Observasi keadaan umum bayi selama 3 hari. (Depkes RI, 2005) Penanganan pada BBLR (Manuaba, 2007 dan Sarwono, 2002) : 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi Bayi prematuritas akan cepat kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah, dan permukaan badan relatif luas. Oleh karena itu, bayi prematuritas harus dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim. Bayi dengan BBLR dirawat dalam inkubator. Inkubator yang baik dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan kelembaban agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya dengan normal, alat oksigen yang dapat diatur serta kelengkapan lain untuk mengurangi kontaminasi bila inkubator dibersihkan. Suhu inkubator yang optimum diperlukan agar panas yang hilang dan konsumsi oksigen terjadi minimal sehingga bayi telanjangpun dapat mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 36.5 -37oC. Selain itu bayi juga membutuhkan pleksiglas penahan panas atau topi maupun pakaian. Bila belum memiliki inkubator, bayi prematuritas dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol yang berisi air panas atau menggunakan metode kangguru yaitu perawatan bayi baru lahir seperti bayi kanguru dalam kantung ibunya. Caranya: Bayi diletakkan dalam dekapan ibu dengan kulit menyentuh kulit, posisi bayi tegak, kepala miring ke kiri atau ke kanan. Cara cara diatas dilakukan agar panas badan bayi dapat dipertahankan. 2. Pengawasan Nutrisi atau ASI Alat pencernaan bayi premature masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pecernaan belum matang. Sedangkan kebutuhan protein 3 sampai 5 gr/ kg BB (Berat Badan) dan kalori 110 gr/ kg BB, sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Reflek menghisap masih lemah, sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi dengan frekuensi yang lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling utama, sehingga ASIlah yang paling dahulu diberikan. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan yang diberikan sekitar 200 cc/ kg/ BB/ hari.

3.

Pencegahan Infeksi Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih kurang, dan pembentukan antibodi belum sempurna. Oleh karena itu, upaya preventif dapat dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas / BBLR. Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik. Bayi BBLR tidak boleh kontak dengan penderita infeksi dalam bentuk apapun. Digunakan masker, baju khusus dalam penaganan bayi, perawatan luka tali pusat, perawatan mata, hidung, kulit, tindakan aseptis dan antiseptik alat-alat yang digunakan, isolasi pasien, jumlah pasien dibatasi, rasio perawat pasien ideal, mengatur kunjungan, menghindari perawatan yang terlalu lama, mencegah timbulnya asfiksia.

4.

Penimbangan Ketat Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat.

5.

Pemberian Oksigen Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30-35% dengan menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan.

6. Pengawasan jalan nafas Bayi BBLR berisiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfaktan, sehingga tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya diperoleh dari plasenta. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas segera setelah lahir, dibaringkan dalam posisi miring, pernafasan dirangsang dengan menepuk atau menjentik tumit. Jika gagal dilakukan ventilasi, intubasi endotrakheal, pijatan jantung dan pemberian oksigen dan dicegah terjadinya aspirasi. 2.1.9 Pemeriksaan Diagnostik 1. 2. Jumlah sel darah putih 18000/mm3, netrofil meningkat sampai 23000- 24000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis) Hematokrit 43%-61% (peningkatan sampai 65% atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal/perinatal

3. 4. 5. 6. 7.

Hemoglobin 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan) Bilirubin total 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari Destrosix tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata- rata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga pemantauan elektrolit (Na. K. Cl) biasanya dalam batas normal pada awalnya Pemeriksaan Analisis gas darah (Nur asnah. 2006)

2.1.10 Komplikasi 1. 2. 3. Kerusakan bernafas fungsi organ belum sempurna Pneumonia, aspirasi refleks menelan dan batuk belum sempurna Perdarahan intraventrikuler perdarahan spontan di ventrikel otal lateral disebabkan anoksia menyebabkan hipoksia otak yang dapat menimbulkan terjadinya kegagalan peredaran darah sistemik. 2.1.11 Upaya Bidan dalam Mencegaah terjadinya BBLR 1. 2. 3. 4. Mengupayakan agar melakukan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi merujuk penderita bila terdapat kelainan. Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan berat badan lahir rendah. Meningkatkan penerimaan gerakan keluarga berencana Menganjurkan lebih banyak istirahat bila kehamilan mendekati aterm atau istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari kehamilan normal. 2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) No. Register Tanggal Pengkajian Waktu Pengkajian Oleh 2.2.1 Pengkajian Data Subjektif 1. Biodata : : : :

a. Identitas anak Nama, umur, jenis kelamin, tanggal lahir. b. Identitas orang tua Nama ayah, nama ibu, umur, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat. 2. Keluhan Utama Bayi kecil (berat badan bayi lahir kurang dari 2500 gram), lahir premature atau cukup bulan, gerak tidak aktif, malas/sulit menetek. 3. 4. a. Alasan Kunjungan / MRS Rujukan dari fasilitas kesehatan lain karena keluhan pada bayi. Riwayat Obstetri Riwayat antenatal Jumlah kunjungan antenatal (Ibu dengan BBLR memiliki riwayat kunjungan antenatal yang kurang dari semestinya/tidak rutin), kenaikan BB selama hamil (gizi ibu yang kurang dapat mempengaruhi terjadinya BBLR), penyakit yang pernah diderita ibu selama hamil (DM, hipertensi, jantung, paru), konsumsi obatobatan (ini sangat berpengaruh terhadap terjadinya BBLR), riwayat hamil kembar atau hamil dengan hidramnion (karena regangan yang berlebihan menyebabkan peredaran darah plasenta mengurang dan cenderung terjadi BBLR), dan komplikasi saat hamil seperti KPP dan preeklampsia/ eklampsia (menyebabkan perkapuran di daerah plasenta sehingga suplai makanan dan oksigen ke janin berkurang). b. Riwayat natal Komplikasi saat persalinan memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya BBLR, yaitu pada kala I (perdarahan antepartum baik placenta previa maupun solusio placenta). c. Riwayat postnatal APGAR score pada neonatus, mengalami asfiksia atau tidak, adanya trauma lahir atau tidak, berat badan bayi < 2500 gram, panjang badan < 45 cm, lingkar kepala < 33 cm, lingkar dada < 30 cm 5. Riwayat Kesehatan Bayi

Pada pengkajian dapat ditemukan bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa melihat usia kehamilan (bisa aterm atau premature), gerak tidak aktif, malas/sulit menetek. 6. Riwayat Kesehatan Ibu / Orang Tua a. Asma bronkiale Asma bisa menyebabkan hipoksia pada janin dan bila tidak segera diatasi akan berpengaruh pada janin (sering terjadi keguguran, persalinan premature, dan BBLR)
b. Infeksi saluran kemih dengan bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik):

Frekuensi bakteriuria tanpa gejala kira-kira 2 10%, dan dipengaruhi oleh paritas, ras, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejadian bakteriuria dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan, persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklampsia. c. Hipertensi Hipertensi menyebabkan terjadinya insufisiensi plasenta dan hipoksia sehingga pertumbuhan janin terhambat dan sering terjadi kelahiran prematur. Hipertensi pada ibu hamil merupakan gejala dini dari pre-eklamsi, eklampsi dan penyebab gangguan pertumbuhan janin sehingga menghasilkan berat badan lahir rendah. 7. Riwayat Kesehatan Keluarga Mengkaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit menurun seperti asma dan hipertensi, riwayat keluarga dengan kehamilan kembar atau premature. 8. Pola Fungsional Kesehatan a. Nutrisi Kebutuhan minum hari pertama 60cc/kg BB, selanjutnya ditambah 30cc/kg BB untuk hari berikutnya. b. Eliminasi Seperti bayi normal, BAK dan BAB maksimal 24 jam setelah lahir. c. Istirahat Bayi dengan BBLR lebih banyak istirahat/tidur. d. Aktivitas

Bayi dengan BBLR hanya merintih bila BAB, BAK, kelaparan, kedinginan dan kesakitan. e. Personal hygiene Sama seperti bayi normal.

9. a.

Psikososial Budaya Perencanaan Kehamilan yang tidak direncanakan dapat memicu ibu untuk minum obat-obatan teratogenik yang dapat mengganggu proses organogenesis dalam rahim. b. c. Perkawinan Penerimaan Orang tua yang dapat menerima kondisi bayi dengan BBLR dapat membantu tenaga medis untuk meminta persetujuan tindakan yang akan dilakukan terhadap bayi untuk kesembuhan bayi. Data Objektif

1. Tanda-Tanda Vital Suhu tubuh : BBLR rentan terjadi hipotermia karena kemampuan metabolisme panas masih rendah RR : BBLR memiliki pusat pengaturan pernafasan yang belum sempurna sehingga sering terjadi nafas cepat, dangkal, tidak teratur, dan sampai apneu. 2. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum : gerak tangis lemah b. Kulit c. Kepala d. Hidung e. Telinga f. Dada : turgor kurang elastis, jaringan lemak subkutan tipis, pembuluh darah kulit banyak terlihat : kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin, ubun-ubun dan sutura lebar : ada pernapasan cuping hidung : daun telinga lunak dan mudah membalik : ada retraksi dinding dada, rambut lunugo masih banyak, puting susu belum terbentuk dengan baik

g. Perut h. Genetalia

: pembuluh darah terlihat, peristaltic usus terdengar : genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora, klitoris menonjol (pada bayi perempuan), testis belum turun ke dalam skrutom, pigmentasi dan rugue pada skorutom kurang (pada bayi laki-laki)

i. Ekstremitas : tumit mengkilap, telapak kaki halus, rajah tangan belum sempurna j. Reflek 2. : tonus otot lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna Pemeriksaan Penunjang Darah Lengkap : BBLR rentan terjadi hipoglikemi (GDA < 40mg/dl) dan hiperbilirubin (total bilirubin >1mg/dl) 3. Riwayat Perawatan Meliputi perawatan yang dilakukan sebelum dilakukan pengkajian. 2.2.2 Identifikasi diagnosa dan masalah (interpretasi data dasar) Diagnosis Masalah : Bayi baru lahir umur ... dengan BBLR : Gangguan pola nafas, pemenuhan kebutuhan nutrisi, muntah, gangguan

termoregulasi. Kebutuhan : Langkah ini diambil berdasarkan diagnosa atau masalah yang telah ditemukan berdasarkan data yang ada kemungkinan menimbulkan keadaan yang gawat. 2.2.3 Identifikasi diagnosa dan masalah potensial Apneu, hipoglikemi, hipotermia, hiperbilirubin. 2.2.4 Kebutuhan tindakan segera 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi (membungkus bayi dengan kain dan topi, meletakkan bayi di dalam inkubator, dan menganjurkan ibu untuk melakukan metode kangguru). 2. Pemberian oksigen (nasal). 3. Pengawasan jalan nafas karena berisiko mengalami serangan apneu.

2.2.5

Perencanaan komprehensif Di BPS 1. Keringkan secepatnya dengan handuk kering dan bersih 2. Handuk diganti dengan kain yang kering dan bersih agar tetap hangat 3. Langsung dilakukan kontak kulit bayi dengan ibu 4. Berikan penghangatan yaitu sinar lampu 60 watt 5. Berikan oksigen nasal 6. Pakaikan topi pada kepala bayi terutama ubun-ubun besar untuk mengurangi evaporasi 7. Tali pusat dijepit, dipotong, diikat, lalu dibungkus kasa steril kering, lalu dijaga tetap bersih 8. Berikan ASI bila bayi bisa menelan, bila bayi tidak bisa menelan segera rujuk. Di RS 1. Sama dengan perawatan di BPS 2. Lakukan kolaborasi dengan dokter Sp.A untuk kebutuhan nutrisi dan cairan, dan antibiotik. 3. Berikan asupan nutrisi (ASI) lewat sonde, pemberian dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan bayi menyerap zat-zat makanan/ASI yang diberikan 4. Ukur suhu dan respiratory rate bayi tiap 2 jam untuk deteksi dini terjadinya hipotermi dan apneu 5. Lakukan pemantauan kenaikan berat badan dengan melakukan menimbang setiap hari. 6. Ganti popok bayi segera setelah BAK/BAB untuk menghindari bayi dari kehilangan panas

2.2.6

Implementasi Implementasi merupakan pelaksanaan asuhan kebidanan yang diberikan kepada bayi sesuai dengan keadaan/kebutuhan mengacu pada planning.

2.2.7

Evaluasi Evaluasi merupakan hasil yang diperoleh dari rencana asuhan kebidanan yang sudah

diterapkan pada bayi.

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian - Identitas Bayi Meliputi : nama bayi, jenis kelamin, tanggal lahir, BB/PB, Apgar Score. Pada BBLR, berat badan < 2500 gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm, lingkar kepala sama dengan atau kurang dari 33 cm, lingkar dada sama dengan atau kurang dari 30 cm. - Pengkajian Fisik Neonatus 1. Rambut lunugo masih banyak. 2. Jaringan lemak subkutan tipis atau kurang. 3. Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya. 4. Tumit mengkilap, telapak kaki halus. 5. Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora, klitoris menonjol (pada bayi perempuan). Testis belum turun ke dalam skrutom, pigmentasi dan rugue pada skorutom kurang (pada bayi laki-laki). 6. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakannya lemah. 7. Fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemah. 8. Jaringan kelenjar mammae masih kurang akibat pertumbuhan otot dan jaringan lemak masih kurang. 9. Verniks kaseosa tidak ada atau sedikit bila ada. - Identitas Orang Tua Meliputi nama ibu dan ayah, pekerjaan, pendidikan, alamat. Pada kasus BBLR,status ekonomi dan sosial dari orang tua dapat mempengaruhi, terkait dengan gizi ibu, tradisi/kebiasaan ibu. - Riwayat Pranatal Yang perlu dikaji pada kasus BBLR yaitu: jumlah kunjungan antenatal (Ibu dengan BBLR memiliki riwayat kunjungan antenatal yang kurang dari semestinya/tidak rutin), kenaikan BB

selama hamil (gizi ibu yang kurang dapat mempengaruhi terjadinya BBLR), penyakit yang pernah diderita ibu selama hamil (DM, hipertensi, jantung, paru) dan konsumsi obat-obatan (ini sangat berpengaruh terhadap terjadinya BBLR). - Riwayat Intranatal Komplikasi saat persalinan memiliki kaitan yang erat dengan terjadinya BBLR. Kala I : perdarahan antepartum baik placenta previa maupun solusio placenta. Lama persalinan, keadaan cairan ketuban, dan mekonium. - Catatan Monitoring Fetus Pada bayi dengan berat lahir rendah sangat rentan terhadap infeksi maupun penyakit lainnya, maka diperlukan monitoring seperti analisa gas darah, pola FHR (fetal heart rate). - Riwayat Postnatal APGAR score pada neonatus, mengalami asfiksia atau tidak, adanya trauma lahir atau tidak, berat badan bayi yang kurang dari 2500 gram. 2. Diagnosis Keperawatan a. Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas paru b. Resiko tinggi termoregulasi b.d imaturnya susunan saraf pusat (ketidakmampuan merasakan dingin atau berkeringat) c. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kelemahan (ketidakmampuan untuk menyusu) 3. Intervensi Diagnosa Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas paru Tujuan Pola nafas efektif . Dalam 1x24 jam Kriteria Hasil : HR 140-160x/mnt - RR 40-60 x/mnt Sianosis (-) Intervensi 1. Observasi pola Nafas. R/membantu dalam membedakan periode perputaran pernapasan normal dan serangan apneu. 2. Bersihkan jalan napas R/ menghilangkan secret yang menyumbat 3. Posisikan sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu memakai kain R/ melancarkan aliran napas 4. Monitor dengan teliti hasil pemeriksaan gas darah. R/hipoksia, asidosis metabolic, hipoglikemia dapat memperberat serangan apnetik. 5. Beri O2 sesuai program dokter dan observasi respon terhadap oksigen R/perbaikan kadar Oksigen dapat

Resiko tinggi termoregulasi tidak efektif b.d SSP imatur

Termoregulasi menjadi efektif dalam 1x24 jam Kriteria hasil: - Tanda-tanda vital dalam batas normal (suhu 36,5-37,5) - CRT < 3 dtk - Akral hangat - Tidak terdapat syanosis

Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kelemahan (ketidakmampuan untuk menyusu)

Nutrisi tubuh terpenuhi dalam 3x24 jam Kriteria hasil : Reflek hisap dan menelan baik Muntah (-) Kembung (-) Berat badan meningkat 15 gr/hr Turgor elastis.

meningkatkan fungsi pernapasan 6. Atur ventilasi ruangan tempat perawatan klien. R/ perbaikan sirkulasi oksigen 1. Observasi suhu R/ hipotermi cenderung membuat bayi stress karena dingin 2. Tempatkan bayi dalam incubator/couve R/membantu mempertahankan lingkungan termonetral 3. Pantau system pengaturan suhu R/ hipotermi dapat meningkatkan laju metabolism kebutuhan oksigen, glukosa, dan kehilangan air. 4. Perhatikan perkembangan takikardi, kemerahan, letargia, apneu, kejang R/ tanda-tanda hipertermia dapat berlanjut pada kerusakan otak. 5. Pantau hasil pemeriksaan Laboratorium (GDA, Bilirubin) R/stress dingin meningkatkan kebutuhan glukosa dan oksigen . Peningkatan kadar bilirubin indirek dapat terjadi. 1. Observasi intake dan output. R/memberikan informasi tentang masukan actual dalam hubungan dengan perkiraan kebutuhan untuk penyesuaian diet 2. Observasi reflek hisap dan menelan. R/menentukan metode pemberian makanan yang tepat 3. Beri minum sesuai program R/mencegah hipoglikemi dan dehidrasi 4. Monitor tanda-tanda intoleransi terhadap nutrisi parenteral. R/pemberian cairan IV diperlukan tetapi perlu hati-hati untuk menghindari kelebihan cairan 5. Kaji kesiapan ibu untuk menyusui. R/memenuhi kebutuhan ASI serta mendekatkan ibu dan anak 6. Timbang BB setiap hari R/ mengidentifikasi adanya resiko terhadap pola pertumbuhan

4. Implementasi Merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan, mencakup tindakan mandiri maupun kolaboratif.

Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasar anlisis dan kesimpulan perawat. Tindakan kolaboratif adalah tindakan keperawatan yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter maupun tenaga kesehatan lainnya. 5. Evaluasi Merupakan hasil perkembangan yang telah dicapai. BAB III TINJAUAN KASUS Pengkajian Tanggal : 21 November 2012 Jam Oleh : 21.00 wib : Mely Dwitasari Tadjang No. Register : 12.19.20.xx I. Data Subyektif 1.1 Identitas Nama Jenis kelamin Tempat lahir Umur Anak ke Nama ibu Umur Agama Suku/bangsa Pekerjaan Alamat 1.2 Keluhan Utama : 1.3 Riwayat Obstetri 1.3.1 Prenatal : merupakan kehamilan ketiga usia kehamilan 9 bulan, ibu pernah mengalami abortus satu kali pada kehamilan pertama dan persalinan premature untuk anak kedua hidup. Saat ini usia ibu 40 tahun . 1.3.2 Natal : bayi lahir secara normal, lahir tanggal 21-11-2012. : By. Ny. A.T : perempuan : VK IRD RSUD dr. Soetomo Sby : 0 hari : 3 : Ny.A.T : 40 tahun : Islam : Madura/Indonesia : Ibu Rumah Tangga : Ds. Kedundung RT 02/RW 02 Nama ayah Umur Agama Pekerjaan : Tn. K : 44 tahun : Islam : Wiraswasta

Tanggal lahir/ jam : 21 November 2012/ jam 19.45

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

1.3.3 Post natal : berat bayi baru lahir 2100 gram, bayi dirawat di nicu karena berat lahir rendah. 1.4 Riwayat Kesehatan Bayi : saat ini bayi dirawat di rs dr soetomo dikarenakan bayi berat lahir rendah. 1.5 Riwayat Kesehatan Ibu : tdak pernah/sedang menderita penyakit menular (TBC, hepatitis, AIDS) dan tidak menderita penyakit keturunan (asthma, diabetes mellitus, hypertensi). Riwayat Kesehatan Keluarga : keluarga tidak ada yang sedang/pernah menderita penyakit menular (TBC, hepatitis, AIDS) dan tidak ada yang menderita penyakit keturunan yaitu asma, kencing manis, hypertensi, serta didalam keluarganya tidak ada keturunan kembar. 1.7 Pola Fungsional Kesehatan 1.7.1 Nutrisi : PASI sebanyak 5cc, muntah (-) 1.7.2 Pola aktifitas dan gerak bayi : gerakan bayi lemah, bayi lebih banyak tertidur. 1.7.3 Pola eliminasi dan defekasi : bayi belum BAK dan BAB. 1.7.4 Pola hygiene : bayi dibersihkan dan dirawat. 1.7.5 Pola istirahat : bayi hanya tidur saja, bangun dan menangis. 1.8 Riwayat Psikososial : Ibu menikah pertama kali, lama menikah 15tahun, usia saat menikah ibu 25 tahun dan suami 29 tahun. Kehamilan ini merupakan kehamilan yang direncanakan, KB terakhir pil. Ibu dan suami tidak memiliki kebiasaan meminum jamu, merokok, minum minuman keras dll. II. Data Obyekif 2.1 Pemeriksaan Umum Suhu : 36,4 oC RR : 50 x/menit HR : 130 x/menit Antropometri PB : 46 cm, LD : 29 cm, LK : 30 cm. 2.2 Pemeriksaan Fisik KU : gerak tangis lemah, merintih (-)

Kulit Kepala Mata Hidung Mulut Telinga Dada

: warna kulit merah muda, tidak icterus, turgor elastis, akral dingin, kering, lanugo terlihat sedikit. : caput succedaneum tidak ada, cephal hematoma tidak ada. : konjungtiva merah muda, sklera mata putih, tidak ada subconjuctiva bleeding. : warna mukosa hidung merah muda, tidak ada nafas cuping hidung. : warna mulut merah muda, mukosa bibir lembab. : simetris, daun telinga lunak dan mudah membalik. : bentuk dada simetris, tidak ada retraksi. Suara nafas bersih, tidak ada ronchi/wheezing. murmur/gallop. Bunyi jantung normal reguler, tidak ada

Perut Genetalia Ekstrimitas Punggung Anus Reflek

: supel, tidak ada distensi, tidak ada pembesaran hepar/lien, terdapat bising usus. : jenis kelamin laki-laki, testis sudah turun, rugae (+). : infus (-), tidak oedema, crt < 2 detik, akral dingin, kering, lanugo terlihat sedikit. : tidak ada spina bifida, lanugo terlihat sedikit. : tidak ada atresia ani. : reflek Moro (+), reflek menggenggam baik, reflek rooting (+), reflek menghisap (+) lemah, reflek menelan (+) lemah.

2.3 Pemeriksaan penunjang Tidak dilakukan pemeriksaan lab 2.4 Data Rekam Medis Bayi Lahir di VK IRD RSUD dr. Soetomo Sby dengan diagnosa GIII P 0111 35-36 minggu TH + PPI + U 35th + Po Tua Sekunder + inpartu kala I fase laten Lahir tanggal 21 November 2012 pukul 19.45, jenis kelamin perempuan, Lahir spontan kepala, ketuban jernih, KPP (-), apgar score 6-8, BBL 2100 gram, PB 46 cm, LD 29 cm, LK 30 cm. Program Terapi Tanggal 21 November 2012 Injeksi Vit.K 1 mg IM ASI/PASI 8x21cc Rawat tali pusat dengan Tripel Dye

Thermoregulasi

III. Analisa No 1 DS: DO: - KU lemah - Suhu 36,4 oC - RR : 50x/menit - HR : 130 x/menit - Sianosis (-) - Akral dingin - Suhu ruangan 260C 2 DS:DO: Antropomentri - BBL : 2100 gram - BB sekarang : 2100 gram Biokimia - Pemeriksaan Lab belum dilakukan Klinis - Konjuctiva merah muda, crt < 2 detik, turgor elastis, Data Etiologi Prematuritas Imaturitas pengaturan suhu di otak Rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badan besar Kurangnya lemak subkutan. Cadangan lemak coklat terbatas Aktivitas massa otot tidak adekuat. Respon menggigil tidak ada/menurun Gangguan termoregulasi Prematuritas Sistem persarafan imatur, mortilitas usus rendah Daya mencerna dan mengabsorbsi makanan kurang Refleks mengisap dan menelan lemah/tidak ada Resiko gangguan nutrisi Masalah Hipotermia

reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+) Diet - PASI (+) 8x21 cc, BAB/BAK (-), muntah (-), retensi (-) IV. Diagnosa Keperawatan 1. 2. No 1. DS : DO : - KU lemah - Suhu 36,4 oC - RR : 50x/menit - HR : 130 x/menit - Sianosis (-) - Akral dingin, kering, merah - Suhu ruangan 260C Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi. Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang lemah. INTERVENSI Data Diagnosa Keperawatan Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi Tujuan: Hipotermi hilang dalam 1x2jam Kriteria Hasil: - Suhu 36,5-37,50C - Akral hangat, kulit kering, merah - HR 140-160x/mnt - Suhu ruangan BB 1500-2000 : 28-300C, BB > 2000 : 26-280C - Suhu inkubator BB < 1500 : 350C (1-10 hari) BB 1500 - 2000 : 340C (1-10 hari) BB 2100-2500 : 340C (1-2 hari), 330C (3hari-3minggu) BB > 2500 : 330C (1-2 hari), 320C (>2hari) Intervensi: 1. Observasi suhu tiap 2 jam. r/ hipotermi cenderung membuat bayi stress karena dingin 2. Hangatkan bayi dengan memberi lampu pemanas ekstra di box bayi r/ membantu mempertahankan lingkungan termonetral Intervensi

3. Tutup kepala bayi dengan topi atau kain. r/ kepala bayi merupakan permukaan terluas yang bisa mengeluarkan panas bayi. 4. Perhatikan perkembangan nadi, akral, nafas. r/ Hipotermia dapat meningkatkan laju metabolisme kebutuhan oksigen, glukosa, dan kehilangan air 5. Observasi suhu ruangan 2. DS : DO : Antropomentri - BBL : 2100 gram - BB sekarang : 2100 gram Biokimia - Pemeriksaan Lab belum dilakukan Klinis - Konjuctiva merah muda, crt < 2 detik, turgor elastis, reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+) Diet - PASI (+) 8x21 cc, BAB/BAK (-), muntah (-), retensi (-) Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang lemah r/ Suhu ruangan mempengaruhi terjadinya hipotermi. Tujuan: Nutrisi tubuh terpenuhi dalam 3x24 jam Kriteria Hasil: Antropometri - Berat badan meningkat/tetap Biokimia - Glukosa: 40-121 mg/dl - WBC : 3,40 5,00 x 103/uL - Hgb : 11,00 18,00 g/dl - Albumin : 3,4 50 gr/dl Klinis - Tidak anemis, conjunctiva merah muda - CRT < 2 detik, turgor elastis - Reflek hisap dan menelan baik Diet - Diet habis, dan cairan yang diprogramkan masuk sesuai jadwal, Muntah (-), retensi (-) Intervensi : 1. Observasi intake dan output. r/ memberikan informasi tentang masukan dalam hubungan perkiraan kebutuhan untuk penyesuaian diet. 2. Pasang sonde pada bayi r/ mempermudah pemberian nutrisi, mengontrol intake dan retensi lambung 3. Pantau pemberian nutrisi sesuai jadwal

r/ mencegah hipoglikemi serta dehidrasi dengan pemenuhan nutrisi yang baik 4. Timbang BB setiap hari r/ mengidentifikasi adanya resiko terhadap pola pertumbuhan 5. Lakukan pemeriksaan laboratorium GDA, DL, Albumin. r/ dilakukan untuk memantau kondisi biokimia bayi 6. Observasi tanda-tanda klinis bayi anemis, crt, reflek menelan dan menghisap, serta turgor kulit. r/ memantau perkembangan kondisi bayi 7. Observasi pemberian ASI/PASI sesuai jadwal, retensi, muntah, BAB dan BAK. r/ memantau pemenuhan nutrisi bayi.

IMPLEMENTASI No 1. Diagnosa Keperawatan Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi Implementasi Tgl 21-11-2012 Pkl 22.00 1. Mengobservasi suhu 2. Memberi lampu pemanas ekstra. 3. Menutup kepala bayi dengan kain. 4. Memperhatikan perkembangan nadi, akral, nafas. 5. Mengobservasi suhu ruangan/infant warmer Evaluasi Tgl 21-11-2012 Pukul 24.00 S =O = RR = 48x/menit HR = 138x/menit Suhu: 36,4o C Akral dingin, kering, merah Cyanosis (-) Suhu ruangan 26o C

A = Masalah teratasi sebagian P = Lanjutkan intervensi 1-4 Tgl 22-11-2012 Pukul 02.00 S =O =

RR = 50x/menit HR = 140x/menit Suhu: 36,2o C Akral dingin, kering, merah Cyanosis (-) Suhu ruangan 26o C

A = Masalah teratasi sebagian P = Lanjutkan intervensi 1-4 I = Bayi pindah ke infant warmer ruang mawar. Tgl 22-11-2012 Pukul 04.00 S =O = RR = 48x/menit HR = 130x/menit Suhu: 36,8o C Akral hangat, kering, merah Cyanosis (-) Suhu Infant Warmer 36o C

A = masalah teratasi 2. Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang lemah. Tgl 21-11-2012 Pkl 23.00 1. Mengobservasi intake dan output 2. Memasang sonde pada bayi 3. Memantau pemberian nutrisi sesuai jadwal 4. Menimbang BB setiap hari 5. Melakukan pemeriksaan laboratorium GDA, DL, Albumin. 6. Mengobservasi anemis, crt, reflek menelan menghisap, serta turgor kulit. 7. Mengobservasi pemberian ASI/PASI P = Pertahankan intervensi 1-4 Tgl 21-11-2012 Pukul 24.00 S =O = Antropomentri - BBL = 2100 gr - BB sekarang : 2100 gram Biokimia - Pemeriksaan Lab belum dilakukan Klinis - Konjuctiva merah muda

sesuai jadwal, retensi, muntah, BAB BAK.

- crt < 2 detik, turgor elastis - reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+) Diet - PASI (+) personde 21 cc, muntah (-) BAB(-) BAK(-), retensi(-) A = resiko tidak terjadi P = Lanjutkan intervensi 1-4

CATATAN PERKEMBANGAN Tanggal 22-11-2012 Diagnosa Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi Tgl 22-11-2012 S =O = RR = 52x/menit HR = 140x/menit Suhu: 36,2o C Akral dingin, kering, merah Cyanosis (-) Suhu infarm warmer 36o C Catatan Perkembangan Pukul 22.00

A = masalah sebagian teratasi P = Lanjutkan intervensi 1-4 I = Bayi pindah ke inkubator Tgl 22-11-2012 S =O = RR = 48x/menit HR = 130x/menit Suhu: 36,8o C Akral hangat, kering, merah Cyanosis (-) Pukul 24.00

Suhu Inkubator 34o C

A = masalah teratasi Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang lemah. P = Pertahankan intervensi 1-4 Tgl 22-11-2012 Pukul 23.00 S =O = Antropomentri Klinis Diet PASI (+) personde 21 cc, muntah (-), BAB(+) BAK(+), retensi(-) A = resiko tidak terjadi 23-11-2012 Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi P = Pertahankan intervensi 1-4 Tgl 23-11-2012 Pukul 05.00 S =O = RR = 46x/menit HR = 130x/menit Suhu: 36,8o C Akral hangat, kering, merah Cyanosis (-) Suhu Inkubator 34o C Konjuctiva merah muda crt < 2 detik, turgor elastis reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+) BBL = 2100 gr BB sekarang : 2100 gram GDA pukul 18.00 = 61 mg/kL (rekam medik)

Biokimia

A = masalah teratasi Resiko gangguan P = Pertahankan intervensi 1-4 Tgl 23-11-2012 Pukul 06.00 S =-

nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap yang lemah.

O = Antropomentri Klinis Diet PASI (+) personde 21 cc, muntah (-), BAB(+) BAK(+), retensi(-) A = resiko tidak terjadi P = Pertahankan intervensi 1-4 Tgl 25-11-2012 Pukul 11.30 S =O = RR = 52x/menit HR = 130x/menit Suhu: 37o C Akral hangat, kering, merah Cyanosis (-) Suhu Inkubator 34o C Konjuctiva merah muda crt < 2 detik, turgor elastis reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+) BBL = 2100 gr BB sekarang : 2100 gram GDA pukul 18.00 = 61 mg/kL (rekam medik)

Biokimia

25-11-2012

Hipotermia berhubungan dengan gangguan termoregulasi

A = masalah teratasi P = Intervensi dilanjutkan di Ruang Bayi Resiko gangguan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap I = Bayi pindah ke ruang bayi Tgl 25-11-2012 Pukul 12.00 S =O = Antropometri BBL : 2100 gram BB sekarang = 2150 gr

yang lemah.

Biokimia - GDA tgl 25-11-2012 pukul 06.30 = 74 mg/dl (rekam medik) Clinis Diet PASI (+) personde 21 cc, muntah (-), BAB(-) BAK(-), retensi(-) A = masalah teratasi P = Intervensi dilanjutkan di Ruang Bayi I = Bayi pindah ke ruang bayi Konjuctiva merah muda crt < 2 detik, turgor elastis reflek menghisap dan menelan lemah, bising usus (+)