Anda di halaman 1dari 4

RESUME KE-1 KU 4078 STUDIUM GENERALE

Kaum Muda Intelektual menciptakan ketahanan Energi untuk Negeri

Narasumber : 1. Ali Mundakir 2. Marwan Batubara 3. Effendi Gazali Nama NIM Prodi Nomor HP : Irvan Febyanto : 12011024 : Teknik Geologi : 085725706129

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

Pembicara ke-1 : Bapak Ali Mundakir Energi Negeri untuk Negeri Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber energi namun sebagian besar sumber energi tersebut dikuasai oleh pihak asing dan digunakan untuk ekspor. Oleh karena itu PT.Pertamina selaku sebuah BUMN yang bergerak di bidang energi terus mengupayakan pemanfaatan sumber energi yang ada di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri secara maksimal. Pertamina terus berupaya untuk senantiasa mengembangkan dan meningkatkan kinerjanya, hingga sekarang ini Pertamina mampu bersaing secara global. Banyak prestasi yang sudah didapat Pertamina antara lain masuk dalam Fortune Global 500, yaitu 500 perusahaan top dunia versi majalah fortune. Pada awalnya Pertamina tidak masuk ke dalam 500 besar namun setelah transformasi pada tahun 2008, peringkat Pertamina berada pada posisi 122. Selain itu Pertamina juga sudah memasarkan produk pelumas kendaraan bermotor di 22 negara di luar Indonesia. Sekarang ini PT. Pertamina memiliki enam kilang minyak di Indonesia yang total produksinya mencapai 1.031 MBpD (Million Barrel per Day). Namun kualitas produk yang dihasilkan sangat rendah dikarenakan kilang-kilang tersebut merupakan peninggalan Belanda dimana teknologinya sudah lama. Meskipun ada beberapa teknologi yang diperbarui masih belum cukup untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Oleh karena itu Pertamina akan menambah dua kilang baru yang masing-masing berkapasitas 300.000 BpD. Selain itu Pertamina dalam memperbaiki kinerjanya akan meningkatkan layanan pendistribusian BBM ke pulau-pulau di Indonesia termasuk pulau-pulau kecil sebab pendistribusian BBM ini merupakan masalah yang sering dihadapi Pertamina. Menurut Bapak Ali Mundakir, masalah lain yang dihadapi Pertamina yaitu kebijakan pemerintah yang ada selama ini dapat dikatakan menghambur-hamburkan sumber daya minyak dan gas bumi. Hal ini dikarenakan pemanfaatan sumber daya alam tersebut hanya ditujukan untuk memenuhi APBN saja tanpa memikirkan strategi penyimpanan cadangan energi untuk dimasa yang akan datang seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Jepang.Pertamina dituntut menyerahkan keuntungan ke APBN sehingga Pertamina sulit untuk berinvestasi. Konsep ini tentunya berbahaya karena Indonesia menjadi ketergantungan kepada investor asing yang membawa dana besar. Akibatnya cadangan migas di Indonesia akan terus berkurang sebab digunakan untuk memenuhi APBN karena tidak ada strategi penyimpanan cadangan energi. Oleh karena itu, saat ini Pertamina gencar mencari cadangan migas di luar negeri lantaran cadangan dalam negeri berkurang. Bapak Ali Mundakir juga menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya alam terdapat dua kutub yang saling berlawanan. Kutub pertama adalah pemanfaatan sumber daya alam secara maksimal dan kutub yang kedua adalah diperlukannya konservasi pada sumber daya alam khususnya sumber daya alam yang tidak terbarukan seperti minyak dan gas bumi. Oleh karena itu dibutuhkan

adanya manajemen sumber daya alam yang dilakukan dengan pendeketan integrasi. Hal itulah yang coba dijalankan Pertamina dalam pengelolaan sumber daya energi di Indonesia. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri Pertamina mulai memaksimalkan penggunaan sumber energi baru terbarukan (EBT) seperti panas bumi, sel surya, dan lain-lain guna menyeimbangkan penggunaan bahan bakar migas. Pembicara ke-2 : Bapak Marwan Batubara Pengelolaan Migas Sesuai Konstitusi Pada saat ini, tren global menunjukkan bahwa produksi migas Amerika Serikat dan gas Australia sedang meningkat. Kemudian penggunaan energi solar dan angin juga meningkat serta penggunaan energi nuklir yang tengah menurun. Berkembangnya produksi gas nonkonvensional serta terus menurunnya biaya penyediaan EBT (Energi Baru Terbarukan) seperti biomassa juga turut mempengaruhi tren global dalam pemanfaatan energi. Selaim itu tren yang berkembang pada negara- negara secara global juga menunjukkan menurunnya tingkat liberalisasi sektor migas dan meningkatnya kepentingan keamanan energi serta berkembangnya penggunaan EBT(Energi Baru Terbarukan). Hal tersebut dapat menguatkan dukungan pemerintah untuk dominasi dan peran National Oil Company dalam menguasai cadangan domestik rantai bisnis migas dan ketahanan energi. Namun kecenderungan global tersebut justru tidak terjadi di Indonesia. Hal tersebut ditunjukan dari konsumsi perkapita yang rendah, pertumbuhan kebutuhan energi rata-rata 4%/tahun, semakin meningkatnya penggunaan energi fosil (>90%), dan penggunaan EBT yang masih rendah. Yang paling penting yaitu subsidi BBM semakin besar dan memberatkan APBN sementara cadangan migas semakin menipis yang mengakibatkan impor BBM semakin besar. Menurut Marwan Batubara, hal-hal tersebut bisa diatasi dengan menyerahkan pengelolaan migas secara penuh kepada Pertamina sebagai BUMN sehingga akan lebih bisa diawasi secara transparan dan pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat Indonesia dapat maksimal. Selain itu Pertamina juga dapat memanajemen penggunaan energi dan menjaga stabilitas cadangan migas di Indonesia sehingga dapat mengurangi impor BBM. Pembicara ke-3 : Bapak Effendi Gazali Kaum Muda Intelektual Salah satu cara untuk meningkatkan ketahanan energi yaitu dengan membentuk kaum muda yang intelektual. Kaum muda intelektual sangat dibutuhkan karena Indonesia dilahirkan dari

perjuangan kaum intelektual muda. Kaum muda intelektual ini juga harus senantiasa menjunjung rasa nasionalisme dan memiliki idealisme yang kuat agar tidak terpengaruh budaya luar. Gerakan intelektual mahasiswa dulu tumbuh subur karena rasa nasionalisme, sehingga banyak di antara mereka yang mempunyai idealisme tinggi dan layak disebut pejuang. Oleh karena itu, saat ini gerakan intelektual muda kampus harus kembali dibangkitkan agar mampu menciptakan perubahan yang mendidik masyarakat. Intelektual muda harus dekat dengan masyarakat agar mengetahui permasalahan sesungguhnya yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan begitu pemikiranpemikiran yang idealis dan rasa tanggungjawab kepada masyarakat dari kaum muda ini dapat dijadikan sebagai pemacu dalam meningkatkan ketahanan energi di Indonesia.