Anda di halaman 1dari 78

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan masalah kesehatan di dunia sejak tahun 1981, penyakit ini berkembang secara pandemik. Obat dan vaksin untuk mengatasi masalah ini belum ditemukan, kerugian yang ditimbulkan tidak hanya di bidang kesehatan tetapi juga di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya dan demografi (Depkes RI 2006). Berdasarkan catatan kasus United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) tahun 2011 jumlah orang yang terjangkit HIV didunia sampai akhir tahun 2010 terdapat 34 juta orang, dua pertiganya tinggal di Afrika kawasan Selatan Sahara, di kawasan itu kasus infeksi baru mencapai 70 %, di Afrika Selatan 5,6 juta orang terinfeksi HIV, di Eropa Tengah dan Barat jumlah kasus infeksi baru HIV/AIDS sekitar 840 ribu, di Jerman secara akumulasi ada 73 ribu orang, kawasan Asia Pasifik merupakan urutan kedua terbesar di dunia setelah Afrika Selatan dimana terdapat 5 juta penderita HIV/AIDS (Peter Piot, Forum Global 2008). Di Eropa Timur dan Asia Tengah sejumlah orang meninggal karena AIDS meningkat dari 7.800 menjadi 90.000, di Timur Tengah dan Afrika Utara meningkat dari 22.000 menjadi 35.000, di Asia Timur juga meningkat dari 24.000 menjadi 56.000 (WHO, Progress Report 2011). Penyakit AIDS ini telah menyebar ke berbagai negara di dunia. Bahkan menurut UNAIDS dan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah membunuh lebih dari 25 juta jiwa, dan ini membuat AIDS sebagai salah satu epidemik paling menghancurkan. Epidemik AIDS diklaim bahwa diperkirakan 2,8 juta (antara 2,4 dan 3,3 juta) hidup pada tahun 2005 dan lebih dari setengah juta (570.000) merupakan anak-anak. Secara global, antara 33,4 dan 46 juta orang kini hidup dengan HIV. Pada tahun 2005, antara 3,4 dan 6,2 juta orang terinfeksi dan antara 2,4 dan 3,3 juta orang

dengan AIDS meninggal dunia. Tahun 2013 terdapat 25, 9 juta jiwa menderita HIV AIDS dimana 3,9 juta wanita hamil, 5,3 juta anak-anak (WHO, 2013). Di Indonesia menurut laporan kasus kumulatif HIV/AIDS sampai dengan 31 Desember 2011 yang dikeluarkan oleh Ditjen PP & PL, Kemenkes RI tanggal 29 Februari 2012 menunjukkan jumlah kasus AIDS sudah menembus angka 100.000. Jumlah kasus yang sudah dilaporkan 106.758 yang terdiri atas 76.979 HIV dan 29.879 AIDS dengan 5.430 kematian. Angka ini tidak mengherankan karena di awal tahun 2000 estimasi kasus HIV/AIDS di Indonesia yaitu berkisar antara 80.000 130.000. Dan sekarang Indonesia menjadi negara peringkat ketiga, setelah Cina dan India, yang percepatan kasus HIV/AIDS-nya tertinggi di Asia. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virusnya Human Immunodeficiency Virus (HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini benar-benar belum bisa disembuhkan. HIV umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh (Depkes RI 2006). Penularan virus melalui hubungan sexual dapat dicegah melalui pemakaian kondom. Berdasarkan hasil penelitian systematic review yang dilakukan oleh Weller SC & Davis-Beaty K. (2002), terhadap 14 penelitian kohort dikatakan bahwa efektifitas penggunaan kondom untuk mengurangi

proporsional kejadian infeksi HIV sebesar 80%. Sementara menurut penelitian Tahir Nasifa Batool, et all. (2011) terhadap 65 pasien yang menderita HIV / AIDS, dengan metode descriptive pada bulan February 2008 sampai July 2011 di Anti Retroviral Centre, Kohat. Informan yang diwawancarai terdiri dari 47 (72%) laki-laki dan 18 (28%) perempuan, dengan rata-rata usia 41 tahun. Lima laki-laki dan 3 perempuan belum menikah, sedangkan 57 sisanya menikah. Mengenai transmisi, 40 (61,54%) mengalami penularan secara heteroseksual, 4 (6,20%) adalah penularan dari ibu ke anak, salah satu memiliki sejarah prosedur gigi sebelum tertular infeksi sedangkan 4 memiliki riwayat transfusi darah. Dari 40 transmisi heteroseksual, 24 berasal dari pekerja seks, 15 dari suami kepada istri dan satu dari istri kepada suami. Mengenai kecanduan, 21 (32,3%) menggunakan kecanduan tembakau, 2 (3,1%) ganja, 2 (3,1%) perokok, 2 (3,1%) pengguna narkoba suntikan dan sisanya tidak memiliki kecanduan. Dapat disimpulkan bahwa penularan terbanyak adalah melalui hubungan seksual. HIV/AIDS merupakan penyakit infeksi kronis, perjalanan penyakitnya lambat namun mematikan sehingga peran keluarga, orang-orang terdekat serta perawat sangat dibutuhkan dalam upaya preventif, promotif, kuratif maupun rehabilitatif. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum: Mahasiswa mampu memahami konsep dasar dan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit HIV/AIDS 2. Tujuan Khusus: a. Mampu memahami konsep dasar HIV/AIDS meliputi definisi, anatomi fisiologi, penyebab, cara penularan, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan diagnostic, komplikasi dan penatalaksanaan medis b. Mampu memahami konsep asuhan keperawatan mulai pengkajian, perumusan diagnose, rencana, tindakan dan evaluasi keperawatan

c. Mampu menerapkan konsep asuhan keperawatan pada kasus/ pasien dengan HIV AIDS. C. Manfaat Penulisan 1. Manfaat teoritis Menambah pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien HIV/AIDS. 2. Manfaat praktis a. Tenaga keperawatan Menambah pengetahuan sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien HIV/AIDS dengan lebih baik. b. Mahasiswa Menambah wawasan dan kemampuan analisis kasus asuhan keperawatan pada klien HIV/AIDS.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. HIV/AIDS 1. Definisi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus sitopatik dari family retrovirus yang terintegrasi dalam material genetic pada sejumlah besar sel, merubah proviral DNA dan encoding struktur, regulasi dan asesori protein pada sel. Virus ini bersifat menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menyebabkan AIDS (Aquuired Immuno Deficiency Syndrome) (Lewis Sharon, 2011 & dEWit Kumagai, 2013). Aquuired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit defisiensi imun yang sangat berat atau biasa disebut sebagai stadium lanjut/akhir dari infeksi kronis oleh HIV (Lewis Sharon, 2011; dEWit Kumagai, 2013; Price & Wilson, 2012). 2. Anatomi Fisiologi Menurut Syaifuddin (2012), keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem pertahanan yang terdiri atas sistem imun non-spesifik dan sistem imun spesifik. a. Sistem imun non spesifik Sistem imun non spesifik merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai mikroorganisme, karena tidak memerlukan waktu untuk dapat memberikan responnya. Komponen komponen sistem imun non spesifik terdiri atas : 1) Pertahanan Fisik dan Mekanis Pertahanan fisik dan mekanis terdapat dalam kulit, selaput lendir, silia saluran pernafasan. Tubuh memberikan respon terhadap kuman patogen dengan cara batuk dan bersin. Apabila kulit rusak misalnya karena luka bakar dan selaput lendir rusak karena asap rokok akan meningkatkan resiko terjadinya infeksi.

2) Pertahanan Biokomia Bahan yang disekresi oleh mukosa saluran nafas, kelenjar sebasea kulit, kelenjar kulit, telinga, spermin dalam cairan semen merupakan bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Asam clorida dalam cairan lambung, lisosim dalam keringat, ludah, air mata, dan air susu dapat melindungi tubuh terhadap kuman gram positif dengan jalan menghancurkan dinding kuman tersebut. Selain itu ASI juga mengandung laktoferin dan neurominik yang mempunyai sifat antibakterial terhadap E. Coli dan Staphilokokus. 3) Pertahanan Humoral a). Komplemen Komplemen dapat merusak / melisis sel membran bakteri, menutupi permukaaan bakteri dengan jalan opsonisasi, dan mengaktifkan sel makrofag dalam memfagositosis bakteri. b). Interferon Interferon adalah suatu glikoprotein yang dihasilkan oleh berbagai sel manusia yang mengandung nukleus dan dilepas sebagai respon terhadap infeksi virus. Interferon mempunyai sifat antivirus dengan jalan menginduksi sel sel sekitar sel yang telah terserang oleh virus tersebut. Disamping itu interferon dapat pula mengaktifkan Natural Killer Cell ( Sel NK ) untuk membunuh virus dan sel neoplasma. c). Carbon Reactive Protein ( CRP ) CRP dibentuk oleh tubuh pada keadaan infeksi. Perannya adalah sebagai opsonin dan dapat mengaktifkan komplemen. 4) Pertahanan Selular Dalam pertahanan selular, yang berperan adalah Fagosit / Makrofag dan sel NK.

a). Fagosit / makrofag Peran utama dalam pertahanan fagosit adalah mononuklear (monosit dan makrofag) serta neutrofil dengan jalan kemotaksis, menangkap, membunuh dan mencerna. b). Natural Killer Cell ( Sel NK ) Sel NK adalah sel limfosit tanpa ciri ciri sel limfoid sistem imun spesifik yang ditemukan dalam sirkulasi, oleh karena itu disebut juga sel non B non T. Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma (Syaifuddin, 2012). b. Sistem imun spesifik Berbeda dengan sistem imun non spesifik, sistem imun spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda yang dianggap sebagai benda asing, dan memerlukan waktu untuk memberikan responnya terhadap antigen. Sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing, tetapi pada umumnya ada kerja sama antara antibodi, komplemen, fagosit, dan antara sel T-makrofag. Oleh karena komplemen turut diaktifkan, maka respon imun yang terjadi sering disertai reaksi inflamasi / peradangan (Syaifuddin, 2012). 1)Sistem Imun Spesifik Humoral Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah Sel B atau Limfosit B. Bila sel B dirangsang benda asing, sel tersebut akan berproliferasi dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi. Antibodi yang dilepas dapat ditemukan dalam serum. Fungsi utama antibodi adalah mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus, dan netralisasi toxin. 2) Sistem Imun Spesifik Selular Yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah Sel T atau sel Limfosit T.

Fungsi Sel T secara umum adalah: a). b). c). d). Membantu sel B dalam memproduksi antibodi Mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus Mengaktivkan makrofag dalam fagositosis Mengontrol ambang dan kualitas sistem imun. Masing-masing sel T mempunyai marker permukaan seperti CD4+, CD8+ dan CD3+ yang membedakannya dengan sel lain. Sel CD4+ adalah sel berfungsi membantu mengaktivasi sel B, killer cell, dan makrofag saat terdapat antigen target khusus. Sel CD8+ membunuh sel yang terinfeksi oleh sel virus atau bakteri seperti sel kanker. Sel T juga mempunyai kemampuan mensekresi sitokin (bahan kimia yang mampu membunuh sel) seperti interferon, sitotoksin dapat mengikat sel target. Interleukin adalah sitokin yang bertugas sebagai messenger antar sel darah putih. Rekombinan interleukin, akhir-akhir ini sedang dipelajari dalam percobaan klinis terutama bagi pasien dengan infeksi HIV (Stefan S. 2012). c. Struktur HIV Bagian luar HIV diliputi oleh suatu selubung yang disebut envelope dan dibagian dalam terdapat sebuah inti (core) (Syaifuddin, 2012). 1) Envelope: HIV bergaris tengah 1/10.000 mm dan mempunyai bentuk bulat seperti bola. Lapisan paling luar disebut envelope, terdiri dari dua lapisan molekul lemak yang disebut lipids. Lapisan ini diambil dari sel manusia ketika partikel virus yang baru terbentuk dengan membentuk tonjolan dan lepas dari sel tersebut. Selubung virus terisi oleh protein yang berasal dari sel induk, termasuk 72 turunan (rata-rata) protein HIV kompleks yang

menonjol dari permukaan selubung. Protein ini disebut Env, terdiri atas sebuah tutup (cap) terbuat dari 3-4 molekul glycoprotein (gp)120, dan sebuah batang yang terdiri atas 3-4 molekul gp41 sebagai rangka struktur dalam envelope virus. Banyak penelitian untuk mengembangkan vaksin HIV menggunakan protein envelope ini.

Gambar 3. Struktur HIV 2) Inti (Core): Dalam envelope partikel HIV yang sudah matang terdapat inti berbentuk peluru yang disebut capsid, terbentuk dari 2000 turunan protein virus lainnya. Capsid tersebut mengelilingi dua helaian tunggal RNA HIV, yang masing-masing memiliki 9 gen dari virus. Tiga diantaranya adalah: gag, pol dan env, mengandung informasi yang diperlukan untuk membuat protein terstruktur untuk partikel virus baru. Gen env, mengkode protein gp160 yang dipecah oleh enzim virus untuk membentuk gp120 dan gp41, yang merupakan komponen Env. Tiga buah gen pengatur, tat, rev dan nef, dan tiga gen tambahan, vif, vpr dan vpu, mengandung informasi yang diperlukan untuk memproduksi protein yang mengatur kemampuan HIV menginfeksi suatu sel, membuat turunan virus baru atau menimbulkan penyakit. Protein yang dikode oleh nef, menyebabkan virus dapat melakukan replikasi secara efisien, dan protein yang dikode oleh vpu berpengaruh
9

terhadap pelepasan partikel virus baru dari sel yang diinfeksi. Inti HIV juga mencakup sebuah protein yang disebut p7, yaitu protein nucleocapsid HIV; dan tiga buah enzim yang berperan dalam langkah berikutnya dalam siklus hidup virus, yaitu: reverse transcriptase,integrase dan protease. d. Siklus Hidup HIV HIV merupakan retrovirus obligat intraselular dengan replikasi sepenuhnya di dalam sel host. Perjalanan infeksi HIV di dalam tubuh manusia diawali dari interaksi gp120 pada selubung HIV berikatan dengan reseptor spesifik CD4 yang terdapat pada permukaan membran sel target (kebanyakan limfosit T-CD4+). Sel target utama adalah sel yang mempu mengekspresikan reseptor CD4 (astrosit, mikroglia, monosit-makrofag, limfosit, Langerhans dendritik).

Gambar 4. Poin potensial dari intervensi pada siklus hidup HIV Sumber: University of Washington, 2004 3. Etiologi Penyebabnya adalah Human Immunodeficiency Virus type-1 & 2. Penyebaran/penularan HIV HIV tidak menyebar begitu saja. Virus ini tidak dapat ditularkan melalui pelukan, dry kissing, berjabat tangan, menggunakan toilet duduk bersama, air mata, urine, sputum, keringat, feses, droplet.

10

HIV adalah virus yang rapuh sehingga hanya dapat ditransmisikan melalui hubungan seks tanpa kondom seksual (vagina atau anus), dan oral seks dengan orang yang terinfeksi, transfusi darah yang terkontaminasi, dan berbagi jarum yang terkontaminasi, jarum suntik atau alat tajam lainnya. Hal ini juga dapat ditularkan antara ibu dan bayi selama kehamilan, melahirkan dan menyusui (WHO, 2013). Penularan melalui hubungan sexual. Hubungan seksual yang tidak menggunakan pelindung dengan orang yang terinfeksi HIV adalah penularan yang paling umum terjadi. Aktivitas seksual termasuk kontak dengan sperma, cairan vagina dan atau darah, yang kesemuanya memiliki limphosit yang berisi HIV. Berdasarkan hasil penelitian systematic review yang dilakukan oleh Weller SC & Davis-Beaty K. (2002), terhadap 14 penelitian kohort dikatakan bahwa efektifitas penggunaan kondom untuk mengurangi proporsional kejadian infeksi HIV sebesar 80%. Kontak dengan darah dan produk darah. HIV dapat disebarkan selama paparan darah atau peralatan yang digunakan saat pengobatan. Penularan perinatal. Penularan ini yang paling umum terjadi pada rute infeksi anak-anak. Transmisi terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV ke anaknya, hal ini terjadi selama kehamilan, proses kelahiran dan menyusui. Sekitar 25% bayi lahir dari ibu terinfeksi HIV tidak terawat/ tidak terobati infeksi HIVnya. Dengan penggunaan ART (antiretroviral therapy) selama kehamilan, resiko penularan dapat diturunkan lebih dari 2%. Menurut penelitian Tahir Nasifa Batool, et all. (2011) terhadap 65 pasien yang menderita HIV / AIDS, dengan metode descriptive pada bulan February 2008 sampai July 2011 di Anti Retroviral Centre, Kohat. Informan yang diwawancarai terdiri dari 47 (72%) laki-laki dan 18 (28%) perempuan, dengan rata-rata usia 41 tahun. Lima laki-laki dan 3 perempuan belum menikah, sedangkan 57 sisanya menikah. Mengenai transmisi, 40 (61,54%) mengalami penularan secara heteroseksual, 4 (6,20%) adalah penularan dari ibu ke anak, salah satu memiliki sejarah prosedur gigi sebelum tertular infeksi sedangkan 4 memiliki riwayat

11

transfusi darah. Dari 40 transmisi heteroseksual, 24 berasal dari pekerja seks, 15 dari suami kepada istri dan satu dari istri kepada suami. Mengenai kecanduan, 21 (32,3%) menggunakan kecanduan tembakau, 2 (3,1%) ganja, 2 (3,1%) perokok, 2 (3,1%) pengguna narkoba suntikan dan sisanya tidak memiliki kecanduan. 4. Patofisiologi Virus HIV ditransmisikan melalui hubungan seksual, darah atau produk yang terinfeksi atau cairan tubuh tertentu serta melalui perinatal. Virus ini tidak dapat ditularkan melalui kontak biasa seperti berpegangan tangan, bersalaman, cium pipi. Virus masuk dalam tubuh manusia dan menempel pada dinding sel reseptor CD4 yang terdapat pada limposit dan beberapa monosit (sel darah putih). Sel target yang lain adalah makrofag, sel dendrite, sel langerhans dan sel mikroganglia. Setelah mengikat molekul CD4, virus masuk ke sel target dan melepaskan selubung luarnya. RNA retrovirus ditranskripsikan menjadi DNA melalui transkripsi terbalik. Beberapa DNA yang baru terbentuk saling bergabung dan masuk ke dalam sel target dan membentuk provirus. Provirus ini dapat menghasilkan protein virus baru yang bekerja menyerupai pabrik/pusat pembuatan virusvirus baru. Sel target normal akan membelah dan memperbanyak diri seperti biasanya dan dalam proses ini provirus ikut menyebarkan virusvirus baru tadi. Penularan dan Masuknya Virus HIV dapat di isolasi di cairan serebrospinalis, semen, air mata, sekresi vagina atau serviks, urine. Tiga cara utama penularan adalah kontak dengan darah dan kontak seksual dan kontak ibu bayi setelah virus di tularkan akan terjadi serangkaian proses yang kemudian akan menyebabkan infeksi (Price & Wilson, 2012). Perlekatan Virus Virus HIV matang memiliki bentuk hampir bulat. Selubung luarnya atas kapsul viral, terdiri dari lemak lapis ganda yang mengandung banyak

12

tonjolan protein. Duri- duri ini terdiri dari dua glikoprotein, gp 120 atau gp41. Gp mengacu pada Glikoprotein, dan angka mengacu kepada massa protein dalam ribuan Dalton. Gp 120 selubung permukaan eksternal duri dan gp41 adalah bagian transmembran. Terdapat suatu protein matrik yang disebut p17 yang mengelilingi segmen bagian dalam membran virus. Sedangkan inti dikelilingi oleh suatu protein kapsul yang disebut p24. Di dalam kapsid, p24, terdapat dua untai RNA identik dan molekul transcriptase, integrasi, dan protease yang sudah terbentuk. HIV adalah suatu retrovirus, sehingga materi genetic berada dalam bentuk RNA bukan DNA. Reverse transcriptase adalah enzim yang mentranskripsikan RNA virus menjadi DNA setelah virus masuk ke sel sasaran. Enzim-enzim langsung yang menyertai RNA adalah integrasi dan protease . HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki molekul reseptor membrane sel sasaran CD4. Sejauh ini, sasaran yang disukai oleh HIV adalah limfosit T-helper CD4+ atau sel T4 (limfosit CD4 +), gp 120 HIV berikatan dengan kuat dengan limfosit CD4+ sehingga gp41 dapat melakukan fusi membrane virus ke membrane sel. Baru-baru ini di temukan bahwa dua koreseptor permukaan sel. CCr R5 atau CXCR4 di permukaan, agar glikoprotein gp120 dan gp41 dapat berikatan dengan receptor CD4+ (Doms Paieper, 1997 dalam Price & Wilson 2012 ). Koreseptor ini menyebabkan perubahanperubahan konfirmasi sehingga gp41 dapat masuk ke membrane sel sasaran. Individu yang mewarisi dua salinan defektif gen reseptor CCR5 (Homozigot) resisten terhadap timbulnya AIDS, walaupun berulang kali terpajan HIV. Individu yang Heterozigot untuk gen detektif ini (18 % sampai 20 %) tidak terlindungi dari AIDS, tetapi awitan penyakit agak melambat. Belum pernah di temukan homozigot pada populasi Asia atau Afrika, yang mungkin dapat membantu menerangkan mengapa mereka lebih rentan terhadap infeksi HIV (Obrien.D, Dean, 1997 dalam Price & Wilson 2012).

13

Gambar 5. Patofisiologi HIV Sumber: Castillo, 2005 Sel-sel lain yang mungkin rentan terhadap infeksi HIV mencakup monosit dan makrofag. Monosit dan makrofag yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai reservoir untuk HIV tetapi tidak di hancurkan oleh virus HIV bersifat politrofik dan dapat menginfeksi beragam sel manusia (Levy, 1994 dalam Price & Wilson 2012), seperti sel natural killer (NK) limfosit B, sel endotel, sel epitel, sel langerhans, sel dendritik (yang terdapat di permukaan mukosa tubuh), sel microglia, dan berbagai jaringan tubuh. Setelah virus berfusi dengan limfosit CD4+, maka berlangsung serangkaian proses komplek yang apabila berjalan lancar, menyebabkan terbentuknya partikelpartikel baru dari sel yang terinfeksi. Limfosit CD4+

14

yang terinfeksi mungkin akan tetap laten dalam keadaan provirus atau mungkin mengalami siklussiklus replikasi sehingga menghasilkan banyak virus. Infeksi pada CD4+ juga dapat menimbulkan sipatogenisitas melalui beragam mekanisme, termasuk apoptosis ( kematian sel terprogram ), anergi (pencegahan fusi sel lebih lanjut ), atau pembentukan sinsitium (fusi sel). Replikasi HIV Setelah terjadi fusi sel virus, RNA virus masuk ke bagian tengah sitoplasma limfosit CD4+, setelah nukleokapsit di lepas terjadi transkripsi terbalik (reverse transcription) dari satu untai tunggal RNA menjadi DNA salinan (cDNA) untai ganda virus. Integrasi HIV membantu insersi cDNA virus ke dalam inti sel penjamu. Apabila sudah terintegrasi ke dalam kromosom penjamu, maka dua untai DNA sekarang menjadi provirus (Greene, 1993 dalam Price & Wilson 2012). Provirus menghasilkan RNA messenger (mRNA) yang meninggalkan inti sel dan masuk ke dalam sitoplasma. Protein-protein virus di hasilkan dari mRNA yang lengkap dan telah mengalami splicing ( penggabungan ) setelah RNA genom di bebaskan kedalam sitoplasma. Tahap akhir produksi virus membutuhkan suatu enzim virus yang disebut HIV protease, yang memotong dan menata protein virus menjadi segmen-segmen kecil yang mengelilingi RNA virus, membentuk partikel virus yang menonjol dari sel yang terinfeksi. HIV yang baru terbentuk sekarang dapat menyerang sel-sel rentan lainya di seluruh tubuh. Replikasi HIV berlanjut sepanjang periode latensi klinis, bahkan saat hanya terjadi aktivitas virus yang minimal di dalam darah (embretson Pantaleo et al. 1993 dalam Price & Wilson 2012) HIV di temukan dalam jumlah besar di dalam limfosit CD4+ dan makrofag diseluruh system limfoid pada semua tahap infeksi. Partikel-partikel virus juga telah di hubungkan dengan sel-sel dendritik folikuler, yang mungkin memindahkan infeksi sel-sel selama migrasi melalui folikel-folikel limfoid.

15

Gambar 6. Tahapan Replikasi HIV Disesuaikan dari: HIV Live Cycle, 2001 Walaupun selama masa latensi klinis tingkat viremia dan replikasi virus di sel-sel mononukleus darah perifer rendah, namun pada infeksi ini tidak ada latensi yang sejati. HIV secara terus menerus terakumulasi dan berimplikasi di organ organ limfoid . Sebagian data menunjukkan bahwa terjadi replikasi dalam jumlah yang sangat besar dan pertukaran sel yang sangat cepat, dengan waktu paruh virus dan sel penghasil virus didalam plasma sekitar 2 hari (wei et al ,1995 :Ho et al,1995 dalam Price & Wilson 2012). Aktivitas ini menunjukkan bahwa terjadi pertempuran antara virus dan sistim imun pasien (Price & Wilson, edisi 6, 2012 ). Respon Imun Terhadap Infeksi HIV Segera setelah terpejan HIV, individu akan melakukan perlawanan imun yang intensif. Sel-sel B akan menghasilkan antibodi-antibodi yang spesifik terhadap berbagai protein virus. Antibody IgG adalah antibodi utama yang digunakan dalam uji HIV. Namun antibodi HIV tidak

16

menetralisasikan HIV atau menimbulkan perlindungan terhadap infeksi lebih lanjut. Produksi imunoglobulin diatur oleh limfosit T CD4+. Limfosit T CD4+ diaktifkan oleh sel penyaji antigen (APC) untuk menghasilkan berbagai sitokin seperti interleukin-2 (IL-2), yang membantu merangsang sel B untuk membelah dan berdiferensiasi menjadi sel plasma. Sel plasma ini kemudian menghasilkan immunoglobulin yang spesifik untuk antigen yang merangsangnya. Sitokin IL-2 hanyalah salah satu dari banyak sitokin yang mempengaruhi respon imun baik hormonal maupun seluler. Sel NK adalah sel yang penting karena dalam keadaan normal sel-sel inilah yang akan mengenali dan menghancurkan sel yang terinfeksi oleh virus dengan mengeluarkan perforin yang serupa dengan yang dihasilkan oleh sel CD8 (Price & Wilson 2012). 5. Klasifikasi CDC Classification System for HIV-Infected Adults and Adolescents CD4 Cell Count Categories Clinical Categories

Abbreviations: PGL = persistent generalized lymphadenopathy A B* Asymptomatic, Acute Symptomatic HIV, or PGL Conditions, not A or C (1) 500 cells/L (2) 200-499 cells/L A1 A2 B1 B2

C# AIDSIndicator Conditions C1 C2

(3) <200 cells/L A3 B3 C3 Sumber : Center for Disease Control and Prevention, 2007 * Kategori B Kondisi Simtomatik : didefinisikan sebagai kondisi asimtomatik terjadi pada seorang remaja yang terinfeksi HIV atau orang dewasa yang memenuhi setidaknya satu dari kriteria berikut:

17

Mereka yang dikaitkan dengan infeksi HIV atau mengindikasikan adanya kerusakan pada imunitas diperantarai sel. Mereka dianggap memiliki perjalanan klinis atau manajemen yang rumit oleh infeksi HIV. # Kategori C AIDS Indikator Kondisi

Pneumonia bakteri, berulang (dua atau lebih episode dalam 12 bulan) Kandidiasis pada bronkus, trakea, atau paru-paru Candidiasis, esofagus Karsinoma serviks, invasif, dikonfirmasi dengan biopsi Coccidioidomycosis, disebarluaskan atau di luar paru Kriptokokosis, paru Cryptosporidiosis, kronis usus (> 1 bulan dalam durasi) Penyakit Cytomegalovirus (selain hati, limpa, atau kelenjar) Ensefalopati, terkait HIV Herpes simpleks: ulkus kronis (> 1 bulan dalam durasi), atau bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis Histoplasmosis, disebarluaskan atau di luar paru Isosporiasis, kronis usus (> 1 bulan dalam durasi) Sarkoma Kaposi Limfoma, Burkitt, immunoblastic, atau primer sistem saraf pusat Mycobacterium avium complex (MAC) atau Mycobacterium kansasii, disebarkan atau di luar paru

Mycobacterium tuberculosis, paru atau di luar paru Mycobacterium, spesies lain yang tidak terindentifikasi disebarakan atau diluar paru. Pneumocystis jiroveci (sebelumnya carinii) pneumonia (PCP) Salmonella septicemia, berulang (nontyphoid) Toksoplasmosis otak Wasting syndrome yang disebabkan oleh HIV (paksa penurunan berat badan> 10% dari berat badan awal) terkait dengan baik diare kronis (dua

18

atau lebih mencret per hari selama 1 bulan) atau kelemahan kronis dan demam didokumentasikan selama 1 bulan WHO Clinical Staging HIV / AIDS untuk Dewasa dan Remaja Primer Infeksi HIV

Asimtomatik Sindrom retroviral akut Klinis Tahap 1 Asimtomatik Limfadenopati generalisata persisten Klinis Tahap 2 Dijelaskan penurunan berat badan sedang (<10% dari berat badan diduga atau diukur) Infeksi pernapasan berulang (sinusitis, tonsilitis, otitis media, dan faringitis) Herpes zoster Angular cheilitis Sariawan berulang Letusan pruritus papular Dermatitis seboroik Infeksi jamur kuku Klinis Tahap 3 Penurunan berat badan yang parah Unexplained (> 10% dari berat badan diduga atau diukur) Unexplained diare kronis selama> 1 bulan Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan selama> 1 bulan (> 37.6 C, intermiten atau konstan) Kandidiasis oral persisten (thrush) Oral hairy leukoplakia Tuberkulosis paru (saat ini) Infeksi bakteri dianggap berat (misalnya, pneumonia, empiema, pyomyositis, tulang atau infeksi sendi, meningitis, bakteremia) Akut necrotizing stomatitis ulseratif, gingivitis, atau periodontitis Anemia Unexplained (hemoglobin <8 g / dL) Neutropenia (neutrofil <500 sel / uL) Trombositopenia kronis (trombosit <50.000 sel / uL) Klinis Tahap 4 Sindrom wasting HIV, seperti yang didefinisikan oleh CDC (lihat Tabel 1 , di atas) Pneumonia Pneumocystis

19

Berulang pneumonia bakteri parah Herpes simpleks kronis infeksi (situs Orolabial, kelamin, atau dubur untuk> 1 bulan atau herpes visceral di situs manapun) Kandidiasis esofagus (atau kandidiasis trakea, bronkus, atau paruparu) Tuberkulosis Sarkoma Kaposi Infeksi sitomegalovirus (retinitis atau infeksi organ lain) Central sistem saraf toksoplasmosis Ensefalopati HIV Kriptokokosis, ekstrapulmoner (termasuk meningitis) Disebarluaskan dinyatakan bukan tuberkulosis infeksi mikobakteri Candida dari trakea, bronkus, atau paru-paru Cryptosporidiosis kronis (diare) Isosporiasis kronis Disebarluaskan mikosis (misalnya, histoplasmosis, coccidioidomycosis, penicilliosis) Berulang Salmonella nontyphoidal bakteremia Limfoma (otak atau sel B non-Hodgkin) Karsinoma serviks invasif Atypical leishmaniasis disebarluaskan Gejala nefropati terkait HIV Gejala terkait HIV kardiomiopati Reaktivasi Amerika trypanosomiasis (meningoencephalitis atau miokarditis) Sumber : The AIDS Education & Training Centers National Resource Center. 2012. diakses dari http://www.aids-ed.org/aidsetc?page=cg205_hiv_classification

6. Manifestasi Klinis Manifestasi klinik AIDS berdasarkan system organ yang terinfeksi: Manifestasi-manifestasi klinik AIDS N Kemungkinan penyebab Kemungkinan efek o 1. Manifestasi oral Lesi-lesi karena: candida, herpes Nyeri oral mengarah pada simpleks, sarcoma kaposis; kutil kesulitan mengunyah dan papilomavirus oral, ginginitis menelan, penurunan masukan peridontitis cairan dan nutrisi, dehidrasi, HIV; leukoplakia oral penurunan berat badan dan keletihan, cacat. 2 Manifestasi neurologic
20

a. Kompleks dimensia AIDS karena: Perubahan kepribadian, serangan langsung HIV pada sel-sel kerusakan kognitif, konsentrasi syaraf dan penilaian kerusakan kemampuan motorik kelemahan; perlu bantuan dengan ADL atau tidak mampu melakukan ADL, tidak mampu untuk berbicara atau mengerti, paresis/plegia, inkontinensia urin, menyusahkan pemberi perawatan, ketidak mapuan untuk mematuhi regimen medis, ketidakmampuan untuk bekerja, isolasi sosial b. Enselofati akut karena Reaksi obat-obat terapeutik, Takar lajak obat Hipoksia Hipoglikemi karena pankreatitis akibat obat Ketidakseimbangan elektrolit Meningitis atau ensefalitis yang diakibatkan oleh cryptococus, virus herpes simpleks, sitomegalovirus, mycobacter ium tuberculosis, sifilis, candida, toxoplasma gondii Limfoma Infark serebral akibat vaskulitis, sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik, maranik endokarditis c. Neuropati karena inflamasi demielinasi diakibatkan serangan HIV langsung, reaksi obat, lesi sarcoma kaposis Sakit kepala Malaise Demam Paralysis total atau parsial; kehilangan kemampuan kognisi, ingatan, penilaian, orientasi atau afek yang sesuai, penyimpangan sensorik; kejang, koma dan kematian

Kehilangan control motorik; ataksia, kebas bagian perifer, kesemutan, rasa terbakar, depresi refleks, ketidakmampuan untuk bekerja, isolasi sosial

Manifestasi gastrointestinal
21

a. Diare cryptosporidium, isopora belli, microsporidum, sitomegalovirus, virus herpes simpleks,mycobacterium avium intacelulare, strongiloides stercoides, enterovirus, adenovirus, salmonella, shigella, campylobacter, vibrio parahaemiliticus, candida, histoplasma capsulatum, giardia, entamoba histolytica, pertumbuhan cepat flora normal, limfoma dan sarcoma kaposis b. Hepatitis mycobacterium avium intacelulare, cryptococus, sitomegalovirus, histoplasma, coccidiomycosis, microsporidum, virus epsten-barr, virus-virus hepatitis(A, B, C, D) dan E, limfoma, sarcoma kaposis, penggunaan obat illegal, penggunaan alcohol, penggunaan obat golongan sulfa

Penurunan berat badan, anoreksia, Demam, dehidrasi, malabsorpsi (malaise, kelemahan dan keletihan) Kehilangan kemampuan untuk melakukan funsi social karena ketidakmampuan meninggalkan rumah Inkontinesia

Anoreksia, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterik, demam, malaise, kemerahan, nyeri persendia, keletihan(hepatomegali, gagal hepatic,kematian)

c. Disfungsi biliari Nyeri abdomen, anoreksia, mual kolangitis akibat sitimegalovirus dan muntah ikterik dancryptosporidium: limfoma dan sarcoma kaposis d. Penyakit anorectal Eliminasi yang sulit dan sakit, karena abses dan fistula, ulkus nyeri rectal, gatal-gatal, diare dan inflamasi perianal yang diakibatkan dari infeksi oleh chlamydia, lymphogranulum venereum, gonore, sifilis, shigella, campylobacter, M tuberculosis, herpes simpleks,candida, herpes simpleks, sitomegalovirus, obstruksi candida albicans karena limfoma sarcoma kaposis; kutil papilomavirus Manifestasi respiratori
22

Infeksi Pneumocytis carinii, mycobacterium avium intracelulare, Mtuberculosis, Candida, Chlamydia, histoplasma capsulatum, toxoplasmagondii, coccidiodes immitis, Cryptococcus neoforms, sitomegalovirus, virusvirus influenza, pneumococcus, strongyloides limfoma dan sarcoma kaposis

Napas pendek, batuk, nyeri(hipoksia, intoleransi aktifitas, keletihan; gagal respiratori, kematian)

Napas pendek, batuk, nyeri(hipoksia, intoleransi aktifitas, keletihan; gagal respiratori, kematian)

Manifestasi dermatologic Lesi-lesi kulit Nyeri, gatal-gatal, rasa terbakar, stafilokokus(bullous impetigo, infeksi sekunder dan sepsis, cacat etkima, folikulitis), dan perubahan citra diri Lesi-lesi virus herpes simpleks (oral, fasial, anal dan vulvovaginal) Herpes zoster Lesi-lesi miobakteri kronik timbul diatas nodus-noduls limfe atau sebagai ulserasi atau macula hemoragik Lesi lain berhubungan dengan infeksi pseudomonas aeruginosa, molluscum contangiosum, candida albicans, cacing gelang,Cryptococcus, sporoticosis(dermatitis yang disebabkan oleh xerosis reaksi obat trutama sulfa Lesi dari parasit seperti scabies atau tuma ; sarcoma kaposis, dekubitus, dan kerusakan integritas kulit akibat lamanya tekanan dan inkontinens

Manifestasi sensorik
23

a. Pandangan Kebutaan Sarcoma kaposis pada konjugtiva atau kelopak mata, retinis sitomegalovirus b. pendengaran Nyeri dan Otitis eksternal akut dan otitis pendengaran media; kehilangan pendengaran yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan reaksi-reaksi obat Sumber : WHO, 2013

kehilangan

Semua organ manusia bisa terserang HIV karena virus ini menyerang sel. Tergantung pada sel target mana yang terkena. Berdasarkan waktu terjadi infeksi, manifestasi yang muncul pada penderita HIV dapat dibedakan menjadi 2 fase yaitu akut dan kronis (Lewis, et all. 2011) 1. Infeksi akut (acut retroviral sindrom 1-3 minggu) Terjadi ketika antibody HIV spesifik berkembang, dengan sindrom panas/demam, pembesaran kelenjar limpa, sakit pada tenggorokan, sakit kepala, lelah, mual, nyeri tulang dan sendi, diare dan atau kemerahan. Hal ini bisa berkembang dan menyebabkan komplikasi seperti meningitis, peripheral neurophati, facial palsy atau GBS. Selama periode akut terdapat virus yang tinggi dan jumlah CD4+ T sel yang turun secara bertahap namun kembali dengan cepat ke nilai dasar/normal. Pada tahap ini, biasanya pasien didiagnosa sebagai gejala flu biasa. 2. Infeksi kronis a. Early Chronic Infection Pada fase ini sering disebut sebagai penyakit asimptomatik. Meskipun sakit kepala, kelelahan, berkeringat diwaktu malam, demam, persistant generalized lymphadenophaty (PGL) bisa saja terjadi. Kadar CD4+ sel T = 500 sel/UL.

24

b. Intermediate Chronic Infection Gejala yang diperlihatkan menjadi persisten seperti demam, diare kronis, sakit kepala berulang, kelelahan yang sangat. Masalah lain yang termasuk adalah infeksi local, limphadenopati dan manifestasi system saraf. Kadar CD4+ sel T = 200 - 500 sel/UL. c. Late Chronic Infection Tidak dapat ditegakkan sampai pasien mendapat criteria dengan CDC. Criteria diagnosis untuk AIDS sebagai berikut : 1) Kadar CD4+ sel T turun sampai 200 sel/Ul 2) Terdapat satu infeksi opportunistic 3) Terdapat satu tanda opportunistic cancer 4) Terdapat wasting syndrome yaitu kehilangan 10% lebih dari ideal masa tubuh 5) Terdapat AIDS Demensia complec. adalah AIDS didiagnosis ketika individu dengan infeksi HIV berkembang lebih dari satu kondisi

Gambar 7. Perjalanan Penyakit HIV AIDS Sumber : Yayasan Spiritia

25

7. Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik Diagnosis infeksi HIV dengan cara mendeteksi adanya antibody dan atau antigen HIV dalam darah. Jenis peneriksaan yang dapat dilakukan antara lain (Shetty Shibani, et all, 2011) : a. Serologi : HIV -1 antibody screening assays: 1) Enzyme Linked Immunoasorbant Assay [ELISA]. Pengujian immunoassay untuk mendeteksi adalah > antibodi 99,5%, melawan berguna HIV. dalam Keuntungan: Sensitivitas efektif, dan spesifik. Kekurangan: Menunjukkan tingginya insiden positif palsu bila reaksi digunakan untuk orang di daerah rendah risiko infeksi. 2) Home access HIV -1 test system/dried blood spot. Keuntungan: cepat, murah, sederhana, tidak memerlukan penggunaan organic pelarut atau prosedur ekstraksi. Koleksi sampel ini disederhanakan karena hanya membutuhkan sejumlah kecil darah, pengolahan sampel. Waktu berkurang, dan juga memberikan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. 3) Rapid tests, meliputi : a) Agglutination tests b) Flow through cassettes c) Solid phase tests d) Immunochromatographic strip (ICS) tests 4) Rapid latex agglutination assay. Keuntungan: Menunjukkan kepekaan tinggi dan spesifisitas tinggi. Hal ini sederhana, cepat, membutuhkan minimum reagen dan teknis keterampilan. 5) Dot blot assay. Keuntungan : mudah, spesifisitas dan sensitifitas setara dengan ELISA.

menyaring sejumlah besar sampel darah. Mudah dilakukan, biaya

26

b. HIV-1 antibody confirmatory antibody assays: 1) Western blot Sebuah uji yang lebih spesifik untuk adanya antibodi HIV pada serum, dan merupakan tes konfirmasi yang umum digunakan. Keuntungan: Ini menunjukkan sensitivitas sekitar 96%, sangat spesifik dan mendefinisikan profil gen antibodi terhadap produk virus tertentu. Kekurangan: mahal, kebutuhan tenaga kerja yang intensif dan keahlian untuk menafsirkan, membutuhkan waktu lama sehingga tidak digunakan sebagai tes skrinning. 2) Indirect immunofluorescence assay. Untuk mendeteksi virus tertentu IgG atau IgA atau antibodi IgM. 3) Radio immunoprecipitation assay [RIPA] Tes alternatif yang kadang-kadang digunakan sebagai uji konfirmasi atas western blot. 4) Line immunoassay c. Alternative Antibody Testing Technologies 1) Cairan mulut. Air liur saluran kelenjar atau transudat mukosa adalah specimen yang dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV dalam cairan oral. 2) Analisa urin 3) Mukosa vagina d. Viral Identification Assays: 1) Polymerase Chain Reaction (PCR). Merupakan cara untuk mengetahui amplifikasi gen dan transkrip RNA. Keuntungannya spesifikasi dan sensitivitas 97-98%. 2) Virus culture 3) p24 antigen capture assay e. Test monitoring 1) Analisis limphosit 2) Tes HIV-2

27

f. Laboratory diagnosis of HIV in infants 1) Viral culture 2) HIV-1 p24 antigen detection 3) HIV-1 DNA detection 4) HIV-1 RNA detection 5) Enzyme linked immunospot assay (ELISPOT) and In vitro antibody production (IVAP) 6) HIV specific IgA 7) IgG capture EIA Hasil abnormal pemeriksaan darah yang umum terjadi pada pasien dengan infeksi HIV, penyakit oportunistik atau komplikasi terapi diantaranya adalah : (Lewis, et all, 2011) a. Penurunan jumlah leukosit, khususnya netrophile b. Trombositopenia yang disebabkan karena infeksi HIV, adanya antibody trombosit, atau efek terapi c. Anemia yang dihubungkan dengan proses penyakit kronis dengan efek pemberian ART (antiretrovirus therapy) d. Gangguan fungsi hepar yang disebabkan infeksi HIV, pengobatan atau adanya infeksi hepar yang umum terjadi. Deteksi dini adanya hepatitis B atau C menjadi penting karena infeksi ini menjadi perhatian penting pada penderita HIV dalam penggunaan ART yang dapat menyebabkan kesakitan bahkan kematian. Selain pemeriksaan laboratorium dan diagnostic, terdapat dua macam pendekatan untuk tes HIV, yaitu : a. Konseling dan tes HIV sukarela (KTS-VCT = Voluntary Counseling & Testing) b. Tes HIV dan konseling atas inisiatif petugas kesehatan (KTIP PITC = Provider-Initiated Testing and Counseling)

28

8. Penatalaksanaan Menurut WHO, 2013 upaya menanggulangi penyakit HIV AIDS melalui Program penanggulangan AIDS di Indonesia yang terdiri dari 4 pilar, dan semuanya menuju pada paradigma Zero new infection, Zero AIDS-related death dan Zero Discrimination. Empat pilar tersebut adalah: a. Pencegahan (prevention); yang meliputi pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual dan alat suntik, pencegahan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan HIV dari ibu ke bayi (Prevention Mother to Child Transmission, PMTCT), pencegahan di kalangan pelanggan penjaja seks, dan lain-lain. b. Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP); yang meliputi penguatan dan pengembangan layanan kesehatan, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral dan dukungan serta pendidikan dan pelatihan bagi ODHA. Program PDP bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian dan meningkatkan kualitas hidup. c. d. Mitigasi dampak berupa dukungan psikososio-ekonomi. Penciptaan lingkungan yang kondusif (creating enabling environment) melalui penguatan kelembagaan dan manajemen, manajemen program serta penyelarasan kebijakan. Dengan semakin meningkatnya jumlah penderita HIV AIDS yang tidak memandang usia, jenis kelamin, status social ekonomi maka setiap daerah diharapkan menyediakan semua komponen layanan HIV yang terdiri dari : a. b. c. d. Informed consent untuk tes HIV seperti tindakan medis lainnya. Mencatat semua kegiatan layanan dalam formulir yang sudah ditentukan Anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap oleh dokter. Skrining TB dan infeksi oportunistik

29

e.

Konseling bagi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) perempuan usia subur tentang KB dan kesehatan reproduksi termasuk rencana untuk mempunyai anak.

f. g. h. i. j. k. l.

Pemberian obat kotrimoksasol sebagai pengobatan pencegahan infeksi oportunistik. Pemberian ARV untuk ODHA yang telah memenuhi syarat. Pemberian ARV profilaksis pada bayi segera setelah dilahirkan oleh ibu hamil dengan HIV. Pemberian imunisasi dan pengobatan pencegahan kotrimoksasol pada bayi yang lahir dari ibu dengan HIV positif. Anjuran rutin tes HIV, malaria, sifilis dan IMS lainnya pada perawatan antenatal (ANC). Konseling untuk memulai terapi. Konseling tentang gizi, pencegahan penularan, narkotika dan konseling lainnya sesuai keperluan.

m. Menganjurkan tes HIV pada pasien TB, infeksi menular seksual (IMS), dan kelompok risiko tinggi beserta pasangan seksualnya, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. n. Pendampingan oleh lembaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien Rekomendasi WHO, pengobatan penderita HIV AIDS dengan ART (Antiretroviral Terapy). ART ini terdiri dari kombinasi lebih dari 3 ARV (Antiretroviral) untuk memaksimalkan supresi virus HIV dan menghentikan progresi penyakit HIV. Penelitian menunjukkan penurunan angka kematian dan kesakitan setelah menggunakan obat ini. Selain itu mengurangi penularan dan meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Penderita HIV AIDS sering mengalami penyakit oportunistik. Dengan penggunaan ART ini dapat menurunkan kejadian infeksi oportunistik. Hal ini sesuai hasil penelitian yang dilakukan Low Andrea, et all. (2013), yang bertujuan untuk menggambarkan insiden dan proporsi infeksi oportunistik

30

di Asia, Afrika, Amerika Latin pada tahun 1990 sampai dengan Januari 2011 yang diidentifikasi menggunakan databased Pubmed dan Global Health. Status ART dikategorikan ART awal < 12 bulan, ART akhir 12 bulan, dan undefined time on ART. Penelitian ini dilakukan pada 61105 partisipan, dengan CD4 < 200 sell/mm3 atau derajat 3-4 menurut WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada penurunan substansial dalam kejadian infeksi oportunistik dengan penggunaan ART di LMIC (dari 60% menjadi 95%), dibandingkan dengan kejadian di Eropa dan Amerika Utara. Infeksi oportunistik terbesar adalah kandidiasis oral, toksoplasmosis, herpes zoster dan sarkoma kaposi, dengan penurunan lebih rendah untuk kriptokokus meningitis dan infeksi pneumonia. Sebagian besar dampaknya terlihat pada tahun pertama pengobatan. Tidak ada dampak terhadap kejadian ulkus genital /HSV-2 atau bakteremia. Penggunaan ART di LMIC telah mencegah sekitar 900.000 infeksi oportunistik per tahun, dengan penghematan minimal 32 juta dolar/tahun. Jadi pemberian ART sedini mungkin dapat meningkatkan kualitas hidup penderita, mengurangi morbiditas dan mortalitas. Tabel 2. Rekomendasi memulai terapi antiretroviral penderita dewasa menurut WHO (2006) cit Nasronudin, 2007 Stadium Klinis WHO I II III Pemeriksaan CD4 tidak dapat dilakukan ARV belum direkomendasikan ARV belum direkomendasikan Mulai terapi ARV Pemeriksaan CD4 dapat dilakukan Terapi bila CD4 <200 sel/ mm3 Mulai terapi bila CD4 <200 sel/mm3 Pertimbangkan terapi bila CD4 <350 sel/mm3 dan mulai ARV sebelum CD4 turun <200 sel/mm3 Terapi tanpa mempertimbangkan jumlah CD4

IV

Mulai terapi ARV

31

Dalam pemberian ART perlu pemeriksaan laboratorium untuk memantau kondisi penderita. Menurut WHO, 2013 pemeriksaan laboratorium yang ideal sebelum memulai ART apabila sumber daya memungkinkan: a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. Darah lengkap* Jumlah CD4* SGOT / SGPT* Kreatinin Serum* Urinalisa* HbsAg* Anti-HCV (untuk ODHA IDU atau dengan riwayat IDU) Profil lipid serum Gula darah VDRL/TPHA/PRP Ronsen dada (utamanya bila curiga ada infeksi paru) Tes Kehamilan (perempuan usia reprodukstif dan perluanamnesis mens terakhir) m. PAP smear / IFA-IMS untuk menyingkirkan adanya Ca Cervix yang pada ODHA bisa bersifat progresif) n. Jumlah virus / Viral Load RNA HIV** dalam plasma (bila tersedia dan bila pasien mampu)

32

Catatan: * adalah pemeriksaan yang minimal perlu dilakukan sebelum terapi ARV karena berkaitan dengan pemilihan obat ARV. ** pemeriksaan jumlah virus memang berguna untuk memantau perkembangan dan menentukan keadaan gagal terapi. Sebelum mendapat terapi ARV pasien harus dipersiapkan secara matang dengan konseling kepatuhan karena terapi ARV akan berlangsung seumur hidupnya. Untuk ODHA yang akan memulai terapi ARV dalam keadaan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 maka dianjurkan untuk memberikan kotrimoksasol (1x960mg sebagai pencegahan IO/ infeksi opportunistik) 2 minggu sebelum terapi ARV. Hal ini dimaksudkan untuk: a. b. Mengkaji kepatuhan pasien untuk minum obat,dan Menyingkirkan kemungkinan efek samping tumpang tindih antara kotrimoksasol dan obat ARV, mengingat bahwa banyak obat ARV mempunyai efek samping yang sama dengan efek samping kotrimoksasol. Proses pemberian informasi, konseling dan dukungan kepatuhan harus dilakukan oleh petugas kesehatan. Tiga langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan antara lain: a. Memberikan informasi Klien diberi informasi dasar tentang pengobatan ARV, rencana terapi, kemungkinan timbulnya efek samping dan konsekuensi ketidakpatuhan. b. Konseling perorangan Petugas kesehatan perlu membantu klien untuk mengeksplorasi kesiapan pengobatannya. Sebagian klien sudah jenuh dengan beban keluarga atau rumah tangga, pekerjaan, tidak siap untuk membuka status nya
kepada orang lain sehingga tidak dapat menjamin kepatuhan berobat.

Dalam kondisi seperti ini, pasien membutuhkan sdukungan dari oranglain baik keluarga, orang terdekat maupun masyarakat sekitar.

33

c. Mencari penyelesaian masalah praktis dan membuat rencana terapi. Setelah memahami keadaan dan masalah klien, perlu dilanjutkan dengan diskusi untuk mencari penyelesaian masalah tersebut secara bersama dan membuat perencanaan praktis. Hal-hal praktis yang perlu didiskusikan antara lain: 1) Di mana obat ARV akan disimpan? 2) Pada jam berapa akan diminum? 3) Siapa yang akan mengingatkan setiap hari untuk minum obat? 4) Apa yang akan diperbuat bila terjadi penyimpangan kebiasaan seharihari? Harus direncanakan mekanisme untuk mengingatkan klien berkunjung dan mengambil obat secara teratur sesuai dengan kondisi pasien. Perlu dibangun hubungan yang saling percaya antara klien dan petugas kesehatan. Perjanjian berkala dan kunjungan ulang menjadi kunci kesinambungan perawatan dan pengobatan pasien. Sikap petugas yang mendukung dan peduli, tidak mengadili dan menyalahkan pasien, akan mendorong klien untuk bersikap jujur tentang kepatuhan makan obatnya. Pengobatan penderita HIV AIDS ini berlangsung seumur hidup, sehingga sangat membutuhkan kerjasama yang baik antara penderita dengan petugas kesehatan. Penderita benar-benar perlu disiapkan secara fisilk mental, psikologis, social dan ekonomi. Adapau dalam mempersiapkan penderita memulai terapi ARV dapat dilakukan dengan cara : Mengutamakan manfaat minum obat daripada membuat pasien takut minum obat dengan semua kemunginan efek samping dan kegagalan pengobatan. a. Membantu pasien agar mampu memenuhi janji berkunjung ke klinik b. Mampu minum obat profilaksis IO secara teratur dan tidak terlewatkan c. Mampu menyelesaikan terapi TB dengan sempurna. d. Mengingatkan pasien bahwa terapi harus dijalani seumur hidupnya. e. Jelaskan bahwa waktu makan obat adalah sangat penting, yaitu kalau dikatakan dua kali sehari berarti harus ditelan setiap 12 jam. f. Membantu pasien mengenai cara minum obat.
34

g. Membantu pasien mengerti efek samping dari setiap obat tanpa membuat pasien takut terhadap pasien, ingatkan bahwa semua obat mempunyai efek samping untuk menetralkan ketakutan terhadap ARV. h. Tekankan bahwa meskipun sudah menjalani terapi ARV harus tetap menggunakan kondom ketika melakukan aktifitas seksual atau menggunakan alat suntik steril. i. Sampaikan bahwa obat tradisional (herbal) dapat berinteraksi dengan obat ARV yang diminumnya. j. Menanyakan cara yang terbaik untuk menghubungi pasien agar dapat memenuhi janji/jadwal berkunjung. k. Membantu pasien dalam menemukan solusi penyebab ketidak patuhan tanpa menyalahkan pasien atau memarahi pasien jika lupa minum obat. l. Mengevaluasi sistem internal rumah sakit dan etika petugas dan aspek lain diluar pasien sebagai bagian dari prosedur tetap untuk evaluasi ketidak patuhan pasien. Mengingat ART merupakan obat dengan berbagai kombinasi ARV yang memiliki efek samping tertentu maka dibutuhkan pemantauan kondisi pasien. Pemantauan yang dilakukan antara lain : a. Pemantauan klinis Frekuensi Pemantauan klinis tergantung dari respon terapi ARV. Pemantauan klinis minimal perlu dilakukan pada minggu 2, 4, 8, 12 dan 24 minggu sejak memulai terapi ARV dan kemudian setiap 6 bulan bila pasien telah mencapai keadaan stabil. Penilaian klinis yang dilakukan antara lain tanda dan gejala efek samping obat atau gagal terapi dan frekuensi infeksi (infeksi bakterial, kandidiasis dan atau infeksi oportunirtik lainnya). b. Pemantauan laboratoris 1) Pemantauan CD4 secara rutin setiap 6 bulan, atau lebih sering bila ada indikasi klinis. Angka limfosit total (TLC = total lymphocyte count) tidak direkomendasikan untuk digunakan memantau terapi karena

35

perubahan nilai TLC tidak dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan terapi 2) Untuk pasien yang akan memulai terapi dengan AZT maka perlu dilakukan pengukuran kadar Hemoglobin (Hb) sebelum memulai terapi dan pada minggu ke 4, 8 dan 12 sejak mulai terapi atau ada indikasi tanda dan gejala anemia 3) Pengukuran ALT (SGPT) dan kimia darah lainnya perlu dilakukan bila ada tanda dan gejala. Akan tetapi bila menggunakan NVP untuk perempuan dengan CD4 antara 250 - 350 sel/mm3 maka perlu dilakuan pemantauan enzim transaminase pada minggu 2, 4, 8 dan 12 sejak memulai terapi ARV, dilanjutkan dengan pemantauan berdasar gejala klinis 4) Evaluasi fungsi ginjal (ureum, creatinin) 5) Pemeriksaan gula darah dan profil lipid secara reguler lebih diutamakan untuk dilakukan atas dasar tanda dan gejala 6) Pengukuran Viral Load (VL) digunakan untuk membantu diagnosis gagal terapi. Hasil VL dapat memprediksi gagal terapi lebih awal dibandingkan dengan hanya menggunakan pemantauan klinis dan pemeriksaan jumlah CD4. Jika pengukuran VL dapat dilakukan maka terapi ARV diharapkan menurunkan VL menjadi tidak terdeteksi (undetectable) setelah bulan ke 6. c. Pemantauan jumlah sel CD4 Pemberian terapi ARV akan meningkatkan jumlah CD4. Keadaan tersebut, kadang tidak terjadi, terutama pada pasien dengan jumlah CD4 yang sangat rendah pada saat mulai terapi. Meskipun demikian, pasien dengan jumlah CD4 yang sangat rendah tetap dapat mencapai pemulihan imun yang baik tetapi memerlukan waktu yang lebih lama. Pada pasien yang tidak pernah mencapai jumlah CD4 yang lebih dari 100 sel/mm3 dan atau pasien yang pernah mencapai jumlah CD4 yang tinggi tetapi kemudian turun secara progresif tanpa ada penyakit/kondisi medis lain, maka perlu dicurigai adanya keadaan gagal terapi secara imunologis. Data jumlah

36

CD4 saat mulai terapi ARV dan perkembangan CD4 yang dievaluasi tiap 6 bulan sangat diperlukan untuk menentukan adanya gagal terapi secara imunologis. d. Kematian dalam Terapi Antriretroviral Sejak dimulainya terapi ARV, angka kematian yang berhubungan dengan HIV semakin turun. Secara umum, penyebab kematian pasien dengan infeksi HIV disebabkan karena penanganan infeksi oportunistik yang tidak adekuat, efek samping ARV berat (Steven Johnson Syndrome), dan keadaan gagal fungsi hati stadium akhir (ESLD - End Stage Liver Disease) pada kasus ko-infeksi HIV/HVB. Paradigma baru yang menjadi tujuan global dari UNAIDS adalah Zero AIDS-related death. Hal ini dapat tercapai bila pasien datang di layanan HIV dan mendapat terapi ARV secepatnya. 9. Prinsip Perawatan Menurut Budihartono, et all (1995), mengatakan dalam penanganan atau perawatan terhadap pasien dengan HIV/AIDS ada beberapa prinsip yang harus diketahui oleh perawat, yaitu : a. Ruangan 1) Kadang kadang penderita AIDS menempati ruangan tersendiri dengan alasan pertimbangan aspek sosial dan psikologis, serta melindungi penderita dari infeksi lainnya terutama bila dalam keadaan Leukopenia. Namun secara umum penderita yang dirawat di Rumah Sakit tidak dianggap perlu untuk menempati ruangan isolasi / tersendiri. 2) Ruangan isolasi dapat disediakan bagi penderita AIDS dengan diare berat, perdarahan, batuk yang hebat, beberapa infeksi sekunder, yang merupakan indikasi untuk menempati ruang isolasi. Dasar pemikiran perawatan isolasi adalah untuk perlindungan penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah dari infeksi nosokomial, juga melindungi pasien lain dari HIV serta mikroorganisme lainnya yang berkaitan.

37

b. Tenaga Perawat 1) Tim Perawatan yang menderita infeksi, kelainan kulit dan hamil tidak dianjurkan untuk aktif dalam melaksanakan perawatan pasien AIDS. 2) Perawat mengerti, memahami, dan memiliki ketrampilan dalam memberikan Asuhan Keperawatan kepada penderita AIDS. 3) Untuk menghindari terpaparnya virus AIDS, perawat diharuskan mengenakan pakaian khusus yang meliputi : pakaian / skort, tutup kepala, serta sarung tangan pada saat melakukan tindakan keperawatan, misalnya : a). Memandikan pasien b). Menolong pasien saat BAB / BAK c). Menyiapkan bahan pemeriksaan d). Mengganti alat tenun e). Memasang infus f). Merawat jenazah, dan lain lain. 4) Mencuci tangan Tim sebelum Khusus dan yang sesudah melakukan jawab tindakan terhadap keperawatan. 5) Membentuk bertanggung penanggulangan AIDS bila terkena tusukan jarum bekas atau terkena percikan cairan tubuh penderita pada mata, mulut atau tangan / bagian tubh yang terluka. 6) Memberikan lapisan plastik pada bantal, guling, kasur sebagai pelindung sehingga mudah dicuci dengan detergen. 7) Penulisan label pada bahan pemeriksaan laboratorium ( Botol Spesimen ) dengan tulisan : bahan menular / HIV, sehingga petugas yang terkait akan lebih hati hati dalam mengelola bahan pemeriksaan tersebut. 8) Tetap memegang teguh rahasia jabatan. c. Pengelolaan Alat

38

1) Alat instrumen yang telah digunakan pada penderita AIDS, misalnya masker, alat bantu nafas kemudian disterilkan. 2) Jarum bekas hendaknya tidak ditutup kembali, tapi dipatahkan / dibengkokkan dan kemudian dibakar. 3) Gunakan alat alat medik yang disposible. 4) Alat tenun hendaknya dipisahkan pemakaian dan pencuciannya dari penderita lain. d. Penderita dan Pengunjung 1) Penderita dan pengunjung dianjurkan mencuci tangan setiap setelah melakukan aktivitas ataupun kontak dengan penderita. 2) Penderita diperbolehkan mengunjungi tempat fasilitas lain yang berada di Rumah sakit, seperti Ruang televisi, toko untuk menghilangkan kesan isolasi. 3) Berdasarkan rekomendasi dari Ahli Psikologi, penderita boleh ditemani selama perawatan. 10. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan HIV AIDS adalah multiorgan atau multi system yaitu antara lain : a. b. c. d. e. f. System pernapasan : PCP (Pneumonia Pneumositic Pulmonary), CMV, TBC Sistem saraf : stroke, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, penurunan kemampuan motorik System gastrointestinal : diare System perkemihan : gagal ginjal akut, nephritis, Nephrogenic systemic fibrosis Sensori : buta, tuli Dermatologi : lesi kulit direndam dengan larutan desinfektan

11. Discharge Planning (dEwit & Kumaragai, 2013)

39

Edukasi pasien pada pasien dengan gangguan kekebalan tubuh


a.

Membersihkan tangan sering dan khususnya sebelum makan, setelah buang hajat, setelah membelai binatang, setelah menyentuh atau berjabat tangan, dan ketika pulang dari belanja atau tugas.

b. Mencuci ketiak, selangkangan, kemaluan, dan daerah anus minimal

dua kali sehari dengan sabun antimikroba dan area keringkan seluruhnya.
c.

Mendapatkan istirahat yang cukup setiap hari untuk memungkinkan tubuh untuk berfungsi sebaik-baiknya.

d. Mengambil suhu setidaknya sekali sehari.

e.
f.

Mengkaji tanda-tanda infeksi setiap hari dan melaporkan tanda-tanda tersebut dengan segera ke dokter. Mengambil semua obat yang diresepkan sesuai instruksi.

g. Menahan diri untuk bergaul di keramaian, terutama selama musim flu. h. Menghindari orang lain yang menampilkan tanda-tanda dan gejala

infeksi.
i.

Menghindari perjalanan ke daerah-daerah dengan sanitasi yang buruk atau fasilitas perawatan kesehatan yang tidak memadai. Memasak makanan dengan baik dan menghindari makan mentah, makanan kotor. Mencuci piring di mesin cuci piring atau dengan air sabun hangat. Permukaan pemotongan (talenan), pisau, dan area persiapan makanan di mana unggas mentah, daging, dan seafood yang menyentuh harus dibersihkan setelah digunakan.

j.

k. l.

m. Tidak menggali tanah atau bekerja dengan tanaman hias. n. Menggunakan teknik pengurangan stres secara teratur.

Pertimbangan gizi Meningkatkan asupan makanan untuk pasien dengan AIDS Mendorong/menganjurkan langkah-langkah berikut:
a. Makan dalam jumlah kecil sering.

40

b. Makan makanan ringan berkalori tinggi atau komersial tersedia

suplements cair atau 'kekuatan' batangan.


c. Makan makanan pada suhu kamar. d. Melembutkan makanan biji-bijian kering seperti roti, crackres, dan kue

dalam susu sebelum mengkonsumsinya.


e. Makan makanan nonabrasive yang mudah ditelan seperti pasta, telur

yang dimasak, ikan panggang, chesee lembut, puding, dan es krim.


f. Mengisap es yang bertangkai untuk mematikan atau meringankan rasa

sakit mulut. Pasien harus menghindari:


a. Buah-buahan mentah dan sayuran kecuali jika mereka dicuci bersih. b. Makanan yang pedas, asam, atau asin. c. Alkohol dan minuman berkarbonasi. d. Berlebihan makanan panas.

12. Implikasi keperawatan Implikasi keperawatan pada kasus HIV di tinjau dari beberapa aspek diantaranya yaitu : a. Aspek Psikologi Perawat mampu meningkatkan rasa percaya diri klien dan menjalin rasa saling percaya untuk mempermudah proses asuhan keperawatan b. Apek Sosial 1) Membatu klien untuk berinteraksi dengan lingkungan social 2) Memberikan dorongan pada keluarga untuk menerima kondisi klien 3) Memberikan edukasi pada masyarakat mengenai HIV / AIDS c. Aspek nilai , norma dan kepercayaan 1) Memfasilitasi ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing 2) Memberikan dukungan keagamaan sesuai kepercayaan masingmasing

41

Dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut, diharapkan tenaga kesehatan khususnya perawat dapat memberikan perawatan dan pendampingan/dukungan yang baik, tidak menyalahkan, bisa menerima dengan sikap bersahabat sehingga pasien merasa dimanusiakan dan muncul rasa percaya dan mematuhi perawatan, pengobatan yang diberikan kepadanya. Peran perawat dalam implikasi keperawatan pasien HIV antara lain : a. Perawat sebagai pendidik 1) Memberikan edukasi pada keluarga, klien dan masyarakat sekitar mengenai HIV/AIDS 2) Memberikan edukasi pada klien mengenai komplikasi yang mungkin terjadi 3) Memberikan edukasi pada klien mengenai cara pencegahan dan kemungkinan terapi yang dapat dilakukan. b. Perawat sebagai advokat 1) Menjembatani masalah yang timbul antara klien dan keluarga, klien dan masyarakat. 2) Memfasilitasi dan menghubungkan klien dengan organisasi komunitas 13. Patoflowdiagram (terlampir). B. Konsep Keperawatan Manajemen Keperawatan Infeksi HIV terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut :
1. Pengkajian Keperawatan

Assesment keperawatan untuk individu yang tidak diketahui terinfeksi HIV harus fokus pada perilaku yang bisa menempatkan orang pada risiko infeksi HIV dan penyakit menular seksual dan melalui darah lainnya. Semua pasien harus dinilai secara berkala untuk tingkah laku yang berisiko. Asumsinya tidak harus dibuat bahwa seseorang tanpa resiko

42

karena dia terlalu tua atau muda atau karena ia sudah menikah atau bernyanyi dalam paduan suara gereja. Anda dapat membantu individu menilai factor risiko dengan mengajukan empat pertanyaan dasar:
a). pernahkah

kamu

memiliki/mendapatkan

transfusi

darah

atau

digunakan faktor pembekuan?


b). pernahkah kamu berbagi obat-menggunakan peralatan dengan orang

lain?
c). pernahkah kamu memiliki pengalaman seksual di mana penis, vagina,

dubur, atau mulut anda sampai ke dalam kontak dengan penis, vagina, dubur, atau mulut orang lain?
d). pernahkah kamu mengalami infeksi seksual menular?

Pertanyaan-pertanyaan ini menyediakan data minimum yang diperlukan untuk mengawali pengkajian risiko. Sebuah respon positif terhadap semua pertanyaan ini membutuhkan eksplorasi mendalam tentang isu-isu yang terkait dengan resiko yang teridentifikasi. Pengkajian khusus diperlukan bagi seorang individu yang telah didiagnosis dengan infeksi HIV. Penilaian keperawatan berulang dari waktu ke waktu sangat penting karena keadaan masyarakat berubah. Pengenalan dini dan pengobatan dapat mengurangi perkembangan infeksi HIV dan mencegah infeksi baru. Sebuah riwayat yang lengkap dan sistem review menyeluruh dapat membantu Anda mengidentifikasi dan mengatasi masalah secara tepat waktu.
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan terkait dengan infeksi HIV ditentukan oleh beberapa variabel, tahap (misalnya, tidak terinfeksi, baru didiagnosis, infeksi kronis), kehadiran masalah etiologi tertentu (misalnya, gangguan pernapasan, depresi, nyeri), faktor psychocososial (misalnya, isu yang berkaitan untuk harga diri, seksual, interaksi keluarga, keuangan). Karena infeksi HIV merupakan sebuah komplek penyakit secara individual

43

berpengalaman, spektrum yang luas dari diagnosis keperawatan mungkin termasuk, namun tidak terbatas, yang disajikan dalam tabel dibawah ini: Nursing Diagnoses Infeksi HIV
-

Acute pain Anxiety Caregiver role strain (Regangan/beban peran pengasuh) Chronic pain Compromised family coping Decisional conflict Deficient knowledge Diarrhea Disturbed body image (citra tubuh terganggu) Fatique Fear Grieving (kecil hati) Hopelessness Hyperthermia Impaired memory Impaired oral mucous membrane Impaired skin integrity Ineffective coping Ineffective denial Insomnia Interrupted family processes Nausea Powerlessness Self-care deficit Social isolation Spiritual distress Sumber: Lewis, et all, 2011

Sedangkan Gulanick & Meyers (2013) ; dEwit & Kumagai (2013) menyebutkan diagnose keperawatan yang mungkin terjadi pada pasien dengan HIV/AIDS antara lain :
a. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penyebarannya berhubungan

dengan kondisi dan regimen pengobatan baru, penurunan motivasi belajar, status emosional seperti takut AIDS, tidak familier dengan sumber informasi, pengobatan yang kompleks, interpretasi yang salah terhadap informasi yang diperoleh ditandai dengan pasien sering bertanya

44

tentang sakitnya kepada tenaga kesehatan, mengatakan secara verbal tidak mendapatkan informasi yang adekuat dan akurat, tidak adekuat dalam mengikuti instruksi yang diberikan.
b. Infeksi berhubungan dengan infeksi HIV, ditandai dengan penurunan

jumlah sel CD4+, HIV positif, antibody HIV positif.


c. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan kelelahan, adanya jamur di mulut atau esophagus, penyakit CMV lambung, peningkatan kebutuhan nutrisi, mual muntah, malabsorbsi, ditandai dengan kehilangan berat badan, intake kalori tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolic, penurunan indeks masa tubuh.
d. Berduka berhubungan dengan infeksi kronis HIV e. Resiko ketidakefektifan manajemen regimen terapeutik berhubungan

dengan kurangnya informasi.


f. Resiko injuri berhubungan deficit system imun g. Kekurangan cairan berhubungan dengan diare h. Gangguan pola napas berhubungan dengan pengembangan paru yang

tidak optimal
i.

Kerusakan membrane mukosa oral berhubungan dengan defisiensi imunologis

j. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis k. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar bilirubin. l. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolism tubuh, proses infeksi oleh HIV
3. Rencana Keperawatan

Pencegahan infeksi HIV menghadirkan sejumlah tantangan bagi pasien, yang banyak di antaranya berhubungan dengan kesulitan dalam merubah perilaku. Intervensi keperawatan untuk mencegah penularan penyakit tergantung pada penilaian perilaku risiko individual pasien, pengetahuan, dan keterampilan. Intervensi keperawatan berdasarkan penilaian ini dapat

45

mendorong pasien untuk mengadopsi yang lebih aman, lebih sehat, dan perilaku yang kurang berisiko. infeksi HIV mempengaruhi seluruh rentang hidup seseorang dari kesehatan fisik sosial, emosional, ekonomi, dan kesejahteraan rohani. Setelah terinfeksi, tidak ada pengobatan yang diketahui bisa menghilangkan HIV dari tubuh. Oleh karena itu tujuan utama dari terapi adalah untuk menjaga viral load serendah mungkin untuk selama mungkin, mempertahankan atau mengembalikan sistem kekebalan tubuh berfungsi, meningkatkan kualitas hidup pasien, mencegah penyakit oportunistik, mengurangi kecacatan dan kematian terkait HIV, dan mencegah infeksi baru. Fokus intervensi keperawatan adalah dapat membantu pasien:
a.

mematuhi rejimen obat, penyakit menular seksual dan melalui darah lainnya,

b. mempromosikan gaya hidup sehat yang meliputi menghindari paparan

c.

melindungi orang lain dari HIV; mendukung,

d. mempertahankan atau mengembangkan hubungan yang sehat dan

e. f.

mempertahankan aktivitas dan produktivitas, mengeksplorasi masalah spiritual, penyakit, kecacatan, dan kematian, dan

g. mencapai kata sepakat dengan masalah yang berkaitan dengan

h. mengatasi gejala yang sering yang diakibatkan oleh HIV dan

perawatan nya. Rencana perawatan yang individual dan perubahan sebagai protokol pengobatan baru membangun dan / atau sebagai penyakit HIV berlanjut.

46

47

Rencana Keperawatan (Gulanick & Meyers (2013) ; dEwit & Kumagai (2013))
No 1 Diagnosa Keperawatan Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penyebarannya berhubungan dengan kondisi dan regimen pengobatan baru, penurunan motivasi belajar, status emosional seperti takut AIDS, tidak familier dengan sumber informasi, pengobatan yang kompleks, interpretasi yang salah terhadap informasi yang diperoleh ditandai dengan pasien sering bertanya tentang sakitnya kepada tenaga kesehatan, mengatakan secara verbal tidak mendapatkan informasi yang adekuat dan akurat, tidak adekuat dalam mengikuti instruksi yang diberikan. Tujuan & kriteria hasil Setelah mendapatkan tindakan keperawatan pengetahuan pasien mengenai penyakitnya, perawatan/manajemen sakitnya dan fungsi sexualnya meningkat, dengan criteria : - pasien secara verbal memahami isi yang diinginakn - pasien secara verbal memahami ketrampilan/penampilan yang diinginkan/diharapkan Rencana Tindakan & Rasional 1. Kaji pengetahuan pasien tentang proses penyakit, jalur penularan, komplikasi dan terapi modalitas. R/ karena pada penderita HIV kronis membutuhkan informasi tentang penyakit dan pengobatannya untuk membuat keputusan dalam berperilaku sehat 2. Gambarkan pada pasien dan orang2 yang memberi perhatian pada pasien mengenai infeksi HIV R/ pasien dan keluarga biasanya mengalami ketakutan ketika divonis menderita infeksi HIV. Kurangnya informasi tentang penyakit dan penularan secara akurat mengurangi hubungan personal dan dukungan social kepada pasien. 3. Gambarkan perilaku beresiko termasuk aktivitas seksual dan penggunaan obat intravena. R/HIV menyebar melalui aktivitas seksual yang tidak terlindungi dan melalui kontaminasi jarum suntik pada pemberian obat intravena. 4. Instruksikan pasien untuk mengenali tanda gejala penyakit, infeksi oportunistik dan neoplasma R/ pasien dapat menyampaikan tanda gejala yang ada sebagai informasi untuk tindak lanjut segera. 5. Instruksikan pasien untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi oportunistik dengan vaksin, pengobatan, menghindari sayuran mentah, ikan mentah, susu dan daging mentah. R/ Vaksinasi yang disarankan meliputi HBV, influenza dan pneumokokus. Infeksi oportunistik yg sering terjadi pneumocytis pneumonia, toxoplasmosis,.

48

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

Rencana Tindakan & Rasional CMV, TBC, meningitis kriptokokus. Makanan tersebut merupakan sumber bakteri dan protozoa penyebab infeksi. 6. Instruksikan pasien untuk mencegah penularan HIV melalui seksual dengan metode :melakukan hubungan seksual yang aman, menggunakan kondom, tidak berganti-ganti pasangan. R/ Aktivitas yang aman adalah tidak ada kontak dengan darah, semen atau sekresi vagina penderita. Kondom menurunkan resiko penularan HIV. 7. Eksplorasi cara untuk mengekspresikan hubungan intim tanpa menyebakan infeksi R/ pasien memerlukan komunikasi terbuka dengan pasangan seksualnya untuk bernegosiasi penggunaan metode yang menurunkan resiko penularan 8. Instruksikan pasien dan pasangan untuk mencegah kehamilan, mengontrol kelahiran dengan menggunakan kondom. R/ tanpa pengobatan, sekitar 15059% bayi terinfeksi dari ibu dengan infeksi HIV. Pengobatan ARV selama kehamilan dan kepada bayi setelah lahir mengurangi resiko bayi terinfeksi HIV. 9. Dorong penggunaan alat-alat intravena yang steril. Rujuk pasien ke program rehabilitasi jika perlu. R/ meskipun HIV dapat dibunuh secara cepat dengan cairan 10% hipoklorida, namun penggunaan alat-alat suntik sekali pakai lebih aman terhadap kejadian infeksi. 10. Jelaskan pentingnya menghindari donor darah, semen, atau organ, cuci darah

49

No 2

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

Infeksi berhubungan dengan Infeksi pasien terkendali setelah infeksi HIV, ditandai dengan dilakukan tindakan keperawatan, penurunan jumlah sel CD4+, HIV ditandai dengan : positif, antibody HIV positif. - Tidak ada infeksi oportunistik - Jumlah CD4 stabil atau meningkat

Rencana Tindakan & Rasional R/ hal tersebut adalah modus penularan HIV. 1. Pantau jumlah CD4 dan viral load R/ pasien harus memiliki tes laboratorium rutin CD4 dan viral load untuk memantau status HIV. Penurunan tingkat CD4 dan meningkatkan viral load menunjukkan perkembangan infeksi dan meningkatnya risiko untuk infeksi oportunistik). 2. Instruksikan terminologi yang umum digunakan dalam perawatan: CD4, Viral load, Antiretroviral R/ sel CD4 / sel T adalah sel darah putih yang memerangi infeksi. Viral load adalah jumlah HIV dalam sampel darah, obat antiretroviral adalah obat yang mengganggu replikasi retrovirus seperti HIV. 3. Instruksikan pasien tentang pengobatan antiretroviral dan potensial efek terapi dan efek samping untuk memantau: Efek pengobatan, Kategori pengobatan tertentu dan tindakannya. R/ antiretroviral biasanya digunakan dalam kombinasi, namun juga disesuaikan dengan masingmasing pasien. Pemilihan obat mungkin juga tergantung pada kondisi kronis, seperti gagal ginjal, disfungsi hati, diabetes, TBC, atau penyakit

kardiovaskular.
4. Dorong kepatuhan terhadap terapi, dan hindari penghentian terapi. R/ Kepatuhan yang serius dibutuhkan untuk mencegah resistansi.

50

No 3

Diagnosa Keperawatan Tujuan & kriteria hasil Ketidakseimbangan nutrisi kurang Kebutuhan nutrisi pasien seimbang dari kebutuhan tubuh setelah dilakukan tindakan berhubungan dengan kelelahan, keperawatan dengan criteria : adanya jamur di mulut atau - Berat badan bertambah atau esophagus, penyakit CMV tidak bertambah turun berat lambung, peningkatan kebutuhan badannya nutrisi, mual muntah, - Pasien secara verbal dapat malabsorbsi, ditandai dengan memahami kebutuhan intake kehilangan berat badan, intake kalori yang dibutuhkan untuk kalori tidak adekuat untuk meningkatkan berat badan memenuhi kebutuhan metabolic, penurunan indeks masa tubuh.

1. 2. 3.

4.

5.

6. 7. No 4. Diagnosa Keperawatan Tujuan & kriteria hasil Berduka berhubungan dengan Pasien mampu melewati & infeksi kronis HIV menyelesaikan proses berduka setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria : - Pasien dan keluarga mampu 1.

Rencana Tindakan & Rasional Kaji keluhan mual dan muntah R/ Menetapkan cara mengatasinya. Kaji status nutrisi klien. R/ untuk menentukan jenis dan takaran yang harus diberikan pada klien Beri makan TKTP rendah lemak dalam bentuk mudah ditelan (lunak). R/ Asupan nutrisi diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, diperlukan untuk melawan bakteri yang menyerang, dan agar seimbang dengan kebutuhan energi akibat metabolisme yang meningkat. Hindarkan makanan yang menghasilkan sisa gas dan karbonat. R/ Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu pernafasan abdomen. Beri makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering dan hidangkan selagi hangat. R/ Menghindari mual, muntah dan mencegah perdarahan. Beri makanan yang tidak merangsang saluran cerna. R/ Makanan yang merangsang dapat menimbulkan mual dan muntah. Ciptakan lingkungan yang bersih dan tidak bau. R/ menambah selera makan pasien. Rencana Tindakan & Rasional Identifikasi perilaku yang berhubungan dengan proses berduka R/ perilaku menangis, berbicara keras, marah adalah manifestasi dari sedih/duka. Semua tergantung dari usia, jenis kelamin dan budaya.

51

merasakan dan mengungkapkan secara verbal dan menjaga fungsi support system.

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

2. Kaji derajat berduka pasien R/ dengan mengerti pasien berada di tahap berduka, kita dapat menentukan tindakan yang sesuai untuk pasien dan keluarga 3. Dukung sharing permasalahan yang terjadi dengan oranglain yang dia percaya R/ berduka adalah pengalaman umum yang sering terjadi pada setiap orang dalam menjalani permasalahan. Dengan bercerita dengan orang yang mempunyai pengalaman sama menjadi sumber dukungan positip 4. Kaji kemampuan pasien dalam mengambil keputusan R/ berduka menyebabkan menurunnya kemampuan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan dan mengambil keputusan. 5. Identifikasi ketersediaan support system untuk pasien R/ pasien membutuhkan bantuan dalam mengidentifikasi sumber lain yang mendukungnya 6. Dengarkan dan dukung pasien untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal. R/ sharing perasaan dengan tenaga professional dapat membantu pasien menemukan arti dari pengalaman kehilangannya. 7. Bantu pasien untuk menyampaikan ketakutan, perencanaan dan harapannya Rencana Tindakan & Rasional R/ keterbukaan dapat mengurangi beban perasaan pasien dan memungkinkan pasien dapat melakukan aktivitas produktif lainnya

52

53

4. Implementasi Keperawatan

Kompleksitas penyakit HIV lebih terkait dengan sifat kronis. Seperti kebanyakan penyakit kronis dan menular, pencegahan primer dan promosi kesehatan adalah strategi kesehatan yang paling efektif. Ketika pencegahan gagal, penyakit HIV terus berlanjut seumur hidup, menyebabkan keterbatasan fisik meningkat, berkontribusi terhadap kesehatan terganggu, dan akhirnya menyebabkan kematian.
a.

Health Promotion
1) Pencegahan akan infeksi HIV

Infeksi HIV dapat dicegah. Menghindari dan/atau memodifikasi perilaku berisiko adalah alat pencegahan yang paling efektif. Semua pasien harus diberikan pendidikan dan konseling.
2) Mengurangi resiko sehubungan dengan hubungan seksual

Kegiatan seksual yang aman menghilangkan risiko paparan HIV dalam air mani dan cairan vaginanya. Berpantang dari semua aktivitas seksual adalah cara yang paling efektif untuk mencapai tujuan ini, tetapi ada pilihan yang aman bagi mereka yang tidak dapat atau tidak ingin menjauhkan diri. Membatasi perilaku seksual dengan kegiatan di mana mulut, penis, vagina, atau dubur tidak bersentuhan dengan mulut, penis, vagina atau dubur. Pasangan aman karena tidak ada kontak dengan air mani, darah, atau cairan vagina. Kegiatan yang aman termasuk masturbasi, masturbasi bersama (hand job), dan kegiatan lain yang memenuhi persyaratan 'tidak ada kontak. Seks insertif antara pasangan yang tidak terinfeksi HIV dan tidak berisiko terinfeksi HIV juga dianggap aman.
3) Mengurangi resiko sehubungan dengan penggunaan obat

Penggunaan narkoba, termasuk alkohol dan tembakau, yang merugikan. Hal ini dapat menyebabkan penekanan kekebalan tubuh, gizi buruk, dan sejumlah masalah psikososial. Namun, penggunaan narkoba di dalam dan dari dirinya sendiri tidak

54

menyebabkan infeksi HIV. Risiko utama untuk HIV yang berkaitan dengan peralatan berbagi dan/atau memiliki pengalaman seksual yang tidak aman saat berada di bawah pengaruh obat-obatan. Ketentuan pengurangan risiko dasar adalah sebagai berikut: (1). tidak menggunakan narkoba, (2). jika Anda menggunakan obat-obatan, tidak berbagi peralatan, dan (3). tidak memiliki hubungan seksual ketika berada di bawah pengaruh obat (termasuk alkohol) yang mengganggu kemampuan pengambilan keputusan.
4) Mengurangi resiko sehubungan dengan penularan perinatal

Cara terbaik untuk mencegah infeksi HIV pada bayi adalah untuk mencegah infeksi HIV pada perempuan. Perempuan yang sudah terinfeksi HIV sebaiknya ditanyakan hasrat reproduktif mereka. Mereka yang memilih untuk tidak memiliki anak perlu memiliki metode KB didiskusikan secara terperinci. Haruskah mereka menjadi hamil, abortus mungkin diinginkan dan harus dibahas dalam hubungannya dengan pilihan lainnya. Jika ibu hamil yang terinfeksi HIV secara tepat diobati selama kehamilan, tingkat penularan perinatal dapat dikurangi dari 25% menjadi kurang dari 2%. ART telah secara signifikan menurunkan risiko bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV dan banyak lagi dari perempuan sekarang mempertimbangkan menjadi ibu. Saat ini standar perawatan untuk semua wanita yang sedang hamil atau kehamilan memikirkan untuk diberi konseling tentang HIV, secara rutin menawarkan akses ke tes HIV sukarela-antibodi, dan, jika terinfeksi, menawarkan ART optimal.
5) Mengurangi resiko pada pekerjaan

Risiko infeksi dari kecelakaan kerja dengan paparan HIV adalah kecil tapi nyata. Keselamatan dan administrasi kesehatan (OSHA) mewajibkan pengusaha bahan yang infeksius. Kewaspadaan dan alat pengaman mengurangi risiko kontak langsung dengan darah

55

dan cairan tubuh. Sebaiknya paparan cairan yang terinfeksi HIV terjadi, pasca pajanan profilaksis (PEP) dengan kombinasi ART berdasarkan jenis paparan, volume eksposur, dengan status pasien sumbernya secara signifikan dapat mengurangi risiko infeksi. Kemungkinan pengobatan yang membuat pelaporan semua pajanan darah, bahkan lebih kritis.
6) Test HIV

Diperkirakan 250.000 orang yang hidup dengan HIV di Amerika Serikat tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, dan penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang tidak tahu mereka terinfeksi lebih mungkin untuk menularkan infeksi kepada orang lain. Karena pengujian adalah satu-satunya cara yang pasti untuk menentukan apakah seseorang memiliki HIV, CDC telah merekomendasikan bahwa semua orang usia 13-64 diuji. CDC merekomendasikan universal tes sukarela dalam kelompok usia, terlepas dari risiko pasien atau resiko yang dirasakan. Untuk mengurangi hambatan terhadap pengujian, CDC merekomendasikan proses 'opt out' di mana pasien diberi kesempatan untuk menolak tes, tetapi ditawarkan sebagai 'rutin'. CDC juga merekomendasikan bahwa konseling pretest dan posttest dapat disingkat dalam kondisi seperti ini. Tujuannya adalah untuk menormalkan tes, mengurangi stigma terkait dengan tes HIV, menemukan kasus tersembunyi, dapatkan individu yang terinfeksi ke dalam perawatan, dan mencegah kasus baru infeksi. b. Acute Intervention
1) Tindakan

awal;

respon

awal/pertama

dari

diagnose

HIV,

antiretroviral terapi (ART), ketaatan dalam ART, memperlambat progresifitas penyakit,


2) Respon awal terhadap diagnose HIV 3) Antiretroviral therapy (ART) 4) Ketaatan dalam program ART

56

5) Memperlambat perkembangan penyakit 6) Acute exacerbation c. Ambulatory dan Home Care 1) Perawatan terus-menerus (berkelanjutan) 2) Penyakit dan efek samping obat 3) Perawatan akhir dari kehidupan 5. Evaluasi Keperawatan

Hasil yang diharapkan dari pasien yang beresiko terinfeksi HIV adalah pasien akan dapat;
a. Menganalisa factor-faktor resiko pribadi b. Mengembangkan dan dengan mudah mengimplementasikan dan

merencanakan secara progresif untuk menurunkan/mengurangi factor resiko


c. Bersedia melakukan test HIV

Hasil yang diharapkan dari pasien yang terinfeksi HIV adalah pasien akan dapat;
a. Menggambarkan aspek-aspek dasar terhadap efek HIV pada system

kekebalan tubuh
b. Membandingkan dan membedakan berbagai pilihan pengobatan dari

penyakit HIV
c. Bekerjasama dengan tim kesehatan untuk mencapai kesehatan yang

optimal
d. Mencegah penularan HIV kepada orang lain

57

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HIV AIDS B. Kasus Identitas penderita Nama: Tn. Y Umur : 35 tahun Jenis kelamin : Pria Agama : Islam Tgl MRS : 8 September 2013 Anamnesis Autoanamnesis dan heteroanamnesis dilakukan pada penderita serta keluarga penderita padatanggal 03 Maret 2012 di RSD dr. Soebandi Jember. 1. Riwayat penyakit a . K e l u h a n u t a m a Nyeri perut dan mulut terasa pahit b. Riwayat penyakit s e k a r a n g . Sejak 10 hari SMRS pasien mengeluhkan sakit perut dengan batuk kering dan mulut terasa pahit. Nyeri perut hilang timbul dan muncul terutama saat batuk dan menarik nafas panjang. Nyeri juga muncul saat diberi makan dan tidak berkurang setelah makan maupun istirahat. Nyeri tidak menjalar ke bagian punggung, bahu maupun lengan. Nyeri hanya didaerah di ulu hati. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk. BAB normal, 1-2 hari sekali, konsistensi padat, warna kuning kecoklatan, tidak berlendir, tidak berdarah. Pasien tidak mengeluh nyeri dada, maupun nyeri sendi. Pasien jarang mengkonsumsi makanan yang berlemak.Pasien juga mengeluhkan makan maupun minum terasa pahit dan sulit menelan sejak 10 hari yang lalu. Pasien mengeluhkan mual (+), muntah(-). Pasien juga batuk jarang- jarang, tanpa dahak maupun darah. Saat batuk, kepala terasa sakit. Pasien tidak demam, tidak sesak. Pasien mengalami penurunan berat badan 5 kg dalam 4 minggu, keluar keringat malam (-), demam (-), pilek (-).K e m u d i a n pasien berobat ke puskesmas t a n g g u l d e n g a n r a w a t j a l a n , n a m u n t i d a k membaik. Suku : Jawa Pekerjaan : IRT Pendidikan : SMU Alamat : Sidomulyo

58

Pasien kemudian rawat inap di puskesmas tanggul selama 5 hari dan tidak membaik. Kemudian pasien pulang paksa beberapa hari dan kambuh lagi. Pasien kemudian rawat inap di RS. Jatiroto dengan keluhan yang sama. Pasien terdiagnosa tifoid dan gastritis. Kemudian pasien diperiksakan ke RSD. dr. Soebandi dengan hasil VCT (+). c . R i w a y a t p e n y a k i t d a h u l u . Pasien pernah diare 2 hari selama di rawat inap di RS. Jatiroto.Sejak 2 bulan yang lalu pasien mengeluhkan batuk kering, saat batuk pasien juga mengeluhkan pusing jarang-jarang, dahak (-), darah(-), sesak (-) keringat malam (-), dan lidah terasa pahit serta memberat saat ini.Pasien juga sering mengeluh demam subfebris hilang timbul sejak 1 tahun yang lalu. d. Riwayat pemberian obat ARV (+) ; hipertensi (-) ; DM (-) ;riwayat tranfusi darah (-); batuk lama (+) e . R i w a y a t p e n y a k i t k e l u a r g a . Tidak ada keluarga yang memiliki gejala yang serupa. Riwayat pengobatan Pasien menerima pengobatan selama dirawat di puskesmas tanggul dan RS. Jatiroto. Riwayat pribadi menyangkal pernah melaukan hubungan seksual dengan wanita lain, terdapat tato di tangan kanan , dada dan punggung. Riwayat pernah menggunakan / mengkonsumsi narkoba injeksi bersama dengan teman-temannya Riwayat sosial dan ekonomi. Pasien tinggal bersama isteri dan seorang putra. Pasien bekerja sebagai buruh dengan pendapatan tidak tentu, rata-rata penghasilan yangdidapatkan sekitar Rp.600.000,- hingga Rp.900.000,- per bulan. Penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan sekolah putranya. Pasien dikenal baik dan ramah oleh keluarga, kerabat dan tetangganya. Sejak terdiagnosis penyakit tersebut, hanya istrinya saja yang mengetahui. Sedangkan keluarga pasien lainnya termasuk putranya tidak tahu.

2. Riwayat sanitasi lingkungan.

59

Pasien tinggal di dalam rumah berukuran 15x6 meter, dengan 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, dapur dan 1 kamar mandi yang dilengkapi jamban. Dinding rumah terbuat dari batu bata, dan berlantaikan ubin, sedangkan bagian belakang rumah yaitu dapur berdinding anyaman bambu berlantai semen.Ventilasi rumah berasal dari 2 jendela ruang tamu, 1 jendela ruang tengah dan belakang, dan 1 jendela di tiap kamar yang memiliki luas rata-rata sekitar 40 x 60 cm. Cahaya matahari tidak dapat masuk ke setiap ruangan rumag sehingga rumah pasien memakai genteng kaca di tengah-tengah ruangan untuk menerangi ruangan dalam rumah. Pasien menggunakan sumur untuk kebutuhan seharihari seperti mandi, minum, memasak, dan mencuci. Jarak antara sumur dan septic tank sekitar 6 meter. Pembuangan sampah dilakukan dengan menggunakan lubang di halaman belakang rumah, yang berukuran 2x1 meter. Sampah ditumpuk yang kemudian dibakar. Jarak dengan rumah sekitar 10 meter. Pasien tidak memiliki hewan peliharaan di belakang rumah. Halaman depan maupun belakang rumah, tidak memiliki tembok pagar atau tembok pembatas halaman. Riwayat gizi Pasien makan 2-3 kali dalam sehari, dan tiap porsi habis. Menu yang dikonsumsi adalah nasi, tahu, tempe, ikan, sayur, dan buah. Pasien jarang mengkonsumsi ayam daging sapi atau kambing. a. Sistem serebrospinal: composmentis, cephalgia (-), kejang (-), parese (-). b. Sistem kardiovaskular: hipertensi (-), nyeri dada (-), palpitasi (-), dispnea (-), bengkak di kaki (-), sesak saat aktifitas (-). c. Sistem pernafasan : sesak nafas (-), batuk (+) dahak (-) darah (-), pilek (-), asma (-);batuk lama (+), dahak (-), darah (-), riwayat kontak (-), keringatmalam berlebihan (-), penurunan BB (+). d. Sistem gastrointestinal: disfagia (+), odinofagia (-), mual (-), muntah (-), nyeri perut(+) saat telat makan dan saat menghirup nafas panjang, BAB cair (+) lendir (-) darah (-), melena (-). e. Sistem urogenital: hematuri (-), nyeri BAK (-), poliuri (-)

60

f. Sistem

integumen:

turgor

kulit

normal,

ptechie

(-),

p u r p u r a ( - ) , e k i m o s i s ( - ) , sarkoma kaposi (-), scrofuloderma (-). g. Sistem muskuloskeletal: nyeri sendi (-), nyeri otot (-), nyeri tulang (-). Kesan : terdapat batuk kering tanpa dahak maupun darah disertai penurunan berat badan. Hasil Pemeriksaanfisik 8 September 2013 keadaan umum: tampak lemah, kesadaran : CM T D 8 0 / 6 0 , N 9 4 x / m e n i t , RR : 26 x/menitSuhu : 37.8 C, Kulit : turgor kulit normal, ikterus (-), ptechie (-), purpura (-), ekimosis (-), Kelenjar limfe: tidak teraba pembesaran pada limfonodi submandibula, leher, maupun aksila, Otot : tonus otot kuat, atrofi (-) Tulang : deformitas (-) PF: didaerah Kepala Bentuk : bulat lonjong, simetris, Rambut : hitam, bergelombang, tidak mudah dicabut, tidak mudah patah Mata : sclera ikterik (-/-), hyperemia (-/-), konjungtiva : anemis (+/+), edema palpebra (-/-), reaksi pupil (+/+); Hidung : secret (-/-), bau (-), perdarahan (-/-), pernafasan cuping hidung (-) Telinga : secret (-), perdarahan (-), edema (-); Mulut : sianosis (-), bau (-), Lidah : kandidiasis oral (+) Faring : hiperemi, tonsila palatine (T1 hiperemi/T1 hiperemi) Leher : Kelenjar Limfe : pembesaran (-/-), Tiroid : pembesaran (-); Kaku kuduk : (-), JVP 5+3 cm H2O Thorax/ Jantung : Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat; Palpasi : ictus cordis tidak teraba Perkusi : redup ICS II-III PSL dextra hingga ICS III MCL sinistra Auskultasi : S1-S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-) Paru Inspeksi : bentuk barrel chest, simetris, retraksi nafas (-) Palpasi : vocal fremitus : teraba sama kuat; Perkusi : BPH ICS 4 kanan; Auskultasi : Ronkhi (+/-) paru kiri

61

Abdomen : Inspeksi : datar, turgor kulit normal; Auskultasi: bising usus (+) 15x/menit Perkusi: timpani di seluruh abdomen Palpasi: supel, nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien t i d a k t e r a b a , g i n j a l tidak teraba. E k s t r e m i t a s : akral hangat +/+, oedema -/Inferior : akral hangat +/+, oedema -/-. Integumen : tidak terdapat penyakit kulit seperti jamur, dermatitis, maupun sarkoma Kaposi S t a t u s p s i k i a t r i : Kesan umum : berpakaian rapi, bersih, sopan, sesuai gender dan usia. Kontak : verbal (+), mata (+), Afek emosi : adekuat, Nervus kranialis : dalam batas normal, Kekuatan otot : kiri/kanan 5/5 Autonom: BAB (+) 1 kali/hari, kuning, cair, lendir ( - ) , d a r a h ( - ) B A K ( + ) 3 - 4 kali/hari, bening. C o l u m n a v e r t e b r a : d a l a m b a t a s n o r m a l , Status nutrisi : BB 160 kg dan TB 155cm Pemeriksaan laboratorium (8 September 2013) Hb : 8.8, Leu : 6.8, Ht : 26, Trom : 162.000 Faal hati: Bill direct : 0.14, Bill total 0.35, SGOT 70, SGPT 40, Albumin 2.5 Kreatinin 1.2, Ureum : 2.8 GDS 81, Na 140, K 4.1 P e m e r i k s a a n V C T Hasil pemeriksaan VCT 2 bulan yang lalu: positif reaktif. C. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan yang bisa muncul pada kasus diatas antara lain : 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna dan menyerap makanan, ditandai dengan BB turun 5kg dalam 4 minggu, anemia, Hb 8.8 gr%, nyeri

62

telan/disfagia, jarang mengkonsumsi daging ayam, sapi dan kambing, pasien mengeluh mual, albumin rendah 2.5, SGOT 70. 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis, ditandai dengan pasien mengeluh nyeri telan, nyeri saat batuk dan menarik napas panjang, nyeri saat makan, nyeri ulu hati, karakteristik nyeri seperti ditusuk-tusuk. 3. Kerusakan membrane mukosa oral berhubungan dengan imunosupresi ditandai dengan adanya jamur dalam mulut, hyperemia faring. 4. Infeksi berhubungan dengan tidakadekuatnya pertahanan sekunder : imunosupresi
5. Kekurangan Pengetahuan: Penyakit dan Transmission sehubungan dengan;

kondisi baru dan rejimen pengobatan, kompleksitas pengobatan, salah menginterpretasi informasi

63

D. Rencana keperawatan Nama Diagnose Medik


No 1

: Tn. Y : HIV dengan typhoid dan Gastritis


Tujuan & kriteria hasil Rencana Tindakan & Rasional Kebutuhan nutisi klien terpenuhi 1. Kaji keluhan mual dan muntah setelah dilakukan tindakan R/ Menetapkan cara mengatasinya. keperawatan selama masa perawatan, 2. Kaji status nutrisi klien. dengan criteria: R/ untuk menentukan jenis dan takaran yang harus diberikan pada klien - Nutrisi terpenuhi secara adekuat 3. Beri makan TKTP rendah lemak dalam bentuk mudah - IMT dalam batas normal sesuai ditelan (lunak). Berat badan R/ Asupan nutrisi diperlukan untuk meningkatkan - Klien mampu menghabiskan 1 daya tahan tubuh, diperlukan untuk melawan bakteri porsi makanan yang menyerang, dan agar seimbang dengan - Kadar Hb 14-18 gr% kebutuhan energi akibat metabolisme yang meningkat. - Keluhan mual berkurang s/d hilang 4. Hindarkan makanan yang menghasilkan sisa gas dan karbonat. R/ Dapat menghasilkan distensi abdomen yang mengganggu pernafasan abdomen. 5. Beri makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering dan hidangkan selagi hangat. R/ Menghindari mual, muntah dan mencegah perdarahan. 6. Beri makanan yang tidak merangsang saluran cerna. R/ Makanan yang merangsang dapat menimbulkan mual dan muntah. 7. Ciptakan lingkungan yang bersih dan tidak bau. R/ menambah selera makan pasien.

Diagnosa Keperawatan Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna dan menyerap makanan. S: - Klien mengatakan BBnya turun 5 kg dalam 4 minggu - Klien mengatakan nyeri tekan pada abdomen - Klien mengatakan perutnya terasa mual, nyeri telan - Klien mengatakan jarang mengkonsumsi daging ayam, sapi dan kambing O: - BB turun 5 kg dalam 4 minggu - Klien tampak anemia (Hb 8,8 gr % - Albumin 2.5 - SGOT 70

64

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

Rencana Tindakan & Rasional 8. Dampingi pasien saat makan. R/ Menunjukkan sikap caring perawat, memotivasi supaya pasien dapat menghabiskan makanannya dan mengecek habisnya porsi makanan. 9. Catat jumlah/porsi makan yang dihabiskan pasien setiap kali makan. R/ Mengetahui pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien. 10. Timbang berat badan setiap hari. R/ Untuk mengetahui status gizi pasien. 11. Bila pasien mengeluh mual, ajarkan tehnik relaksasi dengan menarik napas dalam. R/ Mengurangi rasa mual. 12. Jelaskan kepada pasien dan keluarga manfaat nutrisi bagi tubuh terutama pada sakit. R/ Menambah pengetahuan dan meningkatkan motivasi pasien untuk makan. 13. Kolaborasi untuk pemberian : - Obat-obatan : antiemetik, vitamin R/ Menghilangkan mual dan muntah serta menambah nafsu makan. - Nutrisi parenteral 14. R/ Nutrisi parenteral bermanfaat jika intake peroral sangat kurang.

65

No 2

Diagnosa Keperawatan Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologis

Tujuan & kriteria hasil Pasien terbebas dari rasa nyeri setelah dilakukan tindakan selama 7 hari, dengan criteria hasil : - Tidak nyeri telan, nyeri saat batuk/makan - Tidak ada nyeri epigastrik - Nadi 60-100x/menit - Pernapasan 16-20 x/menit - Tekanan darah normal - Suhu 36-37.5 o C

1.

2.

3.

4. 5. 6.

Rencana Tindakan & Rasional Kaji karakteristik nyeri seperti kualitas, skala, lokasi, onset, durasi dan factor yang mencetuskan. R/ mengkaji pengalaman nyeri adalah langkah pertama dalam strategi perencanaan manajemen nyeri. Kaji tanada dan gejala nyeri R/ banyak orang tidak mengekspresikan nyeri. Pasien dengan nyeri akut akan mengalami peningkatan tekanan darah, nadi dan suhu. Evaluasi respon pasien terhadap nyeri dan strategi manajemen nyeri R/ hal ini penting untuk membantu pasien mengekspresikan secara bebas tanpa rasa takut, emosional. Berikan makanan lunak R/ struktur makanan lunak memberikan sensasi nyaman saat makanan masuk ke saluran pencernaan Kolaborasi dokter untuk pemberian obat analgetik R/ analgetik terapi dapat mengurangi nyeri Jelaskan penyebab nyeri R/ dengan memahami penyebab nyeri, pasien dapat melakukan upaya untuk meminimalkan nyeri itu.

66

No 3

Diagnosa Keperawatan Kerusakan membrane mukosa oral berhubungan dengan imunosupresi

Tujuan & kriteria hasil Membrane mukosa oral pasien 1. tampak utuh, lembab, berwarna merah muda setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7 hari, dengan criteria : 2. - Tidak ada jamur di rongga mulut - Tidak ada lesi - Tidak kemerahan - Tidak ada disfagia 3.

4. 5. 6.

Rencana Tindakan & Rasional Kaji kebersihan mulut pasien R/ memberikan informasi kemunkinan factor penyebab dan sebagai petunjuk untuk memberikan edukasi Kaji kondisi mukosa mulut, lidah, bibir, membrane mukosa, gusi, gigi. R/ pemeriksaan yang sistematis dan teliti dapat memberikan gambaran kondisi rongga mulut secara detail Obeservasi adanya infeksi kandidiasis R/ pengkajian secara dini memfasilitasi pengobatan. Manifestasi spesifik member petunjuk akurat terhadap pengobatan Kaji status nutrisi R/ malnutrisi dapat berperan sebagai penyebab. Kolaborasi pemberian anti jamur R/ sebagai pengobatan penyebab kerusakan membrane mukosa. Jelaskan pada pasien untuk membersihkan rongga mulut secara berkala dan menggunakan obat sesuai petunjuk dokter R/ rongga mulut yang bersih meminimalkan perkembangan jamur/perluasan

67

No 4

Diagnosa Keperawatan Infeksi berhubungan dengan infeksi HIV, ditandai dengan penurunan jumlah sel CD4+, HIV positif, antibody HIV positif.

Tujuan & kriteria hasil Infeksi pasien terkendali setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan di rumah sakit, ditandai dengan : - Tidak ada infeksi oportunistik : tidak diare, stomatitis, batuk - Jumlah CD4 stabil atau tidak meningkat

Rencana Tindakan & Rasional 1. Pantau jumlah CD4 dan viral load R/ pasien harus memiliki tes laboratorium rutin CD4 dan viral load untuk memantau status HIV. Penurunan tingkat CD4 dan meningkatkan viral load menunjukkan perkembangan infeksi dan meningkatnya risiko untuk infeksi oportunistik). 2. Instruksikan terminologi yang umum digunakan dalam perawatan: CD4, Viral load, Antiretroviral R/ sel CD4 / sel T adalah sel darah putih yang memerangi infeksi. Viral load adalah jumlah HIV dalam sampel darah, obat antiretroviral adalah obat yang mengganggu replikasi retrovirus seperti HIV. 3. Instruksikan pasien tentang pengobatan antiretroviral dan potensial efek terapi dan efek samping untuk memantau: Efek pengobatan, Kategori pengobatan tertentu dan tindakannya. R/ antiretroviral biasanya digunakan dalam kombinasi, namun juga disesuaikan dengan masingmasing pasien. Pemilihan obat mungkin juga tergantung pada kondisi kronis, seperti gagal ginjal, disfungsi hati, diabetes, TBC, atau penyakit

kardiovaskular.
4. Dorong kepatuhan terhadap terapi, dan hindari penghentian terapi. R/ Kepatuhan yang serius dibutuhkan untuk mencegah resistansi.

68

No 5

Diagnosa Keperawatan Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penyebarannya berhubungan dengan kondisi dan regimen pengobatan baru, tidak familier dengan sumber informasi, pengobatan yang kompleks

Tujuan & kriteria hasil Setelah mendapatkan tindakan keperawatan selama 7 hari pengetahuan pasien mengenai penyakitnya, perawatan/manajemen sakitnya dan fungsi sexualnya meningkat, dengan criteria : - pasien secara verbal memahami isi yang diinginakn - pasien secara verbal memahami ketrampilan/penampilan yang diinginkan/diharapkan

Rencana Tindakan & Rasional 1. Kaji pengetahuan pasien tentang proses penyakit, jalur penularan, komplikasi dan terapi modalitas. R/ karena pada penderita HIV kronis membutuhkan informasi tentang penyakit dan pengobatannya untuk membuat keputusan dalam berperilaku sehat 2. Gambarkan pada pasien dan orang2 yang memberi perhatian pada pasien mengenai infeksi HIV R/ pasien dan keluarga biasanya mengalami ketakutan ketika divonis menderita infeksi HIV. Kurangnya informasi tentang penyakit dan penularan secara akurat mengurangi hubungan personal dan dukungan social kepada pasien. 3. Gambarkan perilaku beresiko termasuk aktivitas seksual dan penggunaan obat intravena. R/HIV menyebar melalui aktivitas seksual yang tidak terlindungi dan melalui kontaminasi jarum suntik pada pemberian obat intravena. 4. Instruksikan pasien untuk mengenali tanda gejala penyakit, infeksi oportunistik dan neoplasma R/ pasien dapat menyampaikan tanda gejala yang ada sebagai informasi untuk tindak lanjut segera. 5. Instruksikan pasien untuk melakukan tindakan pencegahan infeksi oportunistik dengan vaksin, pengobatan, menghindari sayuran mentah, ikan mentah, susu dan daging mentah. R/ Vaksinasi yang disarankan meliputi HBV, influenza dan pneumokokus. Infeksi oportunistik yg sering terjadi pneumocytis pneumonia, toxoplasmosis,.

69

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

Rencana Tindakan & Rasional CMV, TBC, meningitis kriptokokus. Makanan tersebut merupakan sumber bakteri dan protozoa penyebab infeksi. 6. Instruksikan pasien untuk mencegah penularan HIV melalui seksual dengan metode :melakukan hubungan seksual yang aman, menggunakan kondom, tidak berganti-ganti pasangan. R/ Aktivitas yang aman adalah tidak ada kontak dengan darah, semen atau sekresi vagina penderita. Kondom menurunkan resiko penularan HIV. 7. Eksplorasi cara untuk mengekspresikan hubungan intim tanpa menyebakan infeksi R/ pasien memerlukan komunikasi terbuka dengan pasangan seksualnya untuk bernegosiasi penggunaan metode yang menurunkan resiko penularan 8. Instruksikan pasien dan pasangan untuk mencegah kehamilan, mengontrol kelahiran dengan menggunakan kondom. R/ tanpa pengobatan, sekitar 15059% bayi terinfeksi dari ibu dengan infeksi HIV. Pengobatan ARV selama kehamilan dan kepada bayi setelah lahir mengurangi resiko bayi terinfeksi HIV. 9. Dorong penggunaan alat-alat intravena yang steril. Rujuk pasien ke program rehabilitasi jika perlu. R/ meskipun HIV dapat dibunuh secara cepat dengan cairan 10% hipoklorida, namun penggunaan alat-alat suntik sekali pakai lebih aman terhadap kejadian infeksi. 10. Jelaskan pentingnya menghindari donor darah,

70

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & kriteria hasil

semen, atau organ, cuci darah Rencana Tindakan & Rasional R/ hal tersebut adalah modus penularan HIV.

71

E. Implementasi Keperawatan Tindakan keperawatan diberikan sesuai dengan rencana tindakan yang sudah disusun dengan mempertimbangkan kondisi pasien saat itu. F. Evaluasi Keperawatan Evaluasi keperawatan dilakukan berdasarkan tindakan yang dilakukan/respon pasien dan berdasarkan tujuan dan criteria hasil yang ingin dicapai. Adapun evaluasinya adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Kebutuhan nutrisi pasien tercukupi. Pasien tidak mengalami nyeri telan, nyeri saat batuk/makan dan nyeri epigastrik Membrane mukosa oral pasien utuh. Proses infeksi pada pasien dapat dikontrol/dikendalikan Pengetahuan pasien tentang HIV AIDS dan perawatannya meningkat.

72

BAB IV PEMBAHASAN

Tuan Y dinyatakan positip menderita HIV AIDS dengan hasil VCT positip. Faktor resiko terjadinya penyakit ini adalah memiliki riwayat pernah menggunakan atau mengkonsumsi narkoba injeksi bersama-sama dengan temantemannya. Menurut penelitian sistematika Review cohort study yang dilakukan Mathers Bradley, et all (2013) dengan tujuan untuk mengetahui angka kesakitan orang yang menggunakan obat-obatan injkesi, menggambarkan rata-rata mortalitas dan penyebab kematian dan mengidentifikasi partisipan yang dihubungkan dengan resiko tinggi kematian. Database diperoleh dari EMBASE, Medline dan PsycINFO. Teridentifikasi 67 penelitian kohort dengan orang-orang yang menggunakan obat-obatan injeksi, 14 diantaranya berasal dari negara berpenghasilan menengah ke bawah. Crude Mortality Rate (CMR) 2.35 kematian/100 orang dalam 1 tahun (95% confidence interval, CI: 2,12-2,58). SMR 14,68 (95% CI: 13,01-16,35). Perbandingan CAR dan perhitungan CMR rasio mengungkapkan kematian lebih tinggi pada kohort negara berpenghasilan rendah dan menengah, laki-laki dan orang-orang yang memakai narkoba suntikan yang positif mengidap human immunodeficiency virus (HIV). Pemakai narkoba sangat beresiko terjadi infeksi HIV, karena biasanya mereka menggunakan jarum suntik secara bersama-sama. Sementara kita ketahui bahwa media darah adalah media yang sangat baik dalam transmisi penyakit HIV. Resiko ini dapat diminimalkan dengan pemberian substansi opiate secara terkontrol. Menurut penelitian sistematika review dan metaanalisis yang dilakukan oleh MacArthur Georgie J. (2012) yang bertujuan untuk mengukur efek terapi substitusi opiat dalam kaitannya dengan penularan HIV di antara orangorang yang menyuntikkan narkoba. Dilakukan berdasarkan sumber data dari Medline, Embase, PsychINFO dan Cochrane Library dari awal tahun 2011 tanpa membedakan bahasa dengan 12 penelitian yang diterbitkan dan 3 penelitian yang tidak dipublikasikan. Hasilnya adalah dari sembilan studi ini dapat dikumpulkan,

73

termasuk 819 kejadian infeksi HIV lebih dari 23 608 orang dalam masa/tahun tindak lanjut. Terapi substitusi opiat dikaitkan dengan 54 % penurunan risiko infeksi HIV di antara orang-orang yang menyuntikkan narkoba (rasio tingkat 0,46, 95 % confidence interval 0,32-0,67 , P < 0,001 ). Jadi terapi substitusi opiat diberikan sebagai terapi pemeliharaan dikaitkan dengan penurunan risiko infeksi HIV di antara orang-orang yang menyuntikkan narkoba. Penderita HIV lama kelamaan jika tidak diobati menjadi kronis, system imunitas terganggu dan terjadilah AIDS. Menurut WHO terdapat 4 klasifikasi klinis untuk membedakan karakteristik tiap tingkatannya. Tuan Y termasuk klinis antara tahap 2 & 3 dengan criteria terdapat penurunan berat badan 5 kg dalam 4 minggu (BB Tn Y 60, artinya terjadi penurunan 8.3% atau <10%), riwayat diare, demam subfebris selama 1 tahun, disfagia, candidiasis oral, anemia. Penurunan berat badan adalah kompilkasi umum yang sering terjadi pada penderita HIV AIDS. Kehilangan berat badan ini sering dihubungkan dengan penurunan jumlah CD4 dan HAART (highly active antiretroviral therapy). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mangili A., et all. (2006) terhadap 881 pasien dewasa yang terinfeksi HIV di Boston pada tahun 1995 sampai 2005. Rata-rata usia partisipan 40 tahun, dimana 29% wanita dan 44% ras non kulit putih. Rata-rata jumlah sel CD4 377 sel/mm3 dan viral load 67.000 kopi/mL, 50% partisipan menerima HAART, 38% menerima protease inhibitor dan 12 % mendapat pengobatan nonnucleoside reversetranscriptase inhibitor, dan 53% saat ini perokok. Dikatakan bahwa penyebab kehilangan berat badan pada pasien dengan infeksi HIV antara lain intake nutrisi yang tidak adekuat (oral dan upper gastrointestinal, anoreksia, psikososial-ekonomi, malabsorbsi), berhubungan dengan metabolisme (infeksi HIV yang tidak terkontrol, kebutuhan metabolism pada HAART, infeksi oportunistik atau keganasan, defisiensi hormone (testosterone atau tiroid) dan dysregulasi sitokin). Penurunan berat badan yang terjadi pada Tuan Y kemungkinan karena anoreksia, mual, kandidiasis oral, kondisi ekonomi yang tidak mampu menyediakan makanan dengan gizi seimbang, disfagia karena ada kemerahan pada faring.

74

Sementara manifestasi klinis pada system organ yang terkena pada Tuan Y antara lain manifestasi oral, gastrointestinal dan respiratorik. Manifestasi syaraf, dermatologi dan sensori tidak ada. Beberapa studi di negara-negara berkembang melaporkan penurunan lesi oral 10-50%. Namun begitu manifestasi oral ini adalah manifestasi yang umum terjadi pada pasien terinfeksi HIV terlebih mereka yang menggunakan ART. Pada prinsipnya ART bertujuan meningkatkan jumlah sel CD4, menurunkan viral load RNA HIV, meningkatkan status imunitas dan menurunkan kejadian infeksi oportunistik. Hal ini disebabkan karena efek ART pada kelenjar ludah termasuk menurunkan jumlah rata-rata produksi air ludah dan mulut menjadi kering. Perubahan dalam merasakan makanan juga dapat terjadi akibat dari protease inhibitor yang menyebabkan paresthesia perioral Arirachakaran Pratanporn. (2009). Menurut Lewis, et all (2011), Tuan Y berada pada fase kronis ( Intermediate Chronic Infection) dimana pada fase ini Tuan Y mengalami gejala yaitu demam, diare kronis, sakit kepala berulang, infeksi local. Demam hilang timbul selama 1 tahun, riwayat diare 2 hari, sakit kepala terlebih saat batuk dan batuk lama. Pasien mulai dirawat pertama kali 3 Maret 2012 dan terakhir dirawat 8 September 2013, jadi kurang lebih 1.5 tahun Tuan Y menderita infeksi HIV AIDS. Tuan Y juga mengalami anemia (Hb 8.8 gr%) dan albuminemia (albumin 2.5). Hal ini disebabkan karena intake nutrisi yang tidak adekuat, efek infeksi kronis dan efek dari pemberian ARV. Anemia ini terjadi pada 10-20% pasien dengan terdiagnosis infeksi HIV dan prevalensinya antara 66-85% selama perjalanan penyakit. Anemia ini dapat menimbulkan kelelahan, pusing dan sesak napas. Hasil penelitian yang dilakukan Wisaksana Rudi, et all. (2011), antara September 2007 sampai Agustus 2009 di Rumah Sakit rujukan di Jawa Barat Indonesia. Menggunakan regresi logistic untuk mengidentifikasi parameter yang dihubungkan dengan tingginya konsentrasi ferritin. Didapatkan hasil bahwa anemia terjadi pada 49.6% pada 611 pasien dengan ART, dengan anemia ringan (Hb 10.5 12.99g/dL untuk laki-laki dan 10.5 11.99 g/dL untuk wanita) sebesar 62%, dan anemia sedang sampai berat (Hb <10.5 g/dL) sebesar 38%. Anemia ditetapkan sebagai factor independent yang berhubungan dengan kematian.

75

Terkait anemia pada HIV adalah umum di antara pasien terinfeksi HIV di Indonesia dan sangat terkait dengan mortalitas. Feritin tinggi dengan tingkat sTfR (soluble transferrin receptor) rendah menunjukkan bahwa redistribusi besi dan aktivitas erythropoietic rendah, lebih dari kekurangan zat besi, yang berkontribusi terhadap anemia. Serum feritin dan sTfR harus digunakan dengan hati-hati untuk menilai status zat besi pada pasien dengan infeksi HIV lanjut. Sedangkan penelitian yang dilakukan Sundaram M, et all. (2009), yang dilakukan di India Selatan antara bulan Januari 2004 sampai Juli 2006 pada 835 pasien terinfeksi HIV dengan criteria inklusi usia lebih dari 18 tahun, pengalaman mendapat HAART maupun tidak. Subyek penelitian diklasifikasikan menjadi pasien dengan kadar albumin normal atau tidak normal. Cofactor seperti pengobatan antiretroviral nevirapine (NVP), usia, jenis kelamin, jumlah CD4, BMI. Hasilnya adalah 44.6% memiliki kadar albumin normal (4.2 5.2 g/dL) dan 55.4% memiliki kadar albumin tidak normal atau rendah (<4.2 d/dL). Kelompok yang memiliki kadar albumin rendah secara signifikan memiliki BMI (Body Mass Index) yang rendah dibandingkan dengan kelompok normal dengan p=0.02. Diantara pasien yang memiliki kadar albumin rendah, 388 (84%) menjalani HAART dibandingkan 239 (64%) dengan kadar albumin normal (p<0.001). Jumlah CD4 <200 sel/uL diobservasi pada 259 (55.9%) pada kelompok abnormal dibandingkan dengan 124 (33.3%) pada kelompok normal (p<0.001). Jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah CD4 rendah dan BMI rendah menjadi kofaktor terjadinya albuminemia pada pasein terinfeksi HIV. Selain albunemia Tuan Y juga mengalami trombositopenia (trombosit cenderung turun) yaitu 162.000 (normal 200.000 500.000). Penurunan jumlah trombosit pada penderita HIV AIDS ini dihubungkan dengan Immune trombositopenic purpura dan Thrombotic thrombocytopenic purpura. Yang paling sering menjadi penyebab adalah Immune trombositopenic purpura. System kekebalan tubuh bermediasi dengan penghancuran trombosit, sehingga jumlahnya turun. Kita ketahui bahwa fungsi trombosit adalah sebagai factor pembekuan, sehingga kalau jumlahnya berkurang maka bisa mengakibatkan perdarahan baik langsung maupun tidak langsung (Lim Poh-Lian, 2013).

76

BAB IV PENUTUP 1. Kesimpulan HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus sitopatik dari family retrovirus yang terintegrasi dalam material genetic pada sejumlah besar sel, bersifat menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga dapat menyebabkan AIDS (Aquuired Immuno Deficiency Syndrome). AIDS adalah penyakit defisiensi imun yang sangat berat atau biasa disebut sebagai stadium lanjut/akhir dari infeksi kronis oleh HIV. Penyakit ini berjalan lambat namun pasti dan berujung pada kematian. Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada orang dewasa). Gejala umum yang sering terjadi adalah diare berkepanjangan, sering mengalami infeksi atau demam lama, tumbuh jamur di mulut, badan semakin kurus dan berat badan terus turun. Serta gangguan sistem dan fungsi organ tubuh lainnya yang berlangsung kronis atau lama. Infeksi ini disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus type-1 & 2. Infeksi ini ditransmisikan melalui hubungan sexual, transfusi darah terinfeksi, perinatal dari ibu ke bayi dan menyusui, serta penggunaan jarum suntik bergantian. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan infeksi ini. Antiretroviral terapi masih menjadi pilihan utama pengobatan penyakit ini. Pemeriksaan disgnostik yang bisa dilakukan pada pasien dengan HIV AIDS antara lain tes antibody HIV dengan ELISA, Western blot, Rapit tes Infeksi HIV bersifat kronis sehingga perlu pendampingan dan support dari keluarga, orang-orang terdekat maupun tenaga kesehatan. Informasi mengenai proses penyakit, penyebab, penularan sampai dengan manajemen pengobatan sangat penting diketahui pasien dan keluarga. Tuan Y terdiagnosis mengalami infeksi HIV AIDS sejak 1.5 tahun yang lalu dengan VCT positip. Factor transmisi yang terkaji adalah penggunaan narkoba injeksi bersama teman-temannya. Tahapan klinis pada

77

tahap 2-3 dengan gejala riwayat diare, demam selama 1 tahun hilang timbul, kandidiasis oral, penurunan berat badan 8.33 %. Sementara manifestasi yang terjadi pada system organ adalah manifestasi oral, gastrointestinal dan respirasi. Berdasarkan manifestasi yang ada dapat diklasifikasikan bahwa Tuan Y berada pada tahap kronis yaitu Intermediate Chronic Infection. Anemia (Hb 8.8 gr/dL) dan hipoalbuminemia (2.5 g/dL) juga terjadi karena adanya infeksi oportunistik seperti kandidiasis oral. Selain itu Tuan Y mengalami mual, nyeri perut, nyeri telan sehingga asupan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya. Trombositopeniapun terjadi akibat immune trombositopenia purpura juga bisa diakibatkan karena penekanan sumsum tulang belakang karena penggunaan obat ARV sehingga pembentukan trombosit terhambat. 2. Saran 1. Bagi tenaga kesehatan a. b. 2. a. Memberikan informasi secara lengkap dan akurat tentang HIV AIDS kepada pasien dan keluarga. Memberikan pendampingan psikologis kepada pasien Memberikan dukungan dan pendampingan kepada pasien secara tulus, tidak mengkarantina pasien atau tetap melibatkan pasien dalam aktivitas dalam keluarga. Bagi keluarga

78