Anda di halaman 1dari 16

EPISTAKSIS

Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan mungkin hampir 90 % dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan yang sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Pada epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak ditolong dengan tepat.

ETIOLOGI
Epistaksis dapat ditimbukan oleh sebab lokal dan umum (kelainan sistemik) Sebab sebab lokal a. Trauma Epistaksis dapat terjadi setelah trauma ringan, misalnya waktu mengeluarkan ingus dengan kuat, bersin, mengorek hidung atau sebagai akibat trauma yang hebat, seperti terpukul, jatuh dan sebagainya. Selain dari itu iritasi oleh gas yang merangsang, benda asing di hidung dan trauma pembedahan, dapat juga menyebabkan epistaksis. b. Infeksi Infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rinitis, serta granuloma spesifik seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menyebabkan epistaksis. c. Neoplasma Hemangioma, epistaksis berat. d. Kelainan Kongenital Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah pendarahan teleangiektasis. Herediter (hereditary hemorrhagic teleangiectasios = Oslers disease). Karsinoma serta angiofibroma dapat menyebabkan

2. a.

Sebab sebab sistemik Penyakit kardiovaskular Hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti yang dijumpai pada arteriosklerosis, nefritis kronik, sironis, hepatitis, sifilis, dan diabetes melitus dapat menyebabkan epistaksis. Epistaksis sebagai akibat penyakit hipertensi biasanya hebat,sering kambuh kembali dan prognosisnya tidak baik. b. Kelainan darah Kelainan darah penyebab epistaksis, misalnya trombositopenia, hemofilia dan leukimia. c. Infeksi Demam tifoid, influensa dan morbili dapat menyebabkan epistaksis. Yang paling sering ialah demam berdarah (dengue hemorrahagic fever) d. e. epistaksis. Perubahan tekanan atmosfir Contoh dalam hal ini ialah Caisson disease Gangguang endokrin Pada wanita pada kehamilan,menarke dan menopause sering juga terjadi

Sumber Pendarahan Pada umunya terdapat 2 buah sumber yaitu dari bagian anterior dan bagian posterior. Epistaksis anterior dapat berasal dari pleksus kiessebach atau dari a. Etmoid anterior. Pleksus kiessebach menjadi sumber pendarahan yang paling sering pada epistaksis, terutama pada anak dan biasanya dapat berhenti sendiri (secara spontan) dan mudah diatasi. Epistaksis posterior dapat berasal dari a. sfenopalatina dan a.etmoid posterior. Perdarahannya biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya. Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien dengan penyakit kardiovaskuler. Perdarahan ini disebabkan oleh pecahnya a.sfenopalatina.

Menentukan sumber perdarahan amat penting, meskipun kadang-kadang sukar menentukan tindakan untuk menanggulanginya. Terapi Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu menghentikan, mencegah, komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. 1. Menghentikan Perdarahan Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti kaustik dan pemasangan tampon, lebih baik daripada pemberian obat hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti dengan sendirinya. Jika seorang pasien dengan epistaksisa datang, maka pasien harus diperiksa dalam posisi duduk, sedangkan kalau sudah terlalu lemah, dengan meletakkan bantal di belakang punggungnya, kecuali bila sudah dalam keadaan syok. Dengan bantuan alat pengisap untuk membersihkan hidung dari bekuan darah, dicari sumber perdarahan, kemudian tampon kapas yang telah dibasahi dengan adrenalin/ epedrin dimasukkan kedalam rongga hidung. Dengan cara ini dapatlah ditentukan apakah sumber perdarahan letaknya di bagian anterior atau bagian posterrior. Perdarahan arterior Tindakan sederhana mengatasi perdarahan anterior ialah dengan memasukkan tampon yang telah dibasahi dengan adrenalin/epedrin, kalau perlu juga dengan obat analgesia lokal (pantokain,lidokain), ke dalam rongga hidung, dan kemudian menekan ala nasi ke arah septum selama 3 5 menit. Setelah tampon dikeluarkan tempat asal perdarahan dikaustik dengan larutan Nitras Argenti 20-30%, atau dengan Asam trikloresetat 10%. Dapat juga dipakai elektrokauter untuk kaustik itu. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan pemasangan tampon anterior, yaitu kapas atau kain kasa yang diberi vaselin atau

salep antibiotik. Yang dimasukkan melalui nares anterior. Tampon yang dipasang ini harus dapat menekan tempat asal perdarahan. Tampon ini dapat dipertahankan selama 1 2 hari. Perdarahan Posterior Perdarahan dari bagian posterior lebih sulit diatasi, sebaba biasanya perdarahan hebat dan agak sukar mencari sumber perdarahan di posterior dengan rinoskopi anterior, sehingga kadang-kadang tidak mungkin untuk mencari sumber perdarahan itu. Untuk menanggulangi perdaraha posterior dilakukan pemasnagan tampon posterior yang disebut tampon Bellocq. Tampon ini harus tepat menutup koana (nares posterior). Pada tampon bellocq terdapat 3 buah benang, yaitu 2 buah pada satu posisi dan sebuah benang pada sisi lainnya. Untuk memasang tampon posterior kateter karet dimasukkan melalui nares anterior sampai tampak di orofaring lalu ditarik keluar melalui mulut. Ujng kateter kemudian diikatkan pada 2 buah benang tampon bellocq kemudian kateter itu ditarik keluar melalui hidung. Kedua ujung benang yang sudah keluar melalui nares anterior kemudian ditarik dan dengan bantuan tangan, tampon itu diletakkan di nasofaring. Jika dianggapperlu bila masih tampak perdarahan keluar dari rongga hidung, maka dapat pula dimasukkan tampon anterior kedalam nares arteriow. Kedua benang yang keluar dari nares arterior itu kemudian diikat pada sebuah kain kasa didepan lubang hidung supaya tampon yang terletak di nasifaring tidka bergerak. Benang yang sehelai pada sisi lain dari tampon bellocq itu diikatkan pada pipi pasien. Gunanya ialah untuk mengeluarkan tampon ke luar melalui mulut setelah 2-3 hari. Sebagai pengganti tampon posterior dipakai juga kateter Foley dengan balon. Bat hemostatik diberikan disamping tindakan penghentian perdarahan itu. Akan tetapi ada yang berpendapat bahwa obat-obatan hemostatik itu sedikit sekali manfaat sama sekali. Pada epistasis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan tampon arterior maupun posterior dilakukan ligasi arteri.

Ligasi a.etmoid anterior dan posterior dapat dilakukan dengan membuat sayatan di dekat kantus medialis dan kemudian mencari kedua. Pembuluh darah tersebut di dinding media orbita. Ligasi a. Maksila interna yang terletak di fosa pterogomaksila dapat dilakukan melalui operasi Caldwell Luc dan kemudian mengangkat dinding posterior sinus maksilla. 2. Mencegah komplikasi Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat langsung dari epistaksis sendiri atau sebagian akibat dari usaha penanggulangan epistasis. Sebagai akibat perarahan yang hebat terjadi syok dan anemia. Turunnya tekanan darah mendadak dapat menimbulkan iskemia serebri, insufisiensi koroner dan infark miokrad sehingga dapat menyebabkan kematian. Dalam hal ini pemberian infus atau transfusi darah harus dilakukan secepatnya. Pemasangan tampon dapat menyebabkan sinusitis, otitis media dan bahkan septikimia. Oleh karena itu antibiotik haruslah selalu diberikan pada setiap pemasagan tampon hidung. Selain dari itu dapat juga terjadi hemotimpanum sebagai akibat mengalirnya darah melalui tuba Eustachius, dan air mata yang berdarah (bloody tears) sebagai akibat mengalirnya darah secara retrogard melalui duktus naasolakrimalis. Laserasi palatum mole dan sudut bibir dapat terjadi pada pemasangan tampon posterior, disebabkan oleh benang yang dikeluarkan melalui mulut terlalu kencang dilekatkan ke pipi. 3. Mencegah berulangnya epistaksis Epistaksis hanyalah suatu gejala dan karena itu untuk mencegah berulangnya epistaksis haruslah dicari penyebabnya dan kemudian diberikan pengobatan yang sesuai.

INFEKSI HIDUNG Nusjirawan Rifki dan Endang Mangunkusumo


FURUNKEL PADA VESTIBULUM NASI Furunkel pada vestibulum nasi secara potensian berbahaya, karena infeksi dapat menyebar ke vena fasialis, vena oftalmika, lalu kesinus kavernosus, sehingga terjadi tromflebitis sinus kavernosus. Hal ini dapat terjadi karena vena fasilalis dan vena oftalmika tidak mempunyai katup. Oleh karena itu sebaiknya jangan memencet atau melakukan insisi pada furunkel, kecuali jika sudah jelas terbentuk abses. Antibiotik dosis tinggi harus selalu diberikan.

Rinitis Akut
Rintis Akut adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Penyakit ini sering ditemukan, dan merupakan manifestasi dari rinitisa simpleks (commo, cold), influensa, beberapa penyakit eksantem (seperti morbilli variollam varisela, pertusis), dan beberapa penyakit infeksi spesifik. Juga penyakit ini dapat timbul sebagai reaksi sekunder akibat iritasi lokal atau trauma. RINITIS SIMPLEKS (PILEK, SELESMA, COMMON COLD, CORYZA) Penyakit ini merupakan penyakit virus yang paling sering ditemukan pada manusia. Etiologi Penyebabnya ialah beberapa jenis virus dan yang paling penting ialah Rhinovirus. Virus-virusa lainnya adalah Myxovirus, virus Coxsackle dan virus ECHO.

Penyakit ini sangat menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau menurunnya daya tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya penyakit menahun dan lain-lain) Gejala Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam, didapatkan rasa panas, kering dan gatal didalam hidung. Kemudian akan timbul bersin berulangulang, hidung tersumbat dan ingus encer, yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Selanjutnya akan terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, sehingga sekret menjadi kental dan sumbatan di hidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi, gejala kemudian akan berkurang dan penderita akan sembuh sesudah 5 10 hari. Komplikasi yang mungkin ditemukan adalah sinusitis, otitis, media, faringtis, bronkitis dan pneumonia. Terapi Tidak ada terapi yang spesifik untuk rinitis simpleks. Di samping istirahat diberikan obat-obatan simtomatis, seperti analgetik, antipretik dan obat dekongestan. Antibiotik hanya diberikan bila terdapat komplikasi. Rinitis Kronis Yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi,rinitis, sika (sicca) dan rintis spesifik. Meskipun penyebabnya bukan radang, kadang-kadang rinitis alergi, rinitis vasomotor dan rinitis medikamentosa dimasukkan juga dalam rinitis kronis. Rinitis Hipertrofi Rinitis hipertrofi dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus, atau sebagai lanjutan dari rinitis alergi dan vasomotor.

Gejala Gejala utama adalah sumbatan hidung. Sekret biasanya banyak, mukopurulen dan sering ada keluhan nyeri kepala. Pada pemeriksaan akan ditemukan konka yang hipertrofi, terutama konka inferior. Permukaannya berbenjol-benjol ditutupi oleh mukosa yang juga hipertrofi. Akibatnya saluran udara sangat sempit. Sekret mukopurulen yang banyak biasanya ditemukan di antara konka inferior dan septum, dan di dasar rongga hidung. Terapi Harus dicari faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya rinitis hipertrofi dan kemudian memberikan pengobatan yang sesuai. Untuk mengurangi sumbatan hidung akibat konka hipertrofi dapat dilakukan kauterisasi konka dengan zat kimia (nitras argenti atau asam triklor asetat) atau elektrokauter. Bila tak menolong, dilakukan luksasi konka atau bila perlu dilakukan konkotomi. Rinitis Sika Pada rinitis sika ditemukan mukosa yang kering, terutama pada bagian depan septum dan ujung depan konka inferior. Krusta biasanya sedikit atau tidak ada. Pasien biasanya mengeluh adanya iritasi atau rasa kering di hidung yang kadang-kadang disertai dengan epistaksis. Penyakit ini biasanya ditemukan pada orang tua dan pada orang yang bekerja di lingkugan yang berdebu, panas dan kering. Juga ditemukan pada pasien yang menderita anemia, pemium alkohol dan gizi buruk. Pengobatan tergantung pada penyebabnya. Dapat diberikan pengobatan lokal, berupa obat cuci hidung. Rinitis Spesifik Rinitis karena infeksi spesifik antara lain rinitis difteri, rinitis atrofi, rinitis sifilis, rinitis tuberkulosis, rinitis karena jamur dan lain-lain.

RINITIS ALERGI Nikmah Rusmono dan Elise Kasakeyan


Definisi (Von Pirquet, 1906) Alergi adalah suatu reaksi abnormal yang terjadi pada seseorang yang bersifat khas, yang timbul bila ada kontak dengan subtansi yang biasanya tidak menyebabkan rekasi pada orang normal. Dengan kata lain alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas. Penyakit alergi merupakan kerusakan jaringan tipe I, jadi memerlukan adanya antibodi (umunoglobin) E untuk terjadinya reaksi. Untuk menimbulkan reaksi alergi harus dipenuhi 2 faktor,yaitu adanya sensitivbitas terhadap suatu alergen (atopi) yang biasanya bersifat herediter dan adanya kontak ulang dengan alergen tersebut. MEKENISME ALERGI Pada kontak pertama dengan alergen, tubuh penderita akan membentuk igE spesifik. IgE ini menempel pada permukaan mastofit dan basofil yang mengandung granul. Sel sel ini disebut sebagai sel mediator. Proses ini disebut proses sensitisasi dan akan ditemukan adanya sel mediator yang tersensitisasi. Bila terjadi kontak lagi dengan alergen, maka alergen tersebut akan bereaksi dengan IgE yang ada pada permukaan sel mediator tadi dan terjadilah degranulasi sel midoator, yang berakibat dilepaskannya zat-zat mediator, seperti histamin, serotonin, bradkinin, SRS-A (Slow reacting sustance of anapyphyctic), ECF-A (eosinophyl chemotactic factor of anaphylatic) dan lain-lain, yang akan menimbulkan gejala klinik.

Rinitis alergi musiman


Di Indonesia tidak dikenal, hanya ada di negara yang mempunyai 4 musim. Alergen penyebabnya spesifik yaitu tepungsari (pollen) dan spora jamur. Oleh karena itu nama yang tepat ialah pollinosis.

Penyakit ini timbulnya periodik sesuai dengan musim pada waktu terdapat konsentras alergen terbanyak di udara. Dapat mengenai semua golongan umur dari biasanya mulai timbulnya pada anak dan dewasa muda. Berat ringannya segala penyakit bervariasi dari tahun ke tahun, tergantung pada banyaknya anergen di udara. Faktor herediter pada penyakit ini sangat berperan. Rinitis aleri musiman ini merupakan suatu rinokonjungtivitis, karena itu gejala klinik yang tampak ialah gejala hidung dan gejala mata, yaitu mata merah, gatal disertai lakrimasi (pada beberapa kasus merupakan gejala yang predominan), dan hidung gatal disertai dengan bersin yang paroksimal, adanya sumbatan hidung, rinore yang cair dan banyak, serta kadang-kadang disertai rasa gatal di palatum. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak mukosa hidung pucat, kebiruan (livide) atau hiperemis. Bila dilakukan pemeriksaan pada sekret hidung, akan ditemukan banyak eosinofil. Terapi yang diberikan ialah dengan melakukan desentisasi terhadap tepungsari karena alergennya pada penyakit ini jelas. Hasil pengobatan100 % sembuh.

Rinitis alergi sepanjang tahun (parennial)


Gejala penyakit ini timbul interiten atau terus menerus, tanpa variasi musim, jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Penyakit ini timbul pada hampir semua golongan umur. Frekuensi terbanyak ialah pada anak dan dewasa muda, kemudian akan berkurang dengan bertambahnya umur. Jenis kelamin, suku bangsa dan golongan etnik tidak berpengaruh, tetapi faktor hereiter sangat berperan. Penyebab yang paling sering ialah alergen inhalan, terutama pada orang dewasa dan alergen ingesten, meskipun kemungkinannya sangat sedikit. Alergen ingesten sering merupakan penyebab pada anak dan biasanya disertai dengan gejala alergi yang lain seperti urtikarian, gangguan pencernaan dan lain lain. Selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor nonspesifikpun dapat memperberat gejala,seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca,kelembapan yang tinggi dan sebagainya.

Gangguan fisiologik pada golongan perenial lebih ringan dibandingkan dengan golongan musiman, tetapi karena lebih persisten, maka komplikasinya lebih sering ditemukan.

Potogenesis dan Patofisiologik


Pada rinitis alergi terdapat kerusakan jaringan tipe I. Sel plasma pada jaringan mukosa dan submukosa hidung dan saluran napas banyak memproduksi igE. Pada reaksi antigen-antibodi (IgE), terjadi pelepasan zat-zat mediator dari sel mediator (mastosit) yang terdapat dalam saluran napas. Pada rinitis alergi, zat mediator yang berperan utama ialah histamin, yang mempunyai efek dilatasi pada pembuluh darah kecil, meningkatkan permeabilitas kapiler, sehingga cairan ke luar dari pembuluh darah. Efek histamin pada saraf sensoris adalah meningkatkan sekresi kelenjar dan sering bersin.

Pemeriksaan histologik
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh darah (vascular bed) dengan pembesaran sel goblet dan selm pembentuk mukus. Terdapat juga pembesaran ruang intersuliler dan penebalan membran basal, dan ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. Gambaran yang demikian terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus menerus (persissten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak mukosa hidung menebal. Frekuensi kejadian Penyakit ini dapat timbul pada semua golongan umur tetapi frekuensi terbanyak ialah pada anak dan dewasa muda. Frekuensi kejadian penyakit ini akan berkurang denga bertambahnya umur. Jenis kelamin, golongan etnik dan suku berpengaruh tetapi faktor herediter sangat berperan. bangsa (ras) tidak ada

Gejala klinik
Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya bersin yang sering. Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning-process). Bersin dianggap patologik, bila terjadianya lebih dari lima kali setiap serangan. Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Pada rinitis alergi tidak ada demam. Seringkali gejala yang timbul tidak lengkap, terutama pada anak, dan kadang-kadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satusatunya gejala yang diutarakan pasien. Gejala spesifik lain pada anak ialah terdapatnya bayangan gelap didaerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Gejala ini disebut allergic shiner. Selain dari itu sering juga tampak anak menggosok-nggosok hidung, karena gatal, dengan punggung tangan. Keadaan ini disebut sebagai allesgic salute. Keadaan menggosok hidung ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah, yang disebut allergic crease.

Diagnostik
1. Anamnesis Anamnesis sangat penting, karena seringkali serangan tidak terjadi di hadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis ditegakkan dari amnesis saja. 2. Pemeriksaan Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edem, basah, berwarna pucat/livid disertai dengan adanya banyak sekret yang encer. Pada pemeriksaan lanoratorik (in vitro) pemeriksaan sekret hidung, akan ditemukan adanya eosinofil dalam jumlah yang banyak pada waktu seorangan.

Terapi
1. 2. Paling ideal ialah menghindari kontak dengan alergen penyebab (avoidance) dan eliminasi Simtomatis. Obat sistomatis dapat diberikan secara lokal atau sistematis. Pengobatan lokal, misalnya obat tetes hidung yang mengandung vasokonstriktor atau kortikosteroid ; sedangkan pengobatan sistematis bisanya obat yang diberikan peroral, seperti anthisthamin dengan atau tanpa vasokonstritor (dekongestan). Bila inferior dengan AgNO3 atau triklorasetat. 3. Desensitisasi. Cara ini dikerjakan bila gejala berat, penyakit sudah berlangsung lama dan dengan cara lain tidak memberi hasil yang memuaskan.

Komplikasi
Komplikasi rinitis alergi yang sering ialaha : 1. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip di hidung 2. 3. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak Sinusitis paranasal Kedua komplikasi yang terakhir bukanlah sebagai akibat langsung dari rinitis alergi, tetapi karena adanya hambatan drenase.

RINITIS VASOMOTOR Elise Kasakeyan dan Nikmah Rusmono


Gangguan vasomotor hidung ialah terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh bertambahnya aktivitas parasimpatis. Kelainan ini mempunyai gejala yang mirip dengan rinitis alergi. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi juga sebagai akibat gangguan keseimbangan fungsi vasomotor. Oleh karena itu kelainan ini disebut juga vasomotor catarrh, atau vasomotor rinorrhea, nasal vasomotor instability, atau juga non specific rhinitis. Saraf otonom mukosa hidung berasal dari n. Vidianus yang mengandung serat simpatis dan serat parasimpatis. Rangsangan pada saraf sarag simpatis menyebabkan dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permebilitas kapikerdan sekresi kelenjar. Sedangkan rangsangan pada serat simpatis menyebabkan efek sebaliknya. Bagaimana tepatnya saraf otonom ini bekerja belumlah diketahui dengan pasti, tetapi mungkin hipotalamus bertindak sebagai pusat penerima impuls eferen, termasuk rangsang emosional dari pusat yang lebih tinggi. Keseimbangan vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi, posisi tubuh, kelembapan udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dan sebagainya, yang pada keadaan normal faktorfaktor tadi tidak dirasakan sebagai gangguan oleh indivdu tersebut. Pada penderita rinitis vasomotor, mekanisme pengatur ini hiperaktif dan cenderung saraf parasimpatis lebih aktif.

Faktor- faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor


1. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti ergotamin, chlorpromazin, obat anti hipertensi dan obat vasokonstriktor topikal.

2. 3. 4.

Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, kelembapan udara yang tinggi dan bau yang merangsang. Faktor endokrin seperti keadaan kehamilan, pubertas, pemakaian pil anti hamil dan hipotiroidisme. Faktor psikis, sepereti rasa cemas, tegang dan sebagainya.

Gejala klinik
Untuk memahami gejala yang timbul pada rinitis vasomotor perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan siklus nasi,yaitu kemampuan untuk dapat bernafas dengan tetap normal melalui rongga hidung yang berubah ubah luasnya. Gejala yang didapat pada rinitias vasomotor ialah hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan, tergantung pada posisi pasien. Selain itu terdapat rinore yang mukus atau serus, kadang-kadang agak banyak. Keluhan ini jarang disertai dengan bersin, dan tidak terdapat rasa gatal di mata. Gejala dapat memperburuk pada pagi hari waktu bangun tidur oleh karena adanya perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga oleh karena asap rokok dan sebagainya. Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 2 golongan yaitu golongan obstruksi (blockers) dan golongan rinore (sneezers) Prognosis pengobatan golongan obstruksi lebih baik aripada golongan rinore. Oleh karena golongan rinore sangat mirip dengan rinitis alergi, perlu amnesis dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan diagnosisnya.

Diagnostik
Dalam anamnesis dicari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior tampak gambaran klasik berupa edem mukosa, konka berwarna merah gelap atau merah tua (karakteristik), tetapi dapat pula pucat. Hal ini perlu dibedakan dengan rinitis alergi. Permukaan konka dapat licin atau berbenjol (tidak rata).pada rongga hidung terdapat sekret mukoid,

biasanya sedikit. Akan tetapi pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya sedikit. Akan tetapi pada golongan rinore sekret yang ditemukan ialah serus dan banyak jumlahnya. Pemeriksaan laboratorik dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang-kadang ditemukan juga eosinofil pada sekret hidung,akan tetapi dalam jumlah sedikit. Tes kulit biasanya negatif. Bila pada tes ini hasilnya positif, biasanya hanya kebetulan. `