Anda di halaman 1dari 9

HEGEL DAN KONSEP NEGARA INTEGRALISTIK

Penyusun: Denizio Magno Ferrao Tilman 12520175 Petrus Inosensius nggebu 12520183 Adelvyna Teku 12520189 Nurul Fitra Subandi 12520187 Muhammad Nur Dihan 12520088

TEORI POLITIK SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH Belum lama ini tesis Adnan Buyung Nasution, The Aspiration of Constitutional Government in Indonesia,(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1992) sempat menuai kontroversi dikalangan kaum intelektual kita. Kontroversi sekitar adanya pengaruh filsafat Hegel dalam formulasi konseptual Negara integralistik Prof. Soepomo. Ini tentu saja merupakan fenomena menarik, meski sayangnya ia belum menyangkut subtansi akademis tesis Buyung tersebut. Belum membahas, katakanlah misalnya, kelemahan dan kekuatan argumentasi dan gagasan yang ditulis tokoh LBH (Lembaga Bantuan Hukum) dalam disertasi yang dipertahankannya di negeri Belanda itu. B. RUMUSAN MASALAH Tulisan ini mencoba mendiskusikan dua konsep utama yang menjadi ajang kontroversi sekitar tesis Buyung tersebut. Pemikiran Hegel tentang Negara dan konsep Negara integralistik Soepomo. Apa dan bagaimana sosok pemikiran Hegel tentang Negara dan konsep integralistik Prof. Soepomo itu? Buyung mensinyalir adanya pengaruh filsfat Hegel terhadap gagasan Prof. Soepomo? Dan, apa yang menberatkan Buyung untuk menolak konsep Negara integralistik tersebut?

BAB II PEMBAHASAN

A. PEMIKIRAN HEGEL TENTANG NEGARA


Negara dalam pemikiran Hegel merupakan penjelmaan Roh Absolut (Great Spirit atau Absolute Idea). Karena itu Negara bersifat absolute yang dimensi kekuasaanya melampui hak-hak transcendental individu. Mengikuti logika dialektikal Hegel, Negara merupakan suatu tahap perkembangan ide mutlak. Perkembangan ini ditandai oleh proses gerak dialektis yang terjadi antara tesis-antitesis yang kemudian melahirkan sintesis. Dari sintesis kemudian muncul lagi tesis-antitesis dan seterusnya. Proses dialektik ini baru berakhir setelah tercapainya ide mutlak itu. Gagasan Hegel tentang Roh Absolut nampaknya merupakan produk pengaruh pemikiran Kristiani (baca: Protestanisme). Hegel mensakralisasi Negara. Dia melihat sepak terjang Negara didunia ini sebagai derap langkah Tuhan dibumi. The state is divine as it exists on earth. Pandangan hegel ini tentu mempunyai konsekuensi terhadap gagasannya tentang kekuasaan Negara, yaitu bahwa pemegang kekuasaan (state authority) entah itu raja, Fuhrer, presiden tau apa pun namanya, adalah akal impersonal dan---mirip dengan konsep Rousseau---perwujudan kemauan kolektif (general will) yang menjelma menjadi manusia. Pemimpin Negara bisa saja mendengarkan suara wakil-wakil rakyatHegel mengakui adanya system parlementertetapi itu tidak mengikat karena kekuasaan kepala Negara mutlak.

Hegel berpendapat bahwa Negara itu bukan alat melainkan tujuan yang harus mengabdi kepada rakyat atau individu maupun golongan masyarakat melainkan sebaliknya, merekalah yang harus menjadi abdi Negara. Tetapi hal itu dilakukan, Hegel berdalih, adalah justru untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Negara bersifat unik karena ia memiliki logika, nalar system berpikir dan perilaku tersendiri yang berbeda dengan dimiliki organ politik apa pun. Karena itu bias saja misalnya, Negara menegasi kebebasan atau kemerdekaan individu dengan asumsi bahwa individu tidak memiliki makna dalam totalitas Negara. Hegel mempunyai interprestasi sendiri tentang kebebasan, konsep paling sentral dalam diskursus demokrasi itu. Ia berargumentasi bahwa karena manusia itu makhluk rasional dan memiliki kesadaran diri, maka ia akan sangat mengkultuskan kebebasan, tetapi di sisi lain, nampaknya Hegel menyangsikan kemampuan manusia untuk mengengkang dan menguasai hawa nafsunya. Andaikata pun manusia diberikan kebebasan, kebebasan itu tetap harus berada dibawah control kekuasaan. Ini dimaksudkan agar kebebasan tidak menjadi kekuatan yang berhadapan dengan Negara. Hegel juga menganut prinsip keharmosisan social atau meminjam konsep

Parsionians,social equilibrium (keseimbangan social). Dalam kerangka berpikir itu, Hegel menilai bahwa manusia akan meraih kebebasanya manakala apa yang diinginkan dan dituntutnya sesuai dengan keinginan dan tuntutan manusia-manusia lainnya. Ada keselarasan aspirasi individual dengan aspirasi sosial, Dan, yang lebih penting lagi, tidak boleh ada kontradiksi antara kepentingan individu dengan etika dan tatanan social. Karena itu kata Hegel, suatu komunitas yang terdiri dari manusia-manusia rakus akan tetap gagal

mewujudkan kebebasan. Hanya manusia mereka akan tetap tinggi saja yang akan mampu menaktualisasikan kebebasan sebagai suatu realitas soasial.

B. KONSEP NEGARA INTEGRALISTIK PROF. SOEPOMO Prof. Soepomo termasuk salah satu seorang Bapak Pendiri (founding Father) Negara Republik Indonesia. Tentunya gagasan-gagasan kenegaraan beliau memiliki makna kesejahteraan dan politik yang tak ternilai dan patut dikaji secara kritis evaluative. Konsep Negara integralistik yang diajukan pada tanggal 31 Mei 1945 dalam rapat Badan Penyelidik untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia di gedung Chuo Sang-in telah banyak dikaji sejarawan maupun pakar hukum dan politik. Tesis Buyung diatas merupakan salah satu contoh kajian kritis-evaluatif itu. Apa dan bagaimana sesungguhnya konsep Negara integralistik Prof. Soepomo itu? Apa argumentasi Prof. Soepomo menerima konsep Negara integralistik tersebut? Negara integralistik Prof. Soepomo, seperti terungkap dalam pidatonya, mengacu pada pengertian suatu tatanan integral dimana semua kelompok social dan indivisu secara organis terkait satu dengan yang lainnya. Negara integralistik juga didasarkan pada premis bahwa kehidupan kebangsaan dan kenegaraan terpatri dalam suatu totalitas. Negara tidak boleh berpihak pada kelompok tertentu atau mayoritas dan membela kelompok yang lemah atau minoritas. Apalagi hanya membela kepentingan segelintir individu, tidak boleh ada diskriminasi dalam bentuk apa pun dalam kehidupan bernegara. Dalam pidatonya itu juga Soepomo mengusulkan perspektif tentang hubungan antara masyarakat dengan Negara. Teori Negara integralistik dan Spinoza, Adam Muller dan Hegel.

Menurut para teoritisinya, Negara integralistik dibentuk bukan untuk membela segelintir segmen social atau golongan masyarakat tertentu, melainkan untuk semua kalangan. Yang paling cocok bagi masyarakat kita menurut Prof. soepomo adalah teori integralistik. Alasanya yang diajukan cukup sederhana. Negara model ini menurutnya memiliki watak yang sangant mementingkan kesatuan dan persatuan. Kesatuan antara rakyat dan pemimpin. Konsep Negara ini juga mensyaratkan adanya pemimpin mutlak serta komunalitas sedarah dan sewilayah konsep integralistik lebih transparan, Prof. Soepomo kemudian mengajukan dua model Negara integralistik yang biasa dijadikan tipe ideal bagi Indonesia. Yaitu Negara Dai Nippon (Jepang) dan Negara Jerman. Keduanya memiliki cirri-ciri ketimuran yang cocok untuk kondisi masyarakat kita. Mengenai Negara model Dai Nippon beliau menilai adanya kecocokan dalam dua hal: prinsip spiritual dan asa kekeluargaan. Menurut Prof. Soepomo, Dai Nippon menganut prinsip kesatuan antara dunia fisik dengan dunia spiritual. Yaitu dalam bentuk kesatuan antara pusat spiritual Tenno Haika (Kaisar), Ini sesuai dengan situasi sosiolog masyarakat Indonesia yang menganut prinsip kekeluargaan dan gotong royong. Negara, dalam konteks sosiolog masyarakat kita, tidak lain merupakan suatu keluarga besar. Para pemimpin dianggap sebagai Bapak dan individu dianggap sebagai bagian dari keluarga besar yang bernama Negara. Di berbagai kepulauan Nusantara seperti Jawa dan Sumatra, menurut beliau terdapat banyak banyak desa yang struktur administrasinya masih kuat dipengaruhi ajaran-ajaran spiritual dan bercorak kekeluargaan. Kepala desa secara spiritual dianggap bersatu dengan rakyat. Keharmonisan social dijaga benar lewat penegakan hokum adat. Keharmonisan social

dituntut senantiasa bermusyawarah dengan rakyat dan kepala-kepala kelaurga. Jadi ada pertalian batin antara pemimpin dengan rakyat. Cara kekerasan bias mungkin dihindari. Persatuan antara rakyat dan pemimpin semata-mata dijiwai oleh semangat gotong royong dan kekeluargaan. Dalam konteks Negara integralistik, kepala Negara dan badan-badan pemerintah lainnya harus bersifat badan penyelenggara. Badan pencipta hukum yang timbul dari hati sanubari seluruh rakyat. Jadi, Negara betul-betul merupakan perwujudan seluruh rakyat.

C. TESIS BUYUNG NASUTION Membaca uaraian diatas akan kita memperoleh kesan adanya persamaan antara pemikiran Heghel dan Konsep Integralistik Prof. Soepomo. Lalu, dengan adanya persamaan itu bisa kita langsung klaim kuatnya pengaruh Hegel atas Prof. Soepomo? Tentu saja perlu penelitian untuk menjawab pertanyaan ini. Tetapi satu hal yang jelas, Buyung dalam diserttasinya tidak menyatakan demikian. Marsilam Simanjutak - lah yang menilai adanya pengaruh Hegel tersebut? Adapun Buyung, meski tidak menyangkal kemunkinan itu, lebih yakin bahwa bukan Hegel atau filosof-filosof asing lainnya yang mempengaruhi Prof. Soepomo, tetapi kehadiran tentara Jepang pada masa pendudukan (1942-1945), Buyung menulis:Saya meyakini keberadaan Jepang di Indonesia pada masa itu lebih berpengaruh daripada ahli filsfat asing mana pun yang diikut, ketika Soepomo memformulasikan pemikiranpemikirannya pada tahun 1945.

Ia kemudian menjelaskan beberapa indikasi, diantaranya tentang persetujuan Prof. Soepomo atas usulan Somumbutyoo (Lembaga pemerintahan Jepang mengurus masalah kemasyarakatan) agar Indonesia dibetuk seperti Negara model pemerintahan Dai Nippon. Menurut penulis, yang menjadi concern utama Buyung adalah, seperti terefleksi dalam disertasinya, keberatan-keberatannya terhadap konsep Negara integralistik yang

dikemukakan Prof. Soepomo. Pertama, berkaitannya dengan masalah hubungan antara Negara dan masyarakat. Kontradiktif dengan pandangan Prof. Soepomo, Buyung berargumentasi bahwa paling tidak secara teoritis perlu ada dualisme antara Negara dan masyarakat. Sebab kalau tidak, masyarakat tidak akan menjadi entensitas yang bebas. Masyarakat akan cenderung selalu diatur dan berada dalam control kekuasaan Negara. Dan, tidak aka nada pertarungan yang substansial antara stuktur Negara dengan struktur legal yang menyangkut kepentingan individual. Ini akan membuat Negara bersifat totaliter dan anti demokrasi. Dan ini juga penting, bila Negara melakukan penyimpangan tidak ada kekuatan oposisi yang menentangnya. Situasi ini juga akan menimbulkan kultur terhadap pengelola Negara. Mereka akan selalu menganggap sebagai manusia yang bermoral tinggi, bijak dan tidak memiliki vested interest dalam struktur kekuasaan. Padahal, seringkali menunjukan kebalikannya. Disini nampaknya Buyung menilai kekuasaan cenderung bersifat koersif, anti perdamaian, penuh konflik, pertarungan dan dijadikan alat penindas. Ia tidak melihat kekuasaan, misalnya sebagai suatu fenomena politik yang bersifat netral. Paling tidak netral secara etis. Dengan kata lain, kekuasaan Negara tidak hanya bersifat koersif dan jadi alat penindas, tetapi juga bisa menjadi sebaliknya. Kekuasaan, misalnya bisa dijadikan sarana atau mesin politik yang efektif menggulirkan demokratisasi dan kebebasan. Meminjam

istilah Miriam Budiaharjo, kekuasaan tidak hanya bisa digunakan untuk membatasi untuk membatasi alternative bertindak, tetapi juga bisa memperluasnya. Kedua, konsep Negara integralistik berdampak negative pada HAM. Menurut Buyung Negara model ini melihat Negara bersifat superfluous. Tidak adanya jaminan HAM bagi warga Negara. Sebab, menurut model ini indivdu merupakan bagian integral-integral dari Negara. Jadi bisa saja HAM dinegasikan sedemikian rupa demi kepentingan Negara. Ketiga, Negara integralistik bertentangan dengan prinsip individulisme (yang terkait dengan HAM). Dalam bernegara integralistik menurut Buyung, yang paling etensial adalah bukan pertanyaan apa saja hak-hak saya tetapi :apa tugas dan kewajiban saya sebagai anggota keluarga besar. Ada tendensi dalam pandangan Buyung bahwa Individualisme akan melahirkan kompetisi yang sehat. Manusia, dengan menganut prinsip ini akan bisa mengembangkan potensi kemanusiaan dengan fitrahnya. Sejauh mana kebenaran dan validitas kritik Buyung maupun konsep Negara integralistik di atas, barangkali perlu diadakan penelitian serius lebih lanjut. Atau, mungkin juga sejarah yang akan membuktikannya.