Anda di halaman 1dari 19

Fase-fase Perawatan Endodontik : 3.4.1. Preparasi Akses : - Fase yang paling penting dari aspek teknik perawatan akar.

- Merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap pembersihan, pembentukan dan obturasi saluran akarnya. - Tujuan: o Membuat akses yang lurus. o Menghemat preparasi jaringan gigi. o Membuka atap ruang pulpa. Teknik Akses Preparasi Cavity Entrance 3.4.1.1 Outline Form Cavity Entrance - Proyeksi ruang pulpa ke permukaan gigi di bagian cingulum untuk gigi anterior atau oklusal untuk gigi posterior. - Tujuan : Untuk membuat akses yang lurus, menghemat preparasi jaringan gigi, membuka atap ruang pulpa. a. Outline Form Insisivus RA : bentuknya trangular dengan alas sejajar insisal b. Outline Form Kaninus RA : bentuknya oval / bulat dengan arah insiso servikal c. Outline Form Premolar RA : bentuknya oval memanjang seperti ginjal dengan arah bukal palatal d. Outline Form Premolar RB : bentuknya bulat / oval e. Outline Form Molar RA : bentuknya triangular dengan alas sejajar bukal f. Outline Form Molar RB : bentuknya triangular dengan alas sejajar mesial

3.4.1.2 Preparasi Cavity Entrance 3.4.1.2.1 Alat Preparasi Kavitas 1. Contra Angle Handpiece Low Speed 2. Macam-macam mata bur Low Speed a. Round bur kecil b. Round bur besar c. Fissure bur silinder d. Fissure bur long shank dan round end 3.4.1.2.2 Saluran Akar Tunggal - Preparasi dimulai dengan round bur no 2 atau 4 atau tapered fissure diamond bur dengan arah tegak lurus pada permukaan enamel sampai menembus jaringan dentin dan diteruskan sampai atap pulpa terbukan dengan kedalaman 3 mm. - Setelah itu arah bur diubah menjadi sejajar sumbu gigi sampai menembus ruang pulpa sehingga ditemukan lubang saluran akar yang terletak pada dasar ruang pulpa yang disebut orifice. - Gunakan tapered fissure no 2 atau 4 untuk membentuk dinding cavity entrance divergen ke arah oklusal atau insisal sampai jarum miller dapat masuk dengan lurus, setelah terasa tembus maka orifice dicari dengan menggunakan jarum miller.

- Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan menarik keluar kavitas sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas. Masukkan jarum ektirpasi, diputar searah jarum jam dan ditarik keluar, diulang lagi sampai jaringan pulpa dicabut. Preparasi Cavity Entrance Insisivus RA 3.4.1.2.3 Saluran Akar Ganda - Pembutan cavity entrance menggunakan round bur no1 atau tapered fissure diamond bur pada tengah fossa di bagian oklusal atau endo access. - Setelah kedalaman preparasi mencapai dentin, preparasi dilanjutkan menggunakan fissure diamond bur sampai ditemukan orifice ke 3 saluran akar. - Pada gigi berakar ganda, bila atap pulpa belum terbuka maka cari orifice yang paling besar terlebih dahulu, kemudian atap pulpa diangkat dengan bur sesuai letak orifice. - Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan menarik keluar kavitas, sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas. 3.4.1.2.4 Kesalahan-Kesalahan yang mungkin dapat terjadi pada waktu preparasi cavity entrance : 1. Preparasi salah arah menyebabkan terjadinya step atau perforasi lateral 2. Preparasi terlalu dalam menyebabkan perforasi menembus bufurkasi 3. Jika preparasi cavity entrance terlalu lebar maka dinding kavitas menjadi tipis dan mudah pecah jika ditumpat. 3.4.2. Penentuan Panjang Kerja - Panjang Kerja : Panjang dari alat preparasi yang masuk ke dalam saluran akar pada waktu melakukan preparasi saluran akar. - Menentukan panjang kerja dikurangi 1 mm panjang gigi sebenarnya, untuk menghindari : o Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran akar di apical). o Perforasi ke apical. - Cara melakukan DWP (Diagnostic Wire Photo) Masukkan jarum miller atau file nomor kecil yang diberi stopper dengan guttap perca pada batas panjang gigi rata-rata dikurangi 1-2 mm lalu dilakukan foto R. Dari hasil foto dilakukan pengukuran dengan menggunakan rumus : PGS = PGF x PAS PAF Keterangan : PGS = panjang gigi sebenarnya PGF = panjang gigi foto PAS = panjang alat sebenarnya PAF = panjang alat foto

3.4.3. Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar - Pembersihan debridement : pembuangan iritan dari sistem saluran akar. - Tujuan : Membasmi habis iritan tersebut walaupun dalam kenyataan praktisnya hanyalah sebatas pengurangan yang signifikan saja. - Iritan: bakteri, produk samping bakteri, jaringan nekrotik, debris organik, darah dan kontaminan lain. 3.4.4. Pembentukan Saluran Akar - Membentuk saluran akar melebar secar kontinyu dari apeks ke arah korona. - Pelebaran Saluran akar harus cukup besar untuk melakukan debridement yang baik dan dapat memanipulasi serta mengendalikan instrumen dan meterial obturasi dengan baik tapi tidak sampai melemahkan gigi serta meningkatkan peluang terjadinya kesalahan prosedur. - Ketirusan Ketirusan hasil preparasi harus cukup sehingga instrumen penguak dan pemampat gutta perca dapat berpenetrasi cukup dalam. - Kriteria Saluran akar siap menerima obturasi baik dengan kondensasi lateral maupun vertikal, saluran akar harus berbentuk corong ke arah korona dan dalam ukuran cukup besar sehingga instrument pemampat dan penguak dapar masuk cukup dalam. 3.4.5. Ekstirpasi Pulpa Menggunakan jarum ekstirpasi, reamer ataupun miller. 3.4.5.1 Indikasi : - Saluran akar lurus, tidak bengkok - Tidak ada obliterasi saluran akar - Saluran akar jelas - Kerusakan belum mengenai bifurkasi - Resorbsi < panjang akar gigi Pulpektomi - Resorbsi > panjang akar gigi Pulpotomi. 3.4.6. Teknik Perawatan Saluran Akar 3.4.6.1 Alat Preparasi Saluran Akar : 1. Jarum miller 2. Jarum ekstirpasi 3. Flexofile no. 15-80 penjang disesuaikan dengan panjang elemen 4. Alat irigasi 5. Cotton pellet, paper point steril, dan cotton roll 6. Tempat jarum 7. GGD 3.4.6.2 Gigi Permanen 3.4.6.2.1 Teknik Konvensional

1. Teknik konvensional yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada gigi dengan saluran akar lurus dan akar telah tumbuh sempurna. 2. Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K 3. Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik. Sebelum preparasi stopper file terlebih dahulu harus dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi. Stopper dipasang pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi bidang insisal. Stopper digunakan sebagai tanda batas preparasi saluran akar. 4. Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor yang paling kecil. Preparasi harus dilakukan secara berurutan dari nomor yang terkecil hingga lebih besar dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step atau ledge atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal. 5. Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum preparasi ke nomor yang lebih besar harus dilakukan irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah. Irigasi harus dilakukan secara bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril, bahan irigasi terakhir yang dipakai adalah aquadest steril. 6. Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka preparasi diulang dengan menggunakan jarum preparasi yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila masih ada penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan yaitu larutan largal, EDTA, atau glyde (pilih salah satu). 7. Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar. Preparasi saluran akar teknik konvensional 3.4.6.2.2 Teknik Step Back a. Yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada saluran akar yang bengkok dan sempit pada 1/3 apikal. b. Tidak dapat digunakan jarum reamer karena saluran akar bengkok sehingga preparasi saluran akar harus dengan pull and push motion, dan tidak dapat dengan gerakan berputar. c. Dapat menggunakan file tipe K-Flex atau NiTi file yang lebih fleksibel atau lentur. d. Preparasi saluran akar dengan jarum dimulai dari nomer terkecil : No. 15 s/d 25 = sesuai panjang kerja File No. 25 = Master Apical File (MAF) No. 30 = panjang kerja 1 mm MAF No. 35 = panjang kerja 2 mm MAF No. 40 = panjang kerja 3 mm MAF No. 45 = panjang kerja sama dengan no. 40 dst e. Setiap pergantian jarum file perlu dilakukan pengontrolan panjang kerja dengan file no. 25, untuk mencegah terjadinya penyumbatan saluran akar karena serbuk dentin yang terasah. f. Preparasi selesai bila bagian dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk dilakukan pengisian. Preparasi saluran akar teknik step back

3.4.6.2.3 Teknik Balance Force 1. Menggunakan alat preparasi file tipe R- Flex atau NiTi Flex 2. Menggunakan file no. 10 dengan gerakan steam wending, yaitu file diputar searah jarum jam diikuti gerakan setengah putaran berlawanan jarum jam. 3. Preparasi sampai dengan no. 35 sesuai panjang kerja. 4. Pada 2/3 koronal dilakukan preparasi dengan Gates Glidden Drill (GGD) GGD #2 = sepanjang 3 mm dari foramen apical GGD #3 = sepanjang GGD #2 2 mm GGD #4 = sepanjang GGD #3 2 mm GGD #5 = sepanjang GGD #4 2 mm GGD #6 = sepanjang GGD #5 2 mm 5. Preparasi dilanjutkan dengan file no. 40 s/d no.45 6. Dilakukan irigasi 7. Keuntungan balance force : - Hasil preparasi dapat mempertahankan bentuk semula - Mencegah terjadinya ledge dan perforasi - Mencegah pecahnya dinding saluran akar - Mencegah terdorongnya kotoran keluar apeks 3.4.6.2.4 Teknik Crown Down Presureless a. Teknik disebut juga dengan teknik step down, merupakan modifikasi dari teknik step back. b. Diawali dengan file terbesar sx/Gates Gliden Drill preparasi 1/3 koronal (19 mm). c. Menghasilkan hasil yang serupa yakni seperti corong yang lebar dengan apeks yang kecil (tirus). d. Bermanfaat pada saluran akar yang kecil dan bengkok di molar RA dan RB. e. Saluran akar sedapat mungkin dibersihkan dengan baik sebelum instrument ditempatkan di daerah apeks sehingga kemungkinan terjadinya ekstruksi dentin ke jaringan periapeks dapat dikurangi. f. Menggunakan instrument nikel-titanium, baik yang genggam maupun digerakkan mesin. 3.4.7. Irigasi Saluran Akar 3.4.7.1 Tujuan : Untuk mengeluarkan sisa jaringan nekrotik, serbuk dentin, dan kotoran-kotoran lain yang terdapat di saluran. - Irigasi dilakukan setiap : o Pergantian file pada saat preparasi saluran akar o Pada saat akan melakukan perbenihan o Sterilisasi saluran akar 3.4.7.2 Bahan irigasi yang digunakan : - H2O2 3% - Aquadest steril - NaOCl

3.4.7.3 Alat irigasi yang digunakan : - Spuit 2,5 cc dengan jarum yg dibengkokan dan ujungnya ditumpulkan - Alat irigasi yang dipakai harus diberi tanda untuk membedakan isi cairan irigasi yang dipakai - Alat irigasi disimpan dalam botol tertutup berisi alkohol 70% agar tetap terjaga sterilisasinya 3.4.7.4 Cara irigasi : - Jarum irigasi dimasukkan kedalam saluran akar. Jarum irigasi yang masuk kedalam saluran akar tidak boleh terlalu besar sehingga membuntu saluran akar yang akan mengakibatan cairan irigasi yang disemprotkan tidak mengalir keluar. - Bahan irigasi disemprotkan secara perlahan-lahan ke dalam saluran akar - Bahan irigasi digunakan secara bergantian. Bahan irigasi yang terakhir disemprotkan ke dalam saluran akar harus aquadest steril. - Menghisap cairan irigasi yang keluar dengan cotton roll atau saliva ejector atau section. Tidak boleh terkontaminasi dengan saliva. - Setelah irigasi, saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point. Tidak boleh pakai hembusan udara 3.4.9. Perbenihan 3.4.9.1 Prosedur perbenihan : - Pasien dikontrol lebih dulu - Siapkan papper point dan cotton pellet. Masukkan papper point dan cotton pellet ke dalam Glassbead sterilisator dan ditutup, nyalakan, biarkan sampai lampu pada glassbead sterilisator menjadi hijau (Ready). Papper point dan cotton pellet siap digunakan. Buka alat glassbead sterilisator. Hasil Perbenihan negatif, saluran akar dapat diisi dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : - Tidak ada keluhan pasien - Tidak ada gejala klinik - Tidak ada eksudat dalam saluran akar (cek dari papper point yang terdapat dalam saluran akar caranya ulaskan papper point pada glass lab. Bila tidak berbekas, berarti bisa dilakukan pengisian), papper point diulaskan di glass lab. - Tumpatan sementara masih baik Hasil pembenihan positif, maka dilakukan sterilisasi ulang sampai hasil pembenihan negatif. 3.4.10. Bahan Pengisian Saluran Akar 3.4.10.1 Syarat-Syarat Bahan Pengisi Saluran Akar a. Bahan harus dapat dengan mudah dimasukkan ke saluran akar. b. Harus menutup saluran ke arah lateral dan apikal. c. Harus tidak mengerut setelah dimasukkan. d. Harus kedap terhadap cairan.

e. Harus bakterisidal atau paling tidak harus menghalangi pertumbuhan bakteri. f. Harus radiopak. g. Tidak menodai struktur gigi. h. Tidak mengiritasi jaringan periapikal atau mempengaruhi struktur gigi. i. Harus steril atau dapat segera disterilkan dengan cepat sebelum dimasukkan. j. Bila perlu dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran akar.

3.4.11. Teknik Pengisian Saluran Akar 3.4.11.1 Alat Pengisian Saluran Akar : 1. Glass plate 2. Alat pengaduk semen 3. Stopper semen 4. Jarum lentulo 5. Finger spreader Gigi Sulung dan Gigi Permanen 3.4.11.2 Teknik single cone Teknik pengisian saluran akar untuk teknik preparasi secara konvension Tahapan : - Pencampuran pasta saluran akar petunjuk pabrik - Pasta diulaskan pada jarum lentulo dan guttap point untuk kemudian dimasukan kedalam saluran akar yang telah dipreparasi jarum lentulo sesuai panjang kerja dan diputar berlawanan jarum jam. - Guttap point ( trial foto disterilkan dengan alcohol 70% dan dikeringkan ) 1. Pilih guttap point yang diameternya sesuai dengan reamer / file terakhir yang digunakan pada waktu preparasi saluran akar. 2. Tandai guttap point sesuai dengan panjang kerja. 3. Masukkan guttap point dalam saluran akar sebatas tanda. 4. Guttap point yang memenuhi syarat dapat masuk saluran akar sebatas panjang kerja dan rapat dengan dinding saluran akar. - Kering ( diulas dengan pasta ) masuk ke dalam saluran akar. - Guttap point di potong 1-2mm dibawah orifice dengan ekskavator yang ujungnya telah di panasi dengan bunsen burner hingga membara. - Kemudian dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat lalu ditutup kapas dan tumpatan sementara menggunakan fletcher atau cavit. Gigi Permanen 3.4.11.3 Teknik Kondensasi Lateral Dengan teknik preparasi saluran akar secara step back. Sering digunakan hampir semua keadaan kecuali pada saluran akar yang sangat bengkok / abnormal Tahapan : - Pencampuran pasta - Guttap point ( trial foto disterilkan 70% alcohol dan dikeringkan

- Guttap point nomor 25 (MAF) diulasi dengan pasta ke saluran akar sesuai dengan tanda yang telah dibuat dan ditekan kea rah lateral menggunakan spreader. - Ke dalam saluran akar diberi guttap tambahan, setiap memasukan guttap di tekan ke arah lateral sampai saluran akar penuh dan spreader tidak dapat masuk dalam saluran akar. - Guttap point dipotong 1-2mm dibawah orifice dengan eskavator yang telah dipanasi - Guttap point dipadatkan dengan root canal plugger - Bila pengisian sudah baik, maka dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat, ditutup kapas dan tumpatan sementara. 3.4.11.4 Teknik Kondensasi Vertical (Gutta perca panas) Untuk pengisian saluran akar dengan teknik step back. Menggunakan pluger yang dipanaskan, dilakukan penekanan pada guttap perca yang telah dilunakan dengan panas kearah vertical dan dengan demikian menyebabkan guttap perca mengalir dan mengisi seluruh lumen saluran akar. Tahapan : - Suatu kerucut guttap perca utama sesuai dengan instrument terakhir yang digunakan pada saluran dengan cara step back - Dinding saluran dilapisi dengan lapis tipis semen dengan menggunakan lentulo. - Kerucut disemen - Ujung koronal kerucut dipotong dengan instrument panas - Pembawa panas segera didorong ke dalam 1/3 koronal guttap perca. Sebagian terbakar oleh plugel bila diambil dari saluran akar. - Condenser vertical dengan ukuran yang sesuai dimasukan dan tekanan vertical dikenakan pada guttap perca yang telah dipanasi untuk mendorong guttap perca yang menjadi plastis ke arah apikal - Apikalis panas berganti oleh pembawa panas dan condenser diulangi sampai guttap perca plastis menutup saluran aksesori besar dan mengisi luman saluran dalam 3 dimensi foramen apikal. Bagian sisa saluran diisi dengan potongan tambahan guttap perca panas. - Bila pengisisan sudah baik, maka dasar pulpa diberi basis semen ZnPO4, kemudian ditumpat sementara. 3.4.11.5 Metode seksional (teknik pluger) Dapat digunakan untuk mengisi saluran ke arah apikal dan lateral. Teknik menggunakan suatu bagian kerucut guttap perca untuk mengisi suatu bagian 1/3 saluran akar / ujung apikal. Tahapan : - Dinding saluran akar dilapisi semen - Pluger saluran dimasukan sampai 3-4mm dari apeks dipanaskan dalam sterilitator garam panas (1011) - Kerucut guttap perca dipotong beberapa bagian sesuai dengan ukuran saluran yang telah dipreparasi dengan panjang 3-4mm - Potong apikal ditempelkan pada pluger yang telah dipanasi, dimasukan ke dalam saluran pada kedalaman yang sebelumnya telah diukur dan ditekan ke arah vertical - Pluger dilepas dengan hati-hati untuk mencegah ke luarnya bagian guttap perca yang dimasukan

- Dibuat radiograf untuk memeriksa posisi dan kesesuaian bagian yang dikondensasi - Bagian berikutnya dimasukan kedalam eukaliptol, dipanaskan tinggi diatas nyala api dan ditambahkan pada bagian sebelumnya dengan tekanan vertical untuk memampatkan pengisi 3.4.11.6 Metode kompaksi - Menggunakan panas untuk mengurangi viskositas guttap perca dan menaikan plastisitasnya - Digunakan untuk pengisi saluran yang lurus - Menggunakan metode step back 3.4.11.7 Metode Inverted cone - Digunakan terbatas pada gigi dengan saluran kecil, berkelok-kelok, yang tidak dapat diisi dengan kerucut guttap perca secara lepas 3.4.11.8 Metode Role Gutta perca - Untuk mengisi saluran kecil bahan tersebut yang bengkok 3.4.11.9 Pengambilan Guttap Point dengan GGD a. Menentukan panjang GGD : 1. Panjang kerja (PK) panjang mahkota = panjang akar 2. Panjang 1/3 apikal = panjang akar : 3 3. Panjang GGD = PK panjang 1/3 apikal 4. GGD dimasukkan dalam contra angle handpiece low speed b. Membuka tumpatan sementara, cotton pellet diambil. c. Pemakaian GGD secara berurutan, dimulai dari ukuran besar sampai sesuai besarnya saluran akar. d. GGD yang telah disiapkan dimasukkan dalam saluran akar (letak GGD harus lurus / sejajar dengan sumbu gigi) kemudian airmotor digerakkan sampai guttap point terpotong dan seterusnya hingga mencapai panjang kerja GGD yang telah ditentukan. e. Serpihan guttap point dibersihkan dari saluran akar dengan hembusan udara. f. Rongga saluran akar yang kosong diisi dengan kapas steril, kemudian ditumpat sementara.

Preparasi Saluran Akar Perawatan saluran akar dapat didefinisikan sebagai mengeluarkan seluruh pulpa gigi yang rusak diikuti dengan pembersihan, perbaikan bentuk dan pengisian sistem saluran akar sehingga gigi dapat menjadi unit fungsional, dalam lengkung rahang. Eksterpasi dari pulpa vital diikuti dengan terapi saluran akar mungkin diperlukan pada kasus dimana rencana perawatan mencakup pembuatan overdenture atau bila susunan angulasi akar terhadap mahkota mengharuskan dibuatnya pasak atau core. Tujuan perawatan ini untuk membersihkan kavitas pulpa yang terinfeksi dan kotoran toksik serta untuk membentuk saluran akar dari jaringan periodontal dan dari rongga mulut. Alasan perawatan terletak pada fakta bahwa pulpa nonvital, avaskular, tidak mempunyai mekanisme perlindungan diri. Jaringan ini dalam saluran akar mengalami autolisis dan produknya akan berdifusi ke jaringan di sekitarnya dan menimbulkan iritasi

periapikal bahwa walaupun tidak terjadi kontaminasi bakteri. Terapi endodonti harus mencakup penutupan seluruh sistem saluran akar untuk mencegah timbunan cairan jaringan di saluran akar dan membentuk media kultur bakteri sisa atau mikroorganisma yang dapat masuk dari aliran darah. Perawatan saluran akar dapat dilakukan pada salah satu dari kedua cara, baik dengan cara konvensional melalui kavitas orifice yang dibuat di mahkota gigi atau dengan cara operasi. (Harty; 1992) Obat-obatan Intrasaluran Obat-obatan saluran akar dianjurkan sebagai perawatan endododnti rutin untuk berbagai alasan. Namun obat-obat ini jangan digunakan sebagai pengganti preparasi kemomekanis dario sistem saluran akar, yang membentuk perawatan endodonti yang baik dan berhasil. Pada terapi endodonti multikunjungan, obat-obat saluran akar digunakan untuk satu atau beberapa alasan berikut ini:
1. Untuk membantu mengeluarkan mikroorganisme 2. Mengurangi rasa sakit 3. Menghilangkan eksudat apikal 4. Untuk mempercepat penyembuhan dan pembentukan jaringan keras 5. Untuk mengontrol resorpsi peradangan akar

Bila sebagian besar obat-obatan yang digunakan dahulu umumnya dalam bentuk cairan, sekarang obat-obat ini paling sering digunakan dalam bentuk pasta. Pasta mempunyai kelebihan yaitu memberikan ketebalan bahan yang mengeluarkan komponen aktif selama periode waktu tertentu ke dentin dan jaringan periodontal, dengan juga mengisi saluran akar. (Harty; 1992) Pengisian saluran akar Setelah jaringan pulpa dikeluarkan akan terdapat luka, yang kemudian dibersihkan dan didesinfeksi dengan instrumentasi dan irigasi. Luka ini tidak akan menutup epitelium, seperti luka pada tubuh lain, dan karena itu mudah terkena infeksi ulang, untuk mencegah penetrasi mikroorganisma dan toksin dari luar melalui rongga pulpa ke tubuh, ruang ini harus ditutup di bagian koronal dan apikal, yang terakhir ini untuk mencegah infeksi dan untuk memblokir lubang periapeks bagi organisme yang bahkan setelah instrumentasi maupun desinfeksi, tetap hidup dalam rongga pulpa. Selain itu, untuk mencegah infeksi ulang dari ruang pulpa oleh mikroorganisme dari rongga mulut, seluruh ruang pulpa harus diisi , jadi memblokir tubula dentin dan saluran asesori. Dengan cara menentukan lokus pembelahan bakteri dan semua lubang masuk ke tubuh, maka hal ini dapat dicegah. Pada prakteknya, seal yang tidak permeabel harus menutup foramen apikal dan dari bahan yang sesuai serta dapat berfungsi sebagai dresing luka dimana jaringan sehat akan dibentuk untuk beberapa tahun. (Harty; 1992) 3.5 PENYEBAB KEGAGALAN PERAWATAN SALURAN AKAR Secara umum penyebab kegagalan dapat didaftar secara kasar dari yang frekuensinya paling sering sampai ke yang paling jarang, yaitu kesalahan dalam diagnosis dan rencana perawatan;

kebocoran tambalan di mahkota; kurangnya pengetahuan anatomi pulpa; debridement yang tidak memadai; kesalahan selama perawatan; kesalahan dalam obturasi; proteksi tambalan yang tidak cukup; dan fraktur akar vertikal. Berbagai prosedur yang terkait dengan perawatan saluran akar dibagi menjadi tiga tahap yaitu tahap praperawatan, selama perawatan dan pasca perawatan. Mengingat kegagalan perawatan saluran akar terkait dengan tiap-tiap tahap tersebut, maka penyebab kegagalannya pun diklasifikasi sesuai dengan tahap-tahap itu. 3.5.1. Faktor Kegagalan Tahap Pra-perawatan Kegagalan perawatan saluran akar pada tahap praperawatan sering disebabkan oleh : 1. Diagnosis yang keliru a. Diagnosis yang tidak tepat, biasanya berasal dari kurangnya atau salahnya interpretasi informasi, baik informasi klinis maupun radiografis. Radiograf merupakan alat bantu utama dalam penilaian konfigurasi anatomik sistem saluran akar perawatan. b. Tidak teridentifikasinya penyimpangan berbagai sistem saluran akar pada radiograf sering menjadi penyebab kegagalan perawatan saluran akar. Fraktur dentin akar atau didiagnosis keliru. Inflamasi kronis yang timbul akan menyebabkan defek periodontal, defek ini sering baru terlihat di kemudian hari. c. Dalam mendiagnosis suatu penyakit sangat diperlukan ketelitian dan pemahaman dokter gigi akan gejala-gejala suatu penyakit. Karena keterbatasan pengetahuan, peralatan ataupun karena kelalaian dokter gigi, tidak jarang terjadi kesalahan dalam mendiagnosis penyakit yang dapat mengakibatkan timbulnya masalah dalam proses penyembuhan. 2. Kesalahan dalam perencanaan perawatan Sebagian rencana perawatan adalah mengidentifikasi kasus-kasus mana yang cenderung akan mengalami kegagalan walaupun baiknya perawatan yang dilakukan. 3. Seleksi kasus yang buruk Seleksi kasus menentukan apakah perawatan dapat dilakukan atau tidak. Sejumlah kegagalan yang disebabkan oleh seleksi kasus yang buruk akan menimbulkan kekliruan dalam menilai kerjasama pasien serta kesukaran yang mungkin timbul selama perawatan. 4. Merawat gigi dengan prognosis yang buruk.

3.5.2. Faktor Kegagalan Selama Perawatan Banyak kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam prosedur perawatan, kesalahan dapat terjadi pada saat pembukaan kamar pulpa, saat melakukan preparasi saluran akar dan saat pengisian saluran akar. - Kesalahan Pembukaan Kamar Pulpa Tujuan utama pembukaan kamar pulpa adalah untuk mendapatkan jalan langsung ke foramen apikal tanpa adanya hambatan serta untuk memudahkan penglihatan pada semua orofis saluran akar. Pembukaan kamar pulpa untuk setiap gigi mempunyai desain yang berbeda, suatu pembukaan yang dilakukan dengan baik akan menghilangkan kesulitan-kesulitan teknis yang dijumpai dalam perawatan saluran akar. Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi selama melakukan pembukaan kamar pulpa adalah : 1. Perforasi Permukaan akar

Perforasi dapat terjadi ke arah proksimal atau labial. Perforasi disebabkan karena preparasi pembukaan dilakukan dengan sudut yang tidak mengarah ke kamar pulpa. Hal ini terjadi karena waktu melakukan preparasi akses, ditemui kesulitan menemukan lokasi kamar pulpa walaupun dari gambaran foto Rontgen jelas. 2. Perusakan dasar kamar pulpa Bor yang memotong dasar kamar pulpa dapat menyebabkan terjadinya perforasi pada furkasi. Selai itu, pemakaian bor fisur yang berujung datar akan membuat dasar kamar pulpa menadi datar sehingga merusak bentuk corong alamiah orifis yang akan menyulitkan pemasukan instrumen, paper point serta bahan pengisian ke dalam saluran akar. 3. Preparasi saluran melalui tanduk pulpa Preparasi yang terlalu dangkal akan menyebabkan saluran akar dicapai melalui tanduk pulpa, selain itu akan menyulitkan pembersihan kamar pulpa dan saluran akar dengan baik. 4. Membuat pembukaan proksimal Pembukaan yang dilakukan melalui karies yang ada proksimal akan menyebabkan instrumen yang dipakai untuk saluran akar harus dibengkokkan, akibatnya preparasi saluran akar tidak tepat dan instrumen dapat patah dalam saluran akar. 5. Membuat pembukaan yang terlalu kecil Pembukaan yang terlalu kecil akan mengakibatkan terperangkapnya jaringan pulpa terutama yang berada dibawah tanduk pulpa, juga akan menyulitkan pencarian orifis sehingga saluran akar tidak dapat ditemukan. 6. Preparasi pembukaan melebar ke arah dasar kamar pulpa Pada preparasi yang melebar ke arah dasar kamar pulpa akan mengakibatkan melemahnya kemampuan menerima daya kunyah sehingga dapat melepaskan tambalan sementara dan akhirnya terjadi kebocoran. - Kesalahan Selama Preparasi Saluran Akar

Tahap preparasi saluran akar mencakup proses pembersihan (cleaning) dan pembentukan (shaping). Pada tahap ini dapat terjadi kegagalan perawatan saluran akar yang disebabkan oleh : 1. Instrumentasi berlebih (over instrumentasi) Instrumen menembus ke luar melalui foramen apikal sehingga dapat menyebabakan terjadinya inflamasi periapikal. Instrumentasi yang melewati konstriksi apikal dapat mentransfer mikroorganisme dan mendorong bubuk dentin dari saluran akar ke jaringan periapikal sehingga dapat memperburuk hasil perawatan. 2. Instrumentasi kurang (underinstrumentasi) Instrumen tidak mencapai panjang kerja yang benar sehingga pembersihan saluran akar tidak sempurna, masih meninggalkan jaringan nekrotik di dalam saluran akar. 3. Preparasi berlebihan Yang dimaksud dengan preparasi berlebihan adalah pengambilan jaringan gigi yang berlebih dalam arah mesio-distal dan buko-lingual. Hal ini dapat terjadi dibagian koronal atau pertengahan saluran sehingga melemahkan akar dan dapat menyebabkan fraktur akarselama berlangsungnya kondensasi. 4. Preparasi yang kurang

Preparasi yang kurang adalah kegagalan dalam pengambilan jaringan pulpa, kikiran dentin dan mikroorganisme dari sistem saluran akar. Saluran dibentuk sempurna sehingga pengisian kurang hermetis. 5. Terbentuknya birai (ledge) dan perforasi Terbentuknya birai atau perforasi laterala dapat menghalangi proses pembersihan, pembentukan dan pengisian saluran akar yang sempurna. Adanya birai atau perforasi lateral akan meninggalkan bahan iritasi dan atau akan menambah buruk keadaan pada ligamen perodontal sehingga prognosisnya menjadi buruk. 6. Instrumen patah dalam saluran akar Instrumen patah dalam saluran menyebabkan kesulitan tahap perawatan saluran akar selanjutnya. Prognosisnya buruk bila saluran akar disebelah apical patahan yang belum dibersihkan masih panjang atau fragmen patahan keluar dari foramen apikal. 7. Kesalahan pada waktu irigasi saluran akar Bila bahan irigasi yang dipakai bersifat toksik, dapat menyebabkan iritasi pada jaringan periapikal. Cara penyemprotan bahan irigasi terlalu keras atau memasukkan jarumnya terlalu dalam dapat mendorong bubuk dentin dan mikroorganisme keluar dari foramen apikal, sehingga dapat mengiritasi jaringan periapikal. 8. Kesalahan dalam sterilisasi saluran akar Mikroorganisme masih tersisa di dalam tubuli dentin, saluran lateral atau ramifikasi saluran akar karena obat-obat disinfeksi yang digunakan kurang efektif, sehingga dapat menyebabkan terjadinya reinfeksi. - Kesalahan Saat Pengisian Saluran Akar Kegagalan perawatan saluran akar dapat disebabkan karena kesalahan-kesalahan yang terjadi saat pengisian saluran akar, yaitu : 1. Pengisian yang tidak sempurna Pengisian yang berlebih (overfilling), pengisian yang kurang (underfilling) atau pengisian yang tidak hermetis, dapat memicu terjadinya inflamasi jaringan periapikal, saluran akar dapat terkontaminasi bakteri dari periapikal sehingga terjadi reinfeksi. 2. Pengisian saluran akar dilakukan pada saat yang tidak tepat. Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan belum steril, masih terdapat eksudat yang persisten atau masih terdapat sisa jaringan yang terinfeksi. 3. Pengisian saluran akar dilakukan pada keadaan tidak steril. Keadaan rongga mulut maupun alat-alat yang digunakan pada waktu dilakukan pengisian saluran akar, tidak steril. 3.5.3. Faktor Penyebab Kegagalan Pasca Perawatan Kejadian pasca perawatan dapat menyebabkan kegagalan perawatan secara langsung atau tidak langsung, misalnya. 1. Restorasi yang kurang baik atau desain restorasi yang buruk. Restorasi yang baik akan melindungi sisa gigi dan mencegah kebocoran dari rongga mulut kedalam sistem saluran akar. Restorasi pasca perawatan saluran akar yang kurang baik akan menyebabkan terbukanya semen dan menyebabkan terkontaminasinya kamar pulpa dan saluran akar oleh saliva dan bakteri, sehingga mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar.

2. Trauma dan fraktur Kesalahan preparasi pada waktu pembuatan pasak dapat menyebabkan kegagalan perawatan. Pengambilan dentin saluran akar yang terlalu banyak akan melemahkan akar gigi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya fraktur vertikal. 3. Terkenanya jaringan periodontal Kegagalan bisa disebabkan karena non endodontik, walaupun perawatan saluran akar dilakukan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena efek merusak dari perawatan ortodontik atau penyakit periodontium. 3.5.4. Tanda-Tanda Kegagalan Perawatan Saluran Akar Di samping kurangnya konsensus mengenai kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan, rentang waktu yang diperlukan bagi tindak lanjut pasca perawatan yang memadai juga masih kontroversial. Periode yang dianjurkan berkisar 6 bulan sampai 4 tahun. Keberhasilan yang nyata dalam kurun waktu satu tahun bukan keberhasilan yang langgeng karena kegagalan mungkin terjadi setiap saat. Penentuan berhasil atau tidaknya suatu perawatan diambil dari pemeriksaan klinis dan radigrafis dan histologis (mikroskopis). Hanya temuan klinis dan radiografis yang dapat dievaluasi dengan mudah oleh dokter gigi, pemeriksaan histologis pada umumnya digunakan sebagai alat penelitian. 3.5.4.1. Tanda-tanda Kegagalan secara Klinis Kegagalan perawatan saluran akar yang dilihat secara klinis yang lazim dinilai adalah tanda gejala klinis, yaitu : 1. Rasa nyeri baik secara spontan maupun bila kena rangsang. 2. Perkusi dan tekanan terasa peka. 3. Palpasi mukosa sekitar gigi terasa peka. 4. Pembengkakan pada mukosa sekitar gigi dan nyeri bila ditekan. 5. Adanya fistula pada daerah apikal. 3.5.4.2. Tanda-tanda Kegagalan secara Radiografis Kemungkinan kesalahan dalam interprestasi radiografis adalah faktor penting yang dapat merumitkan keadaan. Konsistensi dalam jenis film dan waktu pengambilan, angulasi tabung sinar dan film, kondisi penilaian radiograf yang sama merupakan hal-hal yang penting untuk diperhatikan. Biasa perorangan juga akan mempengaruhi interpretasi radiografis. Perubahan radiologis cenderung bervariasi menurut orang yang memeriksanya sehingga pendapat yang dihasilkan pun berbeda. Tanda-tanda kegagalan perawatan saluran akar secara radiografis adalah adanya : 1. Perluasan daerah radiolusen di dalam ruang pulpa (internal resorption). 2. Pelebaran jaringan periodontium. 3. Perluasan gambaran radiolusen di daerah periapikal. 3.5.4.3. Tanda-tanda Kegagalan secara Histologis (Mikroskopis) Karena kurangnya penelitian histologis yang terkendali dengan baik, ada ketidakpastian mengenai derajat korelasi antara temuan histologis dengan gambaran radiologisnya. Pemeriksaan histologis rutin jaringan periapikal pasien jarang dilakukan. Tanda-tanda

kegagalan secara histologis adalah : 1. Adanya sel-sel radang akut dan kronik di dalam jaringan pulpa dan periapikal. 2. Ada mikro abses. 3. Jaringan pulpa mengalami degeneratif sampai nekrotik.

Prinsip perawatan saluran akar apa saja? Preparasi, sterilisasi, pengisian Macam-macam teknik preparasi, sebutkan! (untung nggak pake jelaskan) konvensional, step back, step down, crowndown pressureless, balance force Kapan dilakukan preparasi step back? Pada saluran akar yang sempit dan bengkok Bagaimana cara preparasi dengan teknik step back? Sesuai dengan panjang kerja, dari mulai nomor terkecil (15-25) MAF, dilanjutkan dengan nomer 30, 35 (panjang kerja -1), (panjang kerja -2), 40 (panjang kerja-3). Jangan lupa di setiap pergantian file harus irigasi dengan H2O2 dan PZ serta dilakukan rekapitulasi agar tidak kehilangan panjang kerja yang biasanya disebabkan karena ledge, zipp, bahkan perforasi. Dan yang penting jangan tergesagesa. Syarat preparasi sudah selesai? Cukup untuk bahan pengisi, preparasi halus, sesuai dengan panjang kerja, ditemukan serbuk putih dentin. Macam teknik pengisiannya? Antara lain single cone, kondensasi lateral, kondensasi vertikal, thermoplasticized gutta percha Syarat bahan pengisi saluran akar, apa saja? Mudah dimasukkan dalam saluran akar, tidak mengerut setelah dimasukkan, tidak larut dalam cairan tubuh, tidak menyebabkan perubahan warna gigi, mudah dikeluarkan bila diperlukan (diganti pasak), tidak mengiritasi, dan menghambat pertumbuhan bakteri. Sebutkan macam bahan pengisi saluran akar! Weine dan Ngunyen mengelompokkan (pasta, semisolid, solid) sedangkan Grossman mengelompokkan (plastis, solid, semen, pasta) Sebutkan macam pasta saluran akar! Berbahan dasar seng oksida eugenol, berbahan dasar resin, berbahan dasar gutta percha, berbahan dasar adesif dentin, dan bahan dengan tambahan obat. Apa gunanya pasta pengisi saluran akar? Bukankah cukup dengan gutta percha saja? Untuk mengisi ruang kosong dan ramifikasi. Sebutkan prinsip preparasi menurut Mbah Black, dan definisikan! Outline form (bentuk daerah tepi marginal dari preparasi), resistance form (bentuk preparasi kavitasagar sisa haringan gigi mampu menahan beban kunyah), retention form (mencegah lepasnya tumpatan karena beban kunyah), convenience form (untuk memperoleh jalan masuk yang mudahsaat insersi), removal of caries (terutama karies lunak), finish of the enamel wall (dinding kavitas halus dan rata), toilet of the cavity (pembersihan cavitas dari debris, darah, dan mucin)

3.

Mahkota (pasak) Mahkota adalah restorasi rigid sebagian/ seluruh mahkota yang disemenkan. Rekonstruksi kembali gigi yang kerusakannya lebih besar daripada gigi yang sehat. Indikasi:

1. Gigi vital/ non vital 2. Sudah tidak bisa ditambal lagi 3. Karies yang meluas sampai menghilangkan cusp gigi 4. Jaringan periodontal sehat 5. Tidak ada riwayat alergi pada bahan mahkota pasak 6. Gigi antagonisnya masih bagus sehingga tidak menjadi iritasi pada bagian mukosa palatal. 7. Retensi pada gigi yang akan diberi mahkota masih baik dalam artian masih mampu menerima beban mahkota pasak itu sendiri 8. Akar gigi masih bagus. Kontraindikasi: 1. Karies pada gigi masih belum meluas masih tergolong pit dan fissure 2. Jaringan pendukung tidak memungkinkan adanya mahkota karena adanya periodontitis kronis 3. Tidak adanya gigi antagonis sehingga menyebabkan mukosa palatal iritasi 4. Gigi yang akan dibuatkan mahkota masih vital artinya tidak sampai perforasi. 5. Kondisi gigi pada lengkung rahang tidak crowded. Metode untuk membentuk inti pada gigi insisiv atas sebelum membuat mahkota pasak a. Inti komposit yang ditahan dengan pasak dentin pada gigi masih vital b. Pasak cor dan inti c. Pasak kawat wiptam dan inti cor d. Pasak dan inti siap pakai tipe Charlton e. Pasak ulir dan inti siap pakai tipe kurer Catatan : pada b,c,d dan e pengisian akar sudah dilakukan sebelum pemasangan mahkota. Gambar 1.2 (a dan b permukaan mesio distal, c permukaan buko lingual) Preparasi gigi untuk pasak cord mahkota jaket porselen dengan inti pada gigi yang sudah dirawat saluran akar: A preparasi saluran akar B preparasi permukaan akar C mahkota jaket porselen yang sudah selesai dengan pasak cor dan inti Tahapan Preparasi Pasak :

Pemilihan desain pasak Sistem pasak yang digunakan harus sesuai dengan saluran akar maupun restorasinya. Dokter gigi harus mempunyai keterampilan untuk menentukan indikasi dan penggunakan pasak pada gigi yang dirawat.

Preparasi pasak Kamar pulpa maupun saluran akar memberi retensi pada restorasinya. Pasak yang disemen pada saluran akar akan memneri retensi pada restorasi (inti) namun tidak memperkuat akar gigi, bahkan sering kali memeperlemah akar gigi bila bentuk pasak tidak sesuai dengan bentuk saluran akarnya (lebih besar). Karena itu buatlah preparasi pasak yang minimal sesuai dengan kebutuhan retensi inti. Preparasi pasak dimulai dari pengambilan gutta percha dari saluran akar sesuai dengan panjang yang diperlukan dilanjutkan dengan memperbesar dan membentuk saluran akar untuk ditempati pasak. Pengambilan gutta percha harus hati-hati. Pengambilan yang terlalu banyak akan mengakibatkan tendensi fraktur akar. Perforasi akar juga bias terjadi apabila preparasi saluran akar menyimpang dari saluran akarnya. Radiograf tidak dapat menentukan secara pasti mengenai lengkung dan diameter saluran akar. Radiograf mungkin tidak bisa menunjukkan konkavitas dan lengkung labio-lingual. Sebagai patokan umum, diameter pasak tidak boleh lebih dari sepertiga diameter akar. Preparasi pasak yang menyempit ke arah apikal mencegah terjadinya step di daerah apeks; tidak adanya step merupakan predisposisi terjadinya wedging (peregangan) dan fraktur akar.

Pengambilan gutta percha Pengambilan gutta percha sebaiknya dilakukan pada saat obturasi karena dokter gigi masih ingat betul bentuk, diameter, panjang dan lengkung saluran akar. Pengambilan gutta percha juga bisa dilakukan pada kunjungan berikutnya. Pengambilan gutta percha lebih baik menggunakan alat yang panas sedikit demi sedikit sampai panjang yang ditentukan. Gutta percha diambil sampai tersisa sedikitnya 4 mm dari apeks. Semua alat bisa digunakan asal bisa dipanaskan. Gunakan instrumen yang rotatif seperti pisau reamer. Namun penggunaannya harus hati-hati karena kecenderungannya untuk menyimpang dan menimbulakan perforasi atau paling sedikit mengakibatkan kerusakan yang berat pada saluran akar. Alternatif lain yaitu menggunakan pelarut seperti kloroform, xylene atau eucaliptol adalah kotor dan sulit mengambil gutta percha sampai panjang yang dikehendaki.

Penyelesaian ruang pasak

Setelah gutta percha diambil, dilakukan pembentukan saluran akar sesuai dengan tipe pasak yang akan digunakan. Dapat menggunakan instrumen putar dalam pembentukannya. Yang penting adalah bahwa pasak yang disemenkan, apapun desain dan bentuk preparasinya, tidak mungkin rapat dengan saluran akar. Pasak tidak akan rapat benar-benar dan semen juga tidak dapat mengisi seluruh interfase. Saliva dan bakteri juga dapat mencapai daerah apeks bila sudah berkontak dengan pasak. Pertimbangan Untuk Membuat Restorasi 1. Gigi yang telah dirawat PSA mungkin lebih getas dan mudah patah. Hal ini dikarenakan kandungan air pada jarinagn keras lebih sedikit disbanding dengan gigi dengan pulpa vital. 2. Sesudah jaringan keras diangkat dan perawatan endodontik, dindind email tidak mendapat dukungan yang baik dank arena preparasi ruang pulpa. 3. Sedikit tidaknya jarinagan gigi pada mahkota sehingga dipilihlah perencanaan restorasi dengan retensi intraradikuler (pasak). Beberapa Pertimbangan Untuk Rancangan Pasak Dan Preparasinya Tujuan pasak intraradikuler adalah menyediakan retensi dan kekuatan bagi restorasi mahkota. 1. Jika preparasi pasak terlalu pendek maka akan meyebabkan kemungkinan patah akar. Tekanan yang ada akan diterima mahkota dan pasak didesak ke akar. 2. Jika preparasi pasak cukup panjang (idealnya 1-1,5 kali panjang mahkota) tekanan yang diterima akan tersebar ke seluruh akar yang berkontak dengan pasak. 3. Jika preparasi pasak terlalu lebar, kar akan menjadi lemah dan fraktur. Preparasi yang terlalu lebar mungkin akan menyebabkan perforasi akar. Pasak yang pendek dan lebar sering mengakibatkan fraktur akar. 4. Jika preparasi dan pasak sempit, kesukaran mungkin akan dijumpai untuk mencetaknya dank arena fleksibilitas pasaknya, gigi tidak akan menjadi lebih kuat. Bahan-Bahan Yang Dapat Digunakan Untuk Membuat Pasak Pencetakan saluran akar yang telah dipreparasi sangat sulit dilakukan karena ukurannnya yang panjang dan sempit. Untunglah sekarang didapat 2 macam bahan yang memungkinkan dilakukannya pencetakan saluran akar dengan panjang yang maksimum dan tepat. 1. Endopost

Campuran logam yang bertitik lebur tinggi dan dibuat dengan standar endodontik dari ukuran 70-140; dapat dituang dengan emas atau logam tuang lainnya. 2. Endowel Pin plastic berukuran standar 80-140. jika telah pas dengan preparasi pasak dan dibuat pada malam atau pola resin, akan menguap keluar dari investment dan meninggalkan cetakan yang dapat dituang dengan logam.
http://www.scribd.com/doc/68560616/tugas-endo