Anda di halaman 1dari 33

ARSITEKTUR BALI 2 KELOMPOK 1

TRI
TIGA HITA KEMAKMURAN, BAIK, GEMBIRA, SENANG, LESTARI KARANA SEBAB, SUMBER

ATMA (ROH/JIWA)

TIGA UNSUR PENYEBAB KEBAIKAN

PRANA (TENAGA) ANGGA (JASAD/FISIK)

Unsur

Atma/Jiwa

Prana/Tenaga

Angga/Fisik

Alam semesta (bhuana agung) Desa

Paramatman (Tuhan yang Maha Esa) Kahyangan Tiga (pura desa)

Tenaga (yang menggerakkan alam) Pawongan (warga desa)

Unsur-unsur Panca Maha Butha Palemahan (wilayah desa)

Banjar

Parhyangan (pura Pawongan (warga banjar) banjar)


Sanggah (pamerajan) Atman (jiwa manusia) Penghuni rumah

Palemahan (wilayah banjar)


Pekarangan rumah Angga (badan manusia)

Rumah

Manusia (bhuana alit)

Prana (tenaga sabda, bayu, dan idep)

1. Manusia dengan Tuhannya ( Parahyangan ) sebagai unsur Atma/jiwa 2. Manusia dengan sesamanya ( Pawogan ) sebagai unsur Prana/tenaga 3. Manusia dengan alam lingkungannya ( Palemahan ) sebagai unsur Angga/jasad

PARAHYANGAN

PAWONGAN

PALEMAHAN

TRI HITA KARANA

Parahyangan adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan. Dalam bidang keagamaan, hubungan yang harmonis dengan Tuhan dilakukan melalui kegiatan persembahyangan, upacara ritual dan bentuk pemujaan lainnya.

Dalam bidang Arsitektur khususnya Arsitektur Bali Konsep Parahyangan merupakan salah satu aspek yang diperhatikan dalam pembangunan semua tempat suci yang ada di Bali

Dalam pengaplikasiannya konsep parahyangan dapat dikategorikan sesuai dengan cakupan atau jangkauan wilayahnya, yaitu :
Parahyangan untuk di tingkat daerah berupa Kahyangan Jagat. Di tingkat desa adat berupa Kahyangan desa atau Kahyangan Tiga 1) Pura Desa 2) Pura Puseh 3) Pura Dalem 4) Prajapati Di tingkat keluarga berupa pemerajan atau sanggah

a. Meru b. Padmasana c. Sanggah Kemulan d. Pelinggih Taksu e. Menjangan Sakaluang f. Penunggun Karang

berasal dari kata me yang berarti meme atau ibu, sedangkan ru berarti guru atau bapak sehingga meru memiliki arti cikal bakal dari "ibu bapak" sebagai leluhur

simbol yang menggambarkan kedudukan Hyang Widhi sebagai bunga teratai, atau dapat juga dikatakan bahwa Padmasana sebagai tuntunan batin atau pusat konsentrasi

Di dasar bangunan ada Bhedawangnala, yaitu ukiran mpas (kura-kura besar) yang dililit dua ekor naga. Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda diletakkan di bagian tengah belakang Angsa diletakkan di bagian atas belakang Acintya diletakkan di bagian atas depan Hiasan lainnya dapat berupa karang gajah, karang boma, karang bun, karang paksi

sanggah atau pelinggih dengan rong tiga yang disebutkan merupakan salah satu tempat suci pekarangan rumah, yaitu tempat berstananya bathara hyang guru, yang juga merupakan tempat pemujaan/pengayatan Tri Murti

sebagai tempat suci pekarangan rumah untuk pemujaan kepada Dewi Saraswati yang merupakan sakti dari Dewa Brahma, dengan Bhiseka Hyang Taksu,

beratap, dengan satu tiang ( saka ) bersimbulkan menjangan (sejenis kijang), tiang (saka) yang berjumlah satu merupakan suatu symbolisasi, bahwa tempat itu adalah tempat musyawarah

distanakan di sana adalah Hyang Bahu Rekso, artinya yang menjadi penguasa alam secara niskala tempat atau wilayah tersebut

TRI HITA KARANA

Pawongan adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan sesama manusia Keterkaitannya dengan perkembangan Arsitektur di Bali, konsep Pawongan lebih dominan kepada bangunan yang ada hubungannya dengan aktivitas manusia sehari-hari selain aktivitas yang termasuk Parahyangan dan Palemahan.

Dalam pengaplikasiannya konsep pawongan dapat dikategorikan sesuai dengan cakupan atau jangkauan wilayahnya, yaitu : 1) Pawongan untuk di tingkat daerah meliputi umat Hindu di Bali dan termasuk juga umat-umat lain yang telah menjadi masyarakat Bali 2) Untuk di desa adat meliputi krama desa adat 3) Tingkat keluarga meliputi seluruh anggota keluarga (manusia).

Terkait dengan hubungannya dengan bangunan Pawongan terutama di tingkat keluarga masyarakat Bali, Catur Warna menentukan tipe rumah yang ditempati oleh suatu keluarga. Sesuai pembagian Warna atas profesi, maka jenis Rumah Tradisional Bali meliputi : 1. Geria tempat tinggal dari wanga brahmana. 2. Puri wilayah tempat tinggal raja dan kerabatnya. 3. Jero tempat tinggal wangsa Khasatria yang tidak memegang jabatan secara langsung. 4. Umah tempat tinggal golongan Sapta Sadma, yaitu Pasek Beudesa, Kebagan, Gadung, Pande, Senggu, dan sebagainya.

Geria merupakan rumah tinggal untuk kasta Brahmana yang pada umumnya menempati bagian utama dari suatu pola lingkungan. Sesuai dengan peranan Brahmana selaku pengemban bidang spritual, maka bentuk dan pola ruang Geria sebagai rumah tinggal Brahmana disesuai dengan keperluan-keperluan aktifitasnya

Dalam Geria terdapat beberapa bangunan seperti : Saren Daja (Gedong) Saren Dangin atau Bale Saren Delod (bale kematian) Bale Tajuk Bale gong Pawaregan atau dapur Jineng atau lumbung Bangunan tambahan berupa WC, garasi, ruang cuci dan bangunan-bangunan tertentu yang fungsinya sebagai pelengkap saja

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria. Secara etimologis, kata puri sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta (-pur, -puri, -pura, -puram, pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan

Dalam sebuah Puri, Tata ruang serta bangunan yang ada di dalamnya tidak sama antara Puri yang satu dengan yang lainnya. Ini karena Puri merupakan rumah bagi para pemimpin wilayah pada masa itu sehingga apapun yang ada dalam Puri itu dibangun berdasarkan keadaan Desa Kala Patra serta karakteristik pemimpin (raja) pada masa tersebut. Namun jika dibandingkan dengan rumah bagi warna lainnya, puri memiliki Tata ruang yang lebih kompleks serta bangunannya pun lebih beragam layaknya istana.

Jero merupakan Rumah tempat tinggal untuk kasta Ksatria yang tidak memegang pemerintahan secara langsung, umumnya lebih sederhana dari Puri Jero juga menempati zoning utama kaja, kangin atau kaja kangin yang umumnya menjadi pusat desa Berbeda dengan Puri Biasanya Jero mengikuti Tata ruang rumah (umah) biasa.

Bangunan-bangunan pawongan yang ada misalnya :

Gedong (meten) Bale Gede (kadang juga disebut bale dangin atau bale delod) Bale Dauh (Loji) Jineng atau lumbung Pawaregan atau dapur Dan beberapa bangunan tambahan seperti WC, Garasi dan ruang cuci

Umah merupakan tempat tinggal bagi kaum Sudra (rakyat Jelata). Dibandingkan dengan Geria, Puri dan Jero maka Umah merupakan rumah Tradisional Bali dengan tata ruang yang paling sederhana dan paling sedikit bangunannya Seperti halnya Puri, Geria dan Jero maka Umah juga dibangun berdasarkan konsep Tri Mandala yaitu Utama, Madya dan Nista Mandala.

Adapun penjelasan Fungsi bangunan yaitu : Bale daja Bale Dauh Bale Dangin Bale Delod Paon atau Dapur Jineng atau gelebeg Bangunan tambahan seperti WC, garase, dan ruang cuci yang hanya menjadi pelengkap saja

TRI HITA KARANA

Palemahan adalah kebahagiaan tercipta melalui keseimbangan pola relasi/hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekitar Hubungan manusia dengan alam adalah merupakan hubungan yang bersifat kekal abadi, karena manusia selalu akan hidup di alam semesta ini. Lingkungan harus selalu dijaga dan dipelihara serta tidak dirusak. Lingkungan harus selalu bersih dan rapi. Lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya, binatang-binatang tidak boleh diburu seenaknya, karena dapat menganggu keseimbangan alam.

Dalam hubungan ini, kitab suci Weda menyatakan tentang berbagai manfaat yang diberikan oleh alam kepada mahluk hidup, sekaligus juga menghimbau agar umat manusia selalu menjaga kelestariannya demi kesejahteraan dan kebahagiaan manusia itu sendiri