Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Obat asli Indonesia adalah obat-obat yang diperoleh langsung dari bahanbahan alam yang terdapat di Indonesia, diolah secara sederhana atas dasar pengalaman dan penggunaannya dalam pengobatan tradisional (Dalil ini sesuai dengan ketetapan yang tercantum dalam Undang-Undang tentang Farmasi tahun 1963 pasal 2 ayat c). Obat asli Indonesia hendaknya dipergunakan sebagai penyempurna usaha pengobatan dan mencakupi kebutuhan rakyat dalam logistik kesehatan. Penelitian (obat-obat asli Indonesia) terhadap hasil karya nenek moyang kita (babad, lontar, tambo) dalam hubungannya dengan latar belakang perkembangan ilmu pengobatan dan kebudayaan pada masa itu. Penggunaan obatobatan tradisional yang berasal dari alam untuk mengobati berbagai macam penyakit bukan merupakan hal baru lagi dalam keseharian masyarakat di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman. Indonesia, yang sejak dulu terkenal dengan keterlimpahan sumber daya hayati dan biodiversitasnya, menyediakan berbagai macam sumber daya berupa tanaman obat tradisional dengan jumlah yang melimpah dan beragam jenisnya di masing masing daerah. Pengolahan obat tradisional pun masih sangat sederhana terutama di daerah yang dekat dengan area hutan. Sehingga pada laporan ini akan dibahas mengenai salah satu tanaman yang dianggap oleh masyarakat daerah setempat berkhasiat sebagai obat asma yaitu Cakar Ayam. 1.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini secara umum adalah melakukan pemeriksaan farmakognostik dan mendapatkan datanya serta melakukan identifikasi kimia Cakar Ayam asal Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kota Kandangan Kalimantan Selatan.

1.3

Maksud Percobaan Manfaat dari percobaan ini ialah dapat mengetahui morfologi, anatomi, dan

organoleptik dari tanaman Cakar Ayam serta untuk mengetahui senyawa kimia yang terkandung pada tanaman Cakar Ayam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tanaman

2.1.1 Klasifikasi Tanaman Klasifikasi tanaman Cakar Ayam adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Divisi Class Ordo Family Genus Spesies : Pteridophyta : Lycopodiinae : Selaginellales : Selaginellaceae : Selaginella : Selaginella Tamariscina

(Hutapea, 1994) 2.1.2 Morfologi Tanaman

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Morfologi tanaman berdasarkan literatur adalah tumbuhan ini termasuk divisi Pteridophyta yaitu paku-pakuan. Batang berbentuk bulat, liat, percabangan menggarpu atau membentuk kipas tanpa 3 pertumbuhan sekunder dan berwarna hijau.

Daun berupa tunggal, berhadapan, bersusun berbaris sepanjang batang bentuk jarum dengan panjang 1-2 mm dan berwarna hijau. Tumbuhan ini mempunyai sporangium yang tereduksi, terdapat di ketiak daun, berwarna putih kehijauan sedangkan serabutnya muncul dari batang seperti akar lekat dan berwarna coklat. Rumput Kipas mempunyai habitus terna, merayap, sedikit tegak. Batang bulat, liat, bercabangcabang menggarpu, tanpa pertumbuhan sekunder dan putih kecoklatan. Daun tunggal, tersusun dalam garis sepanjang batang, berhadapan, panjang 1-2 mm, halus dan hijau. Spora berupa sporangium tereduksi diketiak daun dan berwarna putih. Akar serabut, muncul dari batang yang berdaun dan berwarna coklat kehitaman (Hutapea, 1994). 2.1.3 Kandungan Kimia Tanaman Selaginella Tamariscina dilaporkan mengandung saponin dan glikosida (tanaman inventaris obat indonesia). Ekstrak butanolik Selaginella Tamariscina dilaporkan mengandung 3 kolesterol, lutein dan empat komponen flavonoid yaitu Amentoflavone, Cryptomerin B, Isocryptomerin dan Hinokifalvon (Shin, 1994). Selaginella Tamariscina juga dilaporkan mengandung flavonoid 2,8 biapigenin (Rhan-Woo, 2006) dan (7S, 8R)-7, 8-dihydro-7-(4-hydroxy-3,5dimethoxyphenyl)-8-hydroxymethyl-[1'-( 7'-hydroxyethyl)-5' methoxyl] benzofuran4-O-beta-D-glucopyranoside (tamariscinoside C), D-mannitol, tyrosine, asam sikimat (Zheng, 2004). 5

2.1.4 Kegunaan

Tanaman ini berkhasiat untuk menghilangkan panas dan lembab, melancarkan aliran darah, antitoksik, antineoplasma, penghenti pendarahan (hemostatis) dan menghilangkan bengkak. Selain itu Selaginella doederleinii Hieron. juga berkhasiat untuk mengatasi batuk, infeksi saluran nafas, radang paru, hepatitis, diare, keputihan, tulang patah, pendarahan dan kanker (Dalimarta, 1999). 2.1.5 Nama Daerah Tanaman S. doederleinii Hieron. di Indonesia mempunyai beberapa nama daerah, yaitu Rumput solo, Cemara kipas Gunung (Dalimartha, 1999). 2.2 Reaksi Indentifikasi kimia

2.2.1 Reaksi Identifikasi Terhadap Lignin Lignin merupakan bahan penguat yang terdapat bersama-sama dengan selulosa di dalam dinding sel tumbuhan. Secara kimia, lignin sebenarnya merupakan polimer yang terdiri atas beberapa jenis satuan fenilpropana yang berlainan. Semua lignin mengandung satuan jenis koniferil alkohol (Anonim4, 2008). Lignin adalah polimer yang terdiri dari unit fenilpropana. Penyelidikan lignin didasarkan pada isolasi ligninnya. Selanjutnya diidentifikasi produk reaksi dengan tehnik kromatografi dan spekstroskopi. Fenilpropana adalah unit dasar dari lignin sudah diketahui sejak lama, tetapi sulit diterima bahwa ada gugus aromatik. 6 Adanya gugus aromatik dibuktikan oleh Lange pada tahun 1954 dengan spektroskopi ultraviolet (Anonim4, 2008). Lignin dapat diidentifikasi dengan cara: dibasahi lisan atau serbuk dengan larutan floroglusin P, memeriksa dalam asam klorida P. Mengamati pada Mikroskop Elektrik, dinding sel yang berlignin akan berwarna merah (Anonim1, 1979).

2.2.2 Reaksi Identifikasi Terhadap Pati dan Aleuron Pati atau amilum merupakan karbohidrat yang kompleks yang tidak larut dalam air berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (hasil fotosintesis) dalam jangka panjang. Pati tersusun dari dua macam karbohidrat yaitu amilosa dan amilopektin dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa

menyebabkan sifat keras sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi (4).

Gambar 3. Struktur pati (). G Gambar 3. Struktur Pati Pada bahan yang diperiksa di atas kaca objek, tambahkan iodium 0,1 I2 N sebanyak 3 tetes. Jika mengandung pati maka akan tampak hasil berwarna biru dan aleuron akan berwarna kuning coklat sampai coklat. Pemeriksaan warna dilakukan dibawah mikroskop (1) (Anonim2, 1989). 7

2.2.3 Reaksi Identifikasi Terhadap Lendir Bahan kering atau serbuk yang diperiksa di atas kaca objek, ditambahkan beberapa tetes larutan merah ruthenium P, ditutup dengan kaca penutup, dibiarkan

selama 15 menit, lendir dan pektin berwarna merah intensif. Pembedaan yang jelas dapat dilihat pada saat sebelum diperiksa bahan dicuci lebih dahulu dengan larutan timbal (II) asetat P 9,5% (Anonim2, 1989). 2.2.4 Reaksi Identifikasi Terhadap Katekol Bahan atau serbuk yang diletakkan di atas kaca objek, ditambahkan larutan vanillin P 10% b/v dalam etanol (90%) P, kemudian dalam asam klorida P, bagian yang mengandung turunan katekol berwarna merah intensif (Anonim2, 1989). 2.2.5 Reaksi Identifikasi Terhadap Polifenol Fenol digunakan sebagai antiseptikum karena mempunyai sifat

mengkoagulasikan protein. Fenol juga dapat mengikis jaringan sebanyak 5 % melalui keaktifan fisiologisnya, dan dapat mengakibatkan kulit melepuh. Fenol dapat diidentifikasi dengan menggunakan metode sebagai berikut: 1. Hasil mikrosublimasi, dilakukan dengan menambahkan larutan fosfomolibdat asam sulfat P, terjadi warna biru. 2. Hasil mikrosublimasi, dilakukan dengan menambahkan larutan asam diazon benzensulfonat P, terjadi warna jingga sampai merah (Robinson, 1995). 2.2.6 Reaksi Identifikasi Terhadap Karbohidrat Serbuk ditambahkan dengan pereaksi fehling dan benedict, kemudian dipanaskan. Bila terbentuk endapan merah bata maka menunjukkan karbohidrat 8 positif (Anonim2, 1989). 2.2.7 Reaksi Identifikasi Terhadap Alkaloid Semua jenis alkaloid mengandung nitrogen yang sering kali terdapat dalam cincin heterosiklik. Sebagian besar alkaloid bersifat basa. Berbagai perkiraan

menyatakan bahwa persentase jenis tumbuhan yang mengandung alkaloid terletak dalam rentang 15-30% (Robinson, 1995). Metode untuk identifikasi alkaloid adalah dengan sebanyak dua gram serbuk bahan dilembabkan dalam amnonia 25%, lalu digerus dalam mortir, kemudian ditambah 20 ml kloroform dan digerus kuat-kuat. Campuran disaring dan difiltrat yang digunakan untuk percobaan (larutan A). Larutan A diteteskan pada kertas saring dan kemudian diberi pereaksi dragendorff. Warna jingga yang timbul pada kertas saring menunjukkan alkaloid positif (Anonim1, 1979). 2.2.8 Reaksi Identifikasi Terhadap Tanin Sebanyak masing-masing lima ml larutan filtrat dimasukkan ke dalam dua tabung reaksi. Tabung pertama ditambah dengan larutan besi klorida 1% akan menunjukkan warna biru kehitaman bila bahan mengandung tanin. Tabung kedua ditambah dengan larutan glatin akan menunjukkan warna coklat kekuningan bila bahan mengandung tanin. Perbedaan tanin kahekat dan tanin galat dapat dilihat, saat larutan filtrat ditambah dengan pereaksi Steasny L formaldehid 3%-asam klorida (2:1) dan dipanaskan dalam panas air 90oC. Terbentuknya filtrat dipisahkan dan dijenuhkan dengan natrium asetat. Pada penambahan larutan besi (III) klorida 1% akan terbentuk warna biru tinta atau hitam menunjukkan adanya tanin galat 9 1 (Anonim , 1979). Tanin adalah suatu nama deskriptif umum untuk satu grup substansi fenolik polimer yang mampu menyamak kulit atau mempresipitasi gelatin dari cairan, suatu sifat yang dikenal sebagai astringensi (Robinson, 1995).

Tanin terkondensasi

atau flavolan secara biosintesis dapat dianggap

terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal (atau galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih tinggi. Ikatan karbonkarbon menghubungkan satu satuan flavon dengan satuan berikutnya melalui ikatan 4-6 atau 6-8. Nama lain untuk tanin terkondensasi adalah proantosianidin karena bila direaksikan dengan asam panas, beberapa ikatan karbon-karbon penghubung terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin (Robinson, 1995). 2.2.9 Reaksi Identifikasi Terhadap Dioksiantrokinon Larutan ekstrak sebanyak 2 ml dipanaskan dengan 5 ml H 2SO4 selama 1 menit. Setelah dingin dikocok dengan 10 ml bensen. Warna kuning pada lapisan bensen menunjukkan adanya senyawa antrakuinon. Identifikasi dapat diperjelas dengan menambahkan larutan natrium hidroksida 2 N, akan terjadi warna merah pada lapisan air (Anonim2, 1989). 2.2.10 Reaksi Identifikasi Terhadap Saponin Asal kata saponin berasal dari sifatnya yang menyerupai sabun (bahasa latin sapo berarti sabun). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat beracun untuk ikan. Beberapa saponin juga bekerja sebagai antimikroba 10 (Robinson, 1995). Identifikasi saponin dengan menggunakan sebanyak 10 mL larutan filtrat dalam tabung reaksi dikocok vertikal selama 10 detik, kemudian didihkan selama 10 menit (Anonim1, 1979).

BAB III METODE PENGERJAAN 3.1 Alat dan Bahan

3.1.1

Alat yang digunakan Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Ayakan Blender Botol air mineral Bunsen Cutter Corong gelas Kaca objek Kantong plastik Kapas Kardus Karton Kertas label Kertas koran Kertas saring Korek api Lakban Lampu spiritus Mikroskop elektrik Parang Plastik sampul Plester 11 12

22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 3.1.2.

Penjepit kayu Pipet tetes Pisau silet Polybag Pot kecil Sasak Tabung reaksi Tali rafia Bahan yang digunakan Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah :

1. 2. 3. 4.

Akuades Floroglusin Herbarium basah dari daun cakar ayam. Irisan melintang akar, batang, dan daun dari cakar ayam dan Serbuk dari daun cakar ayam.

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Larutan HCl 0,5 N; 2%. Larutan I2 0,1% Larutan KOH 1% Larutan FeCl3 1 N Larutan H2SO4 10% Larutan NaCl Larutan Mayer Larutan -naftol 13

13.

Larutan Metilen blue

14. Metanol 3.2. Cara Kerja 3.2.1 Pengambilan Bahan Sebelum dilakukan pengambilan bahan, dibuat sasak dari bambu yang berukuran 50x50 cm terlebih dahulu lalu diikat dengan kawat per bambu tersebut. Setelah sasak siap, maka dilakukan pengambilan tanaman ke dalam hutan. Tanaman yang akan diambil ditentukan dan hanya bagian yang dianggap berkhasiat. Dari tanaman cakar ayam akan dibuat herbarium basah dan kering, sehingga pengambilan tanaman dilakukan dengan mengambil tanaman utuh dari akar dengan hati-hati. 3.2.2 Pengolahan Bahan Pengolahan bahan yang pertama kali dilakukan yaitu simplisia dicuci agar bersih dari kotoran. Kemudian dipotong-potong kecil. Karena simplisia yang digunakan berupa daun maka pengeringannya dengan cara diangin-anginkan. Setelah simplisia kering, dilakukan pemisahan dari partikel asing seperti kotoran. Kemudian haksel yang telah diperoleh sebagian dihaluskan sehingga diperoleh serbuk dalam 14 bentuk halus. Kemudian haksel dan serbuk dimasukkan ke dalam pot terpisah. Untuk tanaman yang masih dalam bentuk utuh, dibuat menjadi herbarium kering yaitu dengan cara ditempelkan pada kertas karton, dan diberi etiket. Selanjutnya dibuat herbarium basah. Pada pengolahan herbarium basah, tanaman cakar ayam (mulai dari akar, batang dan daun) dimasukkan ke dalam botol air mineral berukuran 1,5 liter yang berisi formalin 10%. Diusahakan agar seluruh bagian tanaman yang dimasukkan

tersebut terendam sempurna dalam formalin. Setelah itu, botol tersebut ditutup rapat dengan plester agar tanaman terisolasi sempurna. Sedangkan pada pengolahan herbarium kering, disiapkan perwakilan bagian-bagian tanaman cakar ayam untuk diolesi formalin. Kemudian, bagian-bagian tanaman tersebut diletakkan dan ditempel di atas kertas koran. Setelah itu, tanaman yang telah ditempel di atas kertas koran tersebut dilapisi lagi dengan kertas koran lalu disasak menggunakan sasak bambu yang telah disiapkan sebelumnya. Pengolahan berikutnya adalah pengolahan simplisia. Pada pengolahan simplisia ini, dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut: 1. Pengumpulan bahan: bagian tanaman cakar ayam yang akan dibuat simplisia dikumpulkan. Bagian tanaman yang dikumpulkan berupa daun. 2. Sortasi basah: bagian tanaman yang akan dibuat simplisia dipisahkan dari zat-zat pengotor dan bagian lain yang tidak diperlukan. 3. Pencucian: proses ini dilakukan untuk membersihkan bagian tanaman dari sisasisa tanah dan kotoran yang melekat. 4. Pembersihan: proses ini dilakukan untuk memeriksa kembali kebersihan bagian 15 tanaman yang akan dibuat simplisia. 5. Perubahan bentuk: proses ini dilakukan dengan memotong bagian tanaman yang akan dibuat simplisia. Pemotongan ini, atau disebut perajangan, dilakukan dengan menyesuaikan tekstur dari bagian tanaman. Pada tanaman cakar ayam, yang digunakan adalah daun, jadi daun tersebut dipotong-potong kecil.

6. Pengeringan: bagian tanaman yang telah dirajang dikeringkan dengan cara yang sesuai. Bagian daun tanaman cakar ayam dikeringkan dengan cara di anginanginkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari. 7. Sortasi kering: proses ini dilakukan untuk memastikan bagian tanaman yang telah selesai dijemur benar-benar terbebas dari zat pengotor. 8. Pengepakan dan penyimpanan: bagian tanaman yang telah menjadi simplisia tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang memenuhi syarat penyimpanan. Simplisia tersebut kemudian dapat diolah sesuai keinginan, seperti dibuat serbuk atau tetap dalam bentuk haksel. Pembuatan simplisia menjadi serbuk ialah dengan cara memblender atau menumbuk simplisia tersebut, kemudian mengayaknya hingga didapatkan serbuk yang benar-benar halus. Sedangkan untuk haksel, tinggal diambil rajangan dari tanaman cakar ayam yang sudah diolah sebelumnya. 3.2.3 Pemeriksaan Farmakognostik 3.2.3.1 Pemeriksaan Morfologi Tanaman Pemeriksaan morfologi tanaman cakar ayam dengan cara dilihat langsung pada herbarium tanaman. Kemudian diamati bentuk dan susunan dari akar, batang, 16 dan daun. 3.2.3.2 Pemeriksaan Anatomi Tanaman Pemeriksaan anatomi tanaman cakar ayam dengan cara dibuat irisan melintang dari akar, batang, dan daun. Kemudian diletakkan pada kaca objek, dan diamati pada mikroskop elektrik.

3.2.3.3

Pemeriksaan Organoleptik Tanaman Pemeriksaan Organoleptik tanaman cakar ayam dengan cara dilihat secara

langsung warnanya, dicium baunya, dan dicicipi rasanya dari bagian-bagian tanaman tersebut serta karakteristiknya. 3.2.4 Pemeriksaan Reaksi Identifikasi Kimia 3.2.4.1 Reaksi Identifikasi Terhadap Lignin Reaksi identifikasi terhadap lignin dilakukan dengan cara serbuk diletakkan pada objek glass dibasahi floroglusin, ditambah HCl 2 tetes, diamati pada mikroskop. Akan terlihat dinding sel warna merah apabila terdapat lignin. 3.2.4.2 Reaksi Identifikasi Terhadap Pati dan Aleuron Reaksi identifikasi terhadap Pati dan aleuron dilakukan dengan cara serbuk diletakkan pada objek glass ditambah larutan I2 0,1%. Diamati pada mikroskop, terlihat pati berwarna biru dan aleuron berwarna kuning coklat sampai coklat. 3.2.4.3 Reaksi Identifikasi Terhadap Lendir Reaksi identifikasi terhadap lendir dilakukan dengan cara serbuk ditambah methanol dan metilen blue, warnanya akan menjadi merah jika mengandung lendir. 17

3.2.4.4

Reaksi Identifikasi Terhadap Katekol Reaksi identifikasi terhadap katekol dilakukan dengan dua cara. Pertama,

serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambah FeCl3 menghasilkan warna hijau jika mengandung katekol. Kedua, Serbuk dimasukkan kedalam tabung

reaksi kemudian ditambah aniline 10% dalam etanol 90%, disaring. Filtratnya ditambah HCl menghasilkan warna merah intensif jika mengandung katekol. 3.2.4.5 Reaksi Identifikasi Terhadap Polifenol Reaksi identifikasi terhadap polifenol dilakukan dengan dua cara. Pertama, serbuk (1 gram) dimasukkan ke dalam tabung reaksi kemudian ditambah H 2O 1 ml, dipanaskan, disaring, didinginkan ditambahkan FeCl3 menghasilkan warna hijau biru jika mengandung polifenol. Kedua, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi dengan ditambah H2SO4 10% ditambah formalin 10%, menghasilkan cincin merah berwarna coklat ungu jika positif mengandung polifenol. 3.2.4.6 Reaksi Identifikasi Terhadap Karbohidrat Reaksi identifikasi terhadap karbohidrat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah -naftol ditambah H2SO4 10%, menghasilkan cincin berwarna ungu. Kedua, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah leff menghasilkan endapan berwarna merah. Ketiga, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah reagent Molisch, menghasilkan cincin warna ungu apabila mengandung karbohidrat.

18

3.2.4.7

Reaksi Identifikasi Terhadap Alkaloid Reaksi identifikasi terhadap alkaloid dilakukan dengan tiga cara. Pertama,

serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah NaOH, disaring, filtratnya diambil kemudian ditambahkan Mayer, menghasilkan endapan. Kedua, serbuk

dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah HCl 0,5 N, ditambah Mayer, menghasilkan endapan putih. Ketiga, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan ditambah HCl dan Bouchardat, menghasilkan endapan coklat jika positif mengandung alkaloid. 3.2.4.8 Reaksi Identifikasi Terhadap Tanin Reaksi identifikasi terhadap tanin dilakukan dengan tiga cara. Pertama, serbuk dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambah H 2O kemudian dipanaskan lalu disaring, diambil filtratnya kemudian ditambahkan NaCl atau HCl 2%, menghasilkan endapan. Kedua, serbuk ditambah FeCl3 1 N, menghasilkan warna biru hitam. Ketiga, serbuk ditambah H2SO4, menghasilkan endapan coklat kekuningan apabila positif mengandung tanin. 3.2.4.9 Reaksi Identifikasi Terhadap Dioksiantrokinon Reaksi identifikasi terhadap dioksiantrokinon dilakukan dengan tiga cara. Cara pertama, serbuk ditambah KOH 10%, menghasilkan larutan berwarna merah. Cara yang kedua, serbuk ditambahkan KOH 10% dan etanol, menghasilkan larutan berwarna merah apabila positif mengandung dioksiantrokinon. 19

3.2.4.10 Reaksi Identifikasi Terhadap Saponin Reaksi identifikasi terhadap saponin dilakukan dengan cara serbuk pada tabung reaksi ditambah H2O kemudian kocok kuat-kuat selama 30 detik, akan

menghasilkan buih setinggi 3 cm dari permukaan cairan apabila mengandung saponin.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.1

Pemeriksaan Morfologi Tanaman Pada pemeriksaan morfologi dari Daun Cakar Ayam, didapatkan batang

berbentuk bulat, liat, percabangan menggarpu atau membentuk kipas tanpa pertumbuhan sekunder dan berwarna hijau. Daun berupa tunggal, berhadapan, bersusun berbaris sepanjang batang bentuk jarum dengan panjang 1-2 mm dan berwarna hijau. Tumbuhan ini mempunyai sporangium yang tereduksi, terdapat di ketiak daun, berwarna putih kehijauan sedangkan serabutnya muncul dari batang seperti akar lekat dan berwarna coklat. Rumput Kipas mempunyai habitus terna, merayap, sedikit tegak. Batang bulat, liat, bercabang-cabang menggarpu, tanpa pertumbuhan sekunder dan putih kecoklatan. Daun tunggal, tersusun dalam garis sepanjang batang, berhadapan, panjang 1-2 mm, halus dan hijau. Spora berupa sporangium tereduksi diketiak daun dan berwarna putih. Akar serabut, muncul dari batang yang berdaun dan berwarna coklat kehitaman (Hutapea, 1994). 4.1.2 Pemeriksaan Anatomi Tanaman Irisan melintang dan membujur pada daun Cakar Ayam dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

1 2 G

Gambar 4.1 Gambar Irisan Membujur Daun Cakar Ayam

20

Keterangan : 1. Epidermis 2. Stomata

1 2

Gambar 4.2 Gambar Irisan Melintang Daun Cakar Ayam Keterangan : 1. Epidermis 2. Stomata Irisan melintang dan membujur pada batang Cakar Ayam terlihat jelas dan 22 dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar Gambar 4.3 Gambar Irisan Membujur Batang Cakar Ayam Keterangan : 1. Xilem 2. Floem

1 2

Gambar 4.4 Gambar Irisan Melintang Batang Cakar Ayam Keterangan : 1. Xilem 2. Floem 4.1.3 Pemeriksaan Organoleptik Tanaman 4.1.3.1 Uji Bau Pemeriksaan organoleptis dari tanaman Cakar Ayam tidak terdapat bau yang menandakan ciri tanaman. 4.1.3.2 Uji Rasa Pemeriksaan organoleptis dari tanaman Cakar Ayam, untuk uji rasa, pada daun, akar dan batang, mula-mula saat dikunyah terasa hambar, lama kelamaan menjadi manis. 4.1.3.3 Uji Warna Pemeriksaan organoleptis dari tanaman Cakar Ayam, untuk uji warna, warna daun hijau, batang coklat kehijau-hijauan dan akar berwarna coklat muda. Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Organoleptis tanaman Cakar Ayam Uji Warna Bau Hasil Pengamatan Daun Cakar Ayam memiliki warna hijau dengan batang berwarna coklat kehijauan dan akar berwarna coklat muda. Pada pengujian organoleptik terutama uji bau tidak terdapat bau yang

Rasa

khas. Untuk pengujian rasa batang dan akar Cakar Ayam memiliki rasa hambar.untuk rasa daun rasanya agak manis.

4.1.4 Reaksi Identifikasi Kimia 4.1.4.1 Reaksi Identifikasi Terhadap Lignin Serbuk daun Cakar ayam dibasahi floroglusin ditambah HCl sebanyak 2 tetes diatas objek glass kemudian diamati menghasilkan banyak dinding sel berwarna hijau. Hasilnya adalah negatif, hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini tidak mengandung lignin. 4.1.4.2 Reaksi Identifikasi Terhadap Pati dan Aleuron Serbuk daun Cakar Ayam ditambah I2 0,1 N kemudian diamati secara mikroskopis, ditemukan warna hijau sehingga kesimpulannya tanaman cakar ayam tidak mengandung pati dan mengandung aleuron.

Gambar 4.4.1 4.1.4.3 Reaksi Identifikasi Terhadap Lendir Serbuk daun Cakar Ayam ditambah metanol lalu ditambah metilen blue, menghasilkan larutan berwarna hijau. Berarti hasil negatif, seharusnya apabila mengandung lendir pada larutan tersebut akan menghasilkan warna merah.

Gambar 4.4.2 4.1.4.4 Reaksi Identifikasi Terhadap Katekol Serbuk daun Cakar Ayam ditambah vanilin 10 % dan HCl menghasilkan larutan berwarna hijau. Berarti hasil tersebut negatif karena bila mengandung katekol akan menghasulkan larutan berwarna merah intensif.

Gambar 4.4.3 4.1.4.5 Reaksi Identifikasi Terhadap Polifenol Serbuk daun Cakar Ayam ditambah H2O lalu dipanaskan kemudian disaring, setelah dingin lalu tambahkan FeCl3 menghasilkan larutan hijau, hasil positif. Berarti tanaman Cakar Ayam mengandung polifenol.

Gambar 4.4.4

4.1.4.6

Reaksi Identifikasi Terhadap Karbohidrat Serbuk daun Cakar Ayam ditambah Fehling A dan Fehling B, kemudian

ditambah reagen Benedict, setelah itu dipanaskan. Bila terbentuk endapan merah bata, maka memberikan hasil positif. Tetapi pada Cakar Ayam tidak terbentuk endapan sehingga Cakar Ayam tidak mengandung karbohidrat.

Gambar 4.4.5 4.1.4.7 Reaksi Identifikasi Terhadap Alkaloid Serbuk daun Cakar Ayam ditambah HCl 0,5 N ditambah Mayer tidak menghasilkan endapan putih, berarti cakar ayam tidak mengandung alkaloid. Pada percobaan yang kedua, serbuk daun ditambah HCl 0,5 N dan Dragendorf akan menghasilkan endapan jingga. Tetapi Cakar Ayam tidak menghasilkan endapan jingga, berarti Cakar Ayam tidak mengandung alkaloid.

Gambar 4.4.6.1

Gambar 4.4.6.2

4.1.4.8

Reaksi Identifikasi Terhadap Tanin Serbuk daun Cakar Ayam ditambah dengan H 2O lalu dipanaskan kemudian

saring, ambil filtrat nya ditambah NaCl atau HCl 80 % tidak terdapat endapan, hasil negatif. Serbuk ditambahkan FeCl3 menghasilkan larutan hijau, hasil negatif. Apabila mengandung tanin larutan berwarna biru hitam. Serbuk ditambah H2SO4 kemudian menghasilkan endapan coklat kekuningan, berarti Cakar Ayam mengandung tanin. Serbuk ditambah Besi (III) amonium sulfat menghasilkan warna hijau, hasil negatif. Apabila mengandung tanin akan berwarna hijau biru atau biru.

Gambar 4.4.7.1

Gambar 4.4.7.2

Gambar 4.4.7.3

Gambar 4.4.7.4

4.1.4.9 Reaksi Identifikasi Terhadap Dioksiantrokinon Serbuk daun Cakar Ayam ditambah KOH 10 % menghasilkan larutan warna hijau, hasil negatif. Seharusnya apabila positif mengandung dioksiantrokinon maka larutan berwarna merah.

4.1.4.10

Reaksi Identifikasi Terhadap Saponin Serbuk Daun Cakar Ayam ditambah H2O dalam tabung reaksi lalu tutup

dan kocok kuat-kuat selama 30 menit, kemudian biarkan tabung dalam posisi tegak ternyata menghasilkan buih, sehingga disimpulkan hasil positif terhadap saponin.

Gambar 4.4.8 Tabel 4.2 Hasil Identifikasi tanaman Cakar Ayam

No 1

Uji Lignin

Reaksi Sampel + florglusin + HCl 2 tetes, mikroskop dinding sel warna merah Sampel + I2 1 N

Hasil (-)

Keterangan dinding sel warna hijau

Kesimpulan Tidak mengandung lignin Tidak mengandung pati dan aleuron tidak

Pati dan Aleuron

kuning

kecoklatan

(aleuron), biru (pati)

(-)

Warna hijau

Lendir

S + Methanol + Metilen Blue larutan merah Sampel + FeCl3 larutan hijau S + H2O
Panaskan

(-)

warna hijau

mengandung lendir Tidak

Katekol

(-)

warna hijau

mengandung katekol

saring, (+) warna hijau

Polifenol

dinginkan + FeCl3 larutan hijau

terdapat polifenol Tidak mengandung karbohidrat tidak mengandung alkaloid tidak mengandung tanin tidak

Karbohidrat

S + -naftol + H2SO4 10 % cincin ungu S + HCl 0,5 N + pereaksi

Tidak (-) terbentuk cincin ungu, Warna ungu (-) tidak ada endapan

Alkaloid

Mayer endapan putih a. S + H2O endapan b. S + FeCl3 1 N biru


Panaskan

saring, (-) kuning, tak ada endapan

filtrat + HCl 0,5 N

Tanin

kehitaman

(-)

warna coklat

mengandung tanin

c. S + H2SO4 endapan coklat kekuningan (-) warna keruh

tidak mengandung tanin Tidak

Dioksiantr akinon

S + KOH 10 % merah

(-)

warna hijau

mengandung dioksiantraki non

sampel + H2O, 10 Saponin kocok buih bertahan lama

(+)

ada buih

mengandung saponin

4.2 Pembahasan Pada praktikum Farmakognosi I ini, dilakukan pengambilan sampel di daerah Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kota Kandangan Kalimantan Selatan. Sampel tanaman yang akan diamati adalah Daun Cakar Ayam yang penamaan masih berasal dari daerah tersebut. Untuk klasifikasi tanaman, morfologi tanaman, kandungan kimia, kegunaan dan nama daerah dari tanaman ini sudah bisa ditemukan literatur yang memberikan penjelasan secara lengkap mengenai tanaman Daun Cakar Ayam ini. Tahapan pertama pada praktikum kali ini yaitu melakukan pengambilan sampel tanaman. Caranya yaitu dengan pemetikan secara langsung dari tanaman tersebut. Kemudian membuat herbariumnya. Dalam pengambilan tanaman, maka dilakukan pengambilan berlebih pada bagian tanaman yang akan diteliti kandungan kimianya. Untuk cara pengambilan tanaman dilakukan secara hati-hati dengan mengambil bagian yang berkhasiat saja untuk dibuat serbuk dan haksel. Sedangkan untuk pembuatan herbarium kering dan basah diambil tanaman yang agak kecil dan dicabut dari akar dengan tidak merusak bagian tanaman yang lain. Hal ini bertujuan untuk tidak merusak ekosistem dari tanaman daerah tersebut dan menjaga kelestarian dari tanaman tersebut. Tahapan selanjutnya yaitu pengujian laboratorium. Pengujian pertama adalah pemeriksaan farmakognostik yang meliputi morfologi, anatomi, dan organoleptik tanaman.

30

Dari pemeriksaan didapatkan morfologi tanaman, diketahui bahwa bentuk batang berbentuk bulat, liat, percabangan menggarpu atau membentuk kipas tanpa pertumbuhan sekunder dan berwarna hijau. Daun berupa tunggal, berhadapan, bersusun berbaris sepanjang batang bentuk jarum dengan panjang 1-2 mm dan berwarna hijau. Akar serabut, muncul dari batang yang berdaun dan berwarna coklat kehitaman. Hal ini merupakan bagian dari karakteristik tanaman Cakar Ayam. Pada pemeriksaan anatomi tanaman Cakar Ayam, pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan Mikroskop Elektrik. Pemeriksaan anatomi dilakukan pada irisan melintang dan membujur akar, batang, dan daun. Pada anatomi daun, bagian daun yang terlihat adalah, epidermis, endodermis, jaringan tiang dan stomata. Pada bagian batang, bagian yang terlihat adalah epidermis, jaringan tiang, floem serta xilem, sedangkan pada akar, bagian yang terlihat adalah epidermis, xilem dan floem, dan sitoplasma. Saat dilakukan pengamatan bagian-bagian tanaman Cakar Ayam melalui Mikroskop Elektrik, hanya beberapa bagian anatomi tumbuhan saja yang dapat dilihat. Hal ini mungkin disebabkan karena pengolahan preparat yang belum sempurna serta alat yang kurang tepat untuk pemeriksaan yang lebih lengkap dan tepat. Pemeriksaan organoleptis dari Daun Cakar Ayam tidak terdapat bau yang menandakan ciri tanaman. Pada uji rasa, pada mula-mula saat dikunyah terasa hambar, lama kelamaan menjadi manis. Pada uji warna, warna daun hijau, batang coklat kehijau-hijauan dan akar berwarna coklat muda. Pada identifikasi kimia dari Daun Cakar Ayam, hasil positif ditunjukkan pada uji tanin dengan adanya endapan coklat kekuningan, polifenol dengan adanya

31

larutan berwarna hijau dan uji saponin dengan adanya busa putih pada tanaman saat dikocok dengan penambahan air. Hasil negatif ditunjukkan pada uji lignin dengan adanya dinding sel berwarna hijau yang seharusnya berwarna merah. Uji terhadap pati dan aleuron, yang membentuk larutan berwarna hijau yang seharusnya berwarna biru atau kuning kecoklatan. Uji lendir dengan tidak menghasilkan larutan berwarna merah, uji katekol dengan tidak menghasilkan larutan berwarna merah intensif, uji karbohidrat dengan tidak menghasilkan endapan merah bata, uji alkaloid dengan tidak menghasilkan endapan putih dan endapan jingga dan uji dioksiantrakinon dengan adanya larutan berwarna hijau yang seharusnya larutan berwarna merah. Uji tanin, pada saat dilakukan penambahan air dengan dipanaskan dan filtrat ditambahkan HCl, tidak terbentuk endapan, pada saat serbuk ditambahkan FeCl3 terbentuk larutan hijau dan dengan besi (III) amonium sulfat terbentuk larutan hijau yang seharusnya berwarna hijau biru ataupun biru. Sedangkan untuk uji steroid tidak dilakukan untuk pengujian kandungan kimia tanaman ini. Sehingga pada tanaman Daun Cakar Ayam, positif mengandung tanin, polifenol dan saponin.

32

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari pengujian yang dilakukan terhadap Cakar Ayam

(Selaginella Doederleinii) dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu : 1. Pemeriksaan Farmakognostik dilakukan pemeriksaan dari segi morfologi, anatomi dan organoleptik tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii). 2. Bagian dari tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii) yang digunakan sebagai obat adalah daun, daun hambar. 3. Pemeriksaan morfologi dari tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii) yaitu tanaman berdaun tunggal, berhadapan, bersusun berbaris sepanjang batang bentuk jarum dengan panjang 1-2 mm dan berwarna hijau. Bentuk Akar serabut, muncul dari batang yang berdaun dan berwarna coklat kehitaman. Batang berbentuk liat dan bulat. 4. Tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii) mengandung senyawa kimia yaitu tanin, polifenol dan saponin. 5. Tanaman Cakar Ayam (Selaginella Doederleinii) berkhasiat sebagai obat asma. 5.2 Saran Cakar Ayam berwarna hijau dan rasanya

Agar menyediakan keluasaan pada praktikan untuk memeriksakan sampel di laboratorium serta waktu pengambilan sampel lebih lama lagi, untuk mendapatkan jenis tanaman yang lebih bervariasi lagi.