Anda di halaman 1dari 9

ANESTESI LOKAL 1.

Definisi Anestesi Lokal di Bidang Kedokteran Gigi Anestetik lokal adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dengan cara memblok konduksi sepanjang serabut saraf secara reversibel. Sebagian besar anestetik lokal adalah basa lemah. yang pada pH tubuh dapat membntuk proton. Awalnya obat-obatan jenis ini melewati saraf tanpa terionoisasi (karena bersifat lipofilik) namun setelah berada dalam akson, beberapa melokelu mengalami ionisasi, sehingga dapat memblok kanal Natrium serta mencegah potensial aksi. Semua serabut saraf pada tubuh manusia, sensitif pada anestetik lokal. Namun pada umumnya, serabut yang berdiameter kecil lebih sensitif dibanding yang berdiameter besar. Oleh karena itu anestetik lokal hanya melakukan blok diferensial (memblok sensasi rasa tertentu) untuk nyeri ringan dan otonom, sedangkan untuk sensasi sentuhan kasar dan gerak tidak diblok (hal ini berbeda dengan anestetik umum). Anestetik lokal mempunyai variasi yang luas dalam hal potensi, durasi kerja. Anastesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit untuk sementara pada satu bagian tubuh dengan cara mengaplikasikan bahan topikal atau suntikan tanpa menghilangkan kesadaran. teknik anastesi lokal merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam perawatan pasien anak. Sebelum melakukan penyuntikan, sebaiknya operator berbincang dengan pasien, dengan menyediakan waktu untuk menjelaskan apa yang akan dilakukan dan mengenal pasien lebih jauh dokter gigi dapat meminimaliskan rasa takut. Di kedokteran gigi, anestesi lokal digunakan untuk mengurangi nyeri, sehingga pasien merasa nyaman saat dilakukan tindakan oleh dokter gigi pun mampu bekerja dengan baik. Selain itu, anestesi lokal juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan penyebab nyeri pada wajah. Selain itu pada anestesi dikenal juga adanya anestesi topikal yang merupakan suatu pengaplikasian agen anestesi lokal pada permukaan membran mukosa atau kulit yang kemudian berpenetrasi melewati epidermis dan menganestesi ujung ujung saraf. Berhasil dalam anastesi lokal merupakan prasyarat semua bedah dibidang kedokteran gigi, dan di bedah mulut ini dibutuhkan bagi pasien dan operator. Kemampuan untuk melakukan anastesi lokal dengan baik kepada semua pasien merupakan kemampuan yang fundamental yang harus dimiliki oleh dokter bedah mulut (Wray, 2003) Syarat Obat Anestesi Lokal 1. Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen 2. Batas keamanan harus lebar 3. Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran mukosa 4. Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang yang cukup lama 5. Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan. Anastesi lokal biasa digunakan dalam beberapa hal a. Diagnostic

Dalam hal ini anastesi lokal digunakan untuk menemukan sumber sakit yang diderita pasien, contohnya rasa sakit pada penderita pulpitis, pada pasien pulpitis sulit baik bagi pasien maupun bagi ooperator karena rasa sakit yang timbul dapat dirasakan dibagian mulut atau bagian wajah yang jauh dari lokasi pulpitis b. Terapi Anastesi lokal marupakan bagian dari perawatan pada tindakan bedah, contohnya pengguanaan teknik blok pada penderita dry socket untuk mengurangi rasa sakit, hal ini yang dimaksud sebagai anastesi lokal yang berfungsi sebagai bahant terapi c. Praoperasi Anastesi lokal juga diberikan sebelum tindakan praoperasi, hal ini dilakukan untuk keamanan dan kenyamanan pasien pada saat melakukan tindakan pembedahan. d. Pasca operasi Sesudah tindakan pembedahan baik dengan anestesi lokal maupun general, efek anatesi yang berkelanjutan kebanyakan menguntungkan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul dari tindakan setelah operasi (Wray, 2003) 2. PERSIAPAN PRA ANESTESI Sebelum dilakukan pemberian anestesi lokal, operator harus mempertimbangkan risiko yang dapat terjadi pada pasien. Hal ini disebabkan oleh efek depresan yang merupakan salah satu efek dari obatobatan anestesi lokal. Selain itu, obat-obatan anestesi lokal pun memiliki efek samping lain yaitu bronkospasm yang sering kali menyebabkan hiperventilasi (Hiperventilasi (hyperventilation) adalah keadaan napas yang berlebihan akibat kecemasan yang mungkin disertai dengan histeria atu serangan panik. hiperventilasi terjadi jika metabolisme tubuh terlampau tinggi sehingga mendesak alveolus melakukan ventilasi secara berlebihan) maupun vasodepressor sinkop. Oleh karena itu, keadaan umum pasien perlu dievaluasi sebelum melakukan tindakan anestesi. Persiapan pra anestesi ini mencakup tiga persiapan, yaitu persiapan diri anestetis, persiapan alat dan bahan, dan persiapan pasien. Persiapan alat dan bahan anestesi, alat yang biasa digunakan adalah syringe untuk menyutikkan bahan atau agen anestesi lokal ke daerah yang akan dianestesi. Hal ini perlu diperhatikan agar penyuntikan berjalan cepat dan lancar. Kemudian siapkan mukosa yang akan disuntik, dan siap dilakukan penyuntikan langsung pada daerah yang dikehendaki. Penyakit-penyakit yang umumnya ditanyakan kepada pasien dalam evaluasi praanestesi adalah kelainan jantung, hipotensi, diabetes, gagal ginjal, penyakit liver, alergi terhadap obat, hipertensi, rematik, asma, anemia, epilepsi, serta kelainan darah. Pemeriksaan fisik praanestesi yang perlu dilakukan adalah inspeksi visual untuk mengobservasi adanya kelainan pada postur tubuh pasien, gerakan tubuh, bicara, dan sebagainya; evaluasi tanda vital; serta status kesehatan fisik menurut ASA. 3. KOMPLIKASI ANESTESI LOKAL 1) Kerusakan Jarum

Penyebab utamanya adalah kelemahan jarum dengan membengkokkannya sebelum di insersi dalam mulut pasien. Selain itu dapat terjadi karena pergerakan pasien yang berlebihan secara tiba-tiba sehingga jarum penetrasi ke dalam otot. Perawatan jika terjadi jarum patah, adalah: 1) Tetap tenang, jangan panik 2) Instruksikan pasien tidak bergerak, jaga mulut pasien agar tetap terbuka. Gunakan bite block dalam mulut pasien. 3) Jika patahan masih terlihat, coba untuk mengambilnya. 2) Parastesi Pasien merasa mati rasa (dingin) selama beberapa jam atau bahkan berhari-hari setelah anastesi lokal. Penyebabnya bisa karena trauma pada beberapa saraf. Selain itu, injeksi anastesi lokal yang terkontaminasi alkohol atau cairan sterilisasi dapat menyebabkan iritasi sehingga menyebabkan edema dan sampai menjadi parastesi. Parastesi dapat sembuh sendiri dalam waktu 8 minggu dan jika kerusakan pada saraf lebih berat maka parastesi dapat menjadi permanen, namun jarang terjadi. Perawatan pada pasien yang mengalami parastesi yaitu: 1) Yakinkan kembali pasien dengan berbicara secara personal. 2) Jelaskan bahwa parastesi jarang terjadi, hanya 22% telah dilaporkan yang berkembang menjadi parastesi. 3) Periksa pasien: (1) Menentukan derajat dan luas parastesi (2) Jelaskan pada pasien bahwa parastesi akan sembuh sendiri dalam waktu 2 bulan. (3) Jadwal ulang pertemuan setiap 2 bulan sampai adanya pengurangan reaksi sensori (4) Jika ada, maka konsultasi ke bagian Bedah Mulut. 3) Paralisis Nervus Fasial Paralisis sebagian dari cabang trigeminal terjadi pada blok saraf infraorbital atau infiltrasi kaninus maksila, biasanya dapat menyebabkan otot kendur. Paralisis nervus fasial dapat disebabkan karena kesalahan injeksi anastesi lokal yang seharusnya ke dalam kapsul glandula parotid. Jarum secara posterior menembus ke dalam badan glandula parotid sehingga hal ini menyebabkan paralisis. Pasien yang mengalami paralisis unilateral mempunyai masalah utama yaitu estetik. Wajah pasien terlihat berat sebelah. Tidak ada treatment khusus kecuali menunggu sampai aksi dari obat menghilang. Masalah lainnya adalah pasien tidak dapat menutup satu matanya secara sadar, refleks menutup pada mata menjadi hilang dan berkedip menjadi susah. 4) Trismus Trismus adalah kejang tetanik yang berkepanjangan dari otot rahang dengan pembukaan mulut menjadi terbatas (rahang terkunci). Etiologinya karena trauma pada otot atau pembuluh darah pada fossa infratemporal. Kontaminasi alkohol dan larutan sterlisasi pun dapat menyebabkan iritasi jaringan kemudian menjadi trismus. Hemoragi juga penyebab lain trismus.

5) Luka jaringan lunak Trauma pada bibir dan lidah biasanya disebabkan karena pasien tidak hati-hati menggigit bibir atau menghisap jaringan yang teranastesi. Hal ini menyebabkan pembengkakan dan nyeri yang siginifikan. Kejadian ini sering terjadi pada anak-anak handicapped. 6) Hematoma Hematoma dapat terjadi karena kebocoran arteri atau vena setelah blok nervus alveolar superior posterior atau nervus inferior. Hematoma yang terjadi setelah blok saraf alveolar inferior dapat dilihat secara intraoral sedangkan hematoma akibat alveolar blok posterior superior dapat dilihat secara extraoral. Komplikasi hematoma juga dapat berakibat trismus dan nyeri. Pembengkakan dan perubahan warna pada region yang terkena dapat terjadi setelah 7 sampai 14 hari. 7) Nyeri Penyebabnya dapat terjadi karena : 1) Teknik injeksi yang tidak hati-hati dan tidak berperasaan 2) Jarum tumpul akibat pemakaian injeksi multiple 3) Deposisi cepat pada obat anastesi local yang menyebabkan kerusakan jaringan 4) Jarum dengan mata kail (biasanya akibat tertusuk tulang) Nyeri yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan kecemasan pasien dan menciptakan gerakan tiba-tiba dan menyebabkan jarum patah. 8) Rasa terbakar pH dari obat anastesi lokal yang dideposit ke dalam jaringan lunak dipersiapkan berkisar 5, namun menjadi lebih asam (sekitar 3) sehingga menyebabkan rasa terbakar. Selain itu, penyebab rasa terbakar disebabkan karena injeksi yang terlalu cepat, biasanya pada palatal. Selain itu, kontaminasi dengan alkohol dan larutan sterilisasi juga menyebabkan rasa terbakar. Jika disebabkan karena pH, maka akan menghilang sejalan dengan reaksi anastesi. Namun jika disebabkan karena injeksi terlalu cepat, kontaminasi dan obat anastesi yang terlalu hangat dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang dapat berkembang menjadi trismus, edema, bahkan parastesi. 9) Infeksi Penyebab utamanya adalah kontaminasi jarum sebelum administrasi anastesi. Kontaminasi terjadi saat jarum bersentuhan dengan membran mukosa. Selain itu, ketidakahlian operator untuk teknik anastesi lokal dan persiapan yang tidak tepat menyebabkan infeksi. 10) Edema Pembengkakan jaringan merupakan manifestasi klinis adanya beberapa gangguan. Edema dapat terjadi karena: 1) Trauma selama injeksi, Infeksi, Alergi, Hemoragi, Jarum yang teriritasi, Hereditary angioderma Edema dapat menyebabkan rasa nyeri dan disfungsi dari region yang terkena. Angioneurotik edema yang dihasilkan akibat topical anastesi pada individu yang alergi dapat membahayakan jalan napas.

Edema pada lidah, faring, dan laring dapat berkembang pada situasi gawat darurat. 11) Lesi intraoral post anastesi Pasien sering melaporkan setelah 2 hari dilakukan anastesi lokal timbul ulserasi pada mulut mereka, terutama di sekitar tempat injeksi. Gejala awalnya adalah nyeri. RAS atau herpes simplex dapat terjadi setelah anastesi lokal. Recurrent aphthous stomatitis merupakan penyakit yang paling sering daripada herpes simplex, terutama berkembang pada gusi yang tidak cekat dengan tulang. Biasanya pasien mengeluh adanya sensitivitas akut pada area ulser. INDIKASI KONTRA INDIKASI Anestesi lokal secara parenteral diberikan untuk infiltrasi dan anestesi blok saraf. Infiltrasi anestesi umumnya digunakan untuk pembedahan minor dan perawatan gigi. Anestesi blok saraf digunakan untuk pembedahan, perawatan gigi, dan prosedur diagnosis dan pengontrolan rasa sakit. Karena keanekaragaman dari mekanisme absorpsi dan toksisitasnya, pemilihan jenis dan konsentrasi anestesi lokal yang ideal tergantung pada prosedur yang akan dilakukan. Dalam bidang kedokteran gigi, secara umum anestesi lokal diindikasi untuk berbagai tindakan bedah yang dapat menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan oleh pasien, di antaranya yaitu ekstraksi gigi, apikoektomi, gingivektomi, gingivoplasti, bedah periodontal, pulpektomi, pulpotomi, , bone grafting, implant, perawatan fraktur rahang, dll Sedangkan, kontraindikasi dari pemberian anestesi lokal meliputi : 1) Adanya infeksi/inflamasi akut pada daerah injeksi apabila melakukan anestesi secara injeksi. Hindari blocking saraf inferior gigi pada dasar mulut atau area retromolar. 2) Penderita hemofilia, Christmas Disease, Von Willebrand Disease. 3) Alergi 4) Penderita hipertensi 5) Penderita penyakit hati/liver Penderita dengan usia lanjut perlu diperhatikan adanya kelainan hati dan ginjal. Indikasi dan Kontraindikasi Anestesi Lokal Indikasi anestesi lokal, yaitu : 1. Penderita dalam keadaan sadar serta kooperatif. 2. Tekniknya relatif sederhana dan presentase kegagalan dalam penggunaanya relatif kecil. 3. Pada daerah yang diinjeksi tidak terdapat pembengkakan. 4. Peralatan yang digunakan, sedikit sekali dan sederhana serta obat yang digunakan relatif murah. 5. Dapat digunakan sesuai dengan yang dikehendaki pada daerah anatomi tertentu. 6. Dapat diberikan pada penderita yang keadaan umumnya kurang baik, sebab adanya pemberian obat anastesi terjadi penyimpangan fisiologis dari keadaan normal penderita sedikit sekali. Kontraindikasi anestesi lokal, yaitu :

1.

2. 3. 4. 5. 6.

Operator merasa kesulitan bekerja sama dengan penderita, misalnya penderita menolak di suntik karena takut Terdapat suatu infeksi/ peradangan Usia penderita terlalu tua atau dibawah umur Alergi terhadap semua anastetikum Anomali rahang Letak jaringan anastesi terlalu dalam

VASOKONSTRIKTOR Penambahan sejumlah kecil agen vasokonstriktor pada larutan anestesi lokal dapat memberi keuntungan berikut ini: 1. mengurangi efek toksik melalui efek menghambat absorpsi konstituen. 2. Membatasi agen anestesi hanya pada daerah yang terlokalisir sehingga dapat meningkatkan kedalaman dan durasi anastesi. 3. Menimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah) untuk prosedur operasi. Vasokonstriktor yang biasa digunakan adalah: 1. Adrenalin (epinephrine), suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi medula adrenalin alami. 2. Felypressin (octapressin), suatu polipeptida sintetik yang mirip dengan sekresi glandula pituutari posterior manusia. Mempunyai sifat vasokonstriktor yang dapat diperkuat dengan penambahan prilokain. INSTRUMEN UNTUK ANASTESI LOKAL 1. Syringe Adalah peralatan anestesi lokal yang paling sering digunakan pada praktek gigi. Terdiri dari kotak logam dan plugger yang disatukan melalui mekanisme hinge spring. 2. Cartridge Biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk mengindari pecah dan kontaminasi dari larutan. Sebagaian besar cartridge mengandung 2,2 ml atau 1,8 ml larutan anestesi lokal. Cartridge dengan kedua ukuran tersebut dapat dipasang pada syringe standart namun umumnya larutan anestesi sebesar 1,8 ml sudah cukup untuk prosedur perawatan gigi rutin. 3. Jarum Pemilihan jarum harus disesuaikan dengan kedalaman anastesi yang akan dilakukan. Jarum suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (sesuai standar American Dental Association = ADA) ; panjang (32 mm), pendek (20 mm, dan superpendek (10 mm). Jarum suntik yang pendek yang digunakan untuk anestesi infiltrasi biasanya mempunyai panjang 2 atau 2,5 cm. Jarum yang digunakan harus dapat melakukan penetrasi dengan kedalaman yang diperlukan sebelum seluruh jarum dimasukan ke dalam jaringan. Jarum sekali pakai dikemas untuk menjaganya dalam kondisi steril. Setelah digunakan, jarum akan dibuang. Jarum ini melekat pada syringe yang dihubungkan oleh plastic-hub yang merupakan bagian dari jarum sekali pakai. Jarum sekali pakai selalu steril, selalu tajam, dan cenderung mudah patah daripada yang lain jarum. Jarum hipodermik harus dibuang

1. a. b. 2.

a. b.

3. 4. 5.

agar tidak dapat melukai operator maupun menguhindari kejadianlain yang tidak diinginkan. BAHAN-BAHAN ANASTESI Komponen dalam sediaan larutan anatesi terdiri dari : Agen anastesi lokal Berdasarkan struktur kimianya dikelompokkan menjadi : Golongan Ester Benzoid Acid Ester : piperocain, mepryclain, isobucain Para Amini Acid Ester : lidocaine, tetracaine, isuthetamine, propaxicaine, 2chloropacaine, procaine dan isuthetamine. Meta-amino Acid Ester : metabutethamine, primacaine. Golongan Amida Kidocaine Mepivacaine Prylocaine Vasokontsriktor Adalah obat yang dapat mengkonstriksikan pembuluh darah dan mengontrol perfusi jaringan. Vasokonstriksi yang biasa digunakan : Adrenalin (epinefrin), suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi medula adrenalin alami. felypressin (octapressin), suatu polipeptid sintetik yang mirip dengan sekresi glandula pituitari posterior manusia. felypressin mempunyai sifat vasokonstriktor yang lemah, yang tampaknya dapat diperkuat dengan penambahan prilokain. selain itu, felypressin mempunyai efek oksitoksik ringan Sodium metabisulfite (antioksidan untuk vasopressor) Methilparabean (pengawet) Sodiumclorida MACAM-MACAM TEKNIK YANG DIGUNAKAN DALAM PENATALAKSANAAN ANASTESI LOKAL : a. Infiltrasi Anastesi dilakukan dengan mendeponirkan cairan anastesi disekitar apeks gigi yang akan dicabut di sisi bukal pada sulkus, adanya porositas pada tulang alveolar menyebabkan cairan anastesi berdifusi menuju saraf pada apeks gigi. b. Anastesi blok Anastesi blok merupakan anastesi dengan menginjeksikan cairan anastesi pada batang saraf yang biasa digunakan untuk tindakan bedah di rongga mulut. Anastesi blok yang biasa dilakukan yaitu inferior dental blok, mental blok, posterior superior dental blok, dan infraorbital blok. c. Teknik-teknik yang lain Ada teknik-teknik lain yang digunakan untuk anastesi seperti periodontal ligamen injection, intraosseous injection, dan intrapulpal injection.(Wray, 2003) TEKNIK ANESTESI LOKAL Berdasarkan area yang teranestesi, anestesi lokal dapat dibedakan menjadi :

1. Nerve Block Larutan anestesi lokal disuntikkan pada atau disekitar batang saraf utama, sehingga mampu menganestesi daerah yang luas yang mendapat inervasi dari percabangan saraf utama tersebut. Teknik ini sering digunakan di rongga mulut khususnya di rahang bawah. Kerugian dari teknik ini adalah bahwa biasanya pembuluh darah letaknya berdekatan dengan batang saraf, maka kemungkinan terjadi penetrasi pembuluh darah cukup besar. Contoh : inferior alveolar nerve block. 2. Field Block Larutan anestesi lokal disuntikkan pada atau disekitar cabang saraf terminal dengan tujuan untuk memblokir semua persarafan sebelah distal dari tempat injeksi cairan anestesi. Efek anestesi meliputi darah yang terbatas (tidak seluas pada teknik nerve block) contoh : injeksi di sekitar apeks akar gigi rahang atas. 3. Lokal infiltrasi Larutan anestesi lokal dituntikkan di sekitar ujung-ujung saraf terminal sehingga efek anestesi hanya terbatas pada tempat difusi cairan anestesi tepat pada area yang akan dilakukan instrumentasi. Teknik ini terbatas hanya untuk anestesi jaringan lunak. 4. Topikal anesthesia Teknik ini dilakukan dengan cara mengoleskan larutan anestesi pada permukaan mukosa atau kulit dengan tujuan untuk meniadakan stimulasi pada ujung-ujung saraf bebas (free nerve endings). Anestesi topikal dapat digunakan pada tempat yang akan diinjeksi untuk mengurangi rasa sakit akibat insersi jarum. Berdasarkan tepat insersi jarum, teknik injeksi anestesi lokal dapat dibedakan menjadi: 1. Submucosal injection Jarum diinsersikan dan cairan anestesi dideponir ke dalam jaringan di bawah mukosa sehingga larutan anestesi mengadakan difusi pada tempat tersebut. 2. Paraperiosteal injection Jarum diinsersikan sampai mendekati atau menyentuh periosteum, dan setelah diinjeksikan larutan anestesi mengadakan difusi menembus periosteum dan porositas tulang alveolar. 3. Intraosseous injection Injeksi dilakukan ke dalam struktur tulang, setelah terlebih dahulu dibuat suatu jalan masuk dengan bantuan bur. 4. Interseptal injection Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik intraosseous, dimana jarum disuntikkan ke dalam tulang alveolar bagian interseptal diantara kedua gigi yang akan dianestesi. Teknik ini biasanya dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan injeksi intraosseous. 5. Intraperiodontal injection Jarum diinjeksikan langsung pada periodontal membran dari akar gigi yang bersangkutan. 6. Pappilary Injection Teknik ini sebenarnya termasuk teknik submukosa yang dilakukan pada papila interdental yang melekat dengan periosteum. Teknik ini diindikasikan

terutama pada gingivectomy, yang memerlukan baik efek anestesi maupun efek hemostatis dari obat anestesi.