Anda di halaman 1dari 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3.1. Faktor Yang Mempengarui Penuaan 3.1.1.

Hereditas/ genetic Faktor herediter atau genetic sangat mempengaruhi proses menua pada seseorang karena manusia akan mengalami suatu degenerasi yang sangat cepat maupun lambat tergantung dari individu dan masing-masing orang yang akan mengalami berbagai perubahan dalam kehidupannya baik fisik maupun mental 3.1.2. Nutrisi/ makanan Makanan sangat mempengaruhi proses menua pada seseorang karena setiap tubuh dari masing-masing orang sangat membutuhkan berbagai asupan nutrisi yang dibutuhkan dalam sel setiap orang, bila pola makan dari orang tersebut sudah salah maka proses menua akan terjadi lebih cepat dari apa yang sedang dia bayangkan. 3.1.3. Status kesehatan Setiap orang pasti menginginkan kesehatan yang lebih mapan baik dari segi fisik maupun mental, jadi bila seseorang kesehatannya sudah terganggu pembentukan sel-sel baru akan lebih lama ketimbang dengan oarng normal atau sehat. Maka dari itu kesehatan fisik maupun mental sangat mempengaruhi proses penuaan, tergantung kesehatan dari masing-masing individu 3.1.4. Pengalaman hidup Pengalaman hidup juga mempengaruhi proses penuaan dari individu karena semakin banyak pengalaman tentang kehidupan maka seseorang akan bisa memperlambat proses penuaan yang terjadi pada dirinya sendiri. 3.1.5. Lingkungan Lingkungan yang bersih merupakan asset terbesar dari suatu kehidupan karena bisa menyeimbangkan kehidupan di alam semesta, proses menua akan terjadi lebih lambat ketika lingkungan disekitar kita bersih rapi dan uadaranya sangat segar, maka sebaliknya bila lingkungan sudah kotor dan polusi udara semakin meningkan\t maka memungkinkan radikal bebas akan lebih terserap kedalam tubuh kita dan proses penuaan yang terjadi akan lebih cepat

3.1.6. Stres Stres merupakan keluhan utama dari masing-masing individu setiap orang pasti memiliki stres tergantung dari tingkatan stress itu sendiri. Stress bisa kita minimalkan dengan berbagai metode sehingga yang terjadi tidak akan lebih parah. Proses penuaan yang terjadi lebih cepat juga tergantung dari individu dalam menangani suatu kondisi stress itu sendiri. 3.2. Penyakit Yang Sering Dijumpai Pada Lansia 3.2.1. Menurut seorang pakar Ada empat penyakit yang sangat erat hubunganya dengan proses menua (Stieglitz,1954) yakni: 1. Gangguan sirkulasi darah,misalnya hipertensi,kelainan pembuuh darah,gangguan pembuluh darah otak atau koroner,ginjal,dan lain-lain 2. Gangguan metabolisme hormonal,misalnya diabetes militus, klimakterium, dan ketidakseimbangan tiroid 3. Gangguan pada persendian, misalnya osteoarthritis, gout arthritis, ataupun penyakit kolagen lainnya 4. Berbagai macam neoplasma

3.2.2. Menurut survey/ riset terbaru Menurut the national old people welfare council di Inggris, penyakit atau gangguan umun pada usia lanjut ada 12 macam yakni: a. Depresi mental b. Gangguan pendengaran c. Bronchitis kronis d. Ganggaun pada tungkai atau sifat berjalan e. Gangguan pada koksa atau sendi panggul f. Anemia g. Dimensia h. Gangguan pengluihatan i. Ansietas atau kecemasan

j. Dekompensasicodis k. Diabetes militus, osteomalasia, dan hipotiroidisme l. Gannguan defekasi 3.2.3. Perubahan Akibat Proses Menua 1. Perubahan Fisik a. Sel Jumlah sel menurun atau lebih sedikit Ukuran sel lebih besar jumlah cairan tubuh dan cairan intraseluler berkurang Proporsi protein di otak, otot,ginjal, darah, dan hati menurun Jumlah sel otak menurun Mekanisme perbaikan sel terganggu Otak menjadi atrofi, beratnya berkurang 5-10% Lekukan otak akan menjadi lebih dangkal dan melebar b. Perubahan sistem kulit & Jaringan ikat. Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. c. Temperatut Tubuh Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. d. Sistem muskuloskeletal. Tulang kehilangan densikusnya rapuh. Resiko terjadi fraktur. Kyphosis. Persendian besar & menjadi kaku. Pada wanita lansia > resiko fraktur. Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas. Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). Gerakan volunter gerakan berlawanan. Gerakan reflektonik Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. Gerakan involunter Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus Gerakan sekutu Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter. e. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. Katub jantung menebal dan menjadi kaku. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak). Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal 170/95 mmHg ). f. Sistem genito urinaria.

Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. Atropi vulva. Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. g. Sistem pernafasan pada lansia. Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal. Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m), menyebabkan terganggunya prose difusi. Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. Kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.

h. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Esofagus melebar. Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan menurun. Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya aliran darah. i. Penglihatan Kornea lebih berbentuk skeris. Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap. Hilangnya daya akomodasi. Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala. j. Pendengaran. Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. k.Sistem persyarafan. Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.

Mengecilnya syaraf panca indera. Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. l. Sistem endokrin / metabolik pada lansia. Produksi hampir semua hormon menurun. Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH. Menurunnya aktivitas tiriod BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. Menurunnya produksi aldosteron. Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron. Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess). m. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. 1 Perubahan sistem reprduksi. Selaput lendir vagina menurun/kering. Menciutnya ovarium dan uterus. Atropi payudara. Testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara Dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi

berangsur berangsur. kesehatan baik. 2 Kegiatan sexual. Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani tertuju pada orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang

dan 3) sosial, Secara sosial kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex. n.Pengecap dan penghidung 1. Pengecap Menurunnya kemampuan pengecap. Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis, asin, asam & pahit. Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. 2. Peraba. Kemunduran dalam merasakan sakit. Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin. 2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa. b. kesehatan umum c. Ttingkat pendidikan d. Keturunan (herediter) e. Lingkungan

f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berharihari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit), kenangan buruk. Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. 1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. 2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak. 3. Gangguan halusinasi. 4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. 5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.

3. Perubahan psikososial

Proses penuaan yang terjadi pada lansia akan mengalami suatu perubahan psikososial, lansia akan merasa malu dan tidak berdaya ketika akan melakukan sosialisasi terhadap lingan disekitarnya dibandingakn dengan yang dulu yang terjadi masih muda 4. Perubahan kognitif Perubahan pada fungsi kognitif diantaranya adalah: a. Kemunduran umumnya terjadi pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan dan tugas yang memerlukan memori jangka pendek b. Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran c. Kemampuan verbal dalam bidang vocabolar ( kosakata) akan menetap bila tidak ada penyakit.

5. Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970)

3.2.4. Permasalahan Yang Terjadi Pada Lansia 1. Permasalahan berkaitan pencapaian kesejahteraan lansia Di Indonesia ini masih banyak permasalahan yang terjadi pada lansia terutama dalam kesejahteraan lansia yang masih banyak dan belum teratasi. Berbagai masalah yang sedang dihadapi yakni factor ekonomi kesehatan, maupun gizi pada lansia belum sepenuhnya tercapai. 2. Masalah kesehatan utama Peningkatan kesehatan utama dalam memperoleh kesehatan lansia sangat minim dan masalah utama dari kesehatan tersebut adalah perhatian dari berbagai pihak yang sangat minim 3. Peningkatan stressor

Peningkatan stressor pada lansia sangatlah berat, berbagai masalah yang dihadapi dan kondisi yang sangat berbeda dari yang sebelumnya pernah terjadi pada individu tersebut sangat berbeda. 4. Respon obat Respon obat terhadap lansia sangat lambat karena lansia telah mengalami degenerasi perubahan sel-sel tubuh terhadap dirinya. Permasalahan yang berkaitan dengan respon obat pada lanjut usia banyak factor yang mempengarui diantanya adalah: a. Menurunnya absorbsi obat Hal ini disebabkan oleh : menurunnya HCL asam lambung dan perubahan pergerakan gastrointestinal. b. Perubahan distribusi obat Hal ini disebabkan oleh : menurunnya serum albumin yang mengikat obat dan tersimpannya obat pada jaringan lemak c. Perubahan metabolisme obat Akibat menurunya aktifitas enzim hati. d. Menurunnya eskresi obat Terjadi akibat menurunnya aliran darah ke ginjal, menurunnya kecepatan filtrasi glomerurus dan menurunnya beberapa fungsi tubulus ginjal 5. Post power syndrome Post power syndro adalah suatu keadaan mal adjustment dari seseorang yang mempunyai kedudukan dari ada menjadi tidak ada dan menunjukkan gejala-gejala diantaranya frustasi, depresi, dan lainnya pada orang yang bersangkutan. Ada empat factor yang perlu diperhatikan: a. Perkembangan kepribadian yang kurang dewasa b. Kedudukan yang relatit memberikan kekuasaan dan kepuasan c. Proses kehilangan kedudukan yang relative cepat d. Lingkungan yang mungkin memberikan suasana terhadap timbulnya post power syndrome. 3.2.5. Usaha Yang Dapat Dilakukan pada Lansia 1. Produktivitas individu lansia Lansia masih bisa melakukan kegiatan yang juga bisa bermanfaat bagi orang lain, sebagai contoh lansia yang memiliki hoby membuat kertas lipat, hasil karya

tersebut bisa dibagikan ke berbagai individu yang senag terhadap kertas lipat tersebut, karena pengalaman dari lansia kemunkinan besar lebih banyak dari pada seseorang yang sedang mengalami suatu perkembangan 2. Gizi lansia Keadaan gizi yang prima dicapai dengan memakan makanan yang beranekaragam jenisnya dalam kualitasdan kuantitas yang tepat bagi tubuh. Apabila asupan zat gizi salah dan tidak mampu memanfaatkannyaakan timbul masalah gizi. Bentuk masalh gizi yang banyak ditemui pada usia lanjut adalah sebagai berikut:
a.

Gizi Berlebih

Gizi berlebih pada usia lnjut erat kaitannya dengan kebiasaan makan pada usia muda. Kebiasaan makan pada usia muda menyebabkan berat badan yang berlebihan, apalagi pada lansia penggunaan kalori yang berkurang karena aktifitas fisik juga berkurang. Kebiasaan makan tersebut sulit diubah walupun didasari pentingnya untuk mengurangi makan. b. Gizi Kurang Gizi kurang sering disebabkan oleh masalah sosial ekonomi dan juga karena gangguan penyakit, bila konsumsi kalori terlalu rendah dari yang dibutuhkan menyebabkan berat badan kurang dari normal. Apabila hal ini disertai dengan kekurangan protein menyebabkan kerusakan-kerusakan sel yang tidak dapat diperbaiki, akibatnya rambut rontok dan daya tahan menurun Kebutuhan gizi pada lansi yaitu : 1. Kebutuhan zat-zat gizi yang dikonsumsi haruslah seimbang
2. Jumlah banyanknya berbeda hal ini bergantung pada : usia, jenis kelamin,

kegiatan fisik, ukuran tubuh, lingkungan atau penyakit kronis


3. Ketentuan akan gizi lansia ditentukan oleh tiga faktor : a. b. c.

Menurunnya fungsi fisiologi Meningkatnya frekuensi sakit Menurunnya nafsu makan olehb karena adanya peningkatan usia

DAFTAR PUSTAKA 1. Tamher, S. dan Noorkasiani. 2009. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika 2. Nugroho, H. wahjudi. 2008. Keperawatan Gerontik dan Geriatrik edisi 3 3. Mubarak, W Iqbal, dkk. 2009. Ilmu Keperawatan Komunitas : Konsep Dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika. 4. Maryam, R. siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika. 5. Efendi, Ferry dan Makhfludli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika