Anda di halaman 1dari 14

Pekerjaan pembesian merupakan bagian dari pekerjaan struktur.

Pekerjaan ini memegang peranan penting dari aspek kualitas pelaksanaan mengingat fungsi besi tulangan yang penting dalam kekuatan struktur gedung. Berikut adalah metode pelaksanaan pekerjaan pembesian mulai dari tahap penyimpanan hingga pemasangan tulangan. Fungsi tulangan pada beton adalah untuk menahan gaya tarik, gaya geser dan momen torsi yang timbul akibat beban-beban yang bekerja pada konstruksi beton tersebut. Oleh karena itu perencanaan dan pelaksanaan pembesian harus dilakukan sesuai dengan spesifikasi teknis dan gambar kerja, RKS dan Aanvulling yang telah direncanakan oleh perencana struktur yaitu dalam hal : Ukuran diameter baja tulangan Kualitas baja tulangan Kuantitas baja tulangan Penempatan/pemasangan baja tulangan

PENYIMPANAN BESI BETON


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam tahap penyimpanan : 1. Tumpukan besi jangan sampai bersentuhan dengan tanah. Oleh karena itu, harus diganjal dengan balok beton. 2. Besi harus berjarak minimal 5 cm dari logam yang lain 3. Besi harus terlindung dari kotoran, karat, benturan, dan minyak. Cara pelaksanaan dalam tahap penyimpanan : 1. Setiap bandek besi garus terdiri dari dari satu jenis besi (bentuk dan diameter) 2. Maksimum berat tiap bandel disesuaikan dengan kapasitas crane. 3. Jarak antar ikatan adalah 2 m 4. Di dalam label ditulis panjang, tipe, nomer referensi, dan kode besi. PEMOTONGAN DAN PEMBENGKOKAN BESI BETON Proses fabrikasi besi terdiri dari pemotongan dan pembengkokan besi tulangan. Sebelum mengerjakan proses fabrikasi besi bagian pembesian harus menyusun daftar pembengkokan dan pemotongan besi tulangan berdasarkan gambar pelaksanaan (shop drawing). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun daftar pembengkokan dan pemotongan adalah sebagai berikut : Cara pemotongan dan pembengkokan besi tulangan adalah sebagai berikut : 1. Gunakanlah meja yang kuat dan rata 2. Siapkanlah gambar acuan

3. Cek diameter besi 4. Cek kembali besi-besi yang telah dibengkokan 5. Cek ukuran mandrel benar-benar pas. Inside Radius >2d untuk besi kekuatan rendah, 3d untuk besi kekuatan tinggi. 6. Jika ada besi yang susah dibengkokan maka boleh dipanaskan dengan persetujuan engineer. 7. Ikuti perubahan schedule pembesian dan dapatkan dokumen terbaru.

PEMASANGAN BESI BETON


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan besi tulangan adalah sebagai berikut : 1. Baja tulangan beton sebelum dipasang, harus bersih dari serpih-serpih, karat, minyak, gemuk dan zat kimia lainnya yang dapat merusak atau mengurangi daya lekat antara baja tulangan dengan beton. 2. Peletakan tulangan pembesian harus diatur sehingga ada ruang tersedia untuk proses pemadatan beton. Sambungan antar tulangan harus ditempatkan sedemikian rupa pada daerah yang momennya nol atau dengan menggunakan sambungan lewatan sehingga gaya dari batang yang satu dapat disalurkan ke batang yang lain. Panjang sambungan lewatan diambil 40D ( D = diameter penampang baja tulangan ). 3. Jika ada besi yang perlu disambung maka harus ada overlapping yang sesuai perhitungan atau spesifikasi teknis. . Panjang dan bentuk baja tulangan harus direncanakan secara ekonomis sehingga bagian bagian sisa atau yang tidak terpakai didapat seminimal mungkin. Sedemikian rupa sehingga teknik pemasangan tulangan tidak menyulitkan dalam pelaksanaan lapangan. 4. Suatu ketika mungkin perlu merakit tulangan dahulu di luar bekisting baru kemudian meletakkan sesuai posisinya. Penganyaman besi tulangan harus diikat kuat dengan memakai kawat beton agar waktu pengecoran posisi tulangan tidak bergeser. Penopang, ganjalan, jepit dan kawat beton harus berkualitas sama dengan bahan besi tulangan 5. Flow proses penyimpanan hingga pemasangan harus direncanakan paling efektif dan efisien. Cara pelaksanaan pemasangan besi tulangan pada pelat dan balok lantai : 1. Pembesian pada plat lantai harus berada di atas dudukan berupa beton (biasanya disebut tahu beton) 2. Ketinggian bantalan pembesian plat lantai tergantung dari ketebalan selimut betin yang direncanakan Cara pelaksanaan pemasangan besi tulangan pada kolom dan dinding : 1. Penbesian kolom dirakit dengan cetakan yang telah dibuat

2. Sejumlah ikatan dilakkan pada besi kolom sesuai tipe ikatan, supaya susunan pembesian tersebut kuat untuk diangkat. 3. Setelah kolom dirakit dan kuat, maka kolom siap diangkat 4. Rakitan pembesian kolom yang telah dipasang harus diikat ke bekisting supaya kuat, jarak antar ikatan kira-kira setiap 1,5 m 5. Pemasangan pembesian pada dinding sama dengan pemasangan pada kolom 6. Besi yang horizontal diikat pada besi yang vertikal.

PEKERJAAN PEMASANGAN TULANGAN


Baja tulangan dan sengkang yang telah dipotong dan dibengkokan dibawa ke lapangan untuk dipasang pada posisi sesuai dengan gambar pelaksanaan. Kegiatan yang dilakukan pada pekerjaan pemasangan tulangan antara lain : Pemeriksaan diameter, panjang dan bentuk tulangan sebelum baja tulangan tersebut terpasang. Jarak antar tulangan serta jumlah tulangan, baik untuk tulangan lentur maupun tulangan geser. Sengkang dipasang secara manual. Pemasangan sengkang dilakukan dengan kawat beton. Memastikan daerah-daerah dan ukuran panjang penyaluran, sambungan lewatan dan panjang penjangkaran sesuai yang direncanakan. Pemeriksaan tebal selimut beton dengan memasang tahu beton sebagai acuan sesuai tebal tebal selimut beton yang akan di cor. Adapun pekerjaan pembesian/penulangan meliputi pemasangan tulangan kolom, balok, slab/plat, tangga dan kanopi. a. Penulangan Kolom Pada penulangan kolom, ujung bawah dihubungkan dengan pondasi sedangkan bagian atas dihubungkan dengan balok yang menekan pelat lantai sehingga merupakan satu kesatuan struktur portal yang kaku. Penulangan kolom dilebihkan sampai sampai lantai atas untuk menyambung tulangan kolom lantai berikutnya. Besi kolom yang dipasang pertama kali berbentuk L dan diikatkan pada tulangan bawah tulangan pile cap. Pemasangan tulangan dimulai dengan memasang sebelah luar. Setelah itu dilakukan pemasangan besi-besi yang lain dan menyambungnya dengan tulangan yang sudah ada. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan kolom pada proyek ini adalah : Tulangan utama : D19, D16,12, Tulangan geser : 8 b. Penulangan Balok

Pemasangan tulangan balok dan pelat lantai dilakukan secara serentak setelah pemasangan bekisting balok dan pelat lantai. Pemasangan tulangan balok dilakukan sebagai berikut : Dipasang tulangan bawah diatas beton decking tebal 3,0 cm. ujung tulangan bawah dimasukkan ke dalam tulangan kolom sebagai penjangkaran sepanjang minimal 25D. Apabila terdapat sambungan pada penulangan dilakukan sambungan lewatan sekitar 40D. sambungan tulangan dilakukan selang seling dan harus dihindarkan penempatan sambungan ditempat-tempat dengan tegangan maksimum. Pemasangan tulangan sengkang yang diatur jaraknya dimana jarak pada tumpuan lebih rapat dibandingkan jarak tengah bentang. Sengkang diikat dengan kawat beton. Tulangan atas dipasang dengan cara dimasukkan satu per satu kedalam tulangan sengkang dibagian atas kemudian diikat dengan kawat. Ujung tulangan atas dimasukan kedalam tulangan kolom sebagai panjang penjangkaran sepanjang 40D atau kali tinggi manfaat balok jika balok berukuran besar. Sebagai pengaku dipakai tulangan pinggang sesuai dengan perencanaan. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan balok pada proyek ini adalah : Tulangan utama : D19, D16 Tulangan geser : 10, 8 Tulangan torsi : 12 c. Penulangan Plat Lantai Tahapan penulangan pelat lantai adalah sebagai berikut : - Dipasang tulangan bawah lapis 1 diatas beton decking dengan ketebalan 2 cm. Tulangan ini dipasang melewati tulangan atas balok. - Dipasang tulangan bawah lapis 2 diatas lapis 1 dengan arah tegak lurus lapis 1 kemudian persilangan tulangan diikat dengan kawat beton. - Untuk mendapatkan jarak tertentu antara tulangan atas dan bawah dipasang tulangan kaki ayam yaitu potongan besi yang dipotong sedemikian rupa sehingga dapat menjaga jarak antara tulangan atas dengan tulangan bawah plat. - Tulangan atas lapis 2 dipasang. Tulangan ini juga melewati dan diletakkan dibagian atas tulangan atas balok. Tulangan atas lapis 2 dipasang tegak lurus dengan tulangan atas lapis1. Persilangan tulangan atas diikat dengan kawat beton. Adapun tulangan yang digunakan pada pekerjaan pembesian/penulangan plat pada proyek ini adalah menggunakan besi 10 jarak 15. Pembesian Sloof

Dari gambar diatas berarti bahwa : Besi tulangan minimal untuk sloof adalah 12mm Besi tulangan minimal untuk kolom adalah 10mm Campuran beton yang dianjurkan minimum perbandingan adalah 1 bagian semen, 2 bagian pasir dan 3 bagian kerikil serta bagian air, sehingga menghasilkan kekuatan tekan beton pada umur 28 hari minimum 175 kg/cm2. Bahan pasir dan kerikil harus bersih dan air pencampur tidak boleh mengandung lumpur. Pengecoran beton dianjurkan dilakukan secara berkesinambungan (tidak berhenti di setengah balok atau di setengah kolom). Pengadukan beton sedapat mungkin menggunakan alat pencampur beton (beton molen). Apabila pencampuran beton dilakukan secara manual yang pengadukan betonnya menggunakan tenaga manusia, dianjurkan untuk mengunakan bak dari bahan metal atau bahan lain yang kedap air. Kekuatan tarik baja minimum 2400 kg/cm2. Diameter tulangan utama untuk balok lintel, ring balok dan kolom minimum 10 mm, dan untuk sengkang minimum 6 mm dengan jarak as ke as sengkang 15 cm. Diameter tulangan utama untuk balok sloof/balok pengikat pondasi minimum 12 mm, dan ukuran sengkang minimum 8 mm dengan jarak as ke as sengkang 15 cm.

Agar diperoleh efek angkur yang maksimum dari besi tulangan, maka pada setiap ujung tulangan harus ditekuk ke arah dalam balok hingga 115o Untuk membatasi luas bidang dinding 16 m2, maka perlu dipasang balok-balok lintel. Untuk mencegah terjadinya retak pada sudut-sudut bukaan pintu dan jendela, maka dipasang kolomkolom pengaku yang menerus dari balok lintel ke balok sloof/balok pengikat. Agar memudahkan dalam pengerjaan pengecoran beton dan mendapatkan hasil beton yang berkualitas baik, maka dianjurkan untuk mengunakan ukuran penampang balok minimum 15 cm x 20 cm dan ukuran penampang kolom minimum 15 cm x 15 cm.

Simpulannya adalah Ukuran sloof minimal adalah 15x20cm, dibuat dengan besi tulangan minimal diameter 12mm sejumlah 4 buah, dengan begel ukuran diameter 8 mm disusun dengan jarak 15cm, besi tulangan harus mempunyai kuat tarik 2400 kg/cm2 (pada bagian ini sebagian pembaca mungkin bingung, secara mudah jika anda mengiginkan mutu besi beton ini anda tingal mencari besi beton yang sudah mempunyai lebel SNI), campuran untuk mengecor beton yang digunakan adalah 1PC (1 ember semen) : 2PS (2 ember pasir cor) : 3PK (3 ember koral/split) dicampur dengan ember air sehingga kekuatan beton tadi setara 175kg/cm2 atau jika anda membeli beton jadi atau readymix setara 175Kg/cm2 atau 17.5Mpa. (Readymix itu beton yang biasa diangkut oleh truk-truk yang dibagian belakangya terdapat molen yang senantisa berputar),

TULANGAN SLOOF Sloof dalam bangunan sederhana sebagaimana komponen bangunan yang lainya, lazimnya terbuat dari beton bertulang dan letaknya di atas fondasi, baik fondasi itu berupa pasangan batu kali atau fondasi telapak (footplate). Ilustrasi sloof dalam sebuah rumah dapat dilihat pada posting sebelumnya dengan judul Komponen Struktur Bangunan. Fungsi sloof dalam bangunan atau rumah adalah sebagai komponen yang meratakan beban dimana dengan sloof tadi pelimpahan beban dari dinding diatasnya sloof merata ke fondasi dan kemudian dilimpahkan ke tanah. Dengan keadaan tanah yang heterogen (berbedabeda jenis dan kekerasan tanah) berarti reaksi tanah akibat beban fondasi tentu saja berbedabeda, jika pada tanah tadi terdapat bagian tanah yang lembek (tidak keras), maka dapat mengakibatkan penurunan fondasi yang mana tentu saja dapat menyebabkan penurunanan bangunan (konsekwensi yang terjadi akibat penurunan bangunan yang tidak merata atau sebagian, dapat dilihat pada posting sebelumnya tentang fondasi). Maka sloof ini sebagai perantara atau jembatan yang menghubungkan tanah keras (tanah bagus untuk fondasi) dengan tanah yang lembek (tanah yang jelek untuk fondasi). Dengan sloof ini maka diharapkan tidak terjadi penurunan sebagian bangunan, karena tanah yang lembek tadi dapat dikatakan sudah tidak ada. Ibarat ada sebuah cekungan atau sungai di jalan kemudian diatasnya cekungan atau sungai dihubungkan dengan jembatan, maka dua jalan yang terputus cekungan atau sungai dapat

dihubungkan. Sehingga jika diatas jembatan tadi ditaruh beban, maka beban tadi akan ditopang jembatan kemudian akan dilimpahkan pada pilar-pilar jembatan. Selain fungsi itu tadi, sloof juga menahan gaya lateral atau gaya horizontal (misalnya gaya yang arahnya mendatar akibat gempa). Sehingga komponen struktur yang diikat sloof tadi tetap diposisinya, dan bangunan tadi tidak berubah bentuk atau bahkan rusak. Detail penulangan Sloof 2 (posisi sloof pada gedung dapat anda lihat pada posting sebelumnya a.1 posisi sloof pada fondasi pasangan batu kali)

Gambar 3.1 penulangan pertemuan antara kolom dengan sloof di tengah bangunan

Pada keterangan di atas tertulis s.1 max (jarak begel sloof maksimal)=2/3 hb atau 20 cm, dan diantaran keduanya mana yang lebih kecil yang digunakan. Supaya lebih jelas kita berikan contoh perhitunganya : sloof yang akan kita buat ukuran lebar (bh)=15 cm dan ukuran tinggi (hb)=20cm sloof mengunakan tulangan utama dimeter 12 mm dan begel menggunakan besi diameter 8mm.Sedangkan kolom tulangan utama mengunakan besi 10 dan begel menggunakan besi 9 mm(catatan:besi diameter 9 sangat sulit didapatkan dipasaran) 1.Maka dari persaman diatas jarak begel sloof adalah s.1 mak = 2/3 hb=2/3 x 20cm =13.333cm s.1 mak = 20 cm dari dua hasil ini kita gunakan jarak begel yang terkecil=13.33cm

2.Panjang bengkokan penulangan kolom pada pertemuan dengan sloof adalah 40d atau 40 dikalikan diameter tulangan kolom (dapat dilihat kembali pada posting sebelumnya a.2 Detail pembesian sloof 1) dan gambar dibawah ini

Gambar 3.2 Penulangan pertemuan antara kolom dengan sloof di tengah bangunan 40 d= 40 x 10mm = 400mm atau 40 cm(gambar penulangan besi berwarna merah diatas) 2.Detail penulangan Sloof3

Gambar 3.3 Penulangan pertemuan antara kolom dengan sloof di tepi bangunan

Ilustrasi posisi sloof dengan fondasi batu kali pada gambar di atas ini adalah sebagai berikut

Gambar 3.4 Ilustrasi posisi pertemuan antara kolom dengan sloof di tepi bangunan

Gambar 3.5 Prespektif detail penulangan sloof 3 Nilai s1 mak sama seperti keterangan sebelumnya

3.Detail Penulangan Sloof4 (Sloof Dengan Fondasi Telapak/Foot Plate)

Gambar 3.6 Detail Penulangan Sloof (Sloof Dengan Fondasi Telapak/Foot Plate) 1

Gambar 3.7 Detail Penulangan Sloof (Sloof Dengan Fondasi Telapak/Foot Plate) 2 " Supaya jelas dan mudah memahaminya maka kita gunakan contoh. Sloof yang akan kita buat ukuran lebar (bh)=20 cm dan ukuran tinggi (hb)=30cm sloof mengunakan tulangan utama

dimeter 12 mm dan begel menggunakan besi diameter 8mm.Sedangkan kolom tulangan utama mengunakan besi 13 dan begel besi 9 mm(catatan:besi diameter 9 sangat sulit didapatkan dipasaran) 1.Panjang bengkokan penulangan sloof pada pertemuan dengan kolom (lihat gambar 3.6) adalah 40d atau 40 dikalikan diameter tulangan sloof. 40 x 12 =480 mm atau 48 cm 2.Panjang bengkokan penulangan kolom pada pertemuan dengan fondasi telapak /foot plat (lihat gambar 3.6) adalah 40d atau 40 dikalikan diameter tulangan kolom 40 x 13 = 520 mm atau 52 cm 3.Maka dari persaman diatas(gambar 3.7) jarak begel sloof adalah s.2 mak = 2/3 hb=2/3 x 30cm =20cm s.2 mak = 16 d=16 x 12 mm=192mm atau 19.2cm s.2 mak = 15 cm dari dua hasil ini kita gunakan jarak begel yang terkecil=15 cm KESALAHAN DALAM PENULANGAN SLOOF) MEMBUAT SLOOF (KESALAHAN PEMBESIAN

Pada gambar di atas walaupun pekerjaan sloof sudah dapat dikatakan benar (dari sisi ukuran sloof dan jumlah tulangan) akan tetapi detail sambungan pembesian sloof ini ada yang salah yaitu panjang pembengkokan sambungan kolom ( lihat notasi kesalahan penulangan pada gambar di atas). Panjang sambungan kolom atau tiang beton dengan sloof kurang panjang (panjang minimal sebesar 40d). Hal ini juga berlaku jika fondasinya menggunakan fondasi telapak atau footplat

Sloof dalam bangunan sederhana sebagaimana komponen bangunan yang lainya, lazimnya terbuat dari beton bertulang dan letaknya di atas fondasi, baik fondasi itu berupa pasangan batu kali atau fondasi telapak (footplate). Ilustrasi sloof dalam sebuah rumah dapat dilihat pada posting sebelumnya dengan judul Komponen Struktur Bangunan. Gambar posisi sloof bangunan

Fungsi Sloof Fungsi sloof dalam bangunan atau rumah adalah sebagai komponen yang meratakan beban dimana dengan sloof tadi pelimpahan beban dari dinding diatasnya sloof merata ke fondasi dan kemudian dilimpahkan ke tanah. Dengan keadaan tanah yang heterogen (berbeda-beda jenis dan kekerasan tanah) berarti reaksi tanah akibat beban fondasi tentu saja berbeda-beda, jika pada tanah tadi terdapat bagian tanah yang lembek (tidak keras), maka dapat mengakibatkan penurunan fondasi yang mana tentu saja dapat menyebabkan penurunanan bangunan (konsekwensi yang terjadi akibat penurunan bangunan yang tidak merata atau sebagian, dapat dilihat pada posting sebelumnya tentang fondasi). Maka sloof ini sebagai perantara atau jembatan yang menghubungkan tanah keras (tanah bagus untuk fondasi) dengan tanah yang lembek (tanah yang jelek untuk fondasi). Dengan sloof ini maka diharapkan tidak terjadi penurunan sebagian bangunan, karena tanah yang lembek tadi dapat dikatakan sudah tidak ada. Ibarat ada sebuah cekungan atau sungai di jalan kemudian diatasnya cekungan atau sungai dihubungkan dengan jembatan, maka dua jalan yang terputus cekungan atau sungai dapat dihubungkan. Sehingga jika diatas jembatan tadi ditaruh beban, maka beban tadi akan ditopang jembatan kemudian akan dilimpahkan pada pilar-pilar jembatan. Selain fungsi itu tadi, sloof juga menahan gaya lateral atau gaya horizontal (misalnya gaya yang arahnya mendatar akibat gempa). Sehingga komponen struktur yang diikat sloof tadi tetap diposisinya, dan bangunan tadi tidak berubah bentuk atau bahkan rusak. Beberapa Sloof Yang Sering Dibuat Akan Tetapi Belum Benar Dalam Pembuatannya 1.Banyak sekali ditemukan pada bangunan atau rumah kuno, kebanyakannya tidak menggunakan sloof. Sehingga didapati setelah fondasi langsung didirikan dinding pasangan bata. 2.Tak jarang hanya mengunakan rolag (pasangan bata miring). Menurut buku Pedoman Teknis Bangunan Tahan Gempa bahwa rolag bata ini tidak bisa menahan gaya lateral dan meratakan beban kefondasi. Dengan kata lain rolag bata ini tidak bisa berfungsi sebagai sloof atau jika berfungsi sebagai sloof, maka kinerjanya tidak akan sebaik sloof dengan beton bertulang.

PROSES MERAKIT BESI TULANGAN

Sloof, kolom praktis dan kolom tiang saya kerjakan sendiri. Sesuai konsep pengerjaan rumah idaman yang menganut Konsep Membangun Rumah Tumbuh dari total panjang pondasi yang harus dibuatkan besi tulangan sloof sekitar 103 m dari total luas bangunan 136 m lantai 1, saya akan mengerjakan luas bangunan lantai 1 sekitar 48 m mencakup ruang kamar utama, ruang tamu dan teras rumah. Dari penjelasan diatas sudah dapat dibayangkan atau diidentifikasi apa yang harus kita buat dalam Proses Merakit Besi Tulangan, antara lain : 1. Proses Merakit Besi Tulangan Sloof ukuran 15 x 20 cm sepanjang 43 m 2. Proses Merakit Besi Tulangan Kolom praktis ukuran 10 x 10 cm @ 5 buah dengan panjang masing 4 m 3. Proses Merakit Besi Tulangan Kolom Tiang ukuran 20 x 30 cm @ 8 buah dengan panjang masing 4 m Langkah langkah yang harus kita siapkan setelah kita mengetahui kebutuhan tulangan dan ukuran yang akan kita buat sebelum Proses Merakit Besi Tulangan kita lakukan :

Menghitung kebutuhan besi tulangan yang akan kita beli disesuaikan gambar rencana yang kita punya, disana kita akan melihat besi ukuran berapa saja yang kita butuhkan untuk setiap tulangan yang akan kita buat.

Untuk besi tulangan sloof saya menggunakan 4 buah besi diameter 10 mm dan 2 buah besi diameter 8 mm, kemudian untuk besi sengkang atau cincin saya menggunakan besi diameter 6 mm (semua besi yang di gunakan cas bukan besi ukuran banci).

Proses Merakit Besi Tulangan dan ukuran besi yang digunakan Gambar diatas adalah hasil dari Proses Merakit Besi Tulangan yang saya kerjakan, tahapan seperti apa yang harus kita lewati sebelum Proses Merakit Besi Tulangan dimulai. Urutan dari Proses Merakit Besi Tulangan adalah :

Membeli besi tulangan yang kita butuhkan dan juga kawat untuk mengikat besi tulangan. Membeli peralatan yang digunakan untuk Proses Merakit Besi Tulangan. Membuat cetakan untuk membuat besi cincin atau sengkang. Merakit atau menyatukan besi cincin atau sengkang dengan besi tulangan sesuai dengan ukurannya.

Hasil Proses Merakit Besi Tulangan Proses Merakit Besi Tulangan telah selesai dilakukan, dilain waktu saya akan membahas lebih rinci Proses Merakit Besi Tulanga, semoga bermanfaat.