Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap manusia pada hakekatnya mendambakan hidup sehat sejahtera lahir dan batin. Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, di samping kebutuhan akan sandang, pangan, papan dan pendidikan, karena hanya dengan kondisi kesehatan yang baik serta tubuh yang prima manusia dapat melaksanakan proses kehidupan untuk tumbuh dan berkembang menjalankan segala aktivitas hidup. Maka tidak terlalu berlebihan jika ada slogan Kesehatan memang bukan segala-galanya, tetapi tanpa kesehatan anda tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan segala-galanya itu mungkin akan sirna (Katno & Pramono, 2008). Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagai contohnya adalah untuk makan, tempat berteduh, pakaian, obat, pupuk bahkan untuk kecantikan dapat diperoleh dari lingkungan. Dalam hal penggunaan bahan alam sebagai obat, bangsa Indonesia telah lama menggunakan berbagai jenis tanaman untuk obat. Penggunaan obat tradisional dan tanaman obat semakin meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature dalam usaha mewujudkan progam Indonesia Sehat 2010. Obat tradisional ini banyak digunakan masyarakat menengah ke bawah terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif (Katno & Pramono, 2008). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman daripada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena penggunaan obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dibandingkan obat modern (Sari, 2006). Adapun yang dimaksud dengan obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Pada kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar

dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional (OT) hampir selalu identik dengan tanaman obat (TO) karena sebagian besar OT berasal dari TO (Katno & Pramono., 2008). Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki keanekaragaman obat tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami bumi Indonesia, termasuk tanaman obat. Indonesia yang dianugerahi kekayaan keanekaragaman hayati tersebut, memiliki lebih dari 30.000 spesies tanaman dan 940 spesies di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat atau digunakan sebagai bahan obat. Keanekaragaman hayati Indonesia ini diperkirakan terkaya kedua di dunia setelah Brazil dan terutama tersebar di masing-masing pulaupulau besar di Indonesia (Katno & Pramono, 2008). Penggunaan tanaman obat di kalangan masyarakat sangat luas, mulai untuk bahan penyedap hingga bahan baku industri obat-obatan dan kosmetika. Namun, di dalam sistim pelayanan kesehatan masyarakat, kenyataannya peran obat-obat alami belum sepenuhnya diakui, walaupun secara empiris manfaat obat-obat alami tersebut telah terbukti. Sebagai salah satu contoh adalah penggunaan jamu sebagai obat kuat, obat pegal linu, mempertahankan keayuan, pereda sakit saat datang bulan dan lain-lain, menyiratkan penggunaan jamu yang sangat luas di masyarakat. Memang disadari, bahwa produksi jamu belum banyak tersentuh oleh hasil-hasil penelitian karena antara lain disebabkan para produsen jamu pada umumnya masih berpegang teguh pada ramuan yang diturunkan turun-temurun. Akibatnya, hingga saat ini obat tradisional masih merupakan bahan pengobatan alternatif di samping obat modern (Sari, 2006). Dengan adanya krisis moneter yang melanda Indonesia dan berlanjut menjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan, berdampak pada melonjaknya harga obat-obatan modern secara drastis oleh karena lebih dari 90% bahan bakunya tergantung impor. Obat tradisional, yang merupakan potensi bangsa Indonesia, oleh karena itu dapat ikut andil dalam memecahkan permasalahan ini dan sekaligus memperoleh serta mendayagunakan kesempatan untuk berperan sebagai unsur dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat,

terlebih-lebih dengan adanya kebijakan Menteri Kesehatan RI tahun 1999 untuk mengembangkan dan memanfaatkan tanaman obat asli Indonesia untuk kebutuhan farmasi di Indonesia (Wiryowidagdo, 2008). Mengingat peluang obat-obat alami dalam mengambil bagian di dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat cukup besar dan supaya dapat menjadi unsur dalam sistem ini, obat alami perlu dikembangkan lebih lanjut agar dapat memenuhi persyaratan keamanan, khasiat dan mutu (Wiryowidagdo, 2008). Dokter dalam melakukan prakteknya terikat pada Undang-Undang Kedokteran, bahwa dokter hanya menggunakan obat-obat yang sudah lulus ujian klinik atas bukti ilmiah penelitiannya akan kebenaran keamanan, khasiat dan mutunya yang sering disebut Evidence Based Medicine. Maka perlu tindakan pendekatan antara terapi herbal dengan praktek kedokteran konvensional oleh pemerintah yang bekerjasama dengan para ilmuwan terkait. Berkaitan dengan hal tersebut, maka Departemen Kesehatan mengeluarkan Permenkes: (1) Nomor 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer Alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan; (2) Nomor 121/Menkes/Ski/2008 tentang standar pelayanan medik herbal; serta (3) Nomor 003/Menkes/Per/I/2010 tentang saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan (Tim Pengobatan Komplementer Herbal FK UNS, 2010).

B. Tujuan Setelah mengikuti praktikum lapangan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT)

Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, diharapkan mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan lebih dalam mengenai manfaat penggunaan berbagai obat

tradisional yang ada di Indonesia sebagai salah satu metode pengobatan komplementer yang dapat digunakan dalam dunia kedokteran. 2. Menjelaskan perbedaan antara jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. 3. Menjelaskan mengenai proses saintifikasi jamu.

C. Manfaat Dengan adanya praktikum dan pembuatan laporan ini, diharapkan mahasiswa mampu menelaah lebih jauh mengenai penggunaan tanaman herbal dalam pengobatan komplementer. Dengan demikian, nantinya mahasiswa sebagai calon dokter dapat mengembangkan penggunaan obat alam sesuai dengan bukti ilmiah yang telah ada untuk menjaga keamanan, khasiat, dan mutu dari obat alam tersebut.

BAB II ISI

A. Tinjauan Pusstaka 1. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) a. Sejarah B2P2TO-OT bermula dari suatu kebun koleksi tanaman

berkhasiat obat yang bernama Usaha Tanaman Obat-obatan Lawu Complex Hortus Medicus Tawangmangu yang dirintis oleh R.M. Santosa (almarhum) dibantu oleh Prof. DR. Sutarman. Pada tahun 1948 Hortus Medicus menjadi cabang dari laboratorium Pharmacoterapie, Klaten dan pada tanggal 16 September 1951 diresmikan oleh Wakil Presiden RI Pertama Bapak Dr. M. Hatta, kemudian dikelola di bawah lembaga Eijkman (Depkes RI, 2009). Hortus Medicus pada awal berdiri bertugas mempelajari dan menanam tanaman obat subtropis. Antara tahun 1950-1956 telah dicobakan lebih dari 100 jenis tanaman yang berasal dari luar negeri dan pada tanggal 1 Juni 1955 Hortus Medicus di bawah pengelolaan Lembaga Farmakoterapi dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 26124/Sekdj sehingga selain berfungsi sebagai tempat menanam tanaman obat, juga menjadi lembaga penyelidikan tanaman obat (Depkes RI, 2009). Guna meningkatkan penggunaan bahan-bahan obat asal tanaman Indonesia, Hortus Medicus dialihkan pengelolaannya ke BPU Farmasi Negara melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan

Nomor 32521/Kab/BPU/63 tanggal 8 Juni 1963 dengan kegiatan utama pada usaha produksi simplisia secara komersial. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 208/Kab/B.VII tanggal 25 Juli 1968, Hortus Medicus diserahkan kembali pengelolaannya kepada Departemen Kesehatan RI cq. Direktorat Jenderal Farmasi.

Selanjutnya berdasarkan SK Direktur Jenderal Farmasi Depkes RI Nomor 4246/Dir.Jend/SK/68 tanggal 8 November 1968, Hortus Medicus pengelolaannya diserahkan kepada Lembaga Farmasi Nasional Jakarta. Kegiatan Hortus Medicus kembali sebagai lembaga yang menangani penanaman dan penyelidikan tanaman obat. Perubahan induk organisasi terjadi lagi dengan dikeluarkannya surat keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI Nomor 4500/A/75 tanggal 9 Juli 1975, Hortus Medicus pengelolaannya dikembalikan dari Lembaga Farmasi Nasional kepada Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Dit. Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Jakarta (Depkes RI, 2009). Atas dasar pertimbangan bahwa Hortus Medicus

Tawangmangu adalah tempat penelitian tanaman obat, maka sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor

149/Menkes/SK/IV/78 tanggal 28 April 1978 diubah namanya menjadi Balai Penelitian Tanaman Obat yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Pusat Penelitian Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Selanjutnya berdasarkan SK Menkes Nomor

556/SK/Menkes/VI/2002 tentang perubahan perumusan kedudukan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Kesehatan, maka Balai Penelitian Tanaman Obat menjadi Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di bawah pembinaan teknis fungsional oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional. Dengan perkembangan yang ada pada saat ini telah dilakukan reorganisasi di lingkungan Departemen Kesehatan termasuk Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Berdasarkan Peraturan Presiden No. 9 tahun 2005, struktur organisasi dalam Badan Litbang di lingkungan Departemen hanya terdiri dari 4 puslitbang. Bertitik tolak dari Penpres tersebut maka dalam perkembangannya Puslitbang Farmasi dan Obat Tradisional tidak lagi terdapat dalam struktur baru Badan

Litbang Kesehatan dan berganti menjadi Puslitbang Biomedis dan Farmasi. Dengan Permenkes No. 491/Menkes/Per/VII/2006 BPTO meningkat statusnya menjadi Balai Penelitain Tanaman Obat menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional yang diharapkan akan lebih mendekatkan area litbang obat tradisional ke bagian hulunya, yaitu tanaman obat, sehingga mampu memberikan hasil yang maksimal (Depkes RI, 2009).

b. Visi Menjadi institusi unggulan dan referensi nasional dalam bidang penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional (Depkes RI, 2009).

c. Misi Menghasilkan iptek dan informasi penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional yang berkulaitas berdasarkan kaidah ilmiah dan etika (Depkes RI, 2009).

d. Tugas Pokok Melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional (Depkes RI, 2009).

e. Fungsi Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut B2P2TO-OT menyelenggarakan fungsi sebagai berikut: 1) perencanaan, pelaksanaan, evaluasi penelitian dan/atau

pengembangan di bidang tanaman obat dan obat tradisional. 2) pelaksanaan eksplorasi, inventarisasi, identifikasi, adaptasi, dan koleksi plasma nutfah tanaman obat. 3) pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi konservasi dan pelestarian plasma nutfah tanaman obat.

4) pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi standarisasi tanaman obat dan bahan baku obat tradisional. 5) pelaksanaan pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan di bidang tanaman obat dan obat tradisional. 6) pelaksanaan kajian dan diseminasi informasi tanaman obat dan obat tradisional. 7) pelaksanaan pelatihan teknis di bidang pembibitan, budidaya, pasca panen, analisa, koleksi spesimen tanaman obat serta uji keamanan dan kemanfaatan obat tradisional. 8) pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga (Depkes RI, 2009).

f. Kompetensi Penelitian tentang Tanaman Obat (TO) dan Obat Tradisional (OT) yang meliputi: 1) Potensi Bioprospeksi TO. 2) Budidaya TO. 3) Teknologi panen dan Pasca Panen TO. 4) Teknologi ekstraksi dan analisa senyawa aktif TO. 5) Uji Keamanan dan Khasiat serta Formulasi OT (Depkes RI, 2009).

g. Struktur Organisasi Susunan Organisasi B2P2TO-OT terdiri dari: 1) Bagian Tata Usaha Melaksanakan urusan tata usaha kepegawaian, perlengkapan dan rumah tangga serta pengelolaan keuangan. 2) Bidang Program Kerjasama dan Informasi Melaksanakan penyusunan perencanaan, koordinasi, pelaksanaan dan evaluasi program, anggaran, kerja sama dan kemitraan, penyediaan dan desiminasi informasi, serta evaluasi dan pelaporan. 3) Bidang Pelayanan Penelitian

Melaksanakan koordinasi pelaksanaan dan evaluasi pelayanan penelitian. 4) Instalasi Merupakan fasilitas penunjang penyelenggaraan litbang dibidang TO dan OT. 5) Kelompok Fungsional Peneliti Melakukan kegiatan sesuai jabatan fungsional peneliti berdasar peraturan perundang undangan yang berlaku (Depkes RI, 2009).

h. Instalasi dan Laboratorium B2P2TO-OT berperan sebagai sarana tempat penelitian

ditetapkan sembilan instalasi dan laboratorium, yaitu: 1) lnstalasi Sistematika Tumbuhan Melaksanakan identifikasi (determinasi) tumbuhan dan simplisia baik dalam bentuk kering maupun dalam bentuk rajangan dan serbuk, pembuatan spesimen herbarium serta dokumentasi pengelolaan TO dalam bentuk foto, slide dan compact disk (CD). 2) Instalasi Benih dan Pembibitan TO Kegiatan yang dilakukan meliputi pengkoleksian benih dari lokasi tertentu, sortasi biji, uji viabilitas, pemyimpanan benih. Disamping itu juga pengadaan bibit baik secara konvensional maupun kultur jaringan. 3) Instalasi Adaptasi dan Pelestarian Melakukan adaptasi TO hasil eksplorasi, pelestarian plasma nutfah TO yang termasuk dalam kategori langka. 4) Instalasi Koleksi TO Melaksanakan inventarisasi TO, pengkoleksian TO, Pengelolaan Koleksi (penanaman, peremajaan, pemeliharaan, pembasmian hama dan gulma, pengamatan dan pendataan parameter pertumbuhan dan pemanenan) serta pencatatan data klimatologi.

5) Instalasi Pasca Panen Menangani hasil panen meliputi : pencucian, sortasi, pengubahan bentuk (perajangan), pengeringan, penyerbukan, pengemasan dan penyimpanan serta stok/ gudang simplisia. 6) Laboratorium Galenika Kegiatannya meliputi pembuatan sediaan galenika dalam bentuk ekstrak dan tinktur. Selain itu juga dilaksanakan penyulingan atau destilasi minyak atsiri, serta koleksi minyak atsiri dan ekstrak. 7) Laboratorium Fitokimia Melakukan penetapan parameter standar ekstrak dan simplisia, profil kromatografi minyak atsiri, pemeriksaan kandungan senyawa kimia, penetapan kadar senyawa aktif, isolasi dan identifikasi senyawa aktif, baik secara spot test, spektrofotometri, KLT densitometri maupun HPLC. 8) Laboratorium Bioteknologi Kegiatannya meliputi kulktur jaringan tanaman baik untuk

mendapatklan bibit maupun mendapatkan metabolit sekunder (senyawa aktif), penetapan cemaran mikroba (AJ dan ALT) dan uji aktifitas antimikroba. 9) Laboratorium Farmakologi Melaksanakan koleksi dan perawatan hewan coba, serta melakukan uji preklinik (khasiat dan keamanan) dan uji klinik tanaman obat dan obat tradisional (Depkes RI, 2009).

i. Kelompok Program Penelitian (KPP) Peneliti merupakan motor pengerak pada B2P2TO-OT.

Penelitian yang dilakukan terbagi dalam 4 kelompok ruang lingkup yang disebut sebagai KPP yang dibina langsung oleh Panitia Pembina Ilmiah (PPI). Ruang lingkup keempat KPP tersebut adalah: 1) KPP Bioprospeksi

10

a) Pemetaan dan survei bioregional (bahan obat alam). b) Etnobotani dan etnofarmakologi. c) Eksplorasi dan koleksi plasma nutfah. d) Karakterisasi dan identifikasi (morfologi, marker DNA dan golongan senyawa kimia). e) Adaptasi pelestarian dan domestikasi. 2) KPP Stadarisasi Tanaman Obat a) Teknologi benih, pembibitan dan propagasi. b) Pengembangan kultivasi dan budidaya. c) Pemuliaan, seleksi dan kestabilan mutu. d) Konservasi. 3) KPP Teknologi Obat Bahan Alam a) Pasca panen. b) Ekstraksi. c) Pengembangan formulasi dan stabilitas. d) Isolasi dan biosintesa senyawa aktif. e) Bioteknologi bahan obat alam. 4) KPP Khasiat dan Keamanan a) Uji keamanan (Toksisitas akut, subkronis, kronis dan khusus). b) Uji manfaat. c) Formulasi ramuan OT. d) Uji klinik tahap I,II dan III (Depkes RI, 2009)

j. Wisata Ilmiah B2P2TO-OT Tawangmangu menyelengarakan suatu paket wisata edukatif di mana pengunjung dapat belajar mengenal tanaman obat dan obat tradisional mulai dari budidaya, pasca panen, hingga pengolahan simplisia menjadi produk obat tradisional. Paket tersebut meliputi:

11

1) Kebun Tlogodlingo Kebun Tlogodlingo merupakan lahan budidaya dan koleksi TO seluas 13 Ha yang terletak di lereng Gunung Lawu dengan ketinggian 1800 m dpl. Kebun ini mempunyai pemandangan yang indah dan berhawa sejuk. TO aromatik yang dibudidayakan, antara lain: Foeniculum vulgare dan Rosmarinus officinalis dalam bentuk aromatic garden dan TO yang hanya tumbuh baik pada dataran tinggi antara lain :Pimpinella alpina, Digitalis purpurea, Artemisia annua dalam bentuk sub tropical garden. Selain sebagai kebun koleksi dan penelitian, di kebun Tlogodlingo juga dikembangkan sebagai unit pasca panen dan pembibitan TO spesifik lokal (Depkes RI, 2009).

Kebun Tlogodlingo (Sumber: Depkes RI, 2009)

2) Kebun Koleksi dan Etalase Tanaman Obat Kebun koleksi dan etalase tanaman obat mempunyai +1.000 spesies TO yang merupakan hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri. Kebun ini terletak di pusat wisata Tawangmangu pada ketinggian 1200 m dpl (Depkes RI, 2009).

12

Kebun Koleksi dan Etalase Tanaman Obat (Sumber: Depkes RI, 2009)

3) Pembibitan Sektor ini menyediakan bibit untuk kebutuhan penelitian, pelatihan dan koleksi (Depkes RI, 2009).

Pembibitan (Sumber: Depkes RI, 2009)

4) Museum TO dan OT Museum TO dan OT dikembangkan sebagai wahan untuk mengenal, mempelajari dan meneliti budaya lokal dalam

pemanfaatan TO dan OT yang dilakukan nenek moyang pada jaman dahulu serta perkembangannya sampai saat ini (Depkes RI, 2009).

13

Museum TO dan OT (Sumber: Depkes RI, 2009)

2. Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Menurut pengertian umum, obat dapat didefinisikan sebagai bahan yang menyebabkan perubahan dalam fungsi biologis melalui proses kimia. Sedangkan menurut definisi yang lengkap, obat adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk: (1) pengobatan, peredaan, pencegahan atau diagnosa suatu penyakit, kelainan fisik atau gejalagejalanya pada manusia atau hewan; serta (2) pemulihan, perbaikan atau pengubahan fungsi organik pada manusia atau hewan. Obat dapat merupakan bahan yang disintesis di dalam tubuh, misalnya hormon dan vitamin D, atau merupakan bahan-bahan kimia yang tidak disintesis di dalam tubuh (Portal Pharmacy, 2010). Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan. Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat berdasar pada pengalaman dan ketrampilan yang diwariskan secara turun-temurun dan telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada

14

(Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang Dalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya. Obat tradisional (herbal) telah diterima secara luas di hampir seluruh negara di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), negara-negara di Afrika, Asia dan Amerika Latin menggunakan obat tradisional sebagai pelengkap pengobatan primer yang mereka terima. Bahkan di Afrika, sebanyak 80% dari populasi menggunakan obat herbal untuk pengobatan primer (Kartika, 2007). Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

(Permenkes RI) nomor 246/Menkes/Per/V/1990, yang dimaksud dengan obat tradisional adalah setiap bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (Evan, 2010). Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin

berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka.

a. Jamu (Empirical Based Herbal Medicine) Jamu adalah sebutan untuk obat tradisional Indonesia yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Ada juga yang menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya (Ramuan Madura, 2010). Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari

15

berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 510 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris (Portal Pharmacy, 2010). Jamu merupakan ramuan berbagai simplisia bahan alami yang dengan metode pengolahan sederhana mampu menghasilkan produk berkhasiat. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada jamu dapat dibedakan menjadi: 1) Bahan aktif, yaitu bahan yang berperan dalam efek terapik. Bahan aktif dibedakan menjadi 2, yaitu bahan aktif utama dan bahan aktif pembantu. 2) Bahan sampingan, yaitu bahan yang dinyatakan sebagai beberapa senyawa yang mampu mempengaruhi efek terapik dari bahan aktif. 3) Bahan pengotor, yaitu bahan yang sangat tidak efektif. Keberadaannya dalam sediaan obat sangat tidak dikehendaki karena pengaruh negatifnya terhadap kerja obat. Pengaruh yang utama antara lain terjadi perubahan warna, bau dan rasa dari sediaan obat sehingga timbul kekeruhan yang dapat mengurangi stabilitas serta dapat mengganggu kumpulan analitik bahan aktifnya (Firmansyah, 2010). Secara umum analisis obat tradisional jamu dikelompokkan menjadi dua macam analisis, yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berfungsi untuk mengidentifikasikan jenis dari suatu zat atau simplisia yang terdapat pada bahan bakunya, sedangkan analisis kuantitatif yaitu penetapan kadar atau kemurnian dari zat atau simplisia yang akan dianalisis. Pengujian secara kualitatif obat tradisional jamu biasanya dipergunakan untuk mengidentifikasi atau menganalisis jenis bahan baku dari suatu simplisia baik dari jenis tumbuhan maupun hewan. Di dalam pemeriksaan kualitatif ini, meliputi analisis sebagai berikut: 1) Pengujian organoleptik untuk mengetahui kekhususasn bau dan rasa dari simplisia yang diuji.

16

2) Pengujian makroskopis yang dilakukan dengan kaca pembesar atau indera untuk mencari kekhususan morfologi ukuran dan warna simplisia yang diuji. 3) Pengujian mikroskopis dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang disesuaikan dengan keperluan simplisia yang diuji berupa sayatan melintang, radial, paradermal maupun membujur untuk mengetahui unsur-unsur anatomi jringan yang khas dari simplisia. 4) Reaksi warna dengan pereaksi tertentu (Firmansyah, 2010). Dari pengujian tersebut di atas akan dapat diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik untuk masingmasing simplisia sedangkan untuk pengujian secara kuantitatif, umumnya dilakukan untuk menentukan kadar zat, baik dari bahan bakunya yang berupa kadar simplisia produk setengah jadi dari jamu yang berupa kandungan atau zat asing yang terdapat di dalamnya serta produk jamu jadi. Penetapan secara kualitatif meliputi: 1) Penentuan kadar kandungan yang terdapat pada simplisia yang diuji meliputi penentuan kadar tanin, alkaloid, minyak atsiri, kadar keasaman, dan lain-lain. 2) Penentuan kadar air 3) Penetapan kandungan dan kadar zat asing (Firmansyah, 2010).

b. Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine) Obat herbal terstandar dalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan

17

obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis (Portal Pharmacy, 2010).

c. Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine) Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Bahan obat yang berlabel fitofarmaka telah melalui tiga uji penting, yaitu uji praklinik (uji khasiat dan toksisitas), uji teknologi farmasi untuk menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama hingga dapat dibuat produk yang terstandardisasi, serta uji klinis kepada pasien (Evan, 2010). Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan (Portal Pharmacy, 2010). Jumlah fitofarmaka di Indonesia cuma ada 5 yaitu Stimuno (Dexa Medica), X-Gra (Phapros), Tensigard (Phapros), Rheumaneer (Nyonya mener), dan Nodiar (Kimia Farma) (Sarmoko, 2009).

3. Saintifikasi Jamu Saintifikasi jamu diatur dalam ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia 003/MENKES/PER/I/2010. Dalam peraturan ini terdapat 6 bab dan 21 pasal yang memuat tentang tata cara, ketentuan, serta prosedur saintifikasi jamu yang berada dalam penelitian untuk dapat digunakan sebagai salah satu pelayanan kesehatan di masyarakat. Selain itu, dalam peraturan ini juga memuat tentang standar kompetensi dokter sebagai pemberi pelayanan kesehatan komplementer alternatif khususnya yang berbasis pengobatan herbal. Adapun beberapa pasal yang berkaitan dengan saintifikasi jamu dan klinik jamu berstandar, antara lain: a. BAB I: Ketentuan Umum 1) Pasal 1 Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan:

18

a) Saintifikasi jamu adalah pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis kesehatan. b) Jamu adalah obat tradisional Indonesia. c) Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. d) Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. e) Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. f) Pengobatan komplementer-alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum diterima dalam kedokteran konvensional. g) Ilmu pengetahuan biomedik adalah ilmu yang meliputi anatomi, biokimia, histologi, biologi sel dan molekuler, fisiologi,

mikrobiologi, imunologi, yang dijadikan dasar ilmu kedokteran klinik.

19

h) Sertifikat kompetensi adalah surat tanda pengakuan terhadap kemampuan seorang dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnua untuk menjalankan praktik. i) Surat Bukti Registrasi Tenaga Pengobatan KomplementerAlternatif yang selanjutnya disebut SBR-TPKA adalah bukti tertulis pemberian kewenangan untuk menjalankan pekerjaan tenaga pengobatan komplementer-alternatif. j) Surat Tugas Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif yang selanjutnya disebut ST-TPKA adalah bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga kesehatan yang telah memiliki Surat Izin Praktek/Surat Izin Kerja untuk pelaksanaan praktik pengobatan komplementer-alternatif. k) Surat Izin Kerja Tenaga Pengobatan Komplementer-Alternatif yang selanjutnya disebut SIK-TPKA adalah bukti tertulis yang diberikan kepada tenaga pengobatan komplementer-alternatif dalam rangka pelaksanaan praktik pengobatan komplementeralternatif. b. BAB II: Tujuan dan Ruang Lingkup 1) Pasal 2 Tujuan pengaturan saintifikasi jamu adalah: a) Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. b) Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya sebagai peneliti dalam rangka upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif melalui penggunaan jamu. c) Meningkatkan kegiatan penelitian kualitatif terhadap pasien dengan penggunaan jamu. d) Meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan.

20

c. BAB III: Penyelenggaraan 1) Pasal 4 a) Jamu harus memenuhi kriteria: (1) Aman sesuai dengan persyaratan yang khusus itu (2) Klaim khasiat dibuktikan berdasarkan data empiris yang ada, serta (3) Memenuhi persyaratan mutu yang khusus untuk itu b) Krireria sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

2) Pasal 5 Jamu dan/atau bahan yang digunakan dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan harus sudah terdaftar dalam vademicum, atau merupakan bahan yang ditetapkan oleh Komisi Nasional Saintifikasi Jamu. 3) Pasal 6 Saintifikasi jamu dalam penelitian berbasis pelayanan

kesehatan hanya dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang telah mendapatkan izin atau sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku. 4) Pasal 7 a) Fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat digunakan untuk saintifikasi jamu dapat diselenggarakan oleh Pemerintah atau Swasta b) Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi: (1) Klinik pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) Badan Penelitian Kesehatan. (2) Klinik Jamu dan Pengembangan Kesehatan, Departemen

21

(3) Sentra Pengembangan dan Penerepan Pengobatan Tradisional (SP3T). (4) Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat (BKTM)/Loka

Kesehatan Tradisional Masyarakat (LKTM) (5) Rumah Sakit yang ditetapkan c) Klinik pada Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan, ditetapkan sebagai Klinik Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan

berdasarkan Peraturan Menteri ini dan mengikuti ketentuan persyaratan Klinik Jamu Tipe A. d) Klinik jamu dapat merupakan praktik perorangan dokter atau dokter gigi maupun praktik berkelompok dokter atau dokter gigi. e) Fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan untuk saintifikasi jamu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) uruf b, c, d, dan e dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku dengan tipe klinik ditetapkan sesuai pemenuhan persyaratan.

B. Pelaksanaan Kegiatan dan Hasil Kami melakukan kegiatan praktikum blok pengobatan komplementer herbal di Balai Besar Penelitian dan pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut kami lakukan pada hari Rabu, 10 Oktober 2012. Saat tiba di tempat tersebut, kami segera menyaksikan tayangan audiovisual mengenai perkembangan bahan herbal Indonesia. Dari kegiatan tersebut, kami bisa mengetahui bahwa bahan herbal di Indonesia sangat beragam dan betapa pentingnya bahan herbal di Indonesia jika dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Acara dilanjutkan dengan pengenalan singkat B2P2TO-OT oleh dr. Zuraida Zulkarnain. Dalam sesi ini dijelaskan cikal bakal serta visi dan misi balai ini. Salah satu visi dibangunnya B2P2TO-OT ini adalah untuk

22

menyetarakan antara herbal jamu yang telah turun-temurun menjadi warisan bangsa Indonesia dengan pengobatan barat/conventional medicine yang mengacu pada Evidence Based Medicine (EBM). Dalam mencapai visi dan misi ini, maka ditempatkan berbagai ahli dari seorang insinyur di bidang pertanian yang mengelola bidang pembibitan dan seluk beluknya hingga, seorang dokter yang menguji klinis jamu. Setelah acara pengenalan singkat tesebut, kami harus segera melakukan kunjungan di tempat-tempat lainnya berdasarkan kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah pembibitan tanaman obat. Tempat ini memang sengaja digunakan untuk mengembangkan tanaman obat untuk selanjutnya ditanam di kebun atau etalase tanaman obat. Terdiri dari beberapa jenis pembibitan berdasarkan cara penanaman, ada yang ditanam di ladang dan ada yang ditanam di pot. Pembibitan dilakukan berdasarkan jenis aau karakteristik tanaman herbal. Hasil yang kami peroleh adalah bahwa dalam pembibitan sangat penting dilakukan untuk menjaga kelestarian hayati tanamn herbal tersebut sehingga sangat penting adanya kebituhan sinar matahari dan irigasi, tetapi kebutuhan akan hal tersebut berbeda untuk masing-masing tumbuhan. Tempat kedua yang kami kunjungi adalah perkebunan atau etalase tanaman obat. Di perkebunan ini terdapat berbagai jenis tanaman obat yang sengaja ditanam untuk etalase. Tiap jenis tanaman dituliskan nama secara ilmiah dan kegunaan utamanya. Selain itu jika ingin mengetahui lebih lanjut, juga bisa dilihat di buku petujnjuk mengenai tanaman obat yang bersangkutan di setiap tempat dekat tanaman obat. Hasil yang kami peroleh adalah mengetahui secara nyata bentuk dan tampilan tanaman obat yang sedang kami pelajari. Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah pengeringan dan simplisia. Di tempat ini kami mengetahuibagaimana pengolahan tanaman herbal pascapanen. Bagian mana yang paling berkhasiat dari herba tanaman obat, dipanen, lalu dikeringkan dam disimpan untuk menjadi sebuah simplisia. Bagian ini kemudian nanti akan diproses di laboratorium untuk diperoleh

23

bentukan lain yang lebih efektif jika dikonsumsi, utamanya efektif dalam hal dosis. Hasil yang kami peroleh adalah mengetahui bagaimana cara melakukan pengolahan pascapanen mulai dari awal hingga kering untuk disimpan. Simplisia yang sudah disimpan bisa tahan dalam waktu yang relatif lama untuk kemudian diolah di laboratorium herbal menurut kebutuhan. Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah laboratorium herbal. Di laboratorium inilah simplisia tersebut diolah untuk menjadi produk yang siap dikonsumsi, baik dikonsumsi untuk penelitian maupun untuk pengobatan pasien yang digunakan dalam formularium. Ada berbagai macam pengolahan yang dilakukan di sini, mulai dari pembentukan serbuk sampai dengan pembentukan ekstrak. Pembentukan serbuk mungkin merupakan cara yang konvensional dilakukan dalam pengolahan simplisia. Saat ini yang paling sering dilakukan dalam pengolahan simplisia adalah ekstraksi karena cara ini sangat menghasilkan produk obat herbal yang lebih mudah dalam penghitungan dosisnya. Hasil yang kami peroleh adalah mengetaui bahwa ekstraksi merupakan suatu cara untuk memisahkan senyawa yang berkhasiat yang larut dalam penyari (air atau alkohol atau eter) untuk terpisah dari ampasnya. Ekstrak yang dihasilkan dapat berupa ekstrak cair, kental, maupun kering. Ekstrak yang paling baik adalah yang berbentuk kering.

C. Pembahasan Salah satu jenis pengobatan non konvesional yang sangat besar penggunaannya dalam masyarakat adalah pengobatan tradisional

komplementer alternatif. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan komplementer tradisional alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tetapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. Dalam penyelenggaraannya harus sinergi dan terintegrasi dengan pelayanan pengobatan konvensional dengan

24

tenaga pelaksananya dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan lainnya yang memiliki pendidikan dalam bidang pengobatan komplementer tradisional alternatif. Salah satu pengobatan komplementer tradisional alternatif adalah pengobatan dengan jamu, herbal dan gurah. Di Indonesia hasil pengobatan komplementer tradisional alternatif sudah banyak dilakukan selama lebih dari satu dekade dan dijadikan bahan analisis kajian dan penentuan kebijakan lebih lanjut tentang keamanan dan efektivitas pengobatan komplementer tradisional alternatif. Selama ini masalah dan hambatannya adalah: 1. Belum menjadi program prioritas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan 2. Belum memadainya regulasi yang mendukung pelayanan kesehatan komplementer tradisional alternatif 3. Masih lemahnya pembinaan dan pengawasan 4. Terbatasnya kemampuan tenaga kesehatan dalam melakukan bimbingan 5. Masih terbatasnya pengembangan program Pelayanan Kesehatan

Komplementer Tradisional Alternatif di Pusat dan Daerah 6. Terbatasnya anggaran yang tersedia untuk Pelayanan Kesehatan

Komplementer Tradisional Alternatif 7. Fungsi SP3T dalam penapisan Pelayanan Kesehatan Komplementer Tradisional Alternatif belum berjalan sesuai harapan Penggunaan obat herbal sebagai terapi komplementer merupakan bagian dari sistem pengobatan yang lengkap. Saat ini obat herbal sudah banyak digunakan di beberapa rumah sakit untuk terapi penunjang dan sebagai upaya preventif. Umumnya sebagain besar obat herbal yang digunakan di rumah sakit dalam bentuk fitofarmaka, bukan dalam bentuk herbal terstandar atau dalam bentuk jamu. Beberapa contoh obat tradisional yang telah masuk sebagai terapi komplementer di rumah sakit di antaranya adalah tanaman meniran, temulawak, seledri dan lain-lain. Penggunaan obat tradisional atau herbal sudah dilindungi oleh hukum hal ini diatur dalam undang-undang no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan. Jadi pemakaian obat tradisional dilegalkan.

25

Di tengah perkembangan obat herbal yang semakin pesat dan slogan back to nature masih banyak masyarakat dan praktisi kesehatan yang meragukan khasiat obat herbal. Keraguan itu disebabkan ketidakjelasan tentang herbal tersebut. Misalnya, herbal berbeda tetapi nama sama. Atau, herbal tersebut tumbuh pada kondisi iklim tanah dan cuaca yang tidak memiliki senyawa kimia identik atau efek terapi. Selain itu, yang juga diragukan adalah proses pengumpulan ekstrak, yakni tanaman segar dijemur di bawah matahari, pengolahan, dan penyimpanan yang menyebabkan potensi dan keamanan berbeda dan karena tidak ada standar khusus untuk peresepan obat herbal, serta sulit untuk memastikan dosis yang sesuai. Sebenarnya pemerintah telah mengatur pemanfaatan herbal medik dalam fasilitas kesehatan melalui beberapa peraturan pemerintah, keputusan menteri, maupun peraturan perundang-undangan sejak 1998 hingga kini. Walaupun telah ada regulasi yang jelas, tetap saja penggunaan obat herbal oleh para dokter masih kurang optimal. Hal ini karena terdapat beberapa kendala, misalnya sistem perundangan kesehatan, belum banyak informasi khasiat dan keamanan yang melalui uji klinis, belum ada kompetensi pada dokter, kurangnya perlindungan masyarakat terhadap efek plasebo iklan obat berbahan alam, belum terhimpunnya data mengenai obat bahan alam Indonesia berdasarkan pada evidence based, kurangnya koordinasi antarinstitusi dalam penelitian obat bahan alam Indonesia. Sebagian besar dari kita akrab dengan obat tradisional. Bahkan, banyak yang mengandalkan obat tradisional untuk menjaga kesehatan atau mengobati penyakit. Namun, tidak semua obat tradisional itu benar-benar dari bahanbahan alami. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pernah menemukan sedikitnya 93 jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras di sejumlah pasar tradisional. Berbagai bahan kimia obat keras yang pernah ditemukan BPOM, di antaranya fenilbutazon, metampiron, CTM, piroksikam, deksametason, allupurinol, sildenafil sitrat, sibutramin hidroklorida, dan parasetamol. Kabar tersebut tentu saja menambah kekhawatiran pecinta obat-

26

obat tradisional, karena bahan kimia tersebut dapat membahayakan kesehatan, bahkan mematikan. Gangguan yang timbul pada tubuh akibat bahan kimia tersebut bisa bermacam-macam. Bahan kimia metampiron dapat menyebabkan gangguan saluran cerna, perdarahan lambung, dan gangguan saraf. Fenilbutason dapat menyebabkan rasa mual, ruam kulit, retensi cairan, dan gagal ginjal. Deksametason dapat menyebabkan trombositopenia, anemia plastis, dan gangguan fungsi ginjal. Sibutramin hidroklorida dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Karena itu, pemakaian obat keras harus melalui pengawasan dan resep dokter. Di Indonesia juga terdapat beberapa balai pengembangan tanaman obat, salah satunya adalah B2P2TO2T. B2P2TO2T adalah Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional bermula dari suatu kebun koleksi tanaman berkhasiat obat yang bernama Usaha Tanaman Obat-obatan Lawu Hortus Medicus Tawangmangu yang dirintis oleh R.M. Santosa (almarhum) dibantu oleh Prof. DR. Sutarman. Guna meningkatkan penggunaan bahan-bahan obat asal tanaman Indonesia, Hortus Medicus dialihkan pengelolaannya ke BPU Farmasi Negara dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 32521/Kab/BPU/63 tanggal 8 Juni 1963, dengan kegiatan utama pada usaha produksi simplisia-simplisia secara komersial. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 208/Kab/B.VII tanggal 25 Juli 1968, Hortus Medicus diserahkan kembali pengelolaannya kepada Departemen Kesehatan RI cq. Direktorat Jenderal Farmasi. Selanjutnya berdasarkan SK Direktur Jenderal Farmasi Depkes RI Nomor 4246/Dir.Jend/SK/68 tanggal 8 November 1968, Hortus Medicus pengelolaannya diserahkan kepada Lembaga Farmasi Nasional Jakarta. Kegiatan Hortus Medicus kembali sebagai lembaga yang menangani penanaman dan penyelidikan tanaman obat. Perubahan induk organisasi terjadi lagi dengan dikeluarkannya surat keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes RI Nomor 4500/A/75 tanggal 9 Juli 1975, Hortus

27

Medicus pengelolaannya dikembalikan dari Lembaga Farmasi Nasional kepada Direktorat Pengawasan Obat Tradisionil Dit. Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Jakarta. Selanjutnya berdasarkan SK Menkes Nomor

556/SK/Menkes/VI/2002 tentang perubahan perumusan kedudukan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Departemen Kesehatan, maka Balai Penelitian Tanaman Obat menjadi Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, di bawah pembinaan teknis fungsional oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional.

28

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Khasiat obat herbal sebagai terapi penunjang dan sebagai upaya preventif di beberapa Rumah Sakit sudah tidak diragukan lagi. 2. Penggunaan obat herbal sebagai terapi penyembuhan penyakit telah dilegalkan dan penggunaannya telah diatur dalam undang-undang. 3. Masih terdapat banyak kendala di lapangan sehingga penggunaan obat herbal di dunia medis masih kurang optimal. 4. Masih terdapat beberapa jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat keras di sejumlah pasar tradisional. 5. B2P2TO2T berfungsi sebagai Unit Pelaksana Teknis Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, di bawah pembinaan teknis fungsional oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional. 6. B2P2TO2T melakukan pengolahan dan pemanfaatan tanaman obat secara holistik, dari hulu ke hilir, mulai dari pembudidayaan, pengolahan, pemanfaatan, sampai penelitian tanaman obat.

B. Saran 1. Hendaknya sering dilakukan penelitian mengenai tanaman-tanaman obat sehingga penggunaan tanaman sebagai obat yang selama ini hanya berdasarkan pengalaman turun temurun menjadi memiliki bukti ilmiah sesuai dengan prinsip evidence-based medicine. 2. Mahasiswa hendaknya memiliki pemikiran terbuka untuk mempelajari berbagai macam metode pengobatan ilmiah agar berbagai macam metode pengobatan tersebut dapat dipadukan dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. 3. Diperlukan upaya lebih lanjut untuk mensosialisasikan penggunaan obatobat herbal agar masyarakat tidak ragu lagi menggunakannya. Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang memandang obat-obat

29

tradisional seperti jamu dengan sebelah mata, padahal sebenarnya khasiat yang terkandung sangat banyak dan lebih aman dari efek samping.

30

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Balai Besar Penelitian dan Pengobatan Tanaman Obat dan Obat Tradisional. www.b2p2toot.litbang.depkes.go.id. 2010). Evan. 2010. Definisi Obat Herbal. http://www.infofisioterapi.com/definisi-obatherbal.html. (19 Oktober 2010). Firmansyah, B. 2010. Jamu (Obat Asli Indonesia). (19 Oktober

http://cacingbusuk.blogspot.com /2010/03/jamu-obat-asli-indonesia.html. (19 Oktober 2010). Kartika, D. 2007. Analis Farmasi dan Makanan: Tinjauan Mengenai Definisi Obat Tradisional.http://elearning.thamrin.ac.id/?link=detail_topik&idtopik=124 &id _forum=15. (19 Oktober 2010). Katno., Pramono S. 2008. Tingkat manfaat dan keamananan tanaman obat dan obat tradisional. http://librarybiotech.blogspot.com/2006/12/tanaman-

obat.html. (20 Januari 2010). Portal Pharmacy. 2010. Pengertian dan Penggolongan Obat.

http://portalpharmacy.blogspot.com/2010/03/pengertian-danpenggolongan-obat.html. (19 Oktober 2010). Ramuan Madura. 2010. Apa Itu Jamu? Pengertian Singkat tentang Jamu. http://www.jamuramuanmadura.com/news/1/Apa-itu-Jamu%3Fpengertian-singkat-tentang-jamu.html. (19 Oktober 2010). Sari L.O.R.K. 2006. Pemanfaatan obat tradisional dengan pertimbangan manfaat dan keamanannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. 1 : 1-7. Sarmoko. 2009. Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT) dan Fitofarmaka. http://moko31.wordpress.com/2009/05/01/jamu-obat-herbal-terstandaroht-dan-fitofarmaka/ (19 Oktober 2010). Tim Pengobatan Komplementer Herbal FK UNS. 2010. Modul Blok XXVI: Pengobatan Komplementer Herbal. Surakarta: FK UNS. pp: 1-23.

31

Wiryowidagdo, S. 2008. Kimia dan Farmakologi Bahan Alam. Edisi 2. Jakarta: EGC.

32

LAMPIRAN

Kunjungan ke Etalase Tanaman Obat (Data Primer, 2012)

33

Kunjungan ke Tempat Pengeringan & Simplisia (Data Primer, 2012)

34

Kunjungan ke Museum Obat Herbal (Data Primer, 2012)

Kunjungan ke Laboratorium Herbal (Data Primer, 2012)

35