Anda di halaman 1dari 18

A.

Jaringan Periodontal
Adalah jaringan pendukung gigi yang sebenarnya terdiri dari beberapa jaringan, tetapi telah menjadi salah satu yakni disebut jaringan pendukung gigi atau penyangga gigi yang terdiri dari ligament periodontal, procesus alveolaris, cementum dan gingiva (Mahfoed dan Zein, 2005). Bagian-bagian Jaringan Periodontal : I. Gingiva Ginggiva merupakan bagian mukosa rongga mulut yang mengelilingi gigi dan linggir (ridge) alveolar. Berfungsi melindungi jaringan dibawah perlekatan gigi terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut. (Susanto, 2009) II. Ligamentum periodontal Ligamen adalah suatu ikatan yang biasanya menghubungkan dua buah tulang. Akar gigi berhubungan dengan soketnya pada tulang alveolar melalui struktur jaringan ikat yang dapat dianggap sebagai ligamen. Ligamen periodontal tidak hanya menghubungkan gigi ke tulang rahang tetapi juga menopang gigi pada soketnya dan menyerap beban yang mengenai gigi. III. Sementum Sementum merupakan jaringan menyerupai tulang yang tipis dank eras yang menyelimuti akar anatomi gigi dan tempat melekatnya serabut sharpey. Sementum dibentuk oleh sementoblas yang berkembang dari sel-sel mesenkim yang tidak terdiferensiasi dalam jaringan ikat folikel dentalis. Fungsi Sementum 1. Melekatkan gigi pada periodontal 2. Tempat perlekatan collagen fibers dari periodontal membran 3. Pelindung dentin pada akar gigi. (Newman, et al, 2006) IV. Tulang alveolar Tulang alveolar adalah bagian dari maxilla dan mandibula yang membentuk dan menyokong soket gigi. Tulang alveolar terus menerus mengalami remodeling akibat aktivitas dari osteoclast dan osteoblast (Carison, 2009). Dasar Perawatan Endodontik Asas pokok yang mendasari perawatan gigi dengan masalah endodontik adalahyang mendasari ilmu bedah pada umumnya. Teknik aseptik, debridemen luka,drainase dan perawatan lembut jaringan baik dengan istrumen maupun dengan obat-obatan semuanya adalah asas utama ilmu bedah. Selama perawatan, semua jaringan pulpa harus dikeluarkan, saluran akar dibesarkan dan diirigasi, permukaan salurandisterilkan sebagai yang ditentukan oleh pemeriksaan bakteriologik, dan saluran akar diobsturasi dengan baik untuk mencegah kemungkinan infeksi kembali. A. TAHAP ASEPSIS Berbagai bahan kimia dan teknik telah digunakan untuk membuag dan mengahancurkan kontaminan bakteri dari dari permukaan gigi, cengkeram, dan karet sekelilingnya. Bahan

kimia yang dipakai antara lainalkohol, senyawa ammonium kuaterner, natrium hipoklorit, ioium organic, garam-garam merkuri, dan hydrogen peroksida. Teknik yang efektif adalah sebagai berikut: 1. Plak dibuang dengan karet dan pumis 2. Pemasangan isolator karet Pemasangan isolator karet merupakan hal yang harus dilakukan . pemasangan isolator karet pada gigi normal, dengan beberapa latihan, hanya memerlukan waktu kira-kira setengah menit. Walaupun demikian dipraktek pribadi masih jarang dilakukan pemasangan isolator karet ini. Keuntungan pemakaian isolator karet ini adalah: a. Mencegah tertelannya instrument endodontik yang digunakan. b. Daerah kerja kering dan jelas serta mudah didesenfeksi. c. Melindungi gusi, lidah dan pipi dari trauma iatrogenic. d. Mempersingkat waktu perawatan yang dilakukan dokter gigi. Sedangkan kerugiannya adalah: a. Mempersulit foto rontgen b. Dapat terjadi trauma pada papilla gingival. Pemasangan isolator karet Isolator karet merupakan satu-satunya usaha perlindungan yang pasti terhadapkontaminasi bakteri dari ludah dan tertelannya alat saluran akar yang tidak sengaja.Semua tindakan endodontik harus dilakukan dengan menggunakan isolator karet.Pada beberapa kasus, pertama perlu mengganti dinding kavitas yang hilang denganamalgam atau menyemen suatu ban baja anti karat untuk mencegah penjepit isolator karet terlepas dari gigi. Sterilisasi alat-alat dan instrumen Begitu isolator karet dipasang, gigi dan isolator harus diseka secara cermatdengan kapas yang dibasahi dengan antiseptik yang cepat menguap dan tidak mengotori. Alatalat/instrumen perta ma-tama harus dibersihkan dari debris tanpamemandang cara yang digunakan untuk sterilisasi. Sterilisasi instrument Sterilisasi adalah proses pemusnahan semua mikroorganisme. Disinfeksi bakteri berarti menghilangkan organisme vegetative yang menyebabkan penyakit. Instrument yang digunakan dalam perawatan endodontik memerlukan disinfeksi, jika perawatan hendak dilakukan dalam keadaaan asepsis, semua instrument yang digunakan dalam ruang pulpa harus disterilisasi terlebih dahulu. Selain itu, harus diingat bahwa semua instrument yang hendak di sterilisasi harus digosok dan dibersihkan terlebih dahulu dengan deterjen dan air karena jika terdapat sisa darah kering, jaringan, atau yang lainnya, dapat menghambat jalannya sterilisasi. Banyak cara untuk mensterilisasikan instrument dan bahan-bahan endodontik ini, seperti: 1. Autoklaf 2. Oven udara panas 3. Pemanas kering 4. Sterilisasi garam panas

Debridemen Merupakan suatu dasar pembedahan bahwa luka yang terinfeksi harus dibersihkan terlebih dahulu secara mekanis. Demikian juga halnya bahwa saluran akar yang terinfeksi harus dibersihkan terlebih dahulu dari debris. Jaringan yang sudah didevitalisasi mendorong pertumbuhan bakteri, sedang jaringan sehat menahan pertumbuhan tersebut. Bila ahli bedah pada awalnya membersihkan luka dari kotoran,maka dokter gigi juga harus mengambil semua bahan nekrotik di dalam saluran akar secepat mungkin. Saluran akar dan kamar pulpa harus di irigasi secara hati-hati dengan sodium hipoklorit sebelum dimasuki instrument, Karena larutan ini memiliki efek pelarut pada jaringan pulpa dan juga mempunyai pengaruh antibakterial Drainase Jika dijumpai infeksi luas dan pembengkakan, dokter bedah biasanya membuat suatu insisi untuk mengadakan drainase. Jika dijumpai suatu absesalveolar akutdengan banyak edema, drainase harus segera dilakukan, baik melalui saluran akar maupun insisi, ataupun dengan keduanya. Perluasan dan keadaan pembengkakan menentukan pilihan pada tiap kasus. Drainase melalui saluran akar lebih baik karena memungkinkan keluarnya nanah dan gas yang tertahan. Untuk menentukan apakah gas disebabkan oleh mikroorganisme dalam saluran akar. Drainase dilakukan dengan membuat preparasi kavitas di bagian lingual, pada bagian gigi anterior, dan pada bagian oklusal pada gigi posterior. Bila drainase melalui saluran akar lambat atau jalan masuk sukar, atau giginya begitu sensitif sehingga mempreparasi kavitas untuk memungkinkan drainase tidak dapat dijalankan,dan terdapat suatu pembengkakan lunak yang fluktuan, suatu insisi dibuat pada bagian yang paling bergantung dari pembengkakan dekat apeks akar. Kemoprolaksis Bila pasien mempunyai riwayat demam rematik atau penyakit ringan yang melibatkan katup jantung, suatu antibiotika misalnya 2 g phenoxymethyl penicillinharus diberikan 1 jam sebelum operasi dan kemudian 1g, 6 jam pascaoperasi. Imobilisasi Imobilisasi dilakukan oleh dokter bedah untuk mengistirahatkan suatu organ,untuk menghilangkan rasa sakit atau mempercepat penyembuhan. Imobilisasimenguran gi potensi penyebaran mikroorganisme. Seorang endodontis dapat mengikuti contoh dari dokter bedah dan membuat gigi yang bersangkutan tidak bergerak dengan mengurangi kontak dengan gigi di sekitarnya bila terdapat rasa sakit.Pada kenyataannya, dapat dianggap suatu tindakan yang baik untuk sedikit meringankan oklusi pada semua kasus endodontik karena dapat mengurangi kemungkinan melukai jaringan periodontal. Penghindaran trauma Jaringan lunak harus ditangani dengan lemah lembut, semua trauma harusdihindari. Instrume n jangan sampai dimasukkan saluran akar melebihi foramenapikal. Pertimbangan masak dapat membantu mencegah komplikasi ini, tetapi stop instrumen lebih dapat dipercaya bagi pemula dan dokter gigi lama yang berpengalaman.

Untuk mencegah agar instrumen tidak melampaui foramen, suatustop mekanis atau diskusi karet atau plastik dapat dipasang di atas instrumen dan disesuaikan kurang dari panjang gigi dari apeks ke permukaan insisal atau oklusal.Dalam setiap hal, radiograf harus diteliti secara hati-hati, dan operator harus mempunyai gambaran ukuran panjang dan garis bentuk saluran sebelum melewatkan instrumen saluran akar ke dalam gigi. Relief of pain Relief of pain adalah suatu usaha untuk menghilangkan rasa sakit. Ada 3 macam yaitu a. Sebelum perawatan : sebelum dilakukan perawatan apabila pasien menderita infeksi contohnya abses maka sebaiknya dilakukan drainase terlebih dahulu untuk menghilanhkan rasa sakitnya. Setelaah dilakukan drainase pasien dapat diberi obat antibiotik untuk menvegah pertumbuhan bakteri. Selain ini juga dapat menggunakan obat analgesic untuk mengurangi rasa sakit b. Saat perawatan : pada tahap ini dapat dilakukan, jaringan karies dibuang terlebih dahulu, kemudian kavitas dibersihkan, kemudian kavitas diberi eugenol supaya kavitas bebas dari bakteri setelah itu kavitas ditumpat dengan menggunakan tumpatan sementara, pemberian anestesi lokal Anastesi Saat Perawatan Endointrakanal Pada perawatan endointrakanal sebenarnya tidak perlu dilakukan anastesi karena gigi yang akan dirawat sudah non vital. Namun untuk pasien yang ketakukan, anastesi merupakan indikasi pada setiap tahap perawatan selama preparasi dan pengisian saluran akar. Jika perawatan diperkirakan akan menimbulkan rasa sakit disarankan untuk menggunakan anastesi. Karena itulah disarankan pula untuk melakukan anastesi pada pemasangan cengkram isolator karet saat pengisian saluran akar, sehingga mencegah rasa sakit di bagian gingiva. c. Sesudah perawatan : jika diperlukan medikasi lanjutan bisa diberi analgesic dan antibiotik sesuai dengan kebutuhan namun jika tidak diperlukan cukup sengan control untuk mengetahui keberhasilan dari perawatan Perawatan saluran akar adalah perawatan yang dilakukan dengan mengangkat jaringan pulpa yang telah terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian diisi padat oleh bahan pengisi saluran akar agar tidak terjadi kelainan lebih lanjut atau infeksi ulang. Tujuannya adalah untuk mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rahang, sehingga fungsi dan bentuk lengkung gigi tetap baik. PSA dibutuhkan karena dapat membuang pulpa dan bakteri yang menyebabkan infeksi, sehingga tulang di sekitar gigi dapat sehat kembali dan sakit gigi pun hilang. Gejala-gejala gigi yang membutuhkan perawatan yaitu: sakit sepanjang waktu, selalu sensitif terhadap panas atau dingin, sakit saat mengunyah atau bila disentuh, gigi goyang, gusi bengkak, diskolorasi (perubahan warna) gigi, pipi bengkak dan adanya jerawat kecil berwarna putih di gusi yang

mengeluarkan nanah. Bagaimana pun, terkadang ada juga kasus yang tidak terdapat gejalagejala tersebut sama sekali. TINJAUAN PUSTAKA Pada perawatan saluran akar, setelah jaringan pulpa di keluarkan akan terdapat luka yang kemudian dibersihkan dan didesinfeksi dengan instrumentasi dan irigasi. Luka ini tidak akan tertutup epitelium, seperti luka pada bagian tubuh lain karena itu mudah terkena infeksi ulang. Untuk mencegah penetrasi mikroorganisme dan toksin dari luar melalui ruang pulpa ke tubuh, ruang ini harus ditutup dibagian koronal dan apikal, hal ini untuk mencegah infeksi dan juga untuk memblokir lubang masuk ke periapikal bagi organisme. Selain itu untuk mencegah infeksi ulang dari ruang pulpa oleh mikroorganisme dari rongga mulut. Seluruh ruang pulpa harus diisi, jadi memblokir tubula dentin dan saluran asesori (Harty, 1992). PENGISIAN SALURAN AKAR dilakukan untuk mencegah masuknya mikro-organisme ke dalam saluran akar melalui koronal, mencegah multiplikasi mikroorganisme yang tertinggal, mencegah masuknya cairan jaringan ke dalam pulpa melalui foramen apikal karena dapat sebagai media bakteri, dan menciptakan lingkungan biologis yang sesuai untuk proses penyembuhan jaringan. Hasil pengisian saluran akar yang kurang baik tidak hanya disebabkan teknik preparasi dan teknik pengisian yang kurang baik, tetapi juga disebabkan oleh kualitas bahan pengisi saluran akar. Pasta saluran akar merupakan bahan pengisi yang digunakan untuk mengisi ruangan antara bahan pengisi (semi solid atau solid) dengan dinding saluran akar serta bagian-bagian yang sulit terisi atau tidak teratur (Walton & Torabinejad, 1996). Setelah dilakukan pembersihan, perbaikan bentuk dan desinfeksi, saluran akar akan diisi. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan pengisian saluran akar yaitu gigi bebas dari rasa sakit, saluran akar bersih dan kering, tidak terdapat nanah, tidak terdapat bau busuk (Tarigan, 1994). Sebelum pengisian saluran akar, dilakukan preparasi saluran akar. PREPARASI SALURAN AKAR biomekanikal dalam perawatan endodonti bertujuan untuk membersihkan dan membentuk saluran dalam mempersiapkan pengisian yang hermetis dengan bahan dan teknik pengisian yang sesuai. (Harty, 1992). Saluran akar harus dikeringkan setelah irigasi yang terakhir, terutama sebelum pengisian saluran akar. Cairan dapat diaspirasi dengan meletakkan ujung spuit pada dinding saluran akar. pengeringan menyeluruh dapat dilakukan dengan menggunakan paper point yang tediri dari berbagai macam ukuran. PAPER POINT dapat dipegang dengan pinset dan diukur sesuai dengan panjang kerja sehingga ujungnya tidak terdorong secara tidak sengaja melalui foramen apikal. Paper point dimasukkan secara perlahan sehingga mengurangi terdorongnya cairan irigasi ke dalam jaringan apikal. Kecelakaan seperti ini dapat menyebabkan pasien merasa sakit pada terapi endodontik (Harty, 1992).

BAHAN PENGISI SALURAN AKAR digolongkan dalam golongan padat, pasta, dan semen. Yang termasuk golongan padat ialah poin gutaperca, poin perak, poin titan, poin emas. Golongan pasta; bahan ini tidak mengeras dalam saluran akar misalnya jodoform pasta (Walkhoff). Golongan semen; bahan ini setelah beberapa waktu dalam saluran akar akan mengeras (Tarigan, 1994). Pasta dan semen dapat dibagi dalam lima kelompok; berbahan dasar zinc okside eugenol, resin komposit, gutta perca, bahan adhesif dentin, bahan yang ditambah obat- obatan (Harty, 1992). Tidak ada bahan pengisi saluran akar yang mempunyai sifat yang ideal. Tetapi paling tidak memenuhi beberapa kriteria yaitu mudah dimasukkan kedalam saluran akar, harus dapat menutup saluran lateral atau apikal, tidak boleh menyusut sesudah dimasukkan kedalam saluran akar gigi. Tidak dapat ditembus oleh air atau kelembaban, bakteriostatik, radiopague, tidak mewarnai struktur gigi, tidak mengiritasi jaringan apikal, steril atau dapat dengan mudah disterilkan, tidak larut dalam cairan jaringan, bukan penghantar panas, pada waktu dimasukkan harus dalam keadaan pekat atau semi solid dan sesudahnya menjadi keras (Tarigan, 1994; Walton & Torabinejad, 1996). ENDO INTRAKANAL Endo intrakanal adalah pengangkatan seluruh jaringan pulpa yang sudah mati seluruhnya. Endo intrakanal merupakan perawatan untuk jaringan pulpa yang telah mengalami kerusakan yang bersifat irreversibel atau untuk gigi dengan kerusakan jaringan keras yang luas. Jika seluruh jaringan pulpa dan kotoran diangkat serta saluran akar diisi dengan baik akan diperoleh hasil perawatan yang baik pula. Tahapan perawatan endo intrakal sama dengan perawatan pulpektomi, perbedaan perawatannya adalah pada pemakaian anastesi, pada perawatan endo intrakanal tidak memerlukan anastesi karena gigi dalam kondisi non vital. Indikasi endo intrakanal : - Nekrosis pulpa totalis - Perawatan ulang - Kelainan periapikal Kontraindikasi endo intrakanal : - OH jelek - Tidak mempunyai nilai estetik / fungsional - Fraktur dengan arah vertikal - Mengganggu pertumbuhan gigi tetangga - Resorbsi interna / eksterna meliputi setengah akar Langkah-langkah perawatan endo intrakanal : 1. Pembuatan foto Rontgen. Untuk mengetahui panjang dan jumlah saluran akar serta keadaan jaringan sekitar gigi yang akan dirawat.

2. Daerah operasi diisolasi dengan rubber dam untuk menghindari kontaminasi bakteri dan saliva. 3. Jaringan karies dibuang dengan bor fisur steril. Atap kamar pulpa dibuang dengan menggunakan bor bundar steril kemudian diperluas dengan bor fisur steril. 4. Jaringan pulpa di kamar pulpa dibuang dengan menggunakan ekskavatar atau bor bundar kecepatan rendah. 5. Kamar pulpa dibersihkan dari sisa-sisa jaringan pulpa yang telah terlepas kemudian diirigasi dan dikeringkan dengan cotton pellet steril. Jaringan pulpa di saluran akar dikeluarkan dengan menggunakan jarum ekstirpasi dan headstrom file. 6. Saluran akar diirigasi dengan akuades steril untuk menghilangkan kotoran dan darah kemudian dikeringkan dengan menggunakan paper point steril yang telah dibasahi dengan formokresol kemudian diaplikasikan ke dalam saluran akar selama 5 menit. 7. Saluran akar diisi dengan pasta mulai dari apeks hingga batas koronal dengan menggunakan jarum lentulo. 8. Lakukan lagi foto rontgen untuk melihat ketepatan pengisian. 9. Kamar pulpa ditutup dengan semen, misalnya dengan semen seng oksida eugenol atau seng fosfat. 10. Selanjutnya gigi di restorasi dengan restorasi permanen. FASE-FASE PERAWATAN ENDODONTIK : Rontenologi dalam endodontia Sebelum perawatan :Melengkapi diagnose, rencana perawatan, bahan evaluasi Selama perawatan : dwf, trial foto, pengisian s.a Setelah perawatan : control setelah 2 tahun untuk melihat kelainan periapikal mengecil atau minimal tetap Kegunaan foto r.o : pada gigi arah s.a, obliterasi s.a(penyumbatan), perferosi, dwf, trial foto, foto pengisian alat putus, jaringan periapikal melihat kelainan periapikal, keadaan periodonsium 3.4.1. Preparasi Akses : - Fase yang paling penting dari aspek teknik perawatan akar. - Merupakan kunci untuk membuka pintu bagi keberhasilan tahap pembersihan, pembentukan dan obturasi saluran akarnya. - Tujuan: o Membuat akses yang lurus. o Menghemat preparasi jaringan gigi. o Membuka atap ruang pulpa. Teknik Akses Preparasi Cavity Entrance 3.4.1.1 Outline Form Cavity Entrance

- Proyeksi ruang pulpa ke permukaan gigi di bagian cingulum untuk gigi anterior atau oklusal untuk gigi posterior. - Tujuan : Untuk membuat akses yang lurus, menghemat preparasi jaringan gigi, membuka atap ruang pulpa. a. Outline Form Insisivus RA : bentuknya trangular dengan alas sejajar insisal b. Outline Form Kaninus RA : bentuknya oval / bulat dengan arah insiso servikal c. Outline Form Premolar RA : bentuknya oval memanjang seperti ginjal dengan arah bukal palatal d. Outline Form Premolar RB : bentuknya bulat / oval e. Outline Form Molar RA : bentuknya triangular dengan alas sejajar bukal f. Outline Form Molar RB : bentuknya triangular dengan alas sejajar mesial 3.4.1.2.1 Alat Preparasi Kavitas 1. Contra Angle Handpiece Low Speed 2. Macam-macam mata bur Low Speed a. Round bur kecil b. Round bur besar c. Fissure bur silinder d. Fissure bur long shank dan round end 3.4.1.2.2 Saluran Akar Tunggal - Preparasi dimulai dengan round bur no 2 atau 4 atau tapered fissure diamond bur dengan arah tegak lurus pada permukaan enamel sampai menembus jaringan dentin dan diteruskan sampai atap pulpa terbukan dengan kedalaman 3 mm. - Setelah itu arah bur diubah menjadi sejajar sumbu gigi sampai menembus ruang pulpa sehingga ditemukan lubang saluran akar yang terletak pada dasar ruang pulpa yang disebut orifice. - Gunakan tapered fissure no 2 atau 4 untuk membentuk dinding cavity entrance divergen ke arah oklusal atau insisal sampai jarum miller dapat masuk dengan lurus, setelah terasa tembus maka orifice dicari dengan menggunakan jarum miller. - Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan menarik keluar kavitas sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas. Masukkan jarum ektirpasi, diputar searah jarum jam dan ditarik keluar, diulang lagi sampai jaringan pulpa dicabut. 3.4.1.2.3 Saluran Akar Ganda - Pembutan cavity entrance menggunakan round bur no1 atau tapered fissure diamond bur pada tengah fossa di bagian oklusal atau endo access. - Setelah kedalaman preparasi mencapai dentin, preparasi dilanjutkan menggunakan fissure diamond bur sampai ditemukan orifice ke 3 saluran akar.

- Pada gigi berakar ganda, bila atap pulpa belum terbuka maka cari orifice yang paling besar terlebih dahulu, kemudian atap pulpa diangkat dengan bur sesuai letak orifice. - Menghilangkan tanduk pulpa menggunakan round diamond bur dengan gerakan menarik keluar kavitas, sehingga cavity entrance terbentuk dengan baik dan alat preparasi dapat dimasukkan ke dalam saluran akar dengan bebas. Kesalahan-Kesalahan yang mungkin dapat terjadi pada waktu preparasi cavity entrance : 1. Preparasi salah arah menyebabkan terjadinya step atau perforasi lateral 2. Preparasi terlalu dalam menyebabkan perforasi menembus bufurkasi 3. Jika preparasi cavity entrance terlalu lebar maka dinding kavitas menjadi tipis dan mudah pecah jika ditumpat. 3.4.2. Penentuan Panjang Kerja - Panjang Kerja : Panjang dari alat preparasi yang masuk ke dalam saluran akar pada waktu melakukan preparasi saluran akar. - Menentukan panjang kerja dikurangi 1 mm panjang gigi sebenarnya, untuk menghindari : o Rusaknya apical constriction (penyempitan saluran akar di apical). o Perforasi ke apical. -tujuan pengukuran panjang kerja Menghindari kerusakan jaringan periapikal Menentukan sejauh mana masuknya alat Menghindari perforasi dan tertinggalnya jaringan pulpa dalam saluran akar - Cara melakukan DWP (Diagnostic Wire Photo) Masukkan jarum miller atau file nomor kecil yang diberi stopper dengan guttap perca pada batas panjang gigi rata-rata dikurangi 1-2 mm lalu dilakukan foto R. Dari hasil foto dilakukan pengukuran dengan menggunakan rumus : PGS = PGF x PAS PAF Keterangan : PGS = panjang gigi sebenarnya PGF = panjang gigi foto PAS = panjang alat sebenarnya PAF = panjang alat foto 3.4.3. Pembersihan dan Pembentukan Saluran Akar - Pembersihan debridement : pembuangan iritan dari sistem saluran akar.

- Tujuan : Membasmi habis iritan tersebut walaupun dalam kenyataan praktisnya hanyalah sebatas pengurangan yang signifikan saja. - Iritan: bakteri, produk samping bakteri, jaringan nekrotik, debris organik, darah dan kontaminan lain. 3.4.4. Pembentukan Saluran Akar - Pelebaran Saluran akar harus cukup besar untuk melakukan debridement yang baik dan dapat memanipulasi serta mengendalikan instrumen dan meterial obturasi dengan baik tapi tidak sampai melemahkan gigi serta meningkatkan peluang terjadinya kesalahan prosedur. - Ketirusan Ketirusan hasil preparasi harus cukup sehingga instrumen penguak dan pemampat gutta perca dapat berpenetrasi cukup dalam. - Kriteria Saluran akar siap menerima obturasi baik dengan kondensasi lateral maupun vertikal, saluran akar harus berbentuk corong ke arah korona dan dalam ukuran cukup besar sehingga instrument pemampat dan penguak dapar masuk cukup dalam. 3.4.5. Ekstirpasi Pulpa Menggunakan jarum ekstirpasi, reamer ataupun miller. Jarum ektirpasi: untuk mengambil jaringan pulpa/nekrotik untuk mengambil bahan pengisi,cara jarum dimasukkan s.a diputar perlahansehingga terasa menyangkit kemudian ditarik 3.4.6. TEKNIK PERAWATAN SALURAN AKAR 3.4.6.2 Gigi Permanen 3.4.6.2.1 Teknik Konvensional 1. Teknik konvensional yaitu teknik preparasi saluran akar yang dilakukan pada gigi dengan saluran akar lurus dan akar telah tumbuh sempurna. 2. Preparasi saluran akar menggunakan file tipe K 3. Gerakan file tipe K-flex adalah alat diputar dan ditarik. Sebelum preparasi stopper file terlebih dahulu harus dipasang sesuai dengan panjang kerja gigi. Stopper dipasang pada jarum preparasi setinggi puncak tertinggi bidang insisal. Stopper digunakan sebagai tanda batas preparasi saluran akar. 4. Preparasi saluran akar dengan file dimulai dari nomor yang paling kecil. Preparasi harus dilakukan secara berurutan dari nomor yang terkecil hingga lebih besar dengan panjang kerja tetap sama untuk mencegah terjadinya step atau ledge atau terdorongnya jaringan nekrotik ke apikal. 5. Selama preparasi setiap penggantian nomor jarum preparasi ke nomor yang lebih besar harus dilakukan irigasi pada saluran akar. Hal ini bertujuan untuk membersihkan sisa jaringan nekrotik maupun serbuk dentin yang terasah. Irigasi harus dilakukan secara bergantian anatar H2O2 3% dan aquadest steril, bahan irigasi terakhir yang dipakai adalah aquadest steril. 6. Bila terjadi penyumbatan pada saluran akar maka preparasi diulang dengan menggunakan jarum preparasi yang lebih kecil dan dilakukan irigasi lain. Bila masih ada penyumbatan maka saluran akar dapat diberi larutan untuk mengatasi penyumbatan yaitu larutan largal, EDTA,

atau glyde (pilih salah satu). Sifat edta : dapat melunakkan dentin, daya penetrasi tinggi, daya iritasi, bersifat antiseptic, 7. Preparasi saluran akar dianggap selelsai bila bagian dari dentin yang terinfeksi telah terambil dan saluran akar cukup lebar untuk tahap pengisian saluran akar. Catt : pakai nomer file secara berurutan bila tidak panjang s.a dan panjang kerja tidak terpenuhi,terjado step, diding tersumbat bubukan dentin 3.4.6.3 GIGI SULUNG Teknik Konvensional Prosedur Teknik Konvensional pada Gigi Sulung sama seperti Teknik Konvensional pada Gigi Permanen. 3.4.7. Irigasi Saluran Akar Tujuan :Untuk mengeluarkan sisa jaringan nekrotik, serbuk dentin, dan kotoran-kotoran lain yang terdapat di saluran, membasahi saluran akar, membersihkan sisa obat sterilisasi sebelum dilakukan perbenihan - Irigasi dilakukan setiap : o Pergantian file pada saat preparasi saluran akar o Pada saat akan melakukan perbenihan o Sterilisasi saluran akar 3.4.7.2 Bahan irigasi yang digunakan : - H2O2 3% - Aquadest steril - NaOCl Syarat bahan irigasi s.a : tidak toksik, antiseptic, dapat melarutkan jaringan nekrotik, daya pembersih, daya penetrasi 3.4.7.3 Alat irigasi yang digunakan : - Spuit 2,5 cc dengan jarum yg dibengkokan dan ujungnya ditumpulkan - Alat irigasi yang dipakai harus diberi tanda untuk membedakan isi cairan irigasi yang dipakai - Alat irigasi disimpan dalam botol tertutup berisi alkohol 70% agar tetap terjaga sterilisasinya 3.4.7.4 Cara irigasi : - Jarum irigasi dimasukkan kedalam saluran akar. Jarum irigasi yang masuk kedalam saluran akar tidak boleh terlalu besar sehingga membuntu saluran akar yang akan mengakibatan cairan irigasi yang disemprotkan tidak mengalir keluar. - Bahan irigasi disemprotkan secara perlahan-lahan ke dalam saluran akar

- Bahan irigasi digunakan secara bergantian. Bahan irigasi yang terakhir disemprotkan ke dalam saluran akar harus aquadest steril. - Menghisap cairan irigasi yang keluar dengan cotton roll atau saliva ejector atau section. Tidak boleh terkontaminasi dengan saliva. - Setelah irigasi, saluran akar dikeringkan dengan menggunakan paper point. Tidak boleh pakai hembusan udara 3.4.8. Bahan dan Obat-obatan Sterilisasi 3.4.8.1 Sebagai desinfektan antibakteri dengan spektrum luas : - ChKM ( Chlorophenol Kamfer Menthol ) - Cresophene - Cresatin - Formokresol - TKF ( Tri Kresol Formalin ) - Eugenol (sebagai sedative, digunakan untuk mengurangi rasa sakit yang dikombinasikan pada saat dilakukan devitalisasi.) 3.4.8.2 Preparat poliantibiotik : Grossman : - Penisilin ( efektif terhadap gram (+) - Streptomysin ( efektif terhadap gram () - Sodium kapsilat ( efektif terhadap jamur ) 3.4.8.3 Kombinasi antibiotik kortikosteroid : - Kortikosteroid ( mengurangi keradangan periapikal .) - Antibiotik ( membunuh bakteri ex : septomixine dan ledermix .) 3.4.8.4 Bahan devitalisasi - Arsen ( As2O3 ) ( digunakan pada gigi permanen.) - Caustinerf Pedodontique / forte ( digunakan pada gigi sulung.) - TKF ( Tri Kresol Formalin ) 3.4.8.5 Medikamen Intrakanal yang biasa digunakan : 3.4.8.5.1 Golongan Fenol : - Eugenol - CMCP ( Camphorated Monoparachlorophenol ) - Parachlorophenol ( PCP ) - Camphorated parachlorophenol ( CPC ) - Metakresilasetat ( cresatin ) - Kresol - Creosote ( beechwood )

- Timol 3.4.8.5.2 Aldehid : - Formokresol - Glutaraldehid 3.4.8.5.3 Halida : - Natrium hipoklorit - Iodine kalium iodida 3.4.8.5.4 Steroid 3.4.8.5.5 Hidroksida kalsium Bukan antiseptik konvensional Dapat menghambat pertumbuhan bakteri Bekerja lambat Harus berkontak langsung Dapat digunakan sebagai antiseptik antar kunjungan (terutama pada gigi nekrotik) 3.4.8.5.6 Antibiotik 3.4.9. Perbenihan 3.4.9.1 Prosedur perbenihan : - Pasien dikontrol lebih dulu - Siapkan papper point dan cotton pellet. Masukkan papper point dan cotton pellet ke dalam Glassbead sterilisator dan ditutup, nyalakan, biarkan sampai lampu pada glassbead sterilisator menjadi hijau (Ready). Papper point dan cotton pellet siap digunakan. Buka alat glassbead sterilisator. Hasil Perbenihan negatif, saluran akar dapat diisi dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut : - Tidak ada keluhan pasien - Tidak ada gejala klinik - Tidak ada eksudat dalam saluran akar (cek dari papper point yang terdapat dalam saluran akar caranya ulaskan papper point pada glass lab. Bila tidak berbekas, berarti bisa dilakukan pengisian), papper point diulaskan di glass lab. - Tumpatan sementara masih baik Hasil pembenihan positif, maka dilakukan sterilisasi ulang sampai hasil pembenihan negatif. 3.4.10. Bahan Pengisian Saluran Akar 3.4.10.1 Syarat-Syarat Bahan Pengisi Saluran Akar

a. Bahan harus dapat dengan mudah dimasukkan ke saluran akar. b. Harus menutup saluran ke arah lateral dan apikal. c. Harus tidak mengerut setelah dimasukkan. d. Harus kedap terhadap cairan.tidak larut oleh cairan periapikal e. Harus bakterisidal atau paling tidak harus menghalangi pertumbuhan bakteri. f. Harus radiopak. g. Tidak menodai struktur gigi. h. Tidak mengiritasi jaringan periapikal atau mempengaruhi struktur gigi. i. Harus steril atau dapat segera disterilkan dengan cepat sebelum dimasukkan. j. Bila perlu dapat dikeluarkan dengan mudah dari saluran akar. k. bukan penghantar panas 3.4.10.2 Gigi Sulung - Zinc oxide eugenol paste - Iodoform paste - Calcium hydroxide 3.4.10.3 Gigi Permanen Siller berbasis OSE Keuntungan : Riwayat keberhasilan berlangsung lama, kualitas positif mengalahkan aspek negatifnya (mewarnai gigi, waktu pengerasan sangat lambat, tidak adhesive, larut). 3.4.10.3.2 Formula Grossman Bubuk : - ZnO (badan semen) 42 bagian - Resin stabelit (konsistensi dan waktu pengerasan) 27 bagian - Bismuth subkarbonat 15 bagian - BaSO4 (keradiopakkan) 15 bagian - Na-barat 1 bagian Cairan : Eugenol Masalah yang ada pada formula ini adalah waktu pengerasan sangat lambat, > 2 bulan. 3.4.10.3.3 Plastik Epoksi tersedia dalam formula bubuk cairan (AH26). Sifat yang dimiliki : antimikroba, adhesi, waktu kerja yang lama, mudah mengaduknya, dan kerapatan yang sangat baik. Kekurangannya : mewarnai gigi, relative tidak larut dalam pelarut, agak sedikit toks ik jika belum mengeras dan agak larut pada cairan mulut. 3.4.10.3.4 Hidroksida kalsium (CaOH)2

Siller Ca(OH)2 yang telah diperkenalkan adalah siller yang Ca(OH)2 nya diinkoporasikan ke dalam basis OSE atau basis plastiknya. 3.4.10.3.5 Ionomer Kaca Material ini memiliki keuntungan bisa beradhesi ke dentin sehingga diharapkan bisa mencapai kerapatan yang baik di apeks dan korona dan biokompatibel. Tapi, kekerasan dan ketidaklarutannya menyukarkan perawatan ulang jika diperlukan dan menyukarkan pembuatan pasak. 3.4.11. Teknik Pengisian Saluran Akar - Pengisian yang tidak sempurna menyebabkan cairan masuk ke dalam ruang kosong sehingga merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme - Fungsi pengisian : sebagai pengisi s.a yang kosong, menghindari mikroorganisme atau cairan tubuh masuk, sebagai pengganti jaringan pulpa Gigi Sulung dan Gigi Permanen 3.4.11.2 Teknik single cone Teknik pengisian saluran akar untuk teknik preparasi secara konvension Tahapan : - Pencampuran pasta saluran akar petunjuk pabrik - Pasta diulaskan pada jarum lentulo dan guttap point untuk kemudian dimasukan kedalam saluran akar yang telah dipreparasi jarum lentulo sesuai panjang kerja dan diputar berlawanan jarum jam. - Guttap point ( trial foto disterilkan dengan alcohol 70% dan dikeringkan ) 1. Pilih guttap point yang diameternya sesuai dengan reamer / file terakhir yang digunakan pada waktu preparasi saluran akar. 2. Tandai guttap point sesuai dengan panjang kerja. 3. Masukkan guttap point dalam saluran akar sebatas tanda. 4. Guttap point yang memenuhi syarat dapat masuk saluran akar sebatas panjang kerja dan rapat dengan dinding saluran akar. - Kering ( diulas dengan pasta ) masuk ke dalam saluran akar. - Guttap point di potong 1-2mm dibawah orifice dengan ekskavator yang ujungnya telah di panasi dengan bunsen burner hingga membara. - Kemudian dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat lalu ditutup kapas dan tumpatan sementara menggunakan fletcher atau cavit. Gigi Permanen 3.4.11.3 Teknik Kondensasi Lateral Dengan teknik preparasi saluran akar secara step back. Sering digunakan hampir semua keadaan kecuali pada saluran akar yang sangat bengkok / abnormal Tahapan :

- Pencampuran pasta - Guttap point ( trial foto disterilkan 70% alcohol dan dikeringkan - Guttap point nomor 25 (MAF) diulasi dengan pasta ke saluran akar sesuai dengan tanda yang telah dibuat dan ditekan kea rah lateral menggunakan spreader. - Ke dalam saluran akar diberi guttap tambahan, setiap memasukan guttap di tekan ke arah lateral sampai saluran akar penuh dan spreader tidak dapat masuk dalam saluran akar. - Guttap point dipotong 1-2mm dibawah orifice dengan eskavator yang telah dipanasi - Guttap point dipadatkan dengan root canal plugger - Bila pengisian sudah baik, maka dasar ruang pulpa diberi basis semen seng fosfat, ditutup kapas dan tumpatan sementara TUMPATAN SEMENTARA Perlu diperhatikan bahwa semua peralatan yang digunakan untuk preparasi saluran akar pada pasien harus dalam keadaan steril. Perawatan saluran akar biasanya tidak bisa selesai dalam satu kunjungan sehingga perlu diberi tumpatan sementara. Bila preparasi saluran belum selesai dan akan dilanjutkan pada kunjungan berikutnya, maka setelah dilakukan irigasi dan dikeringkan dengan paper point kemudian dilakukan oenutuoan sementara dengan memasukkan cotton pellet ang telah diulasi obat sterillisasi saluran akar. Cotton pellet dibasahi/ditetesi obat sterilisasi selanjutnya letakkan cotton pelet lembab ini di dalam kavitas dan kavitas ditutup dengan bahan tumpatan sementara. Demikian hal ini dilakukan setiap selesai kunjungan berikutnya, tumpatan sementara ini dibongkar dan dilanjutkan perawatan saluran akar. Syarat material restorasi/tumpatan sementara, antara lain harus : Menutupi mahkota secara rapat sehingga dapat mencegah masuknya cairan mulut atau bakteri dan keluarnya medikamen intrakanal. Melindungi gigi hingga akhirnya selesai perawatan saluran akar. Mudah diletakkan dan dibongkar. Membantu isolasi yang baik selama prosedur perawatan APEKSIFIKASI Perawatan endodontic untuk gigi non vital pada gigi permanen muda yang akarnya beloum terbentuk sempurna(apical masih terbuka) Tujuan : penutupan apical melaui pembentukan calcific barrier Prosedur kerja: 1. Cavity entrance 2. Ruang pulpa dibersihkan dengan sodium hipoklorit 3. Ektirpasi plpa untuk membuang jaringan nekrotikdr sa 4. Dwf 5. Preparasi saluran akar sampai kedalamna 2mm dari apeks 6. Irigasi sa dan keringkan

7. Sa diisi dengan pasta caoh2 calcyl,powder caoh2+saline atau chkm sampai konsistensi seperti pasta krim 8. Foto 9. Tumpat dengan semen gi/resin komposit 10.Control pada interval; 3-6 bulan Penutupan apeks terjadi setelah 12-18 bulan, bila apeks sudah menutup s.a diisi dengan guttapercha dan sealer,kemudian dibikin tumpatan tetap Apeksifikasi Perawatan gigi non vital dengan apeks yang masih terbuka disebut apeksifikasi. Gigi anterior mungkin menjadi non vital sebelum apeksnya menutup, sering terdapat lesi pada bagian periapikal. Tujuan apeksifikasi adalah merangsang penutupan akar bagian apical sehingga prosedur perawatan endodontik dengan bahan pengisi gutta percha dapat diselesaikan. Prinsip perawatannya adalah membersihkan dan mensterilkan saluran akar sebelum diberi kalsium hidroksid, menimbuni jaringan periapeks dengan ion kalsium, sekalian menghilangkan kumannya merangsang perbaikan fisiologis apeks. Jika apeks telah menutup perawatan saluran akar konvensional dapat dilakukan. Teknik apeksifikasi : Kunjungan pertama : 1) Dapatkan akses masuk melalui bagian lingual dari mahkota gigi. 2) Memakai jarum ekstirpasi dan file, buang debris dari 1/3 mahkota dan pulpa.Tentukan panjang file dengan bantuan Ro-foto. 3) Bersihkan saluran akar dengan file Hedstrom sampai kedalaman 2 mm, dariapeks dengan diirigasi larutan hipochlorit atau aquadest kemudian dikeringkan dengan paper point. 4) Kamar pulpa diletakkan CHKM atau formokresol kemudian ditutup tambalan sementara. Kunjungan kedua (setelah 1 2 minggu) : 1) Singkirkan tambalan sementara dan saluran akar dibersihkan. Pemakaian alat alat harus hati hati jangan mengenai dinding dentin yang tipis dekat apeks. 2) Kalsium hidroksid murni lebih dianjurkan untuk pengisian saluran akar samapi 2 mm dari ujung akar radiografik. Kalsium hidroksid diletakkan pada ke dalaman saluran akar kemudian dimasukkan ke dalam apeks dengan plugger atau guttaperca sampai panjang yang tepat. Tujuan utama mengisi penuh dan menutup saluran akar. Ro-foto diperlukan untuk memeriksa ketepatan pengisian saluran akar. 3) Pemanggilan kembali setelah 6 bulan, seharusnya sudah terlihat penutupan bagian apikal. Wenie (1976) menerangkan 5 kemungkinan yang terjadi pada perawatan apeksifikasi. Pedodonsia Terapan 35 Alternatif penutupan akar apeksifikasi : 1) Tidak terdapat penutupan apeks yang jelas tetapi terdapat rintangan jika file dimasukkan. 2) Terjadi calcific bridge pada bagian apeks, dapat dilihat dengan Ro-foto. 3) Penutupan apeks tanpa perubahan ruang saluran akar.

4) Penutupan apeks berlanjut secara normal. 5) Perubahan patologi tambah parah, dilihat dengan Ro-foto. Jika gigi tidak menunjukkan perubahan patologi atau tanda tanda penutupan apeks setelah 3 bulan maka perawatan dianggap gagal. Perawatan diulangi seperti semula, kadang kadang perawatan diulang beberapa kali. Gigi yang telah berhasil dirawat kemudian dilanjutkan dengan perawatan saluran akar. DAFTAR PUSTAKA Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik, terjemahan Sundoro. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia. Cohen, S. and Burns, R.C. 1994. Pathway of the pulp. 6 th ed. St. Louis : Mosby. Guttman, J.L. 1992. Problem Solving in Endodontics, Prevention, identification and management. 2 nd ed., St louis : mosby Year Book. Grossman, L.I., Oliet, S. and Del Rio, C.E., 1988. Endodontics Practice. 11 th ed. Philadelphia : Lea & febiger. Harty. FJ. alih bahasa Lilian Yuono. 1992. Endodontik Klinis. Jakarta : Hipokrates. Ingle, J.L. & Bakland, L.K. 1985. Endodontics. 3 rd ed. Philadelphia : Lea & Febiger. Mardewi, S. K.S.A. 2003. Endodontologi, Kumpulan naskah. Cetakan I. Jakarta : Hafizh. Tarigan, R. 1994. Perawatan Pulpa Gigi (endodonti). Cetakan I, Jakarta : Widya Medika. Walton, R. and Torabinejad, M., 1996. Principles and Practice of Endodontics. 2nd ed. Philadelphia : W.B. Saunders Co. Weine, F.S. 1996. Endodontics Theraphy. 5 th ed. St. Louis : Mosby Year Book. Inc