Anda di halaman 1dari 35

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

MAKALAH SGD
SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI 2

(SLE)

DISUSUN OLEH :

TUTOR 8 Vathnawaty Carmila Yunita Persiyawati Lia Aryanti Maya Hertiningtyas Mita Andriyani Anggun Tio Alamsyah Taufik yusdian Sani Oktoriani Hertika Apriliani Christable Vannia Mirza Shofwa Dwi Andini 220110110007 ( Chair ) 220110110052 (Sciber 1 ) 220110110112 ( Sciber 2 ) 220110110026 220110110098 220110110046 220110110054 220110110016 220110110030 220110110070 220110110121 220110110058 220110110034

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb. Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya karena penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah SGD ini. Makalah SGD ini mengenai kasus SLE (Sistemik Lupus Erithemathosus). Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standar proses pembelajaran pada mata kuliah Sistem Imun dan Hematologi 2. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi perbaikan di hari kemudian. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca. Terima kasih. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jatinangor, Oktober 2012

Penulis

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Systemic Lupus Erytematosus (SLE) atau Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya karena adanya perubahan sistem imun. SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator terjadinya penyakit tersebut (Delafuente, 2002). Berbeda dengan HIV/AIDS, SLE adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh sehingga antibodi yang seharusnya ditujukan untuk melawan bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh berbalik merusak organ tubuh itu sendiri seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Karena organ tubuh yang diserang bisa berbeda antara penderita satu dengan lainnya, maka gejala yang tampak sering berbeda, misalnya akibat kerusakan di ginjal terjadi bengkak pada kaki dan perut, anemia berat, dan jumlah trombosit yang sangat rendah. Perkembangan penyakit lupus meningkat tajam di Indonesia. Menurut hasil penelitian Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ), pada tahun 2009 saja, di RS Hasan Sadikin Bandung sudah terdapat 350 orang yang terkena SLE (sistemic lupus erythematosus). Hal ini disebabkan oleh manifestasi penyakit yang sering terlambat diketahui sehingga berakibat pada pemberian terapi yang inadekuat, penurunan kualitas pelayanan, dan peningkatan masalah yang dihadapi oleh penderita SLE. Masalah lain yang timbul adalah belum terpenuhinya kebutuhan penderita SLE dan keluarganya tentang informasi, pendidikan, dan dukungan yang terkait dengan SLE. Manifestasi klinis dari SLE bermacam-macam meliputi sistemik, muskuloskeletal, kulit, hematologik, neurologik, kardiopulmonal, ginjal, saluran cerna, mata, trombosis, dan kematian janin (Hahn, 2005). Prevalensi SLE sangat bervariasi, semua suku bangsa dapat terkena tetapi lebih sering pada ras kulit hitam. Insidensi tidak diketahui, dapat ditemukan pada semua usia. Dua puluh persen kasus SLE mulai pada masa anak-anak, biasanya anak yang telah berusia lebih dari 8 tahun. Samanta dkk pada penelitian populasi Asia dan kulit putih di Inggris melaporkan kelainan ginjal lebih sering ditemukan di populasi Asia. Wanita lebih sering terkena dibanding laki-laki, dengan perbandingan perempuan dan lakilaki 8:1, dan umumnya pada kelompok usia produktif

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

2.2 Tujuan Penulisan


Menjelaskan konsep dasar penyakit SLE (Systemic Lupus Erytematosus) Memahami pengertian SLE Mamahami tanda dan gejala Memahami klasifikasi SLE Memahami penatalaksanaan penyakit SLE Memahami pengobatan SLE Memahami asuhan keperawatan pada pasien penderita SLE

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

BAB II ANALISA KASUS


2.1 Uraian kasus
Ny M berumur 39 tahun mengeluhkan mata dan muka terasa panas dan gatal disertai dengan nyeri pada bibir dan mult, timbul bintik-bintik pada muka dan bada. Keluhan gatal tersebut semakin jelas apabia terkena sinar matahari. Terdapat kotoran pada mata terutama pada pagi hari. Nyeri sendi sudah lama dirasakan. Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan data: Tekanan darah: 100/60mmHg, Nadi 96x/menit, Suhu 36,3 c Pernapasan =24x/menit, Rambut rontok, mudah dicabut: Wajah Buterfly rush, Mata: nyeri sekret(+), infeksi konjungtiva(+), konjungtiva anemis, Mulut : Ulser mulut, bibir terasa terbakar, dada dan perut ditemukan makula eritema. Hasil pemeriksaan lab, darah rutin ditemukan nilai Hb: 7,6g/dl, LED= 62 mm/jam, leukosit 2400/ul Step 1 1. Makula Eritema(anggun) 2. Ulser ( Taufik ) 3. Buterfly rush( Tika ) 4. LED ( Dini ) Jawaban 3. Buterfly rush: ruam merah yang bentuknya seperti kupu- kupu ( Lia) dan biasanya terdapat diwajah dari hidung sampai pipi (mita) Step 2 1. Kenapa muka dan mata terasa panas? (Taufik) 2. Kenapa keluhan semakin jelas pada saat terkena matahari? (Vania) 3. Mengapa ada kotoran pada mata di pagi hari? ( Maya ) 4. Apakah ada hubungan penyakit ini terkait dengan Hb dan TD ? ( Dini ) 5. Apa yang menyebabkan rambut rontok dan mudah dicabut ? (Sani) 6. Apak diagnose medisnya? (Tika ) 7. Hubungan adanya secret dengan penyakit ini? (Lia ) 8. Apa penyebab nyeri sendi?( Mita )

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 9. Kenapa diperut ditemukan Makula Eritema? ( Fathnawati )

Step 3 1. -Karena leukosit merah merah.( Tika) -Karena sensitive terhadap cahaya matahari ada beberapa penyakit yang disebabkan karena terkena cahaya matahari .(Mirza) 2. Karena terkena cahaya matahari/langsung terpapar matahari.( Mirza ) 3. Karena Sakit terjadi respon inflamasi Sekret bangun tidur kotoran maka terjadi infeksi dan menyebabkan respon inflamasi seperti panas dan

menumpuk di mata (Fathnawati) 4. Penyakit lupus antibody menyerang tubuh sendiri termasuk menyerang eritrosit Hb

menjadi turun (Anggun) 5. Sel sel rambut butuh suplay oksigen dan nutrisi pada penyakit ini Hb rendah suplai oksigen kurang,rambut jadi mudah dicabut karena kurang protein juga. ( Maya ) 6. Diagnosa medis: SLE ( Vania ) 7. Sekret merupakan mekanisme pertahanan tubuh 8. Hb rendah O2 rendah metabolism terganggu (+) anaaerob penimbunan asam laktat

Leukosit rendah

daya tahan tubuh turun maka terjadi proses inflamasi (Tio)

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) Step 4

Mindmap Definisi Etiologi Tanda dan gejala

Penatalaksanan

SLE

Klasifikasi

Patofisiologi Askep

Pengkajian

Analisa data

diagnosa

Intervensi

Anamnesa Pemeriksaan fisik Pemeriksaan diagnostik

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

2.2 Tinjauan Pustaka Kasus


a. Anatomi dan Fisiologi

Sistem kekebalan atau sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh
Fungsi sistem imun: 1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh 2. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk perbaikan jaringan. 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) Tipe sistem imun Secara umum sistem imun manusia terbagi dalam dua, yaitu : Sistem imun alamiah terentang luas, mulai dari air mata, air liur, keringat (dengan pHnya yang rendah/asam), bulu hidung, kulit, selaput lendir, laktoferin dan asam neuraminik (pada air susu ibu), sampai asam lambung termasuk di dalamnya. Secara lebih mendetail di dalam cairan tubuh seperti air mata atau darah terdapat komponen sistem imun alamiah yang antara lain terdiri dari fasa cair seperti IgA (Imunoglobulin A), Interferon, Komplemen, Lisozim, ataupun c-reactive protein (CRP). Sementara fasa seluler terdiri dari sel-sel pemangsa (fagosit) seperti sel darah putih (polymorpho nuclear/PMN), sel-sel mono nuklear (monosit atau makrofag), sel pembunuh alamiah (Natural Killer), dan sel-sel dendritik. Sistem imun adaptif terdapat sistem dan struktur fungsi yang lebih kompleks dan beragam. Sistem imun adaptif terdiri dari sub sistem seluler yaitu keluarga sel limfosit T (T penolong dan T sitotoksik) dan keluarga sel mono nuklear (berinti tunggal). Sub sistem kedua adalah sub sistem humoral, yang terdiri dari kelompok protein globulin terlarut yaitu: Imunoglobulin G,A,M,D, dan E. Imunoglobulin dihasilkan oleh sel limfosit B melalui suatu proses aktivasi khusus, bergantung kepada karakteristik antigen yang dihadapi. Secara berkesinambunangan dalam jalinan koordinasi yang harmonis, sistem imun baik yang alamiah maupun adapatif senantiasa bahu-membahu menjaga keselarasan interaksi antara sistem tubuh manusia dengan media hidupnya (ekosistem).

Mekanisme kerja sistem imun Keberadaan mikroba patogen dapat menimbulkan dampak-dampak yang tidak diharapkan akan memicu sistem imun untuk melakukan tindakan dengan urutan mekanisme sebagai berikut : introduksi, persuasi, dan represi. Meskipun komplemen dapat diasosiasikan sesuai artinya, yaitu pelengkap, namun sesungguhnya fungsinya amatlah vital. Faktor komplemen bertugas untuk menganalisa masalah untuk selanjutnya mengenalkannya kepada imunoglobulin, untuk selanjutnya akan diolah dandipecah-pecah menjadi bagian-bagian molekul yang tidak berbahaya bagi tubuh. Setelah itu limfosit T bekerja dengan memakan mikroba patogen. Sel limfosit terdiri dari dua spesies besar, yaitu limfosit T dan B. Bila limfosit B kelak akan bermetamorfosa menjadi sel plasma dan selanjutnya akan menghasilkan imunoglobulin (G,A,M,D,E), maka sel T akan menjadi divisi T helper, T sitotoksik, dan T supresor.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) Dalam kondisi yang berat akan terjadi beberapa proses berikut : sel limfosit T akan meminimalisasi efek patogenik dari mikroba patogen dengan cara bekerjasama dengan antibodi untuk mengenali dan merubah antigen dari mikroba patogen menjadi serpihan asam amino melalui sebuah mekanisme yang disebut Antibody Dependent Cell Cytotoxicity (ADCC). Selain itu sel limfosit T bersama dengan sel NK (Natural Killer) dan sel-sel dendritik dapat bertindak langsung secara represif untuk menghentikan kegiatan mikroba patogen yang destruktif melalui aktivitas kimiawi zat yang disebut perforin. Dalam beberapa kondisi khusus, sel limfosit T dapat memperoleh bantuan dari sel makrofag yang berperan sebagai Antigen Presenting Cell (APC) alias sel penyaji antigen. Sedangkan Sel limfosit B bertugas untuk membangun sistem manajemen komunikasi terpadu di wilayah cairan tubuh (imunitas humoral). Bila ada antigen dari unsur asing yang masuk, maka sel limfosit B akan merespon dengan cara membentuk sel plasma yang spesifik untuk menghasilkan molekul imunoglobulin yang sesuai dengan karakteristik antigen dari unsur asing tersebut.

Antibodi Jika dirangsang oleh suatu antigen, limfosit B akan mengalami pematangan menjadi selsel yang menghasilkan antibodi. Antibodi merupakan protein yang bereaksi dengan antigen yang

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) sebelumnya merangsang limfosit B. Antibodi juga disebut immunoglobulin. Setiap molekul antibodi memiliki suatu bagian yang unik, yang terikat kepada suatu antigen khusus dan suatu bagian yang strukturnya menerangkan kelompok antibodi. Terdapat 5 kelompok antibodi: a. IgM adalah antibodi yang dihasilkan pada pemaparan awal oleh suatu

antigen. Contohnya, jika seorang anak menerima vaksinasi tetanus I, maka 10-14 hari kemudian akan terbentuk antibodi antitetanus IgM (respon antibodi primer). IgM banyak terdapat di dalam darah tetapi dalam keadaan normal tidak ditemukan di dalam organ maupun jaringan. b. IgG merupakan jenis antibodi yang paling umum, yang dihasilkan pada pemaparan antigen berikutnya. Contohnya, setelah mendapatkan suntikan tetanus II (booster), maka 5-7 hari kemudian seorang anak akan membentuk antibodi IgG. Respon antibodi sekunder ini lebih cepat dan lebih berlimpah dibandingkan dengan respon antibodi primer. IgG ditemukan di dalam darah dan jaringan. IgG merupakan satu-satunya antibodi yang dipindahkan melalui plasenta dari ibu ke janin di dalam kandungannya. IgG ibu melindungi janin dan bayi baru lahir sampai sistem kekebalan bayi bisa menghasilkan antibodi sendiri. c. IgA adalah antibodi yang memegang peranan penting pada pertahanan tubuh terhadp masuknya mikroorganisme melalui permukaan yang dilapisi selaput lendir, yaitu hidung, mata, paru-paru dan usus. IgA ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh (pada saluran pencernaan, hidung, mata, paru-paru, ASI). d. IgE adalah antibodi yang menyebabkan reaksi alergi akut (reaksi alergi segera). IgE penting dalam melawan infeksi parasit (misalnya river blindness dan skistosomiasis), yang banyak ditemukan di negara berkembang. e. IgD adalah antibodi yang terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam darah. Fungsinya belum sepenuhnya dimengerti.

Pertahanan Sistem Imun Saat tubuh terserang atau diinfasi oleh bakteri atau virus atau mikro organmisme pathogen lainya maka ada tiga macam cara yang dilakukan tubuh untuk mempertahankan dirinya sendiri, yaitu :

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) a. Respon imun fagositik Meliputi sel darah putih (granulosit dan makrofag) yang dapt memakan partikel-partikel asing. Sel ini kan bergerak ketempat serangan dan kemudian menelan serta menghancurkan mikroorganism penyerang. b. Respon humoral (respon anti body) Respon ini mulai bekerja dengan terbentuknya limfosit yang dapat mengubah dirinya menjadi sel-sel plasma yang menghasilkan antibody. Antibodi ini merupakan protein yang sangat spesifik diangkut dalam aliran darah dan memiliki kemampuan untuk melumpuhkan penyerangnya. c. Respon imun seluler Respon ini melibatkan limfosit yang mengubah dirinya menjadi sel plasma juga dapat berubah menjadi sel-sel T sitotoksik khusus yang dapat menyerang mikroorganisme patogen itu sendiri. Stadium Respon Imun Ada empat stadium yang batasnya jelas dalam sutu respon imun,yaitu: a. Stadium pengenalan Dasar setiap seaksi imun adalah pengenalan dimana kemampuan dari system imunitas untuk mengenali anti gen sebagai unsure yang asing atau bukan dagian dari dirinya sendiri. Tubuh akan melaksanakan pengenalan ( recognition) dengan m,engunakan nodus limfatikus dan limfosit sebagai pengawas (surveilans). Nodus limfatikus atau kelenjar limfe tersebar luas diseluruh tubuh dan akan melepaskan limfosit berukuran kecil kedalam alira darah. Limfosit ini akan mengawasi jaringan dan pembuluh limfe yang mengalirkan cairan limfe dari daerah yang dilayani oleh nodus limfatikus tersebut untuk membentuk system kekebalan. Ketika bahan asing masuk kedalam tubuh, limfosit yang beredar akan mendekati dan melakukan kontak fisik dengan permukaan antigen. Begitu terjadi kontak, limfosit dengan bantuan makrofa dapat menghilangkan anti gen dalam permukaan dengan cara mengambil cetakan stukturnya. b. Stadium poliferasi Limfosit yang beredar dan mengandung pesan antigenic akan kembali pada nodus limfatikus terdekat. Ketika dalam nodus limfatikus, limfosit yang sudah disensitisasi akan menstimulasi limfosit yang aktif untuk membesar, membelahdiri, mengadakan poliferasi, dan berdeferensiasi menjadi limfosit T atau B.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

c. Stadium respon Dalam stadium respon, limfosit yang sudah berubah akan berfungsi dengan cara humoral atau seluler. Respon humoral inisial memproduksi antibodi oleh limfosit B sebagai reaksi terhadap antigen spesifik. Antibody dilepaskan kedalam aliran darah dan berdiam didalam plasma atau fraksi darah berupa cairan. Dalam respon seluler inisial limfosit yang sudah disensitisasi dan kembali kenodus limfatikus akan bermigrasi ke daerah lain untuk mejadi sel-sel Yang akan menyerang langsung mikroba bukan lewat kerja antibody. Limfosit ini dikenal sebagai sel T sitotoksit. Respon seluler tampak dengan manivestasi melaui peningkatan jumlah limfosit. d. Stadium efektor Dalam stadium efektor, antibody dri respon humoral atau seltis sitotoksit dari respon seluler akan menjangkau antigen dan terangkai pada permukaan objek yang asing.

2.2.1 Definisi
Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES) penyakit autoimun sistemik yang ditandai dengan adanya autoantibodi terhadap autoantigen, pembentukan kompleks imun, dan disregulasi sistem imun yang menyebabkan kerusakan pada beberapa organ tubuh. Perjalanan penyakitnya bersifat episodik (berulang) yang diselingi periode sembuh. Sistem imun normal akan melindungi kita dari serangan penyakit yang diakibatkan kuman, virus, dan lain-lain dari luar tubuh kita. Tetapi pada penderita lupus, sistem imun menjadi berlebihan, sehingga justru menyerang tubuh sendiri, oleh karena itu disebut penyakit autoimun. Penyakit ini akan menyebabkan keradangan di berbagai organ tubuh kita, misalnya: kulit yang akan berwarna kemerahan atau erythema, lalu juga sendi, paru, ginjal, otak, darah, dan lain-lain. Oleh karena itu penyakit ini dinamakan sistemik karena mengenai hampir seluruh bagian tubuh kita. Jika Lupus hanya mengenai kulit saja, sedangkan organ lain tidak terkena, maka disebut LUPUS KULIT (lupus kutaneus) yang tidak terlalu berbahaya dibandingka Lupus yang sistemik (Sistemik Lupus /SLE). Pada setiap penderita, peradangan akan mengenai jaringan dan organ yang berbeda adalah penyakit radang atau infamasi. SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi terjadi akibat fungsi sel T supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya merangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali. Penyakit SLE menyerang penderita usia produktif yaitu 1564 tahun.

2.2.2 Etiologi
Penyebab terjadinya LES belum diketahui. Berbagai faktor dianggap berperan dalam disregulasi sistem imun. Faktor Resiko terjadinya SLE:

1. 2.

Faktor Genetik Jenis kelamin, frekuensi pada wanita dewasa 8 kali lebih sering dari pada pria dewasa Umur, biasanya lebih sering terjadi pada usia 20-40 tahun Faktor Resiko Hormon

Hormon estrogen menambah resiko SLE, sedangkan androgen mengurangi resiko ini. 3. Sinar UV

Sinar Ultra violet mengurangi supresi imun sehingga SLE kambuh atau bertambah berat. Ini disebabkan sel kulit mengeluarkan sitokin dan prostaglandin sehingga terjadi inflamasi di tempat tersebut maupun secara sistemik melalui peredaran pebuluh darah 4. Imunitas

Pada pasien SLE, terdapat hiperaktivitas sel B atau intoleransi terhadap sel T 5. Obat

Obat tertentu dalam presentase kecil sekali pada pasien tertentu dan diminum dalam jangka waktu tertentu dapat mencetuskan lupus obat (Drug Induced Lupus Erythematosus atau DILE). Jenisobat yang dapat menyebabkan Lupus Obat adalah : Obat yang pasti menyebabkan Lupus obat : Kloropromazin, metildopa, hidralasin,

prokainamid, dan isoniazid 6. Obat yang mungkin menyebabkan Lupus obat : dilantin, penisilamin, dan kuinidin Infeksi

Pasien SLE cenderung mudah mendapat infeksi dan kadang- kadang penyakit ini kambuh setelah infeksi

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 7. Stres

Stres berat dapat mencetuskan SLE pada pasien yang sudah memiliki kecendrungan akan penyakit ini.

Manifestasi Klinis

Rambut yang sering rontok Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu(butterfly rash)
Makula eritoma : Kelainan pada kulit berupa kemerahan yang disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah kapiler yang bersifat reversibel.

Kulit yang mudah gosong akibat sinar matahari

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

a.

Sistem Muskuloskeletal Artralgia, artritis (sinovitis), pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari

b.

System integument Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung serta pipi. Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.

c.

System kardio Perikarditis merupakan manifestasi kardio.

d.

System pernafasan Pleuritis atau efusi pleura

e.

System vaskuler Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan berlanjut nekrosis.

f.

System perkemihan Glomerulus renal.

g.

System syaraf

Spektrum gangguan sistem saraf pusat sangat luas dan mencakup seluruh bentuk penyakit neurologik, sering terjadi depresi dan psikosis.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

2.2.3 Klasifikasi
1. Discoid Lupus Lesi berbentuk lingkaran atau cakram dan ditandai oleh batas eritema yang meninggi, skuama, sumbatan folikuler, dan telangiektasia. Lesi ini timbul di kulit kepala, telinga, wajah, lengan, punggung, dan dada. Penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan karena lesi ini memperlihatkan atrofi dan jaringan parut di bagian tengahnya serta hilangnya apendiks kulit secara menetap. 2. Systemic Lupus Erythematosus SLE merupakan penyakit radang atau inflamasi multisistem yang disebabkan oleh banyak faktor dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan disregulasi sistem imun berupa peningkatan sistem imun dan produksi autoantibodi yang berlebihan 3. Lupus yang diinduksi oleh obat Lupus yang disebabkan oleh induksi obat tertentu khususnya pada asetilator lambat yang mempunyai gen HLA DR-4 menyebabkan asetilasi obat menjadi lambat, obat banyak terakumulasi di tubuh sehingga memberikan kesempatan obat untuk berikatan dengan protein tubuh. Hal ini direspon sebagai benda asing oleh tubuh sehingga tubuh membentuk kompleks antibodi antinuklear (ANA) untuk menyerang benda asing tersebut.

2.2.4 Penatalaksanaan Pemeriksaan diagnostik dan lab


Pemeriksaan Autoantibodi Anti ds-DNA Batas normal : 70 200 IU/mL Negatif Positif : < 70 IU/mL : > 200 IU/mL

Antibodi ini ditemukan pada 65% 80% penderita dengan SLE aktif dan jarang pada penderita dengan penyakit lain. Jumlah yang tinggi merupakan spesifik untuk SLE sedangkan kadar rendah sampai sedang dapat ditemukan pada penderita dengan penyakit

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

reumatik yang lain, hepatitis kronik, infeksi mononukleosis, dan sirosis bilier. Jumlah antibodi ini dapat turun dengan pengobatan yang tepat dan dapat meningkat pada

penyebaran penyakit terutama lupus glomerulonefritis. Jumlahnya mendekati negatif pada penyakit SLE yang tenang (dorman). Antibodi anti-DNA merupakan subtipe dari Antibodi antinukleus (ANA). Ada dua tipe dari antibodi anti-DNA yaitu yang menyerang double-stranded DNA (anti ds-DNA) dan yang menyerang single-stranded DNA (anti ss-DNA). Anti ss-DNA kurang sensitif dan spesifik untuk SLE tapi positif untuk penyakit autoimun yang lain. Kompleks antibodiantigen pada penyakit autoimun tidak hanya untuk diagnosis saja tetapi merupakan konstributor yang besar dalam perjalanan penyakit tersebut. Kompleks tersebut akan menginduksi sistem komplemen yang dapat menyebabkan terjadinya inflamasi baik lokal maupun sistemik. -Antinuclear antibodies (ANA) Harga normal : nol ANA digunakan untuk diagnosa SLE dan penyakit autoimun yang lain. ANA adalah sekelompok antibodi protein yang bereaksi menyerang inti dari suatu sel. ANA cukup sensitif untuk mendeteksi adanya SLE, hasil yang positif terjadi pada 95% penderita SLE. Tetapi ANA tidak spesifik untuk SLE saja karena ANA juga berkaitan dengan penyakit reumatik yang lain. Jumlah ANA yang tinggi berkaitan dengan kemunculan penyakit dan keaktifan penyakit tersebut.Setelah pemberian terapi maka penyakit tidak lagi aktif sehingga jumlah ANA diperkirakan menurun. Jika hasil tes negatif maka pasien belum tentu negatif terhadap SLE karena harus dipertimbangkan juga data klinik dan tes laboratorium yang lain, tetapi jika hasil tes positif maka sebaiknya dilakukan tes serologi yang lain untuk menunjang diagnosa bahwa pasien tersebut menderita SLE. ANA dapat meliputi anti-Smith (anti-Sm), anti-RNP (anti-ribonukleoprotein), dan antiSSA (Ro) atau anti-SSB (La).

Pemeriksaan darah

-Laju Endap Darah: Untuk mengukur peradangan dan tidak berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit Rontgen dada

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

Analisa urin menunjukkan adanya darah atau protein

Uji ini dilakukan untuk menentukan adanya komplikasi ginjal dan untuk memantau perkembangan penyakit ini. Biopsi ginjal Pemeriksaan saraf. Pemeriksaan Serum: Untuk mengetahui anemia yang sedang hingga berat,

trombositopenia, leukositosis dan leukopenia. Pemeriksaan diagnostik: a. Pada ginjal : - Pemeriksaan air seni - Urine yang dikumpulkan selama 24 jam - Pemeriksaan darah - X-ray - Biopsy ginjal b. Pada jantung : - Pemeriksaan darah - EKG c. Pada paru : - Pemeriksaan darah - Sputum ( ludah/dahak) - Rontgen - Bronchoscopy /biopsy paru d. Pada syaraf : - CT-Scan - MRI - Gelombang otak EEG - Pengambilan sumsum tulang belakang

Pengobatan
Terapi Non Farmakologi 1. Edukasi Edukasi penderita memegang peranan penting mengingat SLE merupakan penyakit yang kronis, dapat reda (remisi) dan kambuh (flare up).Penderita perlu dibekali informasi yang cukup tentang berbagai manifestasi klinis yang mungkin dialami, tingkat keparahan yang

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

berbeda-beda sehingga penderita dapat memahami dan tidak merasa cemas yang berlebihan. Pada wanita usia reproduktif sangat penting diberikan pemahaman bahwa bila merencanakan punya anak, sebaiknya kehamilan terjadi saat remisi, sehingga dapat mengurangi kemungkinan flare up dan risiko kelainan pada janin maupun penderita selama hamil. Disamping itu penderita juga akan menggunakan berbagai obat dalam jangka panjang, termasuk yang berpotensi efek samping bermakna terhadap kondisi kesehatan seperti steroid dan imunosupresan. 2. Dukungan social dan psikologis Bisa diberikan oleh perawat,keluarga, teman dan peran peer group. 3. Istirahat Penderita SLE sering mengalami fatigue sehingga perlu istirahat yang cukup, sambil dipikirkan kemungkinan penyebab lain seperti hipotiroid, fibromialgia dan depresi. 4. Tabir Surya Sinar matahari Mengeluarkan radiasi dalam 3 gelombang, yaitu gelombang A, B dan C. Tetapi hanya gelombang A (UVA/tanning) dan B (UVB/burning) yang berbahaya bagi pasien SLE. Efek dari sinar matahari terhadap kulit dipengaruhi oleh kuantitas dan lamanya terpapar matahari. UVA muncul sepanjang hari, sedangkan UVB (yang lebih berbahaya bagi pasien SLE) terutama muncul sekitar jam 10 pagi sampai dengan jam 3 sore. Disarankan untuk pasien SLE agar melakukan aktivitas diluar rumahnya pada pagi hari (sebelum jam 10 pagi) atau sore hari (setelah jam 3 sore) untuk menghindari periode puncak UVB. Beberapa obat yang meningkatkan sensitivitas terhadap matahari diantaranya antibiotik yang mengandung sulfa dan beberapa tetrasiklin. Penggunaan sunblock/tabirsurya penting bagi penderita SLE. Pada tabir surya terteratulisan SPF (sun protection factor). Tabir surya dengan SPF 15 artinya ketika memakai tabir surya tersebut maka kita akan dilindungi 15 kali lebih baik dibandingkan yang tidak memakai tabir surya. 5. Olah Raga Olah raga memegang peranan penting dalam penatalaksanaan SLE. Olah raga dapat meningkatkan kekuatan otot, meningkatkan fleksibilitas, dan mencegah osteoporosis. Aktivitas berjalan kaki, berenang, dan bersepeda bisa menjadi pilihan. Aktivitas olah raga

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

bisa dimulai dengan berjalan kaki selama 5 menit 2 kali seminggu, bertahap ditingkatkan sampai berjalan kaki selama 1 jam setiap 3-5 kali/minggu. 6. Diet Pasien SLE disarankan untuk mengkonsumsi makanan bernutrisi dan memiliki kandungan gizi seimbang. Minyak ikan dapat menjadi makanan pengganti, tetapi minyak ikan dapat menimbulkan efek samping iritasi lambung, dan dibutuhkan 8-10 kapsul/hari untuk menggantikan 1 ekor ikan. 7. Monitor ketat Penderita SLE mudah mengalami infeksi sehingga perlu diwaspadai bila terdapat demam yang tidak jelas penyebabnya. Risiko infeksi juga meningkat sejalan dengan pemberian obat imunosupresan dan steroid. Risiko kejadian penyakit kardiovaskuler, osteoporosis dan keganasan juga meningkat pada penderita SLE, sehingga perlu pengendalian faktor risiko seperti merokok, obesitas, dislipidemia dan hipertensi TERAPI FARMAKOLOGIS Terapi biologis 1. Aktivasi sel T, interaksi sel T dan sel B, deplesi sel B Perkembangan terapi terakhir telah memusatkan perhatian terhadap fungsi sel B dalam mengambil autoantigen dan mempresenasikannya melalui immunoglobulin spesifik terhadap sel T di permukaan sel, selanjutnya mempengaruhi respon imun dependen sel T. 2. Anti CD 20 adalah suatu antibodi monoklonal yang melawan reseptor CD 20 yang dipresentasikan limfosit B. Anti CD 20 Anti CD 20 (Rituximab) memiliki potensi terapi untuk SLE refrakter.Beberapa penelitian memberikan keberhasilan terapi pada manifestasi lupus refrakter seperti sistem saraf pusat, vaskulitis dan gangguan hematologi. 3. LJP 394 LJP 394 (Abetimus sodium) telah dirancang untuk mencegah rekurensi flare renal pada pasien nefritis dengan cara mengurangi antibodi terhadap ds-DNA melalui toleransi spesifik antigen secara selektif. Substansi ini merupakan suatu senyawa sintetik yang terdiri dari rangkaan deoksiribonukleotida yang terikat pada rantai trietilen glikol.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

4. Anti B lymphocyte stimulator Stimulator limfosit B (BLyS) merupakan bagian dari sitokin TNF (Tumor Necrosis Factor), yang mempresentasikan sel B. LymphoStatB merupakan antibodi monoklonal terhadap BLyS. 5. Anti malaria Obat anti malaria yang digunakan pada SLE adalah hidroksiklorokuin, klorokuin, dan quinakrin.Digunakan untuk manifestasi konstitusional, kulit, muskuloskeletal dan serositis.Kombinasi obat antimalaria memiliki efek sinergis bila penggunaan satu macam obat tidak efektif.Hidroksiklorokuin (200-400 mg/hari), klorokuin (250mg) dan quinakrin (100mg/hari) sebagai steroid sparing agent memiliki efek samping yang ringan dan reversible, yaitu perubahan warna kulit menjadi kekuningan.

T.Hormon seks Bromokriptin yang secara selektif menghambat hipofise anterior untuk mensekresi prolaktin terbukti bermanfaat mengurangi aktivitas penyakit Lupus.Dehidroepiandrosteron (DHEA) bermanfaat untuk SLE dengan aktivitas ringan sampai sedang.Danazole (steroid sintetik) dengan dosis 400-1200 mg/hari bermanfaat untuk mengotrol sitopenia autoimun terutama trombositopenia dan anemia hemolitik.Estrogen replacement therapy (ERT) dapat dipertimbangkan pada pasienpasien SLE yang mengalami menopause, namun masih terdapat perdebatan mengenai kemungkinan ERT dalam menimbulkan flare SLE. ERT juga harus ditunda pada pasien dengan riwayat trombosis.

T. Kortikosteroid Efektif untuk menangani berbagai manifestasi klinis SLE.Sediaan topikal atau intralesi digunakan untuk lesi kulit dan arthritis, sedangkan sediaan oral atau parenteral untuk kelainan sistemik. Dosis per oral bervariasi dari 5-30 mg prednisone (metilprednisolon dosis setara) per hari secara tunggal pagi hari atau dosis terbagi, efektif untuk mengatasi manifestasi konstitusional, kulit, arthritis dan serositis. Steroid parenteral biasanya hanya digunakan pada keadaan yang sangat berat, mengancam jiwa, dengan dosis metilprednisolon bolus 1000 mg selama 3 hari berturut-turut. NSAIDs (Non Steroid Anti Inflammatory Drug)

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

Digunakan untuk mengatasi nyeri musculoskeletal, pleuritis, perikarditis dan nyeri kepala.Efek samping NSAIDs pada ginjal, hati, sistem syaraf pusat harus dibedakan dengan aktifitas lupus yang menghebat.Adanya proteinuria yang baru timbul atau perburukan fungsi ginjal dapat disebabkan oleh aktivitas SLE atau efek NSAIDs.Gangguangastrointestinal merupakan efek samping paling sering ditimbulkan oleh inhibitor COX non-selektif.Inhibitor COX-2 selektif lebih sedikit efek sampingnya pada gastrointestinal. Pada penderita SLE yang mengalami kehamilan golongan ini sebaiknya dihindarkan karena dapat mengakibatkan kelainan congenital pada duktus arteriosus dan sedikit diekskresikan dalam air susu. T. Plasmaferesis Peranan plasmafaresis pada lupus yang mengancam nyawa masih kontroversi.Indikasinya adalah kasus lupus disertai krioglobulinemia, sindroma hiperviskositas dan TTP (Thrombotyc Thrombocytopenic Purpura). T. Immunoglobulin intravena Immunoglobulin intravena (IV Ig) adalah imunomodulator dengan mekanisme kerja luas, meliputi blokade reseptor Fc, regulasi komplemen dan sel T. tidak seperti imunosupresan, IV Ig tidak mempunyai efek meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Dosis 400 mg/kgBB/hari selama 5 hari berturut-turut memberikan perbaikan pada trombositopenia, arthritis, nefritis, demam, manifestasi kulit dan parameter imunologis. Efek samping yang terjadi adalah demam, mialgia, sakit kepala dan artralgia, serta kadang meningitis aseptic.Kontraindikasi diberikan pada penderita SLE dengan defisiensi Ig A.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

2.2.6 PATOFISIOLOGI

Faktor presdiposisi Sle(genetic,hormone,obatan dan ras) Auto antibody T helper daripada T supresor

Antigen dan antigen plasma Antibodi berikatan dengan antigen Mengaktivasi komplemen antigen dan antibody Kompleks antigen-antibodi Persendian inflamasi arthritis Nyeri

Pada antigen sel darah Destruksi sel darah Anemia(Hb<) Intoleransi aktivitas Lupus Vaskulitis Katabolisis Protein sel mukosa mudah rusak luka pada mukosa dan mulut Gg Integritas Kulit Perubahan fisik Leukopeni Infeksi resti perluasan infeksi

Gangguan citra tubuh

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
Biodata Nama : Ny M Umur : 39 tahun Jenis kelamin : perempuan Keluhan utama : Mata dan muka terasa panas dan gatal Riwayat kesehatan : 1. Sekarang : P: apa yang bisa memperberat timbul mata dan muka panas dan gatal ? Q: konsistensi feses ?/ kuantitas gatal? R: dimana terasa panas dan gatal? S: T: kapan terjadi gatal dan panas teras ? Pemeriksaan fisik TTV : TD 100/60, suhu 36,3 C, respirasi 24x/mnt, nadi 96x/mnt, Inpeksi : - Rambut mudah rontok,mudah dicabut -Wajah: Buterfly rush -Mata: Nyeri,secret(+),Injeksi Konjuctiva,Konjuctiva anemis -Mulut: Ulser,bibir terasa terbakar -Dada dan perut: Makula eritema

Pemeriksaan diagnostik Darah rutin ditemukan nilai Hb=7,6 gr/dl LED=62 mm/jam, leukosit=2400/ul

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

B. Analisa Data No Data yang menyimpang 1 Ds : mengeluh bintik bintik pada muka dan badan Do : Buterfly rush Katabolisis protein Etiologi Lupus Vaskulitis masalah Gg Integritas kulit

Sel mukosa,kulit mudah rusak

Luka pada mukosa dan bibir + inflamasi

Ggn Integritas kulit

Ds : Do : -

Antigen pd sel darah

Resiko perluasan infeksi

Destruksi sel darah

Leukopeni

Infeksi 3 Ds : Nyeri Do : O2 ke jaringan kurang Hb rendah Nyeri

Metabolisme anaerob

Timbunan asam laktat Nyeri

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 4 Ds : nyeri Do : Hb=7,6 Destruksi sel darah Pada antigen sel darah Intoleransi Aktivitas

Anemia Intoleransi Aktivitas 5 Ds : Buterfly rush,Makula eritema Buterflu rush Do : Tidak efektifnya koping R gg citra tubuh Manifestasi klinis Sle Resiko Gg Citra Tubuh

C. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko Perluasan infeksi berhubungan dengan leukopeni yang ditandai dengan leukosit =2400 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan jumlah energi ditandai dengan Hb 7,6(anemia) 3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit yang ditandai butterfly rush dan bintik bintik dimuka dan badan 4. Nyeri berhubungan dengan efusi sendi yang ditandai klien mengeluh nyeri sendi 5. R. gg citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik yang ditandai dengan butterfly rush

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

D. Asuhan Keperawatan No. 1 Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penurunan integritas jaringan

Setelah diberi perawatan, luka di mulut dan butterfly rush berkurang

-Kolaborasi pemberian antibiotik dan antifungal lokal -Anjurkan klien seminimal mungkin mungkin menyentuh area luka -Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik -Bantu klien melakukan oral higiene -Berikan suplemen vit C -Berikan diet tinggi

-mencegah perluasan luka akibat infeksi

-mencegah perluasan luka akibat infeksi dan manipulasi tangan

-oral higiene membantu membersihkan mulut dari mikroorganisme

protein, pilih yang mudah penyebab infeksi dicerna di mulut - meningkatkan antioksidan dan memperkuat jar ikat mukosa

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 2

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan

Setelah dilakukan perawatan klien nyaman dengan pola aktivitas saat

1. Monitor tanda vital saat klien beraktivitas 2. Anjurkan klien untuk beraktivitas sesuai kemampuan dan anjurkan klien untuk memberikan periode istirahat 3. meminimalisir penggunaan energi 4. Anjurkan bed rest setelah periode excacerbasi 5. Dorong penggunaan alat bantu 6. Dekatkan benda2 yang dibutuhkan klien dekat dengan klien 7. Monitor tingkat Hb klien 8. Jika sangat dibutuhkan kolaborasi pemberian PRC

- Penurunan Hb dapat terjadi anemia yang dapat menunjukkan klien intoleran terhadap aktivitas

penurunan jumlah ini, aktivitas sesuai energi dengan batas toleransi klien

- meningkatkan adaptasi klien terhadap aktivitas

- menghemat energi untuk aktivitas yang lebih penting

- Hb dibutuhkan untuk membawa oksigen untuk pembentukan energi

-pemberian

PRC

dapat meningkatkan Hb

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 3

Resiko Perluasan infeksi berhubungan dengan leukopeni

Supaya tidak terjadi infeksi

1. Bantu klien memenuhi kebutuhan personal higiene 2. Atasi infeksi yang telah ada dengan kolaborasi pemberian antibiotik 3. Batasi jumlah pengunjung untuk klien 4. Jaga lingkungan selalu bersih 5. Lakukan perawatan luka jika ada secara aseptik 6. Kaji kemungkinan timbulnya gangguan integritas kulit 7. Pastikan kuku dan tangan klien bersih dan anjurkan klien untuk tidak menggaruk yang area gatal dengan kuku

- oral higiene membantu membersihkan mulut dari mikroorganisme penyebab infeksi

- Untuk mengurangi rasa nyeri

- Untuk mengurangi resiko infeksi dari pengunjung yang dating

- Lingkungan yang bersih bisa terhindar dari bakteri yang dapat menambah infeksi

- Kuku banyak terdapat bakteri dan kuman

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

8. Pisahkan klien dengan klien lain yang memiliki penyakit infeksius

Nyeri berhubungan dengan efusi sendi

Setelah perawatan

dilakukan - Kaji skala nyeri pasien

- nyeri merupakan

nyeri - Atur posisi imobilisasi respon subjektif pada daerah nyeri. -Bantu klien yang dapat dikaji dalam dengan skala nyeri. factor -imobilisasi yang

dapat teratasi

mengidentifikasi pencetus.

-Jelaskan dan bantu klien adekuat dapat dengan tindakan pereda mengurangi nyeri. nyeri non farmakologi dan non invasive. -nyeri dipengaruhi

-Ajarkan teknik distraksi oleh kecemasan dan dan relaksasi. pergerakan sendi

.pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan tindakan non farmakologi lain menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

-teknik ini dapat membantu mengurangi nyeri.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE) 5

R. gg citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik

Klien tidak sedih dan mampu berkomunikasi dengan orang terdekatnya

-Sediakan

waktu - penguat yang ada

dengan orang terdekat dapat untuk mengekspresikan membangkitkan perasaan Observasi semangat klien dan makna menerima terapi. yang - mengekspresikan

peerubahan dialami klien

- Membantu mengenali perasaan membantu mekanisme efektif -Dorong verbalisasi mengetahui perasaan klien tentang keadaannya dan kontrol emosinya. koping memudahkan koping.

persepsi dan rasa takut

-dugaan masalah pada penilaian yang dapat memerlukan evaluasi lanjut dan terapi lebih ketat. -Jelaskan bahwa keadaan klien masih dapat berubah ke arah yang lebih baik asalkan klien menaati pengobatan.

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

BAB III SIMPULAN


1.1 Simpulan
Systemic Lupus Erytematosus (SLE) atau Lupus Eritematosus Sistemik (LES) adalah penyakit radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya karena adanya perubahan sistem imun. SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks.

Etiologi: Belum diketahui secara pasti tap ada beberpa factor pencetus: -F. Genetik -F. Sinar UV -Hormon -Imunitas -Infeksi -Obat Tanda dan gejala umum : Poliatralgia (nyeri sendi) dan artritis (peradangan sendi) Demam akibat peradangan kronik Ruam wajah dalam pola malar (seperti kupu-kupu) di pipi dan hidung. Kata lupus berarti serigala dan mengacu pada penampakan topeng seperti serigala Lesi dan kebiruan di ujung jari akibat buruknya aliran darah dan hipoksia kronik Sklerosis (pengencangan atau pengerasan) kulit jari tangan Luka di selaput lendir atau faring (sariawan) Lesi berskuama di leher, dan punggung Edema mata dan kaki mungkin mencerminkan keterlinbatan ginjal dan hipertensi Anemia, kelemahan kronik, infeksi berulang, dan perdarahan sering terjadi karena seranan terhadap sel darah merah dan putih serta trombosit

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

Klasifikasi lupus ada 3 yaitu 1.Diskoid lupus(kulit) 2.SLE: Lupus sistemik mengenai semua organ di tubuh 3.Lupus karena obat- obatan

Pengobatan dibagi atas nonfarmakologi dan farmakologi: Nonfarmakologi: -Memakai tabir surya untuk menghindari terpapar sinar matahari -Edukasi tentang penjelasan pnyakit dengan keluaga juga -Olahraga -Diet Farmakologi -Terapi Kortikosteroid -Obat Anti malaria -NSAIDs

Diagnosa keperawatan yang dapat diambil dari kasus : Intoleransi aktivitas Gangguan integritas kulit Resti perluasan infeksi Nyeri Resiko gangguan citra tubuh

Immune and Hematologic System Kasus 2 (SLE)

DAFTAR PUSTAKA

Anna MQ, Peter VR, et al. Diagnosis of Systemic Lupus Eritematosus. Last update: 1 Desember 2003. Available at: http://www.aafp.org Anonim. Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak. Last update : 16 Mei, 2009. Available at htttp://www.childrenclinic.wordpress.com. Callen JP. Lupus Eritematosus, Discoid. Last update : February, 2007. Available at htttp://www.emedicine.com. Crowin, Elizabeth J., 2009, Buku Saku Patofisiologi, Ed.3, Jakarta : EGC E,Soekrawati.2006. Systemic Lupus Erithematosus In : Dexa Media Jurnal Kedokteran dan Farmasi.vol 19. Denpasar: SMF Kulit dan Kelamin RSUD Wangaya Harsono A, Endaryanto A. Lupus Eritematosus Sistemik pada Anak. Last update : 14 Februari, 2010. Available at http://www.pediatrik.com Imboden J, Hellmann D, Stone J. Current Diagnosis & Treatment Rheumatology. Edisi ke-2. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2007. Kasper,DL et all. Systemic Lupus Erithematosus (SLE) In : Harrisons Manual of Medicine. Ed 16. New York :McGraw Hill Medical Publishing Division.2006 Marisa S. Klein-Gitelman, Michael L. Miller, Chapter 148.Systemic Lupus

Erythematosus : Nelson Textbook of Pediatrics 17th edition. W.B Saunders, Philadelphia. 2003. p810-813. Rubenstein,D.,David ,W dan John,dalam Rahmalia,A.2005.Kedokteran Klinis: Jakarta:Erlangga Suddart & Brunner. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC Tonam, Yuda T, Fachrida LM. Manifestasi Neurologik pada Lupus Eritematosus Sistemik. Bagian Neurologi FKUI/RSUPN-CM. 2007.