Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Peran Ilmu Kedokteran Forensik sangat penting terutama dalam proses pengidentifikasi jenazah yang tidak dikenal, jenazah yang rusak, membusuk, hangus terbakar serta potongan tubuh manusia atau kerangka akibat kecelakaan masal. Selain itu identifikasi forensik juga berperan dalam berbagai kasus seperti penculikan anak, bayi tertukar atau diragukan orang tuanya, bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal,.Metode yang digunakan di bagi dua, secara primer yaitu pemeriksaan sidik jari (figerprint), pemeriksaan gigi geligi (odontologi) dan pemeriksaan DNA. Adapun pemeriksaan secara sekunder antara lain yaitu pemeriksaan visual, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan pakaian (perhiasan), pemeriksaan antropometri dan pemeriksaan medis. 1,2 Tes DNA merupakan sebuah metode identifikasi fragmen dari asam deoxyribonukleat, yang diawali dengan ekstraks sampel DNA dari cairan ataunlapisan tubuh seperti rambut, darah dan saliva. Pertengahan tahun 1980, Jeffreys dengan teknologi DNA berhasl mendemonstrasikan bahwa bagianbagian DNA yang sangat polimrfis dan digunakan sebagai sarana identifikasi spesifik dari seseorang. Deoxyribo Nucleic Acid atau DNA sendiri merupakan materi genetic yang membawa informasi yang dapat diturunkan. DNA pada sel manusia dapat ditemukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut dengan kromosom. Pada manusia setiap selnya memiliki 46 krukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut dengan kromosom. Pada manusia setiap selnya memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatic dan 1 pasang kromosom sex (XX dan YY). 3 Kemajuan teknologi DNA dan penemuan polimorfisme DNA telah memfasilitasi untuk tujuan penyelidikan. Oleh karena itu, berbagai besar kemungkinan telah dibuka untuk investigasi kriminal, danjika kita

membandingkan analisis DNA dari bukti yang ditemukan di TKP (misalnya 1

darah, rambut, air liur, sperma, dll) dengan analisis sampel yang membuat pelaku kejahatan.1,2 Banyak masalah etika dan hokum dari medikolegal muncul dalam pengambilan dan pemeriksaan DNA. Tas dasar itu, pada referat ini penulis mengambil judul Aspek Medik Pemeriksaan DNA.

I.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka didapatkan perumusan masalah sebagai berikut : 1. Apakah yang di maksud dengan DNA? 2. Bagaimana pemeriksaan dari DNA? 3. Apa kegunaan dari pemeriksaan DNA? 4. Bagaimana aspek medikolegal dengan pemeriksaan DNA?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Dapat memahami aspek hukum dan etik dalam pemeriksaan DNA 1.3.2. Tujuan Khusus : Mengetahui definisi dari DNA Mengetahui cara pemeriksaan DNA Mengetahui penggunaan dari tes DNA Mengetahui aspek hukum dalam penggunaan tes DNA

1.4 Manfaat Menambah pengetahuan dan pemahaman pembaca untuk dapat lebih memahami hal-hal yang berhubungan dengan DNA Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mahasiswa mengenai aspek medikolegal dalam pemeriksaan DNA Mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


II.1. Definisi DNA ll.1.1. STRUKTUR DAN PENGERTIAN DNA DNA (deoxyribonucleic acid) adalah suatu struktur molekul yang mengandung materi genetik di dalam nukleus yang ada pada hampir semua sel tubuh kita.Informasi DNA disimpan sebagai kode yang disusun oleh empat basa kimia yang terdiri dari adenine (A), guanine (G), cytosine (C), and thymine (T). DNA manusia terdiri dari kira-kira 3 milyar basa kimia dan lebih dari 99 persen manusia memiliki basa kimia yang sama. Urutan dari basa kimia itulah yang menentukan informasi yang tersedia untuk pertumbuhan dan pembangunan suatu organisme.4 Basa DNA berpasangan satu sama lain, A berpasangan dengan T, sedangkan C dengan G. Setiap basa juga berikatan dengan molekul gula dan molekul fosfat, dan ikatan ini dinamakan nukleotida. Nukleotida disusun sebagai dua untai membentuk heliks ganda spiral. Heliks ganda berbentuk menyerupai tangga, pasangan basa kimia membentuk anak tangga, sedangakan molekul gula dan fosfat membentuk pinggiran vertical tangga.Sepotong DNA terdiri dari jutaan pasangan basa, dengan komponen protein yang dikenal dengan kromosom.DNA dapat berreplikasi sendiri, setiap untai DNA dapat menyajikan diri untuk menduplikasi deretan basa. Hal ini penting saat sel membelah diri karena setiap sel baru harus memiliki salinan DNA yang serupa dengan DNA pada sel yang lama.5

ll.1.2. KROMOSOM Di dalam nukleus sel, molekul DNA terdapat dalam struktur yang menyerupai benang yang disebut kromosom. Setiap kromosom dibagi menjadi lokus yang menandai posisi gen setiap kromosom. Sel tubuh manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom autosomal dan satu pasang kromosom seks.Pada wanita kromosom sexnya XX 3

dan pada pria kromosom sexnya XY.Kromosom Y mengandung SRY ( Sex Determining Region Y) yang berperan menentukan kelelakian seseorang dengan peranannya mengatur terbentuknnya hormon testosterone. Kromosom Y yang bersifat unik karena setiap kromosom Y pada seorang pria akan diturunkannya secara langsung hanya kepada anak laki-lakinya dan kemudian diteruskan oleh anak laki-lakinnya kepada cucunya hingga keturunan laki-laki selanjutnnya. Peran penting kromosom Y dalam DNA typing antara lain untuk kriminologi dan analisis forensic,analisis orang hilang, kasus warisan yang melibatkan keterkaitan genetic antara anggota keluarga laki-laki,kasus imigrasi untuk menentukan kerabatan genetic, dan kepentingan antropologi (salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu )

ll.1.3. GEN Gen adalah salah satu komponen DNA dan terdiri dari informasi untuk membuat molekul-molekul protein. Setiap protein memberikan fungsi yang spesifik di dalam tubuh.Setiap orang memiliki dua salinan dari setiap gen, masing-masing diwariskan dari kedua orangtuanya. Kebanyakan gen sama pada orang, namun beberapa gen berbeda untuk memberikan atribut fisik yang spesifik pada setiap orang.

ll.2. TES DNA ll.2.1. PENGERTIAN TES DNA Tes DNA adalah satu teknik biologi molekuler penanda genetik yang dipakai untuk pengujian terhadap materi profil DNA, yaitu sehimpunan data yang menggambarkan susunan DNA yang dianggap khas untuk individu yang menjadi sampelnya.Hanya sebagian kecil berkas DNA yang dipakai untuk pengujian, seperti bagian DNA yang berisi pengulangan urutan basa (variable number tandam repeats/ VNRT). Tes DNA ini sangat dipercaya dan sudah diakui keabsahannya dapat mengidentifikasi seseorang dengan keakuratan mencapai 100%, sehingga 4

banyak dimanfaatkan dalam analisis, pihak kepolisian maupun pengadilan khususnya untuk membantu mengungkap suatu perkara. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya, yaitu dengan peluang satu diantara satu juta.Jikapun terdapat kesalahan itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interpretasi fragmen-fragmen DNA oleh operator (manusia). DNA yang biasa digunakan dalam tes adalah c-DNA dan mtDNA.Sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah c-DNA, karena inti sel tidak bisa berubah.Sementara mt-DNA dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya.Namun, keunikan dari pola pewarisan mt-DNA tersebut sekaligus menjadi kelebihannya, sehingga mt-DNA dapat dijadikan sebagai marker (penanda) untuk tes DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal.

2.2.2. TUJUAN TES DNA Tes DNA pada umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu (1) tujuan pribadi sebagai penentuan pewalian anak atau penentuan orang tua dari anak (Tes Paternitas); dan (2) tujuan hukum, yang meliputi masalah forensik, seperti identifikasi korban yang telah hancur maupun untuk pembuktian kasus kejahatan semisal kasus permerkosaan atau pembunuhan.

2.2.3. SAMPEL DAN PENYIAPAN SAMPEL UNTUK TES DNA Hampir semua sampel biologis tubuh seperti darah dan bercak darah, seminal, cairan vaginal, dan bercak kering, rambut (baik rambut lengkap dengan akarnya atau hanya batang rambut), epitel bibir (misal pada puntung rokok), sel buccal, tulang, gigi, saliva dengan nucleus (pada amplop, perangko, cangkir), urine, feces, kerokan kuku, jaringan otot, ketombe, sidik jari, atau pada peralatan pribadi dapat digunakan untuk sampel tes DNA. Tetapi yang paling sering digunakan untuk tes DNA adalah darah, rambut, usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab), dan kuku.

Untuk kasus-kasus forensik, sampel sperma, daging, tulang, kulit, air liur atau sampel biologislain yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA. Tahap pengambilan dan penyimpanan bahan atau sampel merupakan tahapan yang vital, dan harus dilakukan dengan prinsip-prinsip di bawah ini: 1. Hindari tempat yang terkontaminasi DNA dengan tidak menyentuh objek secara langsung dengan tangan, tidak bersin atau batuk di dekat barang bukti. 2. Menggunakan sarung tangan bersih untuk pengumpulan barang bukti. Sarung tangan harus diganti untuk setiap penanganan barang bukti yang berbeda. 3. 4. Setiap barang bukti harus disimpan terpisah Bercak darah, bercak sperma, dan bercak lainnya harus dikeringan dahulu sebelum disimpan 5. Sampel harus disimpan pada amplop atau kertas setelah dikeringkan. Jangan menggunakan bahan plastik karena plastik dapat mempercepat degradasi molekul DNA. Setiap amplop harus ditandai nomor kasus, nomor bukti, waktu pengumpulan 6. Bercak pada permukaan meja atau lantai dapat diambil dengan swab kapas steril dan alcohol. Keringkan kapas tersebut sebelum dibawa. 7. Di laboratorium, sampel DNA disimpan dalam kulkas bersuhu 40C atau dalam freezer bersuhu -200C. Sampel yang akan digunakan dalam waktu yang lama, dapat disimpan dalam suhu -700C.

Secara umum DNA dapat rusak akibat pengaruh lingkungan seperti paparan sinar matahari, terkena panas, bahan kimia, air dan akibat kerja enzim DNAase yang terdapat dalam jaringan sendiri. Untuk itu terhadap berbagai bahan sampel tersebut harus diberi perlakuan sebagai berikut: 1. Jaringan, organ, dan tulang Bila masih segar, ambil tiap bagian dengan pinset lalu masukkan masing-masing bagian ke dalam wadah tersendiri. Beri label yang jelas dan tanggal pembagian sampel, simpan di pendingin lalu kirim 6

ke laboratorium. Namun bila sampel tidak lagi segar (busuk), ambil sampel, bungkus dengan kertas alumunium, dan bekukan pada suhu 200C. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium. 2. Darah dan bercak darah (seperti darah pada pakaian, karpet, tempat tidur, perban) a. Darah Darah cair dari seseorang Ambil dengan menggunakan semprit Masukkan ke dalam tabung yang diberikan pengawet EDTA 1 mL darah Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, simpan dalam termos es, lemari es, atau kirim ke laboratorium Darah cair di TKP Ambil dengan menggunakan semprit, pipet, atau kain Masukkan ke dalam tabung yang berisikan pengawet EDTA. Bila membeku, ambil dengan menggunakan spaltel Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, simpan dalam termos es, lemari es, atau kirim ke laboratorium Darah cair dalam air/salju/es Sesegera mungkin, ambil secukupnya, masukkan ke dalam botol Hindari kontaminasi, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, simpan atau kirim ke laboratorium Bercak darah basah

Ditemukan pada pakaian Pakaian dengan noda ditempatkan pada permukaan bersih dan keringkan 7

Setelah kering, masukkan kantong kertas atau amplop

Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, kirim ke laboratorium

Ditemukan pada benda Bila benda kecil, biarkan kering, tetapi pada benda besar, hisap bercak tersebut dengan kain katun dan keringkan Masukkan amplop, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, dan kirim ke laboratorium

Ditemukan pada karpet atau benda yang dapat dipotong Potong bagian yang ada nodanya Tiap potongan diberi label yang jelas, sertakan potongan yang tidak ada nodanya sebagai control Kirim ke laboratorium

Percikan darah kering Gunakan celotape, tempelkan pada percikan noda Masukan celotape tersebut ke dalam kantong plastic Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, kirim ke laboratorium

3. Sperma dan bercak sperma - Sperma cair a. Hisap dengan semprit, masukkan ke dalam tabung b. Atau dengan kapas, keringkan c. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium - Bercak sperma pada benda yang dipindah (misalnya pada celana) a. b. Bila masih basah, keringkan Bila kering, potong pada bagian nodanya, dan masukkan ke dalam amplop

c.

Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium

- Bercak sperma pada benda besar yang bisa dipotong (misalnya pada karpet) a. Potong pada bagian yang bernoda b. Masukkan ke dalam amplop c. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium - Bercak pada benda yang tidak dapat dipindah dan tidak menyerap (misal: lantai) a. Kerok bercaknya, lalu masukkan kertas b. Lipat kertas hingga membungkus kerokan, masukkan ke dalam amplop c. Beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium 4. Urine, saliva, dan cairan tubuh yang lain - Sampel cair a. Urine atau saliva dimasukkan ke dalam tempat steril b. Simpan di pendingin, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium - Bercak urine, saliva a. Dugaan noda dikerok atau potong, lalu kumpulkan b. Simpan di pendingin, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel, lalu kirim ke laboratorium 5. Rambut dan gigi - Rambut a. cabut beberapa helai rambut (10-15 helai) dengan akarnya. Hati-hati bila tercampur dengan darah b. Tempatkan pada wadah, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel. Kirim ke laboratorium. - Pulpa Gigi

a.

Cabut gigi yang masih utuh. Sampel gigi sebaiknya tidak dirusak oleh endodontia

b.

Masukkan ke dalam kantong plastik, beri label yang jelas dan tanggal pengambilan sampel

Cara pengambilan bahan untuk pemeriksaan DNA : Swab pipi : merupakan cara yang paling sederhana dan tanpa rasa sakit dalam mengumpulkan sampel DNA. Dilakukan dengan menggunakan stick swab sepanjang pipi kiri dan kanan bagian dalam.

Pengambilan darah untuk tes DNA. Dapat dipakai untuk tes fraternitas dan hanya boleh dilakukan oleh kalangan profesional medis seperti dokter dan perawat.

Pengambilan beberapa helai contoh rambut orang yang akan diperiksa DNA

10

2.2.4 TEKNIK ANALISA DNA Tes DNA memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pemeriksaan konvensional lainnya yaitu: Ketepatan yang lebih tinggi Sebagai contoh hasil pemeriksaan terhadap bercak darah dengan teknik pemeriksaan DNA akan memberikan hasil yang nyaris sempurna dalam menentukan siapa sumber bercak darah dibandingkan konvensional Pilihan sampel luas Penyebaran DNA pada hampir seluruh bagian tubuh membuat sampel untuk tes DNA dapat diambil dari berbagai bagian tubuh Dapat memecahkan kasus sulit Tes DNA merupakan satu-satunya tes yang dapat dipakai untuk memecahkan kasus sulit yang tidak dapat dipecahkan dengan metode biasa Sensitifitas yang amat tinggi Sensitifitas tes ini mencapai 99,9 % Kestabilan yang tinggi Pada kasus dimana bukti sebagai sampel sudah membusuk maka hanya tes ini yang dpat dilakukan karena DNA bersifat tahan pembusukan dibandingkan protein 2.2.4.1. Teknik Sidik Jari DNA / RFLP dengan pemeriksaan golongan darah

RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphisms) adalah sebuah metode yang digunakan oleh ahli biologi molekuler untuk mengikuti urutan tertentu DNA seperti yang disampaikan 11

kepada sel-sel lain Sebuah RFLP adalah urutan DNA yang memiliki pembatasan situs pada setiap ujungnya dengan "target" urutan di antara keduanya. Sebuah sekuens target adalah setiap segmen DNA yang mengikat untuk suatu penyelidikan dengan membentuk pasangan basa komplementer.

Sebuah probe urutan DNA beruntai tunggal yang telah ditandai dengan radioaktivitas atau enzim sehingga probe dapat dideteksi. Ketika pasangan basa probe ke target, penyelidik dapat mendeteksi mengikat ini dan tahu di mana urutan target adalah karena probe terdeteksi. Sebagai contoh, mari kita ikuti RFLP tertentu yang ditetapkan oleh enzim restriksi EcoR I dan urutan target sebesar 20 basis EcoR I mengikat kepada pengakuan seuqence GAATTC dan memotong DNA beruntai ganda. Probe DNA di gunakan dalam analisis polimorfisme pembatasan panjang fragmen (RFLP-

Restriction Fragment Length Polymorphisms), yang menjadi semakin berharga dalam prosedur medis,mengandalkan pada pendeteksian berbagai ukuran fragmen (Polymorphisms) yang di hasilkan ketika potongan DNA genomik yang mengandung suatu gen tertentu dan

12

daerah analog yang mengandung alel mutan nya di belah oleh suatu enzim pembatas. Elektroforesis gel, autoradiografi, dan probe DNA berlabel radio digunakan untuk mendeteksi dua fragmen berbeda. Protokol diagnostik ini sekarang di gunakan dengan berhasil untuk diagnosis prenatal dari anemia sel sabit, Fibrosis kistik, Korea Huntington, Distrofi Muskular Duchenne, dan penyakit ginjal polikistik dewasa. Karena tidak ada dua genom manusia yang memiliki rangkaian basa yang identik. Maka RFLP dewasa ini di gunakan oleh pengetahuan kedokteran kehakiman untuk mendapatkan sidik jari DNA manusia, dimana tidak ada dua sidik jari yang sama. Dengan demikian,karena setiap sidik jari DNA manusia adalah unik,maka RFLP terbukti merupakan alat penyelidikan yang kuat untuk membantu petugas hukum dalam menyelesaikan masalah kejahatan. Untuk menghitung jarak genetik antara untuk lokus, Anda harus mampu mengamati rekombinasi. Secara tradisional, ini dilakukan dengan mengamati fenotipe, tetapi dengan analisis RFLP, adalah mungkin untuk mengukur jarak genetis antara dua lokus RFLP apakah mereka merupakan bagian dari gen atau tidak. Deteksi RFLP dilakukan berdasarkan pada adanya

kemungkinan untuk membandingkan profil pita-pita yang di hasilkan setelah di lakukan pemotongan dengan enzim restriksi terhadap DNA target atau dari individu yang berbeda. Berbagai mutasi yang terjadi pada suatu organisme mempengaruhi molekul DNA dengan berbagai cara,menghasilkan fragmen-fragmen dengan panjang yang berbeda. Aplikasi tekhnik RFLP biasa di gunakan untuk mendeteksi diversitas genetic,hubungan kekerabatan,sejarah domestikasi,asal dan evolusi suatu spesies,genetic drift dan seleksi,pemetaan keseluruhan genom,tagging gen,mengisolasi gen-gen yang berguna dari spesies liar, mengkonstruksi perpustakaan DNA. Restriction Fragment Length polymorphism (RFLP) merupakan penanda molekul yang pertama kali ditemukan dan digunakan.Penggunaannya dimungkinkan 13

semenjak orang menemukan enzim endonuklease restriksi (RE), suatu kelas enzim yang mampu mengenal dan memotong seurutan pendek basa DNA (biasanya 4-6 urutan basa).Enzim ini dihasilkan oleh bakteri dan dinamakan menurut spesies bakteri yang

menghasilkannya. RFLP bersifat kodominan dan cukup berlimpah serta polimorfik.Penanda ini juga mudah dipetakan dalam peta genetik dan bersifat stabil.Kelemahannya, penanda ini memerlukan DNA dalam jumlah besar, lama (memerlukan waktu tiga hari), serta melibatkan penggunaan pelabelan isotop radioaktif (meskipun kini telah ditemukan teknik tanpa radioaktif). Analisis Restriction fragment length polymorphism (RFLP) adalah salah satu teknik pertama yang secara luas digunakan untuk mendeteksi variasi pada tingkat sekuen DNA.Deteksi RFLP dilakukan berdasar pada adanya kemungkinan untuk membandingkan profil pitapita Yang dihasilkan setelah dilakukan pemotongan dengan enzim restriksi terhadap DNA target/dari individu yang berbeda.Berbagai mutasi yang terjadi pada suatu organism mempengaruhi molekul DNA dengan berbagai cara, menghasilkan fragmenfragmen dengan panjang yang berbeda.Perbedaan panjang fragmen ini dapat dilihat setelahdilakukan elektroforesis pada gel, hibridisasi dan visualisasi. Aplikasi teknik RFLP biasa digunakan untuk mendeteksi diversitas genetic, hubungan kekerabatan, sejarah domestikasi, asal dan evolusi suatu spesies, genetic drift dan seleksi, pemetaan keseluruhan genom, tagging gen, mengisolasi gengen yang berguna dari spesies liar,mengkonstruksi perpustakaan DNA. Prosedur Teknik RFLP Teknik ini diawali dengan mengekstrasi sekuens DNA dari sel. Selanjutnya untaian DNA hasil ekstrasi dipotong potong dengan menggunakan enzim restriksi. Potongan DNA ini diproses pada gel agarose dengan menggunakan teknik elektroforesis untuk memisahkan

14

fragmen DNA berdasarkan berat molekulnya dengan menggunakan arus listrik. Gel hasil elektroforesis selanjutnya ditransfer ke membran nilon dengan menggunakanteknik bloting.Selanjutnya radioaktif probe ditambahkan untuk menggandeng potongan DNA yang sesuai dan memindahkannya ke membran nilon. Dengan melakukan pemotretan membran (membubuhkan bahan pewarna atau unsurradioaktif) pola garis-garis sidik jari DNA yang terbentuk dapat divisualisasikan dan dianalisakecocokannya.

2.2.4.2. Teknik PCR (Polimerase Chain Reaction)

Mesin PCR

15

PCR tube yang berisi masing-masing 100 mikroliter campuran reaksi. PCR merupakan proses yang berlangsung secara in vitro dalam tabung reaksi sebesar 200 l ini mampu menggandakan atau mengkopi DNA hingga miliaran kali jumlah semula. DNA yang terkandung dalam sampel yang sedikit bisa diperoleh banyak sekali informasi sesuai kebutuhan kita. Reaksi PCR meniru reaksi penggandaan atau replikasi DNA yang terjadi dalam makhluk hidup.Secara sederhana PCR merupakan reaksi penggandaan daerah tertentu dari DNA cetakan (template) dengan batuan enzim DNA polymerase.PCR terdiri atas beberapa siklus yang berulang-ulang, biasanya 20 sampai 40 siklus.

Komponen PCR Selain DNA template yang akan digandakan dan enzim DNA polymerase, komponen lain yang dibutuhkan adalah:

Primer Primer adalah sepasang DNA utas tunggal atau

oligonukleotida pendek yang menginisiasi sekaligus membatasi reaksi pemanjangan rantai atau polimerisasi DNA.Jadi jangan membayangkan kalau PCR mampu menggandakan seluruh DNA bakteri E. coli yang panjangnya kira-kira 3 juta bp itu. PCR hanya mampu menggandakan DNA pada daerah tertentu sepanjang maksimum 10000 bp saja, dan dengan teknik tertentu bisa sampai 40000 bp. Primer dirancang untuk memiliki sekuen yang

16

komplemen dengan DNA template, jadi dirancang agar menempel mengapit daerah tertentu yang kita inginkan. dNTP (deoxynucleoside triphosphate) dNTP alias building blocks sebagai batu bata penyusun DNA yang baru. dNTP terdiri atas 4 macam sesuai dengan basa penyusun DNA, yaitu dATP, dCTP, dGTP dan dTTP. Buffer Buffer yang biasanya terdiri atas bahan-bahan kimia untuk mengkondisikan reaksi agar berjalan optimum dan menstabilkan enzim DNA polymerase. Ion Logam o Ion logam bivalen, umumnya Mg++, fungsinya sebagai kofaktor bagi enzim DNA polymerase. Tanpa ion ini enzim DNA polymerase tidak dapat bekerja. o Ion logam monovalen, kalsium (K+). Tahapan Reaksi

Setiap siklus reaksi PCR terdiri atas tiga tahap, yaitu: Denaturasi Denaturasi dilakukan dengan pemanasan hingga 96oC selama 30-60 detik. Pada suhu ini DNA utas ganda akan memisah menjadi utas tunggal.

17

Annealing Setelah DNA menjadi utas tunggal, suhu diturukan ke kisaran 40-60oC selama 20-40 detik untuk memberikan

kesempatan bagi primer untuk menempel pada DNA template di tempat yang komplemen dengan sekuen primer. Ekstensi/elongasi Dilakukan dengan menaikkan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA polymerase, biasanya 70-72oC. Pada tahap ini DNA polymerase akan memasangkan dNTP yang sesuai pada pasangannya, jika basa pada template adalah A, maka akan dipasang dNTP, begitu seterusnya (ingat pasangan A adalah T, dan C dengan G, begitu pula sebaliknya). Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung. Lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi, secara kasarnya adalah 1 menit untuk setiap 1000 bp. Selain ketiga proses tersebut biasanya PCR didahului dan diakhiri oleh tahapan berikut: Pra-denaturasi Dilakukan selama 1-9 menit di awal reaksi untuk memastikan kesempurnaan denaturasi dan mengaktifasi DNA Polymerase (jenis hot-start alias baru aktif kalau dipanaskan terlebih dahulu). Final Elongasi Biasanya dilakukan pada suhu optimum enzim (70-72oC) selama 5-15 menit untuk memastikan bahwa setiap utas tunggal yang tersisa sudah diperpanjang secara sempurna. Proses ini dilakukan setelah siklus PCR terakhir. PCR dilakukan dengan menggunakan mesin Thermal Cycler yang dapat menaikkan dan menurunkan suhu dalam waktu cepat sesuai kebutuhan siklus PCR. Pada awalnya orang menggunakan tiga penangas air (water bath) untuk melakukan denaturasi, annealing dan ekstensi secara manual, berpindah dari satu suhu ke suhu lainnya menggunakan tangan. 18

Tapi

syukurlah

sekarang

mesin

Thermal

Cycler

sudah

terotomatisasi dan dapat diprogram sesuai kebutuhan. Keunggulan PCR dibandingkan RFLP adalah : o Simpel dan mudah dilaksanakan di laboratorium o Hasil diperoleh dalam waktu singkat o Memungkinkan analisa DNA dalam jumlah sedikit Kekurangan PCR adalah : o Mudah terkontaminasi Jika ada DNA bakteri tercampur maka akan diperbanyak hingga jutaan kali sehingga bisa terjadi salah kesimpulan terhadap hasil pemeriksaan o Lokus dalam PCR memiliki alel lebih sedikit dibanding RFLP 2.2.4.3. Short Tandem Repeats Merupakan penggambaran dari urutan DNA pendek yang diulang dimana panjang pengulangan ini berbeda-beda tergantung individu dan diwariskan kepada generasi berikutnya.Mutasi dapat terjadi terhadap banyaknya pengulangan sehingga dapat muncul variasi panjang pengulangan.Variasi ini membuat teknik ini dapat digunakan sebagai penanda genetik.Metode ini dapat memeriksa sampel DNA yang rusak karena hanya sedikit pasangan basa fragmen DNA yang diperbanyak.Teknik ini memiliki kelemahan dimana teknik ini membutuhkan tiga belas lokus sedangkan DNA inti sendiri hanya memiliki dua salinan molekul dalam setiap sel. 2.2.4.4. Y-Short Tandem Repeats Merupakan STRs pada kromosom Y dan hanya dapat digunakan untuk menyaring informasi genetik yang spesifik dari pria yang menjadi sampel.Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memriksa sampel tanpa sperma yang bercampur antara sampel laki-laki dan sampel perempuan seperti sampel darah yang diambil dari korban kasus perkosaan. Teknik pemeriksaan ini juga berguna

19

untuk menyelesaikan kasus disputed paternity pada anak laki-laki karena kromosom Y diturunkan oleh ayah kepada anak laki-laki. 2.2.4.5. Mitochondrial DNA (mt-DNA) Mitokondria adalah partikel intraselular yang terdapat dalam sitoplasma sel dan mengandung DNA kecil berupa molekul berbentuk sirkular.Ciri khas mt-DNA adalah pola penurunannya dimana mt-DNA hanya mengandung DNA ibu.Mt-DNA bersifat seperti kromosom Y yang tidak mempunyai homolog pada genom manusia sehingga kedianya diturunkan secara spesifik.Dari mtDNA dapat diketahui garis ibu pada anak laki-laki.Mt-DNA adalah marker sitoplasmik yang diturunkan ibu kepada semua anaknya. 2.2.4.6. CODIS (Combined DNA Index System) Merupakan analisis DNA yang baru dikembangkan FBI.FBI memilih tiga belas lokus utama standar dan meningkatkan pengembangan kemampuan laboratorium untuk melakukan

pemeriksaan pada lokus tersebut. Pengumpulan tiga belas lokus utama ini akan meningkatkan kemampuan diskriminasi. CODIS menggunakan dua indeks atau petunjuk untuk melakukan pemeriksaan pada kasus kriminal dengan analisis DNA. Kedua indeks tersebut adalah Convicted Offender Index yang

mengandung profil narapidana yang melakukan tindakan kriminal dan The Forensik Index yang mengandung profil DNA dari fakta yang didapatkan pada kasus kriminal.

20

II.3. Aspek Medikolegal terhadap Pemeriksaan DNA Informasi yang terkandung di dalam DNA seorang individu sangat khas dan unik, yang mengandung informasi mengenai keluarga seorang individu dan ini harus dilidungi, dan ini merupakan hak setiap individu. Informasi yang diturunkan dari DNA bisa menjelaskan lebih rinci predisposisi genetik individu mengenai penyakit tertentu. Oleh karena alasan tersebut, legislasi domestik mengijinkan penggunaan analisis DNA untuk tujuan pelaksaan hukum, hampir pada setiap kasus, hukum juga telah di adopsi untuk perlindungan data genetik yang telah dikumpulkan. 12 Pada bulan oktober tahun 2003, UNESCO menyelesaikan naskah Deklarasi Nasional pada Data Genetik Manusia. Pada tahun 2009, deklarasi ini dan UNESCO sebelumnya Deklarasi Universal pada Genome Manusia dan Hak-Hak Manusia (1997) hanya deklarasi internasional yang ditujukan kepada masalah perlindungan data genetik. Deklarasi tahun 2003 menonjolkan beberapa praktek yang mengenai pengumpulan, memproses, penggunaan, dan penyimpanan data genetik manusia yang konsisten baik kepada legislasi domestik dan hukum hak-hak individual internasional.11 Seminar ICRC (International Committee of the Red Cross ) pada tahun 2002 mengenai rekomendasi dan persetujuan internasional diadakan dengan legislasi nasional dan disusun beberapa prinsip legal yang menyangkut perlindungan individu dan data genetik yang harus dihormati dalam semua aspek.14 Ketika keluarga di minta menyumbangkan beberapa sampel, alasan untuk mengumpulkan materi biologik tersebut harus dijelaskan. Dan mereka mengerti bahwa pengumpulan data akan berdampak pada hasil pemeriksaan. Orang-orang yang harus disediakan informed consent jika mereka telah memahami, beberapa diantaranya: 14,15 1. Kenapa sampel diambil dan bagaimana program identifikasi akan kerja 2. Bagaimana hubungan data tersebut dengan mereka akan digunakan,dan prinsip-prinsip proteksi data yang dihormati. 3. Bagaimana mereka menerima informasi selama program identifikasi

21

4. Peserta merupakan volunter, yang mereka bisa menarik diri jika mereka berubah pikiran tanpa harus mengatakan alasan mereka. Peserta harus di beri nomor kontak petugas jika mereka menginginkan bertanya atau menarik diri dari program-program yang dijalankan Beberapa diantaranya yang mengenai perlindungan pada data individu: 1. Sampel biologik yang tertinggal oleh orang hilang. Data indiviual mengandung beberapa informasi yang berhubungan untuk di identifikasi 2. Datanya dikumpulkan dan di proses secara adil dan secara hukum. 3. Data yang dikumpulkan harus akurat, lengkap, terbaru 4. Data harus dihapuskan sesegera mungkin setelah tujuan dari pengumpulan data telah terpenuhi atau ketika tidak dibutuhkan lagi. Beberapa prinsip-prinsip yang berhubungan dengan penggunaan sampel biologis dan menghasilkan profil-profil DNA11,12,14,15 1. Pengumpulan, penggunaan dengan pendekatan profil-profil DNA

merupakan benda atau segala sesuatu yang berhubungan dengan individu tersebut untuk perlindungan data individu tersebut 2. Contoh DNA yang di ambil dikumpulkan dan di analisa hanya untuk identifikasi yang jelas dan tujuan yang spesifik. 3. Identifikasi dari jejak manusia melalui DNA dilakukan apabila teknik investigasi yang lainnya tidak adekuat 4. Hanya laborat yang memenuhi kapasitas yang menjalankan analisis DNA. Alat-alat bukti adalah alat yang ada hubungannya dengan suatu tindak pidana, yang dapat dipergunakan sebagai bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan bagi hakim atas kebenaran akan adanya tindak pidana yang telah didakwakan oleh terdakwa. Sedangkan alat-alat bukti yang sah artinya alat-alat bukti yang telah ditentukan oleh undang-undang yaitu yang tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP, yaitu : Keterangan Saksi, yaitu salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.14,15

22

Keterangan Ahli, yaitu keterangan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki keahlian khusus tentang hal yang diperlukan untuk membuat terang suatu perkara pidana guna kepentingan pemeriksaan. Surat, yaitu : Berita acara dan surat lain, dokumen dalam bentuk yang sesuai dibuat pejabat umum yang berwenang. Surat yang di buat menurut ketentuan peraturan

perundangundangan tentang suatu keadaan Surat keterangan ahli yang diminta secara resmi Surat lain yang hanya berlaku jika berhubungan dengan isi dari alat pembuktian lain. Petunjuk, yaitu perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena penyesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Keterangan Terdakwa, yaitu apa yang terdakwa nyatakan di siding tentang perbuatan yang ia ketahui atau alami sendiri.14,15 Sebagai produk hukum yang mengatur mengenai pidana formil, di dalam KUHAP tidak ditemui pengaturan secara eksplisit mengenai penggunaan alat bukti tes DNA sebagai alat bukti. Mengingat pembuktian dengan menggunakan tes DNA memang tidak diatur secara khusus dalam KUHAP, sehingga berakibat masalah legalitasnya bersifat sangat interpretatif.13,14,15 Penafsiran yang paling sesuai untuk menemukan hukum dalam alat bukti DNA adalah menggunakan penafsiran Sistematis. Dalam hal ini menafsirkan bunyi tiga ayat dalam Pasal 188 KUHAP dan

menghubungkan ketiga ayat tersebut untuk mendapatkan penjelasan atas isi pasal tersebut, yaitu antara pasal 188 ayat (1) dan Pasal 188 ayat (2), dan Pasal 188 ayat (3) yaitu yang berbunyi : Ayat (1) petunjuk adalah perbuatan, kejadian atau keadaan yang karena penyesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain maupun dengan

23

tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. Ayat (2) berbunyi : dalam hal konstruksi tentang alat bukti petunjuk, maka petunjuk hanya dapat diperoleh dari keterangan saksi, surat, dan keterangan terdakwa. Ayat (3) menyatakan : Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petunjuk dalam setiap keadaan tertentu dilakukan oleh hakim dengan arif lagi bijaksana, setelah ia mengadakan pemeriksaan dengan penuh kecermatan dan keseksamaan berdasarkan hati nuraninya.14,15 Penafsiran tekneologis juga dapat dilakukan terhadap alat bukti DNA, karena setiap peraturan hukum mempunyai suatu tujuan sosial, yaitu membawa kepastian hukum dalam pergaulan antara anggota masyarakat. Hakim wajib mencari tujuan sosial baru dari peraturan yang bersangkutan. Dengan demikian hakim menetapkan alat bukti DNA sebagai alat bukti dalam perkara pidana melalui penafsiran teknologis dengan melihat tujuan dari hukum tersebut, yaitu memberi keadilan bagi para pencari keadilan.12,13,14 Alat bukti DNA memang tepat untuk menjadi alat bukti petunjuk dalam mengungkap suatu tindak pidana, substansi dan kekuatan pembuktian alat bukti DNA. Dalam kasus yang membutuhkan pembuktian mengenai asal-usul keturunan seseorang maka alat bukti DNA bertindak sebagai alat bukti petunjuk karena bukan merupakan alat bukti langsung atau indirect.12,13 Penggunaan tes DNA yang penyelesaiannya berkaitan dengan pelacakan asal-usul keturunan dapat dijadikan sebagai bukti primer, yang berarti dapat berdiri sendiri tanpa diperkuat dengan bukti lainnya, dengan alasan : a. DNA langsung diambil dari tubuh yang dipersengketakan dan dari yang bersengketa, sehingga tidak mungkin adanya rekayasa dari si pelaku kejahatan untuk menghilangkan jejak kejahatannya.

24

b. Unsur-unsur yang terkandung dalam DNA seseorang berbeda dengan DNA orang lain (orang yang tidak mempunyai garis keturunan), sehingga kesimpulan yang dihasilkan cukup valid. DNA sebagai salah satu bentuk alat bukti petunjuk harus mempunyai kekuatan pembuktian sebagai alat bukti yang dapat ditunjukkan melalui syarat-syarat :11,12,14,15 a. Kerahasiaan (confidentially). Penggunaan alat bukti DNA mempunyai tingkat kerahasiaan yang cukup tinggi, mengingat informasi hasil tes DNA tidak disebarkan pada orang atau pihak yang tidak mempunyai hak untuk mengetahuinya. Dalam hal mendapatkan alat bukti DNA, pihak yang berwenang untuk mengeluarkan hasil pemerikasaan adalah Rumah Sakit atau Laboratorium yang memiliki fasilitas khusus dengan aparat yang telah ditunjuk, sehingga tingkat kerahasaiaan dapat terjaga. b. Otentik (autentify). Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diketahui bahwa tubuh manusia terdiri dari sel-sel, yaitu satuan terkecil yang memperlihatkan kehidupan, yang di dalamnya terdapat inti sel dan organel-organel yang berperan dalam bidang masing-masing di dalam sel itu. Sehubungan dengan itu, bagian yang perannya sangat penting dalam melakukan pengendalian adalah inti sel. Di dalam inti sel ini terdapat kromosom dan nukleus. Kromosom yang terdapat dalam inti sel tersusun atas bagian- bagian yang dinamakan gen, gen-gen ini bila diperiksa lebih lanjut ternyata terdiri atas molekul-molekul yang merupakan sepasang rangkaian panjang yang saling melilit. Tiap rangkaian berisi satuan-satuan yang dinamakan DNA yang tersambung satu sama lain secara khas menurut urutan tertentu. Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa setiap manusia mempunyai susunan kromosom yang identik dan berbeda-beda setiap orang, sehingga keotentikan dari alat bukti DNA dapat teruji, disamping itu alat bukti DNA disahkan oleh pejabat yang berwenang sehingga memperkuat kekuatan pembuktian alat bukti DNA. 25

c. Objektif Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan DNA, merupakan hasil yang didapat dari pemeriksaan berdasarkan keadaan obyek sesungguhnya dan tidak memasukkan unsur pendapat atau opini manusia di dalamnya, sehingga unsur subyektifitas seseorang dapat diminimalisir. d. Memenuhi langkah-langkah ilmiah (Scientic) Untuk memperoleh hasil pemeriksaan alat bukti DNA, harus menempuh langkah-langkah ilmiah yang hanya didapat dari uji laboratorium yang teruji secara klinis, yaitu pertama, mengambil DNA dari salah satu organ tubuh mausia yang di dalamnya terdapat sel yang masih hidup, kedua, DNA yang telah diambil tersebut dicampur dengan bahan kimia berupa proteinase yang berfungsi untuk menghancurkan sel, sehingga dalam larutan itu tercampur protein, kabohidrat, lemak, DNA dan lain-lain, ketiga pemisahan bagian-bagian lain selain DNA dengan menggunakan larutan fenol, setelah langkah-langkah ini akan diketahui bentuk DNA berupa larutan kental dan akan tergambar identitas seseorang dengan cara membaca tanda-tanda atau petunjuk yang terkandung di dalamnya.

26

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan: DNA (deoxyribonucleic acid) adalah suatu struktur molekul yang mengandung materi genetik di dalam nukleus yang ada pada hampir semua sel tubuh kita. Tes DNA, merupakan teknik biologi molekuler penanda genetik yang dipakai untuk pengujian terhadap materi profil DNA, hanya sebagian kecil berkas DNA yang dipakai untuk pengujian, seperti bagian DNA yang berisi pengulangan urutan basa (variable number tandam repeats/ VNRT). Tes DNA ini sangat dipercaya dan sudah diakui keabsahannya dapat mengidentifikasi seseorang dengan keakuratan mencapai 100%. Memiliki tujuan tes Paternitas, identifikasi korban yang telah hancur maupun untuk pembuktian kasus kejahatan semisal kasus permerkosaan atau pembunuhan. Sebagai produk hukum yang mengatur mengenai pidana formil, di dalam KUHAP tidak ditemui pengaturan secara eksplisit mengenai penggunaan alat bukti tes DNA sebagai alat bukti. Mengingat pembuktian dengan menggunakan tes DNA memang tidak diatur secara khusus dalam KUHAP, sehingga berakibat masalah legalitasnya bersifat sangat interpretatif. Pembuktian dengan menggunakan tes DNA tidak diatur secara khusus dalam KHUAP,sehingga informed consent menjadi salah satu acuan dari pengambilan sampel DNA

III.2 Saran: Diharapkan adanya perlindungan hukum di Indonesia mengenai perlindungan dari kerahasiaan data dari DNA pasien. 27

DAFTAR PUSTAKA
1. Andrae Petrophylla. Tes DNA. URL :

http:/www.ripiu.com/article/read/klik4orofit-tes-dna 2. Budiyanto, Arif, dkk. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 3. Rizal, wahyu. 2005. Tes DNA : Mengendus Jejak Kejahatan. Ed.11/Thn.Vll/Agustus2005. Majalah : Bandar Lampung 4. Kolbinsky L, Levine, Margolis. 2007. Analysis DNA Forensik. Helsea House of Publishing Infobase, New York. 5. Accee Excellence the National Health Museum. DNA Flnterorinting in Human Health And Society. URL :

http://www.accessexcellence.org/AE/mspot.arp/index.htm 6. Eijkman Institute for Molecular Biology. Identifikasi DNA.URL http://www.eijkman .go.id/identifikasi DNA. 7. M.Giunawan Abdillah. Tahapan Tes DNA.URL : http://www.klikp21.com 8. Anonim. Pengmpulan Sampel, Ekstraksi DNA dan Kuantifikasi DNA. URL : http://www.freewebs.com/pengumpulan sampeldna.htm 9. Anonim. Forensik DNA testing. URL :

http://www.800dnaexam.com/forensic_DNA_testing.aspx 10. Bambang Sutiyoso dan Sri Hastuti Puspitasari, Aspek-aspek

Perkembangan Kekuasaan Kehakiman di Indonesia, UI Pers Yogyakarta, Yogyakarta, 2004. 11. Robertson, J. A. 2003. The $1000 Genome: Ethical and Legal Issues in Whole Genome Sequencing of Individuals.The American Journal of Bioethics 3(3):InFocus. 12. Wall, W.Genetics and DNA Technology: Legal Aspects. 2nd edition. Cavendish Publishing, 2004. 13. Herman, Dreezen, I, Vinck, dkk. Genetic Testing. European Communities, 2002.

28

14. Robin,

C.

MISSING

PEOPLE,DNA

ANALYSIS

AND

IDENTIFICATION OF HUMAN REMAINS. International Committee of the Red Cross. 2009. 15. Ross, L, Anderson, JD. Technical report: ethical and policy issues in genetic testing and screening of children. American College of Medical Genetics and Genomics. 2013

29