Anda di halaman 1dari 6

PERLUKAH RAWAT INAP DI PUSKESMAS

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan kesehatan dilaksanakan secara terarah, berkesinambungan dan realistis sesuai pentahapannya (Depkes RI, 2009). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya ialah dengan menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Adapun yang dimaksud pelayanan kesehatan menurut Levey dan Loomba adalah setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah, dan menyembuhkan penyakit, serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat (Azwar, 1996). Puskesmas sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan memiliki peranan penting dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Saat ini puskesmas telah didirikan hampir diseluruh pelosok daerah. Puskesmas diperkuat dengan puskemas pembantu serta puskesmas keliling, kecuali untuk daerah yang jauh dari sarana pelayanan rujukan maka puskesmas dilengkapi dengan fasilitas rawat inap. Tercatat pada tahun 2002 jumlah puskesmas di seluruh Indonesia adalah 7.277 unit, puskesmas pembantu 21.587 unit, puskesmas keliling 5.084 unit (perahu 716 unit, ambulans 1.302 unit). Sedangkan puskesmas yang memberikan fasilitas pelayanan rawat inap tercatat sebanyak 1.818 unit, sisanya sebanyak 5.459 unit tidak dilengkapi dengan fasilitas rawat inap (Depkes RI, 2004). Pemanfaatan fasilitas kesehatan puskesmas dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu rata-rata kunjungan per hari buka puskesmas dan frekuensi kunjungan puskesmas. Rata-rata kunjungan per hari buka secara nasional adalah 93,57 atau 94 kunjungan per puskesmas per hari buka, dengan kisaran antara 21 (di Propinsi Kalimantan Timur) dan 228 (di Propinsi Jawa Timur),

sedangkan rata-rata frekuensi kunjungan masyarakat ke puskesmas secara nasional adalah 2,27 kali pada tahun 1996 dengan kisaran antara 1,55 (di Pronpinsi Irian Jaya) dan 3,64 di Propinsi Kalimantan Selatan (Depkes RI, 2005). Menurut hasil Susenas dalam profil Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara (2007), dari penduduk yang berobat jalan sebesar 23,4% memanfaatkan puskesmas, dan penduduk yang pernah dirawat inap sebesar 9,81%. Hal ini mencerminkan bahwa need (kebutuhan) masyarakat terhadap pelayanan kesehatan masih sangat rendah. Rendahnya persentase penduduk yang berobat ke puskesmas diperkirakan karena fasilitas pelayanan yang kurang memadai, terbatasnya waktu pelayanan, dan masih banyak puskesmas yang masih sulit dijangkau serta beberapa faktor lainnya. Pembangunan baru puskesmas rawat inap dilaksanakan dalam rangka meningkatkan jangkauan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembangunan baru puskesmas rawat inap sebenarnya diprioritaskan untuk wilayah tertinggal, terpencil, kepulauan dan perbatasan akan tetapi pembangunan puskesmas rawat inap kini diarahkan pembangunan ke perkotaan (Depkes RI, 2008). Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan terdepan dan langsung menjangkau masyarakat. Puskesmas sebagai salah satu sarana kesehatan merupakan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggung jawab

menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesi-nambungan .Pelayanan kesehatan tersebut meliputi : 1). Pelayanan kesehatan perorangan ,dan 2). Pelayanan kesehatan masyarakat dengan pelayanan keperawatan merupakan bagian yang integral di dalamnya. Pelayanan yang diberikan harus tetap berpedoman pada standar pelayanan kesehatan (Istanto ,2002). Pelayanan perawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas berorientasi pada tujuan yang berfokus pada asuhan keperawatan efektif dengan menggunakan proses perawatan .Proses keperawatan merupakan kerangka berfikir perawat yang penting artinya dalam penerapan standar asuhan keperawatan, sehingga member-kan hasil yang berkualitas kepada pasien yang menggunakan jasa pelayanan Puskesmas ( Depkes RI, 1999).

Kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat akan mempengaruhi peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan dan pemerataan tenaga, sarana dan prasarana kesehatan baik jumlah maupun mutu pelayanannya, dimana untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan pengaturan yang bertujuan melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan. Dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Malang yang diatur oleh Perda nomor 17 tahun 2012 tentang petunjuk teknis penyelenggaraan pelayanan kesehatan di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas)beserta jaringannya, lebih dititikberatkan pada upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) serta pemulihan kesehatan (rehabilitatif). Pelayanan tersebut ditujukan kepada semua penduduk dengan tidak membedakan jenis kelamin dan golongan umur, sejak dari pembuahan dalam kandungan sampai tutup usia (Effendi, 2009) Pelayanan tersebut dilaksanakan secara bersama-sama antara Pemerintah Daerah dan masyarakat secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Dari perda diatas disebut tugas puskesmas termasuk kuratif dan rehabilitative yang sistemnya diatur

dalam surat keputusan tersebut. Hal ini sudah menjadi landasan hokum perlunya rawat inap di puskesmas Kab. Malang. Dalam Petunjuk Pelaksanaan ini diatur tentang Maksud dan Tujuan Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan bagi Masyarakat di Kabupaten Malang, meliputi pelayanan di Puskesmas baik di Puskesmas Rawat Jalan, Puskesmas Rawat Inap, Puskesmas Rawat Inap Standar, Puskesmas Rawat Inap Plus, Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas Pembantu Melayani Gawat Darurat (Pustu Gadar), Pondok Kesehatan Desa (Ponkesdes), Pondok Bersalin Desa (Polindes) maupun Puskesmas Keliling (Pusling), melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosialnya. Dan ketentuan rawat inapa atau UGD juga diatur dalam pasal 1 ayat IV tentang Jenis dan Macam Pelayanan Kesehatan yang menyebutkan juga adanya Pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) dan Perawatan/Rawat Inap: Ruang Khusus, Non Bangsal, Bangsal. Saya setuju dengan peraturan daerah ini puskesmas juga berfungsi sebagai tindakan kuratif hal ini sejalan dengan Menurut Trihono (2005) ada 3 (tiga) fungsi puskesmas yaitu: pusat penggerak

pembangunan berwawasan kesehatan yang berarti puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan. Disamping itu puskesmas aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari

penyelenggaraan setiap program pembangunan diwilayah kerjanya. Khusus untuk pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Menurut Effendi (2009) ada beberapa proses dalam melaksanakan fungsi tersebut yaitu merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri, memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien, memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan

memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat, dan juga member sarana dan prasarana yang memadai. Sejalan dengan yang diungkapkan Efendi (2009) sarana prasarana termasuk juga ruang rawat inap dan UGD. Jadi pengadaan rawat inap dan UGD di puskesmas merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, apalagi untuk kota-kota besar yang memiliki kebutuhan akan sehat yang tinggi. Apabila puskesmas belum mampu menyelenggarakan upaya kesehatan pengembangan padahal telah menjadi kebutuhan masyarakat, maka dinas kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab dan wajib menyelenggarakannya. Untuk itu, dinas kesehatan

kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan berbagai unit fungsional lainnya (Trihono, 2005). Puskesmas yang merupakan provider pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat seharusnya bisa diberdayakan oleh masyarakat dengan optimal. Berbagai daerah Indonesia memang masih menghadapi permasalahan terhadap pelayanan kesehatan. Diperkirakan hanya sekitar 30% penduduk yang memanfaatkan pelayanan puskesmas, puskesmas pembantu dan puskesmas rawat inap (Depkes RI, 2004).

Penelitian Kurniasari (2008), di Puskesmas Pijoan Baru Provinsi Jambi menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan pelayanan rawat inap dirasakan masih kurang oleh masyarakat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat membutuhkan puskesmas rawat inap tetapi harus didukung dengan perbaikan fasilitas seperti fasilitas air, pengadaan listrik, pembenahan gedung, peningkatan kualitas staf dengan pelatihan dll. Penelitian Sugiyanto (2003), di Puskesmas Kranggan Kabupaten Temanggung Propinsi Jawa tengah mendapatkan bahwa penilaian citra oleh masyarakat terhadap puskesmas kurang baik (8,2%), diketahui bahwa fasilitas pelayanan yang masih kurang memadai seperti pelayanan pemeriksaan, pengobatan dan perawatan yang cepat dan tepat. Berdasarkan Laporan Bulanan Puskesmas Gelugur Darat Tahun 2010 diperoleh data jumlah kunjungan puskesmas sebanyak 62885 kasus dan pemanfaatan fasilitas rawat inap tercatat sebanyak 33 orang. Hal ini menunjukkan pemanfaatan fasilitas rawat inap puskesmas masih sangat rendah. Umumnya masyarakat menggunakan puskesmas rawat inap ini untuk persalinan, selain itu juga melayani berbagai diagnosa seperti DBD, Diare, Hipertensi dll. Berdasarkan survei pendahuluan pada Bulan Desember Tahun 2010 di Puskesmas Gelugur Darat, kegiatan yang dilakukan apabila pasien datang ke pelayanan rawat inap adalah membawa pasien ke pelayanan Gawat Darurat di ruang bagian belakang puskesmas, kemudian dilakukan pemeriksaan fisik kepada pasien dan dilakukan anamnesa setelah itu pasien di bawa ke ruang rawat inap. Pada umumnya pasien yang rawat inap di puskesmas hanya berkisar 1-2 hari saja dan jika tidak sanggup maka pasien dirujuk ke rumah sakit terdekat. Hal ini mencerminkan bahwa pelayanan yang dilakukan oleh puskesmas masih dirasakan kurang maksimal sehingga secara tidak langsung masyarakat menganggap citra dari pelayanan masih kurang baik. Saran-Saran Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan baik, maka banyak hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah kesesuaian dengan kebutuhan masyarakat, sehingga perkembangan pelayanan kesehatan secara umum dipengaruhi oleh besar kecilnya kebutuhan dan tuntutan dari masyarakat yang sebenarnya merupakan gambaran dari masalah kesehatan yang dihadapi

masyarakat

tersebut.

Kebutuhan

adalah

keinginan

masyarakat

untuk

memperoleh dan mengkonsumsi barang dan jasa yang dibedakan menjadi keinginan untuk menggunakan pelayanan kesehatan dan tidak inginnya menggunakan pelayanan kesehatan yang ada dalam hal ini puskesmas rawat inap. (Tjiptoherijanto, 2008). Pada prinsipnya terdapat dua komponen dalam pelayanan kesehatan input ( SDM dan sarana prasarana) dan proses (kegiatan, pembinaan, supervise dan monitoring) dalam pelayanan kesehatan dipuskesmas masih belum seperti yang diharapkan. Dari komponen input yang tidak memadai dan dibawah standa, terdapat juga kesenjangan supply dan demand dalam hal sarana, terutama dalam rawat inap. Butuh pembangunanyang merata tidak terfokus pada kotakota besar saja, karena kebutuhan rawat inap di kota kecil lebih besar, hal ini mendukung untuk jarak Rumah Sakit Daerah yang sulit dijangkau maka peran rawat inap sangat diperlukan, pada kota besart juga dibutuhkan rawat inap puskesmas, walaupun akses ke Rumah Sakit Daerah mudah tapi untuk mengurangi overload kapasitas bed di rumah sakit maka diperlukan juga rawat inap di puskesmas. Pembenahan sarana merupakan hal yang harus segera dilakukan oleh pemerintah.