Anda di halaman 1dari 18

SISTEM PERNAFASAN ( RESPIRASI )

Paru merupakan organ penting bagi tubuh yang mempunyai fungsi utama sebagai alat respirasi. Proses respirasi yaitu pengambilan oksigen dari udara luar dan pengeluaran CO2 dari paru-paru. Sistem respirasi membawa udara melalui hidung ke dalam alveoli. Dirongga hidung udara dibersihkan dari debu ukuran 2-10 , dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan lendir hidung sebelum masuk ke trakea Paru merupakan organ penting bagi tubuh yang mempunyai fungsi utama sebagai alat respirasi. Proses respirasi yaitu pengambilan oksigen dari udara luar dan pengeluaran CO2 dari paru-paru. Sistem respirasi membawa udara melalui hidung ke dalam alveoli. Dirongga hidung udara dibersihkan dari debu ukuran 2-10 , dipanaskan dan dilembabkan oleh bulu dan lendir hidung sebelum masuk ke trakea. Debu yang lolos ditangkap oleh lendir dari sel-sel mukosa di bronkus dan bronkioli, silia sel mukosa ini bergerak berirama mendorong kotoran keluar dengan kecepatan 16 mm/menit. Proses transfer O2 setelah sampai di alveoli, terjadi proses difusi O2 ke eritrosit yang terikat oleh hemoglobin sejumlah 20 ml/100 ml darah dan sebagian kecil larut dalam plasma 0,3 ml/ 100 cc, jika Hb 15 gr%. Dan sebaliknya C02 dari darah dibawa ke alveoli untuk dikeluarkan melalui udara ekspirasi. Proses ventilasi (keluar masuknya udara) didukung oleh unsur-unsur jalan nafas, jaringan paru, rongga thorax, otot nafas dan saraf nafas. Topik 1.Struktur Anatomi dan Histologi Sistem Respirasi 2.Fungsi Sistem Respirasi 3.Pengertian Respirasi 4.Fase/Proses Respirasi 5.Difusi Paru 6.Ruang Rugi 7.Volume Paru 8.Hipoksia dan Terapi O2 STRUKTUR SISTEM RESPIRASI A.Berdasarkan Anatomi-Histologi 1.Conducting Portion / Cleaning system / Bagian Penyalur ~Hidung ~Pharynx ( NasoPharynx ) ~Larynx ~Trachea ~Bronchus Extra Pulmonalis ~Bronchus Intra Pulmonalis ~Bronchiolus Terminalis. 2.Respiration Portion / Bagian Respiratorik ~Bronchiolus Respiratorius ~Ductus Alveolaris ( ditemukan beberapa Saccus Alveolaris dimana terdapat gerombolan Alveoli ). B.Berdasarkan Anatomi-Fisiologi 1.Tractus Respiratorius Atas Terdiri dari : - Mulut

Rongga Hidung Pharynx Larynx 2.Tractus Repiratorius Bawah Terdiri dari - Trachea Bronkus Bronkiolus Alveoli CAVUM NASI (RONGGA HIDUNG) Fungsi : Sebagai jalan keluar/masuknya udara Penyaring Melembabkan dan menghangatkan udara Ruang resonansi fungsi bicara Tempat reseptor pembau Struktur : Di tengahnya dipisahkan oleh septum nasi. Udara masuk melalui lubang hidung yang terletak paling depan atau cuping hidung yang disebut nares anterior dan ada lubang di belakang yang berhubungan dengan nasopharynx yang disebut nares posterior. Nares Anterior Dindingnya terdiri dari : 1.Jaringan ikat fibrous 2.Tulang rawan, yang memberi bentuk pada hidung 3.Otot bergaris, menyebabkan cuping hidung dapat mengembang dan mengempis. Organ Penyaring 1.Bulu Hidung, bisa menyaring debu dengan ukuran > 5. 2.Selaput Lendir, fungsinya sebagai lem bagi debu yang masuk. 3.Konkha ( Conchae ), merupakan tonjolan / sekat dinding rongga hidung. Fungsinya : - sebagai proses penyaringan yang terjadi pada bidang yang lebih luas. - sebagai penyaring pada tempat yang banyak mengandung mucus (lendir). Cavum Nasi dibagi menjadi : Vestibulum Nasi ( Regio Vestibularis ) Rongga terlebar. Epitelnya berlapis pipih bertanduk dengan rambut-rambut tebal yang mengarah ke luar dan disebut vibrissae. Terdapat kelenjar minyak dan kelenjar keringat. Semakin ke dalam, epitelnya semakin tidak bertanduk dan tipis, tidak ada kelenjar keringat dan lemak. Bagian Respiratorik terdiri dari: 1.Regio Respiratoria yang dilapisi oleh mukosa respiratoria. 2.Regio Olfaktoria dilapisi oleh mukosa olfaktoria. Sinus Merupakan rongga-rongga yang berisi udara di dalam hidung disekitar rongga hidung dan mempunyai hubungan-hubungan dengan rongga hidung.

Yang termasuk sinus para nasalis : 1.Sinus frontalis 2.Sinus maksilaris 3.Sinus ethmoidalis 4.Sinus spenoidalis Fungsi : penghangat dan melembabkan udara pada produksi mucus ( lendir ). PHARYNX Adalah rongga yang berbentuk pipih dan dilewati oleh udara dan makanan. Terdiri dari otot skeletal untuk fungsi penelanan. Terdapat glottis yang berfungsi menutup saluran napas apabila ada makanan yang akan melewati pharynx, dan refleknya adalah batuk. Bagian-bagian dari pharynx yaitu : 1.Nasopharynx : sebagai jalan napas. 2.Oropharynx : sebagai jalan makanan dan udara. 3.Laringopharynx : sebagai jalan makanan dan udara, dan merupakan pemisah antara esophagus dan trachea. Terdapat lapisan-lapisan, yaitu : Epitel Mukosa Respiratoria Yaitu epitel berderet silindris dengan 2 tipe : a.Dengan sel goblet Sel-sel yang akan mensekresi mucus/lendir yang akan menangkap bahan-bahan kotoran dari luar. b.Sel-sel yang bercilia Silia akan bergerak untuk mendorong mucus keluar. Epitelnya tinggi dan bersilindris. Pembuluh Darah Berfungsi untuk menghangatkan. Lamina Propia Terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar dan banyak sabut-sabut elastis. Tunika sub-Mukosa Sekretnya ada yang kental ( mucous ) dan ada yang serous ( cair ). Fungsinya : untuk melembabkan udara. Mengandung jaringan ikat kendor yang mempunyai banyak jaringan limfoid, yaitu : Tonsillae Pharyngica, letaknya di belakang nasopharynx. Tonsilla Palatina, terletak di perbatasan rongga mulut dan oropharynx kiri kanan. Tonsillae Lingialis, terletak pada akar lidah. Tonsillae Tubaria, terletak di sekitar muara Tuba Eusthacii. LARYNX Merupakan jalan udara sebagai saluran peralihan makanan dan udara. Menghubungkan pharynx dan trachea. Mempunyai kerangka : 1.Tulang rawan hyalin (besar-besar). 2.Tulang rawan elastis ( kecil-kecil ) Mempunyai 2 lipatan mukosa yang disebut : Pilika Vokalis/Falls Vocal Cord Fungsi lain dari pilka vokalis adalah : Menutup saluran napas saat mengejan

Secara refleks menutup saluran napas bila berada pada tempat dengan udara yang tidak dikehendaki oleh paru-paru. Secara Intermitent membuka menutup saat batuk. Dapat pula diregangkan atau ditegangkan. Terlibat dalam proses bicara. Pilika Ventrikularis/True Vocal Cord Disebut juga pita suara palsu yang dapat merapat untuk menahan nafas sewaktu menggendan. Mempunyai kelenjar dimukosanya. Dilengkapi epiglotis dan glottis Epiglotis akan menutup laring ketika menelan. Glotis akan terbuka saat udara masuk. TRACHEA DAN BRONCHUS EXTRA PULMONALIS Tunika Mukosa : Lapisan epitel; Permukaan trachea dilapisi oleh epitel berderet silindris dengan kinosilia dan sel goblet. Terdiri atas sel-sel : Sel silindris bersilia Sel goblet sel piala mukous Sel silindirs dengan striated border (brush cells) reseptor sensorik Sel lymfosit, makrofag dll. Lamina Propria : Terdiri atas jaringan ikat kendor, merupakan lapisan yang tipis dengan sabut sabut elastis yang jelas. Terdapat infiltrasi dari sel sel lymfosit. Tunika Submukosa : Terdiri atas jaringan ikat kendor, dimana didalamnya terdapat : Kelenjar campur / serous terutama terletak di sela sela 2 cincin tulang rawan sedangkan pada bagian posterior terletak diluar / didalam otot polos. Pembuluh darah dan pembuluh lymfe. Tulang Rawan Hyalin : Berbentuk seperti tapal kuda dengan ujung posteriornya terbuka yang dihubungkan oleh otot polos dengan arah transversal dan longitudinal/serong. Terdiri atas sekitar 20 cincin yang mengakibatkan lumen trachea selalu terbuka. Antara cincin cincin tulang rawan dihubungkan oleh jaringan ikat padat yang menyatu dengan perikondrium. Tunika Adventitia : Terletak diluar tulang rawan, terdiri atas jaringan ikat kendor yang berisi pembuluh darah dan saraf otonom. Bronchus extra pulmonalis mempunyai struktur histologi yang sama dengan trachea. Merupakan bronchus yang terletak diluar paru yang pada gross anatomi disebut main bronchus. Bila didekatnya terdapat oesophagus atau kelenjar thyroid maka sediaannya adalah trachea. BRONCHUS INTRA PULMONALIS Bronchus intra pulmonalis adalah bronchus yang sudah memasuki jaringan paru. Selalu berjalan interlobuler, diselubungi oleh jaringan ikat interlobularis yang merupakan kelanjutan jaringan ikat dari hilus. Didekatnya berjalan pembuluh darah yang merupakan cabang dari arteria dan vena pulmonalis.

Tunika Mukosa : Dilapisi oleh epitel berderet silindris dengan kinosilia dan sel goblet dan mempunyai lamina basalis yang jelas. Lamina propria tipis, terdiri atas jaringan ikat kendor yang mengandung sabut sabut elastis dan sabut sabut retikuler yang berjalan longitudinal. Bronchi bercabang cabang sebagai bronchial tree yang makin lama makin kecil dan bronchus terkecil dilapisi oleh epitel selapis silindris + silia + sel goblet Pada perbatasan dengan submukosa terdapat otot polos yang tersusun spiral mengelilingi bronchus sehingga otot polos ini tampak terputus putus Otot polos ini ibarat muskularis mukosa Juga didapatkan sabut sabut elastis yang memadat. Tunika Submukosa : Terletak disebelah dalam dari tulang rawan, terdiri dari jaringan ikat kendor yang mengandung kelenjar campur dan mukous dan juga terdapat jaringan lymfoid. Tulang Rawan Hyalin : Berupa lempengan lempengan tulang rawan yang ireguler mengelilingi lumen sehingga pada potongan melintang tampak seperti kepingan kepingan atau pulau pulau. Tunika Adventitia : Terdapat cabang cabang dari arteria dan vena bronchialis. BRONCHIOLUS Berjalan intralobuler dengan penampang kira kira 1 mm. Tunika Mukosa : Dilapisi oleh epitel selapis silindris rendah atau selapis kubis, mempunyai kinosilia dan sel goblet. Pada bronchiolus kecil, sel goblet (-), sebagai gantinya terdapat sel Clara atau bronchiolar sel. Sifat Sel Clara Berbentuk seperti kubah dengan apex menonjol kearah lumen. Bersifat sekretoris, membentuk cairan bronchial dan surfactant. Lamina propria mengandung sabut sabut elastis dan otot polos (muskularis mukosa) yang lebih tebal dibandingkan dengan otot polos pada bronchus intrapulmonalis. Tidak ada tulang rawan, kelenjar, lymfonoduli. Tunika adventitia tipis. Bronchiolus Terminalis Hanya dapat didiagnosa pada potongan membujur dimana dia merupakan segmen pendek sebelum menjadi bronchiolus respiratorius. Dilapisi oleh epitel selapis kubis dengan sel sel yang bersilia (penting untuk drinage yang kemudian fungsi ini akan diambil oleh makrofag) yang terletak diantara sel sel kubis yang tidak bersilia Belum ada muara alveoli. Pada potongan melintang, struktur bronchiolus terminalis tidak bisa dibedakan dengan bronchiolus kecil. Bronchiolus Respiratorius Dilapisi oleh epitel selapis kubis bersilia sampai selapis pipih. Muara alveoli sudah mulai ada, sehingga pertukaran gas sudah mulai terjadi. Mempunyai sabut otot polos tetapi tidak melingkari lumen, hanya tampak sebagai benjolanbenjolan atau garis tebal yang terputus-putus karena disela oleh muara-muara alveoli. Sabut elastis tetap ada, sabut retikuler juga tetap ada.

Ductus Alveolaris Saluran berbentuk kerucut, berdinding tipis dilapisi oleh epitel selapis pipih. Sabut otot polos hanya tampak seperti titik-titik saja karena disela oleh muara alveoli yang sangat banyak dan otot polos ini tampak jelas diujung-ujung muara alveoli. Mempunyai sabut elastis dan sabut retikuler. Saccus Alveolaris Ruangan multilokuler berbentuk seperti bunga, dibentuk oleh beberapa alveoli. Tidak mempunyai otot polos, antara alveolus yang satu dengan yang lain dipisahkan oleh septum interalveolaris. Mempunyai sabut elastis untuk mengembang kempiskan alveoli. Mempunyai sabut retikuler untuk mencegah over distensi dari alveoli. Alveoli Ruang berbentuk hexagonal dengan lubang besar untuk keluar masuknya udara. Mempunyai sabut elastis, sabut retikuler dan septum interalveolare. Septum Interalveolare : Dinding tipis antar alveoli yang dilapisi oleh epitel selapis pipih. Mempunyai sabut elastis, sabut retikuler, kaya akan kapiler. Mempunyai lubang-lubang halus yang disebut alveolar pores untuk menjaga keseimbangan tekanan antar alveoli. Sel sel yang terdapat pada septum interalveolare : Sel type I: Lapisan penutup yang lengkap pada permukaan alveoli. Sel berbentuk pipih dengan inti pipih dan sitoplasmanya sedikit. Sel type II: Sel berbentuk kuboid, biasanya terletak dipojok pojok dinding alveoli. Inti vesikuler, sitoplasmanya banyak dan bervakuola. E/M mengandung sitosome yang berisi surfaktant. Sel endotel : Mirip seperti sel type I, yaitu gelap, inti pipih dan sitoplasmanya sedikit. Sel endotel melapisi dinding kapiler. Alveolar macrophage / alveolar phagocytes / dust cells : Seperti makrofag biasa, tapi terletak pada septum interalveolaris, alveolar space dan antara septum interalveolaris dengan alveolar space. Bila memphagositir debu, disebut dust cells. Bila memphagositir erytrosit (pada heart failure) disebut heart failure cells. Blood Air Barrier Adalah struktur yang dilalui oleh gas gas pada proses pertukaran gas antara ruang alveolus dan darah dalam kapiler. Struktur ini terdiri atas : Epitel selapis pipih dari alveoli Interstitial space adalh ruang antara lamina basalis epitel alveoli dengan lamina basalis kapiler Endotel kapiler. FUNGSI SISTEM RESPIRASI 1.Pertukaran gas 2.Keseimbangan asam basa

3.Phonasi (untuk mengeluarkan suara) 4.Proteksi tubuh terhadap benda asing 5.Penyedia jalan untuk peneluaran air dan panas PENGERTIAN RESPIRASI 1.Eksternal Mengacu pada rangkaian peristiwa dalam pertukaran O2 dan CO2. Pertukaran terjadi pada sel tubuh dan lingkungan, meliputi : Ventilasi : pergerakan udara keluar masuk paru, kecepatan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh terhadap O2 dan pengeluaran CO2. Difusi : pertukaran gas paru-kapiler-sel/jaringan. Pertukaran gas. Proses : O2 alveoli paru-darah-diangkat jaringan-sel. CO2 (metabolisme) diangkat dengan arah berlawanan 2.Internal Proses metabolik pada sel, yang merupakan oksidasi bahan makanan. Terjadi pada mitokondria , menghasilkan ATP. Koefisien pernafasan : rasio CO2 yang dihasilkan terhadap O2 yang dikonsumsi tergantung bahan yang dikonsumsi : - Karbohidrat : RQ = 1 - Lemak : RQ = 0,7 - Protein : RQ = 0,8 FASE RESPIRASI/PROSES RESPIRASI Fase respirasi / proses respirasi merupakan hubungan timbal balik antara: Tekanan atmosfer Tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di atmosfer terhadap benda di permukaan bumi. Tekanan intraalveolar / intrapulmonary Tekanan intaalveolar adalah tekanan dalam alveolar. Tekanan intrapleura Tekanan intrapleura adalah tekan dalam kantung pleura. Dikenal juga sebagai tekanan intrathoraks yaitu tekanan pada luar paru pada rongga thoraks. Inspirasi ( Kontraksi ) Inspirasi merupakan proses aktif Inspirasi dibantu oleh kontraksi otot pernapasan dan diagfragma. Inspirasi terjadi penurunan tekanan alveolar. Otot inspirasi utama adalah diafragma Proses inspirasi : Kontraksi otot (diafragma, intercostae) Volume thoraks / rongga dada Paru-paru mengembang Tekanan intrapulmonari Udara masuk Ekspirasi ( Relaksasi ) Ekspirasi merupakan proses pasif Merupakan hasil daya elastis recoil paru pada saat otot inspirasi relaksasi.

Akhir inspirasi : paru dan thoraks kembali pada posisi semula. Ekspirasi dapat bersifat aktif/paksa jika pengosongan paru lebih cepat dari pada bernafas tenang. 2.4.3 Ventilasi Paru Daya dorong ventilasi paru Adalah beda tekanan atmosfer dengan tekanan Intrapulmonar Aliran udara : berbanding langsung dengan gradient tekanan berbanding terbalik dengan tahanan pada jalan napas Tekanan penyebab ventilasi paru : a. Tekanan pleura yang berhubungan dengan volume paru b. Tekanan alveolus c. Tekanan transpulmoner d. Faktor yang mempengaruhi Ventilasi paru Mekanis : besar aliran darah ( kapiler ) alveoli ketebalan membran alveoli ( barrier difusi ) besar daya ventilasi alveoli Kimiawi : pCO2 arteri pO2 arteri [H]+ pd arteri Transport Gas Transport O2 Transport Oksigen dalam Darah Arteri. 98% darah dari paru memasuki atrium kiri yang mengalir melalui kapiler alveolus dan menjadi teroksigenisasi sampai PO2 kira-kira 104 mm Hg. 2% lainnya melewati aorta melalui sirkulasi bronkial, aliran ini disebut aliran pintas. Aliran pintas menyuplai jaringan dalam pada paru dan tidak terpapar dengan udara paru. Pada waktu meninggalkan paru, PO2 darah pintas hampir sama dengan darah vena sistemik normal. Ketika darah pintas bercampur dalam darah vena paru dengan darah yang teroksigenisasi dari kapiler alveolus, campuran darah ini disebut campuran darah vena. Campuran darah vena menyebabkan PO2 darah yang masuk ke jantung kiri dan dipompa ke dalam aorta, menjadi turun sampai sekitar 95 mm Hg. Transport Oksigen dalam Bentuk Terlarut. Oksigen yang diangkut ke jaringan dalam bentuk terlarut normalnya berjumlah sedikit, hanya sekitar 3% dari jumlah total, bila dibandingkan dengan 97% yang diangkut oleh hemoglobin. Selama kerja berat, pelepasan oksigen oleh hemoglobin ke jaringan meningkat 3x lipat, maka jumlah yang diangkut dalam bentuk terlarut turun menjadi 1,5%. Bila menghirup oksigen pada PO2 alveolus sangat tinggi, maka jumlah yang diangkut dalam bentuk terlarut dapat menjadi berlebihan. Jumlah yang diangkut dalam bentuk terlarut menjadi berlebihan, maka terjadi kelebihan yang serius dalam jaringan dan mengakibatkan keracunan oksigen. Keracunan oksigen tersebut mengakibatkan konvulsi otak dan bahkan kematian. Jumlah oksigen yang diangkut tergantung pada : Cardiac output ( curah jantung )

Oxygen capacity Hematokrit ( Packed Cell Volume ) Respons pembuluh darah terhadap perubahan O2 Transport Co2 Transport CO2 dimulai dari jaringan menuju ke paru. Bentuk transport : CO2 larut dalam plasma Karbamino Hb ( HbCO2 ) Bicarbonate ( HCO3- ) H2CO3 larut dalam plasma DIFUSI PARU Difusi paru adalah proses lanjutan setelah alveoli diventilasi dengan udara segar atau udara luar. Sedangkan definisi difusi itu sendiri adalah suatu proses dimana molekul-molekul sederhana yang dapat bergerak bebas satu sama lain. Difusi dapat terjadi apabila terdapat sumber energi yang disertai gerakan molekul itu sendiri. Arti difusi paru secara umum adalah suatu proses dimana terjadi pertukaran gas yaitu masuknya oksigen dari luar tubuh dan keluarnya gas karbondioksida. Proses Dalam difusi terdapat dua proses yaitu: a.Melalui membran menembus membrane alveoli. alveoli traktus respiratorius Udara Pada proses ini mula-mula pernafasan mulai paru-braoli kapiler, memisahkan oksigen darn alveparu di hirup oleh rongga hidung dan titeruskan ke paru-paru. Pada waktu barnafas, oksigen masuk melalui batang tenggorok (trakea) dan pipa bronchial ke alveoli dan erat hubungannya dengan darah kapiler pulmonaris.. Hanya satu lapis membrane yaitu membrane alveoli kapiler, memisahkan oksigen dari daran merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa dalam pembuluh darah nadi (arteri) ke semua bagian tubuh. Untuk proses partukaran karbondioksida terjadi dengan arah sebaliknya. Di dalam paru-paru, karbondioksida adalah salah satu hari buangan metabolisma, menembus membrane alveolar kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronchial dan trakea, dinafaskan kembali keluar melalui hidung. b.Tanpa melalui membran Proses difusi tanpa melalui membrane ini yang dimaksudkan adalah pertukaran antar gas. Separti contoh yaitu antar karbondioksida dengan karbondioksida atau oksigen dengan oksigen. karbon dioksida Oksigen / karbondioksda Oksigen Fase difusi Dalam difusi terdapat tiga fase yaitu: 1. Gas fase diffution : difusi antar gas 2. Membrane fase diffution : difusi melewati membrane 3. Blood fase diffution : difusi gas dalam kapiler dengan gas darah jaringan. Difusi paru mengikuti hukum difusi a.Beda konsentrasi antara tekanan parsial gas dalam alveoli dan dalam darah kapiler paru.Perbedaan tekanan kedua sisi membran Tekanan parsial : ukuran total molekul gas tertentu yang membentur suatu satuan luas permukaan

membran alveolus pada satu satuan waktu. Tekanan gas dalam darah : jumlah molekul yang berusaha keluar dari dalam arah yang berlawanan. Perbedaan kedua tekanan ini : kecenderungan netto untuk molekul gas bergerak melalui membran. difusi netto dari alveoli ke dalam darah.Tekanan parsial gas dalam alveoli lebih besar daripada tekanan gas dalam darah (seperti pada oksigen) difusi netto dari darah ke dalam alveoli.Tekanan gas dalam darah lebih besar daripada tekanan parsial dalam alveoli (seperti pada karbon dioksida) b.Penampang tempat difusi Luas permukaan membran pernafasan dapat berkurang oleh beberapa keadaan Misalnya: pengangkatan satu paru ruang alveolus lebPada enfisema (beberapa alveoli bersatu, dengan penghancuran sebagian dinding alveolus) ih besar dari asli, total permukaan membran pernafasan berkurang 5x karena hilangnya dinding alveolus. pertukaran gas melalui membran terganggu / keadaan istirahat.Total permukaan berkurang seperempat normal mengganggu pertukaran gas pernafasanOlahraga berat, sedikit penurunan luas permukaan paru c.Suhu tebalnya membran pernafasan kadang meningkatd.Jarak Contoh : cairan edema dalam ruang interstisial membran dan dalam alveoli, sehingga gas-gas pernafasan berdifusi melalui membran dan cairan ini. menambah ketebalan beberapa bagian membran pernafasanFibrosis paru Kecepatan difusi melalui membran berbanding terbalik ketebalan membran e.Diameter partikel (gas) f.Koefisien difusi Untuk memindahkan setiap gas melalui membrane pernafasan bergantung pada kelarutan gas dalam membran, dan berbanding terbalik dengan akar pangkat dua berat molekul gas untuk perbedaan tekanan tertentu CO2 berdifusi 20x lebih cepat dari O2, O2 berdifusi 2x lebih cepat dari nitrogenKecepatan difusi dalam membran pernafasan = kecepatan dalam air Kapasitas Difusi Merupakan kemampuan membran pernafasan dalam pertukaran gas antara alveoli dan darah paru Definisi : besarnya gas yang dapat dilepaskan oleh 100 cc darah ke jaringan tubuh setiap 1 menit Tiap macam gas mempunyai Kapasitas Difusi berbeda sesuai dengan koefisien difusi gas a.Kapasitas Difusi untuk Oksigen Dewasa muda : keadaan istirahat 21 ml/menit/mmHg Artinya : Perbedaan tekanan oksigen rata-rata di antara membran pernafasan selama pernafasan tenang dan normal adalah 11 mmHg. Jika dikali dengan kapasitas difusi (11 x 21 = 230 mililiter oksigen yang berdifusi melalui membran pernafasan tiap menit), nilai ini sama dengan kecepatan pemakaian oksigen tubuh saat istirahat Perubahan kapasitas difusi oksigen selama kerja fisik Selama kerja berat (meningkatkan aliran darah paru dan ventilasi alveolus) kapasitas difusi meningkat 3x kapasitas difusi pada keadaan istirahat pada pria dewasa muda sampai maksimum ( 65 ml/menit/mm Hg) Faktor yang mempengaruhi peningkatan ini: meningkatkan luas permukaan darah.1)Pembukaan sejumlah kapiler paru yang asalnya tidak aktif /

dilatasi ekstra pada kapiler yang telah terbuka rasio ventilasi-perfusi2)Pertukaran yang lebih baik antara ventilasi alveoli dan perfusi kapiler alveolus dengan darah Jadi, selama kerja fisik, oksigenasi darah ditingkatkan oleh peningkatan ventilasi alveolus dan memperbesar kapasitas difusi membran pernapasan untuk memindahkan oksigen ke dalam darah. b.Kapasitas Difusi Karbondioksida Belum pernah diukur karena : CO2 berdifusi dengan cepatnya hingga perbedaan PCO2 rata-rata dalam darah paru dan alveoli terlalu kecil untuk diukur. Namun diperkirakan kapasitas difusi CO2 : keadaan istirahat 400-450 ml/menit/mm Hg. selama kerja fisik 1200-1300 ml/menit/mm Hg. Pengukuran Kapasitas Difusi Kapasitas difusi oksigen dapat dihitung dari pengukuran : PO2 alveolus PO2 dalam darah kapiler paru Kecepatan ambilan oksigen oleh darah Namun pengukuran PO2 sangat sukar sehingga digunakan Metode Karbon Monoksida RUANG RUGI/DEAD SPACE Pengertian Ruang rugi pernapasan adalah ruang di dalam saluran napas yang berisi udara yang tidak berkontak dengan alveoli, sehingga udara tersebut tidak ikut serta dalam proses pertukaran gas dengan darah dalam kapiler paru. Volume ruang rugi adalah volume udara yang diekspirasikan sejak puncak inspirasi sampai dengan pertengahan fase II ekspirasi, yaitu sebesar 150 ml. Volume gas yang terdapat pada ruang rugi : Volume gas dalam alveolus yang tidak mendapat perfusi. Kelebihan volume gas dalam alveolus di atas jumlah udara yang dibutuhkan untuk arterialisasi darah dalam kapiler alveolus. Pada keadaan normal, besar volume ruang rugi sama dengan berat badan dalam pon. Udara (volume tidal) = 500 ml. bercampur dengan udara dalam alveolusDiinspirasi 350 ml menempati ruang rugiSisa udara 150 ml Ekspirasi (bila diukur menggunakan pengukuran nitrogen pernapasan tunggal) Fase I : udara yang pertama kali keluar, tidak mengandung N2. Merupakan udara yang menempati ruang rugi (150 ml). Fase II : udara campuran dari alveoli dan ruang rugi. Fase III : udara dari alveoli. Fase IV : udara dengan kandungan N2 berlebih. Jadi, pada setiap pernapasan tidal di dalam alveoli paru selalu terjadi pencampuran udara segar dari luar (350 ml) dengan udara lama yaitu, 150 ml pada dead space, 1250 ml udara suplemen, dan 1200 ml udara residu. Macam ruang rugi, berdasarkan metode yang menguraikan pengukuran ruang rugi : 1.Ruang rugi anatomi adalah ruang rugi yang berisi volume udara dalam sistem pernapasan selain volume udara pada alveoli. Metode pengukurannya dengan cara mengukur volume seluruh ruang sistem pernapasan selain

alveoli dan daerah pertukaran gas lainnya yang berkaitan erat. Dengan kata lain dengan cara mengukur volume ruang rugi total. 2.Ruang rugi fisiologi adalah ruang yang berisi volume udara yang tidak mencapai keseimbangan dengan darah, yaitu ventilasi yang terbuang. Metode pengukurannya dengan cara mengukur volume seluruh ruang sistem pernapasan termasuk ruang rugi alveoli dan daerah petukaran gas lainnya. Pada orang yang normal, volume ruang anatomi dan volume ruang fisiologi hampir sama, karena pada paru normal semua alveoli berfungsi. Pada orang yang alveolinya hanya berfungsi sebagian atau tidak berfungsi sama sekali, volume ruang rugi fisiologinya mencapai 10 kali volume ruang rugi anatomi VOLUME DAN KAPASITAS PARU Alat : spirometer Fungsi : untuk mencatat volume udara yang keluar masuk paru. Volume Paru Volume paru diukur secara : 1.Statik = diukur dalam keadaan statik, pada saat bernafas biasa 2.Dinamik = diukur pada saat bernafas maksimal Volume paru dibagi menjadi beberapa macam : 1.Volume alun nafas ( tidal ) = adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap kali bernafas normal, 500 ml pada orang dewasa muda 2.Volume cadangan inspirasi = adalah volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah dan diatas volume alun nafas normal, 3000 ml. 3.Volume cadangan ekspirasi = adalah jumlah udara ekstra yang dapat diekspirasi oleh ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi alun nafas normal, 1100ml. 4.Volume residu = adalah volume udara yang masih berada dalam paru setelah ekspirasi paling kuat, 1200 ml. Kapasitas Paru Kapasitas volume udara paru dipengaruhi oleh : a.Bentuk anatomis paru b.Usia c.Distensibilitas paru d.Penyakit pada paru Kapasitas paru, ada beberapa macam yaitu : 1.Kapasitas inspirasi = volume alun nafas + volume cadangan inspirasi, adalah jumlah udara yang dapat dihirup oleh seseorang dimulai dari ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum, 3500 ml. 2.Kapasitas residu fungsional = volume cadangan ekspirasi + volume residu, adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru2 pada akhir ekspirasi normal, 2300ml. 3.Kapasitas vital = volume cadangan inspirasi + volume alun nafas + volume cadangan ekspirasi, adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru setelah terlebih dulu mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya, 4600ml. 4.Kapasitas paru total = adalah volume maksimum dimana paru dapat dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa +5800ml, jumlahnya sama dengan kapasitas vital + volume residu. HIPOKSIA DAN TERAPI OKSIGEN Secara singkat hipoksia didefinisikan sebagai kekurangan O2 ditingkat jaringan.

Hipoksia merupakan defisiensi oksigen karena berkurangnya kadar oksigen dibandingkan kadar normalnya secara fisiologis dalam jaringan dan organ yang terjadi akibat kekurangan oksigen dalam atmosfer, anemia, gangguan sirkulasi darah, penyakit paru, dan adanya zat toksik. Hampir setiap kondisi yang dibicarakan pada bagian ini dapat menimbulkan hipoksia sel yang serius. Pada beberapa keadaan ini, pemberian oksigen sebagai terapi sangatlah berguna; pada sebagian lainnya cukup saja, sedangkan pada yang lain lagi hampir tidak berguna. Oleh karena itu, perlu untuk mengerti berbagai jenis hipoksia; kemudian kita dapat membicarakan prinsip-prinsip fisiologis dari terapi oksigen. Berikut ini adalah klasifikasi dari bermacam-macam penyebab hipoksia: 1.Oksigenasi paru yang tidak memadai karena keadaan ekstrinsik a.Kekurangan oksigen dalam atmosfer b.Hipoventilasi (gangguan saraf otot) 2.Penyakit paru a.Hipoventilasi karena peningkatan tahanan saluran napas atau penurunan compliance paru b.Rasio pervusi-ventilasi alveolus tidak sama (termasuk peningkatan ruang rugi fisiologik dan pintas fisiologik ) c.Berkurangnya difusi membrane pernafasan 3.Pintas vena ke arteri (pintas jantung dari kanan ke kiri). 4.Transpor oksigen yang tidak memadai oleh darah ke jaringan a.Anemia atau hemoglobin abnormal b.Penurunan sirkulasi umum c.Penurunan sirkulasi lokal (perfier,serebral,pembuluh darah jantung) d.Edema jaringan 5.Kemampuan jaringan untuk menggunakan oksigen tidak memadai a.Keracunan enzim sel b.Penurunan kapasitas metabolic sel karena toksisitas, defisiensi vitamin, atau faktor-faktor lain. Pembagian hipoksia secara tradisional, hipoksia dibagi menjadi 4: 1.hipoksia hipoksik (anoksia anoksik), yaitu apabila Po2 darah arteri berkurang. 2.hipoksia anemic, yaitu bila pO2 darah arteri tetapi jumlah hemoglobin yang tersedia untuk mengangkut O2 berkurang. 3.hipoksia stagnan atau iskemik, bila aliran darah menuju jaringan sangat rendah sehingga tidak cukup O2 diantarkan ke jaringan, meskipun pO2 dan konsentrasi hemoglobin normal. 4.hipoksia histotoksik, bila jumlah O2 yang dihantarkan ke jaingan memadai, tetapi oleh karena kerja suatu agen toksik. Sel jaringan tidak mampu menggunakan O2 yang dihantarkan. Klasifikasi dari jenis-jenis hipoksia ini terutama dinyatakan dari pembahassan pada awal bab ini. Hanya satu macam hipoksia pada klasifikasi diatas yang perlu diteliti lebih jauh; normal hipoksia ini disebabkan oleh ketidakmampuan sel untuk memakai oksigen. Ketidakmampuan jaringan untuk menggunakan oksigen Penyebab klasik dari ketidakmampuan jaringan untuk menggunakan oksigen adalah keracunan sianida, di mana kerja enzim sitokrom oksidase dihambat dengan sempurna oleh sianida sehingga untuk selanjutnya jaringan tidak mampu menggunakan oksigen walaupun tersedia cukup banyak. Kekurangan beberapa enzim oksidatif atau bahan-bahan lain dalam system oksidatif jaringan juga dapat menimbulkan hipoksia jenis ini. Pengaruh hipoksia pada tubuh. Hipoksia , bila cukup berat, dapat menyebabkaN kematian sel-sel, tetapi pada tingkat yang kurang

berat akan mengakibatkan : penekanan aktivitas mental, kadang-kadang memuncak sampai koma, dan menurunkan kapasitas kerja otot. Terapi oksigen pada berbagai hipoksia Oksigen dapat diberikan sebagai terapi dengan cara : 1.Meletakkan kepala pasien didalam suatu tenda (tempat tertutup) yang berisi udara dengan oksigen kuat (fortified) 2.Pasien bernafas dengan oksigen murni atau oksigen dengan konsentrasi tinggi dari sebuah masker 3.Pemberian oksigen melalui pipa intranasal Pada hipoksia atmosfir, terapi oksigen dapat memperbaiki kekurangan oksigen dalam udara inspirasi dan oleh karena itu memberi hasil terapi 100 persen efektif. Pada hipoksia hipoventilasi, seorang bernafas dengan oksigen 100 persen, pada setiap kali bernafas dapat mengalirkan oksigen ke dalam alveoli lima kali lebih banyak daripada bernafas dengan udara normal oleh karena itu, disini terapi oksigen dapat sangat bermanfaat. (tetapi, penggunaan ini tidak berguna pada keadaan kelebihan karbon dioksida yang juga disebabkan oleh hipoventilasi) Pada hipoksia yang disebabkan oleh gangguan difusi membrane alveolus, pada dasarnya terjadi efek yang sama seperti pada hipoksia hipoventilasi, karena terapi oksigen dapat meningkatkan Po2 dalam paru dari nilai normal kira-kira 100 mmHg sampai setinggi 600 mmHg. Hal ini meningkatkan gradien difusi oksigen antara alveoli dan darah dari nilai normal 60 mmHg menjadi 560 mmHg. Pada hipoksia yang disebabkan oleh anemia, kelainan transport oksigen oleh hemoglobin, defisiensi sirkulasi, atau pintas fisiologik, maka terapi oksigen nilainya jauh lebih rendah, kren dalam alveoli telah terdapat oksigen yang normal. Malah problemnya adalah bahwa mekanisme yang sesuai untuk mentranspor oksigen ke jaringan menjadi berkurang. Walaupun begitu, sejumlah kecil oksigen ekstra, antara 7-30 % dapat ditranspor dalam keadaan terlarut dalam darah bila oksigen alveolus ditingkatkan hingga mencapai maksimum, walaupun jumlah yang ditranspor oleh hemoglobin sangat berubah. Jumlah oksigen ekstra yang sedikit ini mungkin berbeda dalam keadaan hidup maupun mati. Pada berbagai jenis hipoksia akibat penggunaan oksigen jaringan yang tidak adekuat, maka abnormalitas yang terjadi bukan pada pengambilan oksigen oleh paru ataupun transpornya ke jaringan. Malah system enzim metabolic jaringan yang tidak mampu menggunakan oksigen yang dikirimkan. Oleh karena itu terapi ini masih diragukan apakah terapi oksigen bermanfaat. Pengaturan Pernafasan Kendali Kimiawi Faktor kimiawi adalah faktor utama dalam pengendalian dan pengaturan frekuensi, kecepatan dan dalamnya gerakan pernafasan. Pusat pernafasan di sumsum sangat peka pada reaksi kimia. Karbondioksida adalah produk asam dari metabolisme, yang merangsang pusat pernafasan untuk mengirim keluar impuls saraf yang bekerja atas otot pernafasan. Pusat pengendalian ada di kemoreseptor yang mendeteksi perubahan kadar oksigen, karbondioksida dan ion hydrogen dalam darah arteri dan cairan serebrospinalis dan menyebabkan penyesuaian yang tepat antara frekuensi dan kedalaman respirasi. 1.Kemoreseptor sentral Yaitu neuron yang terletak di permukaan ventral lateral medulla. Peningkatan kadar karbondioksida dalam darah arteri dan cairan serebrospinalis merangsang peningkatan frekuensi dan kedalaman respirasi. Penurunan kadar oksigen hanya sedikit berpengaruh pada kemoreseptor sentral. 2.Kemoreseptor perifer

Terletak di badan aorta dan carotid pada system arteri. Merespon terhadap perubahan konsentrasi ion oksigen, karbondioksida, dan ion hydrogen. Contoh : Kalau kita melakukan olahraga maka akan terjadi proses pembakaran di dalam tubuh, hal ini memerlukan oksigen yang sangat besar, maka efek dari kompensasi tubuh adalah dengan jalan respirasi yang cepat dan dalam untuk menyediakan bahan bakar tersebut, sewaktu kita mulai istirahat maka tubuh akan kembali normal karena oksigen yang dibutuhkan standar karena pembakaran yang terjadi tidak terlalu banyak (standard). 3.Mekanoreseptor Terdapat pada jalan napas atas dan atas paru. Pada paru utama : reseptor regang pulmonar (PSR = Pulmonar Strech Receptor ) dari Refleks Hering Breuer. Refleks Hering Breuer : Peregangan paru impuls serabut saraf Nervus vagus Sistem saraf pusat respons : peningkatan waktu, respirasi dan penurunan frekuensi napas. 4.Otomatis Sistem saraf pusat pusat respirasi pada pons dan medulla. KESIMPULAN System respirasi mempunyai struktur anatomi dan histology, yang masing-masing organnya memiliki fungsi yang berbeda-beda untuk respirasi. Struktur anatomi histology: conducting portion (mulai dari rongga hidung (cavum nasi) sampai dengan bronchioli) Respiration portion (mulai dari bronchioli sampai dengan alveoli). Struktur anatomi fisiologi: Traktus respiratory atas ( mulut, rongga hidung, pharynx, dan larynx). Traktus respiratoy bawah ( trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveoli). Pengertian system respirasi ada 2, yaitu: 1.Eksternal, yaitu mengacu pada seluruh rangkaian peristiwa yang terlibat dalam pertukaran O2 dan CO2. 2.Internal, yaitu proses metabolic pada sel. Fungsi system respirasi: 1.Pertukaran gas 2.Keseimbangan asam basa 3.Phonasi (untuk mengeluarkan suara) 4.Proteksi tubuh terhadap benda asing 5.Penyedia jalan untuk peneluaran air dan panas Dalam system respirasi ada 4 proses yang dibagi menjadi 2 menurut eksternal dan internal. 1.Eksternal: Ventilasi Transport gas : O2 dan CO2 2.Internal Inspirasi (kontraksi), merupakan proses aktif yang dibantu oleh kontraksi otot pernapasan dan diafragma. Proses: Kontraksi otot (diafragma intercostae)

Aktivitas saraf pernikus Volume thoraks / rongga dada Paru mengembang Tekanan taticlmonary Udara masuk Ekspirasi (relaksasi), merupakan proses pasif. CO2). O2 ; CO2 menembus membrane alveoli. Proses difusi dapat juga terjadi tanpa melalui membrane, tetapi melalui gas ( O2 alveoli traktus respiratorius Difusi paru merupakan proses lanjutan dari transpor gas. Difusi paru adalah pertukaran antara O2 dan CO2 dalam paru. Prosesnya adalah udara Ruang rugi merupakan ruang dalam saluran napas dimana udara di dalamnya tidak berdifusi dengan akpiler. Ada 2 macam: 1.Ruang rugi anatomi 2.Ruang rugi fisiologi. Volume paru dibagi menjadi 2, yaitu: 1.Static, diukur dalam keadaan static 2.Dinamik, pengukuran dengan kekuatan maximal / pada saat pernapasan paksa. Dalam jabaran pemicu diceritakan tentang kekurangan O2 pada saat penerbangan ( ketinggian ). Dalam hal ini, kekurangan oksigen pada ketinggian merupakan hipoksia atmosfir Macam-macam hipoksia: 1.Hipoksia hipoksik, Po2 darah arteri berkurang 2.Hipoksia anemic, Po2 darah arteri normal tetapi jumlah Hb yang tersedia untuk mengangkut O2 berkurang. 3.Hipoksia stagnan, aliran darah menuju jaringan sangat rendah sehingga tidak cukup O2 dihantarkan ke jaringan, meskipun Po2 dan konsentrasi Hb normal. 4.Hipoksia histotoksis, jumlah O2 yang dihantarkan ke jaringan memadai, tetapi oleh karena kerja suatu agen toksik, sel ajringan tidak mampu menggunakan O2 yang dihantarkan. Terapi O2 dapat dilakukan dengan cara: 1.Meletakkan kepala pasien di dalam suatu tenda yang berisi udara dengan O2 yang kuat. 2.Pasien bernapas dengan O2 murni / O2 dengan konsentrasi tinggi dari sebuah masker. 3.Pemberian O2 melalui pita intranasal.

Pemeriksaan spirometri CHECKLIST KETERAMPILAN PEMERIKSAAN SPIROMETRI No Aspek keterampilan yang dinilai

TKK spirometer 1 Mencatat identitas probandus (nama, umur, jenis kelamin, BB, TB, alamat) 2 Menghitung Estimate Vital Capacity/Predictive Vital Capacity, dengan: a. Rumus b. Normogram Baldwin 3 Mengukur Observed Vital Capacity dengan TKK spirometer: a. Spirometer diisi dengan air sampai penuh b. Pasang skala suhu pada spirometer sesuai dengan suhu kamar c. Jarum/penunjuk volume spirometer ditaruh pada angka 0 (nol) atau garis yang teratas d. Probandus berdiri tegak, inspirasi maksimal, setelah itu cuping hidung ditutup dengan tangan kiri e. Memasang mouthpiece serapat mungkin, dilanjutkan ekspirasi maksimal melalui mulut f. Mahasiswa membaca hasil kapasitas vital observasi 4 Menghitung Vital Capacity Ratio (VCR)

Mera Ev Spirometer 1 Mencatat identitas probandus (nama, umur, jenis kelamin, BB, TB, alamat) 2 Menghitung Estimate Vital Capacity/Predictive Vital Capacity, dengan: c. Rumus d. Normogram Baldwin 3 Mengoperasikan Mera Ev a. Mengukur Kapasitas Vital Observasi - Memasang kertas Mera Ev pada bingkai spirometer - Meletakkan pena pencatat pada volume 0,2 liter

- Probandus berdiri tegak, letakkan alat setinggi mulut probandus - Probandus inspirasi maksimal, setelah itu cuping hidung ditutup dengan tangan kiri - Probandus menghembuskan napas dengan kuat, cepat, dan tuntas - Membaca hasil pada kertas Mera Ev - Menghitung Vital Capacity Ratio (VCR) b. Mengukur FEV1 (Forced Expiratory Volume) - Meletakkan pena pencatat pada titik sudut kanan atas kertas Mera Ev - Probandus berdiri tegak, letakkan alat setinggi mulut probandus, kemudian inspirasi maksimal - Probandus menutup cuping hidung dengan tangan kiri dan ibu jari tangan kanan menempel pada tombol merah (push button) 4 Membaca hasil pengukuran pada kertas Mera Ev c. Menghitung FEV1R - Membuat kesimpulan tes fungsi paru berdasarkan hasil penghitungan VCR dan FEV1R - Membuat grafik hasil pengukuran tes fungsi paru 5 Menilai kelainan paru (restriktif, obstruktif, kombinasi, atau normal)