Anda di halaman 1dari 8

Definisi dan Etiologi Penyakit jantung koroner, atau disebut juga penyakit arteri koroner, adalah tipe kelainan

pembuluh darah yang termasuk dalam kategori umum dari atherosclerosis. Istilah atherosclerosis berasal dari bahasa Yunani: athere, yang berarti bubur berlemak, dan skleros, yang berarti keras. Gabungan dari dua kata ini mengindikasikan bahwa atherosklerosis bermula sebagai deposit lemak lunak yang mengeras seiring pertambahan umur. Atherosklerosis sering kali diartikan sebagai pengerasan pembuluh arteri. Walaupun kondisi ini dapat terjadi pada arteri manapun di tubuh, atheromas (deposit lemak) mempunyai kecenderungan untuk terbentuk di arteri koronaria. Penyakit jantung arteriosklerotik, penyakit jantung kardiovaskuler, penyakit jantung iskemik, penyakit jantung koroner, dan penyakit arteri koroner adalah istilahistilah yang menggambarkan proses penyakit ini (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Penelitian menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner bermula ketika faktor tertentu merusak lapisan dalam dari arteri koronaria. Faktor-faktor ini meliputi (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012); a. Merokok b. Kadar lemak dan kolestrol darah yang tinggi c. Tekanan darah tinggi d. Kadar gula darah tinggi akibat resistensi insulin atau diabetes e. Inflamasi pembuluh darah Plak mulai terbentuk saat arteri mengalami kerusakan. Pembentukan plak di dalam arteri koronaria dapat terbentuk sejak masa kanak-kanak. Seiring waktu, plak dapat mengeras atau ruptur. Plak yang sudah mengeras mempersempit lumen arteri koronaria dan mengurangi aliran darah kaya oksigen ke jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan angina (nyeri dada atau ketidaknyamanan). Jika plak mengalami rupture, platelet akan melekat ke tempat ruptur. Platelet tersebut akan mengalami agregasi dan membentuk jendalan darah. Jendalan darah selanjutnya akan menyebabkan penyempitan lebih lanjut dari lumen arteri koronaria dan memperburuk angina. Jika jendalan bertambah besar maka lumen arteri koronaria akan tersumbat sepenuhnya dan menyebabkan serangan jantung (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012).

Tanda dan Gejala a. Angina Gejala umum untuk penyakit jantung koroner adalah angina. Angina adalah nyeri dada atau ketidaknyamanan yang terjadi pada daerah otot jantung apabila tidak mendapat darah kaya oksigen yang cukup. Angina dapat terasa seperti tekanan atau perasaan seperti diremas pada daerah dada. Pasien dengan angina juga dapat merasakan tekanan atau perasaan seperti diremas pada pundak, lengan, leher, rahang, atau punggung. Nyeri angina dapat terasa seperti indigesti. Nyeri cenderung bertambah buruk seiring aktivitas dan hilang saat beristirahat. Stres emosional juga dapat memicu nyeri tersebut (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). b. Napas pendek Gejala umum lain dari penyakit jantung koroner adalah napas pendek. Gejala ini terjadi jika penyakit jantung koroner menyebabkan kegagalan jantung. Ketika penderita mendapatkan kegagalan jantung, jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk mencukupi kebutuhan tubuh. Cairan akan terkumpul di paru-paru, sehingga membuat sulit bernapas. Tingkat keparahan gejala-gejala ini beragam. Gejala mungkin akan bertambah buruk seiring dengan peningkatan pembentukan plak yang semakin mempersempit lumen arteri koronaria (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Sebagian orang tidak menunjukan tanda atau gejala pada penyakit jantung koroner, kondisi ini disebut dengan silent coronary heart disease. Penyakit ini mungkin tidak dapat didiagnosis sampai penderita menunjukkan tanda atau gejala dari serangan jantung, gagal jantung, atau arrhythmia (detak jantung tidak teratur) (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Serangan jantung dapat terjadi jika aliran darah kaya oksigen ke daerah otot jantung terhenti. Kondisi ini dapat terjadi jika daerah plak di dalam arteri koronaria mengalami rupture. Platelet akan melekat ke tempat perlukaan dan beragregasi membentuk jendalan darah. Jika jendalan darah terus bertambah besar, maka akan menyumbat lumen arteri koronaria sepenuhnya. Jika sumbatan tersebut tidak ditangani secepatnya, sebagian dari otot jantung yang divaskularisasi oleh arteri yang tersumbat akan mulai mengalami nekrosis. Jaringan jantung yang sehat selanjutnya akan digantikan oleh jaringan parut. Kerusakan jantung ini mungkin tidak

nyata terlihat, tetapi kerusakan ini menyebabkan masalah-masalah yang serius dalam jangka panjang (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012).

Gambar 1. Kerusakan otot jantung dan sumbatan arteri Gambar A menunjukkan lokasi jantung. Gambar B menunjukkan jantung dan arteri koronaria yang mengalami kerusakan (nekrosis miokardium) yang disebabkan oleh serangan jantung. Gambar C memperlihatkan penampang melintang dari arteri koronaria dengan bentukan plak dan jendalan darah (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Gejala serangan jantung yang paling umum adalah nyeri dada atau ketidaknyamanan. Sering kali serangan jantung melibatkan ketidaknyamanan pada daerah tengah atau daerah kiri dada dan biasanya bertahan selama beberapa menit atau nyeri terasa hilang timbul. Ketidaknyamanan dapat terasa seperti tekanan, rasa seperti diremas, sesak, atau nyeri. Nyeri serangan jantung sering terasa seperti indigesti atau seperti rasa panas dalam perut. Gejala dari angina dapat serupa dengan gejala serangan jantung. Nyeri angina biasanya bertahan hanya beberapa menit dan hilang saat istirahat. Nyeri dada atau ketidaknyamanan yang menetap atau nyeri yang tidak sesuai dengan pola (contoh, terjadi lebih sering saat beristirahat) dapat menunjukkan serangan jantung (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012).

Gagal jantung adalah kondisi saat jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Kegagalan jantung tidak berarti jantung berhenti bekerja. Tanda dan gejala gagal jantung paling umum adalah napas pendek atau masalah dalam bernapas, kelelahan, dan edema pada daerah pergelangan kaki, kaki, tungkai kaki, perut, dan vena di leher. Semua gejala ini adalah hasil dari cairan yang terkumpul di dalam tubuh. Ketika gejala mulai muncul, penderita mungkin akan merasa lelah dan mengalami napas pendek setelah melakukan aktifitas rutin sehari-hari, seperti menaiki anak tangga (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Aritmia adalah kelainan pada frekuensi atau ritme dari detak jantung. Saat seseorang mengalami aritmia, jantungnya akan mengalami lompatan detak (skipping beats) atau berdetak terlalu cepat. Pada sebagian orang aritmia digambarkan sebagai perasaan berdebar. Perasaan ini disebut palpitasi. Sebagian aritmia dapat menyebabkan jantung berhenti secara tiba-tiba. Kondisi ini disebut sudden cardiac arrest (SCA). SCA sering menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera dalam beberapa menit (National Heart, Lung, and Blood Institute, 2012). Patofisiologi Penyakit jantung koroner hampir selalu disebabkan oleh atheroma yang mempersempit dan oklusi lebih lanjut dari pembuluh darah. Atheroma (dari bahasa Yunani athera, yang berarti bubur dan oma, yang berarti gumpalan) mulai terbentuk sejak masa remaja bahkan kanak-kanak. Plak yang sudah matur tersusun atas dua unsur pokok, setiap unsur berhubungan dengan populasi sel tertentu. Lipid pada bagian tengah plak biasa dihasilkan dari sel busa yang mengalami nekrosis (Grech, 2008).

Gambar 2. Perkembangan plak atheroma dari lesi awal hingga kompleks dan ruptur plak. Monosit berubah menjadi makrofag, yang bermigrasi ke tunika intima arteri dan memfagosit lipid yang berasal dari sel busa yang sudah mengalami nekrosis. Matriks jaringan ikat berasal dari sel-sel otot polos yang bermigrasi dari tunika media ke tunika intima, lalu berpoliferasi dan merubah fenotipnya untuk membentuk kapsul fibrosa mengelilingi inti lipid. Saat plak menghasilkan lebih dari 50 persen diameter stenosis (atau lebih dari 75 persen reduksi dari daerah penampang melintang arteri), aliran darah yang berkurang di arteri koronaria saat eksersi dapat menyebabkan angina. Kejadian koroner akut umumnya timbul saat pembentukan thrombus yang diikuti kerusakan plak. Luka pada tunika intima menyebabkan denudasi dari matriks trombogenik atau deposit lemak dan memicu pembentukan thrombus. Pada infark miokard akut, oklusi yang terjadi lebih menyeluruh dibandingkan pada angina yang tidak stabil yang oklusinya biasanya hanya sebagian. Embolisme di hilir thrombus dapat menimbulkan mikroinfark (Grech, 2008).

Gambar 3. Representasi skematis dari arteri koronaria normal (atas) dan pembentukan atheroma (bawah) Komplikasi a. Aritmia Seseorang dengan aritmia memiliki frekuensi dan ritme detak jantung yang abnormal. Sinyal elektrik menstimulasi serat otot jantung untuk berkontraksi. Setiap keabnormalan atau gangguan pada sinyal tersebut dapat menghasilkan aritmia kardiak (Schueler, 2011). b. Gagal jantung kongestif Penderita gagal jantung memiliki jantung yang lemah karena tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh. Penyebab gagal jantung kongestif yang lazim adalah diabetes, hipertensi, aritmia kardiak, dan penyakit arteri koroner. Penyakit gagal jantung dapat memengaruhi ventrikel kanan, ventrikel kiri, maupun kedua ventrikel (Schueler, 2011). c. Sindrom Dressler

Sindrom Dressler adalah kondisi yang umumnya mengikuti serangan jantung. Sindrom ini biasanya berkembang selama beberapa hari sampai beberapa minggu setelah serangan jantung. Seseorang dengan sindrom Dressler mengalami pericarditis. Sindrom Dressler diduga sebagai penyakit autoimun yang dihasilkanketika sistem imun tubuh bereaksi secara abnormal terhadap pericardium (Schueler, 2011). d. Serangan jantung Seseorang yang terkena serangan jantung memiliki kerusakan pada miokardium yang disebabkan oleh kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen disebabkan oleh sumbatan tiba-tiba pada arteri yang menyuplai darah ke otot jantung. Serangan jantung umumnya terjadi pada orang yang mengalami atherosclerosis (Schueler, 2011). e. Regugirtasi mitral Penderita regugirtasi mitral mengalami kebocoran katup mitral. Katup mitral normal memungkinkan darah mengalir dari atrium kiri ke ventrikel kiri. Katup mitral menutup untuk mencegah aliran darah balik dari ventrikel kiri ke atrium kiri. Regurgitasi mitral dihasilkan ketika katup tidak menutup sempurna akibat jaringan parut, penebalan, atau malformasi katup, sehingga terjadi kebocoran darah dari ventrikel kiri ke atrium kiri. Penyebab regurgitasi mitral pada umumnya adalah prolapse katup mitral dan serangan jantung. Regurgitasi mitral yang parah dapat menyebabkan gagal jantung kongestif (Schueler, 2011). f. Pericarditis Penderita pericarditis mengalami peradangan pada pericardium, lapisan pelindung jantung. Penyebab paling umum dari pericarditis adalah infeksi virus (Schueler, 2011). g. Embolisme paru Embolisme adalah jendalan yang terbawa aliran darah. Penderita embolisme paru mengalami jendalan darah yang menghalangi aliran darah menuju arteri di paru-paru. Pada kebanyakan kasus, jendalan darah terbentuk di ekstremitas bawah dan terbawa ke paru-paru oleh aliran darah. Embolisme paru-paru mencegah darah untuk mencapai paruparu. Darah ini menjadi tidak bisa mengangkut oksigen, sehingga mengurangi jumlah oksigen di aliran darah (Schueler, 2011). h. Syok

Syok adalah akibat dari gangguan perfusi jaringan akibat jantung dan aliran darah tidak dapat menyediakan cukup oksigen untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Syok yang berlanjut dapat menyebabkan kematian sel-sel tubuh karena tidak menerima cukup oksigen. Syok dapat disebabkan oleh gagal jantung, aliran darah ke paru-paru yang bermasalah, kehilangan darah yang banyak, atau vasodilatasi berlebihan di seluruh tubuh (Schueler, 2011).