Anda di halaman 1dari 3

SPEKTROFOTOMETRI Spektrofotometri dapat digunakan untuk menganalisis konsentrasi suatu zat di dalam larutan berdasarkan absorbansi terhadap warna

dari larutan pada panjang gelombang tertentu. Metode spektrofotometri memerlukan larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan standarnya terdiri dari beberapa tingkat konsentrasi mulai yang rendah sampai konsentrasi tinggi (Khopkar,2003).

Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi terhadap mana mata manusia peka, gelombang dengan panjang berlainan akan menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh spektrum nampak 400-760 mm. Spektrofotometri ini hanya terjadi bila terjadi perpindahan elektron dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi (Ali,2005) Keuntungan utama pemilihan metode spektrofotometri ini adalah bahwa metode ini memberikan metode sangat sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil. Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu. Analisis spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi yang menjorok ke dalam daerah ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini, dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari 1 nm (Sastrohamidjojo,1999).
Ali, M.F. 2005. Handbook of Industrial Chemistry Organic Chemicals. The McGraw-Hill Companies, Inc.Sydney. Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Universitas Indonesia. Jakarta. Pratama, Filli. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Analitik. Inderalaya : Jurusan Tekper, FP Unsri. Sastrohamidjojo, Hardjono. 1992. Spektroskopi Inframerah. Yogyakarta. Liberty Yogyakarta.

Reaksi Penetralan merupakan reaksi antara asam dengan basa reaksi asam basa dalam medium air biasanya menghasilkan air dan garam (salt),yang merupakan senyawa ionic yang terbentuk dari suatu kation selain H+ dan suatu anion OH- atau O2- (Raymond,C, 1990). Air adalah produk dari reaksi titrasi, dan lebih lanjut air tedapat dalam jumlah yang sangat berlebih. Jadi, sampai tingkat tertentu bersifat asam, sehingga bersaing degan asam yang ingin kita titrasi dan mencegah reaksi titrasi berjalan hingga selesi kecuali HB itu sendiri cukup kuat. Ini bias dilihat dari tetapan K; tetapan itu semakin besar dengan semakin bearnya Ka, dan dengan semakin kecilnya tetapan otoprotolisis pelarut (Underwood, 1993). Beberapa klasifikasi pelarut telah diusulkan. Laitinen mengusulkan empat jenis. Pelarut Amfrotik mempunyai baik sifat asam maupun basa seperti halnya air. Mereka mengalami otoprolisis, dan seperti kita sebut diatas, derajat sampai di mana reaksi titrasi berlangsung sempurna merupakan suatu fungsi dari reaksi ini. Sebagian seperti methanol dan etanol, memiliki sifat asam-basa yang mirip dengan air dan, bersama dengan air, disebut pelarut netral. Lainnya, yang disebut pelarut asam, seperti asam asetat, asam format, dan asam sulfat, adalah asam-asam yang jauh lebih kuat dan basa-basa yang jauh lebih lemah daripada air. Pelarut basa seperti basa seperti ammonia cair dan etilen dimana mempunyai kebasaan yang lebih besar dan keasaman yang lebih kecil daripada air (Underwood, 1993). Titrasi asam dan basa lemah yang tidak layak dalam pelarut air dapat dilakukan dalam pelarut lain. Berbagai macam pelarut telah dipelajari, dan berbagai metode deteksi titik akhir telah tersedia. Kebanyakan pekerjaan bersifat empiris karena kita tidak mempunyai skala kesamaan dalam semua pelarut ini seperti kita miliki untuk air. Tetapi bahkan basis ini, bidang titrasi non berair telah memiliki peranan penting dalam kimia analitik (Underwood, 1993). Defenisi Arrhenius mengenai asam dan basa hanya terbatas pada penerapan dalam larutan dengan medium air.Defenisi yang lebih luas,yang di kemukakan oleh kimiawan Denmark Johannes Bronsted pada tahun 1932 menyatakan asam sebagai donor proton dan basa sebagai akseptor proton (Raymond,C, 1990) Jika asam kuat seperti asam klorida,dilarutkan dalm pelarut aprotik seperti Benzen,maka tidak akan terjadi reaksi dengan pelarut.Dengan begitu kekuatan asamnya juga tidak berkurang.Senyawa ini tidak dapat lagi seperti dalam larutan air atau dalam larutan amfolit lain ditentukan dari derajat disosiasi menjadi ion.Sebagai ukuran kekuatan asam adalah afinitas terhadap proton.Makin kuat proton terikat,makin sedikit proton yan gdiberikan asamnya akan semakin kuat.Basa bersifat sebaliknya ( J,Herman , 1988). Sebagian besar senyawa,terutama senyawa aktif organic, tidak dapat ditentukan dalam larutan air menurut cara titrasi protolisis, karena sifat asam atau basanya tidak jelas.Dalam kebanyakan hal titrasi protolisis akan mungkin jkk dikerjakan dalam lingkungan bebas air.Kemungkinan ini dapat dimengerti, jika dilihat bahwa teori asam basa Bronsted juga berlaku untuk pelarut bukan air (J,Herman, 1988).

Chang, Raymond, 1990. Kimia Dasar Konsep Konsep Inti.Edisi tiga

Ditjen, POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III,Depkes RI; Jakarta Ditjen, POM, 1995. Farmakope IndonesiaEdisi IV,Depkes RI; Jakarta Harmita, 2006. Analisis Kuantitatif Bahan. Baku Dan Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia. Jakarta J, Herman,1988. Analisis Farmasi. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta

Underwood. 1993. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga : Jakarta