Anda di halaman 1dari 15

Nomor : 008/DPPSHR/KEPRI/IV/2012 Lampiran : Perihal : Permohonan Penjelasan dan Dialog.

Kepada Yth : Kepala Disbudpar Kota Tanjungpinang Di,Tempat

Nomor Lampiran Perihal

: 007/DPPSHR/KEPRI/VII/2012 :: STOP PENGERUKAN TANAH, Permohonan Penjelasan Kinerja Pemerintah dan Dialog perusakan Lokasi Berpotensi BCB di Bukit Galang TPI Implementasi Undang-Undang RI Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya

Kepada Yang Amat Berhormat, Kadisbudpar Kota Tanjungpinang. Di, Tempat.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu, Dengan Hormat Pendahuluan Pemerintah Kota Tanjungpinang Harusnya dan selayak-layaknya mengeluarkan Surat Keputusan tentang Tim Pelestarian dan Perlindungan Benda Cagar Budaya di Kota Tanjungpinang dengan tugas tim yaitu: 1. menyusun rencana kegiatan pelestarian dan perlindungan Benda Cagar Budaya di Kota Tanjungpinang; 2. melakukan inventarisasi dan pendataan terhadap aset Benda Cagar Budaya; 3. melakukan langkah-langkah upaya awal pelestarian dan perlindungan Benda Cagar Budaya dengan skala prioritas; 4. melakukan koordinasi dan konfirmasi pelaksanaan kegiatan pada pihak terkait; 5. melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Wali Kota. Jika keputusan ibu WAKO di bentuk ini Akan merupakan Keputusan Terhebat dari Wali Kota yang merupakan realisasi pembicaraan dari janji-janji terhadap perlindungan budaya dan sejarah tanah ini yang kabus dan tak berujung . Alasan lain yang tidak kalah penting adalah bahwa pemerintah daerah memiliki kewajiban dalam melestarikan (warisan) kebudayaan di wilayah otonomi (kewenangannya) sesuai dengan Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah serta peraturan pelaksanaannya dan Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Latar belakang dorongan kepada pemerintah tersebut di atas tidak terlepas dari mencuatnya permasalahan tentang pembangunan perumahan/Pengerukan Tanah/Penambangan Bouksit di Kawasan Hulu Riau di lahan Situs Hulu Riau pada akhir tahun 2007 lalu dan sampai awal 2012. Perum Swasta berencana melakukan perluasan lahan perumahan di lokasi situs dengan menyiapkan alat berat. Rencana inilah yang kemudian menjadi pemicu penolakan dari organisasi pelestari dan juga komunitas spiritualis seperti kami. Kami menganggap bahwa

tindakan Perum Perumnas dan penambang bouksit tersebut berpotensi menimbulkan kerusakan situs yang lebih luas dan parah. Namun pihak pengembang tetap melanjutkan pembangunan di lahan situs dengan alasan telah mendapatkan ijin dari Pemerintah maupun Kantor Pertanahan. Di sisi lain, hasil penelitian kami pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2012 justru menunjukkan bahwa Situs Hulu Riau merupakan suatu daerah yang memiliki warisan budaya yang cukup tinggi sehingga layak ditetapkan sebagai situs cagar budaya dan harus dilindungi. Permasalahan Situs Kota Tinggi Hulu Riau: Di antara Peraturan masa lalu Menurut catatan yang ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pelestarian cagar budaya masih mengacu pada Monumenten Ordonantie (MO) nomor 19 tahun 1931 yang dibuat pada masa pra kemerdekaan. Sebagai produk di masa kolonial (pra kemerdekaan RI), peraturan tersebut tidak memiliki konsekuensi ataupun sanksi hukum baik pidana maupun administrasi menurut peraturan yang berlaku di Indonesia. Pendapat ini bisa kita runut atau buktikan melalui kejadian selama tahun 1945 sampai dengan tahun 1992. Permasalahan ketiadaan aturan main dalam bidang pelestarian warisan budaya, pernah mencuat pada tahun 1987, ketika itu Michael Hatcher pernah melakukan pencurian Barang Muatan asal Kapal yang Tenggelam di Perairan Riau. Bagi sebagian Arkeolog, Peraturan MO 1931 digunakan hanya sebagai rujukan/ referensi dalam pelestarian warisan budaya. Dikeluarkannya Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (baca: UU BCB 5/1992), merupakan kali pertama Indonesia memiliki peraturan dalam bidang pelestarian warisan budaya. Peraturan ini memiliki konsekuensi hukum bagi yang melanggarnya. Lahirnya UU BCB 5/1992, terjadi setelah selesainya penelitian II (Dua) tahap terhadap Situs di Indonesia. diKepulauan Riau Penelitian yang dilakukan oleh IDAKEB dan Balai Pelestarian Sejarah tahun 1970-90an. Artinya, penelitian terhadap Situs Sejarah Melayu Kepulauan Riau yang dilakukan oleh IDAKEB dan Balai Kajian Sejarah Tanjungpinang ketika itu, masih merujuk pada peraturan MO 1931. Sebagai dasar hukum, jelaslah bahwa MO 1931 tidak dapat dijadikan sebagai rujukan di bawah pemerintahan berdaulat NKRI. Namun demikian, hasil penelitian yang menyatakan bahwa Kawasan Sungai Carang-Hulu Riau merupakan Situs Cagar Budaya tentu tidak bisa diabaikan begitu saja, sekalipun pada waktu itu penelitian masih rendah Sebab itu, penelitian ilmiah memiliki pakem tersendiri dan dijadikan dasar atau landasan bagi peraturan dalam pelestarian warisan budaya serta merupakan alat untuk membuktikan pelanggaran terhadap UU BCB 5/1992 sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Disinilah awal mula mencuatnya permasalahan Situs Hulu Riau. Menurut UU BCB 5/1992, pasal 1 ayat (1) yang dimaksud dengan benda cagar budaya adalah pada huruf a dikatakan bahwa Benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagian atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan . Pada huruf b dikatakan bahwa Benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Sedangkan lingkup pengaturan dari UU BCB 5/1992 meliputi benda cagar budaya, benda yang diduga benda cagar budaya, benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, dan situs.

Berdasarkan pengertian dan lingkup pengaturan BCB tersebut, Situs Hulu Riau dari sisi usia, sudah lebih dari 50 tahun atau diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun, dan mewakili masa gaya yang khas yaitu sisa bangunan peninggalan dari masa pemerintahan Melaka-Johor yang masih terlacak struktur dan bentuk (morfologi) bentengnya yang mengikuti alur sungai alami. Disamping itu, Situs Hulu Riau memiliki keistimewaan sangat membantu dan menjadi bukti dalam mengurai sejarah perkembangan kebudayaan yang terjadi saat itu serta dapat membantu rekonstruksi sejarah keberadaan RIAU ketika itu dalam hubungannya dengan kerajaan Johor dan Pahang sebagai warisan Melaka maupun kerajaan Sriwijaya dan Bentan. Hasil penelitian dan rekomendasi Balar Medan dan Bp3 Batu Sangkar untuk melindungi kawasan Hulu Riau semakin melengkapi bahwa Hulu Riau merupakan Situs Cagar Budaya. Namun demikian, hasil penelitian Kami belum mampu mengamankan Situs Hulu Riau dari gangguan dan potensi kerusakan situs. Predikat Hulu Riau sebagai situs ternyata tidak mampu menggoyahkan niat Perum Perumnas dan Penambang Bouksit untuk membangun perumahan/mengeruk tanah dan menutup bakau yg berhampiran lahan situs. Sekalipun pada tahun 2008-2009, kami telah menekan baik melalui surat maupun melalui media cetak telah memberikan dua alternatif rekomendasi kepada Kota Tanjungpinang diantaranya: 1). mencabut ijin pembangunan Pertambangan, atau 2). Pihak pengembang melakukan studi AMDAL dan Kajian mendalam terhadap lokasi yang akan Tambang/tanah dikeruk. Rekomendasi tersebut tidak ditanggapi oleh Pemko Tanjungpinang dan tetap melakukan pembiaran pembangunan dan pertambangan serta pengerukan tanah untuk menambak bakau. Perum Perumnas dan Penambang Bouksit menganggap bahwa tindakan yang dilakukan sudah sesuai prosedur berdasarkan rekomendasi dari pemerintah daerah. Ironisnya, hal tersebut masih berlanjut paska reformasi. Akumulasi permasalahan pelestarian warisan budaya, dan adanya paradigma baru dalam pelestarian warisan budaya sebagai akibat dari tuntutan reformasi, berdampak pula terhadap UU BCB 5/1992. Undang-Undang tersebut dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu diganti dengan UU baru, yaitu Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya (baca: UU CB 11/2010). Sesaat setelah lahirnya UU CB 11/2011, Perum Swasta/Penambang Bouksit berencana melanjutkan Pengerukan Tanah dan pembangunan perumahan di lahan sisa. Lahan tinggal tidak berapa luas itu sedang dibangun kembali perumahan baru. Sedangkan sisanya digunakan untuk kebutuhan jalan di area perumahan. Tindakan inilah yang selanjutnya memicu protes dari komunitas pelestari warisan budaya maupun komunitas spiritualis seperti kami di Tanjungpinang ini. Kasus ini, diharapkan memunculkan kesadaran baru di masyarakat akan pentingnya pelestarian warisan budaya, khususnya Situs Hulu Riau yang merupakan Asal Muasal RIAU - TANJUNGPINANG- KEPULAUAN RIAU - nya. Pada tahun 2007 s.d 2011 kami terus mengusulkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, mengenai Lokasi-lokasi berpotensi Benda Cagar Budaya dikawasan Hulu Riau, untuk kali ini kami akan fokus mengenai lokasi Bukit Galang Kota Tanjungpinang. Pada Tahun 2008-2009 dari hasil penelitian kami Kawasan ini merupakan lokasi yang di Bangun Oleh Laksmana Tun Abdul Jamil sebagai Negeri Baru guna menggalang kekuatan Armada Pasukan Johor, lalu tempat ini di Sebut Galang Riau lalu disebut Kota Tinggi Riau.

Gambar.1. Lokasi Kubu Bukit Galang / Kota Tinggi Riau tahun ( doc. 2008) Sebelum di rehab oleh pihak yang tidak jelas. Lokasi ini telah kami teliti dengan seksama, dari segi bentuk dan latar belakang sejarahnya, dari narasumber yang dapat dipercayai dan dari konservasi yang kami lakukukan bahwa lokasi ini dapat kami simpulkan sebagai sebuah Benteng/Kota karena ia telah bersifat permanen terbuat dari bahan semen/kapur dan batu serta karang, sehingga ia sudah tidak layak jika disebut Kubu. Mengenai makam-makam yang berada diatasnya, makam-makam tersebut bukanlah makam tokoh-tokoh penting dalam sejarah Riau Johor dan Pahang. Mengapa kami berkesimpulan begitu? 1. Dari segi bentuk Nisan. 2. Dari sumber literatur sejarah. 3. kebiasaan memakamkan seorang Pahlawan dalam sejarah melayu. 4. Narasumber. a. Alm. Sabtu Sidek b. Ali Sidek c. Alm. Syarif d. M. Syafii ( Tanjung Unggat ) e. Naim bin Rastum ( Tanjung Unggat ) f. Mohd. Yazid. ( Tanjung Unggat ) g. Sudarman (Galang Batam)

Penjelasan : 1. Dari bentuk Nisan : dalam perjalannya kerajaan Melayu telah tersistem sebagai kerajaan Islam, yang sama dengan kerajaan-kerajaan islam lainnya di Nusantara. Yang memiliki ciri khas nisan corak Persia/ Batu Aceh. 2. Tidak ada satupun Literatur Sejarah Lisan/Tulisan yang menyebutkan Panglima Hitam bermakam di atas Bukit ini. 3. Tidak ada satu bentengpun di Alam Melayu Riau yang memakamkan panglima nya di kawasan Benteng, apa lagi didalam Benteng. 4. Narasumber; a. Alm. Sabtu Sidek : Makam yang terdapat di Bukit Galang itu hanya Orang Biasa. b. Ali Sidek : Makam yang terdapat di Bukit Galang itu hanya Orang Biasa. c. Alm. Syarif : Makam tersebut adalah makam orang-orang kaya karena nisan itu adelah nisan-nisan Singapore (yg dibeli disingapore) yang notabene baru tak lebih dari 100-150 tahun dan tidak memiliki histori sejarah melayu. d. M. Syafii : Itu Kote/Benteng Hebat orang menggalang kekuatan make disebot Galang untok menyerang jambi, Sungai disebelahnye adelah Sungai Galang. e. Naim bin Rastum : Makam Panglima Hitam itu ada dibawah nya bukan disitu. Itu dibuat ketika dulu orang-orang menuntut ilmu, batu nisan itu baru di tarah di buat huruf FA dan HA. f. Mohd Yazid : Itu Bukan Makam Panglima Hitam Gelaran Kesatriaan untuk Laksmana Tun Abdul Jamil, makam aslinya berada di sebelah makam Sultan Ibrahim Syah atau komplek yang berada di Bawah, dan itu sebenarnya Kota/Benteng. Lagi pula kekuatan mistis diatas itu tidaklah seberapa, PENIPU ORANG ITU JIKA MENGATEKAN ITU MAKAM PANGLIMA HITAM lihat tidak mereke wujudnya, dan literatur sejarah mana yang mereka pakai. g. Sudarman : Itu adalah makam Orang Jawa.

Gambar 1.a. Kondisi terkini (doc.2012) Mengembangkan Kesyirikan Hal yang salah akan membawa Kesesatan/kesalahan juga.

Dari keterangan yang dapat dipertanggung jawabkan ini kami telah membuat sepemahaman tentang tempat ini adalah KOTA TINGGI RIAU benteng pertahanan kerajaan RIAU-JOHOR DAN PAHANG yang dibangun oleh Laksmana Tun Abdul Jamil. Bukan Komplek Makam Panglima Hitam Sedangkan makam Panglima Hitam adalah : Makam Panglima Hitam dan Sultan Ibrahim Syah

MAKAM PANGLIMA HITAM (Laksmana Tun Abdul Jamil)

MAKAM SULTAN IBRAHIM SYAH

PELANGGARAN TERHADAP PELESTARIAN SITUS 1. Sumber yang menyatakan makam Panglima Hitam adalah di Lokasi Gambar 1, Tidak Jelas. Dan tidak dapat dipertanggung jawabkan. 2. Usulan Secara Lisan dan Tulisan untuk diadakan penelitian serta Strategi Pengembangan dan Pengelolaan dikawasan ini telah sejak tahun 2009 kami usulkan kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Namun diacuhkan. 3. Mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 2010 lokasi ini sudah layak di jadikan Benda CAGAR Budaya (BCB). Sebagaimana termaktub dalam BAB III tentang Kriteria Cagar Budaya. Namun pemerintah dalam hal ini dinas Kebudayaan dan Parwisata Kota Tanjungpinang, kami anggap memandang sebelah mata bahkan tidak memperdulikan situs ini. 4. Sebagaimana termaktub dalam UU Nomor 11 Tahun 2010, Pemilik lahan Lokasi ini bersama-sama dengan Pemerintah Kota Tanjungpinang dalam hal ini dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang. Telah melakukan kesalahan Melanggar UU, untuk itu kedua belah pihak harus segera menyelesaikan hal ini sesuai UU yang berlaku. (Baca Bab IV tentang Pemilikan dan Penguasaan)

5. Sesuai UU Nomor 11 Tahun 2010, kami telah melakukan usaha pencarian Situs dan telah kami laporkan kepada Pemerintah hal tersebut (sesuai Amanat BAB V tentang penemuan dan pencarian). Namun pemerintah Kota Tanjungpinang dalam hal ini dinas Kebudayaan dan Pariwisata tidak mempedulikan. Dan bahkan turut mendukung usaha penambangan Bouksit di lokasi tersebut. Dalam Rapat UPL UKL Tambang Bouksit yang akan dilaksanakan oleh PT.Telaga Bintan Jaya dimana Rapat tersebut dilaksanakan di Hotel Bali, dan kami ABSEN/TIDAK HADIR dalam Rapat tersebut. 6. Selanjutnya dalam KEGIATAN PELESTARIAN SITUS BERPOTENSI CAGAR BUDAYA harus dilaksanakan atau dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian (Pasal 53 ayat (2)). Dalam hal ini LINGKUP PELESTARIAN Cagar Budaya meliputi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya di darat maupun di air (Pasal 4). Dalam hal Pemindahan Cagar Budaya (Pasal 59 ayat 2) juga di bawah koordinasi Tenaga Ahli Pelestarian. 7. Proses Tambal Sulam dan Penataan yang dilakukan oleh pihak yang tidak diketahui menurut kami telah melanggar etika Pelestarian Benda Cagar Budaya sebagaimana tertera dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 BAB VII tentang Pelestarian. Sebagaimana dibawah ini :

Sebelum Rehab

Sesudah direhab sepihak

Dan banyak lagi bagian yang telah di rehab tidak sesuai dengan metode pelestarian BCB mengikut pada UU, serta tidak melibatkan BP3 Batu Sangkar sebagai Pihak yang bertanggung jawab atas BCB di Kepulauan Riau. 8. Tidak adanya hasil Studi Teknis oleh BP3 Batu Sangkar tentang lokasi ini sehingga bisa dilakukan kegiatan Tambal Sulam seperti ini. 9. Bahan yang digunakan serta cara kerja kami anggap telah melunturkan nilai situs dan jelas mengurangi nilai situs serta berpotensi mempersulit Penelitian tentang situs. 10. Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, semakin memperkuat dasar hukum pelaksanaan pelestarian cagar budaya yang juga sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, serta Peraturan Bersama Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2009/Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs, Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.48/UM.001/MKP/2009 Tentang Pengelolaan Peninggalan Bawah Air, dan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor

PM.49/UM.001/MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs. Hal ini karena kewenangan pelestarian terhadap Cagar Budaya tidak hanya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat saja tetapi juga menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 11. Dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/UM.001/ MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs, diuraikan dalam Pasal 12 bahwa aspek-aspek pelestarian dilaksanakan sesuai standar pelayanan minimal yang meliputi perlindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan. Perlindungan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek registrasi dan pendaftaran, penetapan, pengamanan, penyelamatan, dan perizinan. Pemeliharaan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek perawatan dan pemugaran. Pemanfaatan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Oleh karena kegiatan pelestarian terhadap Cagar Budaya adalah jenis pekerjaan yang spesifik maka tenaga pelaksananya harus memiliki kompetensi, kecakapan, dan keahlian khusus yang dapat diperoleh melalui proses sertifikasi . 12. Hal yang harus diperhatiakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota tanjungpinang landasan kegiatan pelestarian Benda Cagar Budaya adalah: LandasanOperasional a. Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya. b. Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Bangunan Gedung c. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah d. Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang e. Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 1993 Tentang Pelaksanan UU Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya f. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum g. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota. h. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

i. Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata j. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 087/P/1993 Tentang Pendaftaran Benda Cagar Budaya k. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 062/U/1995 Tentang Pemilikan, Penguasaan, Pengalihan, dan Penghapusan Benda Cagar Budaya l. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 063/U/1995 Tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya m. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 064/U/1995 Tentang Penelitian dan Penetapan Benda Cagar Budaya n. Peraturan Bersama Menteri Budpar dan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2009 / Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan o. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/UM.001/ MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs p. Kode Etik Arkeologi Indonesia, 2005. 13. Kini seputaran lokasi dengan radius 3 s.d 4 meter dari situs diizinkan oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang/Pihak yang tidak bertanggung jawab untuk di Keruk tanahnya.

Buldozer yang berada dekat dengan lokasi situs (doc.1/4/2012). Diharapkan Harusnya radius 100 meter dari situs adalah clen area.

Implementasi UU Cagar Budaya di Situs Hulu Riau Pengertian Cagar Budaya dalam Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, pasal 1 angka (1) yaitu Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Dari pengertian tersebut, ada 4 (empat) hal penting yang melekat dan menjadi titik penekanan tentang cagar budaya yaitu: 1) bersifat kebendaan, 2) perlu dilestarikan, 3) memiliki nilai penting, dan 4) proses penetapan. Dari ke empat poin penting tersebut dapat dikelompokkan lagi menjadi dua kategori yaitu pertama kategori uraian dan identifikasi cagar budaya tersebut (menyangkut langsung terhadap benda tersebut) seperti a) bersifat kebendaan dan b) memiliki arti penting. Kategori yang kedua yaitu tindakan stakeholder (komitmen) atas cagar budaya yang dimaksud seperti a) perlunya dilestarikan dan b) proses penetapan. Berdasarkan pengalaman advokasi lapangan yang dilakukan oleh penulis selama dua tahun terakhir (2009 2011), kategori kedua selalu menjadi perdebatan dan permasalahan, termasuk pada kasus Situs Hulu Riau. Pemerintah Kota Tanjungpinang pasti mengatakan bahwa belum ada proses penetapan terhadap Situs Kota Tinggi Riau khususnya dan Hulu Riau Umuumnya, sehingga tidak ada kewajiban pemerintah daerah menghentikan perluasan lahan perumahan/aktivitas penambangan bouksit yang dilakukan oleh Perum Swasta/Penambang Bouksit dan Pengerukan yang dilakukan Oleh pengusaha, terlebih para pengusaha sudah mengantongi ijin. Di sisi lain, sejak awal sebelum pembangunan, kami telah berkali-kali mengusulkan telah memberikan rekomendasi kepada Pemerintah/ Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk melindungi situs tersebut karena hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah tersebut memenuhi persyaratan untuk ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Melihat persoalan yang ada, dalam UU CB 11/2010 pasal 1 angka 5, pengertian Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. Berdasarkan hasil penelitian Kami sejak tahun 2004 2012 disimpulkan bahwa Kota Tinggi Riau \ merupakan Situs Cagar Budaya, sebab di lokasi tersebut ditemukan benda berupa keramik,, Uang Siling, dan artefak lainnya. Disamping benda, terdapat pula kompleks makam, maupun struktur bangunan benteng di lahan benteng yang cukup Luas seluas Bukit Galang. Dari sisi kesejarahan dan nilai penting juga memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai situs yang perlu mendapatkan proses penetapan. Bahkan kami telah berkali telah menyampaikan hasil penelitian baik kepada pemerintah daerah Kota Tanjungpinang maupun ke pemerintah PROVINSI untuk segera ditetapkan. Disamping itu, Kita bisa meminta dukungan BP3 Batu Sangkar.. Terkait proses penetapan, dalam pasal 1 angka 17 sebutkan bahwa: Penetapan adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya. Penjelasan tersebut lebih ditegaskan lagi dalam pasal 33 UU CB 11/2010 ayat (1) yaitu: Bupati/wali kota mengeluarkan penetapan status Cagar Budaya paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah rekomendasi diterima dari Tim Ahli Cagar Budaya yang menyatakan benda, bangunan, struktur, lokasi, dan/atau satuan ruang geografis yang didaftarkan layak sebagai Cagar Budaya. Faktanya, sejak berakhirnya penelitian kami dan

rekomendasi diberikan kepada pemerintah maupun pemerintah daerah setempat, namun sampai saat ini belum ada kepastian hukum atas situs tersebut yang seharusnya dikeluarkan oleh Wali Kota Tanjungpinang. Bahkan pada tanggal 22 Desember 2011 yang lalu, Kami telah melaksanakan kegiatan peringatan terbinanya kawasan tersebut bersama banyak kalangan guna mensosialisasikan hasil penelitiahn kami kajian terhadap Situs Kota Tinggi Hulu Riau dan dan Kami menyatakan bahwa Situs Kota Tinggi Hulu Riau layak ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Namun sampai saat ini, Pemerintah Kota Tanjungpinang belum menetapkan Kota Tinggi di Hulu Riau sebagai Kawasan Cagar Budaya. Berdasarkan hasil investigasi kami tanggal 1 April 2012 di Lokasi tersebut kami kemukakan bahwa telah terjadi pembiaran dan pengabaian sehingga menyebabkan tangan-tangan jahil telah merubah bentuk/ kondisi Benteng/Kota Tinggi Riau/Situs Bukit Galang yang mengakibatkan potensi kerusakan yang lebih parah terhadap Situs, yaitu kerusakan dikarenakan ulah manusia maupun peristiwa alam. Tindakan ini telah berlangsung sudah cukup lama sampai dengan saat ini, tanpa ada langkah kongkrit dan antisipatif. Proses pengabaian dan pembiaran merupakan tindakan melanggar hukum di bidang Pelestarian Cagar Budaya dengan cara menghalang-halangi tindakan pelestarian serta melalaikan tugas dan tanggungjawab Di sisi lain Perum Swasta/Penambang tetap melanjutkan pembangunan walaupun belum mendapatkan ijin IMBB dan tidak memiliki AMDAL. Dalam UU CB 11/2010 Pasal 86 secara tegas mengatakan bahwa: Pemanfaatan yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan wajib didahului dengan kajian, penelitian, dan/atau analisis mengenai dampak lingkungan. Pada UU 11/2010 Pasal 55 disebutkan bahwa: Setiap orang dilarang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan upaya Pelestarian Cagar Budaya, dan Pasal 66 ayat (1): Setiap orang dilarang merusak Cagar Budaya, baik seluruh maupun bagianbagiannya, dari kesatuan, kelompok, dan/atau dari letak asal . Pelarangan tersebut memiliki konsekuensi hukum yang terdapat pada: 1. Pasal 104 dikatakan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi, atau menggagalkan upaya Pelestarian Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). 2. Pasal 105 dikatakan bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja merusak Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3) Batu Sangkar seharusnya juga memiliki kewenangan menghentikan kegiatan Pengerukan Tanah di lahan situs, dengan alasan pihak pengembang Perum Swasta tidak memiliki ijin (IMBB) dan juga tidak melakukan proses analisis AMDAL. BP3 memiliki anggota Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang diberi kewenangan oleh UU CB 11/2010 untuk melakukan penyidikan sebagaimana disebutkan pada pasal 100, namun hal ini tidak dilakukan. BP3 Batu Sangkar hanya melakukan tinjauan ke lapangan tidak mengeluarkan teguran-teguran atau proses hukum yang tegas sesuai UU..

Penutup: Beberapa Catatan dan Rekomendasi Saat ini Undang-Undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya sedang menghadapi serangkaian ujian atas munculnya kasus-kasus pelestarian warisan budaya di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Situs KOTA TINGGI RIAU Khususnya dan Hulu Riau Umumnya. Belajar dari implementasi Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, bak macan ompong memiliki wajah garang dan berwibawa namun tidak bisamenggigit. Peraturan perundang-undangan yang ideal, tidak memiliki arti jikalau tidak dapat diterapkan dan diimplementasikan. Implementasi sebuah peraturan perundang-undangan membutuhkan perangkat dan keseriusan dari para pihak secara bertanggung jawab dan berkomitmen. Kasus Hulu Riau seperti Kota Rebah Sungai Carang dan Bukit Galang/Kota Tinggi Riau ini kiranya dapat dijadikan pelajaran untuk memperbaiki komitmen dan tanggungjawab dari para pihak terkait dalam melestarikan warisan budaya bangsa. Tindakan tersebut hanya bisa terwujud apabila: 1. Masyarakat, Pemerintah/ Pemda, maupun pihak pengembang Perumahan dan Penambang Bouksit harus mematuhi UU yang berlaku, menjunjung tinggi upaya pelestarian warisan budaya, saling melakukan introspeksi, dan melepaskan ego masing-masing. 2. Pemerintah Kota Tanjungpinang Harus konsisten atas janji Slogan komitmennya dalam melestarikan warisan budaya bangsa, mulailah berangkat dari keputusan membentuk Tim Pelestarian dan Perlindungan Benda Cagar Budaya di Kota Tanjungpinang. Dengan membuat Mandat yang diberikan kepada tim serta respon tim terhadap mandat tersebut melalui laporan dan rekomendasi dapat ditindaklanjuti oleh Pemko Tanjungpinang. Salah satunya adalah menetapkan tinggalan budaya di Hulu Riau sebagai Kawasan Cagar Budaya sebagaimana diatur dalam UU CB 11/2010. Hasil penetapan perlu disampaikan pula kepada pemerintah provinsi maupun Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk didaftarkan dalam Registrasi Nasional. 3. Pemerintah Kota Tanjungpinang, masyarakat maupun pihak pengembang Perumahan dan Penambang Bouksit harus mau berdialog satu sama lainnya untuk menemukan solusi terbaik mengelola dan memanfaatkan situs sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya di wilayahnya. Salah satu solusi yang tepat adalah mengembangkan Hulu Riau sebagai daerah tujuan wisata edukatif Sejarah dab Budaya Melayu sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat maupun Pendapatan Asli Daerah bagi Kota Tanjungpinang. Kiranya melalui Surat ini, muncul kesadaran bersama melestarikan warisan budaya bangsanya. Demikianlah hal ini kami sampaikan kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang untuk dapat dipertimbangkan dan maklumi dan segera di tindak lanjuti dalam waktu yang sesingkatsingkatnya, jika sejak sampainya surat ini di meja Bapak, dan bapak tidak berusaha menindak lanjuti maka kami akan melaporkan pelanggaran-pelanggaran ini kepada pihak yang berwajib DELIK BIASA, sebagai salah satu usaha Perlindungan terhadap peninggalan sejarah Bangsa. Atas perhatian dan waktu yang telah dan akan Bapak luangkan kami mengucapkan terimakasih. Akhir kata wabillahitaufik walhidayah Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatu.

=== S.A.L.A.MB.U.D.A.Y.A. === Hormat Kami, DewanPeduliPeninggalanSejarahHuluRiau Tanjungpinang, 4 April 2012 Director,

NURI C SHIDDIQ

Tembusan diberikan dengan segala hormat kepada Yth: 1. Presiden RI di Jakarta 2. Mentri Hukum dan Hak Azazi Manusia RI di Jakarta 3. Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreativ RI di Jakarta 4. Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta 5. Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepri di Tanjungpinang 6. Gubernur Kepulauan Riau di Tanjungpinang 7. Wali Kota Tanjungpinang di Tanjungpinang. 8. Kanwil Hukum dan HAM Prov.Kepri di Tanjungpinang 9. Kejaksaan Tinggi Kepri di Tanjungpinang 10. Kejaksaan Ringan Tanjungpinang di Tanjungpinang 11. Kapolresta Tanjungpinang di Tanjungpinang 12. BP3 Batu Sangkar di Sumatra Barat 13. Kepala Dinas Kebudayaan Prov. Kepri di Tanjungpinang 14. Badan KESBANGPOL DAN LINMAS Kota Tanjungpinang. 15. Pembina LSM di Tanjungpinang 16. Pihak-pihak terkait yang dianggap perlu dan berhubungan. Cc.arsip

Sekretariat : Jl. Sultan Machmud Kayu Are No.09 Rt.03 Rw.V Kampong Asli Tanjung Unggat Kota Tanjungpinang e-mail : huluriau_konsen@yahoo.com facebook : Dewan Peduli Peninggalan Sejarah Hulu Riau bloger : http://huluriau.blogspot.com Kontak : 0812 4462 4989