Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar belakang Perubahan perubahan akan terjadi pada tubuh manusia sejalan dengan makin meningkatnya usia. Perubahan tubuh terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rhumatismoz, yang berarti mukus; suatu cairan yang dianggap jahat, mengalir dari otak ke sendi dan struktur lain tubuh sehingga menimbulkan nyeri. Beberapa penelitian menunjukkan memang ada perubahan struktur mucine sendi (mukopalisakarida, asam hialuronidonat) pada beberapa jenis penyakit reumatik, sehingga istilah yang telah agak lama dipakai itu agaknya masih sesuai sampai saat ini. Setiap kondisi yang disertai nyeri dan kaku pada sistem muskuloskeletal disebut rheumatik, termasuk penyakit jaringan ikat (penyakit kolagen). Sedangkan istilah artritis, umumnya dipakai bila sendi merupakan tempat utama penyakit rheumatik. Peradangan pada jaringan ikat, terutama yang berdekatan dengan sendi atau otot dan tendon disebut fibrositis, sedangkan iritasi jaringan ikat fibrosa di tempat melekatnya pada tulang disebut entesopati. Reumatologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit sendi, termasuk penyakit arthritis, fibrositis, bursitis, neuralgia dan kondisi lainnya yang menimbulkan nyeri somantik dan kekakuan. Hingga kini dikenal lebih dari 100 macam penyakit sendi yang seringkali memberikan gejala yang hampir sama. Oleh karena itu pendekatan diagnostik sangat diperlukan agar didapatkan diagnosis yang tepat, sehingga akhirnya pasien memperoleh penatalaksanaan yang adekuat. Perlu diingat pula bahwa gangguan reumatik dapat merupakan manifestasi artikular berbagai penyakit dan sebaliknya beberapa penyakit reumatik mempunyai manifestasi ekstra-artikular pada beberapa organ. Dalam lebih dari 2 dekade terakhir ini diketahui bahwa berbagai penyakit remaik yang dianggap mempunyai dasar imunologik ternyata berkaitan dengan sistem hipokompatibilitas. Sistem ini ditentukan oleh faktor genetik yang pada manusia dikenal
1

sebagai HLA (Human Leukocyte Antygen) tertentu. Antigen HLA adalah molekul pada permukaan sel yang sifatnya ditentukan oleh gen respon imun yang sangat polimorfis yang letaknya ada suatu kompleks pada kromosom No.6 manusia. Sampai saat ini, diketahui 2 jenis antigen HLA yang berbeda dalam struktur dan fungsi: 1. Molekul HLA kelas I, yaitu HLA A, B, C dan lokus-lokus lain yang diekspresikan pada permukaan semua sel berinti dan berfungsi dalam presentasi antigen pada limfosit T sitotoksik (CD8+). 2. Molekul HLA kelas II yaitu HLA-DR, DQ dan DP dan diekspresikan terutama pada makrofag dan sel T yang aktif dan berfungsi mempresentasikan antigen kepada limfosit T helper (CD4+). Saat ini dapat dikatakan penggunaan pemeriksaan HLA dalam klinik masih terbatas. Pada banyak keadaan, antigen HLA yang berkaitan dengan penyakit juga terjadi relatif sering pada penduduk normal sehingga spesifitas penyakit berkurang. Disamping itu tidak semua pasien yang sakit mempunyai jenis HLA yang berkaitan dengan penyakitnya sehingga sensitifitasnya berkurang. Kaitan HLA dengan penyakit juga berbeda-beda pada berbagai etnik populasi. Penjelasan yang mungkin ats kaitan HLA yang bervariasi dan tidak lengkap ini adalah dengan ditemukannya beberapa alel HLA yang bereda tetapi mempunyai sequensi (rentetan) asam amino polimorfis yang sama (hipotesis epitop bersama). Walaupun sekarang dapat dilakukan pemeriksaan HLA secar molekular, sehingga dapat dideteksi urutan asam amino yang berkaitan dengan penyakit, tetapi adanya frekuensi HLA tertentu yang tinggi dalam populasi normal masih membuat manfaatnya terbatas sebagai uji klinis. Walaupun begitu ada beberapa penyakit rematik yang dengan pemeriksaan HLA sekarang ini dapat merupakan informasi klinis yang berguna untuk diagnosis dan prognosis dan dapat berperan lebih besar pada pengobatan di masa yang akan datang. Reumatik dapat mengakibatkan perubahan otot, hingga fungsinya dapat menurun bila otot pada bagian yang menderita tidak dilatih guna mengaktifkan fungsi otot. Dengan meningkatnya usia menjadi tua fungsi otot dapat dilatih dengan baik. Namun usia lanjut tidak selalu mengalami atau menderita reumatik. Bagaimana timbulnya kejadian reumatik ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dapat dimengerti. Reumatik bukan merupakan suatu penyakit, tapi merupakan suatu sindrom dan.golongan penyakit yang menampilkan perwujudan sindroma reumatik cukup banyak, namun semuanya menunjukkan adanya persamaan ciri. Menurut kesepakatan para ahli di
2

bidang rematologi, reumatik dapat terungkap sebagai keluhan dan/atau tanda. Dari kesepakatan, dinyatakan ada tiga keluhan utama pada sistem muskuloskeletal yaitu: nyeri, kekakuan (rasa kaku) dan kelemahan, serta adanya tiga tanda utama yaitu: pembengkakan sendi., kelemahan otot, dan gangguan gerak. (Soenarto, 1982). Reumatik dapat terjadi pada semua umur dari kanak kanak sampai usia lanjut, atau sebagai kelanjutan sebelum usia lanjut. Dan gangguan reumatik akan meningkat dengan meningkatnya umur. (Felson, 1993, Soenarto dan Wardoyo, 1994). Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ). Berdasarkan hal tersebut kelompok tertarik untuk membahas tentang penyakit rheumatoid artritis dan dapat mengaplikasikan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien. B. Rumusan masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Rheumatoid Artritis? 2. Apa yang menyebabkan terjadinya Rheumatoid Artritis? 3. Bagaiman manifestasi klinis dari Rheumatoid Artritis? 4. Bagaiman patofisiologi terjadinya Rheumatoid Artritis? 5. Komplikasi dari Rheumatoid Artritis! 6. Bagaimana evaluasi diagnostik Rheumatoid Artritis? 7. Bagaimanakah penatalaksanaan Rheumatoid Artritis? 8. Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada klien dengan Rheumatoid Artritis?

C. Tujuan 1. Tujuan umum Adapun tujuan umum penyusunan makalah ini adalah untuk mendukung kegiatan pembelajaran keperawatan, khususnya mata kuliah imun dan hematologi serta melatih mahasiswa untuk berfikir kritis sehingga mahasiswa dapat memahami tentang Rheumatoid atritis dan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem muskuloskeletal yaitu Rheumatoid Artritis. 2. Tujuan khusus Mahasiswa dapat menjelaskan : a) Definisi penyakit Rheumatoid Artritis b) Etiologi penyakit Rheumatoid Artritis c) Manifestasi klinik Rheumatoid Artritis d) Patofisiologi penyakit Rheumatoid Artritis e) Pemeriksaan diagnostik penyakit Rheumatoid Artritis f) Penatalaksanaan penyakit Rheumatoid Artritis g) Komplikasi penyakit Rheumatoid Artritis h) Prognosis penyakit Rheumatoid Atritis i) Asuhan keperawatan yang harus diberikan pada klien dengan Rheumatoid Artritis.

D. Manfaat Mendapatkan pengetahuan tentang imun dan hematologi khususnya tentang Rheumatoid Artritis sehingga nantinya dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dalam praktik keperawatan.

BAB II
4

PEMBAHASAN A. Pengertian Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris. (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah Orthopedi, hal. 165). Jenis-jenis rematik Jenis rematik yang paling umum adalah Osteoarthritis, Rheumathoid Arthritis dan Gout (Arthritis Pirai). a) Osteoarthritis (Oa) Definisi : Osteoartritis / penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit yang mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendi, yang berkembangnya secara lambat. Penyebabnya : tidak diketahui. Lokasi sendi yang terkena : sendi tangan / kaki, sendi-sendi besar yang menanggung beban/berat badan tubuh kita (sendi tulang belakang, sendi lutut, sendi panggul). Faktor resiko Osteoarhtritis : faktor usia ( sering pada usia diatas 60 tahun ) jenis kelamin ( frekuensi OA lebih banyak pada wanita diatas usia 50 tahun) genetik (keturunan) Kegemukan cedera sendi ( akibat pekerjaan & olahraga )

Gejala OA
5

nyeri sendi yang khas yaitu nyeri yang bertambah berat pada waktu menopang berat badan atau waktu aktivitas (melakukan gerakan), dan membaik bila diistirahatkan

gerakan sendi menjadi terhambat karena nyeri pada beberapa penderita, nyeri sendi atau kaku sendi dapat timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk di kursi atau mobil (perjalanan jauh), atau setelah bangun tidur di pagi hari.

kadang disertai suara gemeretak/kemretek pada sendi yang sakit penderita mungkin menunjukkan salah satu sendinya (sering lutut atau tangan) secara perlahan membesar

b) Rheumatoid Arthritis (Ra) Definisi : suatu penyakit autoimun dimana persendian secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Biasanya muncul pada usia antara 25-50 tahun,tapi bisa juga diluar usia itu Penyebabnya : belum dapat diketahui secara pasti Gejala yang ditimbulkan : kaku pada persendian sekitarnya pada pagi hari yang berlangsung lebih dari 1 jam pembengkakan pada sendi ( minimal 3 sendi secara bersamaan ) misalnya : pada sendi jari-jari tangan / kaki, sendi pergelangan tangan / kaki, sendi siku, sendi pinggul, atau sendi lutut. peradangan tersebut bisa terjadi pada kedua belah sisi, dapat disertai timbulnya nodul / benjolan dibawah kulit selain itu bisa timbul perubahan bentuk sendi (deformitas) akibat kerusakan rawan sendi & erosi tulang disekitar sendi
6

pada RA juga bisa disertai dengan demam, lemah, dan nafsu makan berkurang.

Pada pemeriksaan laboratorium : Faktor Reumatoid serum menunjukkan adanya titer abnormal.

Radiologis : pada sinar-X tangan / pergelangan tangan menunjukkan adanya erosi/dekalsifikasi tulang pada sendi & sekitarnya.

c) Gout (Arthritis Pirai) Definisi : suatu penyakit yang ditandai dengan serangan nyeri sendi yang berulang-ulang dan tiba-tiba, peradangan sendi bersifat menahun (kronis) dan setelah terjadi serangan berulang, sendi bisa menjadi bengkok Penyebabnya : karena tingginya kadar asam urat di dalam darah (hiperurisemia). Lokasi sendi yang terkena : biasanya adalah pangkal ibu jari kaki, meskipun demikian serangan ini bisa terjadi pada persendian lain, seperti pergelangan kaki, lutut, siku, pergelangan tangan atau jari tangan. Gejala : gout berkembang dalam 4 tahap : Tahap Asimptomatik : Pada tahap ini kadar asam urat dalam darah meningkat, tidak menimbulkan gejala. Tahap Akut : Serangan akut pertama datang tiba-tiba dan cepat memuncak, umumnya terjadi pada tengah malam atau menjelang pagi. Serangan ini berupa rasa nyeri yang hebat pada sendi yang terkena, mencapai puncaknya dalam waktu 24 jam dan perlahan-lahan akan sembuh spontan dan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 14 hari. Tahap Interkritikal : Pada tahap ini penderita dapat kembali bergerak normal serta melakukan berbagai aktivitas olahraga tanpa merasa sakit sama sekali. Kalau rasa nyeri pada serangan pertama itu hilang bukan
7

berarti penyakit sembuh total, biasanya beberapa tahun kemudian akan ada serangan kedua. Namun ada juga serangan yang terjadi hanya sekali sepanjang hidup, semua ini tergantung bagaimana sipenderita mengatasinya. Tahap Kronik : Tahap ini akan terjadi bila penyakit diabaikan sehingga menjadi akut. Frekuensi serangan akan meningkat 4-5 kali setahun tanpa disertai masa bebas serangan. Masa sakit menjadi lebih panjang bahkan kadang rasa nyerinya berlangsung terus-menerus disertai bengkak dan kaku pada sendi yang sakit. Reumatoid arthritis adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses inflamasi pada sendi (Lemone & Burke, 2001 : 1248). Reumatik dapat terjadi pada semua jenjang umur dari kanak-kanak sampai usia lanjut. Namun resiko akan meningkat dengan meningkatnya umur (Felson dalam Budi Darmojo, 1999). Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut (Susan Martin Tucker.1998). Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan. (Diane C. Baughman. 2000). Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. (Arif Mansjour. 2001).

B. Etiologi Penyebab pasti reumatod arthritis tidak diketahui. Biasanya merupakan kombinasi dari faktor genetic, lingkungan, hormonal dan faktor system reproduksi. Namun faktor
8

pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri, mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001). Penyebab utama kelainan ini tidak diketahui. Ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab artritis reumatoid, yaitu : 1) Infeksi streptokokus hemolitikus dan streptokokus non-hemolitikus Dugaan adanya infeksi timbul karena permulaan sakitnya terjadi secara mendadak dan disertai tanda-tanda peradangan. Penyebab infeksi diduga bakteri, mikoplasma, atau virus. 2) Endokrin Faktor keseimbangan hormonal diduga ikut berperan karena perempuan lebih banyak menderita penyakit ini dan biasanya sembuh sewaktu hamil. 3) Autoimun Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat predisposisi terhadap penyakit. Pada saat ini, artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin disebabkan oleh karena virus dan organisme mikoplasma atau grup difterioid yang menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita. 4) Metabolik Heat Shock Protein (HSP), HSP merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh tubuh sebgai respons terhadap stres. 5) Faktor genetik serta faktor pemicu lainnya. Terdapat hubungan antara HLA-DW4 dengan AR seropositif yaitu penderita mempunyai resiko 4 kali lebih banyak terserang penyakit ini. 6) Radikal bebas Contohnya radikal superokside dan lipid peroksidase yang merangsang keluarnya prostaglandin sehingga timbul rasa nyeri, peradangan dan pembengkakan. 7) Umur
9

Penyakit ini terjdai pada usia 20-60 tahun, tetapi terbanyak antara umur 35-45 tahun. Artritis reumatoid ini merupakan bentuk artritis yang serius, disebabkan oleh peradangan kronis yang bersifat progresif, yangmenyangkut persendian. Ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendisenditerutama pada jari-jari tangan, pergelangan tangan, siku, dan lutut. Penyebab artritis reumatoid masih belum diketahui walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah terungkap. Penyakit ini tidak dapat ditunjukkan memiliki hubungan pasti dengan genetik. Terdapat kaitan dengan penanda genetik seperti HLADW4 (Human Leukocyte Antigens) dan HLA-DR5 pada orang Kaukasia. Namun pada orang Amerika, Afrika, Jepang, dan Indian Chippewa hanya ditentukan kaitan dengan HLA-DW4. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui dua cara. Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi, protease, kolagenase, dan enzim hidrolitik lainnya. Enzim ini memecah kartilago, ligamen, tendon, dan tulang pada sendi, serta dilepaskan bersama sama dengan radikal O2 dan metabolit asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear dalam cairan sinovial. Proses ini diduga adalah bagian dari respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara lokal Destruksi jaringan juga terjadi melalui kerja panus reumatoid. Panus merupakan jaringan granulasi atau vaskuler yang terbentuk dari sinovium yang meradang dan kemudian meluas ke sendi. Di sepanjang pinggir panus terjadi destruksi, kolagen, dan proteoglikan melalui produksi enzim oleh sel di dalam panus tersebut. C. Manifestasi Klinis Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada seseorang artritis reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat bersamaan oleh karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi. 1) Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya. 2) Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer: termasuk sendi-sendi di tangan, namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal. Hampir semua sendi diartrodial dapat diserang. 3) Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam; dapat bersifat generalisata tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis,
10

yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan selalu berkurang dari satu jam. 4) Artritis erosif; merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik. Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tei tulang. 5) Deformitas; Kerusakan jaringan penungjang sendi meningkatdengan pejalanan penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi metekarpofalangeal, deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan yangsering dijumpai. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metersal yang timbul sekunder dari subluksasi metetersal. Sendi-sendi yang besar juga dapa teserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam melakukan gerakan ekstensi. 6) Nodul-nodul reumatoid: adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar sepertiga orang dewasa pasien artritis reumatoid. Lokasi yang paling sering dari deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat. 7) Manifestasi dekstra-artikular; artritis reumatoid juga dapat menyerangorgan-organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan pembuluh darah dapat rusak.

Gbr. 1 Tangan reumatoid dengan boutonniere dan deformitas leher angsa. Terlihat poliartritis pada sendi tangan. Diantara perubahan deformitas yang berat terdapat otot yang tidak digunakan dalam snuffbox anatomik (antara ibu jari dan jari telunjuk). D. Patofisiologi
11

Pada artritis reumatoid, reaksi autoimun (yang sudah dijelaskan sebelumnya) terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kogen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.

Pathway

Reaksi faktor dengan antibodi, faktor metabolik, infeksi dengan kecendrungan virus Nyeri Reaksi peradangan

Sinovial menebal

Pannus

Nodul

Deformitas sendi Gangguan body image

Infiltrasi ke dalam os. subcondria Kerusakan kartilago dan tulang

Hambatan nutrisi pada kartilago artikularis

Tendon ligamen Mudah Hilangnya melemah kekuatan luksasi dan Resiko cedera sublukasi otot

Kartilago nekrosis 12 Gangguan Adhesi pada Kekakuan Ankilosis fibrosa Erosi kartilago mobilitas permukaan sendi sendi Defisit perawatan Ankilosis tulang Terbatasnya diri gerakan

E. Kriteria Diagnostik Diagnostik artritis reumatoid dapat menjadi suatu proses yang kompleks. Pada tahap dini mungkin hanya akan ditemukan sedikit atau tidak ada uji laboratorium yang positif; perubahan apda sendi dapat minor; dan gejala gejalanya dapat hanya bersifat sementara. Diagnosis tidak hanya bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasarkan pada suatu evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala. Kriteria diagnostik yang dipakai adalah sebagai berikut: 1) Kekakuan pagi hari (lamanya paling tidak satu jam) 2) Artritis pada tiga atau lebih sendi 3) Artritis sendi-sendi jari-jari tangan. 4) Artritis yang simetris. 5) Nodul reumatoid. 6) Faktor reumatoid dalam serum. 7) Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang).

13

Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabikla sekurangkurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu. Pemeriksaan penunjang Tidak banyak berperan dalam diagnosis reumatoid, namun dapat menyokong bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis gejala pasien. 1. Pemeriksaan laboratorium a. Cairan synovial 1) Kuning sampai putih; derajat kekeruhan menggambarkan peningkatan jumlah sel darah putih; fibrin clot menggambarkan kronisitas. 2) Mucin clot. Bekuan yang berat dan menurunnya viskositas menggambarkan penurunan kadar asam hyaluronat. 3) Leukosit 5.000 50.000/mm3, menggambarkan adanya proses inflamasi, didominasi oleh sel neutrophil (65%). 4) Glukosa: normal atau rendah. 5) Rheumatoid factor positif, kadarnya lebih tinggi dari serum, berbanding terbalik dengna kadar komplemen cairan sinovium. 6) Penurunan kadar komlemen menggambarkan pemakaiannya pada reaksi imunologis. 7) Peningkatan kadare IgG dan kompleks imun. 8) Phagocites neutrophils yang difagosit oleh kompleks immun. b. Darah tepi 1) Leukosit: normal atau meningkat (<12.000/mm3). Leukosit menurun bila terdapat splenomegali; keadaain ini dikenal sebagai Feltys syndrome. 2) Anemia normositer atau mikrositer, tipe penyakit kronis. c. Pemeriksaan Sero-imunologi 1) Rheumatoid factor + (IgM) - 75% penderita; 95% + pada penderita dengan nodul subkutan. 2) Anti CCP antibodies positif telah dapat ditemukan pada AR dini.
14

3) Antinuclear antibodies positif (10%-50% penderita) dengan titer yang lebih rendah dibandingkan dengan Lupus Eritematosus Sistemik. 4) Anti-DNA antibodies negatif. 5) Peningkatan CRP, fibrinogen dan laju endap darah, menggambarkan aktivitas penyakit. 6) Meningkatnya kadar alpha1 dan alpha2 globulin sebagai acute phase reactans. 7) Meningkatnya kadar -gobulin menggambarkan kenaikan/akselerasi dari katabolisme protein pada penyakit kronis. 8) Kadar komplemen serum normal; menurunnya kadar komplemen dapat terjadi pada keadaan penyakit dengan gejala ekstra artikular yang berat seperti vaskulitis. 9) Adanya circulating immune comlexes serta ditemukan pada penyakit dengan manifestasi sistemik. 2. Pemerikasaan Gambaran Radiologik Pada awal penyakit tidak ditemukan, tetapi setelah sendi mengalami kerusakan yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi. Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. Perubahan ini sifatnya tidak reversibel. Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang terkena.

15

Gbr. 2 Radiogram tangan reumatoid. Perhatikan penurungan jarak sendi (panah hitam), erosi kaput metakarpal (panah putih kecil) dan tejadi deformitas sendi (panah putih besar). F. Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan reumatoid artritis adalah mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, menghentikan kerusakan sendi dan meningkatkan fungsi dan kemampuan mobilisasi penderita (Lemone & Burke, 2001). 1. Pengobatan Medis Belum ada penyembuhan untuk AR. Penyakit biasanya berlangsung seumur hidup, sehingga memerlukan penanganan seumur hidup pula. Walaupun hingga kini belum berhasil didapatkan suatu cara pencegahan dan pengobatan AR yang sempurna, saat ini pengobatan pasa pasien AR ditujukan untuk: a. Menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik. b. Mencegah terjadinya destruksi jaringan. c. Mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar tetap dalam keadaan baik. d. Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang terlibat agar sedapat mungkin menjadi normal kembali. Dalam pengobatan AR umumnya selau dibutuhkan pendekatan multidisipliner. Suatu tim yang idealnya terdiri dari dokter, perawat, ahli fisioterapi, ahli terapi okupasional, pekerja sosial, ahli farmasi, ahli gizi dan ahli psikologi, semuanya memiliki peranan masing-masing dalam pengelolaan pasien AR baik dalam bidang edukasi maupun penatalaksanaan pengobatan penyakit ini. Beberapa jenis obat yang digunakan pada AR antara lain sebagai berikut: a. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Obat ini diberikan sejak mulai sakit untuk mengatasi nyeri sendi akibat proses peradangan. Golongan obat ini tidak dapat melindungi rawan sendi maupun tulang dari proses kerusakan akibat penyakit AR. Contoh obat golongan ini yaitu Asetosal, Ibuprofen, Natrium Diclofenak, Indometasin, Asam flufenamat, Piroksikam, Fenilbutason, dan Naftilakanon. b. Kortikosteroid.
16

Obat

ini

berkhasiat

sebagai

antiradang

dan

penekan

reaksi

imun

(imunosupresif), tetapi tidak bisa mengubah perkembangan penyakit AR. Kortikosteroid bisa digunakan secara sistemik (tablet, suntikan IM) maupun suntikan lokal di persendian yang sakit sehingga rasa nyeri dan pembengkakan hilang secara cepat. Pengobatan kortikosteroid sistemik jangka panjang hanya diberikan kepada penderita dengan komplikasi berat dan mengancam jiwa, seperti radang pembuluh darah (vaskulitis). c. Desease Modifing Anti Rheumatoid Drugs (DMARDs)/ Obat pengubah perjalanan penyakit. Bila diagnosis AR telah ditegakkan, oabt golongan ini harus segera diberikan. Beberapa ahli bahkan menganjurkan pemberian DMARDs, baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi dengan DMARDs lain pada tahap dini, baru kemudian dikurangi secara bertahap bila aktivitas AR telah terkontrol. Bila penggunaan satu jenis DMARDs dengan dosis adekuat selama 3-6 bulan tidak menampakkan hasil, segera hentikan atau dikombinasi dengan DMARDs yang lain. Contoh obat golongan ini yaitu Klorokuin, Hidroksiklorokuin, Sulfazalazine, Dpenisilamin, Garam Emas (Auro Sodium Thiomalate, AST), Methothexate, Cyclosporin-A dan Lefonomide.

d. Obat imunosupresif Obat ini jarang digunakan karena efek samping jangka panjang yang berat seperti timbulnya penyakit kanker, toksik pada ginjal dan hati. e. Suplemen antiokdsidan Vitamin dan mineral yang berkhasiat antioksidan dapat diberikan sebagai suplemen pengobatan seperti beta karoten, vitamin C, vitamin E, dan selenium. 2. Pengobatan Tradisional Perawatan dan pengobatan terhadap penyakit rheumatik adalah sebagai berikut. a. Diusahakan agar badan dalam keadaan hangat. b. Gunakan campuran garam 1 sendok makan, tawas sendok makan, dan air rebusan sirih untuk merendam/mengompres bagian badan yang terserang rheumatik.
17

c. Daun seledri sebanyak 10 batang dimakan sebagai lalap. d. Daun kumis kucing sebanyak 1 genggam, daun meniran 7 batang, temulawak 10 potong, daun murbei 1 genggam, dan bidara upas 1 jari. Semua bahan ini di rebus dalam air sebanyak 2 gelas, kemudian disaring untuk diminum airnya. e. Dengan obat gosok alami: Air jeruk nipis, minyak kayu putih dan kapur sirih dicampur dan digunakan untuk menggosok bagian tubuh yang sakit. Daun kecubung wuluh 5 lembar dan kapur siri ditumbuk dan digosokkan pada bagian tubuh yang sakit. Bengle lempu yang dan cabe ditumbuk halus, kemudian dicampur dengan minyak kayu putih dan digosokkan pada bagian tubuh yang sakit.

Adapun penatalaksanaan umum pada rheumatoid arthritis antara lain :

1. Pengaturan aktivitas dan istirahat Pada kebanyakan penderita, istirahat secara teratur merupakan hal penting untuk mengurangi gejala penyakit. Pembebatan sendi yang terkena dan pembatasan gerak yang tidak perlu akan sangat membantu dalam mengurangi progresivitas inflamasi. Namun istirahat harus diseimbangkan dengan latihan gerak untuk tetap menjaga kekuatan otot dan pergerakan sendi. 2. Kompres panas dan dingin Kompres panas dan dingin digunakan untuk mendapatkan efek analgesic dan relaksan otot. Dalam hal ini kompres hangat lebih efektive daripada kompres dingin. 3. Diet Untuk penderita rheumatoid arthritis disarankan untuk mengatur dietnya. Diet yang disarankan yaitu asam lemak omega-3 yang terdapat dalam minyak ikan. Anjuran bagi penderita artritis rheumatoid a. Makan sayuran (bayam, lobak, wortel, daun singkong, daun ubi jalar, seledri). b. Mengkonsumsi buah-buahan segar (tomat, kesemek, pepaya, mangga). c. Tiga hari berturut-turut minumlah susu dan telur ayam kampung setengah matang.
18

d. Jangan mengkonsumsi makanan/minuman yang dingin. e. Mandi berendam dengan air hangat. f. Istirahat yang cukup. g. Jangan sampai kedingingan. Beberapa jenis makanan yang harus dihindari bagi semua penderita rematik adalah sebagai berikut. a. Minuman berarkohol, teh, kopi, coklat. b. Mentega, telur ayam negeri, rempah-rempah yang pedas. c. Kue-kue dari tepung dan gula putih. d. Sayur kangkung, melinjo (daun dan buah), rebung dan daging.

4. Pembedahan Pembedahan dilakukan apabila rheumatoid arthritis sudah mencapai tahap akhir. Bentuknya dapat berupa tindakan arhthrodesis untuk menstabilkan sendi, arthoplasty atau total join replacement untuk mengganti sendi. G. Komplikasi Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid. Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis. H. Prognosis Pada umumnya pasien artritis reumatoid akan mengalami manifestasi penyakit yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode artritis reumatoid dan selanjutnya akan mengalami remisi sempurna). Tapi sebagian besar penyakit ini telah terkena artritis reumatoid akan menderita penyakit ini selama sisa hidupnya dan hanya diselingi oleh
19

beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklik). Sebagian kecil lainnya akan menderita artritis reumatoid yang progresif yang disertai dengan penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap eksaserbasi. Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwasannya penyakit ini bersifat sistemik. Maka seluruh organ dapat diserang, baik mata, paru-paru, jantung, ginjal, kulit, jaringan ikat, dan sebagainya. Bintik-bintik kecil yang berupa benjolan atau noduli dan tersebar di seluruh organ di badan penderita. Pada paru-paru dapat menimbulkan lung fibrosis, pada jantung dapat menimbulkan pericarditis, myocarditis dan seterusnya. Bahkan di kulit, nodulus rheumaticus ini bentuknya lebih besar dan terdapat pada daerah insertio dan otot-otot atau pada daerah extensor. Bila RA nodule ini kita sayat secara melintang maka kita akan dapati gambaran: nekrosis sentralis yang dikelilingi dengan sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun yang berjajar seperti jeruji roda sepeda (radier) dan membentuk palisade. Di sekitarnya dikelilingi oleh deposit-deposit fibrin dan di pinggirnya ditumbuhi dengan fibroblast. Benjolan rematik ini jarang dijumpai pada penderitapenderita RA jenis ringan. Disamping hal-hal yang disebutkan di atas gambaran anemia pada penderita RA bukan disebabkan oleh karena kurangnya zat besi pada makanan atau tubuh penderita. Hal ini timbul akibat pengaruh imunologik, yang menyebabkan zat-zat besi terkumpul pada jaringan limpa dan sistema retikulo endotelial, sehingga jumlahnya di daerah menjadi kurang. Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gratitis dan ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (desease modifying antiremathoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada artritis reumatoid. Komplikasi saraf yang terjadi tidak memberikan gambaran jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

20

I. Konsep Asuhan Keperawatan A. Pengkajian Data dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan organorgan lainnya ( misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal ), tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya. 1) Aktivitas/Istirahat Gejala:Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi : kekakuan pada pagi hari. Keletihan. Tanda: malaise, keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot. 2) Kardiovaskuler Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun. 3) Integritas Ego
21

Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan, keputusasaan dan ketidak berdayakan, ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan pada orang lain 4) Makanan Atau Cairan Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat : mual, anoreksia, Kesulitan untuk mengunyah. Tanda: Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa. 5) Higiene Gejala: 6) Neurosensori Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan. Tanda: Pembengkakan sendi 7) Nyeri / Kenyamanan Gejala: fase akut dari nyeri, terasa nyeri kronis dan kekakuan 8) Keamanan Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga, kekeringan pada mata dan membran mukosa 9) Interaksi Sosial Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga/orang lain : perubahan peran: isolasi. B. Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan proses inflamasi, agen pencedera, destruksi sendi. 2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: kekakuan sendi, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot. 3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan, perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, deformitas sendi, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas. Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan pada orang lain.

22

4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan terbatasnya gerakan sendi; penurunan kekuatan. 5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang.

C. Intervensi Keperawatan 1. Nyeri akut/kronis berhubungkan dengan proses inflamasi, agen pencedera, destruksi sendi. Tujuan Kriteria hasil Nyeri klien Menunjukkan dapat berkurang atau hilang nyeri terkontrol. Terlihat dapat tidur/beristirahat dan berpartisipasi dalam sesuai rileks, hilang/ Intervensi 1. Kaji nyeri, Rasional catat 1. Membantu

dalam

lokasi dan intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor mempercepat tanda-tanda sakit non verbal. yang rasa

menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program. empuk, bantal yang

dan 2. Matras yang lembut/ besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stress pada sendi yang sakit. Peninggian linen tempat tidur

matras/ aktivitas 2. Berikan kasur keras, bantal kecil,. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan. 3. Tempatkan/
23

kemampuan. Mengikuti program farmakologis

pantau

yang diresepkan. Menggabungkan keterampilan relaksasi ke nyeri. dan dalam

penggunaan karung bebat, brace. mengubah Bantu

bantal, pasir,

menurunkan pada sendi

tekanan yang

gulungan trokhanter,

terinflamasi/nyeri. 3. Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan posisi Penggunaan dapat nyeri dan mempertahankan netral. brace dapat menurunkan

aktivitas hiburan 4. Dorong untuk sering posisi,. untuk program kontrol

bergerak di tempat tidur, sokong sendi yang sakit di atas dan bawah, hindari gerakan menyentak. 5. Anjurkan untuk pasien air yang

mengurangi kerusakan pada sendi. 4. Mencegah kekakuan Menstabilkan mengurangi terjadinya sendi. sendi, gerakan/ kelelahan umum dan

mandi

hangat atau mandi pancuran pada waktu bangun pada hangat sendi Pantau yang suhu Sediakan waktu tidur. waslap untuk sakit air

rasa sakit pada sendi. meningkatkan otot, sakit pagi dan dan hari. relaksasi rasa di

dan/atau 5. Panas

mobilitas, menurunkan melepaskan kekakuan

mengompres sendibeberapa kali sehari. kompres, air mandi, dan sebagainya. lembut. 7. Dorong penggunaan teknik stres,
24

Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan luka dermal dapat disembuhkan. relaksasi/ nyeri. relaksasi, memberikan mengurangi

6. Berikan masase yang 6. meningkatkan

manajemen 7. Meningkatkan misalnya

relaksasi progresif,sentuhan terapeutik, back, biofeed

rasa

kontrol

dan

mungkin meningkatkan kemampuan koping. perhatian, memberikan stimulasi, meningkatkan percaya diri perasaan sehat. realaksasi, mengurangi tegangan otot/ spasme, memudahkan untuk ikut serta dalam terapi. 10. sebagai anti inflamasi dan ringan dan efek analgesik dalam meningkatkan dingin dapat nyeri dan rasa dan

visualisasi, 8. Memfokuskan kembali

pedoman imajinasi, hypnosis diri, dan pengendalian napas. 8. Libatkan aktivitas dalam hiburan

yang sesuai untuk 9. Meningkatkan situasi individu. 9. Beri obat sebelum aktivitas/ yang latihan direncanakan

sesuai petunjuk. 10. Kolaborasi: Berikan obat-obatan salisilat). 11. Berikan es kompres dingin dibutuhkan. sesuai petunjuk (mis:asetil

mengurangi kekakuan mobilitas. menghilangkan periode akut.

jika 11. Rasa

dan bengkak selama

2. Kerusakan Mobilitas Fisik berhubungan dengan: kekakuan sendi, ketidaknyamanan, Intoleransi aktivitas, penurunan kekuatan otot. Tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional Meningkatkan Mempertahankan 1. Evaluasi/ lanjutkan 1. Tingkat aktivitas/ latihan mobilitas fisik fungsi dengan hadirnya/ pembatasan posisi tidak pemantauan tingkat inflamasi/ 2. Pertahankan
25

tergantung

dari

rasa

perkembangan/ resolusi dari peoses inflamasi. 2. Istirahat sistemik

sakit pada sendi.

kontraktur. Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan atau dan fungsi dari dan/ konpensasi bagian tubuh.

istirahat

tirah

dianjurkan eksaserbasi seluruh yang fase penting

selama akut dan untuk penyakit kelelahan

baring/ duduk jika diperlukan jadwal aktivitas memberikan periode istirahat yang terus menerus hari 3. Bantu rentang aktif/pasif, demikiqan isometris juga jika latihan resistif dan memungkinkan. 4. Ubah posisi dengan sering jumlah cukup. Demonstrasikan/ bantu pemindahan penggunaan bantuan mobilitas, mis, trapeze. 5. Posisikan bantal, pasir, trokanter, brace. 6. Gunakan
26

untuk

mencegah kekuatan. meningkatkan

mempertahankan

dan tidur malam 3. Mempertahankan/ yang tidak dengan gerak fungsi terganggu. sendi, kekuatan otot dan stamina umum. Catatan : latihan sendi, tidak adekuat karenanya menimbulkan kekakuan aktivitas yang berlebihan dapat merusak sendi. 4. Menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Memepermudah perawatan kemandirian Tehnik yang mencegah abrasi kulit. 5. Meningkatkan stabilitas (mengurangi cidera) resiko dan tepat tehnik dan diri dan pasien. pemindahan dapat robekan

dengan personel

dengan kantung gulungan bebat, bantal

memerptahankan posisi sendi yang diperlukan dan kesejajaran tubuh, mengurangi kontraktor.

kecil/tipis di bawah 6. Mencegah fleksi leher. leher. 7. Dorong pasien mempertahankan postur tegak dan duduk berdiri, berjalan. 8. Berikan lingkungan aman, menaikkan menggunakan pegangan pada penggunaan roda. 9. Kolaborasi: konsul dengan fisoterapi. 10. Kolaborasi: Berikan busa/ tekanan. 11. Kolaborasi: berikan obatan obatsesuai matras tangga toilet, kursi yang kursi, misalnya dan 7. Memaksimalkan fungsi sendi mempertahankan mobilitas. cidera dalam latihan/ yang pada individual dalam akibat kecelakaan/ jatuh. 9. Berguna memformulasikan program aktivitas berdasarkan kebutuhan dan alat. 10. Menurunkan pada mudah jaringan pecah tekanan yang untuk risiko dibutuhkan dan

tinggi, 8. Menghindari

mengidentifikasikan

mengurangi imobilitas.

pengubah 11. Mungkin

untuk menekan sistem inflamasi akut.

indikasi (steroid).

3. Gangguan citra tubuh./perubahan penampilan peran berhubungan dengan perubahan kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas umum, deformitas sendi, peningkatan penggunaan energi, ketidakseimbangan mobilitas. Tujuan Kriteria hasil Klien dapan 1. Mengungkapkan Intervensi 1. Dorong
27

Rasional 1. Berikan

kesempatan

meneriman dirinya diri dan klien kepercayaan meningkat.

peningkatan rasa percaya dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan. 2. Menyusun rencana realistis untuk depan. masa diri

pengungkapan mengenai tentang penyakit, masa depan. kehilangan/ perubahan pasien/orang terdekat. Memastikan bagaimana pandangaqn pribadi pasien hidup termasuk aspek seksual. 3. Diskusikan persepsi pasienmengenai bagaimana terdekat 4. Akui keterbatasan. dan terima berduka, perasaan menerima memfungsikan gaya sehari-hari, aspekpada masalah proses harapan

untuk mengidentifikasi rasa takut/ konsep menghadapinya langsung. bagaimana diri dan penyakit interaksi kesalahan dan secara

2. Diskeusikan arti dari 2. Mengidentifikasi mempengaruhi persepsi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan terhadap dalam 3. Isyarat dapat bagaimana memandang sendiri. konstan marah akan dan dan umum melelahkan, perasaan terjadi. 5. Dapat emosional metode maladaptive, membutuhkan atau intervensi lebih lanjut. 6. Membantu pasien untuk mempertahankan diri, menunjukkan ataupun koping bermusuhan intervensi/ verbal/non mempunyai pasien dirinya konseling lebih lanjut. verbal orang terdekat pengaruh mayor pada

orang 4. Nyeri

bermusuhan, ketergantungan. 5. Perhatikan perilaku menarik penggunaan menyangkal terlalu memperhatikan


28

perubahan. 6. Susun batasan pada perilaku mal adaptif. mengidentifikasi perilaku positif yang dapat koping. 7. Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan membuat aktivitas. 8. Bantu kebutuhan perawatan diperlukan. 9. Berikan 10. Kolaborasi: pada psikiatri, perawat positif bila perlu. Rujuk mis: spesialis konseling yang dalam dan membantu

kontrol diri, yang dapat meningkatkan perasaan harga diri. harga diri, mendorong kemandirian, mendorong berpartisipasi terapi. 8. Mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri. untuk merasa senang terhadap dirinya sendiri. Menguatkan positif. perilaku Meningkatkan terdekat selama dengan dalam dan

Bantu pasien untuk 7. Meningkatkan perasaan

jadwal 9. Memungkinkan pasien

rasa percaya diri. bantuan 10. Pasien/orang dukungan berhadapan mungkin membutuhkan

proses jangka panjang/ ketidakmampuan. 11. Mungkin pada sat dibutuhkan munculnya

psikiatri, psikolog. 11. Kolaborasi: Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obatobatan peningkat alam perasaan.

depresi hebat sampai pasien mengembangkan kemapuan koping yang lebih efektif.

29

4. Kurang perawatan diri berhubungan dengan terbatasnya gerak sendi, penurunan kekuatan. Tujuan Perawatan klien terpenuhi Kriteria hasil diri 1. Melaksanakan dapat aktivitas perawatan pada yang dengan kemampuan individual. 2. Mengidentifikasi sumber-sumber pribadi/ komunitas yang dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri. diri tingkat konsisten Intervensi 1. Mandikan klien Rasional pasien 1. Agar badan segar, peredaran mampu

menjadi dan

setiap hari sampai melaksanakan rambut dan potong kuku klien. 2. Ganti pakaian yang bersih. 3. Kaji dalam diri. /rencana modifikasi lingkungan. 4. Kolaborasi: Konsul dengan ahli terapi okupasi. 5. Kolaborasi: Atur evaluasi kesehatan pemulangan dengan
30

melancarkan darah

meningkatkan kesehatan. dari nyaman. untuk meningkatkan kuman dan rasa

sendiri serta cuci 2. Untuk melindungi klien meningkatkan

kotor dengan yang 3. Menyiapkan hambatan

kemandirian, yang akan meningkatkan harga diri. untuk memenuhi individual. menentukan alat bantu untuk kebutuhan

terhadap partisipasi Identifikasi untuk

perawatan 4. Berguna

Mis; memasang kancing, menggunakan alat bantu memakai menggantungkan pegangan untuk mandi pancuran. masalah-masalah yang sepatu,

di rumah sebelum 5. Mengidentifikasi

evaluasi setelahnya. 6. Kolaborasi : atur konsul lembaga mis: perawatan ahli nutrisi. dengan pelayanan rumah,

mungkin karena

dihadapi tingkat

kemampuan aktual. berbagai tambahan persiapan rumah. bantuan untuk situasi di

lainnya, 6. Mungkin membutuhkan

5. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan penurunan fungsi tulang. Tujuan Kriteria hasil Intervensi Mengurangi klien 1. Kendalikan dapat resiko cedera pada klien mempertahankan keselamatan fisik. Rasional lingkungan 1. Lingkungan mengurangi cedera membebaskan keluaraga.

yang resiko dan

dengan : Menyingkirkan bahaya yang tampak jelas, mengurangi tidur tempat usahakanposisi tidur rendah, pencahayaan 2. Memantau medikasi kemandirian kebebasan dengan kebebasan hindari restrain, pasienmelamun
31

bebas bahaya akan

potensial misalnya tidur, tempat gunakan malam

cedera akibat jatuh ketika menggunakan penyanggah

siapkan lampu panggil. regimen 2. Hal Izinkan dan maksimum memberikan dalam penggunaan ketika alihkan merasa restrain dapatmeningkatkan agitasi, mengegetkan pasien ini akan otonomi, memberikan pasien

lingkungan yang aman,

perhatiannya

BAB III PENUTUP 1. Kesimpulan Penyakit reumatik adalah kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan hambatan gerak pada sendi sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban. Artritis rematoid adalah merupakan penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya. Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah. 2. Saran Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya : a. Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan rheumatoid artritis, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga. b. Dalam rangka mengatasi masalah resiko injuri pada klien dengan rheumatoid artritis maka tugas perawat yang utama adalah sering mengobservasi akan kebutuhan klien yang mengalami rheumatoid artritis. c. Untuk perawat diharapkan mampu menciptakan hubungan yang harmonis dengan keluarga sehingga keluarga diharapkan mampu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.
32

DAFTAR PUSTAKA Anderson, Sylvia Price, McCarty, Wilson Lorraine. 2006. PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dalimartha, Setiawan. 2007. 96 Resep Tumbuhan Obat untuk Reumatik. Jakarta: PENEBAR SWADAYA. Gunadi, W. Rachmat, Et all. 2006. Diagnosis & Terapi Penyakit Reumatik. Bandung: SAGUNG SETO. Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Sudoyo, Aru, Et all. 2006. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM. JILID III, EDISI IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Depertemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Utomo, Prayogo. 2005. APRESIASI PENYAKIT PENGOBATAN SECARA TRADISIONAL DAN MODERN. Jakarta: Penerbit RINEKA CIPTA. Winoto, Pandi. 2003. Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS.

33