Anda di halaman 1dari 20

SHAUM RASULULLAH SAW

(Kajian shaum serta permasalahan di sekitarnya)


BAB I
PENGERTIAN SHAUM, PUASA DAN RAMADHAN
A. PENGERTIAN SHAUM
)artinya menahan diri dari sesuatu (
Menurut bahasa shaum (

) . Dan shaum asal katanya adalah
shama-yasuumu-shauman-shiyaaman- artinya menahan diri dari sesuatu, berhenti, diam atau berada di suatu tempat.
Seperti kata shama ar-rih artinya angin berhenti berhembus, atau shama asy-syams artinya matahari ada di tengahtengah langit, shama al-fars artinya kuda enggan melakukan perjalanan.
Sedangkan menurut istilah (syara) adalah :
.







Menahan diri dari makan dan minum dan jimak dari terbit fajar sampai terbenam matahari (maghrib) karena mengharap
keridloan Allah dan menyiapkan serta melatih diri untuk bertaqwa kepada Allah dengan cara mendekatkan diri dalam
perkara yang tersembunyi maupun yang nyata. (Tafsir Al-Maraghi 2/67).
B.

MAKNA PUASA

Puasa berasal dari bahasa Sanksekerta yang artinya kira-kira hampir sama dengan Shaum. Dan istilah puasa berasal dari
agama Hindu, seperti terlihat dalam kitabnya, Upawasa itu pada hari kamu dilahirkan, ketika kamu menginginkan
sesuatu, ketika kami menyatakan kecintaan antara Athman dan Brahman, tetapi cucilah rambutmu sebelum
melakukannya itu . (Candravid 4/9).
Dalam ungkapan lain dinyatakan, Rayakanlah penutupan upawasa itu dengan tabuh-tabuhan. (Candravid 4/6).
Secara Konseptual, Puasa dengan Shaum sangat berbeda. Menurut agama Hindu, hidup di dunia itu merupakan siksaan
(samsara), sebab kebahagiaan hanya didapat di surga (nirwana). Berdasarkan konsep seperti itu, maka manusia harus
menghindari kesenangan dunia dengan jalan menyiksa diri, di antaranya dengan puasa tersebut. Jadi menurut ajaran
agama Hindu, Puasa itu adalah Penyiksaan diri, sedangkan dalam ajaran Islam bertujuan terbentuknya Pribadi yang
taqwa.
C.

MAKNA RAMADHAN

Ramadlan berasal dari kata : , artinya terik, sangat panas. (Lisanul Arab 7/160).




:


:

Dari Zaid bin Arqam, ai berkata, Rasulullah saw telah keluar kepada Ahli Quba dan mereka sedang shalat, kemudian
beliau bersabda : Shalatnya orang-orang yang bertaubat ialah pada saat anak unta merasakan teriknya matahari. (HR.
Muslim No. 748 bab shalat al-awwabin hina tarmidlu al-fishal).
Menurut Ibnu Duraid, orang Arab dahulu ketika mengubah nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka
namakan bulan-bulan itu menurut masa yang dilalui bulan itu. Dan kebetulan bulan Ramadhan pada masa itu panas
karena terik matahari yang sangat menyengat, sehingga dinamailah bulan tersebut Ramadhan. (Lisanul Arab 7/162)
Ibnu Manzhur menyebutkan bahwa Syahru Ramadlan diambil dari ramidla as-shaimu (sangat panasnya orang yang
sedang shaum), dengan mulutnya yang panas kering karena sangat haus. (Lisanul Arab 7/162).

:
. :
.
:





Telah ditanyakan kepada Nabi saw : Wahai Rasulullah, apa Ramadlan itu ? Beliau menjawab : Allah SWT membakar
padanya dosa-dosa orang mukmin dan mengampuni (dosa-dosa) bagi mereka. Ditanyakan kepadanya : Bagaimana
dengan Syawwal ? Beliau menjawab : Matinya dosa-dosa mereka padanya hingga tidak tersisa satu dosapun kecuali Dia
(Allah SWT) mengampuninya.

BAB II
SHAUM RAMADHAN
A.

Kewajiban Shaum Ramadhan





(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, (QS Al Baqarah : 185)




:




-.
Dari Abdurrahman bin Auf, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, Sesungguhnya Allah mewajibkan shaum Ramadhan
atas kamu, dan aku sunatkan berdiri (shalat tarawih) padanya. Maka barangsiapa shaum dan shalat (tarawih) padanya
karena keimanan dan mencari pahala, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti pada hari ia dilahirkan ibunya. (HR. An
Nasai 4/158)


-





Dari Thalhah bin Ubaidillah, Sesungguhnya orang arab gunung pernah datang kepada Rasulullah saw, lalu bertanya, Ya
Rasulullah kabarkanlah kepadaku apa yang diwajibkan Allah atasku dari shaum ? beliau menjawab : Shaum bulan
ramadhan. Ia bertanya lagi, apakah ada kewajiban shaum lainnya ? beliau menjawab : Tidak, kecuali kamu hendak
melaksanakan shaum sunat. (HR Bukhari 1758)
Keterangan :
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani diwajibkannya shaum itu pada tahun kedua hijrah. Syaikh Sayyid Syabiq menyatakan,
shaum ramadhan diwajibkan pada hari senin setelah tinggal tersisa dua malam dari bulan Syaban pada tahun kedua
hijrah. (Fiqhus Sunnah 1/366)
B.
1.

Fadilah Bulan Ramadhan


BULAN DITURUNKANNYA AL QURAN




bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(QS Al Baqarah 185)











-




Dari Watsilah bin Al Asqa, Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda : Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal malam
ramadhan, Taurat diturunkan pada hari keenam bulan ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas ramadhan, dan Al
Quran diturunkan pada dua puluh empat ramadhan. (HR Ahmad 16981)
Keterangan :
Hadis ini dhaif karena pada sanadnya terdapat dua orang rawi dhaif, yaitu Abu Said dan Imran Abul Awam. Abu Said
namanya Abdurrahman bin Abdullah bin Ubaid Maula Bani Hasyim. Menurut Imam Ahmad, Dia banyak salah.
Sedangkan Imran Abul Awam, menurut Ad Darawardi dia tidak kuat. (Tahdzibut Tadzib 8/135)
2.

BULAN PENUH BERKAH

:
:


-.

-

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ketika bulan Ramadhan tiba, Rasulullah saw. bersabda, Sungguh Ramadhan telah datang
kepada kamu, yaitu bulan yang diberkahi, Allah telah fardukan shaum bagi kamu, pada bulan itu pintu-pintu surga
dibuka, pintu-pintu jahanam dikunci, dan syetan-syetan diikat. Pada bulan itu terdapat satu malam yang lebih baik dari
seribu bulan. Barangsiapa tidak mendapat kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkannya. (HR. Ahmad 6851)
3.

KIFARAT DOSA


:


. Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Salat yang lima, dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadhan
ke Ramadhan itu menjadi kifarat (penghapus dosa) selama menjauhi dosa-dosa besar. (HR. Muslim 342)
-.




Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw telah bersabda : Barangsiapa shaum ramadhan karena keimanan dan
semata-mata mengharap ridha Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari, Fathul Bari 4/144,
Ahmad 7173)
4.

UMRAH SEBANDING DENGAN HAJI

-.





Dari Atha, ia berkata : Aku mendengar Ibnu Abas menceritakan kepada kami, Rasulullah saw bersabda kepada seorang
perempuan dari kaum Anshar yang dibernama oleh Ibnu Abas, lalu aku lupa namanya, apa yang menghalangi kamu
untuk melaksanakan ibadah haji bersama kami ? Ia menjawab, Yang kami miliki hanyalah dua ekor unta. Ayah dan
anaknya menunaikan ibadah haji dengan berkendaraan satu unta dan ia meninggalkan bagi kami satu unta untuk kami
tunggangi. Beliau bersabda : Apabila bulan ramadhan tiba, maka umrahlah kamu karena umrah pada bulan itu
sebanding dengan ibadah haji. (HR Muslim 2201).
C.

Niat Shaum

1.

PENGERTIAN NIAT




.
Niat itu adalah maksud dan tekad untuk mengerjakan sesuatu, tempatnya adalah hati, dan secara asal tidak berkaitan
dengan lisan. (Igatsatul Lahfan 1/158)






.
Menghadapnya hati ke arah pekerjaan, karena mengharap ridha Allah dan karena melaksanakan perintahnya. (Al
Mughni 1/78)
2.

NIAT SAUM WAJIB








Dari Hafsah, dari Nabi saw, beliau bersabda, Barangsiapa yang belum menetapkan niat shaum sejak sebelum fajar,
maka tidak ada shaum baginya. (HR Ahmad 26519, Abu Daud, Badzlul Majhud 11/330, An Nasai, Aridhatul Ahwadz
4/263, Ibnu Majah 2/325)
3.

NIAT SAUM SUNAT

-

Dari Aisyah Umul Mukminin, ia berkata : pada suatu hari Rasulullah saw menemuiku, beliau bertanya : Apakah kalian
punya makanan ? Kami menjawab : Tidak. Beliau bersabda : Jika demikian aku sekarang sedang shaum. Kemudian beliau
datang lagi pada hari yang lainnya, kami katakan kepada beliau, kepada kami telah dihadiahkan makanan haes. Belau
berkata : Cobalah perlihatkan kepadaku. Sesungguhnya sejak pagi aku telah shaum. Maka beliaupun makan. (HR Ahmad

25789, Muslim 1154, Abu Daud, Badzlul Majhud 11/333, An Nasai 2321, Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi 4/270, Ibnu Majah
1701)







- Wahai Aisyah, Sesungguhnya kedudukan orang yang shaum selain Ramadhan, atau selain qadha Ramadhan, atau
shaum sunat tak ubahnya seseorang yang mengeluarkan shadaqah hartanya. Maka ia dapat mendermakan dari harta itu
sesuai keinginannya dan menjadikannya (sedekah). Dan ia pun dapat kikir semuanya dengan harta itu, sehingga tentu ia
akan menahannya. (HR An Nasai 2284)
D.
1.

Adab Sahur
KEUTAMAAN SAHUR

-







Dari Anas bin Malik, ia berkata, Nabi saw bersabda : Sahurlah kamu karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat
berkah. (HR Bukhari 1789)










- Dari Abu Said Al Khudri, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Makan sahur itu berkah, maka janganlah kamu
meninggalkannya walaupun seseorang di antara kamu sekedar meneguk seteguk air. Karena sesungguhnya Allah serta
para malaikat-Nya menshalawati orang-orang yang sahur. (HR Ahmad 11281)
2.

MENGAKHIRKAN SAHUR

-


Bahwasanya Zaid bin Tsabit telah menceritakan, sesungguhnya mereka pernah sahur bersama Nabi saw, kemudian
mereka shalat. Aku bertanya : Berapa lama jarak waktu antara keduanya. Ia menjawab : Seukuran membaca lima puluh
atau enam puluh ayat. (HR Bukhari 541)
-






Dari Abu Dzar, ia berakata : Rasulullah saw bersabda : Senantiasa umatku di dalam kebaikan, selama mereka
mengakhirkan sahur dan mensegerakan berbuka. (HR Ahmad 21370)
3.

PEMBEDA SHAUM ISLAMI DAN SHAUM AHLI KITAB

-












Dari Amr bin Al Ash, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya pemisah antara shaum kita (ahli islam) dan
shaum ahli kitab adalah makan sahur. (HR Muslim 1836, Abu Daud 1996, An Nasai 2137, Ahmad 17095, Ad Darimi
1635)
E.
1.

Adab Berbuka Shaum


TAJIL (MENGSEGERAKAN)BERBUKA DAN BERKAHNYA

-







Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Allah Azza Wajalla berfirman : Sesungguhnya hamba-Ku yang
paling Aku cintai adalah yang paling segera berbuka shaumnya. (HR Ahmad 7010)
-






Dari Sahl bin Saad, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda : Senantiasa umatku dalam kebaikan selama mereka
mensegerakan berbuka shaum. (HR Bukhari 1821, Muslim 1838)








Dari Umar ia berkata , Rasulullah saw bersabda : Apabila malam telah datang, dan siang telah pergi, dan matahari telah
tenggelam, maka sesungguhnya orang shaum telah berbuka. (HR Muslim 1841)
-






Dari Salman bin Amir, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Apabila seseorang di antara kamu berbuka, hendaklah
berbuka dengan kurma. Maka kalau tidak mendapatkannya, berbukalah dengan air, karena ia itu suci. (HR Ahmad
15633, 15637, 15640, 15640, 15641, 15649, Tirmidzi 594, 631, Abu Daud 1689)
2.

KEUTAMAAN MEMBERI MAKANAN UNTUK BERBUKA SHAUM










-
Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang memberi makan kepada yang
shaum (untuk berbuka), maka baginya mendapat pahala seperti yang shaum tanpa akan dikurangi dari pahala yang
shaum sedikitpun. (HR Tirmidzi 735)
-












Dari Abdullah bin Az Zubair, ia berkata : Rasulullah saw berbuka shaum di rumah Saad bin Muadz. Beliau bersabda :
Telah bebuka di rumahmu orang-orang yang shaum, telah makan makananmu orang-orang abrar, dan telah
menshalawati kamu para malaikat. (HR Ibnu Majah 1737)
F.

Doa Buka Shaum

-




Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku
mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al
Baqarah 186)








Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya bagi orang yang shaum, ketika ia
berbuka, ada satu doa yang pasti diijabah. (HR Ibnu Majah 2/350, diriwayatkan pula oleh Al Hakim, Al Mustadrak 1/583,
Al Baihaqi, Syuabul Iman 3/407, Al Mundziri At Targhib Wat Tarhib 2/53 dengan sedikit perbedaan redaksi)
1.

DOA BUKA SHAUM YANG DHAIF

-







Dari Muadz bin Zuhrah, bahwasanya ia telah menyampaikannya kepada Hushain, Bahwasanya Nabi saw apabila beliau
berbuka puasa, beliau berdoa, Ya Allah, karena-Mu aku shaum dan atas rezeki-Mu aku berbuka. (HR Abu Daud, Sunan
Abu Daud 1/529, Al Baihaqi As Sunanul Kubra 4/239, Syuabul Iman 3/407)
Keterangan :
Berdasarkan penelitian, hadis tersebut diriwayatkan pula melalui sahabat yang lain, antara lain :
Abu Hurairah (HR Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf 2/344)

Ibnu Abas (HR Ad Daraquthni, Sunan Ad Daraquthni 2/185). Dan pada riwayat At Thabrani (Al Mujamul Kabir 7/146)
terdapat tambahan :


.
Anas Bin Malik (HR At Thabrani, Al Mujamul Ausath 8/270, Al Mujamus Shagir 2/133)
Namun semuanya tidak terlepas dari kedhaifan, dengan penjelasan sebagai berikut :
Riwayat Abu Daud dan Al Baihaqi dari Muadz bin Zuhrah hadisnya mursal, sebab Muadz adalah seorang Tabiin
sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar, Riwayat Al Baihaqi dari Muadz bin Zuhrah, hadisnya mursal sama dengan
riwayat Abu Daud. (Tahdzibut Tahdzib 10/190-191)
Riwayat Ibnu Abi Syaibah dari Abu Hurairah sanadnya terputus, sebab Hushain bin Abdurrahman As-Sulami (seorang
tabiin) tidak didapatkan keterangan menerima hadis dari Abu Hurairah. (lihat biografi Hushain dalam At Tarikhul Kabir
3/7, Tadzkiratul Hufazh 1/68, Al Kamil 2/397, Taqribut Tahdzib 1/170, Tahdzibul Kamal 6/519)
Riwayat Ad Daraquthni dan At Thabrani dari Ibnu Abas dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abdul Malik bin
Harun bin Antarah. Ad Daraquthni dan Ahmad mengatakan, Ia rawi yang dhaif. Yahya berkata, Ia seorang pendusta.
Menurut Abu Hatim, Matruk, dzahibul hadis. Ibnu hiban berkata, Ia pemalsu hadis. (Mizanul Itidal 2/666)
Riwayat At Thabrani dari Anas bin Malik dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Daud bin Az Zibriqan. Ibnu Main
berkata, Laisa bisyaiin. Abu Zurah berkata, Matruk. Abu Daud menyatakan, Dhaif, hadisnya ditinggalkan. Menurut
Al Jauzajani, Ia seorang pendusta. An Nasai berkata, Ia rawi yang tidak tsiqat. (Mizanul Itidal 2/7)










(-


) Dari Ali, sesungguhnya ia berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, Ya Ali Apabila engkau shaum pada bulan
ramadhan maka ucapkanlah (berdoalah) setelah engkau berbuka, Ya Allah karena-Mu aku shaum dan hanya kepada-Mu
aku serahkan dan atas rezeki-Mu aku berbuka, maka akan dicatat bagimu pahala seperti pahala yang shaum tanpa
dikurangi sedikitpun dari pahala mereka . (HR Al Haitsami, Musnad Al Harits 1/526)
Keterangan :
Hadis ini dhaif karena dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama As-Sari bin Khalid. Menurut Ad Dzahabi, Ia rawi
yang tidak dikenal. Al Azdi berkata, Ia tidak bisa dijadikan hujah. (Mizanul Itidal 2/117). Selain itu, terdapat pula rawi
yang bernama Hamad bin Umar yang dinyatakan Matruk oleh Abul Fadhl Al Asqalani. (Al Ishabah 2/321)







-.




Dari Muadz, ia berkata : Rasulullah saw apabila berbuka, beliau berdoa, Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
pertolongan kepadaku maka aku shaum dan telah memberi rizki kepadaku maka aku berbuka. (HR Al Baihaqi, Syuabul
Iman 3/407)
Keterangan :
Hadis ini juga dhaif, sebab Muadz yang terdapat dalam sanad ini bukan Muadz bin Jabal, tetapi Muadz bin Zuhrah (yang
telah diterangkan di atas) sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Shaid. (Lihat, Az Zuhdu Ibnul Mubarak 1/495). Disamping itu
terdapat rawi yang Mubham (tidak jelas namanya), yaitu hanya disebutkan Rajulun.
-

:

Ar Rabi bin Khutsaim mengucapkan (berdoa), Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepadaku
maka aku bershaum dan telah memberi rizki kepadaku maka aku berbuka.
Keterangan :
Hadis ini tercantum dalam kitab Az Zuhdu karya Ibnul Mubarak 1/495 dan Kitabud Dua karya Abu Abdurrahman
Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan 1/238. Riwayat ini bukan dalil, melainkan semata-mata ucapan Ar Rabi, yaitu Ar
Rabi bin Khutsaim Ibnu Aidz Abu Yazid At Tsauri Al Kufi, salah seorang Mukhadramun (orang yang semasa dengan Nabi

tetapi belum pernah bertemu dengan beliau). (lihat, keterangan Ad Dzahabi dalam kitabnya Siyaru Alamin Nubala
4/258).
2.

DOA BUKA SHAUM YANG SHAHIH


Telah hilang dahaga, terbasahi tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala, insya Allah. (HR Abu Daud 2/529, Al Hakim, Al
Mustadrak 1/422, Al Baihaqi, As Sunanul Kubra 2/255, Syuabul Iman 3/407, Ad Daraquthni 2/185, An Nasai, As Sunanul
Kubra 2/255, Amalul Yaum Wal Lailah 1/268)
Keterangan :
Syekh Al Albani berkomentar, hadis ini hasan menurut Ad Daraquthni, dan pernyataan Ad Daraquthni ini disetujui oleh
Ibnu Hajar dalam kitabnya At Talkhis (Lihat Irwaul Ghalil 4/39, Talkhisul Habir 2/802). Sedangkan Imam As Suyuti
memberikan rumus ( )dalam kitabnya Al Jamius Shagir, yang menunjukkan bahwa hadis tersebut derajatnya shahih.
Demikian pula Imam Abu Daud As Sijistani tidak berkomentar apapun dalam kitabnya, menunjukkan bahwa hadis ini
dapat dijadikan hujah menurut beliau. Wallahu alam.
G.

Perkara-perkara Yang Membatalkan Shaum

Yang membatalkan shaum hanya 3 perkara yaitu: makan, minum dan jima`.
H.

Hal-hal yang dapat merusak Nilai Shaum


-




Dari Abu Hurairah, dari nabi saw, ia bersabda : Berapa banyak orang yang shaum tidak mendapat apa-apa dari
shaumnya itu selain haus, dan berapa banyak orang yang shalat malam (tarawih) tidak mendapatkan apa-apa dari
shalatnya itu selain lelah. (HR Ad Darimi 2604)







Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Bukanlah shaum itu dari makan dan minum saja, melainkan
juga dari perbuatan yang tidak berguna dan perkataan yang tidak senonoh. (HR. Al Baihaqi, As Sunanul Kubra 4/270)












-


Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Allah berfirman : Setiap amal Bani Adam baginya kecuali
shaum, karena sesungguhnya shaum untukku dan aku yang akan membalasnya, dan shaum adalah tameng, dan apabila
di dalam hari shaum seorang di antara kalian, maka janganlah bicara tak senonoh (porno), bicara kasar, atau berteriakteriak bukan pada tempatnya. Dan jika dimaki oleh seseorang atau diajak berkelahi, maka ucapkanlah, Aku sedang
shaum. Maka demi yang jiwa Muhammad di dalam kekuasaan-Nya, bau mulut orang yang shaum itu lebih wangi
(indah) di sisi Allah dari pada wangi kasturi. Bagi yang sedang shaum itu ada dua kegembiraan ; apabila berbuka, ia
bergembira karena bukanya, dan apabila bertemu dengan Tuhannya, ia bergembira karena shaumnya. (HR Al Bukhari
1771)
( .




:


)
Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang kotor
dan beramal dengannya, maka bagi Allah tidak ada perlunya ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Jamaah
kecuali Muslim dan An Nasai)
-.








:
-

Sahabat Jabir berkata, Jika anda shaum, maka shaumlah pendengaran, penglihatan dan lidah anda dari dusta dan
perbuatan-perbuatan dosa, dan janganlah anda menyakiti pembantu, dan janganlah anda samakan hari anda tidak
shaum dengan hari shaum anda. (HR Ibnu Abi Syaibah 8880).
Keterangan :
Yarfuts adalah berkata porno, mengadakan sesuatu untuk membangkitkan birahi, dan secara lebih umum mencakup
juga tingkah laku yang akan membangkitkan birahi, lebih parah lagi apabila sampai mengakibatkan perzinaan.
Yajhal adalah melakukan perbuatan-perbuatan jahiliyah, mencakup berbagai perkara kejahiliyahan, seperti memakimaki, berkelahi, membunuh, melakukan keributan, berzina atau melakukan sesuatu yang dapat melalaikan dari dzikir
kepada Allah.
Yaskhab adalah berteriak-teriak, mengganggu, membentak, menyakiti orang lain, melakukan sesuatu yang akan
menimbulkan pertengkaran atau perkelahian, menganiaya, memfitnah atau mengumpat, dan meceritakan kejelekan
orang lain agar orang itu dibenci.
Zur adalah perkataan atau perbuatan dusta. Di dalamnya termasuk korupsi, kolusi, mencopet, mencuri, sumpah palsu,
dan lain-lain.
I.
1.

Batal Shaum Dengan Sengaja Tanpa Alasan


TIDAK ADA KIFARAT BAGINYA












Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang berbuka shaum satu hari pada bulan
ramadhan, dengan tanpa rukhsah atau uzdzur sakit, maka tidak akan terbayar oleh shaum satu tahun seluruhnya,
walaupun ia benar-benar melakukan shaum satu tahun itu. (HR At Tirmidzi 655, Abu Daud 2045, Ibnu Majah 1662,
Ahmad 8653, 9329, 9528, 9700, Ad Darimi 1652)
-. , :
Ibnu Masud berkata : Barangsiapa yang berbuka shaum satu hari pada bulan ramadhan dengan tanpa rukhsah, ia akan
bertemu dengan Allah dengan batal shaum itu walaupun ia melakukan shaum setahun. Maka jika Allah menghendaki, ia
mengampuninya, dan jika tidak, maka ia akan menyiksanya. (HR At Thabrani, Al Mujamul Kabir 9/365 no. 9564)
Kedua hadis di atas menunjukkan bahwa berbuka shaum tanpa alasan yang dibenarkan, merupakan dosa yang tidak
akan terbayar dengan qadha ataupun fidyah, apalagi semacam dam. Dengan demikian tidak shaum atau batal satu hari
pada bulan ramadhan merupakan dosa besar yang harus segera disesali dan segera dimohonkan ampunannya, dan
itulah satu-satunya jalan. Maka dengan itu mudah-mudahan Allah swt berkenan mengampuninya. (As Sunan Wal
Mubtadaat, hal. 147)
2.

A)

ADA KIFARAT BAGINYA

BATAL SATU HARI ; SHAUM SATU BULAN

-






Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang berbuka (shaum) satu hari pada bulan Ramadhan
tanpa udzur maka wajib baginya shaum satu bulan (sebagai kifarat). (HR Ad Daraquthni 2/211)
Imam Ad Dahabi dalam kitabnya Mizanul Itidal mengatakan, bahwa hadis yang diriwayatkan melalui rowi bernama
Mindal dari Hashim dari Abdul Warits dari Anas bin Malik diatas adalah hadis yang diriwayatkan dengan ringkas. Adapun
lengkapnya adalah hadis yang diriwayatkan melalui rowi Muqotil bin Hiban, dari Amr bin Murah dari Abdul warits Al
Anshari berikut :


Abdul Warits berkata, aku mendengar Anas bin Malik mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang berbuka
(shaum) satu hari tanpa udzur dan rukshah pada bulan Ramadhan, wajib baginya shaum selama 30 hari, dan siapa yang
berbuka dua hari maka wajib baginya shaum selama 60 hari. (Mizanul Itidal II:678, Lisanul Mizan 4/85)
Keterangan :
Hadis tersebut dhaif, karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama ;
Abdul Warits Al Anshari. Menurut At Tirmidzi dari Al Bukhari, Ia munkarul hadits. Menurut Ibnu Main, Ia seorang rawi
yang tidak dikenal. (Mizanul Itidal 2/687)
Mindal bin Ali Al Anzi, Abu Abdillah Al Kufi, saudaranya Haban bin Ali. Yaqub bin Syaibah berkata, Ia seorang rawi yang
dhaif hadisnya. Al Bukhari memasukkannya kepada kelompok rawi-rawi dhaif. Ibnu Hajar berkata, Ia seorang rawi
yang tidak tsiqat, meriwayatkan hadis-hadis yang munkar. Ibnu Hiban berkata, Ia sering me-marfu-kan hadis-hadis
yang mursal, menyandarkan hadis-hadis mauquf, dan menyalahi periwayatan rawi tsiqat karena jelek hapalannya, maka
berhak ia untuk ditinggalkan. (Tahdzibul Kamal 28/493-498)








-
Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa berbuka shaum satu hari pada bulan ramadhan
dengan tanpa rukhsah dan udzur, maka wajib baginya shaum tiga puluh hari, dan barangsiapa yang berbuka dua hari,
maka wajib shaum baginya enam puluh hari, dan barangsiapa yang berbuka tiga hari, maka wajib baginya shaum
sembilan puluh hari. (HR Ad Daraquthni 2/191)
Keterangan :
Hadis ini juga dhaif, karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama : Umar bin ayub Al Mushily, Dia tidak dapat
dijadikan hujah. Kedua, Muhammad bin Shubaih, Dia tidak teranggap. (Mizanul Itidal)
B)

BATAL SATU HARI ; SHAUM DUA BELAS HARI

-


Rabiah bin Abi Abdirrahman mengatakan, Siapa yang berbuka (shaum) satu hari pada bulan Ramadhan, shaumlah
selama dua belas hari. Sesungguhnya Allah Aza wajalla ridha dari hamba-Nya satu bulan dari dua belas bulan. (HR Ad
Daraquthni 2/211).
Keterangan :
Hadis ini termasuk hadis Maqthu, sebab yang mengatakan perkataan tersebut adalah Rabiah bin Abi Abdurrahman,
seorang Tabiin. (lihat Tahdzibul Kamal 9/123-130)
C)

MENYEMBELIH SEEKOR UNTA ATAU MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN 30 SHA KURMA









-
Dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi saw, beliau bersabda : Barangsiapa yang berbuka shaum satu hari pada bulan
Ramadhan dalam keadaan muqim (tidak safar), maka sembelihlah seekor unta. Jika tidak mendapatkannya, berilah
orang-orang miskin tiga puluh sha kurma. (HR Ad Daraquthni 2/191)
Keterangan :

Hadis ini juga dhaif bahkan maudhu, karena pada sanadnya terdapat rawi pendusta yang bernama Muqatil bin Sulaiman.
Dan masih terdapat rawi dhaif yang lainnya, yaitu Al Harits bin ubaid Al Kalai. (Al Fawaidul Majmuah, hal 94)
J.

Qadha Dan Fidyah

Secara umum orang yang meninggalkan shaum ramadhan karena mendapatkan rukhsah (keringanan) terbagi pada dua
kelompok, yaitu ; Yang diharamkan shaum dan yang dibenarkan tidak shaum. Namun tetap kewajiban shaum ramadhan
tidak menjadi gugur sama sekali dengan adanya rukhsah tersebut, akan tetapi harus diganti, baik dengan qadha maupun
fidyah, tergantung sebab (rukhsah) yang terjadi padanya.
a)

Yang Diharamkan Shaum Dan Wajib Qadha

Perempuan Haid Dan Nifas



.







-

Dari Abi Said Al Khudry, ia berkata : Rasulullah saw berangkat pada hari Ied ke Mushala (lapang), lalu lewat pada kaum
perempuan, lalu bersabda : Wahai kaum perempuan ! bukankah perempuan itu apabila haid tidak shalat dan tidak
shaum ? (HR Al Bukhary, Fathul Bary 4/240)
-.



:

Dari Umu Salamah, ia berkata : Keadaan perempuan-perempuan yang nifas duduk (tidak shalat dan tidak shaum) pada
masa Rasulullah saw selama empat puluh hari. (HR Ibnu Majah 1/107, Abu Daud 1/74, Ahmad 1/194)
-.
. Maka kami diperintah mengqadha shaum dan tidak diperintah mengqadha shalat. (HR Al Hakim Al Mustadrok
1/176)
b)

Yang Dibenarkan Tidak Shaum Dan Wajib Qadha

Orang Yang Sakit (Maridh)















Dari Muadz bin Jabal, ia berkata : Lalu Allah Azza Wajalla menurunkan ayat Barangsiapa menyaksikan bulan
ramadhan, wajib ia berpuasa pada bulan itu. Setelah itu, Allah mewajibkan puasa itu bagi yang muqim (berada
ditempat sendiri) lagi sehat, dan memberi rukhsah bagi yang sakit dan safar (untuk tidak berpuasa). (HR Ahmad 21107)
Orang Yang Bepergian (Musafir)
Safar merupakan salah satu bentuk rukhsah (keringanan), sehingga diperbolehkan tidak shaum. Namun mengingat
kondisi safar itu itidak sama, maka ketentuan yang berlakupun berbeda-beda. Antara lain : apabila safarnya ringan dan
tidak memberatkan diperbolehkan untuk melilih, berbuka atau shaum. Dan apabila safarnya cukup memberatkan,
dianjurkan untuk berbuka walaupun masih kuat untuk shaum. Dalilnya :

-




Bahwasanya Hamzah bin Amr Al Aslami bertanya kepada Nabi saw ; Apakah aku harus melakukan shaum pada waktu
safar, dan kebanyakan mereka melakukan shaum ? Beliau menjawab : Jika kamu mau melakukan shaum silahkan, dan
jika ingin berbuka silahkan. (HR Bukhari 1943, Muslim 1121)









-.
Dari Abu Said Al-Khudriy, berkata : Kami pergi bersama Rasulullah saw untuk berperang pada hari ke-16 dari bulan
Ramadan, diantara kami ada yang shaum dan ada pula yang berbuka tetapi yang shaum tidak menjelekkan yang berbuka
dan yang berbuka pun tidak menjelekkan yang shaum. (HR Muslim 1880)

-




Dari Hamzah bin Amr Al Aslami, ia bertanya, Wahai Rasulullah saya kuat melakukan shaum pada waktu safar, bolehkah
saya melakukannya ? Beliau menajwab, Berbuka itu rukhsah dari Allah, barangsiapa mengambilnya, maka itu adalah
baik, dan barangsiapa lebih suka shaum, ha itu tidak apa-apa baginya. (HR Muslim 1891, An Nasai 2265)
Namun kondisi safar yang membuatnya sangat payah dan mengancam keselamatan jiwanya, berbuka shaum bukan
dibolehkan, tetapi wajib baginya. Dalilnya :












- Dari Jabir bin bdillah, ia berkata : Pernah Rasulullah saw dalam suatu perjalanan melihat kerumunan dan seorang lakilaki yang sudah kepayahan. Beliau bertanya, ada apa ini ? Mereka menjawab, Seorang yang shaum. Maka beliau
bersabda, Tidak termasuk kebaikan melakukan shaum pada waktu safar. (HR Bukhari 1945, Muslim 108)











-





Dari Jabir bin Abdillah, bahwasanya Rasulullah saw keluar pada waktu putuh makah di bulan ramadhan, beliau shaum
sehingga sampai ke Kuraal Ghamim, maka orang-orang juga melaksanakan shaum, kemudian beliau meminta sewadah
air, lalu mengangkatnya sehingga kelihatan oleh semua orang, kemudian meminumnya. Setelah itu dikatakan kepada
beliau, bahwasanya sebagian orang-orang ada yang masih melaksanakan shaum. Maka beliau bersabda : Mereka itu
pelaku maksiat 2 x. (HR Muslim 1113)
c)

Dibenarkan Tidak Shaum Dan Wajib Fidyah

Orang Tua
-



:


Dari Ibnu Abas, ia berkata : Dirukhsahkan bagi orang tua lanjut usia (yang payah melakukan shaum) untuk berbuka dan
(wajib) memberi makan orang miskin setiap hari, dan tidak ada qadha baginya. (HR Al Hakim 1/606, Ad Daraquthni
2/205)

(




)

-.
(Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu):
memberi makan seorang miskin) Ibnu Abbas berkata: Ayat ini tidak dinaskh (hapus), yaitu (ayat ini mengenai) kakekkakek dan nenek yang sudah tidak mampu shaum, maka hendaklah dia memberi makan setiap hari.kepada orang miskin.
(HR Al-Bukhariy)
Perempuan Hamil Atau Menyusui
Hukum asal bagi perempuan ini adalah wajib shaum, yaitu ketika shaum tidak membahayakan baginya maupun bayinya.
Artinya dibenarkan tidak shaum itu apabila shaumnya dikhawatirkan akan menimbulkan akibat buruk, baik bagi dirinya
maupun bayinya.
Adapun apabila tidak shaumnya itu akan mengancam kepada kesehatan atau keselamatan dirinya atau bayinya, maka
dalam keadaan seperti ini berbuka shaum wajib baginya.
Keterangan tersebut sejalan dengan fatwa sahabat Ibnu Abas :

-


:

Dari Said bin Jubair, bahwasanya Ibnu Abbas berkata : Bagi ibu yang hamil dan menyusui, kamu sekedudukan dengan
orang yang payah untuk shaum, maka wajib atas kamu fidyah dan tidak ada qadha. (HR Ad Daraquthni 2/206)
Keterangan :

Bagi yang dibenarkan tidak shaum ; 1) orang yang sakit, 2) orang yang safar, dan wajib qadha baginya. 3) orang tua, 4)
perempuan hamil atau menyusui, dan wajib fidyah baginya. Apabila shaum akan dapat menimbulkan madharat
(mengancam keselamatan jiwa), baik bagi dirinya maupun bagi bayinya (yang hamil), maka tidak shaum itu bukan hanya
dibenarkan dan diperbolehkan, tetapi menjadi wajib baginya.
d)

Ketentuan Qadha Dan Fidyah

Waktu qadha
Waktu pelaksanaan qadha sangat luas, yaitu kapan saja asalkan di luar bulan ramadhan. Dan diperbolehkan juga
terselang oleh beberapa kali ramadhan, apabila memang tidak bisa melakukankannya dengan segera. Adapun hadis
menerangkan :






-.

dari Abi Hurairah, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : Barang siapa yang mendapatkan Ramadlan sedangkan dia
punya utang shaum yang belum diqadlanya, maka tidak akan diterima shaum darinya. Dan barang siapa yang shaum
sunat, sedangkan punya utang shaum ramadlan yang belum diqadla, maka tidak akan diterima shaumnya selama belum
dibayar. (HR Ahmad 2/352)
Keterangan :
Hadis ini dhaif karena pada sandanya terdapat rawi yang bernama Ibnu Lahiah, Abdullah bin Lahiah bin Uqbah bin
Furan bin Rabiah bin Tsauban Al Hadromi Al Uduly. Menurut Ibnu Main, Dia dhaif tidak dapat dijadikan hujah. Yahya
bin Said tidak menganggapnya sama sekali. Menurut Ibnu Hiban, Wajib menjauhi riwayat-riwayat yang telah lalu
sebelum kitab-kitabnya terbakar, sebab pada riwayat-riwayatnya itu terdapat khabar-khabar yang mudallas (yang
dipalsukan) dari rawi-rawi yang matruk (tertuduh dusta). Maka wajib meninggalkan hujah dengan riwayat-riwayat yang
kemudian setelah kitab-kitabnya terbakar, karena pada riwayat-riwayatnya terdapat hadis-hadis yang bukan
riwayatnya. (Mizanul Itidal 2/475, Ad Duafa Wal Matrukin 2/136)
Hadis tersebut juga bertentangan dengan keterangan berikut :
-. :


:
Dari Ibnu Umar (ia berkata), Bahwasanya Nabi saw bersabda, Mengqadla (shaum) ramadlan ini, jika ingin berselang,
berselanglah, dan jika ingin berturut-turut, berturut-turutlah. (HR Ad Daraquthny)
Al Bukhary berkata, Ibnu Abbas mengatakan, tidak mengapa (boleh mengqadla shaum ramadhan) dengan berselang,
karena Allah swt berfirman : Berpuasalah pada hari-hari yang lain.
Fidyah Bagi Orang Yang Meninggal





Dari Ibnu Umar, dari Nabi saw, beliau bersabda : Siapa yang mati padahal ia punya utang shaum satu bulan, hendaklah
(walinya) memberi makan orang miskin sebagai ganti bagi setiap hari (yang ia tidak shaum). (HR At Tirmidzi 651, Ibnu
Majah 1/558)
Sedangkan dalam riwayat Al Baihaqi dengan redaksi sebagai berikut :
:4:-








454Dari Nafi, dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah pernah ditanya tentang seseorang yang meninggal padahal ia punya
utang shaum satu bulan, beliau bersabda : Berilah makan orang miskin (bagi) setiap hari (yang ia tidak shaum). (HR Al
Baihaqi, As Sunanul Kubra 4/254)
Keterangan :
Kedua hadis di atas, baik riwayat At Tirmidzi, Ibnu Majah maupun Al Baihaqi, tidak bisa dijadikan dalil sebagai wajibnya
berfidyah bagi wali yang keluarganya meninggal dalam keadaan memiliki utang shaum. Sebab kedua hadis di atas dhaif,

disamping At Tirmidzi mengatakan Kami tidak mengetahui hadis ini Marfu melainkan hanya dari jalan yang ini. Yang
benar hadis Ibnu Umar ini Mauquf. Adapun yang menjadi sebab kedhaifannya, karena pada kedua sanad hadis tersebut
terdapat rawi yang bernama :
Asyats bin Sawwar. An Nasai dan Ad Daraquthni menyatakan dhaif. Menurut Ibnu Hiban, Ia seorang rawi yang sangat
jelek kesalahannya dan banyak kesamaran. (Tahdzibul Kamal 1/268)
Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laila Al Anshari (Qadhi Di Kfah). Yahya bin Said telah mendhaifkannya. Syubah
mengatakan, Aku tidak pernah melihat seorangpun yang sangat jelek hapalannya melebihi Ibnu Abi Laila. An Nasai
berkata, Ia seorang rawi yang tidak kuat dalam urusan hadis, buruk hapalannya. Al Bukhari mengatakan, Aku tidak
pernah meriwayatkan satu hadispun darinya. (Tahdzibul Kamal 25/622)
-.
:






454:4:Dari Nafi, dari Ibnu Umar tentang orang yang mati padahal ia punya utang shaum ramadhan dan ia belum
mengqadhanya, beliau bersabda : (Walinya) mesti memberi makan (yang miskin) setiap hari setengah sha dari gandum.
(HR Al Baihaqi, As Sunanul Kubra 4/254)
Keterangan :
Hadis ini pun dhaif, sebab diriwayatkan melalui rawi yang sama yaitu Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laila. Selain
itu Al Baihaqi menerangkan bahwa dalam hadis ini terdapat dua kesalahan, yaitu ; Pertama, memarfukan hadis kepada
Nabi, padahal yang benar hadis Mauquf (bukan sabda Nabi melainkan fatwa Ibnu Umar). Kedua, dalam matan hadis ini
terdapat kata-kata nisfu shain. padahal yang dikatakan oleh Ibnu Umar bukan nisfu shain tetapi muddan min
hintothi satu mud gandum. Dan dalam riwayat lain masih melalui rawi bernama Ibnu Abi Laila, tidak disebut kata-kata
shain. (As Sunanul Kubra 4/254)

:





454:4:-

Dari Al Qasim dan Nafi, Sesungguhnya Ibnu Umar apabila ditanya tentang seseorang yang mati padahal ia punya utang
shaum dari bulan ramadhan atau utang shaum nadzar, ia menjawab, Seseorang tidak bisa menshaumi orang lain, tetapi
hendaklah mereka (walinya) bersedekah dari hartanya kepada orang miskin (sebagai ganti) shaum untuk setiap hari
selain yang tidak dilakukannya. (HR Al Baihaqi, As Sunanul Kubra 4/254)
-




454:4:
Dari Nafi, Sesungguhnya Ibnu Umar mengatakan, Siapa yang buka shaum pada bulan ramadhan karena sakit lalu ia
mati sebelum mengqadhanya, hendaklah (walinya) memberi makan orang miskin (sebagai ganti) shaum untuk setiap
hari yang ia tidak dilakukannya. (HR Al Baihaqi, As Sunanul Kubra 4/254)









454:4:
Dari Muhammad bin Abdurrahman bin Tsauban, ia berkata, Ibnu Abbas ditanya tentang seseorang yang mati punya
utang shaum bulan ramadhan dan punya utang nadzar shaum satu bulan yang lain, Ibnu Abas menjawab, Berilah
makan enam puluh orang miskin (sebagai ganti) shaum untuk setiap hari (yang tidak dilakukannya). (HR Al Baihaqi, As
Sunanul Kubra 4/254)
Keterangan :
Walaupun hadis riwayat Al Baihaqi dan Abdurrazaq di atas secara sanad tidak terdapat kecacatan, akan tetapi bukan
merupakan qaul (ucapan) Nabi melainkan perkataan sahabat, yaitu perkataan Ibnu Umar dn Ibnu Abbas. Maka hadisnya
disebut hadis Mauquf. Dan hadis Mauquf tidak dapat dijadikan hujah dalam masalah apapun. Wallahu alam bis shawab
!
BAB IV
SAUM-SAUM SUNNAT

1.

Shaum Daud


) .





:



)
Telah berkata amar bin `ash: telah bersabda rosulullah saw shaum yang paling di cintai oleh alloh adalah shaum daud
a.s, shaum satu hari dan berbuka satu hari
2.

Shaum senin kamis

(.



)


Dari `aisyah r.a beliau berkata: sesungguhnya nabi saw memilih shaum senin dan kamis (HR. Al-khomsah)
3.

Shaum 3 hari pada tengah bulan (tanggal 13,14, dan 15) setiap bulan hijriyah

(.




)

Dari abi dzar beliau telah berkata: rosululloh telah memerintah kami untuk shaum pada setiap bulan pada (tanggal)
13,14 dan 15 (HR An-nasai)
4.

Shaum 6 hari di bulan sawal


(.









)
Dari abi ayyub al-anshary r.a beliau berkata: sesungguhnya rosululloh saw bersabda barang siapa yang shaum ramadhan
kemudian mengikutkannya dengan shaum enam hari pada bulan syawwal, maka itulah shaum setahun (HR. Muslim)
5.

Shaum arafah, 9 Dzulhijjah

(.



)
Dari abi qotadah, ia berkata rosululloh saw telah bersabda shaum pada hari arofah sesungguhnya aku berharap pada
alloh agar di hapuskan dosa setahun yang sebelumnya dan setahun sesudahnya (HR ibnu majah)
6.

Shaum tasua asyura (9 dan 10 Muharram)

(.)
Telah berkata abdulloh ibnu abbas, ketika rosululloh shaum asyuro dan beliau memerintah (para sahabat) untuk
melakukannya, mereka berkata, wahai rosululloh, sesungguhnya itu merupakan hari yang di agungkan oleh yahudi dan
nashroni, beliau menjawab, nanti tahun depan insya alloh kita akan melaksnakan shaum tanggal sembilannya, ia berkata
tetapi tahun depan itu belum datang dan rosululloh telah berpulang keharibaannya (HR.Muslim)
BAB III
SHAUM-SHAUM BID`AH (HARAM)

Shaum Tanggal 1 Muharam


ada hadits yang menerangka bahwa barang siapa shaum pada hari pertama bulan muharam dan hari terakhir bulan
julhijjah, maka ia telah membuka dan menutup dengan shaum. Dan allah swt menjadikan shaum dua hari itu sebagai
kifarat bagi lima puluh tahun kesalahan yang di perbuatan
: :
.

dari Ibnu Abbas ia mengatakan telah bersabda Rasulullah saw : Barang siapa shaum hari ahir bulan Dzul hijjah dan hari
pertama bulan muharram maka ia telah menutup tahun yang lalu dan memulai tahun mendatang dengan shaum, maka
Allah swt menjadikan shaum itu sebagai kifarat 50 tahun.
Hadits ini sangat lemah bahkan maudlu (hadits palsu) karena dalam sanadnya terdapat dua orang pendusta yaitu alHarowi atau al-Juwaebari dan Wahab kedua orang ini tukang membuat hadits-hadits palsu. (Al-Mauduat II:199)
Shaum 9 hari awal muharram
Ada hadits yang mengatakan bahwa siapa yang shaum 9 hari pada awal muharram, maka Allah akan membangun kubah
untuknya di surga

Barangsiapa shaum 9 hari pada awal bulan muharram, maka allah akan membangun untuknya sebuah kubah terapung
di udara bermil-mil. (HR Abu Nuaim)
Hadits ini palsu, dibuat oleh rawi pendusta bernama Musa at-Thawil.
Ibu Jauzi mengatakan hadits ini palsu dan dibuat dengan mengatasnamakan Rasulullah saw.
Ibnu Hibban mengatakan Musa At-Thawil meriwayatkan sesuatu-sesuatu yang palsu (diakuinya dari sahabat Anas)
Menghususkan shaum pada hari Jumat
Hari jumat termasuk hari raya umat Islam tentang hal ini Rasulullah saw bersabda :

Hari Jumat adalah hari raya maka janganlah kamu menjadikan hari rayamu sebagai hari shaum kamu kecuali kamu
shaum satu hari sebelum atau sesudahnya.
Mengkhususkan shaum pada hari sabtu
:(),

Dari Abdullah bin Buser dari saudara perempuannya bernama As-Shoma bahwasannya Rasulullah saw telah bersabda:
Janganlah kamu shaum pada hari sabtu kecuali shaum yang telah diwajibkan atas kamu jika kamu tidak mendapatkan
selain kulit anggur atau kulit pohon maka kunyahlah itu. (HR Al-Khomsah kecuali An-Nasai)
shaum pada dua hari raya
:()
dari Abu Said dari Rasulullah saw bahwa sesungguhnya beliau melarang shaum pada dua hari raya ; pada hari idul fitri
dan hari raya idul adha. (Muttafaq Alaih)
Shaum pada ayyamut-tasyriq

Dari Kaab bin Malik bahwasannya Rasulullah saw mengutusnya bersama Aus bin Al-Hadasan pada hari-hari tasyriq,
maka keduanya menyerukan bahwa tidak akan masuk surga kecuali mukmin dan bahwa hari-hari Mina itu adalah harihari makan dan minum. (HR Ahmad dan Muslim)
shaum rajab

dari Ibu Abbas shaum hari pertama bulan rajab itu merupakan kifarat selama tiga tahun dan shaum hari kedua
merupakan kifarat dua tahun dan shaum hari ketiga merupakan kifarat satu tahun kemudian setiap hari untuk kifarat
satu bulan.

Saying hadits ini sangat dloif dan sanadnya sangat jatuh (tidak dapat dibenarkan sama sekali). (As-Sunan wal Mubtadaat
143)
Shaum wishal
:,::
Dari Ibdu Umar bahwasannya Nabi saw melarang shaum wishal. Para shahabat berkata: Sesungguhnya tuan
melakukannya beliau bersabda: Sesungguhnya keadaanku tidak sama dengan seorangpun diantara kalian sesungguhnya
aku senantiasa diberi makan dan minum oleh tuhanku. (HR Muslim)
Shaum tanggal 1 DzulHijjah
Shaum ini merupakan bidah dlolalah kerena diamalkan berdasarkan hadits yang bukan saja dloif bahkan maudlu atau
palsu.
:
Pada malam awal bulan dzulhijjah itu dilahirkan nabi Ibrahim maka siapa yang shaum pada siang harinya hal itu
merupakan kifarat dosa selama 60 tahun.
Shaum hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama muharram.
: :

dari Ibnu Abbas ia mengatakan telah bersabda Rasulullah saw : Barang siapa shaum hari ahir bulan Dzul hijjah dan hari
pertama bulan muharram maka ia telah menutup tahun yang lalu dan memulai tahun mendatang dengan shaum, maka
Allah swt menjadikan shaum itu sebagai kifarat 50 tahun.
Hadits ini sangat lemah bahkan maudlu (hadits palsu) karena dalam sanadnya terdapat dua orang pendusta yaitu alHarowi atau al-Juwaebari dan Wahab kedua orang ini tukang membuat hadits-hadits palsu. (Al-Mauduat II:199)
BAB V
KESALAHAN UMUM SEPUTAR SHAUM
A.

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN

1.

TERBEBAS DARI API NERAKA


.

Barang siapa yang bergembira dengan masuknya ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.
Keterangan :
Hadis ini hanya ditemukan dalam kitab Durratun Nasihin, yaitu sebuah kitab yang dinyatakan sebagai penyebar hadishadis palsu dan kisah-kisan imajinasi yang ditulis oleh Usman Al-Khubbani.
2.

DOA MENYAMBUT KEDATANGAN RAMADHAN

.
Ya Allah ! selamatkanlah aku bagi ramadhan dan selamatkanlah ramadhan bagiku dan berilah kemulusan dariku
penerimaannya.
Keterangan :

Hadis ini diriwayatkan oleh Ad Dailami, Al Firdaus Bimatsuril Khitab 1/471, Abdul Karim bin Muhammad, At Tadwin Fi
Akhbari Qazwain 3/424, Ad-Dzahabi, Siyaru Alamin Nubala 17/51, Abu Nuaim Al Asbahani, Hilyatul Auliya 3/69,
dengan keterangan sebagai berikut :
Riwayat Ad Dailami, Muhammad bin abdul karim dan Ad Dzahabi dhaif karena diriwayatkan merilalui Abu Jafa Ar Razi.
Menurut Abdullah bin Ahmad dari ayahnya (Ahmad bin Hanbal), Dia tidak kuat dalam hadis. Menurut Ibnu Abi
Maryam dari Ibnu Main, Ditulis hadisnya, tapi dia suka keliru. Menurut Ibnu Hibban, Dia suka menyendiri
meriwayatkan hadis-hadis munkar dari rawi-rawi yang masyhur, aku tidak menjadikan hadisnya sebagai hujjah, kecuali
apabila sesuai dengan periwayatan rawi-rawi yang tsiqah. Ahmad bin Hanbal berkata, Abu Jafar Ar-Razi mudtharibulhadits. (Tahdzibul-Kamal 33/194, Siyaru Alamin-Nubala 7/264, Tahdzibut-Tahdzib 10/61, Mizanul-Itidal 3/320, Al-Jarhu
Wat-Tadil 6/361, Al-Majruhin 2/120, Ad-Dhuaful-Kabir 3/388, Al-Mughni 2/170)
Riwayat Abu Nuaim bukan sabda Nabi, dan bukan pula perkataan sahabat, tapi hanya perkataan seorang tabiin, yaitu
Yahya bin Katsir (w. 132 H/ 749 M). Dengan demikian doa ini tidak dapat diamalkan.
B.

Meyakini adanya pembagian hari (rahmat, maghfiroh dan itqum mi-annar)

-.
Dari Salman, ia berkata : Pada akhir bulan Syaban Rasulullah saw mengkhutbahi kami, beliau bersabda : Hai manusia !
bulan yang agung, bulan yang penuh dengan berkah, bulan yang padanya ada satu malam yang lebih baik dari seribu
bulan telah menaungi kamu. Allah tetapkan shaum sebagai satu kewajiban, dan shalat pada malamnya sebagai tathawu
(sunat). Siapa yang mendekatkan (melaksanakan) sesuatu kebaikan (sunat), maka (pahalanya) seperti (pahala) bagi
orang yang menunaikan kewajiban. Dan siapa yang menunaikan kewajiban, (pahalanya) seperti (pahala) yang
menunaikan kewajiban sebanyak tujuh puluh kali. Bulan itu adalah bulan (penuh dengan) kesabaran dan bersabar itu
pahalanya adalah surga. Bulan penuh dengan kebaikan, bulan yang akan bertambah rizki seorang mukmin. Barang siapa
memberi makan yang shaum pada bulan itu baginya maghfirah bagi dosa-dosanya dan lehernya akan terlepas dari api
neraka, dan baginya (orang yang memberi makan) akan mendapat pahala seperti pahala yang diberikan kepada yang
shaum tanpa terkurangi sedikitpun dari pahalanya itu. Para sahabat bertanya, kami semua tidak mendapatkan sesuatu
untuk memberi makan yang shaum, beliau menjawab : Allah akan memberi pahala seperti ini kepada orang yang
memberi makan yang shaum walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau sesuatu yang dicampur
dengan susu. Dan bulan itu adalah bulan yang awalnya penuh rahmat, pertengahannya penuh maghfirah dan akhirnya
pembebasan dari neraka. (HR Ibnu Khizaimah 3/191, Al Baihaqi dalam Syuabul Iman 3/305-306, Al Haitsami dalam
Musnad Al Harits 1/412 dengan sedikit perbedaan redaksi).
Keterangan :
Hadis ini dhaif karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama ;
Ali bin Zaid bin Judan. Menurut ulama ahli hadis Yahya bin Main, Ali bin Zaid bin Judan adalah laisa bihujjah (tidak
dapat dijadikan hujjah). Menurut Imam Abu Zurah, Ali bin Zaed bin Judan laisa bil qawiy (tidak kuat), dan begitu pula
menurut ulama yang lainnya seperti Abu Hatim, An Nasai dan Ibnu Khuzaimah. (Al Jarhu Wat Tadil 6/185 dan Tahdzibul
Kamal 20/434)
Yusuf bin Zaid An Nahdi. Mengenai kedhaifannya ditegaskan oleh Imam An Nasai. Sementara Al Bukhari dan Abu Hatim
menyatakan dia sebagai rawi yang Munkarul Hadis (hadisnya diinkari). Dan Ad Daraquthni menyatakan, Dia rawi yang
termasyhur dalam meriwayatkan hadis-hadis yang batil. (Lisanul Mizan 6/321, Mizanul Itidal 4/465, Al Majruhin 3/133)
Pada riwayat Al Baihaqi dan Al Haitsami, selain diriwayatkan melalui rawi-rawi dhaif di atas, juga terdapat pada
sanadnya rawi yang majhul (tidak dikenal) yaitu Iyyas bin Ghafar. Menurut Ibnu Hajar, Aku tidak mengenal rawi
bernama Iyyas. (Tahqiq Syuabul Iman 3/305)
-



Dari Abu Hurairah, ai berkata, Rasulullah saw bersabda, Awal bulan ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah
magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka. (HR Ibnu Adi, Al Kamil 3/331, Al Uqaili Ad Duafaul Kabir 2/162,
Ad Dailami Al Firdausul Akhbar 1/68)
Keterangan :
Hadis inipun dhaif, karena pada sanadnya terdapat rawi yang bernama ;
Maslamah bin Shalt. Menurut Abu Hatim Ar Razi, Dia matrukul hadis. Abdurrahman menceritakan dari ayahnya bahwa
Maslamah bin Shalt matrukul hadis. (Al Jarhu Wat Tadil 8/269, Ad Duafa Wal Matrukin 3/119)
Salam bin Sawwar. Namanya Salam bin Sulaiman bin Sawwar, Abul Abbas At Tsaqafi. Menurut Abu Hatim, Ia rawi yang
tidak kuat. Ibnu Adi berkata, Munkarul hadis. (Mizanul Itidal 2/178)
C.

Melafadkan niyat shaum

Ada sebagian kaum muslimin yang berkeyakinan bahwa niyat itu talafus bi-niyat dan tidak sah niyat bila tidak di lafadkan
dengan mengqiyaskannya pada ibadah haji dengan mengucapkan labbaika allohumma umrotan atau labbaika
allohumma hajjan.
Kesimpulan diatas sangat jauh dari kebenaran dan menyalahi wajhul istidlal. Ucapan labbaika allohumma umrotan atau
labbaika allohumma hajjan itu bukan talafud bi-niyat karena terbukti talafud bi-niyat itu di luar ibadah yang akan di
kerjakannya. Seperti shaum melafadkan saya berniat shaum besok hari atau talafud bi-niyat pada sholat. Seseorang
melafadkan kata-kata ushalli fardu.itu sebelum takbirotul ihrom. Sedangkan melafadkan labbaika allohumma umrotan
di lakukan sebagai awal dan sekaligus merupakan pembuka ibadah umroh demikian juga haji.
D.

Beberapa Perkara Yang Dinggap Membatalkan Shaum

MAKAN, MINUM DAN JIMA KARENA LUPA. DALILNYA :

-








Dari Abu Hurairah, ia mengatakan, Rasulullah saw telah bersabda, Barangsiapa lupa padahal ia shaum, kemudian ia
makan atau minum, hendaklah ia menyempurnakan (melanjutkan) shaumnya, karena sesungguhnya Allah-lah yang
memberinya makanan dan minuman itu. (HR. Al-Jamaah kecuali AnNasai ; Ahmad, al-Fathur-Rabani 10/61, Fathul-Bari
4/194, Shahih Muslim 1/514, Abu Daud 2381, Tuhfatul Ahwadzi 3/246, dan Ibnu Majah 1673)
-.

Apabila yang sedang shaum makan atau minum karena lupa, maka hal itu hanyalah rizki yang Allah berikan padanya dan
tidak ada qadla atasnya. (HR Ad-Daruquthniy 25)
:
. :
.
:
.
:



:
:
-
.
.


Dari Amr bin Dinar, bahwasanya seseorang datang kepada Abu Hurairah, lalu berkata : Pada pagi hari aku shaum
kemudian lupa, lalu makan. Ia (Abu Hurairah) berkata : Itu tidak apa-apa (tidak batal). Ia berkata lagi : Kemudian saya
masuk (ke rumah) seseorang lalu lupa lagi, saya makan dan minum. Ia (Abu Hurairah) berkata : Itu tidak apa-apa, Allah
telah memberi makan dan minum kepadamu. Kemudian saya masuk lagi (ke rumah) yang lain, lalu lupa lagi. Ia (Abu
Hurairah) berkata : Kamu adalah seorang yang tidak membiasakan shaum. (Fathul Bari 4/198, Subulus Salam 2/326)
BERKUMUR-KUMUR, MANDI DAN MENCIUM ISTRI. DALILNYA :

-








Dari Umar bin Al Khatab, ia berkata : Suatu hari aku sengaja mencium (istriku) padahal aku sedang shaum. Maka aku
mendatangi Nabi saw dan aku katakan apa yang telah aku lakukan, kataku : Hari ini aku melakukan kesalahan besar,
yaitu aku mencium istriku padahal aku sedang shaum. Maka Rasulullah saw bersabda : Apa pendapatmu jika engkau

berkumur-kumur dengan air padahal engkau shaum ? Aku menjawab : Hal itu tidak apa-apa. Maka Nabi saw bersabda :
Lalu mengapa ? (HR Ahmad, Al Father Rabani 10/52, Abu Daud, Aunul Mabud 7/12)
-






Abu Bakar (bin Abdurrahman) berkata : telah berkata yang menceritakan kepadaku : Sungguh aku telah melihat
Rasulullah saw mengucurkan air di atas kepalanya, dan beliau sedang shaum, dari kehausan atau dari kepanasan. (HR
Abu Daud 2018, Ahmad 22139, 22370, 22541)



Dari Aisyah, Bahwasanya Nabi saw telah menciumnya padahal beliau sedang shaum. (HR Muslim 1851)




Dari Aisyah, ia berkata : Pernah Nabi saw ketika shaum mencium dan mengencani istrinya. Akan tetapi beliau (orang
yang) paling mampu menahan keinginannya daripada kalian. (HR Al Jamaah Kecuali An Nasai ; Ahmad 25711, Bukhari
1792, Muslim 1/446, An Nasai 1/555, Tirmidzi 3/31, Ibnu Majah 2/318)

-




Dari Abu Hurairah, bahwasanya seseorang bertanya kepada Nabi saw tentang berkencan orang yang shaum, maka
beliau membolehkannya. Kemudian datang lagi yang lain, tetapi Nabi melarangnya. Ternyata yang diperbolehkan itu
seorang kakek-kakek dan yang dilarang itu seorang pemuda. (HR Abu Daud 2039)
DUSTA, NAMIMAH, GHIBAH, MEMANDANG DENGAN SYAHWAT DAN SUMPAH PALSU.DALILNYA :


: , .
Lima perkara yang membatalkan orang yang shaum dan membatalkan wudu ; wudu, namimah, mengumpat,
memandang karena syahwat dan sumpah palsu. (Al Fawaidul Majmuah hal. 25)
Keterangan :
Hadis ini palsu, karena dalam sanadnya terdapat seorang pendusta bernama Said bin Anbasah dan tiga orang rawi dhaif
yang lainnya. Masih banyak hadis-hadis yang semakna, tetapi semuanya lemah dan kebanyakan palsu. (Al Fawaidul
Majmuah hal. 94)
Di antara perkara-perkara lainnya yang dapt membatalkan shaum seperti: muntah, menggosok gigi dsb. Tetapi itu
semua tidak berdasarkan hadits yang shahih dan tidak bisa dijadikan
DAFTAR PUSTAKA
& Al quranul karim
& Al maktabah Syamilah
& Risalah shaum, oleh dewan hisbah PP persis
& Risalah shaum, sunnah-sunnah dan bid`ah-bid`ahnya, oleh wawan shafwan sholehudin
& Makalah kuliah shubuh al-kautsar ramadhan 1425 H, oleh ahmad wandi
& Makalah shaum, oleh Drs. Buldan Toyyib
& Fiqh ash-shiyam, oleh yusuf Qordhowi
& Bulugul maram, oleh ibnu hajar al-`asqolany
& Al-kutubus sittah
& Perpustakaan istiqomah

& As-sunan wal mubtadi`at oleh Muhammad abdus salam asy-syaqiri