Anda di halaman 1dari 7

Mata Kuliah Pemasaran Hospitality and Leisure

GAZEBO CAF Rejuvenating Jakarta Old City

Bestari Nurfitriana (0806349825) Febrina Christanti Putri (0806350064) Ikhsani Kirana (0806321921) Raisa Ornella Rico (0806350505) Rizki Ardhi (0806350575)

Universitas Indonesia Desember 2011

Pendahuluan Latar Belakang

Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia sudah jelas dikenal sebagai pusat administrasi negara, perkantoran, dan segala kesibukan metropolitan. Jakarta sendiri memiliki sejarah kota yang sangat panjang. Hal ini diperkirakan dimulai sekitar 3500 SM, diawali dengan terbentuknya pemukiman yang menjadi kampung-kampung di sepanjang daerah aliran sungai Ciliwung. Kampung-kampung ini ada yang bertahan sampai sekarang dan dikenal sebagai Kampung Tua. Sebuah kampung kemudian berkembang menjadi pelabuhan terkenal bernama Sunda Kelapa. Kemenangan Sultan Fatahillah dari Demak atas Pelabuhan Sunda Kelapa yang dikuasai serdadu Portugis pada 22 Juni 1527 mengubah namanya menjadi Jayakarta (berasal dari Kemenangan Yang Jaya). Jayakarta sendiri kemudian dikuasai VOC (Belanda) dan berubah namanya menjadi Batavia di sekitar abad 17 dan berkembang menjadi sebuah kota dagang besar. Setelah kependudukan Jepang pada tahun 1942, nama Batavia diganti menjadi Jakarta yang terus dipakai hingga sekarang. Salah satu sisa kejayaan Batavia adalah bangunan Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal sebagai Museum Fatahillah. Selain museum, bangunan-bangunan tua lainnya terkumpul dalam kawasan Kota Tua yang mempunyai luas 864 hektar yang terbentang dari selatan pada titik yang ditandai Bangunan Arsip Nasional, hingga utara yang ditandai dengan alur pelabuhan kapal Phinisi. Sedangkan bentangan dari barat ke timur ditandai dengan Mesjid tua Bandengan dan deretan gudang dibelakang Bangunan BNI 1946.Saat ini tercatat ada 284 bangunan bersejarah di sekitar kawasan Kota Tua. Walaupun Jakarta tidak memiliki keindahan alamiah, keberadaan kampung tua dan bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di kampung-kampung tersebut justru merupakan kelebihan yang dimiliki kota Jakarta. Hal ini merupakan aset bernilai tinggi sehingga wilayah Jakarta Kota, terutama daerah Kota Tua, memiliki potensi wisata budaya yang masih perlu dikembangkan.

Batas-batas Kota Tua Jakarta Ketetapan luas kawasan perencanaan diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta nomor 34 tahun 2006 Tentang Penguasaan Perencanaan Dalam Rangka Penataan Kawasan Kota Tua seluas 846 hektar Yang Terletak di Kotamadya Jakarta Utara dan Kotamadya Jakarta Barat. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan wilayah penyangga agar dapat mengendalikan kawasan inti, sehingga kawasan inti terhindar dari pembangunan bangunan tinggi. Site-site yang ada di Kota Tua Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta, diantaranya adalah:

Gedung Arsip Nasional Gedung Chandranaya Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti) Petak Sembilan Pecinan Glodok dan Pinangsia Gereja Sion Tugu Jam Kota Tua Jakarta Stasiun Jakarta Kota Museum Bank Mandiri Museum Bank Indonesia Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah (bekas Balai Kota Batavia) Museum Seni Rupa dan Keramik (bekas Pengadilan Batavia) Lapangan Fatahillah

Replika Sumur Batavia Museum Wayang Kali Besar (Grootegracht) Nieuws van de Dag Gedung Dasaad Musin Jembatan Tarik Kota Intan Galangan VOC Menara Syahbandar Museum Bahari Pasar Ikan Pelabuhan Sunda Kelapa Masjid Luar Batang

Keadaan Kota Tua Jakarta Saat Ini Kondisi Kota Tua saat ini belum banyak berkembang, bahkan tembok-tembok yang dulu sudah dicat ulang pun sudah nampak mulai kusam dan kotor. Belum ada perawatan bangunan-bangunan tua yang tampak serius dari Pemerintah Kota. Selain itu, penataan areal publik seperti pedestrian, taman bermain, dan areal parkir masih belum benar-benar rapih. Jalan arteri Museum Sejarah Jakarta yang sudah diubah menjadi pedestrian khusus pejalan kaki masih nampak lalu lalang dilewati pengendara sepeda motor. Sementara itu, di areal Kota Tua didominasi oleh pedagang kaki lima yang tidak tertata rapih layaknya pasar tumpah. Barang-barang yang dijual oleh pedagang kaki lima ini juga merupakan barang-barang yang tidak mencerminkan Kota Tua sebagai tempat unik dan bersejarah, barang-barang yang dijual sama seperti barang-barang yang dijual di pasar tumpah lainnya. Selain itu makanan yang diperdagangkan juga

didominasi oleh pedagang kaki lima yang terlihat kotor dan tidak tertata. Kondisi yang seperti ini membuat Kota Tua Jakarta lebih mirip sebagai tempat tujuan jalanjalan masyarakat sekitar dibandingkan sebagai tempat tujuan wisata. Meskipun begitu, masih ada beberapa hal menarik dari Kota Tua Jakarta seperti bangunan-bangunan tuanya yang menjadi daya tarik untuk dijadikan sebagai background foto-foto, baik foto pre-wedding maupun foto-foto lainnya. Selain itu terdapat penyewaan sepedah ontel berikut dengan kostum tuanya seperti topi, syal, dan baju, meskipun para penyewa ini tidak ditata dan dikelola secara rapih. Selain itu jasa foto langsung jadi banyak terdapat di kawasan ini, bahkan ada yang menyediakan mobil tua sebagai latar belakang foto. Bangunan tua juga masih menjadi daya tarik bagi para wisatawan asing yang didominasi oleh wisman dari Eropa. Oleh karena itu, Kota Tua Jakarta memiliki potensi pariwisata yang besar baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Pengembangan Kota Tua Jakarta Revitalisasi Kota Tua Jakarta telah dilakukan sejak tahun 1970 dan berlanjut pada revitalisasi tahap kedua pada tahun 2005 dimana jalan mobil diubah menjadi pedestrian dengan mengganti permukaan aspalnya dengan batu andesit. Bangunan milik BUMN pun telah diizinkan untuk digunakan sebagai bagian dari penghidupan kembali Kota Tua, meskipun begitu bangunan-bangunan ini masih tampak belum terawat dengan baik. Pada 22 Juli 2011, Kota Tua Jakarta dijadikan salah satu dari 15 tempat tujuan yang akan dikelola secara profesional dalam program Destination Management Organization (DMO) yang diluncurkan oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang bertujuan untuk menciptakan kawasan bersejarah Kota Tua Jakarta sebagai daerah tujuan wisata budaya yang mengangkat nilai pelestarian dan memiliki manfaat ekonomi yang tinggi. Ada beberapa strategi pengembangan Kota Tua yang direncanakan oleh Pemerintah Kota Jakarta, salah satunya adalah menghidupkan KOTA sebagai Komunitas Seniman-Kreatif dalam Jarak Berjalan kaki. Bangunan Kota tua yang disisakan dari zaman penjajahan adalah bangunan gudang, balaikota, gedung pengadilan dan dua bangunan di kalibesar barat. Peraturan-peraturan yang mendukung hal ini adalah:

1. SK.Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor Cd.3/1/1970 tentang Pernyataan Daerah Taman Fatahillah, sebagai Daerah di bawah Pemugaran Pemerintah DKI Jakarta yang dilindungi oleh Undang-undang Monumen (Stbl Th. 1931 No. 238). 2. SK.Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor D.IIIb.II/4/56/1973 tentang Pernyataan Daerah Glodok, (Daerah yang bangunanbangunnya berarsitektur Cina) sebagai Daerah di bawah Pemugaran Pemerintah DKI Jakarta yang dilindungi oleh Undang-undang Monumen (Stbl Th. 1931 No. 238). 3. SK.Gubernur KDKI Jakarta Nomor D.III-b./II/4/54/1973 tentang Pernyataan Daerah Jakarta Kota dan Pasar Ikan sebagai Daerah di bawah Pemugaran Pemerintah DKI Jakarta yang dilindungi oleh Undang-undang Monumen (Stbl Th. 1931 No. 238). 4. SK.Gubernur KDKI Jakarta Nomor 475 tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-bangunan Bersejarah di daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya. 5. Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya. Sementara itu, kawasan perencanaan Kota Tua jakarta dibagi dalam 5 zonasi sesuai dengan karakteristik dan morfologinya. Zonasi yang memiliki karakteristik kuat dan tingkat tinggi kepadatan bangunan cagar budaya diberlakukan cukup ketat. Zonasi tersebut adalah zonasi 2 yang merupakan pusat Kota Tua abad 18 yang meliputi Taman Fatahillah, Taman Beos, Kalibesar, Roa malaka, Pintu Kecil dan daerah sekitarnya. Kawasan Kota Tua Jakarta diharapkan akan menjadi tempat bersejarah kebanggaan DKI Jakarta, dan juga menjadi sentra industri kreatif yang berisi galeri, musik, restoran, dan mode, dan menjadi salah satu kota unik di dunia seperti Glasgow (Inggris)Kota Musik; Lyon (Perancis)Kota Seni Media; Aswan (Mesir)Kota Seni Kerajinan dan Seni Kerakyatan; dan Sevilla (Spanyol)Kota Musik

Potensi Kota Tua Jakarta Dengan diluncurkannya DMO dan dimasukannya Kota Tua Jakarta ke dalam program tersebut, keseriusan Pemerintah Pusat maupun daerah nampak lebih ditunjukan. Dengan adanya dukungan dari Pemerintah yang kuat maka akan berdampak pada meningkatnya pariwisata Kota Tua termasuk industri-industri pendukung yang ada disekitarnya seperti hotel, restaurant, kafe, toko souvenir, dan lain-lain. Gazebo kafe, merupakan salah satu dari sedikit tempat makan yang berada di kawasan Kota Tua. Dengan adanya kesempatan peningkatan pariwisata Kota Tua Jakarta, maka Gazebo kafe harus menciptakan sebuah konsep untuk dapat mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut.