Anda di halaman 1dari 7

Ciri-Ciri Orang Saleh

Kita sering kali merasa banyak melakukan amal sholeh maupun berbagai amal baik lainnya seperti sholat, puasa, zakat, haji dan bahkan melakukan umroh berkali-kali. Kita sudah merasa dan mengira bahwa kita adalah sosok pilihan sehingga menjadi manusia yang paling baik.

Jangan bangga dengan amalan diri


Seorang muslim seyogyanya yakin akan begitu luasnya rahmat Allah. Kita tahu bahwa banyak macam-macam ibadah yang memiliki keutamaan masing-masing baik itu ibadah wajib ataupun sunnah. Misalnya sholat dari yang wajib sampai sholat-sholat sunnah,seperti dhuha,tahajud dan sebagainya. Begitu juga dalam kebaikan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan hal-hal kecil pun dinilai sebagai kebaikan seperti menyingkirkan duri dari jalan sampai senyum ke saudara sendiripun adalah ibadah.

Kemudahan untuk taat adalah rezeki dari Allah karena itu tidak sepatutnya seorang muslim menyombongkan diri atas kebaikan-kebaikan yang dia lakukan dan mengganggap remeh kebaikan orang lain. Bisa jadi orang yang kita anggap kecil kebaikannya memiliki kebaikan-kebaikan yang tersembunyi yang ternyata besar nilainya dimata Allah. Jika kita memelihara jenggot dengan niat menghidupkan sunnah misalnya tentu sebaiknya jangan mengganggap remeh atau lebih baik dari saudara kita yang mencukurnya karena bisa jadi dia melakukan itu karena taat dan menjaga hati orangtuanya dan itupun salah satu kebaikan. Atau jika kita benyak bersedekah jangan pula merasa lebih baik dari orang yang mungkin secara kasat mata jarang bersedekah,bisa jadi dia orang yang menjaga lisannya dari bergunjing dan berghibah. Bahkan mungkin orang-orang yang mungkin secara dzahir sekarang banyak berbuat maksiat, bisa jadi diakhir hidupnya dia diberi hidayah oleh Allah untuk bertaubat dan berubah. Sementara kita yang mungkin sekarang merasa dalam ketaatan adakah jaminan untuk mati khusnul khatimah?

Akhirnya berusaha selalu melihat akan kebaikan-kebaikan orang lain menyelamatkan kita dari rasa berbangga akan amalan diri, dan tiada jaminan apakah amalan yang kita lakukan itu diterima ataukah akan ditolak Allah karena riya' atau ujub yang menyertai amalan tersebut. Na'udzubillah, semoga kita terlindungi dari rasa berbangga akan amalan diri dan juga mengganggap rendah orang lain, insya Allah.
Diposkan oleh

Sesungguhnya setiap shalat, kita selalu memohon kepada Allah untuk menjadi orang sholih. Bukankah ketika shalat kita membaca Ihdinashshiraathal mustaqim, shiraathalladziina anamta alaihim ghairil maghdhuubi alaihim waldhdhaaallin (Ya Allah tujukanlah kepada kami jalan yang lurus, yaitu jalan yang pernah ditempuh oleh orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, dan bukan jalan orang-oarng yang Engkau benci dan jalan orang-orang sesat). Para ahli tafsir menyebutkan, yang dimaksud dengan orang-orang yang telah diberi nikmat adalah para nabi, shiddiqin (orang-orang yang benar keimanannya), syuhada (orang-orang yang mati dalam membela agama Allah) dan shalihin (orang-orang yang sholih). Jadi, dalam surat Al Fatihah terkandung doa menjadi orang sholih. Kesalehan bisa diraih bukan sekedar dengan doa tapi harus dibarengi dengan mujahadah (usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan). Berikut akan dijelaskan ciri-ciri orang yang sholih, mudah-mudahan kita bisa melatih diri untuk mewujudkannya dalam diri kita. Ciricirinya sebagai berikut, * Salimul Aqidah Salimul aqidah artinya keimanan yang lurus atau kokoh. Aqidah atau keimanan kepada Allah merupakan fondasi bangunan keislaman. Apabila fondasi keimanan itu kuat, insya allah amaliah keseharian pun akan istiqamah (konsisten), tahan uji, dan handal. Keimanan itu sifatnya abstrak, karenanya, untuk mengetahui apakah iman itu kokoh ataukah masih rapuh, kita perlu mengetahui indikator atau tanda-tanda iman yang kokoh. * Memiliki muraqabatullah Orang yang memiliki keimanan yang kokoh merasakan Allah sangat dekat dengan dirinya, mengawasi seluruh ucap dan geraknya. Dengan demikian akan tumbuh dari dirinya perilaku yang lurus dan selalu mawas diri. Inilah yang disebut Muraqabatullah, yaitu kondisi psikis dimana kita meras ditatap, dilihat,dan diawasi Allah swt. kapan dan dimana pun berada. Adapun yang menjadi landasannya adalah: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaaf 50:16) Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempat. Dan tiada pembicaraan antar lima orang, melainkan Dia-lah yang keenam. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada, kemudian Dia akan memberitahuakan

kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Mujadalah 58:7) * Dzikrullah Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan merasakan kerinduan yang sangat kuat kepada Allah. Bila kita selalu merindukan-Nya, Dia pun akan merindukan kita. Dzikrullah adalah ekspresi kerinduan kepada Allah swt. Dan dzikirlah (ingatlah) Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumuah 62:10) Karena itu, ingatlah kepada-Ku, niscaya aku akan mengingatmu pula. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku. (QS. Al-Baqarah 2:152). Allah swt. akan menyertai orang-orang yang selalu berdzikir/rindu kepada-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits qudsi berikut ini, Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan aku bersamanya ketika ia menyebut-Ku dalam dirinya, maka Aku menyebutnya dalam diri-Ku. Ketika ia menyebut-Ku ditengah-tengah sekelompok orang, mala aku menyebutnya ditengah-tengah kelompok orang yang lebih baik dari mereka (kelompok malaikat). (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah) * Meninggalkan syirik Syirik artinya meyakini ada kekuatan atau kekuasaan yang setaraf dengan kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah swt. Orang yang memiliki keimanan yang kokoh akan memiliki loyalitas atau kesetiaan yang fokus kepada Allah swt., karenanya dia akan meninggalkan seluruh perbuatan syirik. Syirik diklasifikasikan sebagai dosa yang paling besar sebagaimana dijelaskan dalam keterangan berikut. Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa :48) * Rajin membaca, memahami, dan mengamalkan Al Quran Al Quram merupakan kitab suci yang merekam seluruh pesan-pesan Allah awt. Kita bisa menelaah apa saja yang Allas swt, sukai dan apa yang dimurkai-Nya. Orang yang memiliki iman yang kokoh akan berusaha membaca, memahami, dan mengamalkan apa yang ada dalam Al Quran. Ini adalah sebuah kitab yang Kami (Allah) turunkan kepadamu, yang didalamnya penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya, dan supaya mendapatkan pelajaran orang-orang yang mau menggunkan akalnya. (QS. Shaad 38:29). * Shahihul Ibadah Karakter orang sholih berikutnya adalah shahihul ibadah, artinya benar dan tekun dalam beribadah. Ibadah adalah ekspresi lahiriah pengabdian seorang hamba kepada Allah swt. para ahli membagi ibadah pada dua bagian, yaitu Ibadah Ammah dan Ibadah Khashshah. Ibadah Ammah adalah seluruh ucapan dan perbuatan baik tampak ataupun tidak tampak yang diridhai dan dicintai Allah swt. Misalnya, mencari ilmu, mencari nafkah, hormat kepada orang tua, ramah pada tetangga, dan lain-lain. Ini semua disebut ibadah ammah karena teknik pelaksanaanya tidak diatur secara detail tapi disesuaikan dengan tuntutan situasional. Sedangkan ibadah khashshah adalah ibadah yang teknik pelaksanaanya ditentukan atau diatur secara detail oleh Rasulullah saw. Musalnya ibadah shalat, haji, shaum, dan lain-lain. Kalau kita shalat, maka ruku, sujud, dan seluruh gerakan serta bacaanya harus mengikuti sunah Rasulullah saw. Kita tidak dibenarkan menambahi atau menguranginya karena shalat merupakan ibadah khashshah. Allah swt. membalas seluruh pengabdian kita sesuai dengan usaha dan kesungguhan yang kita lakukan. Makin rajin kita beribadah, Allah pun makin dekat dengan kita. Makin malas kita mengabdi, Allah pun makin menjauhi kita. Karena itulah orang-orang sholih akan rajin, tekun, dan khusu dalam beribadah kepada-Nya. Perhatikan keterangan berikut. Jika ia manusia bertaqarrub (beribadah) kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika ia berataqarrub kepada-Ku satu hasta, maka Aku mendekat kepadaNya satu depa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan berlari. (HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, At Tarmidzi, dan Ibnu Majah). * Akhlaqul Karimah Orang sholih bukan hanya pandai mengabdikan dirinya kepada Allah swt. yang diekspresikannya dengan Aqidah Salimah dan Shahihul Ibadah seperti yang telah dijabarkan di atas, tapi orang sholih juga sangat santun dan perhatian kepada sesama manusia. Sikap ini dalam bahasa praktis disebut Akhlaqul Karimah, artinya berakhlak mulia dan santun kepada orang lain. Orang sholih akan memiliki akhlak berikut: 1. Tidak menghina dan zhalim (aniaya) kepada orang lain Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim. Karena itu janganlah menganiayanya, jangan membiarkannya teraniaya, dan jangan menghinanya, taqwa tempatnya di sini! sambil

Beliau menunjuk dadanya tiga kali -. Alangkah besar dosanya menghina saudara sesama muslim. Setiap muslim haram menumpahkan darah sesama muslim, haram merampas hartanya, dan haram mencemarkan kehormatan dan nama baiknya, (HR. Muslim, Jilid IV, No. 2193)2. Tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari keburukan orang lain, tidak dengki, serta bersaing secara sehat Hindari prasangka buruk, karena dia berita paling bohong. Jangan saling mencari keburukan, jangan saling mengorek aib, jangan bersaing secara tidak sahat, jangan saling mendengki, jangan saling marah, dan jangan saling tidak peduli. Tetapi jadilah kamu semua bersaudara sebagai hamba-hamba Allah. (HR. Muslim, jilid IV, No. 2119)3. Bersikap ramah Janganlah kamu menganggap sepele (remeh) pada kebaikan, walaupun sekedar menampakkan wajah yang ramah saat bertemu saudaramu (sesungguhnya itu adalah kebaikan). (HR. Muslim) Wajah yang ramah saat bertemu saudaramu, itu merupakan shadaqah. (HR. Tirmidzi) Sejak masuk Islam, saya menyaksikan wajah Rasul selalu tersenyum ramah. (HR. Bukhari dan Muslim)4. Berbicara santun dan menghargai orang lain Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (bijaksana) dan nasihat yang baik, serta berdiskusilah dengan cara yang baik (QS. An-Nahl 16:125)5. Mendoakan yang baik untuk orang lain.berusaha meringankan beban orang lain Sesungguhnya doa seorang muslim yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, pasti dikabulkan karena di atas kepalanya ada malaikat. Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan untuk orang lain, malaikat itu menyahutnya Amien!Mudah-mudahan Allah mengabulkan dan memberikan kebaikan yang sama kepadamu. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad). Doa yang paling cepat dikabulkan adalah doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)6. Berusaha meringankan beban orang lain Siapa yang menolong kesusahan seorang muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, pasti Allah akan menolongnya dari kesusahan-kesusahan akhirat. Siapa yang meringankan beban orang yang susah, niscaya Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan tutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba itu suka menolong orang lain. (HR. Bukhari)7. Berusaha mencintai orang lain dengan tulus tanpa meminta imbalan Abu Hurairah ra, berkat: Rasulullah saw. Bersabda, Sesungguhnya Allah swt. berfirman pada hari kiamat: Mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini akan Aku naungi (tolong) mereka, dimana tidak ada naungan (pertolongan) yang lainselain dari-Ku. (HR. Muslim, jilid IV, No. 2197)Kesimpulannya, setiap shalat kita mendoa menjadi orang sholih. Kesholihan dapat kita raih bukan hanya denga doa, tapi dengan melatih diri untuk mencapainya. Secara garis besar ada tiga tanda kesholihan, yaitu sholihul aqidah (mempunyai keimanan yang laurus dan kokoh), shalihul ibadah (rajin dan benar dalam beribadah), dan akhlaqul karimah (berakhlak mulia). Wallauhu alam. Seseorang melapor kepada Imam Ahmad : Wahai Imam Ahmad, semalam saya menunaikan sholat malam, saya pun menangis tersedusedu. Sehingga rumput yang ada di sekelilingku pun seakan tumbuh karena tangisku. Imam Ahmad berkata : Sungguh, seandainya engkau tertawa terbahak-bahak tapi engkau mengakui dosamu itu lebih baik daripada engkau menangis tersedu-sedu tapi kemudian engkau merasa besar. Sesungguhnya amalan orang yang ujub itu tidak akan pernah naik ke langit (Lihat : Ighotsatul Lahfan/Madarijus Salikin, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah). Kisah di atas mengabarkan kepada kita bahwa amalan yang dilakukan dengan perasaan bangga atau ada perasaan besar setelah mengerjakannya, justru membuat amal itu sia-sia dan tidak bernilai. Sebab bangga (ujub) adalah penyakit perusak amal, sekaligus bibit dari kesombongan. Bangga atau merasa paling baik bisa muncul karena beberapa hal : 1. Bisikan Syetan Seringkali syetan membisikkan ke dalam diri kita perasaan wah atau perasaan hebat seusai kita melakukan sedikit saja dari sebuah ketaatan. Kita baru saja bisa merutinkan sholat malam selama beberapa hari saja, lalu kita sudah merasa yang paling hebat. Kita baru saja bisa membiasakan untuk berpuasa sunnah, maka kemudian kita sudah merasa yang paling hebat.

Kita baru saja bisa mengkhatamkan Al Qur'an sekali dalam setiap bulan, lalu kita sudah merasa paling hebat, dan lain sebagainya. Karena itu, waspadalah terhadap bisikan syetan. Selalu ingatlah pepatah di atas langit, masih ada langit. Jangan pernah merasa bangga atas amalan-amalan kita, karena kalaupun kita ingin menghitungnya, apalah arti semua itu dibandingkan amalan orang lain? Seharusnya kita dapat melihat dan merenungi, mengapa mereka yang memiliki amalan yang jauh lebih berkualitas daripada kita tak pernah merasa bangga akan amalannya? Tapi, kita? Yang baru bisa sholat malam beberapa hari saja sudah merasa hebat? 2. Pujian Pujian tak diragukan membuat seseorang menjadi besar kepala dan lupa diri. Pujian kalau tidak disikapi dengan baik justru akan menghancurkan orang yang dipuji. Oleh karena itu syariat menganjurkan agar kita menaburkan debu ke muka orang yang memuji. Kembalikanlah pujian itu kepada Dzat yang telah menciptakan kita. Karena memang hanya Dialah satu-satunya yang patut menerima pujian itu. 3. Posisi dalam Masyarakat Kadang dalam hidup bermasyarakat, ada di antara kita yang kemudian diposisikan di atas, dituakan dan dijadikan sandaran bagi yang lainnya. Tidak ada salahnya memang, tapi hal ini rawan terhadap perasaan ujub (merasa paling baik). Orang kemudian akan menaruh hormat, akan mengadukan semua persoalannya kepada kita dan sebagainya, sehingga hal ini akan menimbulkan perasaan bahwa dirinya paling baik daripada yang lainnya. Dudukkanlah diri berada di tengah-tengah masyarakat umum sekalipun kita menjadi petinggi mereka. Jangan sampai seolah kita duduk di atas kepala mereka. Mengapa kita tidak pernah ingat, siapa yang telah memberikan kita kedudukan tersebut? Akhir kata, beramal bukanlah untuk dibanggakan kepada manusia. Karena kebanggan yang hakiki itu adalah kebanggaan kelak ketika kita dapat dikumpulkan dengan barisan orang-orang yang ikhlas di padang masyar yang sedang mengantri tiket menuju syurga.

Tujuan diciptakan manusia untuk beribadah kepada Allah Ta'ala semata. ibadah ini dikerjakan sampai nyawa berpisah dari badan. Dalam pelaksanaannya dituntun yang terbaik, ahsanu amala. Yakni dengan benar-benar menjaga keikhlasan dan benar dalam pelaksanaan. Setelah itu ia berharap kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar diterima. Namun jangan kita lengah, karena syetan tetap akan menggoda kita supaya ibadah tersebut rusak. Salah satunya adalah dengan menanamkan rasa bangga diri, kekaguman dan bangga dengan amal tersebut. Merasa bahwa ia telah menunaikan hak Allah dengan sempurna. Kesombongan boleh jadi ikut tertanam, sehingga ia melihat dirinya yang paling baik sementara ibadah orang lain banyak kekurangan. Sikap orang shalih penghuni surga tidak demikian. Mereka sungguh-sungguh dalam ibadah kepada dan takut kalau-kalau ibadahnya tidak diterima. Bahkan, lebih dari itu, ia beranggapan amalnya tidak pantas diterima oleh Allah. Banyak cacat dan kekurangan dalam ibadah yang mereka tegakkan sehingga istighfar senantiasa terucap dari lisan mereka. Allah Taala berfirman tentang mereka,


"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun: 60) Aisyah Radliyallaahu 'Anha berkata, Aku telah bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau menjawab, Tidak, wahai putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima. (HR. Muslim, kitab al Imarah, bab Man Qatala li al-Riya wa al-Sumah Istahaqqa al-Naar, no. 1905) Allah menyebutkan beberapa sifat penghuni surga dari orang-orang muttaqin,

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)." (QS. Al-Dzaariyat: 15-18) Ibnu Katsir menyebutkan penafsiran sebagian ulama terhadap ayat terakhir, "Mereka shalat malam dan mengakhirkan (melanjutkannya,-red) istighfar sampaia waktu sahur (menjelang shubuh)." Jadi mereka itu adalah orang-orang yang mengisi hidupnya dengan kebaikan. Mereka banyak amal dengan harta dan fisik mereka. Tapi dipenghujung malam, selepas mengerjakan shalat malam yang panjang, mereka memohon ampun atas dosa dan kesalahan. Imam Ibnul Qayyim berkata, Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Ke raguan dan kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak meninggalkan perintah-Nya." Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj untuk mengucapkan istighfar setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadah haji. Hal ini sebagai penyempurna dan kemuliaan. Allah Taala berfirman:


"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. " (QS. Al Baqarah: 198-199) Syaikh al-Sa'di rahimahullah mengatakan, "Beginilah seharusnya yang dilakukan hamba, setiap selesai dari melaksanakan ibadah dia beristighfar (meminta ampun) kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan berbangga di hadapan Tuhannya." Dalam surat lain Allah menjelaskan,


"(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. " (QS. Ali Imran: 17) Imam al-Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) kepada Allah. Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika NabiShallallaahu 'Alaihi Wasallam selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban) Jangan Bersandar Pada Amal Sebab dari ketertipuan ini adalah sikap bersandar kepada amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Taala. Orang yang melakukan amal ibadah tidak tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun dan Mahapenyayang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radliyallah 'Anhu, RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:


"Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga." Mereka bertanya, "tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah). " (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari) Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada Allah. Tidak layak dia bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya. Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Kisah Tragis Ahli Ibadah yang Mati Su'ul Khatimah


Janganlah kita terlampau puas dengan amal shalih yang sudah kita lakukan dan bersandar padanya. Apalagi diikuti dengan merasa bangga diri dan merasa sudah pasti menjadi ahli surga. Akibatnya, tidak lagi berharap kepada rahmat Allah dan kemurahan-Nya. Sesungguhnya perbuatan hamba ditentukan pada akhir hayatnya. Dan kita tidak tahu di atas kondisi apa mengakhiri kehidupan kita, apakah husnul khatimah (akhir hayat yang baik) atau su'ul khatimah (akhir hayat yang buruk).

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya segala perbuatan ditentukan bagian akhirnya. (HR. Bukhari).

Artinya, barangsiapa yang telah ditetapkan oleh Allah beriman di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya dia kufur dan selalu melakukan maksiat, menjelang kematiannya ia akan beriman. Ia meninggal dalam keadaan beriman dan dimasukkan ke dalam surga. Demikan juga dengan orang yang sudah ditentukan kafir atau fasik di akhir hayatnya, meskipun sebelumnya ia beriman, maka menjelang kematiannya ia akan melakukan kekufuran. Ia meninggal dalam keadaan kufur dan akan dimasukkan ke dalam neraka.

Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dirinya dengan surga hanya hanya tinggal satu hasta, tapi (catatan) takdir mendahuluinya lalu dia beramal dengan amalan ahli neraka, lantas ia memasukinya. Dan sesungguhnya ada salah seorang dari kalian beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya tinggal satu hasta, tapi (catatan) takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli surga, lantas ia memasukinya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Sahl bin Sa'ad al Sa'idi, "Sesunggunya ada seorang dari kalian benar-benar melakukan amalan ahli surga, dalam apa yang nampak kepada manusia. . . ." (HR. Bukhari dan Muslim).

Karenanya, kita harus senantiasa berdoa supaya Allah senantiasa memberikan keteguhan hati di atas kebenaran dan kebaikan serta memberikan kepada kita husnul khatimah. Sebaliknya kita juga berlindung kepada Allah dari su'ul khatimah dan kesudahan yang buruk.

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam senantiasa berdoa,

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati di atas agama-Mu. Dalam riwayat muslim beliau shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya hati semua manusia berada di antara dua jar i Allah, seolah-olah hanya satu hati. Allah berbuat sekehendak-Nya. Lalu beliau berdoa,

Wahai Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu. Sebab Su'ul Khatimah

Ibnu Hajar al Haitami berkata, Sesungguhnya akhir hayat yang buruk diakibatkan bibit keburukan yang terpendam dalam jiwa man usia, yang tidak diketahui orang lain. Kadang-kadang seseorang melakukan perbuatan-perbuatan ahli neraka, namun di dalam jiwanya terpendam bibit kebaikan. Maka, menjelang ajalnya bibit kebaikan itu tumbuh dan mengalahkan kejahatannya. Sehingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah."

Abdul Aziz bin Dawud berkata, Aku hadir pada seseorang yang sedang ditalqin (dibimbing untuk menguca pkan kalimat syahadat), akan tetapi ia tidak mau. Lalu aku bertanya tentang orang ini. Ternyata ia seorang peminum khamer."

Pada kesempatan yang lain ia berkata, Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah."

Berhati-hatilah dengan dosa, karena dosa bisa menjerumuskan seseorang ke dalam su'ul khatimah. Abdul Aziz bin Dawud

Kisah Tragis seorang ahli Ibadah yang mati Su'ul Khatimah

Manshur bin Ammar mengisahkan, dulu kala aku punya seorang teman yang suka melampaui batas, lalu bertaubat. Aku melihat dia banyak beribadah dan shalat tahajjud. Suatu ketika aku putus komunikasi dengannya. Dan menurut kabar dari orang-orang, ia sedang sakit. Maka aku pergi ke rumahnya dan anak perempuannya datang menemuiku. Dia bertanya, Siapa yang engkau ingin temui? Aku menjawab, Si fulan. Maka ia mengizinkanku masuk dan akupun bergegas ke dalam rumah.Aku melihatnya sedang tebaring di atas ranjang yang terletak di tengah rumah. Mukanya terlihat kehitaman, kedua matanya tertutup dan kedua bibirnya bengkak dan menebal.

Aku berkata padanya dengan perasaan takut melihatnya, Wahai saudaraku, perbanyaklah mengucap Laa Ilaaha Illallaah. Ia membu ka kedua matanya dan menatapku dengan penuh kemarahan, lalu ia tak sadarkan diri. Kembali kuulangi perkataanku kedua kalinya, wahai saudaraku perbanyaklah mengucap Laa Ilaaaha Illallaah. Pada saat aku mengulanginya untuk ke tiga kalinya, lalu ia membuka matanya dan berkata, Wahai Manshur, s audaraku, kalimat ini telah menjauh dariku.

Aku bergumam, "Tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan izin Allah, Dzat Mahatinggi dan Mahamulia."

Kemudian aku bertanya padanya, wahai saudaraku, di manakah shalat, puasa, tahajud dan shalat malammu?

Ia menjawab, Aku melakukan semua itu bukan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala dan taubatku hanyalah taubat palsu. Sebenarnya aku melakukan semua itu supaya aku dikenal dan disebut-sebut orang, aku melakukannya dengan maksud pamer kepada orang lain. Bila aku menyepi seorang diri, aku masuk ke dalam rumah dan memasang tirai-tirai, lalu aku minum khamer dan menantang Tuhan dengan kemaksiatan-kemaksiatan. Aku terus melakukan itu sampai beberapa masa. Kemudian aku ditimpa penyakit hingga hampir binasa. Saat itu juga aku suruh anak perempuanku, ambilkanlah aku mushaf! dan aku berdoa, Ya Allah, demi kebenaran Al-Quran yang agung, sembuhkanlah aku! Dan aku berjanji tidak akan kembali melakukan dosa untuk selamanya. Maka Allah membebas kanku dari penyakit.

Setelah sembuh, aku kembali kepada keadaan semula, hidup berpoya-poya dan berhura-hura. Syetan telah membuatku lupa dengan perjanjian yang telah kuikrarkan kepada Tuhanku. Aku terlena dalam keadaan itu sampai beberapa saat lamanya hingga aku menderita sakit hampir mati karenanya. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti biasanya. Kemudian aku suruh mereka mengambilkan mushaf dan aku mulai membacanya. Lalu aku acungkan mushaf itu seraya berdoa, Ya Allah, demi kehormaan kalam -Mu yang ada dalam mushaf ini, bebasknalah aku dari penyakitku!. Maka Allah mengabulkan permintaanku dan menyembuhkan penyakitku.

Kemudian aku kembali hidup bersenang-senang dan akupun jatuh sakit lagi. Lalu aku perintahkan keluargaku membawaku ke tengah-tengah rumah seperti yang engkau lihat sekarang ini. Kemudian aku menyuruh mereka mengambilkan mushaf untuk kubaca, tetapi mataku sudah tidak bisa melihat saru huruf-pun. Aku pun menyadari bahwa Allah sudah murka kepadaku. Lalu aku acungkan mushaf itu di atas kepalaku sembari memohon, Ya Allah, demi ke hormatan mushaf ini, bebaskalah aku dari penyakit ini, wahai penguasa bumi dan langit! Tiba-tiba aku mendengar seperti suara memanggil, engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engkau telah binasa di dalam kesalahan -kesalahan.

Engkau bertaubat tatkala engkau sakit, dan engkau kembali kepada perbuatan dosa tatkala engkau sembuh. Betapa banyak Dia menyelamatkanmu dari kesusahan, dan betapa bayak Dia menyingkap bala cobaan tatkala engkau diuji. Tidaklah engkau takut dengan kematian? Dan engk au telah binasa di dalam kesalahan-kesalahan.

Manshur bin Ammar berkata, sungguh demi Allah aku keluar dari rumahnya dengan air mata tertumpah merenungkan ibrah yang ba ru kulihat, dan belum sampai di pintu rumahku, sampailah kabar bahwa dia sudah meninggal.