Anda di halaman 1dari 28

Warsito

Menjelaskan perkembangan ilmu fisika Mengidentifikasi tahapan penemuan fundamental dalam bidang fisika Menguraikan beberapa contoh reel hasil teknologi sebagai konsekuensi perkembangan ilmu fisika

Pada hakekatnya manusia selalu ada rasa ingin tahu. Ini muncul sejak manusia masih dalam kandungan sang ibu hingga mereka menjalani kehidupan ini. Pengalaman menambah pengetahuan, tetapi tidak otomatis manusia yang sudah berpengalaman memiliki persentuhan alam dengan inderanya, otomatis dikatakan berpengetahuan. Jadi, pengalaman semata tidak otomatis mendatangkan pengetahuan. Pengetahuan baru ada apabila demi pengalamannya manusia bisa memberikan putusan. Ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang diperoleh melalui prosedur ilmiah. Ilmu harus universal, metodis, sistematis dan obyektif.

Universal, artinya berlaku kapan pun dan dimana pun.Ilmu adalah mencari sesuatu yang bersifat umum, bukan khusus. Dari suatu ilmu yang bersifat umum ini akan terlahir apa yang kita sebut sebagai teori. Teori masih harus diuji kebenarannya. Sebuah teori yang sudah tidak terbantahkan kebenarannya menjadi hukum. Misalnya hukum gravitasi, hukum Newton dan sebagainya.

Metodis artinya hanya pengetahuan yang memenuhi sejumlah tatacara tertentu yang layak disebut ilmu, karena ilmu tidak dibangun secara kebetulan:ada metode dan ada tatacaranya. Tatacara ini ditempuh seorang ilmuwan, agar ilmunya bisa diuji dan diuji lagi oleh ilmuwan lain: diverifikasi bukan secara kebetulan walau idenya bisa saja datang secara kebetulan yang lazim disebut inspirasi. Tatacara ilmiah ini disebut sebagai metode ilmiah.

Sistematis, artinya ilmu bersifat sistematis, tersusun dalam satu rangkaian sebab akibat. Sistematis dapat juga diartikan masuk akal atau logis. Dengan kata lain ilmu itu tidak acak-acakan, tidak ruwet asal-asalan, melainkan tertib dan teratur dengan logika berpikir yang juga tertib dan teratur. Tampaknya dapat dikatakan bahwa jika suatu kesimpulan diperoleh secara sistematis, maka hal tersebut adalah ilmu, tetapi tidak semua yang benar diperoleh secara ilmiah misalnya kebenaran wahyu.

Ilmu bersifat objektif, tidak subjektif. Persoalannya adalah apa itu objektif? Apa pula subjektif? Yang dicari ilmu adalah kebenaran. Sesuatu dinyatakan objektif apabila yang menyatakan benar adalah fakta dan data yang melekat pada objeknya. Sebaliknya, sesuatu dikatakan subjektif jika yang menyatakan benar

Sciences : celui qui pense (berfikir, hasil olah fikir) Technique : celui qui reagir (aksi, hasil olah fisik) Saling ketergantungan dan tidak independen filsafat adalah jenis pengetahuan manusia yang mencoba mencari sebab yang sedalam-dalamnya dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Dalam mencari sebab yang sedalam-dalamnya itu kita bersifat kritis. Kritis artinya tidak mudah percaya. Ctt: kecuali keyakinan.

Perkembangan sains tidak terlepas dari perkembangan peradaban manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk filsafat di masyarakat. Sejarah mencatat pada abad ke dua puluh ini terjadi perubahan besar. Semua perubahan tersebut berkembang dari filsafat yang dianut oleh manuasia hampir di seluruh dunia di masa sebelumnya. Kehidupan sekarang diwarnai oleh ipteks yang memaksa masyarakat banyak atau masyarakat awam belajar tata kehidupan berteknologi. Ilmu pengetahuan merupakan suatu proses pemikiran dan analisis yang rasional, sistematik, logis, dan konsisten. Tujuan luhur ilmu pengetahuan adalah untuk menyejahterakan umat manusia. Ilmu pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru. Perkembangan ilmu pengetahuan akan mendorong kemajuan teknologi. Teknologi yang berkembang pun akhirnya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan tersebut, mk berkembanglah ilmu teknik/rekayasa yang kemudian melahirkan teknologi. Teknologi tersebutlah yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Fisika (Bahasa Yunani: (physikos), "alamiah", dan (physis), "Alam") adalah sains atau ilmu tentang alam dalam makna yang terluas. Mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Mempelajari perilaku dan sifat materi: partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu kesatuan kosmos.

Fisika Masa Aristoteles Aristoteles (350 SM) merupakan seorang filsuf Yunani pertama yang menyodorkan prinsip-prinsip dasar yang abstrak berkaitan dengan alam. Ada beberapa pendapat Aristoteles yang berkaitan dengan fisika adalah ungkapannya yang terkenal, yang pertama adalah bahwa semua gerakan digerakkan oleh sesuatu. Gerak pada sebuah jarak tertentu adalah tidak mungkin terjadi tanpa adanya keterkaitan yang melekat atau terikat secara terus menerus antara yang digerakkan dan yang menggerakkan. Sehingga apabila muncul pertanyaan berikutnya, Bagaimana dengan benda jatuh? hal tersebut tidak akan dapat terjawab oleh Aristoteles.

Fisika, dengan mendasarkan pada Aristoteles bukanlah sebagai ilmu kuantitatif yang sebenarnya, akan tetapi dia telah mempercayai logika dan observasi, ratusan tahun sebelum Francis Bacon memperkenalkan metode ilmiah pada sebuah eksperimen yang disebut dengan vexation of nature. Aristoteles telah melihat perbedaan antara gerak alamiah (natural motion) dan gaya alamiah (force motion), dan dia percaya bahwa pada keadaan hampa udara tidak ada alasan sebuah benda bergerak secara alamiah dari sebuah posisi sebelumnya. Kesimpulan berikutnya membawa keyakinan padanya bahwa sebuah benda akan tetap diam atau bergerak tidak berhingga cepatnya pada ruang hampa udara. Dalam hal ini Aristoteles merupakan orang yang pertama mendekati hukum inersia. Namun walaupun begitu dia percaya bahwa tidak ada ruang vakum karena udara disekitar ruang vakum akan segera mengisi kekosongan ruang tersebut.

Aristoteles juga mempercayai bahwa bintang dan planet tersusun dari materi yang berbeda dengan materi penyusun bumi (yang disebutnya sebagai eter). Kepercayaannya tersebut merupakan pengaruh dari pendapat Plato dalam pembahasan gerak melingkar sempurna dari langit (On the Heavens). Pernyataan bahwa gerak sempurna tersebut menghasilkan hukum alam yang sempurna di angkasa, berkebalikan dengan bumi yang selalu berubah elemen-elemennya sehingga setiap individu datang atau lahir dan kemudian mati. Secara logika pendapat tersebut mendekati kepercayaan bahwa di dunia seseorang akan dilahirkan dan kemudian mati, tetapi di akhirat atau surga segalanya akan kekal.

Pada tahun 1632 Galileo menulis sebuah buku dengan judul Dialogue Concerning the Two Chief World System, yang merupakan rangkuman dari perdebatan astronomi aliran Copernicus dengan aliran Ptolemeus. Terlepas dari perdebatan kedua aliran tersebut yang mewarnai perkembangan mekanika saat itu, Galileo memformulasikan relativitas dari gerak yang menerangkan alasan kenapa kita tidak jatuh kebawah atau terlempar di saat yang bersamaan dengan berputarnya bumi. Pengembangan teleskop dan hasil pengamatan Galileo pada perkembangannya memperjelas bahwa langit atau alam semesta tidaklah bersifat tetap, dengan materi yang tidak berubah. Bersandar pada hipotesis heliosentris Copernicus, Galileo percaya bahwa bumi sama seperti planet yang lain.

Hal menarik tentang Galileo adalah eksperimen yang telah dilakukannya di menara Pisa dengan menjatuhkan dua bola besi (walaupun ada pendapat bahwa keabsahan telah dilakukannya eksperimen tersebut oleh Galileo diragukan, secara teori dan percobaan telah menunjukkan bahwa keduanya sampai di tanah pada waktu yang sama). Galileo berargumentasi bahwa dengan mengabaikan hambatan udara, sebuah benda dengan massa berapapun yang jatuh, percepatannya akan tetap. Selain menghasilkan teori gerak dipercepat yang didasarkan pada hasil eksperimen kuantitatif yaitu dengan menggelindingkan bola pada sebuah bidang miring. Galileo juga menemukan bahwa benda yang dijatuhkan secara vertikal akan sampai ditanah pada waktu yang sama dengan bila benda tersebut diproyeksikan secara horisontal, sehingga dangan rotasi seragam dari bumi, sebuah benda yang jatuh ke tanah akan terpengruh oleh gravitasi bumi. Lebih signifikan lagi, hal tersebut dapat menerangkan gerak tetap suatu benda yang tidak dapat dipisahkan dari keadaan diamnya, yang merupakan dasar dari teori reltivitas (seperti yang telah disebutkan di atas).

Fisika Masa Isaac Newton Sir Isaac Newton adalah orang pertama yang menyatukan kerja Galileo dan orang-orang lain yang tergabung dalam kelompok Terrestrial Mechanics (Falling Bodies) dengan kerja dari Kepler dan orang-orang lainnya yang tergabung dalam Celestial Mechanics (Gerak Planetplanet). Bukunya berjudul Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, yang dipublikasikan pada tahun 1687, memformulasikan tiga hukum dari gerak: 1. Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare. Setiap benda tetap dalam keadaannya, tetap diam atau tetap bergerak lurus kedepan, kecuali ada gaya yang merubah keadaannya. 2. Lex II: Mutationem motus proportionalem esse vi motrici impressae, et fieri secundum lineam rectam qua vis illa imprimitur. Rata-rata perubahan momentum suatu benda sebanding dengan resultan gaya yang bekerja pada benda dengan arah yang sama. 3. Lex III: Actioni contrariam semper et aequalem esse reactionem: sive corporum duorum actiones in se mutuo semper esse aequales et in partes contrarias dirigi. Semua gaya terjadi berpasangan, dan kedua gaya tersebut sama besar dan berbeda arah.

Ketiga hukum tersebut kemudian menjadi pilar dari Mekanika Klasik, yang berlaku baik pada benda-benda di bumi maupun benda-benda angkasa. Newton dan banyak ilmuwan lainnya, kecuali Christiaan Huygens, berharap bahwa mekanika akan dapat menjelaskan seluruh entitas, termasuk cahaya dalam bentuk optik geometri. Newton juga mengembangkan kalkulus yang diperlukan dalam perhitungan mekanika klasik. Terpisah dari Newton, secara mandiri Gottfried Leibniz mengembangkan sebuah kalkulus dengan notasi turunan dan integral yang digunakan sampai saat ini. Selanjutnya Leonard Euler mengembangkan hukum-hukum gerak Newton dari partikel ke rigid bodies dengan menambah dua hukum lagi. Setelah era Newton, secara progressif dilakukan re-formulasi untuk solusi-solusi masalah yang melibatkan ekspansi numerik yang lebih tinggi. Yang pertama dilakukan oleh Joseph Louis Lagrange (1788), matematikawan Italia-Prancis. Mekanika Lagrange adalah solusi yang menggunakan lintasan gerak terpendek dan mengikuti kalkulus variasi. William Rowan Hamilton memformulasikan ulang mekanika Lagrangian pada tahun 1833. Hampir keseluruhan bidang kerja mekanika Hamiltonian dapat di lihat pada mekanika kuantum, walaupun arti sesungguhnya dari bentuk Hamiltonian berbeda dengan efek-efek pada kuantum.

Fisika Menurut Maxwell James Clerk Maxwell menjadi peletak dasar teori gelombang elektromagnetik. James Clerk Maxwell (lahir di Edinburgh, 13 Juni 1831 meninggal di Cambridge, 15 November 1879) adalah fisikawan Skotlandia yang pertama kali menulis hukum magnetisme dan kelistrikan dalam rumus matematis. Pada tahun 1864, ia membuktikan bahwa gelombang elektromagnetik ialah gabungan dari osilasi medan listrik dan magnetik. Maxwell mendapati bahwa cahaya ialah salah satu bentuk radiasi elektromagnetik. Ia juga membuka pemahaman tentang gerak gas, dengan menunjukkan bahwa laju molekul-molekul di dalam gas bergantung kepada suhunya masingmasing.

Meskipun jauh sebelumnya keterkaitan medan listrik dan magnet telah diselidiki, namun Maxwelllah yang berhasil menjabarkan secara tepat mengenai perilaku dan hubungan antara medan listrik dan magnet. Sekitar tahun 1862, di London, Maxwell menghitung bahwa kecepatan propagasi elektromagnetik dari sebuah lapangan yang diperkirakan dari kecepatan cahaya. Dia mengusulkan bahwa fenomena cahaya itu adalah sebuah fenomena elektromagnetik. Maxwell menulis kata-kata yang benar-benar luar biasa: Kami sulit menghindari kesimpulan bahwa cahaya terdiri dari modulasi yang sama yang merupakan penyebab fenomena listrik dan magnet

Nilai terpenting dari pendapat Maxwell yang baru itu adalah banyak persamaan umum yang bisa terjadi dalam semua keadaan. Semua hukum-hukum listrik dan magnet yang sudah ada sebelumnya dapat dianggap berasal dari pendapat Maxwell, begitu pula sejumlah besar hukum lainnya, yang dulunya merupakan teori yang tidak dikenal. Dari pendapat Maxwell ini dapat diperlihatkan betapa pergoyangan bolak-balik bidang elektromagnetik secara periodik adalah sesuatu hal yang bisa terjadi. Gerak bolak-balik seperti pendulum ini disebut gelombang elektromagnetik, yang bilamana sekali digerakkan akan menyebar terus hingga angkasa luar. Dari pendapatpendapat ini mampu menunjukkan bahwa kecepatan gelombang elektromagnetik itu mencapai sekitar 300.000 kilometer (186.000 mil) per detik. Maxwell mengetahui bahwa ini sama dengan ukuran kecepatan cahaya. Dari sudut pandang ini dia dengan tepat mengambil kesimpulan bahwa cahaya itu sendiri terdiri dari gelombang elektromagnetik.

Jadi, pendapat Maxwell bukan semata merupakan hukum dasar dari kelistrikan dan kemagnetan, tetapi juga sekaligus merupakan hukum dasar optik. Sesungguhnya, semua hukum terdahulu yang dikenal sebagai hukum optik dapat dikaitkan dengan pendapatnya, juga banyak fakta dan hubungan dengan hal-hal yang dulunya tidak terungkapkan. Cahaya yang tampak oleh mata bukan semata jenis yang memungkinkan radiasi elektromagnetik. Pendapat Maxwell menunjukkan bahwa bisa saja adagelombang elektromagnetik lain, berbeda panjang gelombang dan frekuensinyadengan cahaya yang tampak oleh mata. Kesimpulan teoritis ini secara mengagumkan diperkuat oleh Heinrich Hertz, yang sanggup menghasilkan dan menemui kedua gelombang yang tampak oleh mata yang diramalkan oleh Maxwell itu. Beberapa tahun kemudian Guglielmo Marconi memperagakan bahwa gelombang yang tak terlihat mata itu dapat digunakan buat komunikasi tanpa kawat sehingga menjelmalah apa yang dinamakan radio itu. Saat ini, yang kita gunakan untuk televisi, sinar X, sinar gamma, sinar infra, sinar ultraviolet adalah contoh-contoh dari radiasi elektromagnetik. Semuanya bisa dipelajari lewat hasil pemikiran Maxwell.

Maxwell mendeskripsikan sifat-sifat medan listrik dan medan magnet, dan hubungannya dengan sumber-sumbernya, muatan listrik dan arus listrik melalui himpunan empat persamaan diferensial parsial menurut teori elektrodinamika klasik. Keempat persamaan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Secara terpisah, keempat persamaan ini masing-masing disebut sebagai Hukum Gauss, Hukum Gauss untuk magnetisme, Hukum induksi Faraday, dan Hukum Ampere.

Hukum Gauss menerangkan bagaimana muatan listrik dapat menciptakan dan mengubah medan listrik. Medan listrik cenderung untuk bergerak dari muatan positif ke muatan negatif. Hukum Gauss adalah penjelasan utama mengapa muatan yang berbeda jenis saling tarik-menarik, dan yang sama jenisnya tolak-menolak. Muatan-muatan tersebut menciptakan medan listrik, yang ditanggapi oleh muatan lain melalui gaya listrik

Hukum Gauss untuk magnetisme menyatakan tidak seperti listrik tidak ada partikel "kutub utara" atau "kutub selatan". Kutub-kutub utara dan kutub-kutub selatan selalu saling berpasangan.

Hukum induksi Faraday mendeskripsikan bagaimana mengubah medan magnet dapat menciptakan medan listrik. Ini merupakan prinsip operasi banyak generator listrik. Gaya mekanik (seperti yang ditimbulkan oleh air pada bendungan) memutar sebuah magnet besar, dan perubahan medan magnet ini menciptakan medan listrik yang mendorong arus listrik yang kemudian disalurkan melalui jala-jala listrik.

Hukum Ampere menyatakan bahwa medan magnet dapat ditimbulkan melalui dua cara: yaitu lewat arus listrik (perumusan awal Hukum Ampere), dan dengan mengubah medan listrik (tambahan Maxwell). Ada dua perumusan umum persamaan Maxwell. Kedua-duanya ekivalen. Perumusan pertama memisahkan muatan terikat dan arus terikat (yang muncul dalam konteks dielektrik dan/atau bahan magnet) dari muatan bebas dan arus bebas. Pemisahan ini berguna untuk perhitungan yang melibatkan bahan dielektrik dan magnet. Perumusan kedua memperlakukan semua muatan secara setara, menggabungkan baik muatan bebas dan terikat ke dalam muatan total (dan hal yang sama juga berlaku untuk arus). Ini adalah pendekatan yang lebih mendasar atau mikroskopis, dan terutama berguna bila tidak ada bahan dielektrik atau magnetik

Persamaan Maxwell secara umum diterapkan pada rata-rata makroskopik dari medan, yang sangat bervariasi pada skala mikroskopik di sekitar masingmasing atom (di tempat tersebut medan juga mengalami efek kuantum). Hanya bila dipahami sebagai rata-rata kita dapat mendefinisikan besaran seperti permitivitas dan permeabilitas magnet bahan. Pada aras mikroskopik, persamaan Maxwell, dengan mengabaikan efek kuantum, mendeskripsikan medan, muatan dan arus dalam ruang hampa, namun pada level rincian ini kita harus memperhitungkan setiap muatan, bahkan pada level atomik, yang secara umum merupakan masalah yang tidak terpecahkan.