Anda di halaman 1dari 20

KUMPULAN Pidato Presiden

Kumpulan Pidato
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono

KUMPULAN Pidato Presiden


ORASI ILMIAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR-JAWA BARAT, 4 NOVEMBER 2008

97

98

KUMPULAN Pidato Presiden


Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua, Yang saya hormati, Saudara Menteri Pendidikan Nasional, dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para Pimpinan Lembaga-Lembaga Pemerintah Non Departemen, pimpinan Badan-Badan Usaha Milik Negara, Yang saya hormati Saudara Gubernur Jawa Barat, dan para pimpinan dan pejabat negara yang bertugas di Jawa Barat, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan Polri, Yang saya hormati Saudara Rektor IPB dan para Pimpinan Perguruan Tinggi yang turut hadir dalam acara ini, Yang saya hormati para mantan rektor, para sesepuh, para tamu kehormatan, Saudara Pimpinan dan para Anggota Majelis Wali Amana, pimpinan dan anggota senat akademik, pimpinan dan anggota Dewan Guru Besar, pimpinan dan anggota Dewan Audit, Yang saya hormati para Pejabat Rektorat, para Dosen, para mahasiswa, para pegawai negeri dan segenap civitas akademika Institut Pertanian Bogor, Yang saya cintai, hadirin sekalian yang saya muliakan, Marilah pada kesempatan yang baik, dan insya Allah penuh berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita semua masih diberi kesempatan, kekuatan, dan semoga kesehatan, untuk melanjutkan ibadah kita, karya kita, serta tugas dan pengabdian kita kepada masyarakat bangsa dan negara tercinta. Kita juga bersyukur kehadirat Allah SWT karena hari ini dapat bersama-sama bertemu di ruangan ini untuk meningkatkan pengabdian kita bersama, kepada negara dan bangsa. Atas nama negara, atas nama Pemerintah, dan selaku pribadi, saya mengucapkan selamat Dies Natalis kepada Institut Pertanian Bogor, semoga kedepan Lembaga Pendidikan yang kita cintai dan banggakan bersama ini dapat lebih meningkatkan prestasi, kinerja, dan pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

KUMPULAN Pidato Presiden


Saya juga mengucapkan terima kasih atas kontribusi IPB selama ini dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta menyukseskan pembangunan nasional. Secara khusus saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya sebagaimana disampaikan oleh Saudara Rektor tadi, begitu banyak capaian prestasi, dan hasil penelitian serta inovasi yang dilakukan oleh Keluarga Besar IPB baik dalam bidang pertanian maupun non pertanian. Saya berharap, Saudara-saudara agar IPB terus menjadi wold class university. Agar IPB juga terus menjadi Institut riset bertaraf Internasional. Agar IPB Lembaga yang paling depan dalam studi dalam bidang pertanian. Dan yang ke empat atau yang terakhir, adalah menjadi harapan kita, IPB menjadi pelopor dalam gerakan ketahanan pangan. Saya kira cukup, nanti kalau terlalu banyak peran dan tugasnya, jangan-jangan ada yang bilang ini Institut kok fleksible banget ini. Memang alumnus IPB ada yang bekerja di sawah dan di ladang-ladang pertanian, ada yang bekerja di Bank, ada yang jadi penyanyi, dan penyair. Ada juga yang seperti saya yang kebanyakan pekerjaan rumah. Oleh karena itu, marilah kita satukan energi kita, tekad kita untuk memberikan kontribusi yang terbesar kepada bangsa dan negara. Hadirin yang saya muliakan, Kini saya akan masuk pada substansi orasi ilmiah saya. Saya ingin mengedepankan secara lebih ringkas dan memuat hal-hal yang esensial, karena topik yang ingin saya kedepankan sesungguhnya berdimensi amat luas. Namun demikian saya akan batasi sekali lagi pada hal-hal yang paling esensial, Saudara Rektor telah mengemukakan tadi bahwa judul pidato ilmiah ini adalah Ekonomi Indonesia abad 21 Menjawab Tantangan Globalisasi saya mulai dengan dua cerita singkat. Pertama pada tanggal 1 Syawal 1429 H. Kemarin setelah saya bersamasama yang lain bersholat Idul Fitri di Masjid Istiqlal Jakarta, saya kembali ke Istana Negara, kemudian sungkem dan berhalal bihalal kepada ke dua orang tua kami, ibunda saya, ibunda istri saya. Sebelum saya menerima ucapan atau halal-bihalal dengan rakyat yang hadir waktu itu, saya mengeluarkan statement di depan media massa, yang intinya menyerukan kepada Amerika Serikat, menyerukan kepada

99

100

KUMPULAN Pidato Presiden


negara-negara maju untuk betul-betul bisa mengatasi krisis keuangan yang bermula dari Amerika Serikat dan merembet ke negara-negara lain itu dengan penuh tanggungjawab. Segera setelah itu ketika ada libur nasional kami bekerja siang dan malam. Maraton sampai Saudara-saudara mengikuti, saya keluarkan 10 intsruksi Presiden untuk mengelola dampak krisis ini dan kemudian dilanjutkan hingga hari ini pengelolaannya termasuk menetapkan 10 kebijakan, langkah, dan aksi-aksi Pemerintah. Semuanya itu kami lakukan, tapi menyisakan satu Pertanyaan kunci, mengapa? Indonesia harus menanggung beban. Mengapa Negara kita menjadi, atau ikut dihukum, oleh satu krisis keuangan yang bak gelombang tsunami episentrumnya di Amerika Serikat, kemudian bergerak kemana-mana, sampai ke tanah air kita. Pertanyaan ke dua, mengapa tatanan keuangan global begitu tidak amannya, kita tahu masih dalam ingatan kita bahwa sejumlah krisis telah terjadi di dunia ini. Kita masih ingat the critic present tahun 1919-1929 sebelum perang dunia ke dua. Kita mengetahui ada krisis harga minyak OPEC 1973, 10 tahun yang lalu Asia mengalami krisis dan sekarang dipicu oleh krisis keuangan di Amerika, duniapun harus kembali mengalami resesi ekonominya. Mengapa tatanan keuangan global, sekali lagi begitu tidak stabil, dan begitu tidak aman. Ini pertanyaan kritis pertama yang saya kedepankan kehadapan saudara semuanya. Cerita yang ke dua, yang nanti juga akan masuk kepertanyaan kunci yang kedua adalah beberapa bulan yang lalu kami berkumpul di Yogyakarta. Saya mengundang jajaran Pemerintah, jajaran dunia usaha, para ekonom dan teman-teman yang lain, untuk membahas bagaimana Indonesia bisa mengelola krisis pangan dan krisis energi yang terjadi tahun ini, atau tepatnya beberapa bulan yang lalu. Kembali kita disadarkan, krisis seperti ini masih bisa terjadi kapan saja. Tentu saja waktu itu semangat kita bagaimana mengubah dari krisis menjadi peluang from crisis to opportunity. Kita membahas secara mendalam ada cetak biru, ada road map, bagaimana ke depan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, kita betul-betul membangun ketahanan pangan dan ketahan energi kita. Karena Saudara-saudara saya kira semua setuju dengan saya, tidak ada kamus Indonesia kekurangan pangan dan kekurangan

KUMPULAN Pidato Presiden

101

102

KUMPULAN Pidato Presiden


energi, apabila sumber daya yang kita miliki resources yang ada di negeri ini kita kelola sebaik-baiknya. Pertanyaan kunci dari itu adalah mengapa pula dunia tiba-tiba mengalami krisis pangan, dan krisis energi, dan ini yang menjadi dongeng atau bidang perhatian IPB bagaimana ke depan Indonesia bisa meningkatkan ketahanan pangan dan energinya. Saudara-saudara, Dengan dua cerita ini, dengan dua ilustrasi ini saya mengajak forum yang mulia itu untuk bersama-sama memikirkan secara mendalam, atau katakanlah melakukan enquire tentang globalisasi dan tatanan perekonomian dunia. Termasuk sistem atau arsitektur keuangan global yang berlaku dewasa ini. Mari kita melakukan enquire memikirkan pula bagaimana bangun ekonomi Indonesia mendatang, yang tentu membawa kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dan mampu menjawab tantangan globalisasi. Itulah isu-isu besar yang akan menjadi bahasan utama dalam orasi ilmiah saya hari ini. Kepada segenap hadirin, karena ini forum akademik, saya sampaikan bahwa orasi ilmiah saya ini satu bukan untuk menjelaskan konprehensif, kebijakan dan strategi perekonomian kita. Yang ke dua juga bukan untuk menguraikan detail kebijakan sektoral, seperti kebijakan pangan dan pertanian, kebijakan energi dan sumber daya mineral, Yang ketiga juga bukan untuk menganalisis krisis keuangan global yang terjadi dewasa ini termasuk policy responds dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemerintah, Dan yang ke empat, juga bukan berisi retorika-retorika yang mengdiskreditkan, atau mencemooh ideologiideologi ekonomi yang ada di dunia ini, seperti kapitalisme, sosialisme, komunisme. Empat bukan tadi, sering saya angkat pandangan saya posisi Indonesia di berbagai forum, Menteri-menteri terkait juga sering menjelaskan seluk-beluk tentang hal-hal itu. Yang ingin saya sampaikan pada orasi ilmiah ini adalah pandangan dan pemikiran saya yang berkenaan dengan isu besar, isu yang fundamental yang sudah saya singgung di awal pidato tadi.

KUMPULAN Pidato Presiden


Pertama menyangkut globalisasi dan tatanan perekonomian dunia yang, banyak yang menilai sebagai tatanan yang tidak aman, tidak adil, dan tidak menjanjikan kemakmuran bersama, Yang kedua, isu yang mendasar adalah arah dan bangun perekonomian Indonesia seperti apa? Kedepan ini yang tepat dan sustainable dan sekaligus bisa merespon tantangan globalisasi. Ada catatan kecil saya Saudara-saudara meskipun ini orasi ilmiah, Saudara Rektor ijinkan saya untuk menggunakan bahasa yang populer, bahasa yang barangkali lebih mudah dimengerti. Karena saya tidak ingin menghadirkan kompleksitas, ataupun pendekatan akademik yang berlebihan. Insya Allah setelah orasi ini, saya minta bantuan dari IPB dan Brighton Institut, orasi ilmiah ini bisa dibukukan. Disitu bisa dikedepankan, analisis yang lebih mendalam, statistik yang sehubungan, maupun model barangkali yang diperlukan untuk menjustifikasi pikiran-pikiran yang ingin saya kedepankan ini. Tapi bukan pada forum ini semua itu akan saya sampaikan. Sedangkan makna ilmiah, karena orasi ilmiah. Ilmiahnya barangkali, saya ingin menyampaikan semua itu berangkat dari common sense, dari akal sehat. Karena ekonomi itu common sense, politik itu common sense, pertahanan negara juga supaya aman juga common sense. Kalau itu kita gunakan insya Allah akan ketemu. Dan bagi yang senang dengan sejarah ekonomi Adam Smith dalam dua bukunya yang terkenal menjadi klasik, yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth Nations dan yang ke dua yang sekarang dibaca adalah The Theory of Moral Sentiments itu duaduanya berangkat dari common sense yang tentu hidup pada abad 18 waktu itu. Saudara-saudara, Dalam konteks itulah, dalam pendekatan itulah akan saya teruskan orasi ilmiah saya. Saya harus mengajak hadirin sekalian memahami perkembangan dan dinamika lingkungan global. Karena disitulah tempat negara kita hidup dan berkembang. Dari situlah kita menghadapi tantangan-tantangan. Kita harus paham, kita berpikir dalam konteks, dengan demikian yang kita lakukan, solusi yang kita pilih tentunya,

103

104

KUMPULAN Pidato Presiden


tentunya solusi yang lebih sustainable dan sesuai dengan lingkungan keadaan yang ada. Kembali kita perlu bertanya, ada apa sebetulnya dengan bumi, dan dunia kita, ada apa? Our wold, our planet, saya tidak ingin menguraikan secara panjang lebar, tetapi ada tiga buku yang ditulis oleh orang-orang yang credible, yang bisa menggambarkan whats going on in our world, our planet dewasa ini. Pertama,Tom Friedman ada buku yang baru terbit yang berjudul Hot Flatnd Crowded Planet. Tentu dengan solusi bagaimana menyelamatkan bumi ini Jeffry D Sachs yang menyusun buku The End of Poverty, buku yang terbaru adalah The commonwealth sama kecemasan terhadap apa namanya, pemanasan global. Kemudian Al Gore saudara tahu semua The Inconvenient Truth, kebetulan saya sudah bertemu dengan ketigatiganya dan sudah berdiskusi. Mereka, mereka bertiga mewakili ribuan orang di dunia ini yang cemas kalau buminya tidak selamat karena perubahan iklim dan pemanasan global. Saya tidak akan masuk kesitu, karena kita sama-sama mengetahui. Yang ke dua Saudara-saudara, ada ratusan buku yang mengupas tematema seperti ini, bahayanya globalisasi, runtuhnya kapitalisme global, bagaimana membikin globalisasi itu membawa manfaat bagi semua. Bagaimana mengurangi kemiskinan global. Kemudian bagaimana pula pembangunan ekonomi yang tidak merusak lingkungan. Artinya mereka memandang bahwa tatanan perekonomian dunia termasuk tatanan keuangan dunia, dipandang tidak adil, tidak menjamin kemajuan, dan kemakmuran bagi semua bangsa. Tentu saja ada anti tesis ada ratusan buku juga yang mengatakan globalization is working well, globalisasi itu baik-baik saja. Di sinilah akan memperkaya cakrawala kita, khasanah kita, pemahaman kita, tentang dunia yang tengah berubah, dan terus berubah dewasa ini. Kemudian yang ke tiga, masalah kembali whats going on di bumi dan dunia kita ini. Ada yang, saya kira kita banyak yang telah membaca, ratusan buku yang mengupas krisis-krisis yang terjadi, di abad 20 maupun abad 21 ini. Mulai dari .. sampai krisis yang terjadi sekarang ini. Artinya kita berkesimpulan bahwa arsitektur keuangan global memang belum dikatakan aman, tidak stabil, dan setiap saat bisa mendatangkan krisis.

KUMPULAN Pidato Presiden


Saudara-saudara, Dari kontruksi pemikiran seperti itu, maka kalau kita mengambil kesimpulan besar, kesimpulan yang pertama adalah, bumi kita dalam keadaan bahaya, jika climate change dan global warming itu terus berjalan tanpa ada upaya untuk menghentikan, atau menguranginya paling tidak. Disini diperlukan kemitraan dan kerjasama global. Kemudian dalam kaitan ini saya sudah menyampaikan pandangan kita, pandangan Indonesia, pandangan saya, di berbagai forum di Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk konferensi tentang climate change di Bali beberapa saat yang lalu. Kesimpulan besar ke dua dan ke tiga adalah memang, tatanan perekonomian dunia, tatanan keuangan dunia, harus diperbaiki dan ditata kembali. Agar lebih aman dan stabil, agar lebih adil dan memberikan manfaat secara merata pada semua bangsa. Saudara-saudara, Mari kita lanjutkan untuk memerangi bersama secara ringkas masalahmasalah itu. Apa sebab mendasar dari persoalan yang pelik yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia tersebut. Kemudian setelah itu, setelah kita paham sebab-sebab mendasar, akarakar masalahnya bagaimana kita memperbaikinya agar sistem itu menjadi lebih baik. Akar dan penyebab utama dari tidak stabil, tidak aman, dan tidak adilnya perekonomian dunia adalah, satu di dunia ini banyak berlangsung atau terjadi yang disebut dengan imbalances, ketimpangan yang mendasar. Ketimpangan antara negara kuat, negara maju dan negara kaya dengan negara lemah, negara terbelakang dan negara miskin. Mismatch, atau ketimpangan antara supply dengan demand, antara global production dengan global consumption. Ketimpangan atau ketidakmerataan bagi yang memiliki sumber daya alam dari negara-negara di dunia ini. Teknologi maupun capital termasuk financial capital. Kemudian power arrangement yang juga menyiratkan sesuatu yang tidak simetris, tidak membangun level playing field misalnya negara maju, negara belum maju, termasuk betapa besar dan kuatnya peran multinational cooperations.

105

106

KUMPULAN Pidato Presiden


Saudara-saudara, Krisis energi yang baru terjadi sekarang pun ekornya masih kita rasakan, mengapa itu? Apakah itu mismatch antara supply dengan demand atau memang ada spekulasi yang luar biasa. Krisis pangan, apa betul ada kekurangan pangan karena penduduk bumi 6,6 miliar. Apakah mismatch antara global supply dengan global demand. Apakah itu karena inflasi yang disebut dengan cost plus inflation sehingga harga pangan itu naik. Itulah kemarin 17 pemimpin dunia berkumpul di Hokkaido-Jepang untuk membahas masalah ini. Saya sudah menyampaikan pandanganpandangan kita, pandangan-pandangan Indonesia terhadap semuanya itu dengan harapan ke depan janganlah sering terjadi krisis energi atau pun krisis pangan seperti itu. Yang pertama sebabnya adalah fundamental imbalances. Sebab yang kedua yang saya sebut dengan terjadinya bubble economy, ekonomi gelembung. Gelembung ya gelembung, rongga, kosong. Yang terjadi di banyak negara, ekonomi yang ada itu, yang dipermukaan ternyata bukan real economy tapi lebih bersifat money economy. Terjadi spekulasi yang berlebihan, yang to much, yang melebihi batas kepatutan sehingga sering kali kita melihat sebuah ekonomi negara tertentu, daerah tertentu yang bergerak itu tidak mencerminkan kekuatan ekonomi yang riil. Saya berikan contoh, Jawa Barat. Kalau jawa Barat misalnya besarnya ekonomi pertanian itu berapa katakanlah Rp 40 triliun. Ekonomi jasa di Jawa Barat misalnya Rp 30 triliun, berapa sudah, Rp 70 triliun?. Ekonomi industri yang disumbang Rp 30 triliun. Jadi real economy di Jawa Barat itu Rp 100 triliun. Tetapi kalau dianggapkan, diasumsikan dengan permainan capital market segala macam seolah-olah Rp 500 triliun atau Rp 1.000 triliun. Itulah bubble economy. Hingga ditusuk pecah berantakan dan terjadi krisis. Why? Karena tidak mencerminkan ekonomi yang riil. Saudara-saudara, Sebelum krisis yang sekarang ini sudah banyak prediksi suatu saat akan terjadi krisis, permasalahannya bukan terjadi krisis atau tidak tapi kapan meletusnya, pecahnya gelembung ini dan sudah banyak warning yang diberikan hati-hati dengan economy bubble tapi kita terlena dan negara-negara maju yang kita anggap sebagai guru dalam

KUMPULAN Pidato Presiden


banyak hal juga melakukan kesalahan yang fundamental yang kita pun tidak tahu menahu sedang tenang-tenang membangun ekonomi kita kena getahnya. Itu yang kedua. Yang ketiga Saudara-saudara, yang fundamental adalah yang berkaitan dengan rules, governance dan institution dari perekonomian global. Ada yang mengatakan rules, governance itu dianggap hanya menguntungkan negara-negara pemilik-pemilik capital, negara-negara yang power-nya kuat dan menguntungkan multinational cooperation. Ada juga rules dan governance itu tidak dijalankan oleh lembaga yang dianggap membawakan, menyuarakan semua kepentingan bangsabangsa. Ada juga yang mengatakan lembaga-lembaga internasional yang diciptakan pasca perang dunia kedua Brighton woods seperti IMF, World Bank, WTO itu dinilai tidak berhasil untuk mengatasi berbagai permasalahan di dunia ini. Itulah tiga permasalahan fundamental yang dihadapi dalam perekonomian global. Saudara-saudara, Lantas sekarang bagaimana solusinya, kalau menganalisis sebabsebabnya mungkin semua senang, semua bisa. Mengkritik, menyalahkan lebih senang lagi. Ketika ditanya bagaimana solusinya, bagaimana konstruksi yang dianggap lebih bagus baru kita berpikir serius. Saya mengajak IPB untuk tetap serius dalam memecahkan permasalahanpermasalahan bangsanya meskipun juga tetap menjaga keseimbangan dalam sisi kehidupan kita. Saya ingin mengangkat solusinya seperti apa, menurut pemikiran saya, menurut pandangan saya. Pertama perlu ada kesadaran atau kehendak, the way aksi bersama yang bersifat global untuk mengurangi imbalances. Ambillah yang relatif bisa diterima, ya dihitung berapa kebutuhan energi di dunia ini supaya supply dan demand-nya pas. Dihitung bagaimana hubungan yang dikonsumsi berapa oleh masyarakat dunia, produksinya berapa. Ini saya sampaikan pandangan Indonesia ini pada pertemuan di Hokkaido-Jepang, beberapa saat yang lalu. Saudara, ingat kata-kata Ghandi, Mahatma Ghandi. Bumi ini, dunia ini sesungguhnya bisa memenuhi keperluan manusia. Tetapi bumi

107

108

KUMPULAN Pidato Presiden


dan dunia tidak akan pernah bisa memenuhi ketamakan, kerakusan manusia. Kalau need, we can effort, tapi kalau greed rakus, tamak, ingin mengambil sebesar-besarnya tidak akan pernah bisa disediakan. Kolumnis yang bernama Farid Zakaria mengatakan kesalahan Amerika dalam krisis ini adalah American people have consump more than they produce. Konon lebih banyak yang dikonsumsi dibandingkan yang diproduksi. Mari kita belajar, jangan-jangan kita pun suatu saat lebih banyak mengkonsumsi dari pada yang kita produksi, jangan-jangan kita bukan need tapi greed, tamak, rakus, rusak dan gelap masa depan kita. Di sini saya dukung IPB, saya ingin memberikan peran kepada IPB yang lebih luas untuk ketahanan pangan, tepuk tangan, silahkan. Karena, terima kasih. Misi kita Saudara-saudara mari kita utamakan kehematan, optimasi dalam penggunaan pangan, air dan energi. Jangan lupakan air. Pangan, air dan energi. Kalau pangan, energi dan air cukup, gunjang-ganjing dunia tidak apa-apa. Kita bisa bertahan dan bisa survive. Dan ingat kalau pangan, energi, air tadi kalau tidak pandai mengelolanya akan merusak lingkungan, masuk dalam teori global warming dan climate change. Saudara-saudara, Yang kedua perlu dilakukan kampanye dan aksi global untuk mencegah terjadinya bubble economy, mencegah spekulasi yang melampaui kepantasan. Disini kita merindukan hadirnya satu institusi untuk bisa melakukan pengawasan. Mari kita pikirkan bersama, semua. Kemudian informasi harus punya niat baik. Susah ini merumuskannya, informasi punya niat baik. Jadi kalau ada market transparency, spekulasi itu tidak semudah itu tapi kalau information tidak merata orang bisa ditipu. Spekulasi jalan terus, membayangkan nilai, masa depan, padahal tidak begitu. Bubble itu. Mari kita cegah bubble economy. Bagaimana mungkin negara Amerika Serikat yang sangat maju, ekonominya kuat, ekonominya luar biasa, jatuh karena kredit perumahan seperti itu. How come, bagaimana terjadi? Karena bubble economy.

KUMPULAN Pidato Presiden


Saudara-saudara, Saya minta para ekonom Indonesia usai memikirkan termasuk Mendiknas yang ahli keuangan. Barangkali suatu saat dunia memerlukan one single global currency. Agar tidak ada krisis nilai tukar, agar uang tidak diuangkan, diekonomikan, berubah dari fungsinya sebagai nilai tukar. Tahapannya barangkali ada Euro, ada Dollar, mungkin ada Asian currency yang suatu saat ada konstruksi bersama untuk masuk one single global currency. Yang ketiga mari kita telaah bersama-sama apakah keberadaan dan fungsi dari IMF, dari World Bank dan WTO Itu benar-benar menjadi solusi bersama, atau lebih menjadi alat bagi yang kuat. Lebih menguntungkan bagi pemain-pemain di tingkat global ini. Dan yang terakhir perlu dipikirkan keseimbangan perekonomian global. Saudara-saudara tahu, sekarang kalau kita bicara geo economy, kita bicara kutub-kutub ekonomi ada Eropa, ada Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko) konon ekonomi Amerika Utara itu besarnya sekitar 30% dari global GDP. Ekonomi Eropa itu besarnya 22% dari global GDP. Kalau kedua itu goyah ya dunia goyah. Sesungguhnya Asia Timur punya potensi tapi belum manifest, belum menjadi original economic community yang structured, yang punya rule, yang efektif. Sehingga harapan kita, pemikiran yang kita kedepankan adalah bagus kalau Asia Timur juga menjadi satu original community sebagaimana Eropa maupun Amerika Utara. Ini sama dengan balance of power, dalam international peace and security tapi konsepnya beda. Mengapa beda konsepnya? Kalau ada tiga grouping Amerika Utara, Eropa dan Asia Timur maka kalau ada gonjang-ganjing, salah satu bisa menjadi penyangga, menjadi anchor, pertumbuhan tetap terjadi. Kalau tiga-tiganya eksis sebagai economy community kalau ada krisis cepat bisa mengatasinya lebih efektif. Dan kemudian kalau tiga-tiganya bersinergi istilah Pak Rektor ada konvergensi akan bagus lagi, karena akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Itulah Saudara-saudara bagaimana kita mencari solusi terhadap tatanan perekonomian dunia yang kurang adil, arsitektur keuangan global yang unsafe, unstable, setiap saat bisa berbahaya, karena kalau

109

110

KUMPULAN Pidato Presiden


itu aman dulu lingkungan kita maka insya Allah yang kita lakukan di dalam negeri, bangun ekonomi Indonesia di abad 21 akan menjadi lebih baik. Masalahnya sekarang seperti apa ekonomi kita sekarang dan ke depan? Saudara-saudara, Mari kita menelaah secara mendalam dengan jernih, dengan rasional tanpa emosional. Sambil menelaah kembali perekonomian kita sejak mendiang Bung Karno, mediang Pak Harto sampai sekarang ini. Membandingkan dengan ekonomi-ekonomi negara-negara sahabat dan sebagainya, dan sebagainya. Saya ingin mengedepankan dalam orasi ilmiah ini satu set of principles, of interative, of values, of visions, of policies, of strategies, yang bisa sama-sama kita telaah dan bolehlah saya sekali-sekali memberikan pekerjaan rumah kepada IPB untuk nanti ditindaklanjuti, dibahas lebih mendalam lagi. Agar mereka-mereka kelak menjadi ekonom-ekonom terkemuka, menjadi pelaku ekonomi yang berhasil, menjadi menterimenteri ekonomi. Kasih persoalan mulai sekarang, atau seperti saya berbicara disini selaku alumnus IPB. Pertama catat dalam hati dan pikiran, nanti akan kita bagikan transkripsinya. Pembangunan ekonomi Indonesia ke depan nanti mesti memadukan pendekatan resource, knowledge, and culture plus economy. Maknanya memang Allah SWT menganugerahi sumber daya, resources yang luar biasa di negeri kita. Kalau tidak kita kelola berdosa kita, salah kita, merugi kita. Mari kita kelola, dasarnya resources. Tapi ingat akan memiliki nilai kemanfaatan yang tinggi agar tinggi daya atau nilai tambahnya bawa teknologi, bawa knowledge dengan falsalah, dengan nilai-nilai cultural yang kita miliki. Thats number one. Yang kedua, ekonomi Indonesia, ekonomi 230 juta dan akan tambah lagi, ekonomi tanah air seluas 8 juta km persegi itu harus sustainable. Kalau ada growth, harus great growth. Mengapa? Ya kita tidak ingin menguras milik anak cucu kita, memikirkan masa depan kita. Kita sampai bisa begitu kalau ada keseimbangan, ada penghematan dan optimasi sumber daya alam. Sudah saya katakan tadi pandangan Gandhi dan keseimbangan-keseimbangan yang lain. Ketiga, yang kita pilih dan anut adalah pertumbuhan disertai pemerataan, growth with equity. Dari dulu pertumbuhan ingin kita ratakan, tapi selalu ada masalah-masalah yang mendasar, kita

KUMPULAN Pidato Presiden


cari dan cari mengapa. Sekarang kita mulai menata meskipun ini quite revolution. Menata, yang dilaksanakan pemerintah sekarang, bukan hanya pertumbuhan yang akan kita capai adalah pemerataan, adalah social safety nett, penanggulangan kemiskinan, maka kita pun melakukan sesuatu dari anggaran kita, dari kebijakan fiskal yang memungkinkan ekonomi tumbuh, tetapi pertumbuhan itu inklusif, pertumbuhan itu broad based pertumbuhan itu dinikmati banyak orang lagi. Saya tidak percaya dengan trickle down effects. Implementasi dari growth with sequity adalah ya ekonomi kita harus growth, pro job, pro poor. Harus sejak awal. Jangan yang penting tumbuh dulu Pak, tujuh, delapan, sembilan hektar setelah itu akan merata. No. Hanya akan menumbuhkan gap yang terlalu tinggi. Sejak awal harus kita pastikan growthwith equity terjadi. Yang keempat kita kedepan harus memperkuat ekonomi dalam negeri, pasar dalam negeri, pasar domestik. Mengapa sumber daya kita Saudara-saudara minyak, gas, tambang, kayu, pertanian, ikan, semua memungkinkan untuk our domestic economy itu strong. Belum pasarnya, 230 juta. Income perkapita terus naik, daya beli terus naik. Export oriented economy bukan pilihan kita. Jadi jangan kita ikutikutan Taiwan, ikut-ikutan Singapura, ikut-ikutan yang lebih export oriented atau service economy. Itu tidak realistik, karena tanah air kita, negara kita, gelombang peradaban kita ada masyarakat pertanian, ada masyarakat industri, ada masyarakat jasa atau informasi. Memang ekspor diperlukan sebagai komponen pertumbuhan, sebagai penyeimbang atau bikin sehatnya balance of payment, urusan devisa kita tapi kalau kita hanya menggantungkan ekspor begitu ada resesi dunia, pasar di luar menciut kelabakan kita. Oleh karena itu mari kita perkuat dan perkokoh ekonomi domestik kita. Nomor lima, ekonomi nasional mesti berdimensi kewilayahan, jangan hanya berpikir Jakarta, berpikir Bandung, berpikir Jawa Barat dan seterusnya. Mari kita tebarkan pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. Kabupaten, kota, provinsi itu harus menjadi sumber, menjadi kekuatan ekonomi lokal, back to nature, go local. Dalam keadaan krisis kalau kabupaten-kabupaten ekonominya kuat, provinsi ekonominya kuat, pangannya ok, energinya ok, airnya ok, maka dia menjadi sabuk pengaman. Sekarang Saudara tahu kita sudah menerapkan desentralisasi, sudah menerapkan otonomi daerah, mesti pas, mesti klop.

111

112

KUMPULAN Pidato Presiden


Yang kelima, sumber-sumber investasi dan pendanaan, Saya ulangi pendanaan dalam negeri mesti kita perkuat. Mari kita hitung cukupkah kita menabung, saving, apakah tabungan itu disimpan di bawah bantal atau untuk investasi? Dan seterusnya dan seterusnya. Jangan Saudarasaudara kita mengharapkan bantuan pendanaan dari luar, dangerous. Manakala kita bisa membiayai lebih banyak lagi. Saudara tahu, mudah sekali stock atau capital datang, semudah itu pula dia terbang, capital outfull apabila terjadi gangguan-gangguan pada fundamental dan terjadi krisis yang lain. Perkuat sumber-sumber pendanaan dalam negeri, sumber-sumber investasi dari dalam negeri dan alhamdulillah dulu dalam masa krisis hutang kita besar sekali namanya debt to GDP ratio, rasio utang terhadap pendapatan domestik bruto itu tinggi sekali, 70% bahkan lebih. Empat tahun yang lalu 54%, alhamdulillah sekarang berada dalam kisaran sekitar 32%. Ini artinya makin sedikit kita menggunakan sumber pembiayaan dari dunia. Insya Allah makin ke depan makin kecil-kecil, dan akhirnya kita mengedepankan pembiayaan dari dalam negeri. Yang ketujuh, kemandirian dan ketahanan pada bidang-bidang tertentu, sektor ekonomi tertentu, harus kita lakukan. Pertama pangan, setuju pangan? Kedua energi, yang ketiga industri pertahanan. Mengapa? Dari pangan langsung industri pertahanan, jauh sekali. Pangan, energi, Saudara tahu belum, hilang ingatan kita ternyata 6,6 miliar penduduk bumi mengkonsumsi pangan dan energi yang tinggi. Kalau tidak hati-hati terjadi gonjang-ganjing. Mari kita bikin tahan negara kita. Kita punya sumber gas yang banyak, minyak yang banyak, batu bara yang banyak, tambang yang lain, mengapa kita harus tidak bisa mengelola. Demikian juga pangan, industri pertahanan. Negara kita pernah diembargo 15 tahun. Baru lepas tahun 2005 yang lalu ketika saya minta keadilan dunia. Salah apa Indonesia di embargo, dikasih sanksi begini lama. Pahit rasanya, negara dengan uangnya sendiri membeli perlengkapan militer tidak bisa digunakan, spare parts tidak bisa diadakan karena embargo. Oleh karena itu mutlak industri pertahanan kita harus kuat menjaga kedaulatan dan keutuhan negara kita termasuk pangan, energi dan kebutuhan dasar manusia yang lainnya.

KUMPULAN Pidato Presiden


Masih dua lagi, nomor delapan. Ini nanti kalau satu apa namanya imperatif dijadikan kertas karya sudah banyak sekali Bapak. Yang kedelapan Saudara kenal keunggulan komperatif, comparative advantage. Saudara kenal keunggulan kompetitif, competitive advantage, kenal dulu ada sedikit discourse antara Habibienomic dengan Wijoyonomic. Masih ingat? Pak Habibie, beliau mengedepankan high tech yang added value-nya tinggi, bisa mengangkat ekonomi dan kesejahteraan sebuah bangsa. Pak Wijoyo mengatakan saya lebih suka dengan keunggulan komperatif, dengan yang kita miliki, dengan international trade, membawa hasil yang riil. Dua-duanya tidak perlu dipertentangkan. Ingat sekali lagi di Indonesia ini tiga gelombang peradaban ada. Tiga corak masyarakat, ada masyarakat pertanian, masyarakat industri, dan masyarakat informasi, masyarakat jasa. Dua-duanya kita perlukan, dua-duanya, comparative advantage, competitive advantage. Dan ingat, international economy, penting. Tapi intra national economy juga penting. Ekonomi antar provinsi, ekonomi antar kota itu juga penting. Disitulah kita bisa memperkuat keunggulan kedua-duanya, keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif. Dan yang terakhir nomor sembilan. Ada yang berpendapat terutama fundamentalisme pasar, Pemerintah tidak usah ikut-ikutan, tidak usah ikut campur, diserahkan pada pasar, ada invisible hand yang akan mengatur kalau tidak mana itu invisible hand, pasar sering gagal, pemerintah harus masuk. Itulah dulu ada command economy, plan economy, ada market economy. Saya punya pendapat sesunguhnya sudah kita jalankan. Kita memerlukan mekanisme pasar untuk efisiensi tapi kita memerlukan peran pemerintah yang tepat untuk keadilan. Oleh karena itu jangan dipertentangkan dua-duanya kita perlukan. Market failure sering terjadi, kegagalan pasar. Government failure juga bisa terjadi, kegagalan pemerintah. Oleh karena itu yang penting rakyat mendapatkan kesejahteraan dan pelayanan terbaik, apapun kerangka yang kita pikir, yang kita bikin dengan demikian tidak perlu ada dikotomi yang tajam. Saudara-saduara, Sembilan hal itulah yang saya sebut dengan boleh dikatakan imperative,

113

114

KUMPULAN Pidato Presiden


boleh dikatakan dengan visi, boleh dikatakan dengan grand strategy, boleh dikatakan dengan makro policy dan sebagainya. Sebagai penutup, apa yang saya sampaikan tadi bukan sesuatu diawang-awang. Sebagian Saudara-saudara, telah lama berlaku, telah lama dilakukan di negeri tercinta ini. Saya hanya ingin menjustifikasi itu benar, itu masih valid. Sebagian yang lain telah kita mulai jalankan akhir-akhir ini, tahun-tahun ini sebagai contoh tadi implementasi dari growth with equity dalam kebijakan fiskal dan APBN kita. Sebagian lagi masih memerlukan tindak lanjut dan implementasi secara berkelanjutan. Saudara-saudara, Mungkin ada yang bertentangan dengan mainstream, pemikiran ekonomi, ini kok aneh ini, kalau teori ekonomi tidak begitu. Silahkan, sejarah akan menguji nanti mana yang klop untuk negara kita apakah kita mencangkok model negara tertentu diterapkan di Indonesia. Atau kita menggali apa yang ada di negeri kita sendiri yang kira-kira cocok untuk menjadi bangunan dari perekonomian kita. Ada yang mengatakan barangkali itu kurang tegas itu. Kalau tegas itu ditafsirkan kita harus milih, milih kapitalisme atau memilih sosialisme, atau tegas itu kita harus jelas anti globalisasi atau pro globalisasi, atau kita anti ekspor beras atau anti impor beras. Saudara-saudara, Kenapa kita harus memiliki sikap yang hitam putih? China, saya baru pulang dua minggu yang lalu dari China. Tidak ada bayangbayang negara yang otoritarian, yang dulu terkenal dengan sistem komunismenya dan sebagainya. China maju dan berkembang. Apa kata mendiang Dong Xiaoping apa kata para modernis China? Sekarang mereka kalau ditanya apa sih ideologi ekonomi anda itu apa? Ya kami ini pasar sosial. Bayangkan jaman dulu pasar dengan sosial itu berseteru, market economy dengan socialism, dengan ekonomi sosial tidak pernah ketemu kok jadi satu sekarang? Dikatakan, ekonomi kami ekonomi pasar sosial, socialism market economy. Saudara-saudara bagi yang mendalami pemikiran klasik Adam Smith, David Ricardo, John Stuart Mill, disatu sisi disana ada Karl Max, ada Friedrich Angles yang lebih modern ada Jhon Hines, ada Hayek. Tidak ada lagi ekstrimitas-ekstrimitas yang betul-betul dijalankan bangsabangsa di dunia. Itu sudah luruh. Banyak sekali varian-varian. Saudara kenal ekonomi di Jerman, ekonomi di Swedia, welfare state, ekonomi

KUMPULAN Pidato Presiden


kesejahteraan. Jadi saya kira mari kita keluar dari track, dari perangkat, seperti itu yang menurut saya menahan kita untuk maju ke depan melakukan sesuatu yang paling tepat untuk bangsa dan negara kita. Sehingga Saudara-saudara menurut pendapat dan pemikiran saya, ekonomi Indonesia ke depan nanti mestilah bersama-sama kita bangun, ekonomi berkeadilan sosial, ekonomi terbuka tidak mungkin kita away dari kebersamaan dengan bangsa lain tetapi dipastikan bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat kita dan ekonomi yang harus sustainable karena kita harus ingat anak cucu dan masa depan kita. Itulah Indonesia kita , Saudara-saudara. Kalau kita lanjutkan sebagai akhir dari orasi ilmiah saya lantas dunia kita seperti apa, bumi kita seperti apa, dua hal. Pertama kalau kita membangun peradaban dunia abad 21, civilization in the 21 century, pertama masyarakat dunia harus bersama-sama menyelamatkan buminya dari ancaman climate change dan global warming. Yang kedua menjadi tema dari orasi ilmiah saya ini, menjadi persoalan besar di dunia sekarang ini, perekonomian dunia yang diharapkan membawa kemakmuran bersama harus ditata kembali sehingga lebih aman, lebih stabil dan memungkinkan semua pihak untuk mendapatkan benefit yang sama. Itulah Saudara-saudara orasi ilmiah saya dan akhirnya menutup dari semuanya ini marilah kita sebagai bangsa terus bersatu, melangkah bersama, bekerja keras untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju di abad 21 ini. Insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa kita akan sampai kepada Indonesia seperti itu. Terima kasih, selamat berjuang. Wassalamualaikum Wr. Wb. Biro Pers dan Media Rumah Tangga Kepresidenan

115