Anda di halaman 1dari 14

ABSTRAK.

Fenomena globalisasi berpengaruh kepada pergeseran atau perubahan tata nilai, sikap dan perilaku pada semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Perubahan yang positif dapat memantapkan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan mengembangkan kehidupan nasional yang lebih berkualitas. Tuntutan dan aspirasi masyarakat terakomodasi secara positif disertai upaya-upaya pengembangan, peningkatan pemahaman, penjabaran, pemasyarakatan, dan implementasi Pancasila dalam semua aspek kehidupan. Adapun perubahan yang negatif harus dideteksi dan diwaspadai sejak dini serta melakukan aksi pencegahan berbagai bentuk dan sifat potensi ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemimpin merupakan penggerak dan motivator seluruh komponen bangsa untuk menjalankan kehidupan nasional. Bagi bangsa Indonesia, yang dibutuhkan adalah sistem kepemimpin nasional yang dapat menjalankan visi pembangunan nasional dilandasi nilainilai falsafah Pancasila. Kepemimpinan nasional harus dapat berfungsi mengawal proses pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dirasakan oleh warga bangsa di seluruh wilayah nusantara. Kepemimpinan nasional tersebut memerlukan suatu sistem manajemen nasional (Sismennas) untuk menjalankan mekanisme siklus penyelenggaraan negara dan dapat menggerakkan seluruh tatanan untuk mengantisipasi perubahan dan mendukung keberlangsungan kehidupan nasional. Kepemimpinan nasional membutuhkan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, berkemampuan iptek dan seni yang dilandasi nilai-nilai ideologi bangsa, serta dapat berinteraksi dengan komponen bangsa lainnya dalam hidup bersama yang bermanfaat. Kepemimpinan nasional harus dapat mengawal Sismennas dan strategi implementasi reformasi birokrasi dalam rambu-rambu good governance, yakni (i) membangun kepercayaan masyarakat, (ii) membangun komitmen dan partisipasi, (iii) mengubah pola pikir,budaya dan nilai-nilai kerja dan (iv) memastikan keberlangsungan berjalannya sistem dan mengantisipasi terjadinya perubahan. Kepemimpinan nasional mendorong berfungsinya manajemen dan kelembagaan pemerintahan, pembangunan pendidikan, dan pembangunan hukum dan aparatur untuk mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis dalam rangka pembangunan nasional. PENDAHULUAN Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia berhasil melewati berbagai ancaman, gangguan, tantangan, dan hambatan (AGTH). Banyak sekali anasir pemecah belah yang senantiasa membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa, antara lain sentimen suku agama, ras, dan antar golongan (SARA), primordialisme, dan ketimpangan pembangunan (Pokja Tannas, 2010). Namun bangsa Indonesia wajib bersyukur karena masih memiliki konsep dasar falsafah Pancasila yang dilandasi nilai-nilai sejarah, cita-cita dan ideologi, sebagai pemandu untuk mencapai tujuan negara. Falsafah Pancasila memandu bangsa Indonesia memandang dinamika kehidupan dan menentukan arah pemecahan perihal politik, ekonomi, sosial dan lingkungan menuju masyarakat yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Fenomena globalisasi berpengaruh kepada pergeseran atau perubahan tata nilai, sikap dan perilaku pada semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Pokja Pimnas, 2010). Perubahan yang positif dapat memantapkan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan mengembangkan kehidupan nasional yang lebih berkualitas. Tuntutan dan aspirasi masyarakat terakomodasi secara positif disertai upaya-upaya pengembangan, peningkatan pemahaman, penjabaran, pemasyarakatan, dan implementasi

Pancasila dalam semua aspek kehidupan (Pokja Ideologi, 2010). Adapun perubahan yang negatif harus dideteksi dan diwaspadai sejak dini serta melakukan aksi pencegahan berbagai bentuk dan sifat potensi ancaman terhadap NKRI (Pokja Padnas, 2010). Memperhatikan keadaan dan permasalahan saat ini maupun akan datang, maka posisi dan eksistensi seorang pemimpin sangatlah penting. Pemimpin merupakan penggerak dan motivator seluruh komponen bangsa untuk menjalankan kehidupan nasional dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Bagi bangsa Indonesia, yang dibutuhkan adalah sistem kepemimpin nasional yang dapat menjalankan visi pembangunan nasional dilandasi nilainilai falsafah Pancasila. Kepemimpinan nasional harus dapat berfungsi mengawal proses pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dirasakan oleh warga bangsa di seluruh wilayah nusantara. Kepemimpinan nasional membutuhkan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas, berkemampuan iptek dan seni yang dilandasi nilai-nilai ideologi bangsa, serta dapat berinteraksi dengan komponen bangsa lainnya dalam hidup bersama yang bermanfaat.

Kepemimpinan nasional harus mempunyai pandangan jauh ke depan atau mempunyai visi jelas, yang mampu menjangkau ketidak menentuan dalam lingkungan yang cepat berubah. Kepemimpinan nasional tersebut memerlukan Sismennas untuk menjalankan mekanisme siklus penyelenggaraan negara dan dapat menggerakkan seluruh tatanan untuk mengantisipasi perubahan dan mendukung keberlangsungan kehidupan nasional. Sesuai dengan UU No 25/2004, konsepsi manajemen pembangunan mengacu kepada suatu sistem, yakni Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). SPPN mengatur keseluruhan sistem perencanaan pembangunan yang dituangkan dalam dokumen yang berkesinambungan, baik yang bersifat jangka panjang, menengah, maupun pendek atau tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah, masing-masing yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Lebih jauh, kepemimpinan nasional harus dapat mengawal strategi implementasi reformasi birokrasi (PURB, 2008) dalam rambu-rambu good governance, yakni (i) membangun kepercayaan masyarakat, (ii) membangun komitmen dan partisipasi, (iii) mengubah pola pikir,budaya dan nilai-nilai kerja dan (iv) memastikan keberlangsungan berjalannya sistem dan mengantisipasi terjadinya perubahan. Strategi implementasi reformasi birokrasi bukan hal teknis semata, tetapi membutuhkan kemampuan kepemimpinan extraordinary untuk menjalankannya pada tatanan sistem manajemen nasional (Sismennas). LINGKUNGAN STRATEGIS Perkembangan lingkungan strategis memberikan peluang dan motivasi bagi upaya-upaya memantapkan nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa. Kepemimpinan nasional

dapat menunjukkan perannya dalam rangka mengembangkan kehidupan nasional yang lebih berkualitas. Kepemimpinan nasional dapat mengantisipasi lingkungan strategis dengan langkah-langkah nyata mengembangkan kehidupan yang berkualitas dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 1. Globalisasi. Di dalam lingkungan globalisasi terjadi interkoneksi pengaruh dari faktor-faktor politik, teknologi, budaya dan ekonomi. Hal itu difasilitasi oleh kemajuan komunikasi dan teknologi sedemikian rupa sehingga menghasilkan uncertainty, complexity dan competition (Silalahi, 2010). Fenomena globalisasi membawa gerbong lain yakni, demokratisasi, hak sasi manusia (HAM), isyu lingkungan hidup serta good governance dengan komponen-komponen transparansi, partisipasi dan accountibility (Effendi, 2001). 2. Asean Community 2015. Dalam KTT ASEAN 2009 ke-14 di Hua Hin Thailand, Asean menyusun blue print pembentukan tiga komunitas pilar, yaitu politikkeamanan, ekonomi, dan sosial budaya ASEAN. Komunitas ASEAN yang ingin dicapai pada tahun 2015 tersebut bertujuan untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara (RPJMN 20102014). Dengan kesepakatan piagam Asean pada tanggal 15 Desember 2008, Asean menjadi organisasi yang lebih mantab dengan moto one vision, one identity, dan one community (Asean, 2009). Kepemimpinan Indonesia tahun 2011memiliki posisi strategis mendorong peran geopolitik nasional dan mengantarkan terwujudnya Asean Community 2015. 3. Otonomi Daerah. Secara konsepsional otonomi daerah (UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah) merupakan landasan bagi pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan daya saing dan kesejahteraan di daerah. Gubernur, walikota dan bupati memiliki posisi penting untuk mengembangkan kepemimpinan dan wawasan nasional sesuai falsafah Pancasila melalui mengembangkan building capasity dan menciptakan pertumbuhan dan kesejahteraan di daerahnya. 4. Peran media massa. Media massa telah menjadi kekuatan yang signifikan mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Media massa perlu dikelola dan dioptimalkan untuk memperkuat siklus Sismennas, dari tata kehidupan masyarakat, tata politik nasional, tata administrasi negara dan tata laksana pemerintahan, di dalam rangka mengembangkan wawasan nasional. Media massa harus dekat dengan upaya-upaya mengembangkan dan memantapkan nilai-nilai falsafah Pancasila. Kepemimpinan nasional dalam perumusan kebijakan dan pengelolaan media massa dapat memperkuat Sismennas, dengan mendorong aspirasi dan hak masyarakat untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dalam pembangunan. 5. Gerakan primordial. Fenomena demokratisasi dan kesadaran HAM terkadang membangkitkan gerakan primordial tertentu berlatar agama, etnik atau ikatan tertentu. Hal ini melupakan nilai-nilai falsafah Pancasila sebagai bangsa multikultur dan sangat mengganggu upaya-upaya mengembangkan wawasan kebangsaan nasional dalam rangka pembangunan nasional. Kepemimpinan nasional di berbagai tingkatan dan organisasi memiliki peran penting melaksanakan diskusi untuk mengajak anasiranasir primordial ke dalam kepentingan nasional. KERANGKA PEMIKIRAN KONSEPTUAL

Pancasila Sebagai Falsafah Hidup Bangsa Filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran, atau secara singkat dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan tentang hakekat. Maknanya, dengan mencari atau menyakan apa hakekat, sari, esensi atau inti segala sesuatu, maka jawaban yang didapatkan berupa kebenaran yang hakiki (Sunoto, 1995). Hal ini diperkuat Noorsyam (2009a), yang menyatakan nilai-nilai filsafat merupakan derajad tertinggi pemikiran untuk menemukan hakekat kebenaran. Filsafat dapat dilihat dalam dua aspek, sebagai metode dan pandangan (Poespowardojo, 1994). Sebagai metode, filsafat menunjukkan cara berpikir dan analisis untuk menjabarkan ideologi Pancasila. Sebagai pandangan, filsafat menunjukkan nilai dan pemikiran yang dapat menjadi substansi dan isi ideologi Pancasila. Menurut Poespowardojo (1994), filsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh. Filsafat mampu membuka pemikiran yang lebih luas dan rasional sehingga cara pandang terhadap ideologi menjadi lebih terbuka dan fleksibel (tidak kaku atau beku). Manusia diberi peluang mengembangkan persepsi, wawasan dan sikapnya secara dinamis agar menemukan kebenaran, arti dan makna hidup. Oleh karena itu filsafat dapat dilaksanakan dengan membahas perihal kehidupan, misalnya pembangunan, modernisasi, kemiskinan, keadilan dan lain-lain. Menurut Noorsyam (2009b), filsafat pancasila memberi tempat yang tinggi dan mulia atas kedudukan dan martabat manusia (sebagai implementasi sila pertama dan kedua Pancasila). Karenanya setiap manusia seyogyanya mengutamakan asas normatif religius dalam menjalankan kehidupannya. Manusia diberi oleh Tuhan kemampuan berbagai ilmu pengetahuan untuk melaksanakan tugas kekhalifahannya (Al Baqarah : 30 34). Manusia diminta untuk mengelola seluruh alam dan seisinya dan diperuntukkan bagi umat manusia. Alam dan seisinya tersebut dalam pengertian lingkungan hidup (menurut UU 23 tahun 1997) adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Menurut Laboratorium Pancasila IKIP Malang (1997), Pancasila sebagai falsafah pandangan hidup bangsa, seyogyanya dicerminkan ke dalam prinsip-prinsip nilai dan norma kehidupan dalam berbangsa, bernegara dan berbudaya. Poespowardojo dan Hardjatno (2010) menyatakan moral Pancasila perlu ditransformasi menjadi moral atau etika politik kehidupan negara yang harus ditaati dan diamalkan dalam penyelenggaraan negara. Moral diamalkan menjadi norma tindakan dan kebijaksanaan, serta dituangkan dalam perundang-undangan, untuk mengatur kehidupan negara, dan menjamin hak-hak dan kedudukan warga negara. Kepemimpinan Sejarah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah multikultur. Kebhinekaan itu berhasil membangun kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kebhinekaan juga berhasil memotivasi lahirnya kebangkitan nasional (boedi oetomo, 1908), komitmen sebagai bangsa (soempah pemoeda, 1928) dan pembebasan dari belenggu penjajahan (proklamasi kemerdekaan, 1945). Kebhinekaan itu yang masih menjiwai keberlangsungan kehidupan nasional dengan dinamikanya, untuk mengisi kemerdekaan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan negara

Semangat dan cita-cita kebangsaan yang telah dideklarasikan para pendiri bangsa (founding fathers). Karakter kepemimpinan para pendiri bangsa mampu menggali nilai-nilai budaya luhur terutama nilai-nilai filsafat, baik itu filsafat hidup (atau disebut filsafat Pancasila) maupun filsafat keagamaan. Hal ini memberikan identitas dan martabat sebagai bangsa yang beradab, sekaligus memiliki jiwa dan kepribadian yang religius (Laboratorium Pancasila IKIP Malang, 1997). Pemahaman terhadap falsafah kebangsaan telah menghasilkan semangat juang para pendahulu sehingga membebaskan dari belenggu penjajahan. Saat ini, nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa perlu diimplementasi untuk membangkitkan semangat juang bangsa. Semangat juang itu bukan saja untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Kualitas itu akan lahir dari manusia yang berkarakter religius, percaya diri, dan memiliki etos kerja yang tinggi (Poespowardojo dan Hardjatno, 2010). Lahirnya SDM yang berkualitas sangat relevan untuk mengantisipasi keadaan dan perubahan lingkungan strategis. SDM berkualitas berperan dalam penyusunan konsep kebijakan pembangunan, penyelenggaraan negara, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih berorientasi kepada kesejahteraan dalam rangka peningkatan harkat bangsa sebagai manusia. Menurut Hasibuan (2003), manusia Indonesia memiliki potensi illahiyah, dan bisa merealisasikan potensi illahiyahnya menjadi manfaat seluruh bangsa. Anugerah kemerdekaan adalah bukti realisasi illahiyah yang diberikan para pendiri bangsa ini. Dengan menunaikan kekhalifahan itu manusia senantiasa mengalami pembelajaran. Pembelajaran diperlukan agar bangsa Indonesia dapat melalui tantangan internal maupun global dan berbagai dinamikanya. Proses pembelajaran dan iptek diharapkan menghasilkan kemampuan untuk mengadakan adaptasi atau justifikasi terhadap proses kehidupan yang baru dan menjalankan inovasi untuk menciptakan kualitas dan daya saing yang makin baik. Daya saing hanya akan meningkat, seiring dengan proses pembelajaran yang rasional dan kritis serta kreativitas di kalangan masyarakat (Poespowardojo dan Hardjatno, 2010). Pemimpin pada berbagai tingkatan dan hirarki sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya, merupakan penggerak dan motivator seluruh komponen bangsa untuk menjalankan kehidupan nasional dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Bagi bangsa Indonesia, yang dibutuhkan adalah sistem kepemimpin nasional yang dapat menjalankan visi pembangunan nasional dilandasi paradigma nasional dengan kemampuan (i) memantapkan integrasi bangsa dan solidaritas nasional, (ii) mementingkan stabilitas nasional untuk meningkatkan rasa kebangsaan, (iii) memahami perubahan dan melaksanakan pembaharuan dalam manajemen pemerintahan dan (iv) menggunakan pendekatan politik dalam upaya pencarian solusi untuk menangani permasalahan dalam kehidupan masyarakat (Pokja Pimnas, 2010b). Dari uraian di atas, kepemimpinan nasional bangsa Indonesia nampaknya menghadapi dua isyu yang juga menjadi tantangan bisnis global, yakni cross-cultural management dan change management. Meminjam definisi CBI (2009), cross-cultural management diperlukan dalam upaya memberikan pemahaman menjembatani hambatan manajemen organisasi dan berbagai implikasi perbedaan budaya. Hal ini sangat relevan dengan karakter bangsa yang multikultur untuk menjalankan Sismennas. Change management memberikan konsep untuk memahami dinamika perubahan dalam budaya organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.

Pagon et al. (2008) menyatakan kepemimpinan membutuhkan kompetensi (Gambar 1), yakni individu (antecendent), kognitif (cognitive), fungsional (fuctional) dan sosial (personal and social). Kompetensi individu merupakan atribut yang melekat kepada diri seseorang pemimpin. Kompetensi individu misalnya pendidikan, memberikan pengaruh yang kuat kepada misalnya kompetensi kognitif. Kompetensi kognitif memberikan landasan penguasaan pengetahuan umum, hukum, teori dan konsep. Kompetensi fungsional merupakan penguasaan ketrampilan untuk problem solving dalam kegiatan sehari-hari. Sementara kompetensi sosial merupakan kebutuhan untuk pembinaan hubungan dengan individu atau sosial. Seluruh kompetensi tersebut harus dipadukan dengan karakter organisasi antara lain visi, misi, value, dan tujuan. Perpaduan kompetensi kepemimpinan dan karakter organisasi akan menghasilkan keberhasilan dalam perubahan (change management). PERAN KEPEMIMPINAN NASIONAL Falsafah Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa membuka pemikiran yang lebih luas dan rasional perihal jati diri bangsa Indonesia, dan upaya-upaya mengembangkan ke dalam kehidupan nasional menuju masyarakat yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Setiap warga negara memiliki peluang mengembangkan dirinya sebagai bangsa yang multikutur untuk menjalankan proses pembelajaran dan iptek untuk menentukan kehidupan baru yang berkualitas. Kepemimpinan nasional memiliki peran penting mengimplementasikan falsafah Pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, mengembangkan wawasan kebangsaan dan upaya-upaya peningkatan kualitas SDM dalam pembangunan nasional. Kepemimpinan nasional di berbagai tingkatan wajib berpartisipasi dan mendorong berfungsinya manajemen dan kelembagaan pemerintahan dalam rangka terciptanya good governance untuk mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis untuk menghasilkan manfaat dalam pembangunan nasional. Peran kepemimpinan nasional dalam implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa diuraikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan sebagai berikut. 1. Sismennas. Sismennas (sistem manajemen nasional) merupakan sistem manajemen pembangunan yang dilandasi kaidah manajemen universal di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dilandasi tata nilai ideologi dalam rangka mewujudkan tujuan nasional (Pokja Sismennas, 2010; Mustopadidjaja, 2004). Sismennas berfungsi memandu penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian. Konsep Sismennas sesuai dengan sistem kepemimpinan nasional meliputi struktur, substansi dan budaya (Pokja Pimnas, 2010a). Kepemimpinan di dalam sismennas mengawal, melaksanakan proses dan menghimpun usahausaha untuk mencapai kehematan (ekonomis), daya guna (efisien), dan hasil guna (efektif) sebesar mungkin dalam menggunakan sumber dana dan sumber daya nasional dalam rangka mewujudkan tujuan nasional (Pokja Sismennas, 2010). Fakta-fakta yang membuktikan para pemimpin nasional belum memahami Sismennas ditunjukkan dengan ketidak efisienan dalam penyelenggaraan pemerintahan, antara lain perilaku KKN, perilaku primordial dan feodal, dan tidak memahami ipteks. 2. Pembangunan Pendidikan. Pembangunan pendidikan secara umum bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan (masyarakat dan pemerintahan) dalam prinsipprinsip keteladanan, moral dan etika sesuai falsafah hidup bangsa berdasarkan

Pancasila. Kepemimpinan dalam keluarga, sekolah, kemasyarakatan dan pemerintahan wajib menjalankan prinsip-prinsip pendidikan tersebut, dan menjadi sumber motivasi dan inspirasi lahirnya kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui pendidikan diharapkan lahir kualitas SDM yang memiliki moral dan akuntabilitas individu, sosial, institusional dan global (Lemhannas, 2009) yang akan mengantarkan menjadi Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Karakter multikultur bangsa merupakan sumber kekayaan iptek nasional, sebagai modal dasar pembangunan nasional, meliputi sumber kekayaan alam, geografi, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Potensi tersebut perlu dioptimalkan pemanfaatannya melalui kepemimpinan yang memiliki kompetensi manajemen pembangunan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Reformasi Birokrasi. Kepemimpinan nasional harus dapat berfungsi mengawal proses pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dirasakan oleh warga bangsa di seluruh wilayah nusantara. Konsepsi membutuhkan SDM yang berkualitas, berkemampuan iptek dan seni yang dilandasi nilai-nilai ideologi bangsa, serta dapat berinteraksi dengan komponen bangsa lainnya dalam hidup bersama yang bermanfaat. Kepemimpinan nasional harus dapat mengawal strategi implementasi reformasi birokrasi (PURB, 2008) yakni (i) membangun kepercayaan masyarakat, (ii) membangun komitmen dan partisipasi, (iii) mengubah pola pikir, budaya dan nilainilai kerja dan (iv) memastikan keberlangsungan berjalannya sistem dan mengantisipasi terjadinya perubahan. Strategi implementasi reformasi birokrasi bukan hal teknis semata, tetapi membutuhkan kemampuan kepemimpinan extraordinary untuk menjalankannya pada tatanan Sismennas. Hal ini bisa dilihat dari sisi lain, Sismennas sesungguhnya menjadi alat bantu yang efektif untuk menjalankan mekanisme business process kepemimpinan. Lebih penting dari itu, kepemimpinan juga harus mampu mengawal seluruh SDM senantiasa dalam steady state mengantisipasi perubahan. Pencapaian reformasi birokrasi hingga saat ini ratarata kurang dari 30 persen dan akan dilanjutkan mencapai 100 persen pada tahun 2014 (melalui RPJMN 2010-2014). Reformasi birokrasi pada dasarnya merupakan upaya untuk melaksanakan perubahan dan pembaharuan yang mendasar dan menyeluruh terhadap penyelenggaraan pemerintahan mencakup aspek, organisasi (kelembagaan), ketata laksanaan (business process) dan SDM aparatur (PURB, 2008). Semua itu berawal dan bermuara kepada perubahan pola pikir, sikap dan perilaku SDM agar lebih mementingkan organisasi dibanding kepentingan individu. 4. Hukum dan aparatur. Pembangunan hukum dan aparatur dilaksanakan dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat dan globalisasi dilandasi moral dan etika Pancasila[2]. Hal itu juga mencakup penguasaan konsep kebijakan dan hukum sesuai konteks yang sedang berkembang dan antisipasi lingkungan strategis. SDM aparat berkualitas dapat mewujudkan dan menghayati nilai dan etika hukum meliputi kebenaran, kejujuran, keadilan kepercayaan dan kewibawaan dilandasi moralitas yang luhur (Akbar, 2010). Pembangunan aparatur juga diarahkan untuk menghasilkan kepemimpinan. Kepemimpinan dengan visi yang jelas, integritas yang tinggi, dan dilandasi moralitas Pancasila akan mudah mengawal manajemen pemerintahan dan hukum dalam rangka menjamin kepastian dan keadilan. Pembangunan aparatur dilakukan melalui konsepsi reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi diharapkan meningkatkan profesionalisme aparatur dan mewujudkan tata pemerintahan yang baik, di pusat dan di daerah agar mampu mendukung keberhasilan pembangunan di bidang-bidang lainnya (RPJMN 2010-2014). Dengan kata lain, reformasi birokrasi

adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar menjadi profesional dalam mengemban tugas penyelenggaraan negara, khususnya mengantisipasi pesatnya kemajuan iptek, teknologi informasi dan komunikasi dan perubahan lingkungan strategis. PENUTUP Kepemimpinan nasional memiliki peran penting mengimplementasikan falsafah Pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, mengembangkan wawasan kebangsaan dan upaya-upaya peningkatan kualitas SDM dalam pembangunan nasional. Pemimpin pada berbagai tingkatan dan hirarki sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya, merupakan penggerak dan motivator seluruh komponen bangsa untuk menjalankan kehidupan nasional dalam rangka pencapaian tujuan nasional. Kepemimpinan nasional mendorong berfungsinya manajemen dan kelembagaan pemerintahan, pembangunan pendidikan, reformasi birokrasi dan pembangunan hukum dan aparatur dalam rangka terciptanya good governance untuk mengantisipasi perkembangan lingkungan strategis untuk menghasilkan manfaat dalam pembangunan nasional. DAFTAR PUSTAKA

Akbar, P. 2010. Pembangunan Hukum dan HAM di Indonesia Dalam Rangka Peningkatan Kualitas SDM. Materi ceramah PPRA 45 Lemhannas, 29 Juli 2010. Lemhannas, Jakarta Asean (Association of Southeast Asian Nations). 2009. Implementing The Roadmap For an Asean Community 2015. Annual Report 2008-2009. Asean Secretary Office, Jakarta CBI (Carnegie Bosch Institute). 2009. Leadership and Change Management in a Multicultural Context. Tepper School of Business, Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania, USA Effendi, B. 2001. Teologi Baru Politik Islam: Pertautan agama, negara dan demokrasi. Galang Press, Yogyakarta. 294p. Hasibuan, s. 2003. SDM Indonesia: Mengubah Kekuatan Potensial Menjadi Kekuatan Riil. Majalah Perencanaan Pembangunan, Bappenas, Jakarta. Edisi 31, April-Juni 2003: 2-10. Laboratorium Pancasila IKIP Malang (1997). Refleksi Pancasila dalam Pembangunan. Usaha Nasional, Surabaya. 243p. Lemhannas. 2009. Indeks Kepemimpinan Nasional Indonesia (IKNI). Lemhannas RI. Jakarta. Mustopadidjaja, A. R. 2004. Paradigma Pengambilan Keputusan Dalam Penyelenggaraan NKRI di Abad 21. Majalah Perencanaan Pembangungan. Bappenas Jakarta. IX(6): 2-8 Noorsyam, H. M. 2009a. Sistem Filsafat Pancasila: Tegak Sebagai Sistem Kenegaraan Pancasila UUD Proklamasi 45. Konggres Pancasila, diselenggarakan Pusat Studi Pancasila, tanggal 30 Mei 1 Juni 2009 di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Noorsyam, H. M. 2009b. NKRI sebagai sistem kenegaraan Pancasila dalam wawasan Filosofis Ideologis dan Konstitusional. Jurnal Konstitusi. Mahkamah Konstitusi dan Pusat kajian konstitusi Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang. 1(2): 59-84. Pagon, M., E. Banutai and U Bizjak. 2008. Leadership Competencies For Successful Change Management. A Preliminary Study Report. Slovenian Presidency of the EU 2008. Poespowardojo, S dan Hardjatno, N. J. M. T. 2010. Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Pandangan Hidup Bangsa. Pokja Ideologi. Lemhannas, Jakarta Poespowardojo, S. 1994. Filsafat Pancasila. Sebuah Pendekatan Sosio Budaya. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 227p. Pokja Ideologi. 2010. Mewaspadai dan Menanggulangi Ancaman Terhadap Pancasila. Pokja Ideologi. Lemhannas, Jakarta Pokja Padnas. 2010. Materi Pokok Kewaspadaan Nasional: Integrasi Nasional. Pokja Padnas, Lemhannas RI, Jakarta. Pokja Pimnas (Kepemimpinan Nasional). 2007a. Kepemimpinan Nasional. Pokja Kepemimpinan. Lemhannas, Jakarta Pokja Pimnas (Kepemimpinan Nasional). 2007b. Kepemimpinan Visioner. Pokja Kepemimpinan. Lemhannas, Jakarta Pokja Sismennas. 2010. Sistem Manajemen Nasional. Pokja Sismennas, Lemhannas RI, Jakarta. Pokja Tannas. 2010. Materi Pokok Ketahanan Nasional: Konsepsi dan tolok ukur. Pokja Tannas, Lemhannas RI, Jakarta. Pokja Wasantara. 2010. Konsepsi Wawasan Nusantara. Pokja Wasantara. Lemhannas, Jakarta PURB (Pedoman Umum Reformasi Birokrasi). 2008. PermenPAN No: PER/15 /M.PAN/7/2008 tentang Pedoman Umum Reformasi Birokrasi RPJMN 2010-2014. 2010. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Peraturan Presiden No 5 tahun 2010. Bappenas, Jakarta Silalahi, T. B. 2010. Kepemimpinan Visioner Dalam Rangka Reformasi Birokrasi. Materi Ceramah Kepemimpinan, Lemhannas RI, 7 Juli 2010. Jakarta Sunoto. 1995. Mengenal filsafat pancasila. Hanindita, Yogyakarta. 121p.

Naskah ini telah dipublikasikan dalam Iwan Nugroho. 2011. Peran Kepemimpinan Nasional Dalam Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Sebagai Falsafah Hidup Bangsa Dan Pembangunan Nasional. Kongres Pancasila ke 3 di Universitas Airlangga, Surabaya, 31 Mei hingga 1 Juni 2011.

Politik adalah kegiatan manusia yang berkaitan dengan usaha untuk memperoleh kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, membagi kekuasaan dan memanfaatkan kekuasaan yang ada untuk kepentingan diri, keluarga, kelompok dan negara. Dalam berpolitik, manusia sering terjebak dalam sebuah prinsip dasar yaitu melakukan segala macam cara demi meraih kekuasaan. Tetapi orang sering melupakan bahwa segala cara yang dimaksud, bukanlah segala cara an sich. Dibutuhkan adanya standar nilai, norma dan etika sebagai panduan untuk melakukan atau tidak melakukan cara yang dipilih. Membunuh orang lain, memfitnah pihak lain, menjeremuskan orang lain ke dalam masalah, adalah contoh bentuk-bentuk usaha politik yang tidak benar, demi meraih kekuasaan. Oleh sebab itu, penting dimengerti oleh siapapun bahwa penggunaan cara-cara yang melawan dan menodai nilai-nilai kepatutan dan etika di dalam kehidupan manusia, harus dihindari. Dalam kehidupan bernegara dan berbangsa saat ini, sering terlihat dan atau terbaca di media beberapa aktivitas politik yang menabrak nilai-nilai kehidupan yang masyarakat. Sebagian diantara contohnya adalah money politic, fitnah dan character assasination, pembunuhan wartawan, pembohongan publik dan korupsi untuk mendapatkan dana perjuangan poltiknya. Tindakan-tindakan tidak benar tersebut, tidak boleh dijustifikasi sebagai itulah politik. Politik sebagai sebuah aktivitas praktis, tetap di batasi oleh norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah hukum serta etika yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, agar dunia politik berikut aktivitas para politik bangsa ini memenuhi nilai-nilai kepatutan dalam kehidupan bermasyarakat, diperlukan adanya rujukan moral yang mengikat dan sesuai dengan filosofi bangsa jati diri bangsa yaitu Pancasila. Penempatan Pancasila sebagai rujukan etika disini, dimaksudkan sebagai penguat nilai-nilai ajaran agama resmi yang beragam di Indonesia. Diharapkan dengan menggunakan Pancasila, akan lebih bisa di terima oleh semua pihak, karena berlaku untuk semua penganut agama apapun. Satu hal yang penting diketahui, Pancasila memiliki nilai universal, sehingga tidak akan bertabrakan dengan ajaran agama apapun. 2. Rumusan Masalah Apakah etika politik dan berpolitik orang Indonesia, sudah sesuai nilai-nilai filosofis Pancasila, sebagai pandangan hidup bangsa? Bagaimana manifestasi Pancasila di dalam kehidupan politik di Indonesia? B. PUSTAKA 1. Beberapa pendapat tentang Pancasila Menurut M. Dawam Rahardjo, banyak kalangan yang menganggap bahwa Pancasila itu sebagai sesuatu yang sakti. Bahkan ibarat mantra yang mandraguna. Hal ini bisa digunakan sebagai sesuatu yang daya gunanya sangat legitimasi. Namun katanya, banyak ahli lain beda pendapat seperti diungkapkan oleh teori Daniel Bell tentang the end of ideologi, berakhirnya peran ideologi pada pertengahan abad ke-20. Namun juga berbeda keyakinan seperti yang diungkap beberapa orang Katanya, pancasila itu adalah the end of history. Maksudnya sebuah batas akhir dari perkembangan pemikiran ideologis bahwa Indonesia. Konon, ini dipinjam dari istilah Francis Fukuyama tentang tesis faham demokrasi liberal. Lihat saja negara yang tanpa pancasila sebagai ideologi, banyak yang maju. Hal ini karena tidak terikat oleh doktrin yang totaliter yang membatasi kebebasan berpikir. Akhirnya merekapun bisa bebas berkreasi dan berpikir dalam ranah pengetahuan sebagai pengganti dari ideologi semacam Pancasila. Kalau begitu, bagaimana duduk persoalan pancasila ala Indonesia itu bisa bermain. Dalam kerangka dan nilai apakah sehingga ia bisa membangun masyarakat dan negara. Melihat persoalan ini, Dawam Rahardjo mengklaim bahwa batasan pancasila itu dapat menjadi

semacam korelasi nilai di negara yang serba multi. Sebab katanya, negara yang ilmu pengetahuan dan peradaban memerlukan landasan nilai. Tanpa pancasila sebagai sistem nilai, dalam negara, seolah tidak ada lagi penjaga gawang, batas garis dan wasit moral. Hal ini cukup bisa menjadi ekses negatif. Sebab akan timbul wacana negara federal. Dimana masyarakat yang terdiri dari suku, agama dan golongan akan kehilangan tali pengikatnya. Karena itu menurut Dawam, solidaritas seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Khaldun dianggap sebagai fondasi masyarakat dan peradaban akan cair. Nasionalisme dan wawasan atau kebangsaan akan pudar. Akhirnya mengarah kepada timbulnya primordialisme baru. Dengan ketiadaan penafsiran yang bersifat totalitarianisme itu, maka kini, Pancasila diberi kebebasan untuk ditafsir menurut kebebasan dari berbagai sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Tentu saja, kata Dawam, akan menghasilkan perbedaan tafsir dan justru ini sangat bermanfaat sebagai bentuk dinamisasi pemikiran al-firqatu rahatun. Akhirnya menjadilah Pancasila itu sebagai ideologi yang terbuka bukan sesuatu yang tertutup dan bebas tafsir. Bahkan Cak Nur seorang pengamat politik pernah berkata bahwa Pancasila itu adalah ideologi yang terbuka yang memungkinkan bisa masuknya berbagai pengauruh, sebagaimana teori Marxis, kondisi ini mempengaruhi kesadaran. Dengan kata lain, perkembangan nilai itu sejalan dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, Pancasila mestilah terbuka jangan tertutup dari pengaruh luar. 2. Pancasila Sebagai sistem Etika Nilai, norma, dan moral adalah konsep-konsep yang saling berkaitan. Dalam hubungannya dengan Pancasila maka ketiganya akan memberikan pemahaman yang saling melengkapi sebagai sistem etika. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai yang menjadi sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun norma kenegaraan lainnya. Di samping itu, terkandung juga pemikiran-pemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif. Oleh karena itu, suatu pemikiran filsafat adalah suatu nilai-nilai yang bersifat mendasar yang memberikan landasan bagi manusia dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai tersebut dijabarkan dalam kehidupan yang bersifat praksis atau kehidupan nyata dalam masyarakat, bangsa dan negara maka diwujudkan dalam norma-norma yang kemudian menjadi pedoman. 3. Norma-norma Pancasila itu meliputi : a. Norma Moral Berkaitan dengan tingkah laku manusia yang dapat diukur dari sudut baik maupun buruk, sopan atau tidak sopan, susila atau tidak susila. b. Norma Hukum Suatu sistem peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam suatu tempat dan waktu tertentu dalam pengertian ini peraturan hukum. Dalam pengertian itulah Pancasila berkedudukan sebagai sumber dari segala sumber hukum. Dengan demikian, Pancasila pada hakikatnya bukan merupakan suatu pedoman yang langsung bersifat normatif ataupun praksis melainkan merupakan suatu sistem nilai-nilai etika yang merupakan sumber norma. 4. Pengertian Etika Etika adalah kelompok filsafat praktis (filsafat yang membahas bagaimana manusia bersikap terhadap apa yang ada) dan dibagi menjadi dua kelompok. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaranajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran tertentu atau bagaimana kita bersikap dan bertanggung jawab dengan berbagai ajaran moral. Kedua kelompok etika itu adalah sebagai berikut : * Etika Umum, mempertanyakan prinsip-prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia. Pemikiran etika beranekaragam, tetapi pada prinsipnya membicarakan asas-asas dari tindakan dan perbuatan manusia, serta sistem nilai apa yang terkandung di dalamnya. * Etika Khusus, membahas prinsip-prinsip tersebut di atas dalam hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia, baik sebagai individu (etika individual) maupun mahluk sosial (etika sosial). Etika khusus dibagi

menjadi dua yaitu etika individual dan etika sosial. Etika indvidual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya sendiri dan dengan kepercayaan agama yang dianutnya serta panggilan nuraninya, kewajibannya dan tanggungjawabnya terhadap Tuhannya. Etika sosial di lain hal membahas kewajiban serta normanorma social yang seharusnya dipatuhi dalam hubungan sesama manusia, masyarakat, bangsa dan negara. 5. Pengertian Nilai, Norma dan Moral Pengertian Nilai Nilai (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Jadi nilai itu pada hakikatnya adalah sifat dan kualitas yang melekat pada suatu obyeknya. Dengan demikian, maka nilai itu adalah suatu kenyataan yang tersembunyi dibalik kenyataan-kenyataan lainnya. Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial dan karya. Alport mengidentifikasikan 6 nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupan masyarakat, yaitu : nilai teori, nilai ekonomi, nilai estetika, nilai sosial, nilai politik dan nilai religi. Hierarkhi Nilai Hierarkhi nilai sangat tergantung pada titik tolak dan sudut pandang individu masyarakat terhadap sesuatu obyek. Misalnya kalangan materialis memandang bahwa nilai tertinggi adalah nilai meterial. Max Scheler menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada tidak sama tingginya dan luhurnya. Menurutnya nilai-nilai dapat dikelompokan dalam empat tingkatan yaitu : 1). Nilai kenikmatan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan indra yang memunculkan rasa senang, menderita atau tidak enak, 2). Nilai kehidupan yaitu nilai-nilai penting bagi kehidupan yakni : jasmani, kesehatan serta kesejahteraan umum, 3). Nilai kejiwaan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebenaran, keindahan dan pengetahuan murni, 4). Nilai kerohanian yaitu tingkatan ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci. Pengertian Moral Moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia. Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak benar secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi maka pribadi itu dianggap tidak bermoral. Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan dan atau prinsip-prinsip yang benar, baik terpuji dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Pengertian Norma Norma adalah perwujudan martabat manusia sebagai mahluk budaya, sosial, moral dan religi. Norma merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh karena itu, norma dalam perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, norma kesusilaan, norma hukum dan norma sosial. Norma memiliki kekuatan untuk dipatuhi karena adanya sanksi. C. PEMBAHASAN Berdasarkan pendahuluan yang di jabarkan pada latar belakang dan rumusan masalah, maka dikemukakan pembahasan sebagai berikut: 1. Apakah etika politik dan berpolitik di sebagian orang Indonesia, sudah sesuai nilai-nilai filosofis Pancasila, sebagai pandangan hidup bangsa.? Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagian politikus di Indonesia atau yang melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis, masih mengabaikan nilai-nilai etika yang terdapat di dalam Pancasila. Pendapat tersebut, bisa dibuktikan dengan banyaknya sengketa politik yang berdimensi kriminal maupun bersifat perdata. Demikian pula, bisa disaksikan di media, begitu banyaknya kerusahan dan amuk masa yang disebabkan oleh ketidak puasan terhadap hasil pemilukada. Semua kejadian dan kasus yang ada,

semestinya tidak akan terjadi, jika dalam implementasi kegiatan politik praktis, para pelaku politik menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan moral. 2. Bagaimanakah manifestasi Pancasila etika politik ? Dalam realitanya, manifestasi Pancasila dalam politik, merupakan wujud dari nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap sila yang ada. 1). Nilai-nilai pada sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, prinsipnya mengandung nilai-nilai religius yang sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh pengikutnya. Seorang politikus yang mengerti pesan moral sila pertama ini, tentulah tidak akan melakukan hal-hal yang melanggar dan berseberangan dengan nilai-nilai ketuhanan yang dipercayainya. Manifestasi nilai sila pertama ini, seharusnya berwujud dalam bentuk etika politik berupa tidak melakukan segala cara (termasuk cara yang salah) untuk meraih kekuasaan dan posisi. Secara sederhana, manifestasi sila pertama dari Pancasila dalam politik diantaranya adalah: a. Tidak mengabaikan ajaran agama yang memerintahkan perbuatan baik dan melarang perbuatan tercela. b. Tidak mengumbar janji yang kemudian dilanggarnya. c. Tidak melakukan fitnah dan pembohongan publik. d. Tidak melakukan korupsi dan tindakan penggelapan lainnya. e. Dan lain-lain 2). Manifestasi sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Politik dan kegiatan politik praktis yang dilakukan dengan mengacu pada nilai sila kedua ini, tentu akan mengedepankan asas-asa nilai kemanusiaan. Diantaranya adalah tidak menempatkan manusia atau pihak lain yang berseberangan dalam pandangan politik, sebagai musuh. Orang lain yang memiliki keyakinan politik berbeda harus tetap menjadi saudara sebangsa dan se tanah air, dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Tindakan dan perlakuan yang mengakibatkan terciderainya nilai-nilai kemanusiaan dalam meraih kekuasaan, merupakan pengabaikan nilai pancasila di dalam implementasi kegiatan politik. 3). Manifestasi sila ketiga Persatuan Indonesia. Dalam wujudnya, manifestasi sila kedua dalam politik adalah tidak melakukan berbagai upaya dan taktik untuk meraih kekuasaan dengan menggunakan isue SARA yang bisa berakibat terhadap erosinya nilai persatuan dan kesatuan bangsa. 4). Manifestasi sila ke empat Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Manifestasi nilai sila ke empat ini dalam politik, yang utama adalah mengutamakan asas musyawarah untuk mufakat. Nilai ini sangat sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia yang mengedepankan musyawarah untuk mendapatkan keputusan mufakat. Adapun voting, dilakukan sebagai jalan terakhir, jika musyawarah menemui jalan buntu. 5). Manifestasi nilai sila kelima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia Bentuk nyata nilai sila kelima ini dalam tindakan dan kegiatan politik adalah apapun warna dan aliran politik yang diyakini, harus menempatkan tujuan utamanya untuk meraih keadilan sosial bagi seluruh bangsa dan rakyat Indonesia. Jika kegiatan politik dan tujuan politik dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan terbatas, ini merupakan pengingkaran terhadap nilai sila kelima. D. KESIMPULAN Kesimpulan dalam tulisan ini adalah: 1. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebagian politikus di Indonesia atau yang melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis, masih mengabaikan nilai-nilai etika yang terdapat di dalam Pancasila. Buktinya dengan banyaknya sengketa politik yang berdimensi kriminal maupun bersifat perdata, kerusahan dan amuk masa yang disebabkan oleh ketidak puasan terhadap hasil pemilukada. 2. Manifestasi Pancasila dalam politik, diwujudkan dalam bentuk penerapan nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap sila yang ada.

http://prabugomong.wordpress.com/2010/10/22/manifestasi-pancasila-dalam-politik/

akalah pancasila "implementasi nilai - nilai pancasila"

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Dengan adanya globalisasi mungkin ada pengaruhnya terhadap implementasi nilai nilai pancasila dalam kehidupan. Implementasi nilai nilai Pancasila yang terdapat dalam kehidupan meliputi implementasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat,implementasi nilai nilai Pancasila dalam Reformasi Agraria dapat meningkatkan ketahanan pangan, implementasi nilai nilai Pancasila dalam menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat, serta bagaimana pandangan dan usulan terhadap pengambangan nilai nilai Pancasila. Di era globalisasi, banyak aspek-aspek yang mengalami perkembangan yang signifikan. Perkembangan yang terjadi tentunya membawa suatu kemajuan bagi segala aspek yang mendapat dampak adanya globalisasi. Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk. Kewarganegaraan.2005) Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa. Dengan adanya globalisasi yang mulai mempengaruhi dan masuk ke lingkup nasionalisme, maka diperlukan adanya suatu tindakan preventif dan filtrasi yang dipandang ampuh dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh pengaruh globalisasi yang kini mulai mengikis semangat nasionalisme. http://amandaputri1709.blogspot.com/2012/10/makalah-pancasila-implementasi-nilai.html