Anda di halaman 1dari 12

Potensi Kekayaan Budaya dan Nilai Sosial Nasional Sebagai Modal Sosial Pembangunan Indonesia di Masa Depan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Budaya secara istilah memiliki arti suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi1. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni2. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.3

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.

1 2

Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi 3 Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Sedangkan Kebudayaan, Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.

Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola2

pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan

bermasyarakat.

Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara yang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat banyak. Hal ini disebabkan Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau4, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara5. Dengan populasi sebesar 237 juta jiwa pada tahun 20106, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Hal ini semua menyebabkan Indonesia memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi, baik dari segi bahasa, adat istiadat, dan lain lain. Dengan begitu, Indonesia dikatakan memiliki kebudayaan yang beraneka ragam.

Keragaman budaya atau "cultural diversity" adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Dalam wilayah dengan kondisi geografis yang bervariasi sebagian penduduk Indonesia tinggal tersebar di pulau-pulau di nusantara. Mereka mendiami pegunungan, tepian hutan, pesisir, dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban kelompok-kelompok suku bangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda. Keanekaragaman kebudayaan Indonesia secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok suku bangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia pada lingkup pergaulan dunia internasional pada saat terdahulu sampai sekarang ini.

Indonesia, sebagai sebuah masyarakat majemuk, tercermin dari semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan itu mengandung arti bahwa bangsa Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri atas masyarakat-masyarakat suku bangsa yang dipersatukan dan
4 5

http://nasional.vivanews.com/news/read/260537-indonesia-daftarkan-13-487-pulau-ke-pbb Justus M. van der Kroef (1951). "The Term Indonesia: Its Origin and Usage" 6 Biro Pusat Statistik, www.bps.go.id

diatur oleh sistem nasional berupa bahasa, bendera, lagu kebangsaan, dan peraturan perundangan dalam satu kesatuan Republik Indonesia. Di antara 175 negara anggota PBB yang bersifat multietnik, hanya sekitar 12 negara yang struktur sosialnya homogen, seperti Jerman, Jepang, dan Somalia.

Menurut Clifford Geertz, aneka ragam kebudayaan yang berkembang di Indonesia dapat dibagi menjadi dua tipe berdasarkan ekosistemnya, antara lain sebagai berikut. 1. Kebudayaan Indonesia Dalam Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Dalam, yaitu daerah Jawa dan Bali ini, ditandai oleh tingginya intensitas pengolahan tanah secara teratur dan telah menggunakan sistem pengairan dan menghasilkan padi yang ditanam di sawah. Dengan demikian, kebudayaan di Jawa yang menggunakan tenaga kerja manusia dalam jumlah besar disertai peralatan yang relatif lebih kompleks merupakan perwujudan upaya manusia mengubah ekosistemnya untuk kepentingan masyarakat. 2. Kebudayaan Indonesia Luar Kebudayaan yang berkembang di Indonesia Luar, yaitu di luar Pulau Jawa dan Bali, kecuali di sekitar Danau Toba, dataran tinggi Sumatra Barat dan Sulawesi Barat Daya yang berkembang atas dasar pertanian perladangan. Ekosistem di daerah ini ditandai dengan jarangnya penduduk yang pada umumnya baru beranjak dari kebiasaan hidup berburu ke arah hidup bertani. Oleh karena itu, mereka cenderung untuk menyesuaikan diri mereka dengan ekosistem yang ada sehingga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mereka melakukan migrasi ke daerah lain. Sistem kebudayaan masyarakat yang berkembang di daerah ini adalah kebudayaan masyarakat pantai yang diwarnai kebudayaan alam pesisir, kebudayaan masyarakat peladang, dan kehidupan masyarakat berburu yang masih sering berpindah tempat.

Macam-macam potensi keberagaman budaya di Indonesia sesungguhnya sangat amat banyak. Hal ini disebabkan posisi geografis Indonesia yang sangat strategis mendorong terbentuknya heterogenitas budaya yang membentuk perilaku sosial,sistem nilai, pandangan hidup, dan sistem kepercayaan yang dilestarikan sebagai wujud ikatan primordial. Kepulauan Indonesia merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang sangat ramai karena terletak di antara dua samudra, yaitu
4

Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Melalui aktivitas perdagangan antarnegara ini pengaruh kebudayaan asing masuk ke Indonesia seperti kebudayaan India yang membawa penyebaran pengaruh agama Buddha dan Hindu. Selain menerima pengaruh agama Hindu, Indonesia juga menerima pengaruh agama Islam yang disebarkan para pedagang muslim yang menelusuri jalur perdagangan di pantai laut Hindia sampai ke Aceh dan pantai utara Sumatra. Selanjutnya, para pedagang muslim dan para sufi, selain berdagang juga menyebarkan agama dan budaya Islam di Sumatra, Jawa, hingga Maluku.

Kerajaan yang menerima pengaruh budaya Islam terdapat di pedalaman Jawa, yaitu Kerajaan Mataram. Di Kerajaan Mataram Islam terjadi akulturasi budaya Islam dengan budaya HinduJawa yang menciptakan campuran budaya. Meskipun secara formal penduduk Mataram beragama Islam, bentuk-bentuk budaya Hindu dalam ritual kerajaan, seperti budaya labuhan dan sesaji tetap eksis

Pada masa penjajahan, Indonesia menerima pengaruh budaya Barat dari penjajah Portugis, Inggris, dan Belanda yang beragama Kristen dan Katolik. Pengaruh kebudayaan Kristen dan Katolik tersebut berkembang di daerah Sumatra Utara, Sulawesi Utara, Toraja, Ambon, dan Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya, kebudayaan Kristen tersebut bercampur dengan kebudayaan masyarakat setempat.

Melihat struktur sosial masyarakat Indonesia yang beraneka ragam budaya, etnik, ras, agama, dan bahasanya maka masyarakat Indonesia dapat digolongkan sebagai masyarakat majemuk. Kemajemukan tersebut dapat dilihat dari : a. Kemajemukan berdasarkan Agama Struktur sosial masyarakat Indonesia ditandai oleh keragaman di bidang agama yang dianut oleh suku-suku bangsa tertentu. Suku bangsa Aceh yang tinggal di Sumatra mayoritas memeluk agama Islam, sedangkan suku bangsa Batak yang tinggal di Provinsi Sumatra Utara mayoritas beragama Kristen. Di lain pihak, suku bangsa Jawa, Sunda, dan Betawi yang tinggal di Pulau Jawa mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Sebagian besar penduduk Bali memeluk agama Hindu, sedangkan mayoritas penduduk Pulau Lombok yang berbatasan dengan Bali memeluk agama Islam.
5

Keragaman agama dan kepercayaan di Indonesia juga tercermin dari praktik religi dan kepercayaan yang dianut oleh suku-suku pedalaman di Indonesia. Misalnya, suku bangsa Dayak di Kalimantan yang masih mempraktikkan ritual-ritual animisme dan dinamisme warisan nenek moyang. b. Kemajemukan berdasarkan Bahasa Kemajemukan masyarakat Indonesia juga tercermin dari penggunaan bahasa di Indonesia. Menurut Clifford Geertz, di Indonesia terdapat 300 suku bangsa yang berbicara dalam 250 bahasa. Di Jawa, suku bangsa Sunda berbicara dengan bahasa Sunda, suku bangsa Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur menggunakan bahasa Jawa, dan suku bangsa Madura yang tinggal di Pulau Madura berbicara dengan menggunakan bahasa Madura. Di Sumatra setiap etnik berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing. Suku bangsa Melayu yang terdiri atas suku bangsa Aceh, Batak, dan Melayu, berbicara memakai bahasa daerahnya masing-masing. Di Provinsi Aceh,

terdapat empat macam bahasa, yaitu Gayo-Alas, Aneuk Jamee, Tamiang, dan bahasa Aceh yang masing-masing penuturnya tidak dapat memahami penutur bahasa setempat lainnya. Kemajemukan bahasa di Indonesia juga tercermin dari penggunaan ragam bahasa khusus yang dipakai beberapa suku-suku pedalaman di Indonesia. Menurut Raymond Gordon, di Provinsi Papua terdapat 271 buah bahasa. Bahasa terbesar yang dipakai di Papua adalah bahasa Biak Numfor yang dipakai oleh 280.000 orang, sedangkan jumlah pemakai bahasa terkecil adalah bahasa Woria yang hanya dipakai oleh 5 orang anggota suku Woria. Selain itu, keragaman bahasa juga terdapat di berbagai daerah di Pulau Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. c. Kemajemukan berdasar Ras dan Etnik Masyarakat awal pada zaman praaksara yang datang pertama kali di Kepulauan Indonesia adalah ras Austroloid sekitar 20.000 tahun yang lalu. Selanjutnya, disusul kedatangan ras Melanosoid Negroid sekitar 10.000 tahun lalu. Ras yang datang terakhir ke Indonesia adalah ras Melayu Mongoloid sekitar 2500 tahun SM pada zaman Neolithikum dan Logam. Ras Austroloid kemudian bermigrasi ke Australia dan sisanya hidup di Nusa Tenggara Timur dan Papua. Ras Melanesia Mongoloid berkembang di Maluku dan Papua, sedangkan ras Melayu Mongoloid menyebar di Indonesia bagian barat. Ras- ras tersebut tersebar dan membentuk berbagai suku bangsa di Indonesia.
6

d. Kemajemukan Berdasar Budaya dan Adat Istiadat Menurut van Vollenhoven, masyarakat Indonesia dikelompokkan menjadi 23 suku bangsa yang memiliki sistem budaya dan adat yang berbeda-beda. 23 suku bangsa tersebut, antara lain 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aceh; Gayo-Alas dan Batak; Nias dan Batu; Minangkabau; Mentawai; Sumatra Selatan; Enggano; Melayu; Bangka dan Belitung;

10. Kalimantan; 11. Sangir Talaud; 12. Gorontalo; 13. Toraja; 14. Sulawesi Selatan; 15. Ternate; 16. Ambon dan Maluku; 17. Kepulauan Barat Daya; 18. Irian; 19. Timor; 20. Bali dan Lombok; 21. Jawa Tengah dan Jawa Timur; 22. Surakarta dan Yogyakarta; 23. Jawa Barat.

Berdasarkan penelitian antropolog J.M Melalatoa, di Indonesia terdapat kurang lebih 500 suku bangsa. Menurut Zulyani Hidayah, di Indonesia terdapat kurang lebih 656 suku bangsa. Di antara suku-suku bangsa tersebut suku bangsa Jawa merupakan suku bangsa terbesar dengan jumlah
7

penduduk sebesar 90 juta jiwa. Namun, terdapat pula suku bangsa yang terdiri atas 981 jiwa, yaitu suku bangsa Bgu di pantai utara Provinsi Papua.

Budaya dan adat istiadat suku-suku bangsa di Indonesia tersebut mempunyai berbagai perbedaan. Suku-suku bangsa yang sudah banyak bergaul dengan masyarakat luar dan

bersentuhan dengan budaya modern seperti suku Jawa, Minangkabau, Batak, Aceh, dan Bugis memiliki budaya lokal yang berbeda dengan suku-suku bangsa yang masih tertutup atau terisolir seperti suku Dayak di pedalaman Kalimantan dan suku Wana di Sulawesi Tengah

Budaya bangsa yang begitu banyak tersebut haruslah dapat menjadi potensi modal bagi bangsa Indonesia. Budaya yang ada tersebut merupakan karakteristik bangsa Indonesia yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya. Dengan menjadikan Memanfaatkan nilai-nilai sosial dan kebudayaan sebagai modal sosial7 dalam memperkuat pembangunan di Indonesia sekaligus melestarikan nilai-nilai dan kebudayaan yang telah berkembang di Indonesia yang akan membuat bangsa ini menjadi negara yang akan disegani dalam pembangunan di masa depan. Menurut Fukuyama (1999) menyatakan bahwa modal sosial memegang peranan yang sangat penting dalam memfungsikan dan memperkuat kehidupan masyarakat modern, oleh karena itu modal sosial diyakini sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide, saling kepercayaan dan saling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Menurut Narayan (dalam Suharto, 2007) menyatakan modal sosial adalah aturan-aturan, norma-norma, kewajiban-kewajiban, hal timbal balik dan kepercayaan yang mengikat dalam hubungan sosial, struktur sosial dan pengaturan-pengaturan kelembagaan masyarakat yang memungkinkan para anggota untuk mencapai hasil sasaran individu dan

masyarakat mereka. Dan menurut Dhesi (dalam Suharto 2007) modal sosial adalah pengetahuan dibagi bersama, pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, norma-norma, dan jaringan sosial untuk memastikan hasil-hasil yang diharapkan.

Modal sosial mirip bentuk-bentuk modal lainnya, dalam arti ia juga bersifat produktif. Modal sosial dapat dijelaskan sebagai produk relasi manusia satu sama lain, khususnya relasi yang intim
7

Modal sosial merupakan sumber daya sosial yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumberdaya baru dalam masyarakat
8

dan konsisten. Modal sosial menunjuk pada jaringan, norma dan kepercayaan yang berpotensi pada produktivitas masyarakat. Namun demikian, modal sosial berbeda dengan modal finansial, karena modal sosial bersifat kumulatif dan bertambah dengan sendirinya (self-reinforcing) (Putnam, 1993). Karenanya, modal sosial tidak akan habis jika dipergunakan, melainkan semakin meningkat. Rusaknya modal sosial lebih sering disebabkan bukan karena dipakai, melainkan karena ia tidak dipergunakan. Berbeda dengan modal manusia, modal sosial juga menunjuk pada kemampuan orang untuk berasosiasi dengan orang lain (Coleman, 1988). Bersandar pada norma-norma dan nilai-nilai bersama, asosiasi antar manusia tersebut menghasilkan kepercayaan yang pada gilirannya memiliki nilai ekonomi yang besar dan terukur (Fukuyama, 1995).

Merujuk pada Ridell (1997), ada tiga parameter modal sosial, yaitu kepercayaan (trust), normanorma (norms) dan jaringan-jaringan (networks). 1. Kepercayaan Sebagaimana dijelaskan Fukuyama (1995), kepercayaan adalah harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama. Kepercayaan sosial merupakan penerapan terhadap pemahaman ini. Cox (1995) kemudian mencatat bahwa dalam masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi, aturanaturan sosial cenderung bersifat positif; hubungan-hubungan juga bersifat kerjasama. Menurutnya We expect others to manifest good will, we trust our fellow human beings. We tend to work cooperatively, to collaborate with others in collegial relationships (Cox, 1995: 5). Kepercayaan sosial pada dasarnya merupakan produk dari modal sosial yang baik. Adanya modal sosial yang baik ditandai oleh adanya lembaga-lembaga sosial yang kokoh; modal sosial melahirkan kehidupan sosial yang harmonis (Putnam, 1995). Kerusakan modal sosial akan menimbulkan anomie dan perilaku anti sosial (Cox, 1995). 2. Norma Norma-norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, harapan-harapan dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang. Norma-norma dapat bersumber dari agama, panduan moral, maupun standar-standar sekuler seperti halnya kode etik profesional.
9

Norma-norma dibangun dan berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk mendukung iklim kerjasama (Putnam, 1993; Fukuyama, 1995). Normanorma dapat merupaka pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial. 3. Jaringan Infrastruktur dinamis dari modal sosial berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia (Putnam, 1993). Jaringan tersebut memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama. Masyarakat yang sehat cenderung memiliki jaringan-jaringan sosial yang kokoh. Orang mengetahui dan bertemu dengan orang lain. Mereka kemudian membangun inter-relasi yang kental, baik bersifat formal maupun informal (Onyx, 1996). Putnam (1995) berargumen bahwa jaringan-jaringan sosial yang erat akan memperkuat perasaan kerjasama para anggotanya serta manfaat-manfaat dari partisipasinya itu. Bersandar pada parameter di atas, beberapa indikator kunci yang dapat dijadikan ukuran modal sosial antara lain (Spellerber, 1997; Suharto, 2005b): a. b. c. d. e. f. g. Perasaan identitas; Perasaan memiliki atau sebaliknya, perasaan alienasi; Sistem kepercayaan dan ideologi; Nilai-nilai dan tujuan-tujuan; Ketakutan-ketakutan; Sikap-sikap terhadap anggota lain dalam masyarakat; Persepsi mengenai akses terhadap pelayanan, sumber dan fasilitas (misalnya pekerjaan, pendapatan, pendidikan, perumahan, kesehatan, transportasi, jaminan sosial); h. i. j. k. l. Opini mengenai kinerja pemerintah yang telah dilakukan terdahulu; Keyakinan dalam lembaga-lembaga masyarakat dan orang-orang pada umumnya; Tingkat kepercayaan; Kepuasaan dalam hidup dan bidang-bidang kemasyarakatan lainnya; Harapan-harapan yang ingin dicapai di masa depan;

Dapat dikatakan bahwa modal sosial dilahirkan dari bawah (bottom-up), tidak hierarkis dan berdasar pada interaksi yang saling menguntungkan. Oleh karena itu, modal sosial bukan
10

merupakan produk dari inisiatif dan kebijakan pemerintah. Namun demikian, modal sosial dapat ditingkatkan atau dihancurkan oleh negara melalui kebijakan publik (Cox, 1995; Onyx, 1996). Modal sosial merupakan unsur sangat penting dalam pencapaian tujuan suatu bangsa. Dalam menyongsong era globalisasi dan era lepas landas, setiap bangsa memerlukan sumber daya manusia (SDM) dalam perspektif modal sosial yang memiliki keunggulan prima dan memiliki kualitas tinggi yaitu di samping menguasai iptek juga harus memiliki sikap mental dan soft skill sesuai dengan kompetensinya. Modal sosial yang besar harus dapat diubah menjadi suatu aset yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa. Tindakan yang cermat dan bijaksana harus dapat diambil dalam membekali dan mempersiapkan modal sosial, sehingga benar-benar menjadi aset pembangunan bangsa yang produktif dan bermanfaat serta berkualitas untuk pendampingan dalam proses pengembangan masyarakat. Dalam perspektif modal sosial, konsep SDM (human resources) merupakan satu kesatuan yang utuh dalam sistem sosialnya dan memiliki potensi yang tinggi dalam pengembangan masyarakat berkelanjutan. Manusia harus dilihat secara lebih utuh, sehingga konsep social capital (modal sosial) tidak dapat dipisahkan. Semakin tinggi kualitas modal modal sosial suatu bangsa, maka semakin tinggi pula tingkat kemajuan bangsa tersebut. Demikian sebaliknya, semakin rendah kualitas modal sosial suatu bangsa akan menjerumuskan pada kemunduran suatu bangsa.

Proses pengembangan masyarakat berkelanjutan memerlukan tenaga pendamping yang berkualitas dan mampu memadukan konsep pengetahuan lokal (indigenous knowledge) dan modal sosial secara partisipatif. Oleh karena itu, upaya peningkatan kapasitas modal sosial dan kualitas pendamping pengembangan masyarakat berkelanjutan perlu dilaksanakan secara spesifik lokasi dan mengedepankan aspek pengembangan energi sosial budaya alam.

11

Daftar Pustaka
http://id.wikipedia.org/Indonesia. Diakses tanggal 14 Mei 2013. Ikram. Modal Sosial : Definisi, Dimensi, dan Tipologi. 2011. Lampung : Universitas Lampung Ridjal, Fauzie dan Karim, M. Rusli. Dinamika Budaya dan Politik Dalam Pembangunan. 1991. Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya Siany L., Atiek Catur B. Khazanah Antropologi. 2009. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Sumardjo. Peningkatan Kapasitas Modal Sosial dan Kualitas Pendamping Pengembangan Masyarakat Berkelanjutan. Bogor : Institut Pertanian Bogor.

12