Anda di halaman 1dari 17

BEA METERAI

A. Bea Meterai Adalah Pajak Bea meterai adalah pajak, ini dapat dibuktikan dengan melihat ciriciri yang melekat pada pengertian bea meterai dengan disandingkan dengan ciriciri pajak. Ciriciri yang melekat pada pengertian pajak antara lain : 1. Pajak adalah peralihan kekayaan dari orang/badan ke Pemeerintah 2. Pajak dipungut berdasarkan ketentuan undangundang serta aturan pelaksanaannya sehingga dapat dipaksakan; 3. Dalam pembayaran pajak, tidak dapat ditunjukkan kontraprestasi langsung secara individual yang diberikan oleh Pemerintah; 4. Pajak dipungut oleh negara, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah; 5. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaranpengeluaran pemerintah, yang bila dari pemaasukannya masih terdapat surplus, maka surplus tersebut digunakan untuk investasi publik. 6. Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu dari Pemerintah. 7. Pajak dapat dipungut secara langsung atau tidak langsung. Selanjutnya tentang bea meterai dijelaskan dalam Pasal 1 ayat (1) Undang

B. Dasar Hukum Pemungutan Bea Meterai UndangUndang Nomor 13 tahun 1985 C. Bea Meterai Adalah Pajak Atas Dokumen Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya pasal 1 ayat (1) UU Bea Meterai menyatakan dengan nama bea meterai dikenakan pajak atas dokumen yang disebut dalam undang undang ini . Hal ini menunjukkan bahwa UU Bea Meterai dengan tegas menyatakan bahwa bea meterai adalah pengenaan pajak atas dokumen. Dengan demikian, yang dikenakan pajak adalah dokumen yangdibuat oleh orang atau badan yang berkepentingan atas dokumen tersebut Pasal 1 ayat (2) UU Bea Meterai memberikan definisi dokumen sebagai kertas yang berisikan tulisan yag mengandung arti dan maksud tentang perbuatan, keadaan, atau kenyataan bagi seseorang dan atau pihakpihak yang berkepentingan

D. Objek Bea Meterai Sesuai dengan pasal 2 UU Bea Meterai dokumen yang dikenakan bea meterai adalah : a. Surat perjanjian dan suratsurat lainnya yang dibuat dengan tujuan untuk digunakan sebagai alat pembuktian mengenai perbuatan, kenyataan, atau keadaan yang bersifat perdata. b. Aktaakta notaris sebagai salinannya. c. Aktaakta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) termasuk rangkaprangkapnya. d. Surat yang memuat jumlah Uang, yaitu; Yang menyebutkan penerimaan uang; Yang menyatakan pembukuan uang atau penyimpanan uang dalam rekening di bank; Yang berisi pemberitahuan saldo rekening di bank; dan Yang berisi pengakuan bahwa utang uang seluruhnya atau sebagiannya telah dilunasi atau diperhitungkan. e. Surat berharga seperti wesel, promes, aksep , dan cek. f. Efek dalam nama dan bentuk apapun

E. Bukan Objek Bea Meterai Pasal 4 UU Bea Meterai menentukan tidak dikenakan bea meterai atas dokumen, antara lain: a. dokumen yang berupa : 1) surat penyimpanan barang; 2) konosemen; 3) surat angkutan penumpang dan barang; 4) keterangan pemindahan yang dituliskan di atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam angka 1), angka 2), dan angka 3); 5) bukti untuk pengiriman dan penerimaan barang; 6) surat pengiriman barang untuk dijual atas tanggungan pengirim; 7) suratsurat lainnya yang dapat disamakan dengan suratsurat sebagaimana dimaksud dalam angka 1) sampai angka 6). b. segala bentuk Ijazah; c. tanda terima gaji, uang tunggu, pensiun, uang tunjangan, dan pembayaran lainnya yang ada kaitannya dengan hubungan kerja serta suratsurat yang diserahkan untuk mendapatkan pembayaran itu; d. tanda bukti penerimaan uang Negara dari kas Negara, Kas Pemerintah Daerah, dan bank;

e. kuitansi untuk semua jenis pajak dan untuk penerimaan lainnya yang dapat disamakan dengan itu dari Kas Negara, Kas Pemerintahan Daerah dan bank;
f. tanda penerimaan uang yang dibuat untuk keperluan intern organisasi; g. dokumen yang menyebutkan tabungan, pembayaran uang tabungan kepada penabung oleh bank, koperasi, dan badanbadan lainnya yang bergerak di bidang tersebut; h. surat gadai yang diberikan oleh Perusahaan Jawatan Pegadaian;

i. tanda pembagian keuntungan atau bunga dari efek, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

SUBJEK, SAAT TERUTANG, DAN TARIF BEA METERAI


A. Subjek Bea Meterai

Pasal 6 UU Bea Meterai menentukan bahwa Bea

Meterai terhutang

oleh pihak

yang

menerima

atau pihak yang

mendapat

manfaat
bersangkutan

dari dokumen,

kecuali

pihak atau pihakpihak yang

menentukan lain.

Selanjutnya dalam penjelasan Pasal 6 tersebut dijelaskan subjek bea meterai untuk tiaptiap jenis dokumen sebagai berikut:
a. Dalam hal dokumen dibuat sepihak, misalnya kuitansi, Bea Meterai terhutang oleh penerima kuitansi. b. Dalam hal dokumen dibuat oleh 2 (dua) pihak atau lebih, misalnya surat perjanjian di bawah tangan, maka masingmasing pihak terhutang Bea Meterai atas dokumen yang diterimanya. c. Jika surat perjanjian dibuat dengan Akta Notaris, maka Bea Meterai yang terhutang baik atas asli sahih yang disimpan oleh Notaris maupun salinannya yang diperuntukkan pihakpihak yang bersangkutan terhutang oleh pihakpihak yang mendapat manfaat dari dokumen tersebut, yang dalam contoh ini adalah pihakpihak yang mengadakan perjanjian. Jika pihak atau pihakpihak yang bersangkutan menentukan lain, maka Bea Meterai terhutang oleh pihak atau pihakpihak yang ditentukan dalam dokumen tersebut.

B. Saat Terutang Bea Meterai Saat terutang bea meterai sangat perlu diketahui karena akan menentukan besarnya tarif bea meterai yang berlaku dan juga berguna untuk menentukan daluarsa pemenuhan bea meterai dan denda admininistrasi yang terutang. Saat terutang bea meterai ditentukan oleh jenis dan di mana suatu dokumen dibuat. Pasal 5 UU Bea Meterai menentukan saat terutang bea meterai sebagai berikut:

a. Dokumen yang dibuat oleh satu pihak, adalah pada saat dokumen itu diserahkan. Lebih jauh dijelaskan bahwa yang dimaksud saat dokumen itu diserahkan termasuk juga bahwapada saat itu dokumen tersebut diterima oleh pihak untuk siapa dokumen itu dibuat, bukan padasaat ditandatangani, misalnya kuintansi, cek, dan sebagainya.
b. Dokumen yang dibuat oleh lebih dari salah satu pihak, adalah pada saat selesainya dokumen dibuat, yang ditutup dengan pembubuhan tanda tangan dari yang bersangkutan. Sebagai contoh surat perjanjian jual beli. Bea Meterai terhutang pada saat ditandatanganinya perjanjian tersebut.

c. Dokumen yang dibuat di luar negeri adalah pada saat digunakan di Indonesia.

C. Tarif Bea Meterai Perkembangan tarif bea meterai per jenis dokumen tercantum dalam tabel 1 berikut: Tabel 1 Perbandingan Tarif Bea Meterai dari Waktu ke Waktu

PELUNASAN BEA METERAI


Secara umum bea meterai atas dokumen yang terutang cara, yaitu dengan menggunakan benda meterai atau menggunakan cara

dilunasi denga dua

lain yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

A. Pelunasan Bea Meterai dengan Menggunakan Benda Meterai Benda meterai yang dapat digunakan sebagai sarana pelunasan benda meterai terutang adalah benda meterai sebagaimana dimaksud dalm Pasal 1 ayat (2) huruf b UU Bea Meterai, yaitu meterai tempel dan kertas metereai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.

1. Meterai Tempel Pelunasan bea meterai dengan menggunakan meterai tempel dilakukan sesuai dengan Pasal 7 ayat( 3) (6) UU Bea Meterai, yaitu sebagai berikut. a. Meterai tempel direkatkan seluruhnya dengan utuh dan tidak rusak di atas dokumen yang dikenakan Bea Meterai. b. Meterai tempel direkatkan di tempat dimana tanda tangan akan dibubuhkan. c. Pembubuhan tanda tangan disertai dengan pencantuman tanggal, bulan, dan tahun dilakukan dengan tinta atau yang sejenis dengan itu, sehingga sebagian tanda tangan ada di atas kertas dan sebagian lagi di atas meterai tempel. d. Jika digunakan lebih dari satu meterai tempel, tanda tangan harus dibubuhkan sebagian di atas semua meterai tempel dan sebagian di atas kertas.Letak perekatan meterai tempel bergantung kepada dimana letak tanda tangan akan dibubuhkan diatas kertas yang bersangkutan. Pada umumnya di bawah tulisan yang sudah selesai. Jika suatu dokumen yang dibubuhi meterai tempel harus ditandatangani oleh lebih dari satu orang, penanda tanga pertama harus mempergunakan meterai tempel tersebut.

2. Kertas Meterai Pelunasan bea meterai dengan menggunakn kertas meterai dilakukan sesua dengan Pasal 7 ayat (7) (8) UU Bea Meterai, yaitu dengan cara menuliskan dokumen yang menjadi objek bea meterai pada kertas meterai yang ditentukan.

Tanda tangan pihak yang membuat dokumen tersebut dilakukan di atas kertas meterai, pada bagian yang sesuai dengan dokumen yang dibuat (tidak ditentukan harus pada sisi tertentu dari kertas meterai). Jika isi dokumen yang dikenakan bea meterai terlalu panjang untuk dimuat seluruhnya di atas kertas meterai yang digunakan, maka untuk bagian isi yang masih tertinggal dapat digunakan kertas tidak ber meterai. Suatu dokumen yang menggunakan beberapa helai kertas (misalnya akta pendirian sebuah perseroan terbatas) dan akta pendirian tersebut menggunakan kertas meterai, maka hanya bagian awal (helai pertama) saja yang menggunakan meterai, kemudia helaihelai berikutnya dapat menggunakan kertas biasa tanpa meterai. Kertas meterai yang sudah digunakan, tidak boleh digunakan lagi. Apabila ketentuan tentang bentuk, ukuran, warna meterai tempel, dan kertas meterai, demikian pula pencetakan, serta tata cara pelunasan bea meterai tidak dipenuhi, maka dokumen yang bersangkutan dianggap tidak bermeterai.

B. Pelunasan Bea Meterai Menggunakan Cara Lain pemeteraian dengan cara lain diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 133b/KMK.04/2000 tanggal 28 April 2000 sebagai berikut: Pemeteraian dengan cara lain dilakukan dengan tiga cara, yaitu: a. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan mesin teraan meterai (sudah tidak berlaku lagi, sebagai gantinya adalah mesin teraan meterai digital). b. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan teknologi percetakan; atau c. Dengan membubuhkan tanda bea meterai lunas dengan sistem komputerisasi

Pemeteraian Kemudian Pemeteraian kemudian merupakan salah satu cara pelunasan bea meterai selain pelunasan dengan menggunakan benda meterai dan pelunasan dengan cara lain. Hal ini untuk memberikan kemudahan Wajib Pajak dan dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undangundang Nomor 13 Tahun 1985 yang menyatakan : Pemeteraian kemudian dilakukan atas: a. Dokumen yang semula tidak terutang Bea Meterai namun akan digunakan sebagai alat pembuktian di muka pengadilan. b. Dokumen yang Bea Meterainya tidak atau kurang dilunasi sebagaimana mestinya. c. Dokumen yang dibuat di luar negeri yang akan digunakan di Indonesia.