Anda di halaman 1dari 50

MAKALAH SISTEM ENDOKRIN DIABETES MELITUS

Disusun Oleh Kelompok 1A : 1. Khristina Damayanti 2. Maria Valenzya 3. Marieta 4. Monica Sukmaningtyas 5. Petrus Ganggu 6. Tiyastutik 7. Yolanda Dias (201111065) (201111073) (201111075) (201111080) (201111085) (201111108) (201111118)

S1 ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI KESEHATAN SANTA ELISABETH SEMARANG 2012/2013

KATA PENGANTAR Puji dan Syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat dan campur tangan-Nyalah, maka kami dapat menyelesaikan makalah sistem endokrin Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit diabetes melitus ini dengan baik. Semoga apa yang kami tulis dan kami paparkan dalam makalah ini dapat dimengerti dan di pahami dengan baik oleh pembaca sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca dalam menjaga dan meningkatkan status kesehatan dalam kehidupan sehari hari. Penulis menyadari bahwa makalah asuhan keperawatan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.

Semarang, 21 Mei 2013

Penyusun

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Tujuan BAB II PENYAKIT DIABETES MELITUS 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 Anatomi dan Fungsi kelenjar Pankreas Mekanisme umpan balik kelenjar pancreas. Peranan pancreas dalam mengatur metabolism glukosa. Metabolisme glukosa dalam tubuh.. Patofisiologi diabetes mellitus. Pemeriksaan diagnostic diabetes mellitus. Diet untuk DM I, II, III dan implikasi keperawatannya Farmakologi anti diabet, hormone insulin dan implikasi keperawatannya.. 2.9 Penatalaksanaan Diabetes mellitus : suntik insulin.. 2.10 Askep diabetes mellitus 2.11 Keterampilan memberikan suntik insulin.. 2.12 Pendidikan kesehatan: perawatan kaki diabet: (senam kaki, perawatan kuku) dan diet DM 2.13 Keterampilan cek GDS dan reduksi urine. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran. DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Diabetes Melitus sering disebut sebagai the great imitator, karena penyakit ini dapat mengenai semua organ tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Gejalanya sangat bervariasi. Diabetes melitus (DM) dapat timbul secara perlahan-lahan sehingga pasien tidak menyadari akan adanya perubahan seperti minum yang menjadi lebih banyak, buang air kecil ataupun berat badan yang menurun. Gejala-gejala tersebut dapat berlangsung lama tanpa diperhatikan, sampai kemudian orang tersebut pergi kedokter dan diperiksa kadar glukosa darahnya. Penyakit DM terkadang pula gambaran klinisnya tidak jelas, asimtomatik dan diabetes baru ditemukan pada saat pemeriksaan penyaringan atau pemeriksaan untuk penyakit lain. Dari sudut pasien diabetes mellitus sendiri, hal yang sering menyebabkan pasien datang berobat ke dokter dan kemudian didiagnosis sebagai diabetes mellitus dengan keluhan yaitu terjadi kelainan pada kulit seperti gatal-gatal, bisulan. Selain itu juga terjadi kelainan ginekologis seperti keputihan dan lain-lain Gejala-gejala pada DM merupakan akibat dari adanya ketidak seimbangan dalam metabolisme hidrat arang, protein, lemak dengan produksi ataupun fungsi horman insulin. Diabetes Melitus (DM) adalah suatu sindrom klinik yang terdiri dari peningkatan kadar gula darah, ekkresi gula melalui air seni dan gangguan mekanisme kerja hormon insulin. Kelainan tersebut timbul secara bertahap dan bersifat menahun. Penyakit Diabetes Melitus (DM) ini terjadi akibat terjadinya gangguan mekanisme kerja hormon insulin, sehingga gula darah yang ada di dalam tubuh tidak dapat dinetralisir. Gizi juga dapat menunjukkan peranannya dalam terjadinya Diabetes Mellitus dalam dua arah yang berlawanan. Gizi lebih yang merupakan petunjuk umum peningkatan taraf kesejahteraan perorangan, memperbesar kemungkinan manifestasi DM, terutama pada mereka yang memang dilahrikan dengan bakat tersebut. Pada keadaan yang demikian gejala DM dapat di atasi dengan pengaturan kembali keseimbangan metabolisme zat gizi dalam tubuh dengan masukan zat gizi melalui makanan.

1.2 Tujuan 1.2.1 agar mahasiswa mengatahui anatomi dan fisiologi kelenjar pancreas 1.2.2 1.2.3 agar mahasiswa mengetahui metabolism glukosa dalam tubuh agar mahasiswa mengetahui penatalaksanaan keperawatan klien dengan penyakit diabetes mellitus 1.2.4 agar mahasiswa mengetahui keterampilan keperawatan untk pasien dengan diabetes mellitus 1.3 Manfaat 1.3.1 1.3.2 1.3.3 Mahasiswa mengatahui anatomi dan fisiologi kelenjar pancreas Mahasiswa mengetahui metabolism glukosa dalam tubuh Mahasiswa mengetahui penatalaksanaan keperawatan klien dengan penyakit diabetes mellitus 1.3.4 Mahasiswa mengetahui keterampilan keperawatan untk pasien dengan diabetes mellitus

BAB II PENYAKIT DIABETES MELITUS

2.1

Anatomi dan Fungsi kelenjar Pankreas Pankreas adalah suatu organ lonjong dari kira-kira 15 cm, yang terletak di belakang lambung dan sebagian di belakang hati. Organ ini terdiri dari 98% sel-sel dengan sekresi ekstern, yang memproduksi enzim-enzim cerna yang disalurkan ke duodenum. Sisanya terdiri dari kelompok sel (pulau Langerhans) dengan sekresi intern, yakni hormon-hormon yang disalurkan langsung ke aliran darah. Dalam pankreas terdapat empat jenis sel endokrin, yakni: Sel-alfa, yang memproduksi hormon glukagon yang merangsang hati memproduksi glukosa; bekerja berlawanan dengan insulin. Sel-beta dengan banyak granula berdekatan membran selnya, yang berisi insulin (Lat. insula= pulau). Setiap hari dieksresikan k.l. 2 mg (= 50 UI) insulin, yang dengan aliran darah diangkut ke hati. Kira-kira 50% dari hormon ini dirombak di sini, sisanya diuraikan dalam ginjal. Sel-D memproduksi somatostatin (antagonis somatropin). Sel-PP memproduksi PP (pancreatic polypeptide), yang mungkin berperan pada penghambatan sekresi endokrin dan empedu

FUNGSI 1. Glukagon hormone fungsi utama : meningkatkan kadar gula darah sekresi distimulasi oleh kadar gula darah Organ target : hepar / peningkatan glikogenolisis metabolisme lemak : peningkatan lipolisis dalam kead. Tertentu (lapar, sakit) : peningkatan glikoneogenesis/asam aminop menjadi glukosa

2. Insulin hormone fungsi utama : menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan difusi glukosa dalam sel efek anabolik insulin : terhadap hepar : meningkatkan sintesa dan penyimpanan glikogen, mhambat glikogenolisis, glikoneogenesis, ketogenesis, meningkatkan trigliserida terhadap otot : mningkatkan sintesa protein, meningkatkan transpor as. Amino, meningkatkan glikogenesis

Gambar Pankreas

2.2

Mekanisme umpan balik kelenjar pancreas

Keterangan 1. Fungsi hati sebagai sistem buffer glukosa darah yang sangat penting yaitu bila glukosa darah meningkat ke konsentrasi sangat tinggi setelah makan dan kecepatan sekresi insulin juga meningkat, sebanyak 2/3 glukosa yang diabsorpsi dari usus hampir segera disimpan di dalam hati dalam bentuk glikogen. Kemudian, selama jam berikutnya jika konsentrasi glukosa darah dan kecepatan sekresi insullin turun hati melepaskan glukosa kembalike dalam darah. 2. Fungsi insulin dan glukagon sebagai sistem umpan balik terpisah dan penting untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah yang normal. Jika konsentrasi meningkat sampai kadar yang sangat tinggi maka insulin disekresikan sebaliknya insulin menyebabkan konsentrasi glukosa darah menurun ke arah normal. Sebaliknya penurunan glukosa darah merangsang sekresi glukagon kemudian glukagon berfungsi dalam arah sebaliknya untuk meningkatkan glukosa ke arah normal. 3. Pada hipoglikemia efek langsung glukosa darah yang rendah atas hipotalamus merangsang susunan saraf simpatis sebaliknya epinefrine yang disekresi oleh kelenjar adrenal, masih menyebabkan pelepasan glukosa lebih lanjut dari hati. 4. Hormon pertumbuhan (STH dan ACTH) dan kortisol disekresikan dalam respon terhadap hipoglikemia yang berkepanjangan dan mereka menurunkan kecepatan penggunaan glukosa oleh bagian terbesar sel-sel tubuh

2.3

Peranan pancreas dalam mengatur metabolisme glukosa

Karbohidrat terdapat dalam berbagai bentuk, termasuk gula sederhana atau monosakarida, dan unit kimia yang kompleks, seperti disakarida dan polisakarida. Karbohidrat yang sudah ditelan akan dicerna menjadi monosakarida dan diabsorbsi, terutama dalam duodenum dan jejunum proksimal. Sesudah diabsorbsi, kadar glukosa darah akan meningkat untuk sementara waktu dan akhirnya akan kembali lagi ke kadar semula. Pengaturan fisiologis kadar glukosa darah sebagian besar bergantung pada hati yang : 1. 2. 3. mengekstraksi glukosa menyintesis glikogen melakukan glukogenolisis Dalam jumlah yang lebih sedikit, jaringan perifer otot dan adiposa juga dipergunakan ekstrak glukosa sebagai sumber energi sehingga jaringan-jaringan ini ikut berperan dalam mempertahankan kadar glukosa darah. Jumlah glukosa yang diambil dan dilepaskan oleh hati yang digunakan oleh jaringan-jaringan perifer bergantung pada keseimbangan fisiologis beberapa hormon yaitu: 1. 2. hormon yang merendahkan kadar glukosa darah hormon yang meningkatkan kadar glukosa darah

Insulin merupakan hormon yang menurunkan glukosa darah, dibentuk oleh selsel beta beta pulau Lengerhans pankreas. Hormon yang meningkatkan kadar glukosa darah, antara lain: 1. 2. glukagon yang disekresi oleh sel-sel alfa pulau Lengerhans epinefrin yang disekresi oleh medula adrenal dan jaringan kromafin lain 3. 4. glukokortikoid yang disekresi oleh korteks adrenal growth hormone yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.

Glukagon, epinefrin, glukokortikoid dan growth hormon, membentuk suatu pelawan mekanisme regulator yang mencegah timbulnya hipoglikemia akibat pengaruh insulin.

2.4

Metabolisme glukosa dalam tubuh

Karbohidrat (dengan bantuan enzim amilase) Monosakarida(glukosa) Glukosa dalam darah Sebagian disimpan di dalam hati dan otot2 tulang sbg glikogen (menghendaki kerja insulin) Digunakan saat aktivitas otot dan diisi kembali dengan glukosa darah Proses pembakaran CO2 sbg hsl buangan, diekskresikan mll : paru2 (air,CO2),kulit (keringat), ginjal (urine) Kelebihannya Disimpan sebagai lemak, BB Jika kadar glukosa darah dalam batas normal sebagian besar jaringan menggunakan glukosa sebagai sumber energi. Kelebihan glukosa akan disimpan sebagai glikogen. Sintesis glikogen dari glukosa disebut glikogenesis. Simpanan glikogen terbatas sehingga kelebihan glukosa yang lain diubah menjadi lemak (lipogenesis). Jika kadar glukosa darah turun, tubuh mengubah glikogen kembali menjadi glukosa (glikogenolisis) Dengan menyeimbangkan metabolisme oksidatif, sintesis glikogen, pemecahan glikogen, dan sintesis lemak, tubuh dapat mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas normal. Jika homeostasis gagal dan glukosa darah melebihi kadar kritis (pada diabetes mellitus), kelebihan glukosa akan diekskresi dalam urin. Ekskresi glukosa dalam urin hanya terjadi jika ambang ginjal untuk reabsorbsi glukosa terlampaui.

2.5

Patofisiologi diabetes mellitus Pengertian Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologis. (Barbara C. Long)

Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat. (Brunner dan Sudart)

Diabetes melitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO).

Diabetes melitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2002).

Diabetes Melitus (DM) merupakan sekelompk kelaianan heterogen yang ditandai oleh kelainan kadar glukosa dalam darah /hiperglikemi (Suzzane C. Smeltzer, 1996 : 1220)

Diabetes Melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemi kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, neurologis dan pembuluh darah disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (Arif Mansjoer, 1999 : 580)

Diabetes Melitus (DM) adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Sylvia A Price and Lorraiene M. Wilson, 1995 : 1111) Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa Diabetes Melitus (DM) merupakan syndrom gangguan metabolisme secara

genetis dan klinis termasuk heterogen akibat defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas dari insulin yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik baik pada mata, ginjal, neurologis dan pembuluh darah. Jenis Diabetes Melitus dikelompokkan menurut sifatnya :

Diabetes melitus tergantung insulin Diabetes melitus tidak tergantung insulin, terdiri penderita gemuk dan kurus Diabetes melitus terkait malnutrisi

Diabetes melitus yang terkait keadaan atau gejala tertentu seperti penyakit pankreas, penyakit hormonal, obat-obatan / bahan kimia, kelainan insulin / reseptornya, sindrom genetik dll Faktor Penyebab Diabetes melitus Umumnya diabetes melittus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau sebagian besar dari sel-sel betha dari pulau-pulau Langerhans pada pankreas yang berfungsi menghasilkan insulin, akibatnya terjadi kekurangan insulin. Disamping itu diabetes melittus juga dapat terjadi karena gangguan terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam sel. Gangguan itu dapat terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui

Type Diabetes Melitus 1. Diabetes Tipe I ( IDDM ) Diabetes yang disebabkan oleh faktor autoimun, dimana terjadi kerusakan pada sel beta yang memproduksi insulin. Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kerusakan autoimun tersebut diantaranya adalah virus (Campak, Rubella, coxsackievirus ). 2. Diabetes Tipe II ( NIDDM ) Penyebabnya belum diketahui secara jelas. Tipe ini bukan merupakan penyakit yang berdiri sendiri, tetapi lebih merupakan akibat dari kondisi yang menyebabkan hiperglikemi. Kondisi abnormal tersebut seperti produksi glukosa yang berlebihan pada hepar, kerusakan produksi insulin, dan terjadi resistensi insulin pada perifer yang dimulai pada hepar, jaringan adiposa, serta otot

3. Diabetes Melitus Sekunder Diabetes melitus yang terjadi akibat gangguan yang spesifik seperti kerusakan pankreas,gangguan endorin dan faktor genetik yang dihubungkan dengan intoleransi terhadap glukosa atau juga diabetes yang dibangkitan oleh zat-zat kortikosteroid. kimia atau obat-obat seperti

Gejala Penderita Diabetes Mellitus Tiga gejala klasik yang dialami penderita diabetes. Yaitu:

banyak minum, banyak kencing, berat badan turun.

Pada awalnya, kadang-kadang berat badan penderita diabetes naik. Penyebabnya, kadar gula tinggi dalam tubuh. Maka perlu waspada apabila keinginan minum kita terlalu berlebihan dan juga merasa ingin makan terus. Berat badan yang pada awalnya terus melejit naik lalu tiba-tiba turun terus tanpa diet. Tetangga saya ibu Ida juga tak pernah menyadari kalau menderita diabet ketika badannya yang gemuk tiba-tiba terus menyusut tanpa dikehendaki. Gejala lain, adalah gangguan saraf tepi berupa kesemutan terutama di malam hari, gangguan penglihatan, gatal di daerah kemaluan atau lipatan kulit, bisul atau luka yang lama sembuh, gangguan ereksi pada pria dan keputihan pada perempuan. Gejala: Pada tahap awal gejala umumnya ringan sehingga tidak dirasakan, baru diketahui sesudah adanya pemeriksaan laboratorium. Pada tahap lanjut gejala yang muncul antara lain :

Rasa haus Banyak kencing Berat badan turun Rasa lapar Badan lemas Rasa gatal Kesemutan Mata kabur

Kulit Kering Gairah sex lemah

Komplikasi:

Penglihatan kabur Penyakit jantung Penyakit ginjal Gangguan kulit dan syaraf Pembusukan Gairah sex menurun

Jika tidak tepat ditangani, dalam jangka panjang penyakit diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Maka bagi penderita diabet jangan sampai lengah untuk selalu mengukur kadar gula darahnya, baik ke laboratorium atau gunakan alat sendiri. Bila tidak waspada maka bisa berakibat pada gangguan pembuluh darah a.l.

gangguan pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), serta pembuluh darah kaki (luka yang sukar sembuh/gangren).

Penderita juga rentan infeksi, mudah terkena infeksi paru, gigi, dan gusi serta saluran kemih.

2.6

Pemeriksaan diagnostic diabetes mellitus

a. b. c.

Kadar gula darah plasma waktu puasa > 140 mg/dl Tes toleransi glukosa : pemberian larutan karbohidrat sederhana Hemoglobin glikosilasi : pada saat gula darah meningkat, sel-sel glukosa disambung dengan Hb (disatukan) waktu biasanya 2-4 bulan

d. e. f.

Pemeriksaan insulin untuk glukosa Pemeriksaan urine untuk keton Pemantauan kadar glukosa darah mandiri

2.7

Diet untuk DM I, II, III dan implikasi keperawatannya Diit yang tepat pada pasien DM Protein Hanya sedikit data ilmiah untuk membuat rekomendasi yang kuat tentang asupan protein orang dengan diabetes. ADA pada saat ini menganjurkan mengkonsumsi 10% sampai 20% energy dari protein total. Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006 kebutuhan protein untuk penyandang diabetes juga 10%-20% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg berat badan perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologic tinggi. Total Lemak Asupan lemak dianjurkan 7lt;7% energy dari lemak jenuh dan tidak jennuh 10% dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energy. Apabila peningkatan LDL merupakan masalah utama, dapat diikuti anjuran diet disiplin diet dislipidemia tahap II yaitu 1000 mg/dl mungkin perlu penurunan semua tipe lemak makanan untuk menurunkan kadar lemak plasma dalam bentuk kilomikron. Lemak Jenuh dan Kolesterol Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu < 7% asupan energy sehari seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak lebih dari 300 mg perhari. Karbohidrat dan Pemanis Rekomendari ADA tahun 1994 lebih memfokuskan pada jumlah total karbohidrat daripada jenisnya. Rekomendasi untuk sukrosa lebih liberal. Buah dan susu sudah terbukti mempunyai respon glikemik yang lebih rendah dari pada sebagian besar tepung-tepungan. Walaupun berbagai tepung-tepungan

mempunyai respon glikemik yang berbeda,prioritas hendaknya lebih pada jumlah total karbohidrat yang dikonsumsi daripada sumber karbohidrat. Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 45-65% energy.

Sukrosa Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari perencanaan makan tidak memperburuk control glukossa darah pada individu dengan diabetes tipe 1 dan 2. Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa harus diperhitungkan sebagai pengganti karbohidrat makanan lain dan tidak hanya dengan menambahkannya pada perencanaan makan. Dalam melakukan subtitusi ini kandungan zat gizi dari makanan-makanan manis yang pekat dan kandugan zat gizi lain dari makanan yang mengandung sukrosa harus dipertimbangkan, seperti lemak yang sering ada bersama sukrosa dalam makanan. Mengkonsumsi makanan yang bervariasi memberikan lebih banyak zat gizi dari pada makanan dengan sukrosa sebagai satu-satunya zat gizi. Pemanis Fluktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan karbohidrat jenis tepung-tepungan. Dalam hal ini fruktosa dapat memberikan keuntungan sebagai bahan pemanis pada diet diabetes. Namun demikian, karena pengaruh dalam jumlah besar (20% energy) potensial merugikan pada kolesterol dan LDL, fruktosa tidak seluruhnya menguntungkan sebagai bahan pemanis untuk orang dengan diabetes. Penderita disiplemia hendaknya menghindari mengkonsumsi fruktosa dalam jumlah besar, namun tidak ada alas an untuk menghindari makanan seperti buah-buahan dan sayuran yang mengandung fruktosa alami maupun konsumsi sejumlah sedang makanan yang mengandung pemanis fruktosa. Sorbitol, manitoldan xylitol adalah gula alcohol biasa (polyols) yang menghasilkan respon glikemik lebih rendah daripada sukrosa dan karbohidrat lain. Penggunaan pemanis tersebut secara berlebihan dapat mempunyai pengaruh laksatif. Sakarin, aspartame, acesulfame k adalah pemanis tak bergizi yang dapat diterima sebagai pemanis pada semua penderita DM. Serat Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 gr serat makanan dari berbagai sumber bahan makanan. Di Indonesia anjurannya adalah kira-kira 25 gr/1000 kalori/ hari dengan mengutamakan serat larut. Natrium Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak lebih dari 3000 mgr, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang, dianjurkan 2400 mgr natrium perhari.

Alkohol Anjuran penggunaan alkohol untuk orang dengan diabetes sama dengan masyarakat umum. Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik. Alkohol dapat meningkatkan resiko hipoglikemia pada mereka yang menggunakan insulin atau sulfonylurea. Karena itu sebaiknya hanya diminum pada saat makan. Bagi orang dengan diabetes yang mempunyai masalah kesehatan lain seperti pancreatitis, dislipidemia, atau neuropati mungkin perlu anjuran untuk mengurangi atau menghindari alkohol. Asupan kalori dari alkohol diperhitungkan sebagai bagian dari asupan kalori total dan sebagai penukar lemak (1 minuman alcohol sama dengan 2 penukar lemak). Anjuran bagi orang diabetes yang tidak dapat meninggalkan alkohol adalah sebagai berikut :

- Alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila : kadar glukosa darah belum terkendali Kadar trigleserida darah meningkat Menggunakan obat diabetes sulfonylurea generasi pertama karena dapat memberikan efek samping. Menderita penyakit gastritis, pankreatis, tipe tertentu penyakit ginjal dan jantung. Alkohol mengandung kalori tinggi sehingga tidak baik bagi yang kegemukan. Tidak diminum bila peut kosong karena dapat menyebabkan hipoglikemia. Alkohol mengganggu kesadaran sehingga dapat membuat perencanaan makan kurang bisa dipatuhi. Batasi tidak lebih dari 1-2 minuman saja, tidak lebih dari 2x seminggu. Untuk yang menggunakan insulin, tidak lebih dari 2 minuman alkohol (1 minuman alkohol setara dengan 340 gr bir, 140 gr anggur atau 42 distilled spirits). Mikronutrien Vitamin dan Mineral Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin dan mineral. Walaupun ada alas an teoritis untuk memberikan suplemen anti oksidan, pada saat ini, hanya sedikit bukti yang menunjang bahwa terapi tersebut menguntungkan. Pemberian kromium menguntungkan pengendalian glikemik bagi mereka yang kekurangan kromium sebagai akibat nutrisi parenteral. Kebanyakan orang dengan diabetes agaknya tidak kekurangan kromium oleh karena itu suplementasi

kromium tidak bermanfaat. Walaupun kekurangan magnesium dapat berperan pada resistansi insulin, intoleransi karbohidrat dan hipertensi, data yang ada menyarankan bahwa evaluasi rutin kadar magnesium serum dianjurkan pada pasien yang mempunyai resiko tinggi untuk menderita devisiensi magnesium. Suplementasi kalium mungkin diperrlukan bagi pasien yang kehilangan kalium kerena menggunakan diuretik. Hiperkalimea dapat terjadi pada pasien dengan insufiensi ginjal atau hipoaldosteronisme hiporeninemik atau pasien rawat inap yang minum angiotensin converting enzyim inhibitor, dalam hal ini dapat dilakukan pembatasan kalium dalam diet pasien. Prinsip Perencanaan Makan bagi Penyandang Diabetes Kebutuhan Kalori Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Kompisisi energy adalah 45-65% dari karbohidrat, 10-20% dari protein dan 20-25% dari lemak. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan diabetes. Di antaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhankalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa factor yaitu jenis kelamin, umur, aktivitas, kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan. Cara lain adalah seperti table I. cara yang lebih gampang lagi adalah dengan pegangan kasar yaitu untuk pasien kurus 2300-2500 kalori, normal 1700-2100 kalori, dan gemuk 1300-1500 kalori. Tabel I. Kebutuhan kalori penyandang diabetes Kalori/kg BB ideal

Status Gizi

Kerja santai

sedang

berat

Gemuk

25

30

35

Normal

30

35

40

Kurus

35

40

40-50

Perhitungan berat badan idaman dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm- 100 cm)x 1 kg Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, rumus modifikasi menjadi : Berat badan ideal = (TB dalam cm 100) x 1 kg. Sedangkan menurut Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat badan (kg),tinggi badan (m2). Adalah sebagai berikut : Berat normal : IMT = 18,5 22,9 kg/m2 Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori : 1. Jenis kelamin Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk ini dapat dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/ kg BB untuk pria. 2. Umur Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB. Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anakanak lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya. Penurunan kebutuhan kalori di atas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap decade antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, di atas 70 tahun dikurangi 20%. 3. Aktivitas Fisik atau pekerjaan Jenis aktivitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis aktivitas dikelompokkan sebagai berikut : Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10% Ringan : pegawai kantor, pegawai took, guru, ahli hokum, ibu rumah tangga dan lainlain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal. Sedang : pegawai di industry ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang, kebutuan dinaikkan menjadi 30% dari basal. Berat : petani, buruh, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, kebutuhan ditambah 40%.

Sangat berat : tukang becak, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus ditambah 50% dari basal. 4. Kehamilan / laktasi Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/ hari dan ada trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari. 5. Adanya komplikasi Infeksi, trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikan 1 derajat celcius. 6. Berat badan Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada tingkat kegemukan/kerusakannya. Gula Gula dan produk lain dari gula dikurangi, kecuali pada keadaan tertentu, misalnya pasien dengan diet rendah protein dan yang mendapat makanan cair, gula boleh diberikan untuk mencukupi kebutuhan kalori, dalam jumlah terbatas. Penggunaan gula sedikit dalam bumbu diperbolehkan sehingga memungkinkan pasien dapat makan makanan keluarga. Anjuran penggunaan gula untuk orang dengan DM sama dengan untuk orang-orang normal yaitu tidak lebih dari 5% kebutuhan kalori total. Sumber Diet Diabetes Melitus Untuk perencanaan pola makan sehari, pasien diberi petunjuk berapa kebutuhan bahan makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk Penukar (P). lihat lampiran I. berdasarkan pola makan pasien tersebut dan Daftar Bahan Makanan Penukar, dapat disusun menu makanan sehari-hari. Daftar Bahan Makanan Penukar Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikeompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama. Dikelompokkan menjadi 8 kelompok bahan makanan yaitu : Golongan I : bahan makanan sumber karbohidrat. Golongan II : bahan makanan sumber protein hewani

Golongan III : bahan makanan sumber protein nabati Golongan IV : sayuran Golongan V : buah-buahan Golongan VI : susu Golongan VII : minyak Golongan VIII : makanan tanpa kalori Diambil dari Penatalaksanaan Gizi Pada Diabetes Melitus.

Di Tulis oleh : Kartini Sukardji pada Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu edisi kedua tahun 2009. Bab V

MACAM MACAM DIET

Macam Diet Energi (kal) Protein (gr) Lemak (gr) Hidrataran (gr) -

I 1100 50 30 160

II 1300 55 35 195

III 1500 60 40 225

IV 1700 65 45 260

V 1900 70 50 300

VI 2100 80 55 325

VII 2300 85 65 350

VIII 2500 90 65 390

Diet I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuK Diet IV s/d V : diberikan kepada penderita yang mempunyai berat badan normal Diet VI s/d VIII : diberikan kepada penderita yang kurus, diabetes remaja atau juvenille diabetes serta diabetes dengan komplikasi.

2.8

Farmakologi anti diabet, hormone insulin dan implikasi keperawatannya

Obat-obat anti diabetes Golongan Sulfonylurea nama generik nama dagang dosis 250-500 mg glibenclamide daonil,euglucon 2,5-15 mg gliquidone glurenorm 30-120 mg gliclazide diamicron 20-320 mg glipizide minidiab,glicotrol 2,5-20 mg glipmepride Biguanides alpha inhibitor Meglitinides nateglinides starlix metformin glucosidase acarbose amaryl 1-8 mg

chlorpropamide diabenese

glucophage,diabex 0,5-3 mg glucobay 50-600 mg 180-540 mg

repaglinides

novonorm

0,5-16 mg

Tiazolidinediones

pioglitazone

actos

15-30 mg

rosiglitazone

avandia

4-8 mg

Contoh obat : Diabenese (klorpropamid) 250mg. Indikasi : diabetes melitus tanpa komplikasi tipe nonketotik ringan, sedang atau parah. KI: diabetes melitus tipe remaja dan pertumbuhan, diabetes parah atau tidak stabil, diabetes terkomplikasi dengan ketosis dan asidosis, koma diabetik. ES: erupsi kulit, eritema Daonil (glibenklamid) 5mg Indkasi : diabetes melitus pada orang dewasa.

KI: diabetes melitus Tipe I, diabetes penguraian metabolik, koma diabetik, gangguan ginjal parah, kehamilan dan menyusui.

Dosis : awal, sehari 2,5mg, dinaikan 2,5mg dengan interval 3-5 hari sampai metabolik tercapai.

Glucobay (akarbose) 50mg, 100mg Indikasi : terapi penambah untuk diet, penderita diabetes mellitus KI: hipersensitif, gangguan intenstinal kronis berkaitan dengan absorbsi dan pencernaan, gangguan ginjal berat dan kehamilan. ES: gangguan pencernaan seperti kembung, diare, nyeri saluran cerna. Dosis : awali dengan 50mg, kemudian ditingkatkan hingga 100-200mg 3X sehari. Dosis dapat ditingkatkan setelah 4-8 minggu.

Clamega (glibenklamid) 5mg I : diabetes melitus ringan atau sedang. KI: diabetes militus dengan komplikasi dan ginjal parah. ES : reaksi hipoglikemia, reaksi alergi kulit DS : tablet perhari bersama makan pagi, dosis dapat di tingkatkan hingga 1 tablet, maksimum 3 tablet per hari

Mekanisme Kerja Obat Anti Diabet 1. SULFONYLUREA Obat Golongan ini digunakan Untuk menurunkan glukosa darah, obat inimerangsang sel beta dari pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Jadi syarat pemakaian obat ini adalah apabila pankreas masih baik untuk membentuk insulin, sehingga obat ini hanya bisa dipakai pada diabetes tipe 2. Efek Samping : Sulfonylurea bisa menyebabkan hipoglikemia, terutama bila dipakai dalam 3 4 bulan pertama pengobatan akibat perubahan diet dan pasien mulai sadar berolahraga serta minum obat. Apabila ada gangguan fungsi ginjal atau hati, dosis perlu diperhatikan karena lebih mudah timbul hipoglikemia. Namun secara umum obat ini baik untuk menurunkan glukosa darah. 2. BIGUANIDES Obat biguanides memperbaiki kerja insulin dalam tubuh, dengan cara mengurangi resistensi insulin. Pada diabetes tipe 2, terjadi pembentukan glukosa oleh hati yang melebihi normal. Biguanides menghambat proses ini, sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang, dan glukosa darah menjadi turun.

Efek

Samping

Metformin

biasanya

jarang

memberikan

efek

samping. Tetapi pada beberapa orang bisa timbul keluhan terutama pada saluran cerna, misalnya : - Gangguan pengecapan - Nafsu makan menurun - Mual, muntah

3. ALPHA-GLUCOSIDASE INHIBITORS Obat golongan ini bekerja di usus, menghambat enzim di saluran cerna, sehingga pemecahan karbohidrat menjadi glukosa atau pencernaan karbohidrat di usus menjadi berkurang. Hasil akhir dari pemakaian obat ini adalah penyerapan glukosa ke darah menjadi lambat, dan glukosa darah sesudah makan tidak cepat naik. Efek Samping : Obat ini umumnya aman dan efektif, namun ada efek samping yang kadangmengganggu, yaitu perut kembung, terasa banyak gas, banyak kentut, bahkan diare. Keluhan ini biasanya timbul pada awal pemakaian obat, yang kemudian berangsur bisa berkurang 4. MEGLITINIDES Golongan Obat ini menyebabkan pelepasan insulin dari pankreas secaracepat dan dalam waktu singka.Termasuk golongan obat ini adalah Repaglinide (Novonorm) dan Nateglinide (Starlix). Efek Samping Meskipun sama seperti sulfonylurea, efek samping hipoglikemia boleh dikatakan jarang terjadi, hal ini disebabkan oleh efek rangsangan pelepasan insulin hanya terjadi pada saat glukosa darah tinggi. 5. THIAZOLIDINEDIONES Obat ini baik bagi penderita diabetes tipe 2 dengan resistensi insulin, karena bekerja dengan merangsang jaringan tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin, sehingga insulin bisa bekerja dengan lebih baik, glukosa darahpun akan lebih banyak diangkut masuk ke dalam sel, dan kadar glukosa darah akan turun. Selain itu, obat thiazolidinediones juga menjaga hati agar tidak

banyak memproduksi glukosa. Efekmenguntungkan lainnya adalah obat ini biasa menurunkan trigliserida darah. Efek Samping : Beberapa efek merugikan yang mungkin timbul adalah bengkak, berat badan naik, dan rasa capai. Efek serius yang jarang terjadi adalah gangguan hati.

2.9

Penatalaksanaan Diabetes mellitus : suntik insulin

Dalam jangka pendek, penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan/ mengurangi keluhan/gejala DM. Sedangkan untuk tujuan jangka panjangnya adalah mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid, dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. Kriteria pengendalian DM dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Kriteria pengendalian diabetes melitus 4 Baik Sedang Buruk Glukosa darah plasma vena (mg/dl) Puasa 2 jam 80-109 110-159 110-139 160-199 >140 >200 HbA1c (%) 4-6 6-8 >8 Kolesterol total (mg/dl) <200>240 Kolesterol LDL tanpa PJK dengan PJK <130>159 >129 Kolesterol HDL (mg/dl) >45 35-45 <35>250 >200 BMI/IMT perempuan laki-laki 18,9-23,9 20 -24,9 23-25 25-27 >25 atau <18,5>27 atau <20>160/95

Akan tetapi, perbedaan utama antara penatalaksanaan DM tipe 1 yang

mayoritas diderita anak dibanding DM tipe 2 adalah kebutuhan mutlak insulin. Terapi DM tipe 1 lebih tertuju pada pemberian injeksi insulin.

Penatalaksanaan DM tipe 1 menurut Sperling dibagi dalam 3 fase yaitu : 1. Fase akut/ketoasidosis koma dan dehidrasi dengan pemberian cairan, memperbaiki

keseimbangan asam basa, elektrolit dan pemakaian insulin. 2. Fase subakut/ transisi Bertujuan mengobati faktor-faktor pencetus, misalnya infeksi, dll, stabilisasi penyakit dengan insulin, menyusun pola diet, dan penyuluhan kepada penyandang DM/keluarga mengenai pentignya pemantauan

penyakitnya secara teratur dengan pemantauan glukosa darah, urin, pemakaian insulin dan komplikasinya serta perencanaan diet dan latihan jasmani. 3. Fase pemeliharaan Pada fase ini tujuan utamanya ialah untuk mempertahankan status metabolik dalam batas normal serta mencegah terjadinya komplikasi Untuk itu WHO mengemukakan beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam penatalaksanaan penyandang DM tipe 1, diantaranya : Bebas dari gejala penyakit Dapat menikmati kehidupan sosial sepenuhmya Dapat terhindar dari komplikasi penyakitnya

Pada anak, ada beberapa tujuan khusus dalam penatalaksanaannya, yaitu diusahakan supaya anak-anak : Dapat tumbuh dan berkembang secara optimal Mengalami perkembangan emosional yang normal Mampu mempertahankan kadar glukosuria atau kadar glukosa darah serendah mungkin tanpa menimbulkan gejala

hipoglikemia Tidak absen dari sekolah akibat penyakit dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan fisik maupun sosial yang ada Penyakitnya tidak dimanipulasi oleh penyandang DM, keluarga, maupun oleh lingkungan Mampu memberikan tanggung jawab kepada penyandang DM untuk mengurus dirinya sendiri sesuai dengan taraf usia dan intelegensinya

Keadaan ideal yang ingin dicapai ialah penyandang DM tipe 1 dalam keadaan asimtomatik, aktif, sehat, seimbang, dan dapat berpartisipasi dalam semua kegiatan sosial yang diinginkannya serta mampu menghilangkan rasa takut terhadap terjadinya komplikasi. Sasaran-sasaran ini dapat dicapai oleh sebagian besar penyandang DM maupun keluarganya jika mereka memahami penyakitnya dan prinsipprinsip penatalaksanaan diabetes. 1-4

Untuk mencapai tujuan ini penatalaksanaan dibagi menjadi 1. Pemberian insulin 2. Penatalaksanaan dietetic 3. Latihan jasmani 4. Edukasi 5. Home monitoring (pemantauan mandiri )

Pemberian Insulin Diabetes tipe 1 mutlak membutuhkan insulin karena pankreas tidak dapat memproduksi hormon insulin. Maka seumur hidupnya pasien harus mendapatkan terapi insulin untuk mengatasi glukosa darah yang tinggi. akut Penghentian suntikan dan bisa akan menimbulkan fatal akibatnya.

komplikasi

Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin. Tujuan terapi ini terutama untuk : 1. Mempertahankan glukosa darah dalam kadar yang normal atau mendekati normal. 2. Menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kronis pada diabetes. Keberhasilan terapi insulin juga tergantung terhadap gaya hidup seperti program diet dan olahraga secara teratur.

Sebelum membahas mengenai cara kerja pompa insulin pada pengobatan diabetes melitus tipe 1, akan dijelaskan mengenai cara kerja dan jenis insulin Makanan terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak. Glukosa terutama bersumber dari karbohidrat walaupun protein dan lemak juga bisa menaikan glukosa. Karbohidrat dipecah menjadi glukosa dan masuk ke peredaran darah, dan glukosa darah dapat meningkat. Secara terus menerus pankreas melepaskan insulin pada saat makan atau tidak. Setelah makan, glukosa meningkat di dalam peredaran darah

dan pengeluaran insulin oleh pankreas juga meningkat. Tugas pokok insulin adalah mengatur pengangkutan atau masuknya glukosa dari darah ke dalam sel sehingga glukosa darah bisa turun. Jadi, insulin berperan dalam mengatur kestabilan glukosa di dalam darah. Insulin juga bekerja di hati. Setelah makan, kadar insulin meningkat dan membantu penimbunan glukosa di hati. Pada saat tidak makan, insulin turun. Maka hati akan memecah glikogen menjadi glukosa dan masuk ke darah sehingga glukosa darah dipertahankan tetap dalam kadar yang normal.1-4 Struktur kimia hormon insulin bisa rusak oleh proses pencernaan sehingga insulin tidak bisa diberikan melalui tablet atau pil. Satu-satunya jalan pemberian insulin adalah melalui suntikan, bisa suntikan di bawah kulit (subcutan/sc), suntikan ke dalam otot (intramuscular/im), atau suntukan ke dalam pembuluh vena

(intravena/iv). Ada pula yang dipakai secara terus menerus dengan pompa (insulin pump/CSII) atau sistem tembak (tekan semprot) ke dalam kulit (insulin medijector). Enam tipe insulin berdasarkan mulain kerja, puncak, dan lama kerja insulin tersebut, yakni : 1. Insulin Keja Cepat (Short-acting Insulin) 2. Insulin Kerja Sangat Cepat (Quick-Acting Insulin) 3. Insulin Kerja Sedang (Intermediate-Acting Insulin) 4. Mixed Insulin 5. Insulin Kerja Panjang (Long-Acting Insulin) 6. Insulin Kerja Sangat Panjang (Very Long Acting Insulin) Tabel 4. Insulin yang Tersedia dan yang Akan Tersedia di Indonesia Tipe Insulin Mulai Kerja Puncak Lama Kerja

Ultra Short Acting (Quick-Acting, Rapid Acting) Insulin Analogues

Insulin Aspart (NovoRapid, Novolog) Insulin Lispro (Humalog) 15-30 min 60-90 min 3-5 hr Short-Acting (Soluble, Neutral) Insulin Reguler, Actrapid, Humulin R 30-60 min 2-4 hr 6-8 hr

Intermediate-Acting (Isophane) Insulatard, Humulin N, NPH 1-2

hr 4-8 hr 16-24 hr Long-Acting Insulin (Zinc-based)Monotard, Humulin Lente, Humulin Zn 1-3 hr 4-12 hr 16-24 hr Very Long Acting Insulin Insulin Glargine (Lantus) Insulin Detemir (Levemir) 2-4 hr 4-24hr (nopeak) 2436 hr

Mixed Insulin (Short + Intermedidiate-Acting Insulin) Mixtard 30/70, NovoMix, Humulin 30/70 30 min 2-8 hr 24 hr

Terapi Pompa Insulin pada pasien Diabetes Melitus Tipe 1 Pompa insulin merupakan suatu alat yang tampak seperti pager yang

digunakan untuk mengelola masuknya insulin ke dalam tubuh pasien diabetes. Sebuah pompa insulin terdiri dari sebuah tabung kecil (Syringe) yang berisikan insulin dan microcomputer yang membantu pasien untuk menentukan berapa banyak insulin yang diperlukan. Insulin dipompakan

melalui selang infus yang terpasang dengan sebuah tube plastic ramping yang disebut cannula, yang dipasang pada kulit subkutan perut pasien. Selang infus harus diganti secara teratur setiap minggunya. Di Indonesia, alat ini masih jarang digunakan walaupun sudah ada distributornya. Akan tetapi di negara lain seperti Amerika, penggunaan alat ini kini menjadi favorit pasien diabetes karena keefektifan penggunaanya. 5 Indikasi penggunaan terapi insulin harus memenuhi kriteria di bawah ini : Menggunakan insulin lebih dari 3 kali sehari Kadar glukosa darah sering tidak teratur Lelah menggunakan terapi injeksi insulin Ingin mengurangi resiko hipoglikemi Ingin mengurangi resiko komplikasi yang berkelanjutan Ingin lebih bebas beraktifitas dan gaya hidup yang lebih fleksibel Ketika seseorang memutuskan untuk menggunakan terapi pompa insulin, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yakni : 1. Mengecek kadar glukosa darah ( setidaknya 4 hari sekali, sebelum makan) untuk mengetahui berapa dosis insulin yang diperlukan untuk mengontrol kadar glukosa darah tubuh 2. Mulai memahami makanan yang anda makan. Apakah makanan tersebut membuat kadar glukosa darah tinggi atau tidak.

3. Perhatikan secara teratur ( setiap setelah makan) pompa insulin untuk meminimalisir kerusakan.

Menurut studi yang dilakukan National Institute of Health selama 10 tahun terhadap 1000 penderita diabetes melitus tipe 1, didapatkan bahwa penggunaan terapi insulin yang intensif, seperti contohnya menggunakan pompa insulin, dapat mengurangi komplikasi diabetes secara efektif. Studi ini menunjukan bahwa terapi insulin intensif : Mengurangi komplikasi kebutaan 76 % Mengurangi komplikasi amputasi 60 % Mengurangi resiko terkena penyakit ginjal 54 %

Sebelum adanya pompa insulin, satu cara yang bisa digunakan untuk memasukan insulin ke dalam tubuh yakni dengan menyuntikan insulin secara terus menerus ke tubuh setiap harinya. Pompa insulin bekerja seperti pankreas dan telah diprogram secara otomatis untuk memasukan insulin ke dalam tubuh kapan pun diperlukan. Terapi pompa insulin atau yang dikenal dengan sebutan Continuous Subcutaneous Insulin Infusion (CSII) merupakan terapi yang paling menyerupai metode fisiologi tranfer insulin ke dalam tubuh. Insulin yang dipergunakan dalam pompa insulin adalah insulin prandial (short atau rapid acting insulin), sehingga dosis basal akan tertutupi oleh dosis prandial bolus yang diberikan secara intensif selama 24 jam. Menurut studi retrospektif yang dilakukan Nimri, penggunaan pompa insulin terbukti menunjukan perbaikan kontrol glikemik terhadap anak yang menderita diabetes tipe 1. Kemajuan ini diikuti dengan penurunan insiden hipoglikemia dan penambahan berat badan terhadap anak-anak tersebut yakni 36.5 menjadi 11.1 kejadian per 100 pasien-tahun. 6-8

Keuntungan penggunaan pompa insulin yakni : 1. Terbebas dari penggunan multiple daily injection insulin

2. Penurunan kadar HbA1C yang terkontrol 3. Mengurangi frekuensi terkena hipoglikemia 4. Mengurangi variasi kadar glukosa darah 5. Meningkatkan fleksibilitas dan manajemen diabetes

Kekurangan Penggunaan pompa insulin yakni : 1. Ada resiko infeksi jika tidak mengganti insertion site pada cannula secara teratur 2. Pemeriksaan gula darah yang lebih sering 3. Memiliki resiko terkena hiperglikemi yang dapat mengakibatkan diabetic ketoacidosis yang lebih besar jika tidak mempergunakan pompa dalam jangka waktu yang lama. Di Indonesia sendiri, insiden diabetes melitus tipe 1 sangat jarang. Sehingga penggunaan pompa insulin pun masih jarang digunakan. Walaupun alatnya sudah ada di Indonesia, akan tetapi harganya relatif mahal. Inilah yang membuat para dokter jarang merekomendasikan terapi pompa insulin kepada pasiennya yang menderita DM tipe 1 maupun tipe 2.

2.10 Askep diabetes mellitus

Tn. Aris(58th) datang ke RS dengan KU : Sakit berat, kesadaran: somnolent. Dari hasil pengkajian didapatkan data: pasien sesak nafas, nafas kusmaull, nafas bau aseton, hasil TTV S: 37, N: 90, RR : 40, TD: 90/60, GDS : 380, BB : 60 kg, TB: 150 cm. Hasil lab BGA : PCO2 50, PH : 7,2, HCO3 : 18, HBA1C 7, SaO2 93 %, Chol 250, HDL 60, Albumin 3,0, Na 125, Kalium 3,0, Klorida 90 pada hasil lab urin glukosa positif, urin protein 35, keton 7, reduksi urin +3, terpasang 02 masker 7 liter. Pasien tampak lemah dan kelelahan, punya riwayat DM, tidak punya riwayat penyakit pankreas. Pasien sudah 5 hari di rawat di RS, hasil pengkajian akhir KU sakit sedang, kesadaran CM, pasien mengeluh sesak nafas berkurang, mual, muntah, nyeri abdomen, kulit kering, gatal-gatal pada kulit, mata kabur, pada ibu jari kaki terdapat ulcus kehitaman, terpasang O2 nasal 3 liter, SaO2 96 % , S : 36, N : 88 ,RR : 30, TD : 100/60, jumlah urin 3000 cc, hasil GDS : 290, pasien punya kebiasaan olah raga senam lansia, pasien mendapat diet DM. Pasien mendapat injeksi Hum N 4 unit jam 20.00, terapi oral Amaryl 1x1 mg pagi, injeksi ca gluconas 1x10 mg. Kata sulit : Nafas kusmaull: cepat dan dangkal Nafas bau aseton: nafas berbau seperti buah-buahan/manis/aroma terapi Ulcus: kerusakan lokal permukaan organ/jaringan ditimbulkan oleh terkelupasnya jar. Nekrotik radang

HBA1C : pemeriksaan untuk mengetahui glukosa dalam tubuh seseorang <3bln yang lalu

HDL : lipoprotein densitas tinggi GDS : gula darah sewaktu Somnolent : kesadaran dimana mudah tertidur walau diajak bicara

Pengkajian Pola gordon 1. Pola pemeliharaan kesehatan. Pasien mengatakan punya kebiasaan olahraga senam lansia. 2. Pola nutrisi dan metabolik. Pasien mengatakan mual dan muntah, BB 60 kg, pasien mendapat diit DM 3. Pola eliminasi. Jumlah urin pasien 3000 cc. 4. Pola aktivitas dan latihan. Pasien mengatakan sesak nafas. 5. Pola tidur dan istirahat. Tidak terkaji 6. Pola kognitif dan sensori Pasien merasa nyeri pada perut, gatal-gatal dikulit, pandangan kabur 7. Pola persepsi dan konsep diri Tidak terkaji 8. Pola peran dan hubungan Tidak terkaji 9. Pola seksual dan reproduksi Tidak terkaji 10. Pola koping dan toleransi terhadap stress Tidak terkaji 11. Pola nilai dan kepercayaan Tidak terkaji

I.

PEMERIKSAAN FISIK KU : pasien tampak sakit sedang TTV : TD : 100/60 mmHg, N : 88x/mnt, RR : 30x/nmt, S : 360 C, SPO2 96%, GDS 209

II.

Hasil Pemeriksaaan Diagnostik DATA LAB. BGA: PCO2: 50, Ph: 7,2, HCO3: 18, HBA1C 7, SaO2 93%, chol 250, HDL 60, albumin 3,0, Na 125, kalium 3,0, klorida 90, pada hsl lab urine glukosa (+), urine protein 35, keton 7, reduksi urin (+) 3. Hasil rontgen :-

III.

Program Terapi. Tgl/jam Jenis terapi Rrute terapi dosis Indikasi terapi 1-06-2010 jam 20:00 jam 8:00 jam 8:00 Hum N amaryl Ca Gluconas Parenteral Oral Parenteral 4 unit 1x1 mg 1x10 mg

ANALISA DATA DATA DS : -pasien mengeluh sesak nafas berkurang -Nyeri abdomen DO : - BGA : asidosis respiratorik terkompensasi sebagian -SaO2 96% -RR : 30 x/menit PROBLEM Gangguan pertukaran gas ETIOLOGY Perubahan membrane alveolar-kapiler

DS :

Defisit volume cairan

Kehilangan volume cairan

DO : -jumlah urine 3000 -Mual -Muntah -Kulit kering -TD : 100/60 mmHg DO : pada ibu jari terdapat ulcus kehitaman gatal-gatal pada kulit mata kabur GDS :260 g/dl Resiko cedera

aktif

Internal (Hipoksia jaringan, Fisik)

PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane alveolar kapiler ditandai dengan pasien mengeluh sesak nafas berkurang, Nyeri abdomen. SaO2 96%, RR : 30 x/menit, BGA: asidosis respiratorik terkompensasi sebagian 2. Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif ditandai dengan jumlah urine : 3000 cc, mual, muntah, kulit kering, TD :100/60 mmHg 3. Resiko cedera berhubungan dengan internal (hipoksia jaringan, fisik) ditandai dengan pada ibu jari terdapat ulcus kehitaman, gatal-gatal pada kulit, mata kabur, GDS : 209 g/dl PERENCANAAN TGL/JA M 1. NO DP Tujuan dan Intervensi kriteria hasil Gangguan pertukaran gas setelah 1. Monitor TTV 1. Pasien dengan DM dapat peningkatan karena kompensasi terjadi RR adanya tubuh Rasional

dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24jam dengan kriteria hasil : 2. Monitor saturasi

akibat terbentuknya badan-badan keton. 2. Kondisi hiperglikemia dapat mempegaruhi kadar oksigen dalam darah

-Tidak terpasang O2 nassal 3 ltr -RR : 16-20 x/menit -Pasien tidak mengeluh sesak nafas -pH 7,45 - hco3 21-28 -pco2 35-45 7,35-

O2 3. Monitor BGA

3. Klien gangguan

dengan

pertukaran gas BGA nya tidak normal 4. Terbentuknya

4. Monitor pola pernafasa n

badan-badan keton mempengaruhi pola pernafasan DM 5. Dapat meningkatkan ekspansi paru, pasien

memperlanjacaralira 5. Berikan posisi semi fowler 6. Merileksasikan pikiran serta otot ndarah.

abdomen, 6. Berikan teknik relaksasi 7. Lanjutkan pemberia n O2 3L/menit 8. Kolaboras i dalam 8. Mengurangi abdomen. nyeri terapi 7. Memenuhi oksigen tubuh kadar dalam dapatmengurangi rasa nyeri

pemberia n obat

analgesik 2. Defisit volume cairan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1. Monitor kelembap an membran mukosa, kulit,turg or kulit, 2. Pasien dengan DM dapat pengeluaran terjadi 1. Mengetahui tanda tanda-

dehidrasi

karena pada pasien dengan DM dapat terjadi poliuri

cap.refill 2. Monitor

5x24jam dengan kriteria hasil : jumlah urine 3000 cc/hari Mual (-) Muntah (-) Kulit lembab TD : 120/80 mmHg

hasil lab.elektr olit

elektrolit urine.

melalui

3. Dapat meningkatkan asam lambung yg seterusnya berakibat ke asidosis. 3. Monitor mual, muntah 4. Mencegah dehidrasi karena pada pasien DM dapat terjadi poliuri polidipsi. 4. Berikan air minum 24003000cc/ha ri 6. Poliuri mengakibatkan 5. Hitung balance cairan sejumlah dalam cairan tubuh 5. Mengetahui keseimbangan intake dan output dan

terbuang, pemberian infus memenuhi dapat

6. Kolaboras i dalam

keb.cairan serta dehidrasi.

tubuh mencegah

pemberia n terapi

infus 3 Cedera tidak . terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6x24jam setelah 2. Bantu dalam pemenuha 1. Monitor keadaan kulit 1. Mengetahui perkembangan pada ulkus apakah

berkurang/tidak. 2. Pasien dengan mata kabur dapat terjadi peningkatan resiko cedera

dilakukan tindakan keperawatan : pada ibu jari tidak terdapat ulcus kehitaman gatal-gatal pada kulit (-) mata kabur

n ADL.

3. Banyak dapat

istirahat

meminimalkan resiko cedera 3. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat 5. Mencegah 4. Beri penghalan g tempat tidur. 5. Berikan sikat gigi yang berbuluh halus. terjadinya luka di gusi, karena pasien DM proses 4. Meminimalkan resiko cedera

berkurang GDS : g/dl

penyembuhan luka dapat lama karena sel-sel penyembuhan kurang (glukosa) nutrisi untuk

6. Memberikan

rasa

nyaman pada pasien

7. Kadar dalam 6. Posisikan lingkunga n kamar

glukosa darah

meningkat, diet DM dimaksudkan untuk menyeimbangkan kembali kadar

nyaman dan terang. 7. Lanjutkan diet pasien DM

glukosa dalam darah

8. Kondisi 8. Lanjutkan pemberia n obat 9. Merupakan pengobatan pada hipoekskresi insulin.

Hum N 4 unit pada jam 20.00 9. Lanjutkan pemberia n obat amaryl 1x1 pagi, injeksi Ca Gluconas 1x10 mg. mg terapi

pasien DM untuk menyeimbangkan kadar gula dalam darah

2.11 Keterampilan memberikan suntik insulin Sifat-Sifat Insulin : Ada empat sifat insulin : 4. Cara kerja insulin : Insulin dikelompokan menjadi massa kerja cepat, masa kerja sedang,dan massa kerja lambat. 5. Kekuatan insulin : sediaan insulin memiliki kadar unit insulin yang berbeda beda dalam satu ml volume. Insulin 100-U yang paling sering digunakan. Sedangkan yang paling kecil menggunakan insulin U-40, hal yang penting untuk menghindari kesalahan dalam pemberian dosis yang tepat ialah dengan selalu mencocokan kadar insulin dan kalibrasi semprit dalam satuan unit / ml. 6. Sumber insulin : Sifat antigenesitas insulin dapat menurunkan aktivitas reseptor-reseptor insulin. Dahulu sediaan insulin yang dipakai berasal

dari kombinasi pankreas sapi dan babi. Suatu insulin jenis tunggal yang berasal dari babi diperuntukan pasen alergi, kedua jenis insulin diatas menyerupai insulin manusia dan ada teknik buatan rekombinan DNA secara bakteriologis. 7. Kemurnian insulin : Insulin standar dapat mengandung subtansi subtansi yang mirip pro insulin dan antigenik lainnya

(glukagon,polipeptida pankreas ) dalam jumlah kecil.

Cara Pemberian Insulin Intravena: bekerja sangat cepat yakni dalam 2-5 menit akan terjadi penurunan glukosa darah. Intra muskuler : penyerapannya lebih cepat 2 kali lipat daripada subkutan. Subcutan : penyerapanya tergantung lokasi penyuntikan, pemijatan, kedalaman, konsentrasi. Lokasi abdomen lebih cepat dari paha maupun lengan.

Cara Penyuntikan Insulin : 7. 8. Gunakan spuid insulin yang dikalibrasi sama dengan unit insulin Pilihlah insulin sesuai dengan tipe, kekuatan, jenis, dan merek dagang yang disebutkan dalam resep. 9. Putarlah atau kocoklah dengan perlahan botol. Untuk setiap jenis insulin yang bukan reguler atau globin insulin. 10. Jangan memberikan insulin yang dingin, biarkan sampai mencapai suhu kamar 11. Periksalah kekeruhan pial intermediet dan long acting insulin jangan digunakan bila tidak keruh 12. Periksalah dan buanglah gelembung udara setelah insulin disedot kedalam semprit. 13. Jika mencampur insulin, dengan melakukan urutan dengan cara menyedot dua jenis insulin dalam satu semprit yang sama 14. Lakukan penyuntikan pada tempat yang belum digunakan pada bulan sebelumnya 15. Tusukan jarum kedalam jaringan lemak lebih mendekati otot dari pada kulit, jika hanya terdapat sedikit jaringan subkutan, cubitlah kulit tersebut kemudian tusukan jarum dengan sudut 4 5 Derajat dengan kedalaman 3/8 atau panjang jarum, tusukan dengan sudut 90 derajat jika jaringan lemaknya tebal.

Perhitungan Pemberian Insulin.

Contoh : Bila dalam vial insulin terdapat 40 unit,dengan dosis 12 ml,dan diberikan dengan 100 ml maka dosis yang harus diberikan kepada pasien sebanyak 30 ml Cara perhitungan : 12 / 40 X 100 = 30 ml

2.12 Pendidikan kesehatan: perawatan kaki diabet: (senam kaki, perawatan kuku) dan diet DM Senam kaki Berikut ini beberapa Gerakan Senam Kaki Diabetes yang dapat dilakukan oleh pasien DM secara teratur dengan sendiri atau bersama-sama : 16. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai 17. Dengan Meletakkan tumit dilantai, jari-jari kedua belah kaki diluruskan keatas lalu dibengkokkan kembali kebawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali 18. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki ke atas. Pada kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Cara ini dilakukan bersamaan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali.

19. Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. 20. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. 21. Angkat salah satu lutut kaki, dan luruskan. Gerakan jari-jari kedepan turunkan kembali secara bergantian kekiri dan ke kanan. Ulangi sebanyak 10 kali. 22. Luruskan salah satu kaki diatas lantai kemudian angkat kaki tersebut dan gerakkan ujung jari kaki kearah wajah lalu turunkan kembali kelantai. 23. Angkat kedua kaki lalu luruskan. Ulangi langkah ke 8, namun gunakan kedua kaki secara bersamaan. Ulangi sebanyak 10 kali. 24. Angkat kedua kaki dan luruskan,pertahankan posisi tersebut. Gerakan pergelangan kaki kedepan dan kebelakang 25. Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki , tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian. 26. Letakkan sehelai koran dilantai. Bentuk kertas itu menjadi seperti bola dengan kedua belah kaki. Kemudian, buka bola itu menjadi lembaran seperti semula menggunakan kedua belah kaki. Cara ini dilakukan hanya sekali saja Lalu robek koran menjadi 2 bagian, pisahkan kedua bagian koran. Sebagian koran di sobek-sobek menjadi kecil-kecil dengan kedua kaki Pindahkan kumpulan sobekan-sobekan tersebut dengan kedua kaki lalu letakkan sobekkan kertas pada bagian kertas yang utuh Bungkus semuanya dengan kedua kaki menjadi bentuk bola

Perawatan Kuku klien Diabetes Melitus A. FASE PRA INTERAKSI 1. Verifikasi data 2. Persiapan alat Air matang Makanan cair/obat Corong Spuit/10 cc Perlak/pengalas Bengkok Saung tangan bersih Servet makan

B. FASE ORIENTASI 1. Memberi salam/menyapa klien 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuam tindakan 4. Menjelaskan langkah prosedur 5. Menanyakan kesiapan klien

C. FASE KERJA 1. Mencuci tangan 2. Memeriksa kaki pasien setia hari, apakah ada kulit retak, melepuh, luka, perdarahan 3. Membersihkan kaki setiap hari pada ketika mandi dengan sabun dan air bersih 4. Menggunakan sikat lunak atau batu apung jika perlu 5. Mengeringkan kaki dengan handuk bersih, lembut, yakinkan sela-sela jari kaki dalam keadaan kering 6. Memberikan pelembab atau lation pada daerah kaki yang kering tidak pada sels-sela jari kaki 7. Menggunti kuku kaki urus mengikuti bentuk normal jari kaki, tidak terlalu pendek atau terlalu dekat denan kulit, kemudian kikir agar kuku tidak tajam 8. Bila kuku keras sulit dipotng rendam kaki dengan air hangat kuku (37 C) kurang lebih 5 menit 9. Memakai alas kaki sepatu atau sendal untuk melindungi kaki agar tidak terjadi terluka

10. Menggunakan sepatu atau sendal yang sesuai dengan ukuran dan enak untuk dipakai 11. Melepas sepati tiap 4-6 jam serta gerakan pergelangan dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah tetap baik 12. Mengobati luka jika terjadi luka kecil

D. FASE TERMINASI 1. Merapikan pasien 2. Mengevaluasi 3. Menyampaikan rencana tindak lanjut 4. Berpamitan 5. Merapikan alat 6. Mencuci tangan

E. PENAMPILAN SELAMA TINDAKAN 1. Ketenangan 2. Melakukan komunikasi terapetik 3. Ketelitian selam tindakan 4. Keamanan klien selama tindakan Keamanan perawat selama tindakan Diabetes melitus menaikkan risiko terjadinya pengerasan pembuluh nadi besar atau arteri yang dapat manimbulkan serangan jantung atau stroke serta melemahnya sirkulasi darah ke kaki. Risiko ini semakin meninght pada perokok maupun penderita, yang memiliki kelebihan berat badan. Adanya perubahan maupun luka sekecil apa pun harus diwaspadai meskipun tidak merasakan sakit. Hal ini karena sirkulasi darah yang kurang menjadikan penderita rnati rasa.Akan tetapi luka sekecil apapun memungkinkan kuman dapat menginfeksi dan menyebar lebih cepat karena pasokan darah yang buruk.Oleh karena itu dibutuhkan perawatan kaki secara teratur. Perawatan kaki pada penderita diabetes melitus sebagai berikut. Seiring dengan pertambahan usia, pasokan darah ke kaki juga semakin buruk. Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya suplai darah. Apabila sirkulasi terhambat pembuluh darah. Mencuci kaki dengan air hangat (suamsuam kuku), jangan sekali Kaki penderita diabetes yang kali menggunakan air panas, karena penderita tidak dapat merasakan apabila kakinya telah melepuh. Periksa terlebih dahulu suhu air menggunakan tangan. Mencuci kaki menggunakan sabun yang lembut. Keringkan kaki yang telah dicuci hingga benar benar leering dengan cermat terutama di sela-sela jari. Hindari menggosok kulit dengan keras karena dapat menyebabkan kulit mengelupas dan terluka. Pemotongan kuku dilakukan setelah

mandi. Potong ujung-ujung kaki mengikuti bentuk jari dan jangan memotong terlalu pendek. Hindari menggunakan alas pemotong kuku yang terlalu tajam untuk membersihkan pinggiran maupun cekungan kuku. Hindari memotong kuku terlalu pendek, dan perlu berhati-hati ketik memotong cekungan kuku. Memakai sepatu yang ukurannya sesuai, sebaiknya bagian atas bertali dan lembut. Menggunakan kaos kaki yang kering dan bersih. Kaos kaki tiap hari harus diganti yang bersih. Hindari penggunaan kaos kaki yang terlalu kecil dan sempit

Lakukan :

Cuci kaki setiap hari : Menggunakan sabun ringan dan air hangat, cuci kaki anda dipagi hari atau sebelum tidur setiap malam. Keringkan hati-hati dengan handuk lembut, terutama antara jari kaki, dan debu kaki anda dengan bedak untuk menjaga kelembaban. Jika kulit kering gunakan krim pelembab yang baik setiap hari, tapi hindari krim itu diantara jari kaki.

Periksa kaki dan jari-jari setiap hari : Periksa kaki anda setiap hari apakah ada luka, memar, luka atau perubahan pada kuku, seperti penebalan atau perubahan warna. Jika usia atau faktor lain menghambat untuk melihat meminta seseorang untuk membantu anda atau menggunakan cermin.

Menurunkan berat badan : Orang dengan diabetes umumnya kelebihan berat badan, yang hampir dua kali lipat resiko komplikasi.

Kenakan kaos kaki lembut yang tebal : Kaos kaki yang terbuat dari campuran akrilik cocok, tapi hidari kaos kaki atau yang diperbaiki dengan jahitan, yang bisa menggosok menyebabkan lepuh atau luka kulit lainnya.

Berhenti merokok : Tembakau dapat berkontribusi untuk masalah peredaran darah, yang dapat mengganggu pada pasien dengan diabetes.

Potong kuku kaki dengan hati-hati : Jangan pernah memeotong kearah sudut kuku, dan jangan berbentuk lancip, yang dapat memicu kuku tumbuh kedalam. Jika kuku anda sulit dipotong, mintalah bantuan ahli perawat atau tenaga medis anda.

Latihan fisik :Sebagai sarana untuk menjaga berat badan turun dan meningkatkan sirkulasi, berjalan merupakan salah satu dari semua sekitar latihan terbaik untuk

pasien diabetes. Berjalan merupakan juga olah raga yang sangat baik untuk kaki anda. Pastikan untuk memakai sepatu atau alas olahraga yang tepat saat berolah raga. Tanyakan pada tenaga medis anda olahraga apa yang ter baik bagi anda dan alas apa yang tepat untuk anda.

Gunakan ukuran yang pas setiap kali anda membeli sepatu baru : Sepatu paling penting bagi penderita diabetes karena sepatu yang dipasang buruk terlibat dalam setengah dari masalah yang mengarah pada amputasi. Karena ukuran kaki dan bentuk dapat berubah dari waktu kewaktu, setiap orang harus memiliki ukuran kaki, mereka diukur oleh tukang sepatu yang berpengalaman setiap kali mereka membeli sepasang sepatu baru. Sepatu baru harus nyaman, sepatu harus memiliki bagian atasnya kulit atau kanvas, sesuai panjang dan lebar kaki supaya bila digerakkan bebas dan empuk serta kokoh.

Jangan lakukan !!!!!

Bertelanjang kaki : Jangan bertelanjang kaki bahkan dirumah anda sendiri apalagi jika berjalan diluar. Hal ini sangat berbahaya karena kemungkinan luka, jatuh dan infeksi. Dan ketika dirumah pun disarankan untuk pakai sandal, jangan lupa pergi harus pakai sandal.

Jangan menggunakan sepatu hak tinggi, sandan dan sepatu dengan ujung runcing : Jenis alas kaki ini dapat memberikan tekanan berlebihan pada bagian kaki dan berkontribusi untuk tulang dan gangguan sendi, serta ulkus diabetes. Selain itu, sepatu dan sandal berujung terbuka dengan tali diantara dua jari pertama juga harus dihindari.

Jangan minum alkohol : Alkohol dapat menyebabkan neuropati (kerusakan saraf) yang merupakan salah satu konsekuensi diabetes. Alkohol dapat mempercepat kerusakan terkait dengan penyakit, menghilangkan saraf lebih dan meningkatkan kemungkinan menghadap memotong tapaknya kecil atau cidera.

Jangan memakai apapun yang terlalu ketat disekitar kaki : Stoking dapat menyempitkan sirkulasi ke kaki dan kai.

Jangan pernah mencoba untuk menghapus kapalan jagung atau kutil sendiri : Hal ini harus dihindari karena jika tidak tepat dapat menyebabkan kerukan tak tergantikan pada kaki penderita diabetes. Jangan pernah mencoba untuk memotong kapalan dengan pisau cukur atau alat lain karena memotong sendiri menyebabkan resiko tinggi, dan luka itu seperti itu sering dapat menyebabkan luka lebih serius

2.13 Keterampilan cek GDS dan reduksi urine Melakukan pemeriksaan glukosa dengan glucometer A. FASE PRA INTERAKSI 1. Verifikasi data 2. Persiapan alat Sarung tangan bersih Alcohol swab/cairan antiseptik Jarum steril Glukometer Reagent strips glukosa darah

B. FASE OERIENTASI 1. Memberi salam/menyapa klien 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuam tindakan 4. Menjelaskan langkah prosedur 5. Menanyakan kesiapa klien C. FASE KERJA 1. Mencuci tangan 2. Memakai sarung tangan bersih 3. memberi posisi klien yang nyaman duduk dikursi atau semi fowler ditempat tidur 4. Mengambil reagent strip dari tempatnya dan pasang pada glukometer 5. Menekan tombol ON 6. Memilih lokasi diujung jari klien 7. Melakukan massage jari jari yang dipilih pada lokasi yang akan ditusuk 8. Membersihkan lokasi dengan antiseptik dan tunggu sampai kering 9. Mengambil blood letting yang sudsh berisi jarum steril 10. Meletakkan blood letting diujung permukaan jari dan tekan sehingga jarum menembus kulit 11. Menghapus darah pertama yang keluar dengan kapas bulat kering 12. Tempelkan ; reagent strip pada lokasi penusukan sehingga sejumlah darah masuk jangan hanya hapusan darah 13. Menunggu hasil, tekan lokasi penusukan 14. Membaca hasil pada layar 15. Menekan tombol OFF. Lepaskan strip test dan jarum 16. Melpaskan sarung tangan dan measukan dalam kantong kotor 17. Memberitahu hasil pada klien

D. FASE TERMINASI 1. Merapikan pasien 2. Mengevaluasi 3. Menyampaikan rencana tindak lanjut 4. Berpamitan 5. Merapikan alat 6. Mencuci tangan

E. PENAMPILAN 1. Ketenangan 2. Melakukan komunikasi terapetik 3. Ketelitian selam tindakan 4. Keamanan klien selama tindakan 5. Keamanan perawat selama tindakan Melakukan pemeriksaan glukosa dalam urin

A. FASE PRAINTERAKSI 1. Verifikasi data 2. Persiapan alat : Sarung tangan bersih Botol urin tidak steril Glukotest Sarung tangan bersih

B. FASE OERIENTASI 1. Memberi salam/menyapa klien 2. Memperkenalkan diri 3. Menjelaskan tujuam tindakan 4. Menjelaskan langkah prosedur 5. Menanyakan kesiapan klien

C. FASE KERJA 1. Mencuci tangan 2. Menganjukan klien untuk berkemih, spesimen diambil 10-20 menit setelah berkemih yang petama kali 3. Memakai sarung tangan setelah memegang urine 4. Mengambil spesimen urine , dalam tempat yang telah disediakan

5. Memasukkan satu buah gloko test kedalm urin selama 30 detik(sesuai petunjuk pemakaian diastik) 6. Mengangkat gluko test diamkan selama 30 detik-1 menit, amati perubahan warna yang timbul 7. Membaca hasilnya : bandingkan perubahan warna pada glukotest dengan warna standar pada tabung glukotest

D. FASE TERMINASI 1. Merapikan pasien 2. Mengevaluasi 3. Menyampaikan rencana tindak lanjut 4. Berpamitan 5. Merapikan alat 6. Mencuci tangan

E. PENAMPILAN SELAMA TINDAKAN 1. 2. 3. 4. 5. Ketenangan Melakukan komunikasi terapetik Ketelitian selam tindakan Keamanan klien selama tindakan Keamanan perawat selama tindakan

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Diabetes melitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO). Diabetes merupakan penyakit yang dihubungkan dengan penurunan produksi insulin dan kerusakan pada reseptor insulin. Insulin merupakan hormone yang dihasilkan oleh sel Beta di pulau Langerhans pancreas. Insulin memegang peranan penting dalam menunjang sel untuk menggunakan dan menyimpan glukosa, lemak serta protein. Insulin juga diketahui menyebabkan perubahan permiabilitas membrane sel. Pada penderita diabetes dapat dilakukan penatalaksanaan medis seperti memberikan terapi insulin, memberikan diit khusus untuk pasien DM, selain itu juga dapat dilakukan senam kaki dan perawatan kuku sebagai tindakan pencegahan risiko cidera untuk pasien diabetes mellitus.

3.2

Saran Dengan dibuatnya makalah ini daharapkan mahasiswa keperawatan dapat mengerti anatomi dan fungsi system endokrin terutama pancreas dan dapat mengetahui penatalaksanaan untuk pasien diabetes mellitus serta dapat mengimplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai perawat yang professional.

DAFTAR PUSTAKA Nathan, David M. dan Linda M. Delahanty. 2005. Menaklukan Diabetes. Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer. Brunner & suddarth. 2008. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi 8, Alih Bahasa : Kuncara dkk, Jakarta, EGC Endang Lanywati. 2001. Diabetes Mellitus Penyakit kencing Manis. Yogyakarta, Kanisius Tandra, Hans. 2007. Segala sesuatu yang harus Anda ketahui tentang Diabetes. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Tandra, Hans. 2009. Diabetes Mellitus. Alex Media http://www.lkc.or.id/2011/10/26/senam-kaki-untuk-penderita-diabetes-melitus/ http://baitulherbal.com/edukasi/cara-perawatan-kaki-pada-penderita-diabetes/