Anda di halaman 1dari 7

A.

SEKURITAS DILUTIF DAN PROGRAM KOMPENSASI


Banyak kontroversi yang terkait dengan perlakuan akuntansi untuk instrument keuangan

Hutang Dan Ekuitas

seperti opsi saham, sekuritas konvertibel, dan saham preferen berhubungan dengan apakah perusahaan harus melaporkan instrument-instrumen ini sebagai kewajiban (liability) ataukah sebagai ekuitas. Sekuritas konvertibel di samping opsi, waran, dan sekuritas yang lain sering kali disebut sekuritas dilutive (dilutive securities), karena pada saat penguangan (exercise), sekuritas ini akan mengurangi/mendilusi laba per saham. Akuntansi Untuk Hutang Konvertibel Jika obligasi dapat dikonversi menjadi sekuritas perusahaan lainnya selama periode tertentu sesudah penerbitannya, maka obligasi tersebut disebut sebagai obligasi konvertibel (convertible bonds). Obligasi konvertibel menggabungkan manfaat dari sebuah obligasi dengan hak istemewa (privilege) untuk menukarnya dengan saham pada opsi pemegang saham. Obligasi itu dibeli oleh investor yang menginginkan keamanan atas obligasi yang dipegangnya (jaminan bunga dan pokok) ditambah opsi tambahan berupa konversi jika nilai saham tersebut meningkat secara signifikan. Perusahaan menerbitkan sekuritas konvertibel karena dua alasan utama. Pertama adalah keinginan untuk meningkatkan modal ekuitas tanpa memberikan pengendalian kepemilikan yang berlebihan kecuali diperlukan. Alasan kedua adalah untuk memperoleh pembiayaan dengan saham biasa pada suku bunga yang rendah. Hak istimewa atau privilege konversi membuat para investor bersedia menerima suku bunga yang lebih rendah dibandingkan penerbitan hutang secara normal. Akuntansi untuk hutang konvertibel mencakup masalah pelaporan pada saat (1) penerbitan, (2) konversi, dan (3) penarikan. Pada Saat Penerbitannya Metode pencatatan obligasi konvertibel pada tanggal penerbitan mengikuti metode yang digunakan untuk mencatat penerbitan hutang langsung. Tanpa mencatat hasilnya sebagai ekuitas. Setiap diskonto atau premi yang dihasilkan dari penerbitan obligasi konvertibel diamortisasi hingga tanggal jatuh temponya. Pada Saat Konversi Jika obligasi dikonversi menjadi sekuritas lainnya, maka perusahaan metode nilai buku untuk mencatat konversi. Metode nilai buku mencatat pertukaran sekuritas untuk obligasi pada jumlah tercatat (nilai buku) obligasi. Para pendukung nilai buku menyatakan bahwa suatu perjanjian telah ditetapkan pada tanggal penerbitan untuk membayar sejumlah uang yang ditetapkan pada saat jatuh tempo atau untuk menerbitkan sejumlah sekuritas ekuitas yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, apabila hutang dikonversi menjadi ekuitas sesuai dengan syarat-syarat kontrak sebelumnya, maka tidak ada keuntungan atau kerugian yang diakui atas konversi.

Konversi Yang Dirangsang (Induced Conversion) Kadang-kadang penerbit ingin merangsang lebih cepat konversi hutang konvertibelnya menjadi sekuritas ekuitas, dengan tujuan mengurangi biaya bunga atau meningkatkan rasio utang terhadap ekuitas. Sebagai akibatnya, penerbit dapat menawarkan beberapa bentuk pertimbangan tambahan (seperti kas atau saham biasa), yang disebut sebagai pemanis, untuk merangsang konversi. Pemanis ini harus dilaporkan sebagai beban periode berjalan dalam jumlah yang sama dengan nilai wajar sekuritas tambahan atau pertimbangan lain yang diberikan. Penarikan Hutang Konvertibel Agar konsisten, keuntungan atau kerugian atas penarikan hutang konvertibel perlu diakui dengan cara yang sama seperti pada keuntungan atau kerugian atas penarikan hutang nonkonvertibel. Karena alasan tersebut, perbedaan antara harga tunai akuisisi hutang dan jumlah tercatatnya harus dilaporkan dalam laba berjalan sebagai keuntungan atau kerugian. Saham Preferen Konvertibel Saham preferen konvertibel (convertible preferred stock) mencakup opsi bagi pemegang untuk mengkonversi saham preferen menjadi saham biasa dengan jumlah tetap. Perbedaan utama akuntansi untuk obligasi konvertibel dan saham preferen konvertibel adalah pada tanggal penerbitannya. Obligasi konvertibel dianggap sebagai kewajiban, sedangkan saham preferen konvertibel (kecuali ada penebusan wajib) dianggap sebagai bagian dari ekuitas pemegang saham. Selain itu, ketika pemegang saham menggunakan saham preferen konvertibel, tidak ada justifikasi teoritis untuk mengakui keuntungan atau kerugian. Dalam akuntansi untuk saham preferen konvertibel, perusahaan menggunakan metode nilai buku dapat diterapkan : Saham Preferen didebet bersamaan dengan setiap hal yang berhubungan dengan Tambahan Modal Disetor; sementara Saham Biasa dan Tambahan Modal Disetor (jika ada kelebihan) dikredit. Perlakuan yang berbeda dikembangkan apabila nilai pari saham biasa yang diterbitkan melebihi nilai buku saham preferen. Dalam kasus tersebut, Laba Ditahan biasanya didebet sebesar perbedaan tersebut. Warran Saham Warran atau surat jaminan (warrant) adalah sertifikat yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk memperoleh saham pada harga tertentu selama periode yang telah ditetapkan. Perbedaan pokok antara sekuritas konvertibel dan warran saham terletak pada penggunaan warran, di mana pemilik harus membayar sejumlah uang tertentu untuk memperoleh saham. Penerbitan warran atau opsi untuk membeli tambahan saham biasanya timbul dalam tiga situasi: 1. Pada saat menerbitkan jenis sekuritas yang berbeda, seperti obligasi atau saham preferen, sering kali warran disertakan agar sekuritas terlihat lebih menarik untuk memberikan suatu pendorong ekuitas (equity kicker).

2. Pada penerbitan tambahan saham biasa, pemegang saham yang ada mempunyai hak istimewa (preemptive right) untuk lebih dahulu membeli saham biasa. Warran dapat diterbitkan untuk membuktikan hak tersebut. 3. Warran, yang sering kali disebut sebagai opsi saham (stock option), diberikan sebagai kompensasi kepada para eksekutif dan karyawan. Warran Saham yang Diterbitkan dengan Sekuritas Lainnya Warran yang diterbitkan dengan sekuritas lainnya pada dasarnya merupakan opsi jangka panjang untuk membeli saham biasa dengan harga tetap. Meskipun warran perpetual telah diperdagangkan, namun umumnya hanya bertahan selama 5 tahun, terkadang 10 tahun. Profesi akuntan menyatakan bahwa ada dua instrumen terpisah yang terlibat, yaitu (1) obligasi dan (2) warran yang memberikan hak kepada pemegang untuk membeli saham biasa pada harga tertentu. Warran yang dapat dipisah dapat diperdagangkan secara terpisah dari hutang dan, oleh karenanya, nilai pasar dapat ditentukan. Ada dua metode alokasi yang tersedia: 1. Metode Proporsional Untuk menentukan nilai sekuritas harus ditetapkan (1) nilai obligasi tanpa warran dan (2) nilai warran. Metode proporsional mengalokasikan hasil dengan menggunakan proporsi dari dua nilai, berdasarkan nilai wajar. 2. Metode Inkremental Dalam situasi di mana nilai wajar warran maupun obligasi tidak dapat ditetapkan, maka metode incremental yang digunakan dalam pembelian sekuritas secara lump sum dapat digunakan. Yaitu, perusahaan menggunakan sekuritas yang nilai pasarnya dapat ditetapkan. Sementara itu, sisa harga beli dialokasikan ke sekuritas yang nilai pasarnya belum diketahui. Pertanyaan Konseptual Di sini timbul pertanyaan tentang apakah alokasi nilai ke warran konsisten dengan penanganan hutang konvertibel, di mana tidak ada nilai yang dialokasikan ke privilege konversi. FASB menyatakan bahwa karakteristik sekuritas konvertibel adalah tidak dapat dipisahkan dengan pengertian bahwa pilihan bersifat saling meniadakan (mutually exclusive):Pemilik dapat mengkonversikan atau menebus obligasi secara tunai, tetapi tidak dapat melakukan keduanya. Oleh karena itu, tidak ada dasar untuk mengakui nilai konversi dalam akun. Akan tetapi, FASB menyatakan bahwa penerbitan obligasi dengan warran yang dapat dipisah (detachable warrants) melibatkan dua sekuritas, yaitu sekuritas hutang, yang akan tetap beredar sampai jatuh tempo, dan yang lainnya adalah warran untuk membeli saham biasa. Pada saat penerbitan, terdapat instrument terpisah, dan karena itu perlakuan yang terpisah dapat dibenarkan. Akan tetapi, warran yang tidak dapat dipisah (nondetachable warrants) tidak memerlukan alokasi hasil di antara obligasi dan warran atau surat jaminan. Hak Untuk Memesan Saham Tambahan Jika dewan direksi perusahaan memutuskan untuk menerbitkan saham baru, maka pemegang saham lama secara keseluruhan akan memiliki hak preemptive privilege (hak istimewa untuk

membeli terlebih dahulu) untuk membeli saham yang baru diterbitkan sesuai dengan proporsi yang mereka miliki. Privilege ini, yang disebut sebagai hak saham (stock right), menyelamatkan pemegang saham yang ada dari kerugian dilusi hak suara tanpa persetujuan mereka, dan memperkenankan mereka untuk membeli saham di bawah nilai pasarnya. Warran yang diterbitkan dalam situasi ini bersifat jangka pendek. Di sini tidak diperlukan ayat jurnal pada saat menerbitkan hak-hak kepada pemegang saham yang sudah ada, hanya ayat jurnal memorandum yang diperlukan untuk menunjukkan jumlah hak yang diterbitkan kepada pemegang saham yang ada. Tidak ada ayat jurnal formal yang dibuat pada saat itu karena tidak ada saham yang dibuat pada saat itu karena tidak ada saham yang diterbitkan dan tidak ada kas yang diterima. Jika hak tersebut digunakan, maka biasanya melibatkan beberapa jenis pembayaran kas. Jika kas yang diterima setara dengan nilai pari, maka dibuat ayat jurnal dengan mengkredit Saham Biasa pada nilai pari. Jika melebihi nilai pari, maka dilakukan kredit ke Agio Saham, jika kurang dari nilai pari, maka pembebanan yang tepat adalah ke Modal Disetor.

Program Kompensasi Saham


Bentuk lain dari warran muncul dalam program kompensasi saham yang digunakan untuk membayar dan memotivasi karyawan. Warran ini merupakan opsi saham ( stock option), dimana para karyawan terpilih diberi opsi untuk membeli saham biasa pada harga tertentu selama periode waktu yang diperpanjang. Suatu konsensus yang dapat ditarik mengenai pendapat bahwa program kompensasi yang efektif merupakan hal yang (1) memotivasi karyawan untuk mencapai tingkat kinerja yang tinggi, (2) membantu mempertahankan eksekutif dan mengijinkan perekrutan bakat baru, (3) memberikan dasar kompensasi bagi karyawan dan kinerja perusahaan, (4) memaksimumkan tunjangan setelah pajak karyawan dan meminimalkan biaya setelah pajak karyawan, dan (5) menggunakan kriteria kinerja terhadap karyawan yang mempunyai kendali. Meskipun program kompensasi kas secara langsung merupakan bagian yang penting dari setiap program kompensasi, namun hal tersebut berorientasi jangka pendek. Program kompensasi jangka panjang berusaha untuk memperkuat loyalitas eksekutif kepada perusahaan. Cara yang efektif untuk mencapai tujuan ini adalah memberikan karyawan a piece of the action- yaitu, suatu kepentingan ekuitas. Program tersebut, yang umumnya disebut sebagai program kompensasi berdasarkan saham (stock-based compensation plans) memiliki berbagai bentuk. Pada dasarnya, program ini memberikan kesempatan kepada ekekutif untuk menerima saham jika kinerja perusahaan (diukur dengan indikator apapun) dianggap memuaskan. Pengukuran kinerja khusus berfokus kepada perbaikan jangka panjang yang dapat diukur dan yang manfaat kepada perusahaan secara keseluruhan, seperti kenaikan laba per saham, penepatan, harga saham, atau pangsa pasar.

Masalah Pelaporan yang Utama Suatu pendekatan mensyaratkan bahwa biaya kompensasi harus diukur dengan kelebihan harga pasar saham atas harga penggunaannya pada tanggal hibah. Pendekatan ini dikenal sebagai metode nilai intrinsik (intrinsic value method). Metode ini mengukur berapa yang akan diterima pemegang pada hari ini jika opsi sekarang juga digunakan. Ini merupakan perbedaan antara harga pasar saham dan harga penggunaan opsi pada tanggal hibah. Cara kedua untuk melaporkan pemberian opsi ini, didasarkan pada biaya dari opsi saham pada nilai wajar opsi saham itu. Dengan metode nilai wajar ini, perusahaan memakai model penentuan harga opsi yang dapat diterima, untuk menentukan nilai opsi pada tanggal hibah. Menurut standar akuntansi sebelumnya, perusahaan dapat mengakui kompensasi berdasarkan saham dengan memakai baik metode nilai intrinsik maupun metode nilai wajar. Jika diberi pilihan, sebagian besar perusahaan akan memakai pendekatan nilai intrinsik karena metode ini biasanya akan membuat beban kompensasi menjadi lebih rendah. Akuntansi untuk Kompensasi Saham Program opsi saham melibatkan dua masalah akuntansi yang utama, yaitu: Penentuan Beban Dengan menggunakan metode nilai wajar (fair value method), total beban kompensasi dihitung berdasarkan nilai wajar opsi yang diharapkan menjadi haknya pada tanggal opsi itu dihibahkan kepada karyawan. Nilai wajar bagi perusahaan publik akan diestimasi dengan menggunakan model penetapan harga opsi, dengan beberapa penyesuaian atas faktor-faktor unik dari opsi saham karyawan. Tidak ada penyesuaian yang dilakukan setelah tanggal hibah (grant date), dalam menanggapi perubahan harga saham selanjutnyabaik naik maupun turun. Alokasi Beban Kompensasi Pada umumnya, beban kompensasi diakui dalam periode dimana karyawan melakukan jasa periode jasa (service period). Kecuali, dalam hal-hal spesifik, periode jasa adalah periode hasil (vesting period)waktu antara tanggal hibah dan tanggal hasil. Jadi, total beban kompensasi ditentukan pada tanggal hibah dan dialokasikan ke periode yang menerima manfaat dari jasa karyawan. Program atau Rencana Pembelian Saham Karyawan Program atau rencana pembelian saham oleh karyawan (employee stock purchase plans/ ESPP) membolehkan semua karyawan untuk membeli saham dengan harga yang didiskontokan selama periode waktu yang pendek. Perusahaan seringkali menggunakan banyak program untuk mengamankan modal ekuitas atau merangsang penyebarluasan kepemilikan saham biasa perusahaan diantara para karyawan tersebut. Program ini dianggap sebagai kompensasi kecuali jika program ini memenuhi semua dari tiga syarat yang disajikan, yaitu (1) Semua karyawan tetap secara substansial boleh berpartisipasi atas dasar yang wajar, (2) Diskonto dari harga pasar adalah kecil: yaitu, tidak lebih besar daripada kewajaran diskonto per saham yang ditawarkan kepada pemegang saham atau jumlah

biaya per saham yang dihindari dengan tidak menaikkan kas dalam penawaran publik, dan (3) Program tersebut tidak menwarkan karakteristik opsi yang substantif. Perusahaan yang menawarkan kompensasi ESPP kepada karyawan harus mencatat beban kompensasi ini selama masa kerja karyawan tersebut. Bagi sejumlah perusahaan akan sulit untuk mengklaim bahwa ESPP mereka merupakan program tanpa kompensasi (non-compensatory) dan oleh karenanya tidak perlu mencatat beban kompensasi, kecuali jika mereka mengubah kebijakan diskontonya. Pengungkapan Program Kompensasi Perusahaan harus mengungkapkan secara penuh status rencana kompensasinya pada akhir periode terkait. Untuk mencapai tujuan ini, perusahaan harus melakukan pengungkapan secara penuh. Tepatnya, perusahaan yang mempunyai satu atau lebih pengaturan pembayaran berdasarkan saham harus mengungkapkan informasi berikut yang memungkinkan para pengguna laporan keuangan memahaminya: 1. Syarat-syarat pembayaran semacam itu yang berlaku selama periode tersebut dan akibat potensial dari pengaturan semacam itu bagi para pemegang saham 2. Pengaruh biaya kompensasi yang timbul karena pengaturan pembayaran berdasarkan saham terhadap laporan laba-rugi. 3. Metode estimasi nilai wajar barang atau jasa yang diterima, atau nilai wajar instrument ekuitas yang dihibahkan (ditawarkan untuk hibah) selama periode tersebut. 4. Pengaruh arus kas yang berasal dari pengaturan pembayaran berdasarkan saham. Perdebatan mengenai Akuntansi Opsi Saham FASB menghadapi perlawanan sengit ketika mengajukan metode nilai wajar untuk akuntansi opsi saham. Ini tidak mengherankan, karena metode nilai wajar akan menyebabkan biaya kompensasi yang lebih besar dibandingkan dengan model nilai intrinsik. Secara khusus, banyak perusahaan kecil berteknologi tinggi menentang keras metode nilai wajar, dengan menyatakan bahwa hanya melalui penawaran opsi saham mereka dapat dapat menarik manajemen puncak profesional. Perusahaan itu beralasan bahwa jika mereka dipaksa untuk mengakui jumlah beban kompensasi yang besar dalam program tersebut, maka mereka akan berada pada posisi kompetitif yang tidak menguntungkan melawan perusahaan besar yang dapat menanggung beban kompensasi yang lebih tinggi. Untuk menanggapi perlawanan tersebut, diperlukan transparansi pelaporan keuangan yang lebih baik, yang menjadi landasan pasar modal.

B. PERHITUNGAN LABA PER SAHAM Perusahaan biasanya melaporkan jumlah per saham yang berpengaruh terhadap item-item lainnya, seperti keuntungan atau kerugian atas pos-pos luar biasa. Data laba per saham seringkali dilaporkan dalam penerbitan keuangan dan telah digunakan secara luas oleh pemegang saham dan investor potensial dalam mengevaluasi profitabilitas perusahaan. Laba per saham (earnings

per share) menunjukkan laba yang dihasilkan oleh setiap lembar saham biasa. Jadi, laba per saham hanya dilaporkan untuk saham biasa. Karena pentingnya informasi tentang laba per saham, sebagian besar perusahaan diwajibkan melaporkan informasi ini dalam laporan laba-rugi. Pengecualiannya adalah perusahaan nonpublik; yang karena pertimbangan biaya-manfaat tidak harus melaporkan informasi ini. Umumnya informasi tentang laba per saham dilaporkan di bawah laba bersih dalam laporan labarugi. Laba Per SahamStruktur Modal Sederhana Struktur modal perusahaan bersifat sederhana jika hanya terdiri dari saham biasa atau tidak mencakup saham biasa potensial (potential common stock) yang pada saat konversi atau penggunaan dapat mendilusi laba per saham biasa. Struktur modal bersifat kompleks jika mencakup sekuritas yang dapat mempunyai pengaruh dilutif terhadap laba per saham biasa. Perhitungan laba per saham untuk struktur modal sederhana melibatkan dua pos (selain laba bersih), yaitu: Dividen Saham Preferen Jika suatu perusahaan memiliki baik saham biasa maupun saham preferen yang beredar, maka dividen saham preferen tahun berjalan dikurangi dari laba bersih untuk memperoleh laba yang tersedia untuk pemegang saham biasa. Dalam melaporkan informasi tentang laba per saham, perusahaan harus menghitung laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa. Untuk melakukannya, dividen saham preferen harus dikurangi dari setiap komponen laba antara (laba dari operasi berlanjut dan laba sebelum pos-pos luar biasa) dan akhirnya dari laba bersih. Jumlah Rata-Rata Tertimbang Saham yang Beredar Dalam semua perhitungan laba per saham, jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar selama periode bersangkutan merupakan dasar untuk melaporkan jumlah per saham. Saham yang diterbitkan atau dibeli selama periode itu akan mempengaruhi jumlah saham yang beredar dan harus ditimbang menurut bagian dari periode peredarannya. Dasar pemikiran untuk pendekatan ini adalah mencari jumlah ekuivalen dari keseluruhan saham yang beredar selama tahun berjalan. Apabila terjadi dividen saham atau pemecahan saham, perhitungan rata-rata tertimbang jumlah saham membutuhkan penetapan kembali saham yang beredar sebelum dividen saham atau pemecahan saham terjadi. Karena, pemecahan saham atau dividen saham tidak meningkatkan atau menurunkan aktiva bersih perusahaan; hanya saham tambahan yang diterbitkan. Setelah ditetapkan kembali, perbandingan yang abash atas laba per saham dapat dibuat antara periode sebelum dan sesudah pemecahan saham atau dividen saham. Berikut ini adalah rumus untuk menghitung laba per saham: Laba Bersih Dividen Saham Preferen Laba Per Saham = Rata-Rata Tertimbang Jumlah Saham yang Beredar